3 Pilar

3 Pilar

Kamis, 05 Desember 2019

GEREJA ADALAH BENGKEL & ROLE MODEL PAK


             Gereja memang bengkel dan bukan show room. Gereja harus bersikap seperti yang diteladankan Tuhan Yesus Kristus,[1] tidak membuang orang yang “sakit” dan perlu di ”benahi” untuk di “reparasi”. Gereja yang sehat dan hidup, bergerak dan dinamis harus mengemban Amanat Agung, Tuhan kita, tapi kebanyakan orang Kristen seakan hidup sok moralis. Kita harus hidup suci, tak bercacat – tak bercela tapi jangan hidup sok suci, seakan  sok moralis sehingga menolak beberapa diantara sesama. Ada banyak diantara kita yang mungkin dilahirkan tidak sempurna atau kurang beruntung. Mereka dengan prilaku dan gaya yang kemayu, padahal mereka laki-laki atau sebaliknya, ada yang  mengambil keputusan untuk merubah identitas diri atau transgender dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Ada yang terlahir tidak sempurna secara fisik (cacat), cacat mental, atau faktor lain sehingga mereka masuk dalam golongan “terabaikan”, kurang mampu bergaul, faktor ekonomi, strata akademis, dan sebagainya. Gereja tidak semata mengurusi organisasinya tapi juga memperhatikan organismenya.

