3 Pilar

3 Pilar

Kamis, 05 Desember 2019

GEREJA ADALAH BENGKEL & ROLE MODEL PAK


             Gereja memang bengkel dan bukan show room. Gereja harus bersikap seperti yang diteladankan Tuhan Yesus Kristus,[1] tidak membuang orang yang “sakit” dan perlu di ”benahi” untuk di “reparasi”. Gereja yang sehat dan hidup, bergerak dan dinamis harus mengemban Amanat Agung, Tuhan kita, tapi kebanyakan orang Kristen seakan hidup sok moralis. Kita harus hidup suci, tak bercacat – tak bercela tapi jangan hidup sok suci, seakan  sok moralis sehingga menolak beberapa diantara sesama. Ada banyak diantara kita yang mungkin dilahirkan tidak sempurna atau kurang beruntung. Mereka dengan prilaku dan gaya yang kemayu, padahal mereka laki-laki atau sebaliknya, ada yang  mengambil keputusan untuk merubah identitas diri atau transgender dari laki-laki menjadi perempuan atau sebaliknya. Ada yang terlahir tidak sempurna secara fisik (cacat), cacat mental, atau faktor lain sehingga mereka masuk dalam golongan “terabaikan”, kurang mampu bergaul, faktor ekonomi, strata akademis, dan sebagainya. Gereja tidak semata mengurusi organisasinya tapi juga memperhatikan organismenya.

