Banyak spekulasi berpendapat bahwa
sejarah gereja dimulai ketika peristiwa di Wittenberg, saat Martin Luther
memaparkan 95 dalilnya dipintu gereja, sebagai awal terbangunnya gerakan
roformasi dan gereja-gereja pada saat itu. Padahal bila kita telaah dan cermati
di dalam Kisah Para Rasul 11:26, untuk pertama kalinya murid-murid Yesus
disebut Kristen, ini adalah cikal bakal berdirinya gereja. Walau sebutan kata
Kristen yang diberikan kepada mereka yang mengikut Yesus, adalah sebuah ejekan
yang berarti pengikut Kristus, ajaran Kristus. Sedangkan arti Kristus sendiri
adalah yang diurapi. Kekristenan pada saat itu belum sehebat pada masa kini.
Kekristena pada masa murid-murid menjalaninya sungguh harus sembunyi-sembuyi.
Penolakan terhadap ajaran Kristen pada waktu itu dikarenakan pengaruh Roma dan
para Rabi yang menganggap bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan, Ia hanya anak
manusia. Kematiannya dipalsukan dan semua berita tentang kematian dan
kebangkitannya juga demikian.
Sejarah
Gereja pada abad pertama. Ketika membaca Alkitab, kita menemukan bahwa Tuhan
Yesus mengatakan, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di
atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan
menguasainya” (Mat. 16:18). Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya di dunia ini dan
mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Apakah arti perkataan Tuhan
Yesus ini? Hal ini adalah jaminan yang diberikan kepada Gereja-Nya dan memang
jaminan ini sudah dibuktikan kebenarannya di sepanjang sejarah Gereja pada satu
abad pertama. Begitu banyak hal yang terjadi dan kalau dilihat dari kacamata
dunia, seharusnya Gereja tidak dapat bertahan sama sekali. Dikatakan bahwa
Gereja pada abad pertama berdiri menghadapi begitu banyak tantangan, yaitu
serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja,
penolakan-penolakan dari agama-agama lain, perpecahan di dalam Gereja sendiri,
dan tekanan serta penganiayaan dari politik atau negara. Namun sejarah mencatat
bahwa ketika Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus mengalami
tantangan-tantangan ini, Gereja terus dipelihara oleh Tuhan sendiri sehingga
bukan saja bisa bertahan tetapi malah berkembang dengan pesat. Apakah yang
menyebabkan hal ini bisa terjadi? Orang dunia banyak menanyakan apa rahasia di
balik hal ini? Mari kita mempelajarinya dengan saksama sehingga kita, sebagai
Gereja di abad ke-21, juga dapat meneruskan perjuangan Gereja yang sudah
dimulai dengan sangat baik di dalam pemeliharaan Tuhan. Hal ini diperlukan demi
melanjutkan sejarah Gereja sampai pada generasi yang akan datang sehingga kita
dipakai Tuhan menjadi mata rantai yang meneruskan pekerjaan Tuhan melalui
Gereja-Nya dan bukan menjadi pemutus rantai sejarah Gereja Tuhan.
Aniaya besar kemudian terjadi kepada
semua pengikut Kristen pada masa tersebut. Beberapa para Rasul ditangkap. Ada
yang dipenggal kepalanya, ditarik dari arah berlawanan dengan beberapa ekor
kuda. Ada yang dilepaskan diarena gelanggang dan dengan dilepaskannya beberapa
ekor binatang buas hingga dilahap dan dicabik-cabiknya mereka hanya demi nama
Kristus. Suara nyanyian pujian berubah menjadi menggelegar terikan karena
cabikan binatang buas. Sesaat alunan pujian terhenti ketika tali yang terikat
dikedua lengat dan kaki menarik putus dikedua rah berlawanan. Peganggalan kepala
menjadi jejak rekam kesadisan bentuk penolakan terhadap kekristen pada masa
itu. Namun demikian masih ada yang tetap beriman dan mereka mengadakan jam-jam
pertemuan ibadah di katakomba-katakomba (kuburan). Katakomba adalah sebuah
ruangan atau jalan di bawah tanah yang biasanya digunakan untuk keperluan
religius. Biasanya merupakan kuburan bawah tanah yang terletak di berbagai kota
Kekaisaran Roma, khususnya di Kota Roma sendiri.