            Gereja tidak boleh menutup mata terhadap perubahan gaya hidup dan faktor sosial yang kompleks di tengah-tengah masyarakat. Hal ini bukan saja dipengaruhi oleh faktor sosial semata tapi juga psikologis kejiwaan seseorang, situasi kondisi karena faktor-faktor di atas dan hal-hal lainnya. Warga gereja diantaranya juga mengalami hal seperti ini karena warga gereja adalah bagian dari masyarakat secara umum. Gereja tidak boleh memilah, memilih, mendiskreditkan dan mendiskriminasi mereka. Gereja Tuhan harus menerima mereka apa adanya dengan tulus. Mereka yang mengalami hal tersebut harus dirangkul, diayomi dan dicintai seperti layaknya kita mengasihi diri sendiri. Tuhan Yesus menyambut orang-orang terbuang, Zakheus – pemungut cukai, perempuan berdosa yang mengurapi Yesus, perempuan di sumur Yakub (Yoh. 4:1-12). Dalam Roma 15:7; Ef. 4:2; 3Yoh. 1:10, Kebenaran-Nya mengajarkan kepada kita untuk menerima mereka apa adanya. Jika ada mereka yang tersandung masalah perubahan seksual, maka gereja harus merangkul mereka disertai membimbing, mengarahkan dan menerima mereka apa adanya. Dosa dapat terjadi bila melakukan hubungan seks diluar nikah dan tidak berpadanan seperti apa yang tertulis dalam Injil (bnd. Kej.2:24; 4:1; Im.20:13,17; Mat.19:5; Ef.5:31). LGBT atau GLBT adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan transgender". Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa "komunitas gay”.[2]  Banyak orang mengalami perubahan pola seksualitas mereka oleh karena banyak faktor yang mendukung hal tersebut. Masalahnya bukan kenapa bisa demikian, namun sekarang gereja harus siap menjadi payung atas mereka, mengayomi dan membina mereka untuk menemukan identitas diri secara utuh. Gereja dengan tegas tidak menyetujui prilaku demikian bahkan menolah perkawinan sejenis. Namun bukan berarti serta merta gereja menjadi boomerang bagi mereka. Gereja harus menjadi sahabat bagi mereka yang mau berubah dan terkendala karena faktor persoalan tersebut. Ada di antara mereka yang malu untuk mengakuinya, dianggap aib, dan sebagainya, kita harus peka untuk orang-orang ini. Gereja harus menggarami dan melalui PAK dapat menjadi role model yang dinamis.  
Anak-anak usia dini dan remaja adalah usia yang rentan dengan pengaruh dunia luar. Keluarga adalah satu-satunya sekolah terbaik untuk mempengaruhi dan menjadi role model yang dapat ia contoh dan teladani, kedua sekolah dan lingkungan. Bagi orang dewasa kerap menyerap apa yang sudah pernah dan telah terjadi. Sepatutnya gereja punya tanggung jawab dan kerja keras bagi orang dewasa dalam pembinaan dan pendidikan. Keberatan lain adalah  pada   istilah   atau   konsep   “pembinaan”   itu   dipakai untuk menggantikan istilah “pendidikan” karena pembinaan itu dianggap untuk orang dewasa. Sedangkan pendidikan hanya untuk anak kecil dan remaja saja, maka hal ini memiliki kekeliruan yang sangat besar. Pendidikan itu tidak selalu formal ada juga yang non formal. Orang dewasa tidak saja membutuhkan bentuk formal saja namu juga non formal (pembinaan). Pembinaan seperti juga pelatihan atau bimbingan dan pengajaran adalah bagian dari pendidikan adalah lebih luas, dan mencakup semuanya.
PENDIDIK DALAM PAK
Banyak pendidik yang telah kehilangan identitas tentang
diri mereka yang sesungguhnya dan hal  yang ia harapkan
dari dirinya dalam konteks persekutuan iman.
Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab sebagai
pendidik adalah:
Ø
Orangtua(Keluarga)
Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa
pihak yang dianggap sebagai pendidik anak
adalah orangtua. Dan orangtua juag harus
menjaga mereka sampai mereka mandiri.
Ø
Guru PAK (disekolah formal)
Keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan
sejalan dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini
dimaksudkan untuk membantu para perserta
didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai
kehendak ALLAH.
PENDIDIK DALAM PAK
Banyak pendidik yang telah kehilangan identitas tentang
diri mereka yang sesungguhnya dan hal  yang ia harapkan
dari dirinya dalam konteks persekutuan iman.
Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab sebagai
pendidik adalah:
Ø
Orangtua(Keluarga)
Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa
pihak yang dianggap sebagai pendidik anak
adalah orangtua. Dan orangtua juag harus
menjaga mereka sampai mereka mandiri.
Ø
Guru PAK (disekolah formal)
Keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan
sejalan dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini
dimaksudkan untuk membantu para perserta
didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai
kehendak ALLAH.
            Pendidik dalam PAK, bukan hanya berpredikat guru, tenaga pengajar, instruktur, tetapi kita semua. Banyak pendidik yang telah kehilangan identitas tentang diri mereka yang sesungguhnya dan hal  yang ia harapkan dari dirinya dalam konteks persekutuan iman.Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab sebagai pendidik adalah: 1). Orang tua (keluarga), Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa pihak yang dianggap sebagai pendidik anak adalah orangtua. Dan orangtua juag harus menjaga mereka sampai mereka mandiri. 2). Guru PAK (disekolah formal), keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan sejalan dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini dimaksudkan untuk membantu para perserta didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai kehendak ALLAH. 3). Gereja, Pendeta (hamba Tuhan), Pendeta, aktivis, pekerja atau pelayan Tuhan dapat mengajar melalui mimbar atau wadah pelayanan saat mengajar secara perorangan. Ia adalah orang yang wajib memberi teladan tentang sikap hidup dan tingkah laku Kristiani, sebagaimana Yesus mengambarkan hubungan tersebut sebagai gembala dengan kawanan domba-dombanya. 4). Jemaat, jemaat juga berperan dalam pendidikan, yang merupankan kesatuan di mana setiap angota jemaat bertanggung jawab dalam mendidik angota jemaat lain (khususnya anak-anak dan remaja).
            Memang harus diakui bahwa pelayanan gereja kepada setiap keolmpok atau kategori usia mempunyai signifikasi yang khusus, demikian pula pendidikan orang dewasa, dimana ada beberapa poin penting yang dapat diperhatikan, yakni PAK orang dewasa dalam  bidang pelayanan sangat strategis, oleh karena orang dewasa berada di garis depan dalam menghadapi dunia dengan segala  tantangannya.  Orang dewasa   masih memerlukan   pendidikan   dan   binaan   dalam   gereja   agar   mereka   hidup sebagai   orang  Kristen  yang   bertanggung  jawab  dalam   dunia  kerjanya (profesi apapun itu). Bagaimanapun   juga   orang   dewasa   dalam   gereja   adalah   agen   dari pelaksanaan tugas panggilan gereja. Orang dewasa perlu dan mutlak terus mendapat pendidikan (melalui pembinaan, firman Tuhan) agar ia semakin mampu dan terdorong, untuk terus mengemban tugas gereja bahkan bila perlu, terlibat dalam pelayanan. Orang dewasa di dalam kalangan masyarakat dan gereja ditempatkan dalam dunia yang penuh dengan berbagai permasalahan. Oleh karena itu orang dewasa harus diperlengkapi dengan pokok permasalahan tersebut. Topik yang sangat menarik ialah pendidikan perdamaian (peace maker), oleh karena itu kita harus   hidup   dalam   dunia   yang   terkoyak-koyak   karena   konflik   yang disertai   dengan   kekerasan.   Sebagai   sikap   hidup   dalam   kemajemukan sosial   dan   agama,   orang   dewasa   dapat   berkontribusi untuk transformasi masyarakat secara luas yang di dalamnya orang dewasa akan terus bertumuh dalam aspek kehidupan termasuk dalam   memenuhi   kebutuhan  manusia   yang  hierarki.