            Gereja tidak boleh menutup mata terhadap perubahan gaya hidup dan faktor sosial yang kompleks di tengah-tengah masyarakat. Hal ini bukan saja dipengaruhi oleh faktor sosial semata tapi juga psikologis kejiwaan seseorang, situasi kondisi karena faktor-faktor di atas dan hal-hal lainnya. Warga gereja diantaranya juga mengalami hal seperti ini karena warga gereja adalah bagian dari masyarakat secara umum. Gereja tidak boleh memilah, memilih, mendiskreditkan dan mendiskriminasi mereka. Gereja Tuhan harus menerima mereka apa adanya dengan tulus. Mereka yang mengalami hal tersebut harus dirangkul, diayomi dan dicintai seperti layaknya kita mengasihi diri sendiri. Tuhan Yesus menyambut orang-orang terbuang, Zakheus – pemungut cukai, perempuan berdosa yang mengurapi Yesus, perempuan di sumur Yakub (Yoh. 4:1-12). Dalam Roma 15:7; Ef. 4:2; 3Yoh. 1:10, Kebenaran-Nya mengajarkan kepada kita untuk menerima mereka apa adanya. Jika ada mereka yang tersandung masalah perubahan seksual, maka gereja harus merangkul mereka disertai membimbing, mengarahkan dan menerima mereka apa adanya. Dosa dapat terjadi bila melakukan hubungan seks diluar nikah dan tidak berpadanan seperti apa yang tertulis dalam Injil (bnd. Kej.2:24; 4:1; Im.20:13,17; Mat.19:5; Ef.5:31). LGBT atau GLBT adalah akronim dari "lesbian, gay, biseksual, dan transgender". Istilah ini digunakan semenjak tahun 1990-an dan menggantikan frasa "komunitas gay”.[2]  Banyak orang mengalami perubahan pola seksualitas mereka oleh karena banyak faktor yang mendukung hal tersebut. Masalahnya bukan kenapa bisa demikian, namun sekarang gereja harus siap menjadi payung atas mereka, mengayomi dan membina mereka untuk menemukan identitas diri secara utuh. Gereja dengan tegas tidak menyetujui prilaku demikian bahkan menolah perkawinan sejenis. Namun bukan berarti serta merta gereja menjadi boomerang bagi mereka. Gereja harus menjadi sahabat bagi mereka yang mau berubah dan terkendala karena faktor persoalan tersebut. Ada di antara mereka yang malu untuk mengakuinya, dianggap aib, dan sebagainya, kita harus peka untuk orang-orang ini. Gereja harus menggarami dan melalui PAK dapat menjadi role model yang dinamis.  
Anak-anak usia dini dan remaja adalah usia yang rentan dengan pengaruh dunia luar. Keluarga adalah satu-satunya sekolah terbaik untuk mempengaruhi dan menjadi role model yang dapat ia contoh dan teladani, kedua sekolah dan lingkungan. Bagi orang dewasa kerap menyerap apa yang sudah pernah dan telah terjadi. Sepatutnya gereja punya tanggung jawab dan kerja keras bagi orang dewasa dalam pembinaan dan pendidikan. Keberatan lain adalah  pada   istilah   atau   konsep   “pembinaan”   itu   dipakai untuk menggantikan istilah “pendidikan” karena pembinaan itu dianggap untuk orang dewasa. Sedangkan pendidikan hanya untuk anak kecil dan remaja saja, maka hal ini memiliki kekeliruan yang sangat besar. Pendidikan itu tidak selalu formal ada juga yang non formal. Orang dewasa tidak saja membutuhkan bentuk formal saja namu juga non formal (pembinaan). Pembinaan seperti juga pelatihan atau bimbingan dan pengajaran adalah bagian dari pendidikan adalah lebih luas, dan mencakup semuanya.
PENDIDIK DALAM PAK
Banyak pendidik yang telah kehilangan identitas tentang
diri mereka yang sesungguhnya dan hal  yang ia harapkan
dari dirinya dalam konteks persekutuan iman.
Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab sebagai
pendidik adalah:
Ø
Orangtua(Keluarga)
Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa
pihak yang dianggap sebagai pendidik anak
adalah orangtua. Dan orangtua juag harus
menjaga mereka sampai mereka mandiri.
Ø
Guru PAK (disekolah formal)
Keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan
sejalan dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini
dimaksudkan untuk membantu para perserta
didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai
kehendak ALLAH.
PENDIDIK DALAM PAK
Banyak pendidik yang telah kehilangan identitas tentang
diri mereka yang sesungguhnya dan hal  yang ia harapkan
dari dirinya dalam konteks persekutuan iman.
Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab sebagai
pendidik adalah:
Ø
Orangtua(Keluarga)
Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa
pihak yang dianggap sebagai pendidik anak
adalah orangtua. Dan orangtua juag harus
menjaga mereka sampai mereka mandiri.
Ø
Guru PAK (disekolah formal)
Keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan
sejalan dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini
dimaksudkan untuk membantu para perserta
didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai
kehendak ALLAH.
            Pendidik dalam PAK, bukan hanya berpredikat guru, tenaga pengajar, instruktur, tetapi kita semua. Banyak pendidik yang telah kehilangan identitas tentang diri mereka yang sesungguhnya dan hal  yang ia harapkan dari dirinya dalam konteks persekutuan iman.Dengan demikian, pihak yang bertangggung jawab sebagai pendidik adalah: 1). Orang tua (keluarga), Allah telah menunjukan kepada manusia bahwa pihak yang dianggap sebagai pendidik anak adalah orangtua. Dan orangtua juag harus menjaga mereka sampai mereka mandiri. 2). Guru PAK (disekolah formal), keberadaan guru di sekolah formal harus berjalan sejalan dengan keluarga sebagai pendidik. Hal ini dimaksudkan untuk membantu para perserta didik supayah bertumbuh dan berkembang sesuai kehendak ALLAH. 3). Gereja, Pendeta (hamba Tuhan), Pendeta, aktivis, pekerja atau pelayan Tuhan dapat mengajar melalui mimbar atau wadah pelayanan saat mengajar secara perorangan. Ia adalah orang yang wajib memberi teladan tentang sikap hidup dan tingkah laku Kristiani, sebagaimana Yesus mengambarkan hubungan tersebut sebagai gembala dengan kawanan domba-dombanya. 4). Jemaat, jemaat juga berperan dalam pendidikan, yang merupankan kesatuan di mana setiap angota jemaat bertanggung jawab dalam mendidik angota jemaat lain (khususnya anak-anak dan remaja).
            Memang harus diakui bahwa pelayanan gereja kepada setiap keolmpok atau kategori usia mempunyai signifikasi yang khusus, demikian pula pendidikan orang dewasa, dimana ada beberapa poin penting yang dapat diperhatikan, yakni PAK orang dewasa dalam  bidang pelayanan sangat strategis, oleh karena orang dewasa berada di garis depan dalam menghadapi dunia dengan segala  tantangannya.  Orang dewasa   masih memerlukan   pendidikan   dan   binaan   dalam   gereja   agar   mereka   hidup sebagai   orang  Kristen  yang   bertanggung  jawab  dalam   dunia  kerjanya (profesi apapun itu). Bagaimanapun   juga   orang   dewasa   dalam   gereja   adalah   agen   dari pelaksanaan tugas panggilan gereja. Orang dewasa perlu dan mutlak terus mendapat pendidikan (melalui pembinaan, firman Tuhan) agar ia semakin mampu dan terdorong, untuk terus mengemban tugas gereja bahkan bila perlu, terlibat dalam pelayanan. Orang dewasa di dalam kalangan masyarakat dan gereja ditempatkan dalam dunia yang penuh dengan berbagai permasalahan. Oleh karena itu orang dewasa harus diperlengkapi dengan pokok permasalahan tersebut. Topik yang sangat menarik ialah pendidikan perdamaian (peace maker), oleh karena itu kita harus   hidup   dalam   dunia   yang   terkoyak-koyak   karena   konflik   yang disertai   dengan   kekerasan.   Sebagai   sikap   hidup   dalam   kemajemukan sosial   dan   agama,   orang   dewasa   dapat   berkontribusi untuk transformasi masyarakat secara luas yang di dalamnya orang dewasa akan terus bertumuh dalam aspek kehidupan termasuk dalam   memenuhi   kebutuhan  manusia   yang  hierarki.


