A.
Pendahuluan
Pemanasan
Global dan Perubahan Iklim adalah suatu pembicaraan yang hangat diakhir-akhir
ini. Tak seorangpun dapat mendeteksi apa yang akan terjadi dari gejala alam.
Alam sudah sedemikian rusak dan pengelolaan sudah pada waktu yang tepat
mengingat bencana alam menjadi petaka besar bagi kehidupan. Ekosistem terganggu dan pengrusakan alam
secara liar maupun legal tidak memperhatikan masa depan alam itu sendiri.
Habitat hidup terganggu dan tidak ada kenyamanan dan di sana sini telah dan
akan terjadi bencana.
Peran teologi Kristen dan mencari kembali dasar teologi yang tepat, melihat
bahwa perlakuan manusia sangat berperan membangun hubungan baik suatu
tanggungjawab supaya alam tidak semakin hancur sebagai krisis ekologis.
Pertanyaan sekitar mengapa kita harus memelihara alam, bukan lagi momok
pembicaraan saja. Alam adalah subjek yang suci dan harus dipertahankan di mana
manusia dan lingkungan adalah ciptaan Allah yang perlu diselamatkan. Masalah
lingkungan hidup telah menjadi masalah yang sangat krusial dewasa ini.
Menurut Prof. Emil Salim dalam 30 tahun ke depan kita
akan menghadapi berbagai masalah, termasuk ancaman panen yang gagal dan terjadinya bahaya kelaparan
akibat terjadinya kerusakan lingkungan hidup. Lebih mengerikan lagi pendapat Al
Gore, mantan Wakil Presiden Amerika Serikat pada masa Bill Clinton yang
sekaligus sutradara film “An Inconvinient Truth” yang telah
memenangkan Piala Oscar tahun 2007 untuk kategori Film Dokumenter penuh. Dalam
film tersebut, bersama dengan banyak ahli lingkungan hidup, ia menyoroti
ancaman-ancaman bagi masa depan umat manusia akibat kerusakan lingkungan hidup,
seperti berbagai jenis polusi, kerusakan hutan, bencana alam, dan pemanasan
global. Ia sudah sampai kepada kesimpulan bahwa tinggal 10 tahun lagi
kesempatan untuk memperbaiki lingkungan hidup sebelum semuanya terlambat. Ada juga ahli tidak sependapat
dengannya, namun hampir semua orang sependapat tentang perlunya perbaikan
lingkungan hidup secara nyata dan segera. Hal tersebut membuat
kita harus membuat refleksi teologis yang lahir atas keprihatinan kita terhadap
dampak dari eksploitasi yang mengakibatkan kerusakan bumi. Sikap kita terhadap
bumi sangatlah bergantung kepada sikap kita kepada Tuhan yang menciptakan bumi
(Sunarko dan Kristiyanto, 56). Pendidikan Agama Kristen yang di dalamnya
mengambil peran strategis sebagai wadah dalam pengembangan spritual dan
pengetahuan, baik di sekolah sebagai pusat pendidikan maupun di gereja
dan masyarakat yang merupakan komunitas Kristen, tidak hanya melakukan refleksi teologis
terhadap dampak dari krisis ekologi tetapi harus mampu merubah paradigma dan
konsep berpikir tentang bagaimana pemanfaatan sumber daya alam, serta
mendesainnya dalam bahan ajar yang bisa dimplementasikan.
B.
Pandangan Kristen tentang Ekologi
Allah menciptakan alam semesta dan segala isinya,
termasuk manusia. Allah menciptakan manusia sebagai mandatarisNya yang segambar
denganNya untuk menguasai ciptaanNya. Dalam Kejadian 1: 28-29 disebutkan :
“Allah
memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: Beranakcuculah dan
bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas
ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang
merayap di bumi. Berfirmanlah Allah; lihatlah, Aku memberikan
kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala
pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah menjadi makananmu.”
