3 Pilar

3 Pilar

Minggu, 31 Mei 2020

GEREJA BUKAN BANGUNAN


            Banyak spekulasi berpendapat bahwa sejarah gereja dimulai ketika peristiwa di Wittenberg, saat Martin Luther memaparkan 95 dalilnya dipintu gereja, sebagai awal terbangunnya gerakan roformasi dan gereja-gereja pada saat itu. Padahal bila kita telaah dan cermati di dalam Kisah Para Rasul 11:26, untuk pertama kalinya murid-murid Yesus disebut Kristen, ini adalah cikal bakal berdirinya gereja. Walau sebutan kata Kristen yang diberikan kepada mereka yang mengikut Yesus, adalah sebuah ejekan yang berarti pengikut Kristus, ajaran Kristus. Sedangkan arti Kristus sendiri adalah yang diurapi. Kekristenan pada saat itu belum sehebat pada masa kini. Kekristena pada masa murid-murid menjalaninya sungguh harus sembunyi-sembuyi. Penolakan terhadap ajaran Kristen pada waktu itu dikarenakan pengaruh Roma dan para Rabi yang menganggap bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan, Ia hanya anak manusia. Kematiannya dipalsukan dan semua berita tentang kematian dan kebangkitannya juga demikian.

Sejarah Gereja pada abad pertama. Ketika membaca Alkitab, kita menemukan bahwa Tuhan Yesus mengatakan, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya di dunia ini dan mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Apakah arti perkataan Tuhan Yesus ini? Hal ini adalah jaminan yang diberikan kepada Gereja-Nya dan memang jaminan ini sudah dibuktikan kebenarannya di sepanjang sejarah Gereja pada satu abad pertama. Begitu banyak hal yang terjadi dan kalau dilihat dari kacamata dunia, seharusnya Gereja tidak dapat bertahan sama sekali. Dikatakan bahwa Gereja pada abad pertama berdiri menghadapi begitu banyak tantangan, yaitu serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja, penolakan-penolakan dari agama-agama lain, perpecahan di dalam Gereja sendiri, dan tekanan serta penganiayaan dari politik atau negara. Namun sejarah mencatat bahwa ketika Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus mengalami tantangan-tantangan ini, Gereja terus dipelihara oleh Tuhan sendiri sehingga bukan saja bisa bertahan tetapi malah berkembang dengan pesat. Apakah yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Orang dunia banyak menanyakan apa rahasia di balik hal ini? Mari kita mempelajarinya dengan saksama sehingga kita, sebagai Gereja di abad ke-21, juga dapat meneruskan perjuangan Gereja yang sudah dimulai dengan sangat baik di dalam pemeliharaan Tuhan. Hal ini diperlukan demi melanjutkan sejarah Gereja sampai pada generasi yang akan datang sehingga kita dipakai Tuhan menjadi mata rantai yang meneruskan pekerjaan Tuhan melalui Gereja-Nya dan bukan menjadi pemutus rantai sejarah Gereja Tuhan.

            Aniaya besar kemudian terjadi kepada semua pengikut Kristen pada masa tersebut. Beberapa para Rasul ditangkap. Ada yang dipenggal kepalanya, ditarik dari arah berlawanan dengan beberapa ekor kuda. Ada yang dilepaskan diarena gelanggang dan dengan dilepaskannya beberapa ekor binatang buas hingga dilahap dan dicabik-cabiknya mereka hanya demi nama Kristus. Suara nyanyian pujian berubah menjadi menggelegar terikan karena cabikan binatang buas. Sesaat alunan pujian terhenti ketika tali yang terikat dikedua lengat dan kaki menarik putus dikedua rah berlawanan. Peganggalan kepala menjadi jejak rekam kesadisan bentuk penolakan terhadap kekristen pada masa itu. Namun demikian masih ada yang tetap beriman dan mereka mengadakan jam-jam pertemuan ibadah di katakomba-katakomba (kuburan). Katakomba adalah sebuah ruangan atau jalan di bawah tanah yang biasanya digunakan untuk keperluan religius. Biasanya merupakan kuburan bawah tanah yang terletak di berbagai kota Kekaisaran Roma, khususnya di Kota Roma sendiri. 