[1] Disampaikan dalam ibadah Sunday Bible teaching oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, pada hari                 Minggu, 01 Desember 2019, pukul 18.00, di GSKI Kelapa Gading (Function Hall – Rehobot, lt 5,       Mal Artha Gading).
[2] Acronyms, initialisms & abbreviations dictionary, Volume 1, Part 1 Gale Research Co., 1985,             ISBN 978-0- 8103-0683-7. Factsheet five, Issues 32-36, Mike Gunderloy, 1989  

BUDAYA BER-KODRAT ILAHI


               Budaya adalah ciri khas atau sebuah kebiasaan yang terjadi dan dikerjakan ditengah-tengah masyarakat yang terbentuk dari beberapa komponen berbeda pandangan ataupun kebiasaan termasuk dalam sistem agama, politik, bahasa, adat istiadat, pakaian, karya seni, dan bangunan. Budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat begitu pula sebaliknya, karena budaya tercipta dari pola dan kerja masyarakat dan peradaban manusia secara umum. Peradaban ini akan terbentuk norma-norma dan nilai kehidupan yang menjadi pandangan hidup dalam masyarakat.


            Kebiasaan yang sudah terbentuk di tengah masyarakat (baik dari masa lalu dan masa kini) akan berakar budaya sehingga menjadi suatu kebiasaan (yang diwariskan dari masa lalu ke masa kini dan masih saling terkait - tradisi) yang lazim dikerjakan dan diterima sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Sebagai contoh misalnya, kebiasaan atau budaya dan tradisi suku Maasai di Kenya dan Tanzania, Afrika Timur. Suku ini memberikan salam dengan cara meludah di muka sesamanya. Kebiasaan ini menjadi turun temurun dan sebagai tardisi untuk menyapa dengan sopan yang sebenarnya dianggap oleh kalangan mereka. Namun bila diterapkan di tengah-tengah masyarakat di kota Jakarta, sungguh alangkah fatalnya, karena ini dapat dianggap penghinaan dan merendahkan sesama.


            Sebuah budaya atau tradisi yang sudah terbentuk akan mempengaruhi keadaan social masyarakat tersebut. Kebiasaan ini akan tercipta oleh banyak faktor pendukung, oleh masyarakat setempat atau individu dan yang juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terus berkesinambungan walau keadaan tersebut tercipta dimanipulasi oleh pihak tertentu untuk maksud dan tujuan tersendiri. Keadaan inilah yang akan menciptakan pertentangan kelompok satu dengan yang lainnya yang dianggap sebagai suatu perbedaan. Perbedaan pada prinsipnya tidak harus membuat jurang satu dengan yang lainnya apabila dapat diukur dengan kaidah-kaidah dan norma yang wajar dan masih diterima oleh logika, keyakinan dan kemanusiaan, adat istiadat dan budaya yang manusiawi.

            Di tengah-tengah masyarakat yang majemuk ini, ada banyak tercipta budaya “semau gue”. Istilah ini lahir dikarenakan hamper semua lapisan masyarakat yang tidak diatur atau tidak masuk dalam lingkaran tertib budaya, maka yang ada, semau gue, semau-maunya berbuat, bertindak, tanpa memikirkan kepentingan bersama. Asal untuk dirinya beruntung, tidak lagi peduli orang lain. Masalah antri, kebanyakan orang lebih memilih “siapa cepat dia dapat”, ya benar, asal dating lebih awal dan tertib harus antri bila memang demikian kondisinya, maka semua pasti berjalan baik dan lancar. Di jalan umum juga banyak orang berkendara tidak tertib karena mau lebih dulu berjalan melaju, tanpa peduli, maka main serobot dan maju, mengabaikan traffic light, pejalan kaki dan pengendara liannya.

