3 Pilar

3 Pilar

Sabtu, 02 November 2019

GAWAI MILENIAL MENEPIS INTEGRITAS



Era milenial diawali dengan membanjirnya teknologi gadged dan membuming disemua lapisan masyarakat tanpa memandang strata kehidupan dan akademis. Faktualnya ialah bahwa semua orang menggunakan gawai atau gadged sebagai sarana dan media komunikasi bahkan juga digunakan sebagai bagian dari gaya hidup (prestige of style).

Pengertian gawai yang sering digunakan sebagai sebutan lain dari gadged (bahasa Inggris), adalah suatu peranti atau instrument yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Perbedaan gawai dengan teknologi yang lainnya adalah unsur kebaruan yang berukuran lebih kecil. Sebagai contoh: komputer mengalami pembaruan berbentuk gawainya seperti laptop (notebook/netbook), telepon rumah yang mengalami pembaruan berbentuk dengan telepon seluler (Inggris: handphone), jam tangan analog hingga menjadi jam tangan digital dan termasuk dalam bilangan smartphone, dan sebagainya.

Semua berawal dari yang namanya disebut dengan kemajuan teknologi era digital, maka tak elak manusia dituntut memenuhi kebutuhannya dan harus terpenuhi karena akan dapat menunjang kinerja secara maksimal dan signifikan. Namanya teknologi, saya memberi penjelasan bahwa teknologi adalah memepermudah pekerjaan manusia. Mengapa? Karena dengan teknologi manusia diperbantukan/dipermudah untuk memenuhi tuntutan dari bagian keperluan/kebutuhan yang harus dikerjakan atau dipenuhi. Sebagai contoh: dahulu kita harus berkirim surat via pos atau telegram, wesel dan transfer antar bank untuk menjangkau dan pemenuhan tersebut. Namun kini itu semua hanya dengan satu genggaman. Bisa komunikasi jarak jauh dibelahan dunia manapun hingga pelosok. Transfer uang dalam hitungan detik dan cepat. Mengirim teks berita tanpa harus menggunakan kertas dan perangko. 
Sebagai contoh telepon genggam atau yang disebut sebagai ponsel (telepon seluler) yang adalah merupakan perangkat portable yang dapat melakukan dan menerima panggilan. Pertama kali diinisiasi oleh John F. Mitchell dan Martin Cooper dari Motorola pata 1973. Saat itu ponsel berbobot 2kg yang kemudian pada 1979 oleh Nippon Telegraph and Telephone (NTT) meluncurkan jaringan seluler pertama di Jepang dan dikomersialkan. Dari awal hanya dapat melakukan dan menerima panggilan lalu kemudian SMS (Short Message Service) atau pesan singkat lalu, MMS (Multimedia Messaging Service) untuk mengirim  gambar, audio, rich text. Kini ponsel terus berkembang dengan kekiniannya dan mendapat julukan smartphone. Sebutan smartphone karena fungsinya bukan hanya terima dan keluar panggilan tapi sudah lengkap dalam satu genggaman. Sekarang tidak perlu repot-repot bawa uang karena sudah ada aplikasi oleh pihak provider ke tiga yang menyediakan layanan tersebut sehingga tidak perlu repot bawa uang banyak. Komunikasi menjadi lancer karena sekarang sudah bisa video call dengan lawan bicara tanpa batas jarak dan waktu. Bisnis juga bisa dijalankan via smartphone ini bahkan di era globalisasi ini dunia sudah ada dalam genggaman kita. Semua informasi bisa kita ketahui bersama dalam sekejap.

Demikian pula dengan teknologi transportasi, di mana dahulu belum ada kendaraan bermesin. Namun sekarang kemajuan begitu pesat sehingga jarak bisa ditempuh dalam hitungan menit, jam dan bukan berhari-hari antar lintas pulau dan wilayah. Keadaan seperti ini akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan perkembangan IPTEK, akan tetapi perlu juga diwaspadai dan menjadi perhatian bersama bahwa seiring berkembangnya teknologi dan IPTEK manusia akan cenderung terpaut pada kondisi tersebut dan mengabaikan sesamanya. Terhadap sesama tidak lagi saling memperhatikan dan mengayomi karena sekarang ditangan semua insani ada gawai (gadged) yang lebih menarik perhatiannya dan memadai dalam memenuhi  semua kebutuhannya. Tata karma, sopan santun dan nilai-nilai agama mulai diabaikan. Banyak orang akan mengabaikan hal tersebut dan tindak kriminalpun bisa terjadi karena pengaruh kemajuan teknologi tersebut. Pelanggaran UU ITE pun kian merebak karena hal tersebut, bisa karena memfitnah, membuka aib orang di public (viral), mengupload foto tak pantas, dan sebagainya.