Gereja pada abad pertama biasa disebut sebagai Gereja pada zaman rasul-rasul (apostolic age). Hal ini dimulai dari hari Pentakosta (setelah kenaikan Tuhan Yesus) sampai pada kematian rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes. Periode Apostolik ini berlangsung kurang lebih 70 tahun, dari kira-kira tahun 30-100 M. Tempat berlangsungnya adalah di tanah Palestina dan secara bertahap meluas ke daerah Siria, Asia Minor, Yunani, dan Italia dengan gereja yang pusat terdapat di kota Yerusalem, Antiokhia, dan Roma. Perkembangan Gereja ini merupakan hasil perjuangan para rasul yang diwakili oleh Rasul Petrus yang banyak mempertobatkan orang Yahudi dan Rasul Paulus yang banyak mempertobatkan orang-orang non-Yahudi. Rasul-rasul lain pun tentu saja turut berbagian dalam memberitakan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia. Namun di tengah-tengah kisah perkembangan Gereja Mula-mula ini, ada beberapa hal yang disayangkan terjadi seperti perpecahan di dalam gereja di Korintus. Hal ini terjadi karena adanya beberapa orang yang mengagung-agungkan orang-orang yang memberitakan Injil dan melayani jemaat di sana sehingga muncul golongan-golongan di antara jemaat. Selain itu, Gereja juga mengalami serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja. Paulus dan Yohanes adalah rasul yang dengan sangat jelas berjuang melawan ajaran sesat ini. Paulus mencatat hal ini di dalam suratnya kepada jemaat Galatia yang mencampuradukkan Injil Yesus Kristus dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Rasul Yohanes berperang melawan ajaran Gnostik yang mulai muncul di akhir abad pertama. Selain itu Gereja juga mengalami penolakan dari agama-agama lain yang sudah ada pada zaman itu. Namun, satu tantangan yang sangat berpengaruh terhadap Gereja adalah tekanan dan penganiayaan dari politik.

            31 Oktober 1517, seorang biarawan tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah gereja di Wittenberg, kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu gereja, ia nekat memaku daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja Katolik. Peristiwa itu dicatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan Reformasi di daratan Eropa dan seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme. Peristiwa tindakan Martin Luther dilatarbelakangi oleh praktik indulgensi yang muncul pada abad ke-11 dan 12 saat Perang Salib masih berkobar. Gereja menjelaskannya sebagai "proses penghapusan siksa-siksa temporal di depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah diampuni". Aturan indulgensi, sudah tertuang khususnya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471. Oelh beberapa teolog dan pemikir gereja, mencatat dan menyampaikan ini awal kebanguan gereja Tuhan. Secara implisit memang demikian tetapi bila kita cerna lebih sungguh dan dalami, sesungguhnya kebangunan gereja dan gereja itu sendiri bukanlah terdiri atas bentuk bangunan belaka. 

            Gereja yang sesungguhnya adalah kehidupan orang percaya. Gereja yang hidup, bergerak dan dinamis ialah organisme yang menghidupkan kebenaran firman-Nya dalam seluruh aspek kehidupannya. Firman Tuhan hanya akan literatur semata, dalam bentuk Alkitab yang tercetak. Alkitab ini akan hidup bahkan menghidupakan insani bila orang percaya mengenakan, menghidupkan, dan meng-ejawantahkan apa yang dikatakan oleh Alkitab sebagai perkataan Tuhan Yesus Kristrus dan sebagai kehendak Bapa yang mengutus-Nya untuk dilakukan. Jika gereja hanya secara oraganisasi, nama, sinode, ataupun kegerakan perhimpunan semata, maka gereja itu adalah gereja baka. Gereja yang akan mati pada waktunya bersama bumi dalam lautan api. Sementara itu gereja yang hanya dalam format organisasi hanya akan menyisahkan pertikaian, perseteruan, ambisi, haus kekuasaan oleh pengaruh politik, kelompok dan golongan. Belum lagi pada masa dimana gereja dibawah kekuasaan negara, pada masa itu gereja benar-benar dikendalikan oleh pemerintahan raja, kekaisaran dan orang-orang yang berkepentingan menggunakan gereja untuk menarik massa dan atas nama agama. Keadaan seperti ini sangat miris dan tentunya membuat hancur hati Tuhan. Namun Tuhan tetap seakan bergeming, tidak berbuat sesuatu apapun namun yang pasti akan ada pengadilan Tuhan yang akan digelar pada saat saat keadaan bumi lenyap.