            Sifat budaya seperti ini akan menjadi warisan atau tradisi turun menurun dimanapun manusia berada. Tertib dan disiplin juga merupakan budaya yang harus dilestarikan bagi kelangsungan hidup anak cucu di masa yang akan datang. Kelangsungan hidup akan terus meniru dan melakukan hal yang sama sekalipun itu salah dalam kaca mata bermasyarakat. Seyogyanya kita semua memperhatikan dan memberi teladan bagi sesama, sesuatu yang benar untuk dikerjakan sebagai contoh bagi masyarakat secara konkrit, walau ini butuh waktu yang tidak sebentar dan harus dengan sabar mengerjakannya.

            Pendidikan Agama Kristen, punya andil dan harus menjadi landasan yang kokoh bagi orang percaya untuk menjadi role model ditengah-tengah masyarakat majemuk untuk menciptakan hidup bermasyarakat dan bernegara dengan benar sesuai kaidah, norma dan budaya yang sudah terbentuk sebagai bangsa yang berbudaya dan arif. Kita semua, orang percaya, terpanggil menjadi corpus delicti dalam meng-ejawantah-kan hidup yang berpadanan sesuai Injil Kristus, untuk hidup taat, tertib dan mendukung semua program pemerintah sebagai budaya masyarakat yang loyal terhadap pemerintahnya, taat dan patuh terhadap Pancasila, UUD 1945, ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, dan solid terhadap keutuhan NKRI.  Melalui PAK, warga gereja diajak untuk memahami nilai-nilai Budaya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia untuk mencintai serta patuh terhadap nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia, dimana ia dilahirkan, dibesarkan, hidup berbangsa dan bernegara didalamnya. Ketaatan kepada Tuhan harus juga terwujud melalui kepatuhan kepada pemerintah dan Undang-Undangnya yang diberlakukan. Mencintai masyarakat sebagai sesama yang harusa dikasihi dan dilindungi sebagai milik kepunyaan-Nya yang harus diayomi, dilindungi dan dikasihi, seperti Kristus telah menyerahkan diri-Nya, rela mati tersalib demi menebus dosa semua umat manusia (Gal.3:13; Ibr.9:15; 1Pet.3:18) dan keselamatan bagi semua suku bangsa (Mat.4:23; Kisah13:18, 46,47; 14:27; 15:7,14).

            Keadaan situasi dimana masyarakat telah dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya era globalisasi, membuat masyarakat semakin luas memiliki wawasan sehingga berdampak tanpa disadari bahwa budaya yang baik, yang terpupuk sejak nenek moyang ajarkan, terpupus sedikit demi sedikit sehingga tergantikan oleh budaya dan tradisi milenial. Norma-norma dan kaidah-kaidah yang dulu dipertahankan karena dapat membina rasa kemanusiaan dan kebersamaan, kerukunan dan rasa cinta sesama, kini semakin pupus dengan hadirnya pola hidup “diatas kepentingan diri”, dan sebagainya. Keadaan perubahan ini bukanlah salah total namun karenafaktor human error, dimana manusianya yang tidak dapat mawas diri, memfilter dan memilah mana yang baik yang tidak baik untuk dibuang. Justru keadaan sekarang, yang dianggap tidak baik dikalangan bersama malah dibudayakan sebagai sesuatu yang menguntungkan dan “asyik” dilakukan. Keadaan sekarang manusia semakin egosentris dan “serigala bagi sesamanya”, tidak ada lagi budaya kasih,  empati dan toleransi yang dulu membara, bahkan menyala terang pada jaman perjuangan. Di masa kini istilah tersebut hanyalah sebuah kata-kata dalam tulisan dan frasa tanpa makna yang terlahir dalam perbuatan.

            Budaya dan tradisi telah tergantikan menjadi era “EGP” (Emang Gue Pikiran) atau cuek. Dalam arti kata masa bodoh dan tidak mau tahu, yang penting diri sendiri tidak merugi, apa peduli buat orang lain, bila perlu hantam kromo. Budaya dadakan akan tercipta sesuai sikon dibutuhkan oleh pihak tertentu atau golongan. Misalnya budaya “korupsi berjemaah”, bila ada kesempatan dan peluang, maka secara bersama-sama mengambil peluang ini walau pasti instansi, lembaga bahkan Negara dirugikan oleh perbuatan ini. Hukum sudah tidak lagi perlu ditakutkan karena mereka berpikir bahwa semua itu bisa di ”beli”, dan ini sudah “mewabah”, menjadi budaya yang salah hampir disemua kalangan. Kondisi ini akan menciptakan manusia yang tidak berbudaya pekerti luhur, melainkan menciptakan manusia yang rakus dan tamak akan kenikmatan dunia.