Dalam
ayat ini terkandung makna bahwa manusia berhak dan berkewajiban untuk mengeksploitasi alam dan segala isinya
bagi kebutuhan dan kebaikan umat manusia. Eksploitasi yang tidak
bertanggung-jawab, yang akhirnya merusak dan merugikan kehidupan manusia itu
sendiri tentu saja tidak lagi sejalan dengan Firman ini. Eksploitasi yang dilakukan bukan
dengan sesuka hati menurut hawa nafsu manusia, tetapi harus sejalan dengan
sifat si Pemberi Mandat, yaitu Allah sendiri yang sangat mengasihi dan
memandang seluruh ciptaan-Nya sungguh amat baik (Kej. 1:31). Jadi manusia bukan
pengelola tunggal alam dan manusiapun tidak maha kuasa. Di atas manusia masih
ada Allah, pengelola Tertinggi yang adalah pencipta dan Pemilik alam itu. Kejadian
1: 28 ini juga telah digunakan secara salah oleh para kapitalis dan neo
kapitalis untuk mengeksploitasi
alam secara besar-besaran sehingga terjadi kerusakan lingkungan yang sangat
parah. Ayat ini juga telah dibaca sepotong-sepotong dan dibedah untuk
ditafsirkan sepotong-sepotong pula serta diselewengkan maknanya untuk
melegitimasi perilaku yang merusak lingkungan hidup.
Penyelewengan
penggunaan ayat ini seharusnya tidak perlu terjadi apa bila dipertimbangkan
pula dengan Kej. 2: 15 yang menyebutkan: “TUHAN Allah mengambil
manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara
taman itu.” Sudah jelaslah kehadiran manusia itu di bumi bukan
saja untuk mengexploitasi alam tetapi juga harus memeliharanya. Dengan kata
lain, mandat untuk, mengeksploitasi hanya dapat dilakukan kalau manusia
bertanggungjawab memelihara alam ciptaan Tuhan.
Jika
melanjutkan membaca Firman Allah dalam Kejadian 3, dinyatakan bahwa kejatuhan
manusia ke dalam dosa karena manusia tidak mampu melakukan tugasnya sebagaimana
mestinya. Dan pada ayat ke-16 disebutkan bahwa pelanggaran manusia atas
perintah Tuhan untuk mengusahakan memelihara Taman Eden membuat tanah menjadi
rusak. Akibatnya, manusia perlu bekerja keras agar tanah itu memberikan hasil
yang cukup untuk memenuhi kebutuhannya. Perjalanan
kehidupan manusia menunjukkan bahwa manusia selalu tidak mau bekerja keras agar
tanah itu diperbaiki. Manusia cenderung memperlakukannya dengan sesuka hati
sehingga tanah dan lingkungan hidup menjadi lebih rusak. Manusia selalu mau
mengeksploitasi
dan kurang mengusahakan ketimbang memelihara dengan “keringat”. Karena
itu teknologi yang dipilih juga sesuai dengan hawa nafsu manusia yang
menghabiskan dan kurang mendukung kelestarian dan kualitas lingkungan hidup. Dengan
demikian kita perlu menyadari bahwa sumber daya alam kita terbatas dan karena
itu kita perlu memanfaatkannya secara efisien. Tuhan Yesus telah mengajar umat
manusia berdoa, “…berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang
secukupnya…(Mat.6:11). Tuhan Yesus sendiri, Sang Mesias yang
memulihkan kembali hakekat ciptaan yang telah rusak itu, mempraktekkan hidup
yang sederhana dan selalu bekerja keras. Karena
itu umat manusia juga perlu meniruNya. Kita perlu mengelola dan memulihkan
lingkungan hidup, praktek hidup yang sederhana dan kerja keras. Sesungguhnya
inilah tindakan nyata untuk mengasihi Allah, sesama manusia dan alam yang telah
diciptakanNya.
I. Teologi Penciptaan
Sejarah Alkitab
dimulai dengan kesaksian yang menceritakan tentang penciptaan langit dan bumi
serta segala isinya, termasuk manusia, Kej. 1-2; diakhiri dengan kesaksian
bahwa Allah akan membaharui ciptaanNya dalam langit dan bumi yang baru, Why.
21-22. Melalui kesaksian ini maka iman Kristen mengakui hanya Allah
satu-satunya penguasa yang menjadi sumber segala sesuatu dan menjadi penyebab
terjadinya segala sesuatu. Ini menjadi ‘credo’ atau artikel iman kepada Allah
yang menyatakan bahwa Ia hidup dan berkuasa di atas kosmos tempat karyanya
disaksikan oleh manusia. Cerita penciptaan dalam Alkitab adalah suatu argumen
teologis yang menunjukkan segala sesuatu dalam alam bersumber dari Allah dan
tidak berada dari dirinya sendiri, seperti dipahami dalam teori evolusi dan
argumen ilmiah.