Gereja
pada abad pertama biasa disebut sebagai Gereja pada zaman rasul-rasul
(apostolic age). Hal ini dimulai dari hari Pentakosta (setelah kenaikan Tuhan
Yesus) sampai pada kematian rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes. Periode
Apostolik ini berlangsung kurang lebih 70 tahun, dari kira-kira tahun 30-100 M.
Tempat berlangsungnya adalah di tanah Palestina dan secara bertahap meluas ke
daerah Siria, Asia Minor, Yunani, dan Italia dengan gereja yang pusat terdapat
di kota Yerusalem, Antiokhia, dan Roma. Perkembangan Gereja ini merupakan hasil
perjuangan para rasul yang diwakili oleh Rasul Petrus yang banyak
mempertobatkan orang Yahudi dan Rasul Paulus yang banyak mempertobatkan
orang-orang non-Yahudi. Rasul-rasul lain pun tentu saja turut berbagian dalam
memberitakan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia. Namun di tengah-tengah kisah
perkembangan Gereja Mula-mula ini, ada beberapa hal yang disayangkan terjadi
seperti perpecahan di dalam gereja di Korintus. Hal ini terjadi karena adanya
beberapa orang yang mengagung-agungkan orang-orang yang memberitakan Injil dan
melayani jemaat di sana sehingga muncul golongan-golongan di antara jemaat.
Selain itu, Gereja juga mengalami serangan dari ajaran-ajaran sesat yang
menyusup ke dalam Gereja. Paulus dan Yohanes adalah rasul yang dengan sangat
jelas berjuang melawan ajaran sesat ini. Paulus mencatat hal ini di dalam
suratnya kepada jemaat Galatia yang mencampuradukkan Injil Yesus Kristus dengan
tradisi Yahudi. Sedangkan Rasul Yohanes berperang melawan ajaran Gnostik yang
mulai muncul di akhir abad pertama. Selain itu Gereja juga mengalami penolakan
dari agama-agama lain yang sudah ada pada zaman itu. Namun, satu tantangan yang
sangat berpengaruh terhadap Gereja adalah tekanan dan penganiayaan dari
politik.
31 Oktober 1517, seorang biarawan
tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah gereja di Wittenberg,
kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu gereja, ia nekat memaku
daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja Katolik. Peristiwa itu
dicatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan Reformasi di daratan Eropa dan
seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme. Peristiwa tindakan Martin Luther
dilatarbelakangi oleh praktik indulgensi yang muncul pada abad ke-11 dan 12
saat Perang Salib masih berkobar. Gereja menjelaskannya sebagai "proses
penghapusan siksa-siksa temporal di depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah
diampuni". Aturan indulgensi, sudah tertuang khususnya dalam Katekismus
Gereja Katolik 1471. Oelh beberapa teolog dan pemikir gereja, mencatat dan
menyampaikan ini awal kebanguan gereja Tuhan. Secara implisit memang demikian
tetapi bila kita cerna lebih sungguh dan dalami, sesungguhnya kebangunan gereja
dan gereja itu sendiri bukanlah terdiri atas bentuk bangunan belaka.
Gereja yang sesungguhnya adalah
kehidupan orang percaya. Gereja yang hidup, bergerak dan dinamis ialah
organisme yang menghidupkan kebenaran firman-Nya dalam seluruh aspek
kehidupannya. Firman Tuhan hanya akan literatur semata, dalam bentuk Alkitab
yang tercetak. Alkitab ini akan hidup bahkan menghidupakan insani bila orang
percaya mengenakan, menghidupkan, dan meng-ejawantahkan apa yang dikatakan oleh
Alkitab sebagai perkataan Tuhan Yesus Kristrus dan sebagai kehendak Bapa yang
mengutus-Nya untuk dilakukan. Jika gereja hanya secara oraganisasi, nama,
sinode, ataupun kegerakan perhimpunan semata, maka gereja itu adalah gereja
baka. Gereja yang akan mati pada waktunya bersama bumi dalam lautan api.