            Injil dengan tegas dan gamblang mengatakan bahwa semua perbuatan jahat akan diadili di tahta pengadilan-Nya (2Kor.5:10). Semua mahluk ciptaan-Nya akan terbuka dengan telanjang di depan penghakiman-Nya (Ibr.4:13). Kristus yang adalah Hakim yang Adil akan menghakimi semua umat, baik yang baik maupun yang jahat (2Tim.4:8; Ibr.10:30). Tatanan Allah adalah budaya yang tercipta oleh kemahakuasaan-Nya, adil dalam pemandangan-Nya, baik dan sempurna bagi umat-Nya. Tidak ada berat sebelah ataupun ketidak-adilan yang dianggap oleh sebagian umat karena mereka hidup tidak sesuai dengan ketetapan-Nya. Bila manusia hidup dalam tatanan-Nya, maka budaya hidup yang dijalaninya pasti bermuara dari Dia dan bagi Dia, segala kemuliaan. Manusia akan akan berbahagia bila patuh, taat dan setia terhadap kebenaran-Nya, yakni segala Titah-Nya, maka manusia akan akan melahirkan budaya dan tradisi yang menciptakan kedamaian bagi sesama dan membawa umat ke jalan yang benar. Untuk itulah kita yang terpanggil; sebagai kawan sekerja-Nya, harus menanggalkan ke-egooan manusiawi kita. Mengenakan manusia ber-kodrat Ilahi (divine nature), sehingga segala prilaku kita dapat menjadi suri teladan bagi sesama. Menempatkan diri sebagai gambar ciptaan Allah yang hidup, sesuai kodrat Ilahi, kan membantu menciptakan suasana kondusif ditengah-tengah keadaan di mana generasi muda membutuhkan figure yang dapat ditiru dan dicontohi, walaupun sikon nya saat ini banyak generasi muda lebih condong terikat kepada gaya hidup dunia luar dari pada melestarikan budaya yang baik yang sudah terbentuk di tanah air kita. Jangan pesimis dan takkabur tapi tetap semangat dalam menyuarakan suara kebenaran bukan hanya dengan  keras dalam menyuarakannya tetapi terlebih harus lantang dalam perbuatan. Sebab perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan kuasa gelap, yakni si jahat (iblis). Selama kita masih ada di bumi, maka kita yang telah mengenal kebenaran-Nya, haruslah menjadi corpus delicti di akhir jaman yang rela melepaskan manusia lama dan hidup bagi Kristus. Dunia di mana yang sekarang kita tempati adalah bumi yang tidak akan selamanya abadi. Kelak kan menjadi lautan api (Wah.20:14), diakhir penghakiman-Nya. Oleh sebab itu selagi masih ada kesempatan kuota hidup dan waktu masih berjalan, maka kita semua harus memancarkan sinar yang bersinar cemerlang melalui segenap aspek kehidupan ini dan bila ini dilakukan secara seksama dan berkesinambungan akan membudaya. Selamat Berjuang.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]

Sabtu, 02 November 2019

GAWAI MILENIAL MENEPIS INTEGRITAS



Era milenial diawali dengan membanjirnya teknologi gadged dan membuming disemua lapisan masyarakat tanpa memandang strata kehidupan dan akademis. Faktualnya ialah bahwa semua orang menggunakan gawai atau gadged sebagai sarana dan media komunikasi bahkan juga digunakan sebagai bagian dari gaya hidup (prestige of style).

Pengertian gawai yang sering digunakan sebagai sebutan lain dari gadged (bahasa Inggris), adalah suatu peranti atau instrument yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi yang diciptakan sebelumnya. Perbedaan gawai dengan teknologi yang lainnya adalah unsur kebaruan yang berukuran lebih kecil. Sebagai contoh: komputer mengalami pembaruan berbentuk gawainya seperti laptop (notebook/netbook), telepon rumah yang mengalami pembaruan berbentuk dengan telepon seluler (Inggris: handphone), jam tangan analog hingga menjadi jam tangan digital dan termasuk dalam bilangan smartphone, dan sebagainya.

