Gereja
memang bengkel dan bukan show room. Gereja harus bersikap seperti yang
diteladankan Tuhan Yesus Kristus,[1] tidak
membuang orang yang “sakit” dan perlu di ”benahi” untuk di “reparasi”. Gereja yang
sehat dan hidup, bergerak dan dinamis harus mengemban Amanat Agung, Tuhan kita,
tapi kebanyakan orang Kristen seakan hidup sok moralis. Kita harus hidup suci,
tak bercacat – tak bercela tapi jangan hidup sok suci, seakan sok moralis sehingga menolak beberapa
diantara sesama. Ada banyak diantara kita yang mungkin dilahirkan tidak
sempurna atau kurang beruntung. Mereka dengan prilaku dan gaya yang kemayu,
padahal mereka laki-laki atau sebaliknya, ada yang mengambil keputusan untuk merubah identitas
diri atau transgender dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Ada
yang terlahir tidak sempurna secara fisik (cacat), cacat mental, atau faktor
lain sehingga mereka masuk dalam golongan “terabaikan”, kurang mampu bergaul,
faktor ekonomi, strata akademis, dan sebagainya. Gereja tidak semata mengurusi
organisasinya tapi juga memperhatikan organismenya.
Gereja
tidak boleh menutup mata terhadap perubahan gaya hidup dan faktor sosial yang
kompleks di tengah-tengah masyarakat. Hal ini bukan saja dipengaruhi oleh
faktor sosial semata tapi juga psikologis kejiwaan seseorang, situasi kondisi
karena faktor-faktor di atas dan hal-hal lainnya. Warga gereja diantaranya juga
mengalami hal seperti ini karena warga gereja adalah bagian dari masyarakat
secara umum. Gereja tidak boleh memilah, memilih, mendiskreditkan dan
mendiskriminasi mereka. Gereja Tuhan harus menerima mereka apa adanya dengan
tulus. Mereka yang mengalami hal tersebut harus dirangkul, diayomi dan dicintai
seperti layaknya kita mengasihi diri sendiri. Tuhan Yesus menyambut orang-orang
terbuang, Zakheus – pemungut cukai, perempuan berdosa yang mengurapi Yesus,
perempuan di sumur Yakub (Yoh. 4:1-12). Dalam Roma 15:7; Ef. 4:2; 3Yoh. 1:10,
Kebenaran-Nya mengajarkan kepada kita untuk menerima mereka apa adanya. Jika
ada mereka yang tersandung masalah perubahan seksual, maka gereja harus
merangkul mereka disertai membimbing, mengarahkan dan menerima mereka apa
adanya. Dosa dapat terjadi bila melakukan hubungan seks diluar nikah dan tidak
berpadanan seperti apa yang tertulis dalam Injil (bnd. Kej.2:24; 4:1;
Im.20:13,17; Mat.19:5; Ef.5:31). LGBT atau GLBT adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan
transgender". Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan
menggantikan frasa "komunitas gay”.[2] Banyak orang mengalami perubahan pola
seksualitas mereka oleh karena banyak faktor yang mendukung hal tersebut.
Masalahnya bukan kenapa bisa demikian, namun sekarang gereja harus siap menjadi
payung atas mereka, mengayomi dan membina mereka untuk menemukan identitas diri
secara utuh. Gereja dengan tegas tidak menyetujui prilaku demikian bahkan
menolah perkawinan sejenis. Namun bukan berarti serta merta gereja menjadi
boomerang bagi mereka. Gereja harus menjadi sahabat bagi mereka yang mau
berubah dan terkendala karena faktor persoalan tersebut. Ada di antara mereka
yang malu untuk mengakuinya, dianggap aib, dan sebagainya, kita harus peka
untuk orang-orang ini. Gereja harus menggarami dan melalui PAK dapat menjadi
role model yang dinamis.
Anak-anak usia dini dan remaja
adalah usia yang rentan dengan pengaruh dunia luar. Keluarga adalah
satu-satunya sekolah terbaik untuk mempengaruhi dan menjadi role model yang
dapat ia contoh dan teladani, kedua sekolah dan lingkungan. Bagi orang dewasa
kerap menyerap apa yang sudah pernah dan telah terjadi. Sepatutnya gereja punya
tanggung jawab dan kerja keras bagi orang dewasa dalam pembinaan dan
pendidikan. Keberatan lain adalah
pada istilah atau
konsep “pembinaan” itu
dipakai untuk menggantikan istilah “pendidikan” karena pembinaan itu
dianggap untuk orang dewasa. Sedangkan pendidikan hanya untuk anak kecil dan
remaja saja, maka hal ini memiliki kekeliruan yang sangat besar. Pendidikan itu
tidak selalu formal ada juga yang non formal. Orang dewasa tidak saja
membutuhkan bentuk formal saja namu juga non formal (pembinaan). Pembinaan
seperti juga pelatihan atau bimbingan dan pengajaran adalah bagian dari
pendidikan adalah lebih luas, dan mencakup semuanya.