[1] Disampaikan dalam ibadah Sunday Bible teaching oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, pada hari                 Minggu, 01 Desember 2019, pukul 18.00, di GSKI Kelapa Gading (Function Hall – Rehobot, lt 5,       Mal Artha Gading).
[2] Acronyms, initialisms & abbreviations dictionary, Volume 1, Part 1 Gale Research Co., 1985,             ISBN 978-0- 8103-0683-7. Factsheet five, Issues 32-36, Mike Gunderloy, 1989  

BUDAYA BER-KODRAT ILAHI


               Budaya adalah ciri khas atau sebuah kebiasaan yang terjadi dan dikerjakan ditengah-tengah masyarakat yang terbentuk dari beberapa komponen berbeda pandangan ataupun kebiasaan termasuk dalam sistem agama, politik, bahasa, adat istiadat, pakaian, karya seni, dan bangunan. Budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat begitu pula sebaliknya, karena budaya tercipta dari pola dan kerja masyarakat dan peradaban manusia secara umum. Peradaban ini akan terbentuk norma-norma dan nilai kehidupan yang menjadi pandangan hidup dalam masyarakat.


            Kebiasaan yang sudah terbentuk di tengah masyarakat (baik dari masa lalu dan masa kini) akan berakar budaya sehingga menjadi suatu kebiasaan (yang diwariskan dari masa lalu ke masa kini dan masih saling terkait - tradisi) yang lazim dikerjakan dan diterima sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Sebagai contoh misalnya, kebiasaan atau budaya dan tradisi suku Maasai di Kenya dan Tanzania, Afrika Timur. Suku ini memberikan salam dengan cara meludah di muka sesamanya. Kebiasaan ini menjadi turun temurun dan sebagai tardisi untuk menyapa dengan sopan yang sebenarnya dianggap oleh kalangan mereka. Namun bila diterapkan di tengah-tengah masyarakat di kota Jakarta, sungguh alangkah fatalnya, karena ini dapat dianggap penghinaan dan merendahkan sesama.


            Sebuah budaya atau tradisi yang sudah terbentuk akan mempengaruhi keadaan social masyarakat tersebut. Kebiasaan ini akan tercipta oleh banyak faktor pendukung, oleh masyarakat setempat atau individu dan yang juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terus berkesinambungan walau keadaan tersebut tercipta dimanipulasi oleh pihak tertentu untuk maksud dan tujuan tersendiri. Keadaan inilah yang akan menciptakan pertentangan kelompok satu dengan yang lainnya yang dianggap sebagai suatu perbedaan. Perbedaan pada prinsipnya tidak harus membuat jurang satu dengan yang lainnya apabila dapat diukur dengan kaidah-kaidah dan norma yang wajar dan masih diterima oleh logika, keyakinan dan kemanusiaan, adat istiadat dan budaya yang manusiawi.