Bila ditarik dari sudut pandang iman Kristen, kegandrungan akan penggunaan teknologi akan menjadi sangat mempengaruhi pola tingkah laku individu. Hampir dikebanyakan semua orang secara terus menerus bahkan menurut hasil riset ditemukan bahwa setiap 3-5 menit setiap orang pasti akan melihat ponselnya. Ponsel menjadi sebuah smarthphone yang dapat memenuhi kepentingan penggunanya, baik dalam hal komunikasi, media informasi, hiburan (games, music, video) hingga sebagai media transaksi pembayaran. Hal ini akan terus berkembang memenuhi permintaan pangsa pasar dan tuntutan globalisasi yang kian menguat.
Dampak pengaruh globalisasi semacam ini memiliki nilai plus dan minus. Kelebihan penggunaan teknologi ialah mempermudah pekerjaan manusia dalam berbagai bidang namun di sisi lain menyimpan bahaya terutama bagi generasi muda yang tanpa berpikir panjang sering langsung saja menelan kemajuan teknologi dan informasi ini tanpa memilah. Percepatan perkembangan pola piker akan menghasilkan suatu kebiasaan yang akan membentuk suatu budaya yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan informasi tersebut. Generasi muda harus diselamatkan agar supaya nilai-nilai budaya, norma-norma dan kaidah tidak ditepis (tersingkirkan) oleh hal tersebut di atas.
Inovatif sebagai tenaga pendidik dalam proses pembelajaran baik di sekolah maupun di gereja harus memiliki komitmen dan konsistensi yang cukup tinggi dalam menghadapi era milenial ini. Nara didik dan jemaat yang dilayani harus dengan sabra dan ulet diperhatikan, dibimbing dan diarahkan kepada Kebenaran yang murni, yakni Firman Tuhan yang berfokus pada Kristus. Tendensinya bahwa banyak orang lebih cenderung terpikat dengan pengaruh gawai tersebut. Sehingga tenaga pendidik atau guru PAK harus jeli dalam menggunakan fasilitas gawai sebagai media pembelajaran bukan hanya di sekolah, bahkan di gerejapun seorang pendidik atau guru PAK harus mampu menjembatani cerita penyampaian Firman Tuhan dengan melalui poer point (Ppt), video, picture, dan sebagainya.

Generasi yang sekarang ini kita kenal adalah generasi Alpha, yakni di atas 2010 sebagai kelanjutan generasi Z (2001 - 2010) adalah sebuah generasi yang terbuka karena orang tua pada tersebut dilengkapi dengan latar belakang dari generasi yang juga terlahir pada masa-masa awal perkembangan teknologi. Pola piker mereka terbuka, transpormatif, dan inovatif akan memberi dampak perkembangan anak-anak yang hidup di generasi Alpha (Dr. Franky, Pendidikan Andal di Era Milenial: 2019). Kebutuhan jaman akan membentuk generasi dengan segala perilaku/perangainya. Perilaku tersebut akan terbentuk oleh paradigm atau cara pandang yang akan bertumbuh bis amelalui kepribadian, keluarga dan lingkungan sekitar.

Pendidikan Agama Kristen punya peranan sangat penting melalui guru-guru, para hamba Tuhan dan konselor baik kepada nara didik, dan warga gerejanya. Tugas dan tanggung jawab ini tidaklah mudah dan ringan karena kemajuan teknologi di era milenial akan sangat mampu menepis integritas siapapun sehingga dalam berkeadaan seseorang yang dianggap beragamapun secara teori (Theis Theory), ternyata tidak ber-Tuhan dalam prakteknya (atheis practise). Keadaan moralitas semakin menurun, perspektif yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kebenaran di dalam Kristus. Akibatnya tindakan asusila, kriminalitas semakin meningkat. Pornografi dapat menjadi pornoaksi karena media informasi yang mudah diakses semua kalangan tanpa memandang usia, bisa diakses disemua tempat dalam situasi dan kondisi apapun. Tindak kriminalitas semakin meningkat dikarenakan melalui media ini, semua orang dapat memudahkan segala cara untuk meraup keuntungan ditambah lagi penyebaran berita hoax untuk kepentingan segelintir orang dan oknum tertentu. 
Sepatutnya kita semua yang telah mengecap pendidikan tahu akan budi pekerti dan perihal etika sehingga tahu membedakan mana yang baik dan tidak, mana yang dapat merugikan orang lain, atau sebaliknya terhadap diri sendiri. MelaluiInjil yang hidup dan murni pasti akan membuka paradigma setiap insani untuk berpikir jernih dan dinamis. Dapat menelah dan bijak dalam menyikapi era milenial ini. Sepatutnya kita semua dapat menjadi role model; teladan dan Corpus Delicti, sehingga sesama dapat melihat dan mencontoh dari yang benar perihal bijak dalam menggunakan gawai dan teknologi yang semakin membuming dan membahana.


Corpus Delicti  adalah suatu fakta yang membuktikan bahwa sebuah kesalahan telah dilakukan.  Yesus bisa menjadi manusia yang taat sampai mati.  Ini membuktikan kepada Iblis bahwa ketidaktaatannya adalah sebuah kesalahan lewat ketaatan Tuhan Yesus. Kalau menurut etimologi, maka kata corpus delicti berasal dari bahasa Latin. Corpus artinya tubuh atau badan, sedangkan delicti artinya pelanggaran. Secara sempit, corpus delicti artinya bukti suatu kejahatan. Corpus delicti adalah fakta penting dalam dunia hukum untuk menegakkan suatu keadilan, bahwa suatu tindakan seseorang tidak bisa dikatakan salah dan orang tersebut dihukum sebelum terbukti kesalahannya. Dengan demikian corpus delicti menunjuk fakta yang membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan.  Selamat Menjadi Pelaku Kebenaran.