Seiring waktu berjalan
banyak insani beranggapan bahwa dunia segera berakhir. Kenyataannya, dunia
semakin eksis dan membahana. Keberadaannya yang sudah berusia jutaan milyar
tahun (menurut para ahli) membuktikan bahwa dunia semakin indah untuk dinikmati
sebagai tempat kediaman manusia. Semakin tua semakin menjadi, demikian istilah
yang beredar dikalangan. Walau keadaan usia bumi sudah tua, banyak gejolak alam
terjadi namun itu tidak menyurutkan sebagian besar insani untuk “nyadar diri”
bahwa sesungguhnya keadaan tersebut tak senyaman yang diduga.
Situasi dan kondisi yang
terjadi dibeberapa belahan bumi, negara-negara tertentu mengalami kekeringan
berkepanjangan, banjir besar, krisis pangan, bencana alam, dan sebagainya. Alam
seakan sudah mulai tidak terkontrol sesuai siklus dan akselarasinya. Hal ini
bisa dikarenakan faktor human error atau juga karena bumi sudah mulai tua.
Keadaan situasi dan kondisi ini bukan lagi menjadi fenomena tapi bisa menjadi
sebuah PERINGATAN
bahwa bumi memang sudah tidak nyaman
lagi untuk di huni. David Wallace - Wells, “The Uninhabitable Earth” (Bumi Yang
Tak Dapat Dihuni; 2019), menuliskan bahwa bumi sedang menuju ke perubahan yang
radikal, dimulai dari perubahan iklim, hingga perubahan struktur sistem alam
yang sudah tidak kondusif lagi, perlahan tapi pasti.
Pernyataan ini bukanlah
sebuah momok untuk menakuti ataupun bersifat apatis terhadap
perubahan-perubahan kea rah transformasi yang sering dan banyak dikumandangan
oleh para motivator dan dibeberapa kalangan. Ini realitas yang harus kita
hadapi bersama, disamping kita berusaha keras untuk terus berjuang membenahi
dan memperbaikinya (bumi). Sadar dan bertekad menciptakan serta mengembalikan
keadaan bumi seperti awal mula diciptakan adalah sebuah kemustahilan akan tetapi
kita bisa bersama dengan tekad tersebut setidaknya memperlambat kerusakan fatal
dan kepunahan massal, baik ekosistim hingga global.
Sebagai seorang tenaga
pendidik, guru PAK, saya perlu memaparkan bahwa keadaan dunia atau bumi secara
global sudah semakin tidak nyaman untuk di huni. Pernyataan ini bukan berarti
sebagai sikap apatis dan skeptis terhadap bumi yang kita pijak dan huni saat
ini, akan tetapi manusia secara global harus menyadari dengan seksama bahwa
kenyamanan yang ideal sesungguhnya bukan di bumi yang sekarang kita semua
tempati. Tetapi yang ideal itu adalah di langit yang baru dan bumi yang baru,
yakni bumi yang baru yang diciptakan-Nya untuk dihuni dan tempati oleh insani
yang berkenan kepada-Nya (bnd. Yesaya 65:17;
66:22; 2Pet.3:13; Wahyu 21:1).
Bumi adalah bagian dari dari salah satu jagat raya yang di dalamnya
dimana manusia hidup dengan ekosistim yang sempurna mengalami kemunduran
eksistensinya. Dunia adalah yang dalam bahasa Yunani; kosmov,
“kosmos ” yang dapat juga berarti alam semesta, langit dan bumi
(Kisah 17:24) merupakan hunian yang nyaman pada awal mula diciptakan-Nya. Setelah
Allah menciptakan semua binatang dan manusia, sampai diayat 31, dikatakan:
“Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kata
“sungguh amat baik” (Ibrani = מְאֹ֑ד ט֖וֹב ,tov meod); ayat 4, 10, 12, 18, 21, 25. Dari
sini jelas terlihat alam semesta dan segala isinya yang diciptakan pada dasarnya
amat baik, termasuk semua hubungan antara
manusia dengan manusia, manusia dan segala makhluk sungguh indah dan
harmonis. Secara khusus hubungan antara manusia dengan Allah adalah tidak
terpisahkan. Sungguh amat baik. Tapi bagaimana dunia saat ini?