Sementara itu gereja yang hanya dalam format organisasi hanya akan menyisahkan
pertikaian, perseteruan, ambisi, haus kekuasaan oleh pengaruh politik, kelompok
dan golongan. Belum lagi pada masa dimana gereja dibawah kekuasaan negara, pada
masa itu gereja benar-benar dikendalikan oleh pemerintahan raja, kekaisaran dan
orang-orang yang berkepentingan menggunakan gereja untuk menarik massa dan atas
nama agama. Keadaan seperti ini sangat miris dan tentunya membuat hancur hati
Tuhan. Namun Tuhan tetap seakan bergeming, tidak berbuat sesuatu apapun namun
yang pasti akan ada pengadilan Tuhan yang akan digelar pada saat saat keadaan
bumi lenyap.
Gereja yang hidup, bergerak dan
dinamis ialah kehidupan orang percaya dimana mereka menjadi mercusuar yang
menerangi banyak kapal yang terdampar ditengah laut kehidupan yang carut marut
dan diselimuti awan gelap pemikiran dunia. Dunia dengan segala filosofinya
telah menggelapkan mata hati dan pikiran orang percaya untuk menjadikan bumi
sebagai dunia yang ideal dan nyaman untuk dihuni. Keadaan sesungguhnya bumi
telah terkutuk, ketika lusifer hendak menyamai Tuhan, manusia pertama telah
memberontak terhadap kehedak-Nya, menjadikan bumi (adamah= tanah) terkutuk.
Adam sendiri beserta manusia selanjutnya akan dengan peluh mengolah bumi dan
mencari rejeki. Padahal bumi ini sebelumnya dirancang diciptakan oleh Allah
sebagai surga (Ibrani= samayim). Ketika bumi terkutuk, maka Allah merancangkan
keselamatan agar supaya manusia dikembalikan kepada rancangan Allah semula,
diutusnya Yesus Kristus sebagai Pokok Keselamatan. Dunia dengan segala pesonanya
menampilkan kemolekannya untuk menarik
sebanyak mungkin orang percaya untuk tenggelam dalam kehanyutan manisnya cinta
fana fatamorgana dunia. Keindahan dunia sesungguhnya kan sirna dan maya belaka.
Keadaan cara pandang (perspektif) dan mindset manusia telah terkontamisasi oleh
premis dasar yang telah membaku bahkan menjadi budaya yang diturunkan turun
temurun oleh nenek moyang dan oleh hasil pemikiran manusia. Seiring zaman,
perkembangan teologia terus mengalami perkembangan tentang Tuhan dan kajian
teologi baik doktrin dan dogmatika kekristenan. PAK dalam hal ini mempunyai
peranan unggul dan koheren terhadap tanggung jawab gereja bagi orang percaya (warga
gerejanya) untuk dibina, dibimbing dan dikatekisasi dalam kebenaran-Nya.