            Gereja yang hidup, bergerak dan dinamis ialah kehidupan orang percaya dimana mereka menjadi mercusuar yang menerangi banyak kapal yang terdampar ditengah laut kehidupan yang carut marut dan diselimuti awan gelap pemikiran dunia. Dunia dengan segala filosofinya telah menggelapkan mata hati dan pikiran orang percaya untuk menjadikan bumi sebagai dunia yang ideal dan nyaman untuk dihuni. Keadaan sesungguhnya bumi telah terkutuk, ketika lusifer hendak menyamai Tuhan, manusia pertama telah memberontak terhadap kehedak-Nya, menjadikan bumi (adamah= tanah) terkutuk. Adam sendiri beserta manusia selanjutnya akan dengan peluh mengolah bumi dan mencari rejeki. Padahal bumi ini sebelumnya dirancang diciptakan oleh Allah sebagai surga (Ibrani= samayim). Ketika bumi terkutuk, maka Allah merancangkan keselamatan agar supaya manusia dikembalikan kepada rancangan Allah semula, diutusnya Yesus Kristus sebagai Pokok Keselamatan. Dunia dengan segala pesonanya menampilkan kemolekannya  untuk menarik sebanyak mungkin orang percaya untuk tenggelam dalam kehanyutan manisnya cinta fana fatamorgana dunia. Keindahan dunia sesungguhnya kan sirna dan maya belaka. Keadaan cara pandang (perspektif) dan mindset manusia telah terkontamisasi oleh premis dasar yang telah membaku bahkan menjadi budaya yang diturunkan turun temurun oleh nenek moyang dan oleh hasil pemikiran manusia. Seiring zaman, perkembangan teologia terus mengalami perkembangan tentang Tuhan dan kajian teologi baik doktrin dan dogmatika kekristenan. PAK dalam hal ini mempunyai peranan unggul dan koheren terhadap tanggung jawab gereja bagi orang percaya (warga gerejanya) untuk dibina, dibimbing dan dikatekisasi dalam kebenaran-Nya.

            PAK dan gereja harus seirama dan secara koheren dalam membina warga gerejanya. Dalam hal ini guru PAK, guru Injil, konselor, mentor, aktivis, penatua, para pelayan Tuhan dan gembala jemaat, harus dan sudah mengalami pembaharuan hidup (lahir baru). Proses kelahiran baru tidak instan dan dengan waktu yang singkat. Proses kelahiran baru membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan dibutuhkan melepaskan semua. Melepaskan berarti menanggalkan bahkan bisa membunuh diri sedniri, dalam artian, membunuh kedagingan, seperti membunuh kebiasaan-kebiasaan lama, dan yang berhubungan lahiriah dan manusia lama. Keadaan perjuangan ini bagi para pelayan Tuhan akan menghidupkan Kalam dalam proses PAK itu sediri. Guru PAK dengan teologia yang sehebat dan sebagus apapun tidak akan mampu mengubah karakter seseorang (nara didik dan warga gerejanya), apabila si pembara berita (Kalam), guru PAK, pelayan Tuhan tidak lebih dulu mengalami proses kelahiran baru dan mengenakan kodrat ilahi. Untuk mengenakan kodrat ilahi seseorang harus menanggalkan manusia lama. Melepaskan dan menanggalkan manusia lama adalah bagian membunuh diri sendiri dengan mengosongkan ke-akua-an (ego), dan belajar untuk mengerti, memahami serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Melakukan kehendak Tuhan, membutuhkan proses dimana seseorang terus mencari dan sampai mengalami Tuhan. Pelayan Tuhan harus benar-benar sampai mengerti pikiran dan perasaan Tuhan sehingga pelayanan hidup.  Pelayanan yang hidup tidak dilandasi oleh pengalaman semata, kasih kepada Tuhan justru membuat seseorang dapat menjadi profesional dibidangnya. Bila pelayan Tuhan hidup dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan, maka apapun yang dilakukan didalam pelayanan mampu menyentuh hati dan pikiran warga gerejanya.