Allah mempersiapkan bumi
ini sebagai rumah bagi anak-anak-Nya. Adam dan Hawa dipilih untuk menjadi
orang-orang pertama yang tinggal di bumi. Bagian mereka dalam rencana Allah
adalah untuk mendatangkan kebagiaan di dunia.
Banyak penjelasan para teolog mengenai dua kata
penting dalam Kejadian 1:26-27;
Berfirmanlah Allah:
"Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya
mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas
ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di
bumi."
Maka Allah menciptakan
manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Kata gambar dan rupa
Allah (tselem dan demuth), pada umumnya kata-kata itu diartikan tunggal, yaitu
bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah. Dalam bahasa Inggris
diterjemahkan in His own image, dalam bahasa Latin Imago Dei yang sama dengan
similitudo. Segambar dengan Allah biasanya juga dapat diartikan ringkas yaitu
“mirip seperti Tuhan sendiri”. Kemiripan atau kesegambaran dengan Allah ini
tanpa penjelasan yang memadai bisa mengacaukan pengertian mengenai
anthropologi; studi mengenai manusia dari sudut pandang Alkitab. Salah memahami
hal ini merusak konsep keselamatan yang benar menurut Alkitab. Sebenarnya
gambar dan keserupaan Allah atas manusialah yang memberi nilai pada manusia
(The image of God is what makes man).
Inilah letak keagungan manusia atau kemuliaannya.
Allah merancang demikian atau menghendaki demikian sejak mulanya. Kemuliaan yang
dimiliki manusia mestinya sesuai dengan rancangan Allah semula, di mana manusia
berkeadaan seperti Allah. Berkeadaan seperti Allah artinya manusia memiliki
moral seperti Allah, di mana segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia
(pikiran, ucapan dan tindakan) selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
Namun kenyataannya manusia gagal memiliki keberadaan seperti ini atas
pilihannya sendiri.
Pada umumnya para teolog tidak membedah secara detail
pengertian keserupaan ini. Mereka tidak dapat membedakan antara gambar dan rupa
secara tepat. Sehingga mereka tidak memahami sebenarnya apa yang dimaksud
dengan kehilangan kemuliaan Allah itu. Pada umumnya mereka hanya memahami
secara ringkas dan dangkal pengertian kejatuhan manusia ke dalam dosa.
Keringkasan dan kedangkalan tersebut tidak bisa menjadi landasan kebenaran yang
kokoh mengenai manusia (antropologi), sehingga tidak dapat membangun
soteriology (pengajaran keselamatan) secara utuh dan tepat. Terkait dengan
kejatuhan manusia ke dalam dosa, perlu kita meninjau ayat dalam Kejadian 9:6.
Di ayat ini tertulis bahwa siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan
tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya.
Dalam teks aslinya kata “gambar” adalah tselem (מֵ֖לְצַ).
Dalam ayat ini tidak dikatakan bahwa manusia memiliki keserupaan (demuth),
tetapi manusia hanya memiliki gambar (tselem). Ayat Firman Tuhan jelas
mengatakan Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya Hal ini kembali
menegaskan bahwa Allah hanya menciptakan manusia menurut gambar-Nya
(tselem-Nya), bukan rupa-Nya (demuth-Nya).
Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, sehingga
keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah, berarti
kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas kehidupan manusia. Dalam teks bahasa
Yunani kata kehilangan adalah hustereo (ὑστερέω)
(Rm. 3:23). Gambar Allah merupakan sesuatu yang intern di dalam diri manusia,
yaitu sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari diri manusia. Sampai kapan pun
gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth)
yang gagal dicapai. Sekalipun manusia telah jatuh dalam dosa, tetapi manusia
masih memiliki komponen yang juga ada pada Allah atau gambar Allah (tselem).
Komponen-komponen itu tidak hilang - yaitu pikiran, perasaan dan kehendak
tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat lagi bisa mencapai
kualitas seperti rupa (demuth) Allah.