            Di tengah-tengah masyarakat yang majemuk ini, ada banyak tercipta budaya “semau gue”. Istilah ini lahir dikarenakan hamper semua lapisan masyarakat yang tidak diatur atau tidak masuk dalam lingkaran tertib budaya, maka yang ada, semau gue, semau-maunya berbuat, bertindak, tanpa memikirkan kepentingan bersama. Asal untuk dirinya beruntung, tidak lagi peduli orang lain. Masalah antri, kebanyakan orang lebih memilih “siapa cepat dia dapat”, ya benar, asal dating lebih awal dan tertib harus antri bila memang demikian kondisinya, maka semua pasti berjalan baik dan lancar. Di jalan umum juga banyak orang berkendara tidak tertib karena mau lebih dulu berjalan melaju, tanpa peduli, maka main serobot dan maju, mengabaikan traffic light, pejalan kaki dan pengendara liannya.

            Sifat budaya seperti ini akan menjadi warisan atau tradisi turun menurun dimanapun manusia berada. Tertib dan disiplin juga merupakan budaya yang harus dilestarikan bagi kelangsungan hidup anak cucu di masa yang akan datang. Kelangsungan hidup akan terus meniru dan melakukan hal yang sama sekalipun itu salah dalam kaca mata bermasyarakat. Seyogyanya kita semua memperhatikan dan memberi teladan bagi sesama, sesuatu yang benar untuk dikerjakan sebagai contoh bagi masyarakat secara konkrit, walau ini butuh waktu yang tidak sebentar dan harus dengan sabar mengerjakannya.

            Pendidikan Agama Kristen, punya andil dan harus menjadi landasan yang kokoh bagi orang percaya untuk menjadi role model ditengah-tengah masyarakat majemuk untuk menciptakan hidup bermasyarakat dan bernegara dengan benar sesuai kaidah, norma dan budaya yang sudah terbentuk sebagai bangsa yang berbudaya dan arif. Kita semua, orang percaya, terpanggil menjadi corpus delicti dalam meng-ejawantah-kan hidup yang berpadanan sesuai Injil Kristus, untuk hidup taat, tertib dan mendukung semua program pemerintah sebagai budaya masyarakat yang loyal terhadap pemerintahnya, taat dan patuh terhadap Pancasila, UUD 1945, ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, dan solid terhadap keutuhan NKRI.  Melalui PAK, warga gereja diajak untuk memahami nilai-nilai Budaya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia untuk mencintai serta patuh terhadap nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia, dimana ia dilahirkan, dibesarkan, hidup berbangsa dan bernegara didalamnya. Ketaatan kepada Tuhan harus juga terwujud melalui kepatuhan kepada pemerintah dan Undang-Undangnya yang diberlakukan. Mencintai masyarakat sebagai sesama yang harusa dikasihi dan dilindungi sebagai milik kepunyaan-Nya yang harus diayomi, dilindungi dan dikasihi, seperti Kristus telah menyerahkan diri-Nya, rela mati tersalib demi menebus dosa semua umat manusia (Gal.3:13; Ibr.9:15; 1Pet.3:18) dan keselamatan bagi semua suku bangsa (Mat.4:23; Kisah13:18, 46,47; 14:27; 15:7,14).

            Keadaan situasi dimana masyarakat telah dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya era globalisasi, membuat masyarakat semakin luas memiliki wawasan sehingga berdampak tanpa disadari bahwa budaya yang baik, yang terpupuk sejak nenek moyang ajarkan, terpupus sedikit demi sedikit sehingga tergantikan oleh budaya dan tradisi milenial. Norma-norma dan kaidah-kaidah yang dulu dipertahankan karena dapat membina rasa kemanusiaan dan kebersamaan, kerukunan dan rasa cinta sesama, kini semakin pupus dengan hadirnya pola hidup “diatas kepentingan diri”, dan sebagainya. Keadaan perubahan ini bukanlah salah total namun karenafaktor human error, dimana manusianya yang tidak dapat mawas diri, memfilter dan memilah mana yang baik yang tidak baik untuk dibuang. Justru keadaan sekarang, yang dianggap tidak baik dikalangan bersama malah dibudayakan sebagai sesuatu yang menguntungkan dan “asyik” dilakukan. Keadaan sekarang manusia semakin egosentris dan “serigala bagi sesamanya”, tidak ada lagi budaya kasih,  empati dan toleransi yang dulu membara, bahkan menyala terang pada jaman perjuangan. Di masa kini istilah tersebut hanyalah sebuah kata-kata dalam tulisan dan frasa tanpa makna yang terlahir dalam perbuatan.