Sesuatu yang
terpenting diingat, umat manusia berkarya dalam dunia ini adalah dalam kerangka
karya Allah. Manusia me3laksanakan mandatnya sebagai mitra Allah dan ia tidak
bekerja sendiri. Ada pengawasnya yang turut bekerja, yaitu Allah dan manusia
bertanggungjawab terhadap Sang pemberi kerja, Mt. 25; 14-30; Luk. 19: 11-27.
Antroposentrisme terlalu berat dan sungguh ditolak karena terlalu mengagungkan
manusia itu dan pertanggungjawaban terhadap Allah yang memberi mandat dan
sebagai mitraNya untuk memelihara tidak lagi dilihat sebagai tujuan dunia
sebagai milik Tuhan yang perlu dipelihara dan kebaikan di dalamnya yang harus
dipertahankan. Ekosentrisme dan biosentrisme seringkali begitu mengangungkan
alam sehingga alam seolah-olah hadir sendiri tanpa penciptanya.
Dua pandangan yang masing-maing mengambil sikap tentang dunia dan ciptaan
Allah sangat bertolak belakang dalam mengimani karya Allah dalam kosmos:
1. Pandangan antroposentris/dualistis yang melihat bahwa alam diciptakan oleh Allah, maka alam ditempatkan
dalam kedudukan dan relasi atau hubungan yang khas dengan penciptanya. Itu
berarti ala mini berada dalam pengakuan tidak ilahi Allah berbeda mutlak dengan
alam ciptaan.
2. Pandangan teosentris/ holistis
yang mencoba memandang lebih baru yang sangat menekankan kepedulian Allah atas
ciptaan. Meskipun tidak menganggap Allah dan alam adalah tidak sama, tetapi
seluruh ciptaan berada dalam hubungan yang harmonis berpusat pada Allah
(teosentris)Etika yang benar adalah etika yang mengasihi seluruhj ciptaan dan
juga itu etika Yesus Kristus.Mazmur 104 didalamnya ditegaskan bahwa setiap komponen ciptaan dipuji
dan dirayakan, dan Allah berkenan pada kebaikan alam secara menyeluruh terlepas
dari nilai-nilai manusia.
Iman Kristen menolak
penyembahan alam, sebab itu sama saja melibatkan dirinya menyembah berhala,
kesiasian dan kebodohan. Alam harus dihargai, tetapi bukan karena suci atau
ilahi melainkan karena alam diciptakan oleh Allah. Alam diciptakan Allah oleh
kasihNya maka alam perlu dihargai dan dipelihara oleh manusia. Krisis ekologi
dalam teologi Kristen adalah menata kembali ekosistim dan tata
penciptaan sekaligus tata pemeliharaan Allah atas alam semesta. Mazmur 141:
1-13 mengungkapkan bahwa seluruh ciptaan memuji Allah dalam proses perkembangan
dan pertumbuhannya sesuai dengan aturan kekal yang ditetapkan oleh Allah dalam
ciptaan.
II. Teologi Perjanjian
Bagin ini menjelaskan alam selaku milik Allah dipahami dalam konteks
perjanjian Allah, kemudian dalam konteks penebusan. Kasih Allah pada seluruh
ciptaanNya dinyatakan bukan saja dalam arti memelihara ciptaan ini selaku
milikNya, tetapi juga dengan mengikutsertakan seluruh ciptaan dalam kerangka
perjanjian dan penebusan yang dilakukan Allah terhadap seluruh ciptaanNya.
Perjanjian Allah dengan manusia untuk menyelamatkan atau
memulihkan keadaan manusia yang telah jatuh ke dalam dosa dalam Air Bah masa
Nuh, yang oleh perbuatan jahat atau dosa, ternyata mengubah perilakunya dan
Allah memberi berkat untuk seluruh mahluk berkembangbiak, Kej. 8; 17. Allah
tidak memusnahkan total alam, meskipun hukumannya mencakup seluruh alam
semesta. Perjanjian berkan dan perjanjian keselamatan Allah membawa pemaham
bagi tujuan perilaku Allah yang berkarya bagi alam semesta,Kej. 9: 8-11. Pola
perjanjian Allah dengan Nuh yaitu perjanjian ekosfera yang tampak pula dalam
perjanjian Adam, Abraham, Musa dan juga perjanjian Daud dalam Perjanjian Baru,
yaitu Perjanjian tentang penciptaan langit dan bumi yang baru.