            Gereja yang hidup bukanlah bangunan. Bangunan sepermanen dan sebagus apapun akan usang seiring waktu. Demikian pula PAK yang hidup harus mampu memberi hidup melalui pelayanan para pelayan-Nya dalam mengayomi dan membina nara didik dan warga gerejanya. Kapasitas guru PAK (sebagai pelayan Tuhan) tidak boleh diukur secara akademisi semata. Kompetensinya terarah ketika nara didik dan warga gerejanya mengalami perubahan karakter. Pelayanan yang hidup sejatinya memberi hidup dan bukan mencari hidup. Guru PAK harus berani membayar harga seberapapun besarnya sekalipun hanya untuk menyelamatkan satu jiwa. hal ini harus menjadi landasan berpikir dan materi dalam sekolah tinggi teologia dan prodi PAK, ketika seseorang berkomitmen mengampu perkuliahan tersebut dan secara konsisten harus konkrit diterapkan sampai dipelayanan yang nyata. Pelayanan yang sesungguhnya ialah bagaimana mengubah kodrat dosa menjadi mengenakan kodrat ilahi. Perubahan ini harus diawali dari pelayan Tuhan. Pelayan Tuhan, dalam hal ini guru PAK dan teolog tidak hanya kompeten dibidangnya, mahir berteologia dan mengajar tetapi harus mampu meng-ejawantahkan firman kebenaran dalam seluruh aspek hidupnya. Ia harus menjadi figur teladan gambar Kristus yang nyata. Role model yang konkrit dan dinamis secara utuh untuk ditiru, diteladani. Banyak nara didik dan warga gereja kecewa ketika melihat guru PAK hanya pandai sebatas pengajarannya, enak didengar hanya sampai ditelinga pendengarnya, namun tidak menyentuh kalbu dan batiniah pendengarnya. Perubahan mindset pendengar ketika hati batiniahnya tersentuh. Bahkan Kalam yang ditaburkan akan hidup dan me-rhema bagi pendengarnya. PAK harus benar-benar solid dalam pengajaran dan perbuatan. Tidak ada toleransi terhadap dosa. Kesucian harus benar-benar putih dan bukan abu-abu atau hitam dalam akselerasi impelementasinya. Jika guru PAK dan pelayan Tuhan berlaku demikian, maka gereja telah mampu mengubah hidup nara didik dan warga gerejanya sehingga hidup yang dijalaninya bukan manusia lama melainkan Kristus yang hidup di dalam mereka.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]

    

Jumat, 29 Mei 2020

MELARAT IMAN


         Dalam Matius 5:3, tertulis: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”. Setiap orang percaya pasti mengejar yang namanya kebahagiaan. Apapun gendernya, usia, stratanya, pasti berhasrat dan memiliki impian meraih kebahagiaan yang hendak dicapainya baik dalam terwujudnya cita-cita, terwujudnya pemenuhan finansial, terwujudnya pencapaian gelar akademisi, terwujudnya kemapanan hidup, nama baik dan respect dari sesamanya. Ini adalah normal dan manusiawi. Orang gilapun mengingini kebahagiaan walau kebahagiaan yang diraihnya tidak se-ideal bagi yang waras, tapi mereka juga mengingininya. Demikianpun dengan mahluk hidup lainnya, hewan juga mengingini kebahagiaan dengan tercapainya makan minum dan pemenuhan kebutuhan nalurinya. Demikianpun dengan alam, pepohoanan dan tumbuhan, mereka juga membutuhkan udara segara yang tidak terkontaminasi polusi, tanah yang subur dengan asupan sumber daya alam yang membuat mereka dapat meneruskan hidup.  Hal ini menunjukkan bahwa diseluruh muka bumi ini, semua mahluk hidup mengini meraih yang namanya kebahagiaan. Karena kebahagiaan dapat menciptakan senyawa yang dapat memperpanjang siklus kehidupan. 