            Budaya dan tradisi telah tergantikan menjadi era “EGP” (Emang Gue Pikiran) atau cuek. Dalam arti kata masa bodoh dan tidak mau tahu, yang penting diri sendiri tidak merugi, apa peduli buat orang lain, bila perlu hantam kromo. Budaya dadakan akan tercipta sesuai sikon dibutuhkan oleh pihak tertentu atau golongan. Misalnya budaya “korupsi berjemaah”, bila ada kesempatan dan peluang, maka secara bersama-sama mengambil peluang ini walau pasti instansi, lembaga bahkan Negara dirugikan oleh perbuatan ini. Hukum sudah tidak lagi perlu ditakutkan karena mereka berpikir bahwa semua itu bisa di ”beli”, dan ini sudah “mewabah”, menjadi budaya yang salah hampir disemua kalangan. Kondisi ini akan menciptakan manusia yang tidak berbudaya pekerti luhur, melainkan menciptakan manusia yang rakus dan tamak akan kenikmatan dunia.

            Injil dengan tegas dan gamblang mengatakan bahwa semua perbuatan jahat akan diadili di tahta pengadilan-Nya (2Kor.5:10). Semua mahluk ciptaan-Nya akan terbuka dengan telanjang di depan penghakiman-Nya (Ibr.4:13). Kristus yang adalah Hakim yang Adil akan menghakimi semua umat, baik yang baik maupun yang jahat (2Tim.4:8; Ibr.10:30). Tatanan Allah adalah budaya yang tercipta oleh kemahakuasaan-Nya, adil dalam pemandangan-Nya, baik dan sempurna bagi umat-Nya. Tidak ada berat sebelah ataupun ketidak-adilan yang dianggap oleh sebagian umat karena mereka hidup tidak sesuai dengan ketetapan-Nya. Bila manusia hidup dalam tatanan-Nya, maka budaya hidup yang dijalaninya pasti bermuara dari Dia dan bagi Dia, segala kemuliaan. Manusia akan akan berbahagia bila patuh, taat dan setia terhadap kebenaran-Nya, yakni segala Titah-Nya, maka manusia akan akan melahirkan budaya dan tradisi yang menciptakan kedamaian bagi sesama dan membawa umat ke jalan yang benar. Untuk itulah kita yang terpanggil; sebagai kawan sekerja-Nya, harus menanggalkan ke-egooan manusiawi kita. Mengenakan manusia ber-kodrat Ilahi (divine nature), sehingga segala prilaku kita dapat menjadi suri teladan bagi sesama. Menempatkan diri sebagai gambar ciptaan Allah yang hidup, sesuai kodrat Ilahi, kan membantu menciptakan suasana kondusif ditengah-tengah keadaan di mana generasi muda membutuhkan figure yang dapat ditiru dan dicontohi, walaupun sikon nya saat ini banyak generasi muda lebih condong terikat kepada gaya hidup dunia luar dari pada melestarikan budaya yang baik yang sudah terbentuk di tanah air kita. Jangan pesimis dan takkabur tapi tetap semangat dalam menyuarakan suara kebenaran bukan hanya dengan  keras dalam menyuarakannya tetapi terlebih harus lantang dalam perbuatan. Sebab perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan kuasa gelap, yakni si jahat (iblis). Selama kita masih ada di bumi, maka kita yang telah mengenal kebenaran-Nya, haruslah menjadi corpus delicti di akhir jaman yang rela melepaskan manusia lama dan hidup bagi Kristus. Dunia di mana yang sekarang kita tempati adalah bumi yang tidak akan selamanya abadi. Kelak kan menjadi lautan api (Wah.20:14), diakhir penghakiman-Nya. Oleh sebab itu selagi masih ada kesempatan kuota hidup dan waktu masih berjalan, maka kita semua harus memancarkan sinar yang bersinar cemerlang melalui segenap aspek kehidupan ini dan bila ini dilakukan secara seksama dan berkesinambungan akan membudaya. Selamat Berjuang.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]