PAK dan gereja harus seirama dan
secara koheren dalam membina warga gerejanya. Dalam hal ini guru PAK, guru
Injil, konselor, mentor, aktivis, penatua, para pelayan Tuhan dan gembala
jemaat, harus dan sudah mengalami pembaharuan hidup (lahir baru). Proses kelahiran
baru tidak instan dan dengan waktu yang singkat. Proses kelahiran baru
membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan dibutuhkan melepaskan semua. Melepaskan
berarti menanggalkan bahkan bisa membunuh diri sedniri, dalam artian, membunuh
kedagingan, seperti membunuh kebiasaan-kebiasaan lama, dan yang berhubungan
lahiriah dan manusia lama. Keadaan perjuangan ini bagi para pelayan Tuhan akan
menghidupkan Kalam dalam proses PAK itu sediri. Guru PAK dengan teologia yang
sehebat dan sebagus apapun tidak akan mampu mengubah karakter seseorang (nara
didik dan warga gerejanya), apabila si pembara berita (Kalam), guru PAK,
pelayan Tuhan tidak lebih dulu mengalami proses kelahiran baru dan mengenakan
kodrat ilahi. Untuk mengenakan kodrat ilahi seseorang harus menanggalkan
manusia lama. Melepaskan dan menanggalkan manusia lama adalah bagian membunuh
diri sendiri dengan mengosongkan ke-akua-an (ego), dan belajar untuk mengerti,
memahami serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Melakukan kehendak Tuhan,
membutuhkan proses dimana seseorang terus mencari dan sampai mengalami Tuhan. Pelayan
Tuhan harus benar-benar sampai mengerti pikiran dan perasaan Tuhan sehingga
pelayanan hidup. Pelayanan yang hidup tidak
dilandasi oleh pengalaman semata, kasih kepada Tuhan justru membuat seseorang
dapat menjadi profesional dibidangnya. Bila pelayan Tuhan hidup dalam penurutan
terhadap kehendak Tuhan, maka apapun yang dilakukan didalam pelayanan mampu
menyentuh hati dan pikiran warga gerejanya.
Gereja yang hidup bukanlah bangunan.
Bangunan sepermanen dan sebagus apapun akan usang seiring waktu. Demikian pula PAK
yang hidup harus mampu memberi hidup melalui pelayanan para pelayan-Nya dalam
mengayomi dan membina nara didik dan warga gerejanya. Kapasitas guru PAK
(sebagai pelayan Tuhan) tidak boleh diukur secara akademisi semata. Kompetensinya
terarah ketika nara didik dan warga gerejanya mengalami perubahan karakter. Pelayanan
yang hidup sejatinya memberi hidup dan bukan mencari hidup. Guru PAK harus
berani membayar harga seberapapun besarnya sekalipun hanya untuk menyelamatkan satu
jiwa. hal ini harus menjadi landasan berpikir dan materi dalam sekolah tinggi
teologia dan prodi PAK, ketika seseorang berkomitmen mengampu perkuliahan
tersebut dan secara konsisten harus konkrit diterapkan sampai dipelayanan yang
nyata. Pelayanan yang sesungguhnya ialah bagaimana mengubah kodrat dosa menjadi
mengenakan kodrat ilahi. Perubahan ini harus diawali dari pelayan Tuhan.
Pelayan Tuhan, dalam hal ini guru PAK dan teolog tidak hanya kompeten
dibidangnya, mahir berteologia dan mengajar tetapi harus mampu
meng-ejawantahkan firman kebenaran dalam seluruh aspek hidupnya. Ia harus
menjadi figur teladan gambar Kristus yang nyata. Role model yang konkrit dan
dinamis secara utuh untuk ditiru, diteladani. Banyak nara didik dan warga
gereja kecewa ketika melihat guru PAK hanya pandai sebatas pengajarannya, enak
didengar hanya sampai ditelinga pendengarnya, namun tidak menyentuh kalbu dan
batiniah pendengarnya. Perubahan mindset pendengar ketika hati batiniahnya
tersentuh. Bahkan Kalam yang ditaburkan akan hidup dan me-rhema bagi
pendengarnya. PAK harus benar-benar solid dalam pengajaran dan perbuatan. Tidak
ada toleransi terhadap dosa. Kesucian harus benar-benar putih dan bukan abu-abu
atau hitam dalam akselerasi impelementasinya. Jika guru PAK dan pelayan Tuhan
berlaku demikian, maka gereja telah mampu mengubah hidup nara didik dan warga
gerejanya sehingga hidup yang dijalaninya bukan manusia lama melainkan Kristus
yang hidup di dalam mereka.
[Johanes
Kurniawan, M.Pd.K]