Tetapi dalam kalimat selanjutnya, ada kata “miskin: yang pasti akan dihindari oleh semua insani. Kata miskin dalam ayat ini berarti ptokoi. Kata ptokoi ini memiliki bentuk tunggal ptokos berarti sangat miskin, tidak memiliki daya sama sekali atau tidak memiliki apa-apa. Dalam bahasa Yunani kata “miskin” selain ptokoi terdapat juga kata lain, yaitu penikhros dan penes. Penikhros lebih menunjuk kemiskinan secara materi dunia (harta duniawi) atau secara finansial. Jadi, kalau dijumpai kata penikhros asumsinya menunjuk pada kemiskinan finansial. Inilah pengertian miskin yang dimengerti oleh orang pada umumnya. Bila seseorang tertumbuk kata penikhros, maka kata ini akan selalu dikaitkan dengan kekurangan harta. Kata penikhrosini dikenakan atau ditujukan untuk janda miskin yang kisahnya ditulis dalam Lukas 21:2. Kata “miskin” dalam teks ini adalah penikhros.  2 Korintus 9:9, istilah Penes menunjukkan orang yang miskin, tetapi masih mampu menghidupi diri sendiri dengan bekerja. Jadi kata penes hendak menunjuk keadaan ekonomi seseorang yang “minim” atau pas-pasan. Perbedaan kata penikhros dan penes dengan ptokos adalah kata “ptokos” menunjuk kemiskinan yang sangat ekstrem, dimana si miskin tidak mampu sama sekali mencari penghidupan atas dirinya. Sedangkan kata ptokos juga memiliki relasional dengan kata ptossein yang berarti menundukkan badan. Hal ini menunjukkan ketidak-berdayaan seseorang sehingga ia tidak mampu atau tidak layak menegakkan badan. Oleh karena teks asli Alkitab kata “miskin” di sini adalah ptokoi, maka dalam terjemahan bahasa Inggris rata-rata (New International Version dan New King James Version), diterjemahkan: poor  ini spirit  (miskin dalam roh), sedangkan dalam terjemahan Good News Bible diterjemahkan spiritually poor.

            Pada zaman pra sejarah, manusia purba pada masa itu mempunyai sifat sosial nomaden, berpindah tempat. Keingiann seperti itu secara sosiologi dan psikologi ditemui bahwa pada masa tersebut, manusia purba sudah memiliki keinginan untuk mencapai kebahagaiaan dalam komunitasnya, keluarga mereka. Rasa nyaman dan aman terhindar dari hewan buas, bahkan sesama mereka yang mencoba imperialis dan menguasai wilayah, berkecukupan pangan, terhindar dari cuaca buruk, dan sebagainya. Seiring kemajuan peradaban, manusia purba mengalami perkembangan budaya dan sirkuit pada otaknya, sehingga mereka mulai beradaptasi dengan lingklungan dan mulai mengembangkan ketrampilan yang dapat mereka lakukan. Dulu mereka nomaden, tinggal dari satu tempat ke tempat lain. Berburu dan tanpa diolah langsung dikonsumsi dengan cara mereka. Semakin kemari, mereka tidak lagi nomaden. Mereka tinggal menetap. Bukan lagi diatas pohon, atau di gua-gua kecil tapi lebih secara permanen dengan bahan seadanya ataupun berada di dalam gua dengan konstur yang lebih baik. Mereka mulai belajar mengolah makanan, misalnya hasil buruan diolah dengan cara dimasak, dibakar/panggang. Bercocok tanam, membuat alat-alat keramik, persenjataan tajam dari batu dan besi. Membuat baju dari kulit hewan, semakin lanjut mulai mengenal menenun dan seterusnya. Semua itu dikerjakan sebagai pemenuhan kebutuhan dan sebagai perkembangan peradaban. Pemenuhan kebutuhan ini dalam ilmu ekonomi ada 3 aspek yang harus dipenuhi, yakni kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Ketiganya akan menjadi serasi apabila terpenuhi bagi kehidupan umat manusia. Namun bila ditelusuri sesungguhnya semua kebutuhan-kebutuhan ini semakin usang diterpa zaman. Sebagai contoh, dulu kebutuhan primer harus dipenuhi sebagai yang utama lalu sesudahnya sekunder. Pada masa kini, hampir semua insani sangat membutuhkan alat komunikasi sebagai kebutuhan primer, walau pakaian bisa ditunda untuk dibeli atau diadakan. Makan bisa ditunda asal handphone, laptop dan gadged bisa tersedia, soal makan minum jadi sekunder. Kenyataannya, insani bisa melakukan tindak kejahatan hanya karena kebutuhan alat komunikasi atau gawai sebagai primer, prioritas utama untuk membuat dirinya nyaman. Bayangkan menurut hasil penelitian bahwa setiap 2-5 menit didapati seseorang harus kontinue membuka hp nya dan meng-echek untuk melihat notifikasi ada berita/informasi apa, melihat chatingan, media sosial, dan sebagainya. Fokus perhatiannya terhadap gawai tidak bisa dihindari hampir menjadi sebagian dari jiwanya.