Kata hustereo sebenarnya berarti kurang atau tidak
mencapai. Terjemahan Bahasa Indonesia untuk kata hustereo yaitu “kehilangan”
sebenarnya kurang tepat, sebab kata ini seakan-akan mengisyaratkan bahwa
manusia pernah memiliki kemuliaan itu. Padahal sebenarnya Adam belum pernah
menemukan atau mencapai kemuliaan Allah yang dikehendaki oleh-Nya. Kalau Adam
sudah mencapai kemuliaan yang dimaksud berarti Adam mampu memiliki moral
seperti Allah, sehingga Adam hidup dalam penurutan dan penghormatan yang pantas
terhadap Allah. Ini juga berarti Adam berhasil menjadi corpus delicti.
Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal
mencapai rancangan Allah, tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah
hilang sama sekali, tetapi berkeadaan kurang kualitasnya, tidak seperti yang
Allah kehendaki. Ini yang disebut kehilangan kemuliaan Allah. Keselamatan dalam
Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah tersebut dalam
kehidupan umat pilihan. Di sini dapatlah kita pahami bahwa Kekristenan adalah
perjuangan menemukan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah itu terdapat pada
moralnya, bukan hanya mampu melakukan hukum secara umum tetapi memiliki cara
berpikir dan nurani seperti Allah.
Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Baiklah Kita
menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh
bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Harus dipahami,
bahwa menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah barulah sebuah
rancangan dari Allah Tritunggal. Kata-kata yang digunakan untuk gambar dan rupa
di dalam teks asli Alkitab dalam bahasa Ibrani adalah tselem demuth (תוּמדְ
םלֶצֶ).
Dua kata ini digabung tanpa kata penghubung, tetapi kalau secara terpisah
tselem sering diartikan sebagai gambar. Kata tselem hendak menunjuk gambar
dalam arti bahwa komponen-komponen yang dimiliki Allah yang juga dimiliki
manusia yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Sedangkan demuth artinya
keserupaan atau kemiripan, hal ini menunjuk kualitas. Kemudian dalam Kejadian
1:27 tertulis: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut
gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Di ayat ini Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem), tidak ada
kata keserupaan (demuth). Adapun demuth adalah keserupaan yang menunjuk kepada
kualitas atas komponen-komponennya (pikiran, perasan dan kehendak). Kata demuth
lebih menunjuk kepada kemiripan (Ing. fashion, like, similitude). Keserupaan
dengan Allah yang dimiliki manusia ini bukan sesuatu yang sifatnya statis,
tetapi progresif. Dan manusia pertama, Adam harus mengembangkan sendiri
keserupaan itu dalam pimpinan Roh Allah. Kemiripan ini (demuth) mengalami
proses perkembangan. Jadi, yang diciptakan Allah pada mulanya atas manusia
adalah segambarannya (demuth) saja, yaitu manusia memiliki komponen-komponen
yang ada pada Allah, yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Adapun kualitas
komponen-komponen tersebut atau keserupaannya (demuth) menjadi tanggung jawab
manusia.
Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa,
keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah berarti kemuliaan
Allah hilang atau berkurang atas kehidupan manusia. Dalam teks bahasa Yunani
kata kehilangan adalah hustereo (ὑστερέω;
Rm. 3:23). Sampai kapanpun gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang,
tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Komponen-komponen itu tidak
hilang yaitu pikiran, perasaan dan kehendak, tetapi komponen-komponen tersebut
tidak pernah dapat lagi bisa mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah.
Kata hustereo sebenarnya berarti kurang atau tidak mencapai. Hal ini sama
artinya, bahwa Adam belum menemukan gambar diri yang benar atau ideal menurut
Tuhan. Adam belum pernah menemukan atau mencapai kemuliaan Allah yang
dikehendaki oleh-Nya. Kalau Adam sudah mencapai kemuliaan yang dikehendaki
Allah, berarti Adam mampu memiliki moral seperti Allah, sehingga Adam hidup
dalam penurutan dan penghormatan yang pantas terhadap Allah. Ini juga berarti
Adam berhasil menjadi corpus delicti.
Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal
mencapai rancangan Allah. Tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah
hilang sama sekali, tetapi berkeadaan kurang kualitasnya, tidak seperti yang
Allah kehendaki. Ini yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah.
Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah
tersebut dalam kehidupan umat pilihan. Di sini dapatlah kita pahami bahwa
Kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut.
Kemuliaan Allah itu terdapat pada moralnya, bukan hanya mampu melakukan hukum
secara umum, tetapi memiliki cara berpikir dan nurani seperti Allah.
Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah
mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya berkeadaan seperti
Adam sendiri. Kebenaran ini diteguhkan oleh Kejadian 5:3. Dalam ayat tersebut
tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang
laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepada-nya. Kata
rupa dan gambar dalam teks aslinya (Kej. 5:3) adalah tselem dan demuth. Set
memiliki rupa dan gambar Adam, bukan rupa dan gambar Allah. Hal ini hendak
menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan oleh Adam segambar dengan “diri Adam”
sendiri, sama kualitasnya dengan Adam yang sudah jatuh dalam dosa. Dengan
demikian, keturunan Adam tidak pernah melihat atau menemukan sebuah contoh dari
gambar diri manusia yang benar atau ideal, karena Adam yang diharapkan menjadi
teladan gagal menemukan gambar diri yang sesuai kehendak dan rancangan Allah.
Oleh sebab itu, dibutuhkan satu sosok yang dapat menjadi role model gambar diri
yang benar. Yesuslah jawabannya.
Hakikat manusia sebagai gambar dan rupa Allah
(Kej 1:26-27), menjelaskan bahwa manusia
merupakan hasil karya buatan-Nya, secara ilahi dan memang sebagai ciptaan yang
mulia atau berbeda dengan ciptaan lainnya. Karena sangat berbeda dari yang Ia
ciptakan, maka kita sebagai manusia di berikan hak yang istimewa untuk menjadi
gambar (Teladan) serta serupa Allah
(Imago Dei). Tetapi kita tahu bahwa pada
masa yang dulu setelah nenek moyang kita jatuh ke dalam dosa maka kita juga
ikut terbawa ke dalam dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa sebagai ciptaan
yang mulia yang memiliki ke istimewaan khusus dari pada ciptaan lainnya. Di
sini kita melihat bahwa sebenarnya kita sudah kehilangan gambar dan rupa Allah
dan juga gambar indentitas diri kita sebagai ciptaan. Hanya saja sebagai Allah
yang sangat mengasihi kita sebagai ciptaanNya, Ia memberikan kita kesempatan untuk
menjadi gambar dan rupa Allah, sehingga kita tidak kehilangan akan indentitas
diri kita sebagai manusia yang awalnya segambar dan serupa dengan Allah. Maka
dari itu kita di selamatkan dari pelanggaran yang dahulu pernah dilakukan oleh
Adam dan Hawa sehingga kita tidak menjadi ciptaan yang tidak memiliki gambar
dan rupa Allah. (lihat Kejadian. 5:1), akan tetapi pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah,
dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah. Dan
manusia yang harusnya telah rusak, telah kehilangan jati diri, akan
tetapi Allah sebagai pencipta selalu memberikan kesempatan bagi ciptaanNya,
agar dapat memperbaiki diri dan kembali kepada rancangan semula yang merupakan
gambar dan rupaNya. Hal ini yang membuat ciptaan itu berbeda dari yang lainnya
sehingga ia layak disebut menjadi hakikat manusia sebagai gambar dan rupa
Allah.
Dunia
bukan rumah kita. Kita tidak boleh merasa betah di bumi. Seluruh pengharapan
dan kebahagiaan kita hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus yang diwujudkan secara
nyata kelak dikekekalan; dilangit yang baru dan bumi yang baru. Di sana kelak tak
ada air mata dan dukacita.
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]
Referensi:
1. Dr.
Erastus Sabdono, New Paradigm of
Christian Living, Precision Printing, Rehobot Literature,
Jakarta:2017
2. Dr.
Erastus Sabdono, Surga, Precision
Printing, Rehobot Literature, Jakarta:2017
3. Dr.
Erastus Sabdono, Corpus Delicti,
Presicion Printing, Jakarta:2018
4. David
Wallace - Wells, Bumi Yang Tak Dapat
Dihuni (The Uninhabitable Earth), Gramedia, Jakarta;2019
5. John
Rogers, Etika Medis: Suatu Perspektif
Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2003
6. Dr.
R . Soedarmo Iktisar Dogmatika, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2000
7. Paul
F. Knitter, Satu Bumi Banyak Agama,
BPK Gunung Mulia, Jakarta:2018