Semua berawal dari yang namanya disebut dengan kemajuan teknologi era digital, maka tak elak manusia dituntut memenuhi kebutuhannya dan harus terpenuhi karena akan dapat menunjang kinerja secara maksimal dan signifikan. Namanya teknologi, saya memberi penjelasan bahwa teknologi adalah memepermudah pekerjaan manusia. Mengapa? Karena dengan teknologi manusia diperbantukan/dipermudah untuk memenuhi tuntutan dari bagian keperluan/kebutuhan yang harus dikerjakan atau dipenuhi. Sebagai contoh: dahulu kita harus berkirim surat via pos atau telegram, wesel dan transfer antar bank untuk menjangkau dan pemenuhan tersebut. Namun kini itu semua hanya dengan satu genggaman. Bisa komunikasi jarak jauh dibelahan dunia manapun hingga pelosok. Transfer uang dalam hitungan detik dan cepat. Mengirim teks berita tanpa harus menggunakan kertas dan perangko. 
Sebagai contoh telepon genggam atau yang disebut sebagai ponsel (telepon seluler) yang adalah merupakan perangkat portable yang dapat melakukan dan menerima panggilan. Pertama kali diinisiasi oleh John F. Mitchell dan Martin Cooper dari Motorola pata 1973. Saat itu ponsel berbobot 2kg yang kemudian pada 1979 oleh Nippon Telegraph and Telephone (NTT) meluncurkan jaringan seluler pertama di Jepang dan dikomersialkan. Dari awal hanya dapat melakukan dan menerima panggilan lalu kemudian SMS (Short Message Service) atau pesan singkat lalu, MMS (Multimedia Messaging Service) untuk mengirim  gambar, audio, rich text. Kini ponsel terus berkembang dengan kekiniannya dan mendapat julukan smartphone. Sebutan smartphone karena fungsinya bukan hanya terima dan keluar panggilan tapi sudah lengkap dalam satu genggaman. Sekarang tidak perlu repot-repot bawa uang karena sudah ada aplikasi oleh pihak provider ke tiga yang menyediakan layanan tersebut sehingga tidak perlu repot bawa uang banyak. Komunikasi menjadi lancer karena sekarang sudah bisa video call dengan lawan bicara tanpa batas jarak dan waktu. Bisnis juga bisa dijalankan via smartphone ini bahkan di era globalisasi ini dunia sudah ada dalam genggaman kita. Semua informasi bisa kita ketahui bersama dalam sekejap.

Demikian pula dengan teknologi transportasi, di mana dahulu belum ada kendaraan bermesin. Namun sekarang kemajuan begitu pesat sehingga jarak bisa ditempuh dalam hitungan menit, jam dan bukan berhari-hari antar lintas pulau dan wilayah. Keadaan seperti ini akan terus berkembang seiring kemajuan teknologi dan perkembangan IPTEK, akan tetapi perlu juga diwaspadai dan menjadi perhatian bersama bahwa seiring berkembangnya teknologi dan IPTEK manusia akan cenderung terpaut pada kondisi tersebut dan mengabaikan sesamanya. Terhadap sesama tidak lagi saling memperhatikan dan mengayomi karena sekarang ditangan semua insani ada gawai (gadged) yang lebih menarik perhatiannya dan memadai dalam memenuhi  semua kebutuhannya. Tata karma, sopan santun dan nilai-nilai agama mulai diabaikan. Banyak orang akan mengabaikan hal tersebut dan tindak kriminalpun bisa terjadi karena pengaruh kemajuan teknologi tersebut. Pelanggaran UU ITE pun kian merebak karena hal tersebut, bisa karena memfitnah, membuka aib orang di public (viral), mengupload foto tak pantas, dan sebagainya.