            Mengkonsumsi untuk pemenuhan lahiriah pada saat sekarang ini telah mengalami trendy kekinian, fast food, fashionable, hi-tech, online, etc. keadaan ini dikondisikan oleh vendor untuk service yang memuaskan bahkan memudahkan pola enterpreneurship pada zaman sekarang bahkan kedepannya. Manusia senantiasa semakin berupaya memenuhi nilai diri sebagai prestise dan style of life yang konvensional. Mau tidak mau, semua berlomba ke arah sana. Hanya sayangnya, yang kurang mampu dalam finansial akan terlibas oleh keadaan seperti ini. Terjadinya kesenjangan sosial, dimana yang kaya semakin memperkaya diri, sednagkan yang marginal semakin terpuruk. Lahirlah tindak kejahatan sebagai bentuk pemberontakan secara tidak langsung hanya untuk memenuhi bagian hidup yang harus dipenuhi, yakni makanan dan kecukupan uang. Walau pada dasarnya mansuai tidak akan pernah merasa puas diri. Ia akan senantiasa memenuhi kebutuhan tersebut hingga sampai teratas bahkan bila perlu paling teratas diatas semuanya. Padahal bila ajal menjemput, sama sekali apa yang diperjuangkan tidak akan pernah dibawa mati. Kebobrokan moral manusia semakin nyata yang dikanvas indah dengan ketamakan berbalur kerakusan. Mansuai bisa menjadi serigala bagi sesamanya tanpa pandang bulu dan nilai-nilai moralitas semakin merosot tanpa malu. Justru dalam hal ini mereka yang berlaku demikian pantas disebut miskin walau kaya dalam keberadaan. Kepapahan terlihat nyata ketika insani tidak lagi memiliki hati nurasi dan nalar yang sehat. Nilai-nilai iman dan kepercayaan bahkan hampir sama sekali tidak nampak karena hampir semua insani sekarang sedang berjalan bersama menjauhi Jalan Kebenaran dan secara nyata menganggap itu keniscayaan.  

          Tuhan dianggap tidak ada oleh sebagian masyarakat walau secara identitas beragama dan melakukan syariat keagamaannya. Bentuk keagamaan maya dan tidak konkrit. Kenyataannya manusia lebih memilih ber-tuhankan uang, harta benda, kehormatan, kejayaan, nama baik, sanjungan, arogansi diri, dan hal-hal dapat menguntungkan diri bahkan kepuasan jiwa. tanpa sungkan dapat menyingkirkan, saling menggigit dan menelan sesama. Manusia menjadi haus kekuasaan, seks dan harta. Sesungguhnya mereka yang demikian adalah orang-orang yang melarat secara iman. Melarat karena kepunyaan mereka hanya belaka, semu, maya dan sementara. Iman mereka hanya tertuang dalam kata dan simbolis religis semata namun pada kenyataannya, tindakan wujud iman tidak sama sekali diejawantahkan dengan penurutan terhadap apa yang dipercayainya. Percaya mereka hanya dimulut dan pikiran. Hati mereka hanya mencari timbal balik dari apa yang dianggap sebagai percaya tanpa berani memberi diri sebagai korban dari apa yang dipercayainya. Melarat iman karena orang-orang tersebut tidak mendapat perkenanan-Nya. Sesungguhnya mereka miskin bahkan melarat sekalipun keberadaannya jauh di atas keberadaan sesamanya. Sama halnya dalam kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin (Lukas 16:19-31), orang kaya memang menikmati kejayaannya namun ia melarat dalam iman dibandingkan dengan Lazarus yang miskin dalam kepapahan namun ia dipandang kaya di mata Allah. Orang kaya tersebut senantiasa bersukaria dalam kemewahannya sedangkan Lazarus dalam keseharian berjuang atas hidupnya. Hal ini berarti sebagai orang percaya harus memperhatikan mereka yang harus ditolong, karena melayani mereka sama halnya melayani Dia yang menciptakan sesama  (bnd. Matius 25:35-38). 