III. Teologi Penebusan
Kedatangan Yesus ke dunia membawa berita baru dalam hubungan manusia dengan
alam, antara manusia dengan materi yang berpusat dalam Allah sebagai sumber
manusia dan alam. Hubungan pemeliharaan Allah dengan kepemilikan Allah atas
alam semesta jelas terlihat dalam Khotbah di Bukit, Mat. 5-7. Kekuatan manusia
bertolak dari keraguan bahwa Allah memiliki segala sesuatu dan bahwa pemilik
segala sesuatu, Ia menjadi Allah yang murah hati.
Perjanjian Allah untuk menegakkan kembali syalom di bumi di antara semua
ciptaan menjadi visi seluruh Alkitab. Konsekuensi keyakinan ini menjelaskan
kedudukan alam di hadapan manusia, yaitu bahwa alam adalah milik Allah yang
terikat dalam perjanjian pemulihan, pembaharuan dan penebusan yang dilakukan
itu adalah oleh Allah sendiri. Kedudukan alam yang sejajar dengan manusia
sebagai sama-sama milik Allah namun dengan fungsi yang berbeda, sehingga
manusia bertanggungjawab menjaga dan memelihara pemenuhan janji Allah yang
sempurna dalam langit dan bumi yang baru.
IV. Teologi Eskhatologi
Masa depan yang kekiniannya dalam krisis ekologis di alam semesta ciptaan
Tuhan yang terjadi, mempunyai pengharapan bagi suatu tujuan mewujudkan Kerajaan
syalom. Pengharapan akan era baru yang sudah sedang berlangsung. Kita sudah
menerima perdamaian (Ef. 5: 11), dan sedang mengalaminya. Tuhan Yesus
memerintahkan memrintahkan kita hidup dalam era baru dan dalam hubungan baru,
baik dengan Allah maupun dengan sesame manusia dan sesame ciptaan. Itu
jelas sekali dalam sakramen, bukan hanya sebagai tanda dan meterai kesatuan
kita atau hubungan kita yang baru dengan Allah, melainkan juga menjadi tanda
dan meterai hubungan baru di antarasesama manusia dengan sesame ciptaan. Air,
anggur adalah bahan yang digunakan dalam sakraen dalam Babtisan Kudus dan
Perjamuan Kudus, menjadi simbol kesatuan manusia dengan alam.
Proses penyelamatan kosmos atau alam ini belum sepenuhnya disempurnakan,
oleh sebab itu masih terus berlangsung dan akan disempurnakan dalam bentuk
kebebasan penuh seluruh mahluk menjadi anak-anak Allah, Rm. 8: 31. Ciptaan yang
telah ditebus dari kuasa destruktif dosa kini sedang dalam proses menuju
penggenapan penyempurnaan pada shalom yang dijanjikan dalam langit dan bumi
baru akan menjadi kenyataan. Roh Kudus sendiri yang bekerja mengarahkan kepada
penggenapan dimaksud.
C.
Peranan Pendidikan Agama Kriten terhadap Ekologi
Gereja meyakini Dogmanya bahwa manusia adalah ciptaan yang mulia, karena ia
diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (imago
dei). Ini tidak berarti bahwa gereja menganggap manusia sebagai
satu-satunya ciptaan yang mulia, karena sesungguhnya semua ciptaan adalah
bagian dari kesatuan yang dihadirkan di bumi untuk kemuliaan nama Allah.
Diciptakan menurut gambar Allah tidak memberi keistimewahan kepada manusia
untuk menganiaya ciptaan yang lain (antroposentris). Sebaliknya, diciptakan
menurut gambar Allah berarti manusia dipanggil untuk hidup dalam hubungan yang
akrab dan pribadi dengan Penciptanya sambil membangun komunitas harmoni dengan
ciptaan yang lain.
Di sinilah peranan penting dari Pendidikan Agama Kristen untuk hadir dan
memberikan pencerahan dan pengetahuan yang utuh tentang esensi dari menjaga dan
memelihara alam ciptaan Tuhan sebagai bagian manifestasi iman.
Sindhunata lewat puisinya Ngelmu
Pring mengungkapkan sebuah tafsiran baru, bahwa perintah Allah kepada
manusia untuk mengasihiNya dan sesama. Ketika berbicara mengenai sesama,
manusia perlu melihat keterbatasan jangkauan cinta antar sesama manusia saja.
Kasihnya harus meluas dengan ciptaan-ciptaan ekologis nonmanusia.