Bila ditarik dari sudut pandang iman Kristen, kegandrungan akan penggunaan teknologi akan menjadi sangat mempengaruhi pola tingkah laku individu. Hampir dikebanyakan semua orang secara terus menerus bahkan menurut hasil riset ditemukan bahwa setiap 3-5 menit setiap orang pasti akan melihat ponselnya. Ponsel menjadi sebuah smarthphone yang dapat memenuhi kepentingan penggunanya, baik dalam hal komunikasi, media informasi, hiburan (games, music, video) hingga sebagai media transaksi pembayaran. Hal ini akan terus berkembang memenuhi permintaan pangsa pasar dan tuntutan globalisasi yang kian menguat.
Dampak pengaruh globalisasi semacam ini memiliki nilai plus dan minus. Kelebihan penggunaan teknologi ialah mempermudah pekerjaan manusia dalam berbagai bidang namun di sisi lain menyimpan bahaya terutama bagi generasi muda yang tanpa berpikir panjang sering langsung saja menelan kemajuan teknologi dan informasi ini tanpa memilah. Percepatan perkembangan pola piker akan menghasilkan suatu kebiasaan yang akan membentuk suatu budaya yang sangat dipengaruhi oleh kemajuan teknologi dan informasi tersebut. Generasi muda harus diselamatkan agar supaya nilai-nilai budaya, norma-norma dan kaidah tidak ditepis (tersingkirkan) oleh hal tersebut di atas.
Inovatif sebagai tenaga pendidik dalam proses pembelajaran baik di sekolah maupun di gereja harus memiliki komitmen dan konsistensi yang cukup tinggi dalam menghadapi era milenial ini. Nara didik dan jemaat yang dilayani harus dengan sabra dan ulet diperhatikan, dibimbing dan diarahkan kepada Kebenaran yang murni, yakni Firman Tuhan yang berfokus pada Kristus. Tendensinya bahwa banyak orang lebih cenderung terpikat dengan pengaruh gawai tersebut. Sehingga tenaga pendidik atau guru PAK harus jeli dalam menggunakan fasilitas gawai sebagai media pembelajaran bukan hanya di sekolah, bahkan di gerejapun seorang pendidik atau guru PAK harus mampu menjembatani cerita penyampaian Firman Tuhan dengan melalui poer point (Ppt), video, picture, dan sebagainya.

Generasi yang sekarang ini kita kenal adalah generasi Alpha, yakni di atas 2010 sebagai kelanjutan generasi Z (2001 - 2010) adalah sebuah generasi yang terbuka karena orang tua pada tersebut dilengkapi dengan latar belakang dari generasi yang juga terlahir pada masa-masa awal perkembangan teknologi. Pola piker mereka terbuka, transpormatif, dan inovatif akan memberi dampak perkembangan anak-anak yang hidup di generasi Alpha (Dr. Franky, Pendidikan Andal di Era Milenial: 2019). Kebutuhan jaman akan membentuk generasi dengan segala perilaku/perangainya. Perilaku tersebut akan terbentuk oleh paradigm atau cara pandang yang akan bertumbuh bis amelalui kepribadian, keluarga dan lingkungan sekitar.

Pendidikan Agama Kristen punya peranan sangat penting melalui guru-guru, para hamba Tuhan dan konselor baik kepada nara didik, dan warga gerejanya. Tugas dan tanggung jawab ini tidaklah mudah dan ringan karena kemajuan teknologi di era milenial akan sangat mampu menepis integritas siapapun sehingga dalam berkeadaan seseorang yang dianggap beragamapun secara teori (Theis Theory), ternyata tidak ber-Tuhan dalam prakteknya (atheis practise). Keadaan moralitas semakin menurun, perspektif yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Kebenaran di dalam Kristus. Akibatnya tindakan asusila, kriminalitas semakin meningkat. Pornografi dapat menjadi pornoaksi karena media informasi yang mudah diakses semua kalangan tanpa memandang usia, bisa diakses disemua tempat dalam situasi dan kondisi apapun. Tindak kriminalitas semakin meningkat dikarenakan melalui media ini, semua orang dapat memudahkan segala cara untuk meraup keuntungan ditambah lagi penyebaran berita hoax untuk kepentingan segelintir orang dan oknum tertentu. 
Sepatutnya kita semua yang telah mengecap pendidikan tahu akan budi pekerti dan perihal etika sehingga tahu membedakan mana yang baik dan tidak, mana yang dapat merugikan orang lain, atau sebaliknya terhadap diri sendiri. MelaluiInjil yang hidup dan murni pasti akan membuka paradigma setiap insani untuk berpikir jernih dan dinamis. Dapat menelah dan bijak dalam menyikapi era milenial ini. Sepatutnya kita semua dapat menjadi role model; teladan dan Corpus Delicti, sehingga sesama dapat melihat dan mencontoh dari yang benar perihal bijak dalam menggunakan gawai dan teknologi yang semakin membuming dan membahana.