            Melarat iman, berarti sesungguhnya sama sekali tidak dimiliki Tuhan atau mendapat perkenanan-Nya. Keadaan ini akan sangat menyedihkan dan tragis apabila kelak diujung maut dan ketika berhadapan dengan Allah pencipta, ternyata manusia tidak dikenal-Nya, tidak diakui-Nya, baik dihadapan Bapa maupun Anak (bnd. Matius 7:21-23). Ciri-ciri seorang yang melarat akan iman, ialah mereka yang tidak memiliki kasih akan Bapa, tidak mempunyai persekutuan yang kuat terhadap Bapa. Fokusnya hanya lahiriah dan pemenuhan diri, tidak mampu berkomunikasi intim melalui persekutuan dalam roh dan kebenaran. Sebaliknya mereka yang merasa haus dan lapar akan Dia, merekalah yang miskin dalam roh dan seakan belum dahaga tanpa bertemu muka dengan muka dengan Dia. Kerinduan hatinya hanya terpaut kepada Tuhan semata. Hatinya kepincut dan tergores jiwanya akan kasih-Nya. Terpatri dan membebat senantiasa dihati orang percaya yang benar-benar haus dan lapar kan kebenaran-Nya. Kawasan orang beragama masih bisa memberi hati untuk menikmati dunia. Tetapi kawasan hidup sebagai umat tebusan yang dikehendaki Tuhan untuk menjadi mempelai Tuhan, ia harus sudah menikmati Tuhan. Ini kawasan yang sangat berbeda yang tidak ditemukan titik temunya dengan kawasan orang beragama. Banyak orang Kristen merasa ada di kawasan rohani. Merasa di kawasan mempelai Kristus, kawasan sebagai anak Allah, kawasan berurusan dengan Bapa dan Anak. Padahal belum, tidak, palsu. Jadi tidak heran orang - orang seperti ini sebenarnya belum meninggalkan dunia.

Kekristenan itu merenggut kita dari hidup kewajaran. Kalau kita lihat kehidupan Abraham saja di Perjanjian Lama. Bagaimana hidupnya direnggut oleh kepercayaannya kepada Elohim Yahweh. Ini gambaran iman yang harus dimiliki orang Kristen. Tuhan Yesus berkata, "Jika kamu tidak melepaskan segala sesuatu, kamu tidak dapat menjadi muridKu, kamu tidak dapat diubah. Kita harua jujur memeriksa diri kita masing - masing. Jujur menemukan diri kita masing - masing. Sebenarnya apa yang paling kita ingini dalam hidup ini ? Apa yang menjadi passion dalam hidup kita ? Apa yang paling kita rindukan ? Apa yang membuat kita benar - benar haus dan lapar ?  Kalau kita sampai benar - benar haus dan lapar akan kebenaran artinya bagaimana kita bisa menemukan Tuhan. Menemukan Tuhan, artinya, kita bisa mengerti dan melakukan kehendakNya dan itu dengan kesadaran penuh bukan fantasi. Tuhan Yesus memberi peluang kepada kita ruang yang tidak terbatas. Dia berkata: "Aku datang untuk memberi hidup, supaya merka memilikinya dalam segala kelimpahan." Orang yang merasa miskin di hadapan Allah adalah orang yang memiliki keseriusan untuk berurusan dengan Tuhan guna menerima anugerah keselamatan. Kalau seseorang tidak merasa miskin di hadapan Allah, maka sulit untuk menerima anugerah tersebut. Tuhan Yesus menyatakan bahwa hanya orang sakit yang membutuhkan dokter (Mat. 9:12). Kegagalan orang Yahudi menerima keselamatan dikarenakan mereka merasa sudah memiliki kebenaran dengan melakukan hukum Taurat (Rm. 3:28). Dengan demikian mereka merasa tidak miskin di hadapan Allah, mereka merasa sebagai orang sehat yang tidak membutuhkan tabib.