Dalam sebuah refleksi dan pengakuan yang sama, Angel Latuheru seorang
mahasiswa Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana mengatakan bahwa
kehidupan alam sama seperti manusia, ketika manusia merusak alam, alam dapat
merasakan sakit. Ketika manusia hanya menganggap alam sebagai objek, alam dapat
menangis. Alam yang saat ini terlihat hija, alam yang menggambarkan kehidupan.
Pada saatnya akan berubah menjadi alam yang abu-abu, alam yang kering dan
tandus, alam yang tidak berarti lagi karena tidak ada yang dapat dihasilkan,
alam yang miskin, bahkan alam yang mati.
Lebih lanjut dia mengatakan “Jika alam mati, bagaimana manusia bisa hidup ?
Apakah manusia dapat menciptakan alam baru sama seperti yang diciptakan Tuhan ?
Apakah ciptaan manusia sanggup menandingi ciptaan Tuhan dan sampai kapan
manusia dapat hidup dengan ciptaan itu ?
Sebuah refleksi yang sangat mendalam tentang bagaimana seharusnya manusia
bersikap ramah dan mengasihi ciptaan yang lain. Dengan demikian Pendidikan
Agama Kristen memiliki tugas dan peran untuk melakukan pendampingan dan
transformasi pengetahuan tentang hakikat manusia dan ciptaan yang lain untuk
tetap memelihara alam dan bumi dengan baik.
D.
Penutup
Teologi Alkitab dan krisis ekologi yang terjadi,
menjadi bahagian penting direfeleksikan semua orang dalam kehidupannya,
mengingat kesatauan manusia dengan alam sebagai sama-sama ciptaan Tuhan
meskipun fungsinya yang berbeda adalah milik Tuhan. Alam adalah ciptaan dan
karya Allah, maka Allah adalah pemilik dan yang berdaulat atas seluruh
ciptaannNya termasuk manusia. Manusia bertanggungjawab atas segala sesuatu
perubahan yang ada di alam. Meskipun alam tidak ilahi, dan manusia
mendapatkan pengudusan dari penciptanya, itu memungkinkan nilai-nilai
intrinsic, karena alam diciptakan sungguh amat baik oleh Allah.
Allah sang Pencipta mengasihi seluruh ciptaanNya
sehingga Ia memelihara ciptaan itu secara terus menerus berkelanjutan melalui
proses reproduksi dan proses keharmonisan hidup mahluk-mahluk ciptaan Allah.
Kehadiran Roh Kudus member tatanan ciptaan ciptaan sebagai bagian dari cara
Allah memelihara ciptaanNya. Dalam keyakinan dan ‘credo’ Allah sebagi pencipta,
manusia sebagai bagian dari ciptaan dari ciptaan dan sekaligus
menjadi mitra Allah memelihara tatanan ciptaan dan ekosistem.
Kejatuhan manusia ke dalam dosa yang sudah merusak
ciptaan, dengan adanya kesombongan dan akibatnya membuat ciptaan turut
menderita adalah mencoba melawan kedaulatan Allah dan menjadi pmberontak.
Manusia memberontak kepada Allah memandang ciptaan Allah sebagai materi yang
semata-mata berguna untuk memenuhi ambisi dan keserakahan yang telah
merasuki hati manusia, bahakan seluruh kecenderungannya.
Ternyata Allah mengasihi ciptaanNya, maka alam
tercakup dalam janji npenebusannya dan penyelamatan Allah. Manusia
menerima pembaharuan dan penyelamatan/ penebusan dalam Yesus Kristus
yang terlihat dari sakramen dan dialami dalam sakramen. Maka manusia haruslah
membangun hidup yang solider denagn selruh ciptaan, dan dengan begitu sambil
memelihara sumber-sumber alam ciptaan Allah. Inilah yang harus terus disampaikan kepada semua generasi lewat dunia
pendidikan, tentang betapa pentingnya merwat dan memelihara bumi ciptaan Tuhan.
1. Ludji
, Irene, 2014. 32 Refleksi Ekoteologi:
Dalam Bentuk Pengakuan Iman Pribadi dan Surat Terbuka. Cet. 1-Salatiga :
Fakultas Teologi, Unuversitas Kristen Satya Wacana.
2.
Candraningrum Dewi, 2013.
Ekofeminisme : Dalam Tafsiran Agama,
Pendidikan, Ekonomi dan Budaya. Jalasutra, Yogyakarta.
4. http://pdtbennimakliantosiregar.blogspot.co.id/http://www.academia.edu/10064479/pendidikan_Lingkungan_Hidup_dalam_PAK