PENDIDIK DALAM PAK
Banyak pendidik yang telah kehilangan identitas tentang
diri mereka yang sesungguhnya dan hal
yang ia harapkan
dari dirinya dalam konteks persekutuan iman.
Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab sebagai
pendidik adalah:
Ø
Orangtua(Keluarga)
Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa
pihak yang dianggap sebagai pendidik anak
adalah orangtua. Dan orangtua juag harus
menjaga mereka sampai mereka mandiri.
Ø
Guru PAK (disekolah formal)
Keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan
sejalan dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini
dimaksudkan untuk membantu para perserta
didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai
kehendak ALLAH.
PENDIDIK DALAM PAK
Banyak pendidik yang telah kehilangan identitas tentang
diri mereka yang sesungguhnya dan hal
yang ia harapkan
dari dirinya dalam konteks persekutuan iman.
Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab sebagai
pendidik adalah:
Ø
Orangtua(Keluarga)
Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa
pihak yang dianggap sebagai pendidik anak
adalah orangtua. Dan orangtua juag harus
menjaga mereka sampai mereka mandiri.
Ø
Guru PAK (disekolah formal)
Keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan
sejalan dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini
dimaksudkan untuk membantu para perserta
didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai
kehendak ALLAH.
Pendidik dalam PAK, bukan hanya
berpredikat guru, tenaga pengajar, instruktur, tetapi kita semua. Banyak
pendidik yang telah kehilangan identitas tentang diri mereka yang sesungguhnya
dan hal yang ia harapkan dari dirinya
dalam konteks persekutuan iman.Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab
sebagai pendidik adalah: 1). Orang tua
(keluarga), Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa pihak yang dianggap
sebagai pendidik anak adalah orangtua. Dan orangtua juag harus menjaga mereka
sampai mereka mandiri. 2). Guru PAK
(disekolah formal), keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan sejalan
dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini dimaksudkan untuk membantu para
perserta didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai kehendak ALLAH. 3). Gereja, Pendeta (hamba Tuhan), Pendeta,
aktivis, pekerja atau pelayan Tuhan dapat mengajar melalui mimbar atau wadah
pelayanan saat mengajar secara perorangan. Ia adalah orang yang wajib memberi
teladan tentang sikap hidup dan tingkah laku Kristiani, sebagaimana Yesus
mengambarkan hubungan tersebut sebagai gembala dengan kawanan domba-dombanya.
4). Jemaat, jemaat juga berperan
dalam pendidikan, yang merupankan kesatuan di mana setiap angota jemaat
bertanggung jawab dalam mendidik angota jemaat lain (khususnya anak-anak dan
remaja).
Memang harus diakui bahwa pelayanan
gereja kepada setiap keolmpok atau kategori usia mempunyai signifikasi yang
khusus, demikian pula pendidikan orang dewasa, dimana ada beberapa poin penting
yang dapat diperhatikan, yakni PAK orang dewasa dalam bidang pelayanan sangat strategis, oleh
karena orang dewasa berada di garis depan dalam menghadapi dunia dengan
segala tantangannya. Orang dewasa
masih memerlukan pendidikan dan
binaan dalam gereja
agar mereka hidup sebagai orang
Kristen yang bertanggung
jawab dalam dunia
kerjanya (profesi apapun itu). Bagaimanapun juga
orang dewasa dalam
gereja adalah agen dari pelaksanaan tugas panggilan gereja.
Orang dewasa perlu dan mutlak terus mendapat pendidikan (melalui pembinaan,
firman Tuhan) agar ia semakin mampu dan terdorong, untuk terus mengemban tugas gereja
bahkan bila perlu, terlibat dalam pelayanan. Orang dewasa di dalam kalangan masyarakat
dan gereja ditempatkan dalam dunia yang penuh dengan berbagai permasalahan.
Oleh karena itu orang dewasa harus diperlengkapi dengan pokok permasalahan
tersebut. Topik yang sangat menarik ialah pendidikan perdamaian (peace maker),
oleh karena itu kita harus hidup dalam
dunia yang terkoyak-koyak karena
konflik yang disertai dengan
kekerasan. Sebagai sikap
hidup dalam kemajemukan sosial dan
agama, orang dewasa
dapat berkontribusi untuk
transformasi masyarakat secara luas yang di dalamnya orang dewasa akan terus
bertumuh dalam aspek kehidupan termasuk dalam
memenuhi kebutuhan manusia
yang hierarki.
[1] Disampaikan dalam
ibadah Sunday Bible teaching oleh
Pdt. Dr. Erastus Sabdono, pada hari Minggu, 01 Desember 2019, pukul 18.00, di GSKI
Kelapa Gading (Function Hall – Rehobot, lt 5, Mal Artha Gading).
[2] Acronyms, initialisms
& abbreviations dictionary, Volume 1, Part 1 Gale Research Co., 1985, ISBN
978-0- 8103-0683-7. Factsheet five, Issues 32-36,
Mike Gunderloy, 1989