Corpus Delicti  adalah suatu fakta yang membuktikan bahwa sebuah kesalahan telah dilakukan.  Yesus bisa menjadi manusia yang taat sampai mati.  Ini membuktikan kepada Iblis bahwa ketidaktaatannya adalah sebuah kesalahan lewat ketaatan Tuhan Yesus. Kalau menurut etimologi, maka kata corpus delicti berasal dari bahasa Latin. Corpus artinya tubuh atau badan, sedangkan delicti artinya pelanggaran. Secara sempit, corpus delicti artinya bukti suatu kejahatan. Corpus delicti adalah fakta penting dalam dunia hukum untuk menegakkan suatu keadilan, bahwa suatu tindakan seseorang tidak bisa dikatakan salah dan orang tersebut dihukum sebelum terbukti kesalahannya. Dengan demikian corpus delicti menunjuk fakta yang membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan.  Selamat Menjadi Pelaku Kebenaran.

Senin, 14 Oktober 2019


Di era milenial rasa peduli, empati, welas asih dan peduli akan sesama hampir sangat jarang ditemui bahkan mungkin bisa menjadi sangat langka kelak karena integritas insani di jaman ini lebih condong kepada antroposentris; egosentris dari pada altruisme.

Menanamkan welas asih terhadap sesama dapat dimulai dari diri kita masing-masing sebagai role model yang dapat diejawantahkan dalam keseharian tanpa memandang suku, agama, golongan dan kepentingan apapun. 


Sabtu, 12 Oktober 2019


Insani senantiasa memikirkan apa yang dipandang baik baginya, yang dapat membuat dirinya memperoleh dan mencapai kebahagiaan melalui pemenuhan dan kemapanan hidup.

Berperkaralah dengan Tuhan, apakah itu semua pada akhirnya hanya merupakan bentuk keegoisan atau sesuatu yang berpusat hanya pada diri sendiri (antro-sentris).

RECYLE BIN KEHIDUPAN


Istilah kata ini (recyle bin) terdapat dalam sebuah perangkat yang namanya komputer, dimana yang berarti “tempat sampah” atau merupakan tempat dimana pencarian dan pengambilan data-data yang telah dihapus dengan cepat dan mudah. Tempat sampah hanya menampung data-data yang berasal dari harddisk. Data-data yang berasal dari disket atau network yang telah dihapus tidak dapat ditampung atau diambil kembali dari tempat sampah (recycle bin). 

Pada umumnya pengguna komputer menyimpan data begitu banyak sehingga banyak pula data-data yang seharusnya disortir tidak tertampung lagi. Ketia seseorang sadar bahwa begitu banyak data yang telah melampui tempat penyimpanan ataupun si pemakai merasa ada beberapa data yang memang sangat mengganggu dan harus segera dihapus maka recyle bin adalah tempat pertama menampung semua data-data yang dibuang. Ketika si pengguna merasa bahwa salah satu data tersebut diperlukan, maka ia bisa kembali ke shortcut recycle bin untuk mengambil kembali data tersebut, walau ada beberap mungkin yang sudah using dan tidak bisa pulih data tersebut seperti semula.

Dalam kehidupan ini pun juga ada hal-hal dimana setiap insani memiliki persoalan hidupnya masing-masing dan ketika ia bertindak untuk melupakan setiap masalah tersebut dari pikiran dan perasaannya seakan-akan tuntas, merdeka, apalagi didukung dalam altar call dalam sebuah kebaktian ibadah. Secara emosional, dengan menangis dan memohon kepada Tuhan dengan yakin ia mencoba melepaskan persoalannya kedalam tangan-Nya. Namun mungkin saja sesampai dirumah atau bisa juga seminggu, sebulan atau setahun kemudian, orang tersebut masih merasakan persoalan yang belum rampung. Bukan hanya soal persoalan hidup. Terkadang bahkan sering setiap kesalahan orang lain kita sering simpan di hati (recycle bin) dan kemudian diingat-ingat kembali ketika teringat atau coba mengorek kembali masalah lama (lalu).
Tak elak berujung pada stagnasi dan mengganggu pertumbuhan iman, kedewasaan dalam pertumbuhan rohani seseorang. Karena dengan mengungkit kembali maslaah lalu, persoalan lama dan kesalahan sesama hanya akan membuat kerdil keyakinan seseorang dan menjadikan Tuhan tidak berdaya menurut cara pandang insani. Manusia diberi kehendak bebas (free will) oleh Tuhan untuk melakukan berbuat dan bertindak apa yang dipandangnya baik. namun bagi seorang yang bertumbuh dewasa dalam kerohanian, ia akan senantiasa berpikir sesuai kehendak Tuhan (Yunani= Phroneo) karena yang akhirnya itu semua menyenangkan hati-Nya.

Luka lama; persoalan hidup, kesalahan sesama seharusnya jangan di recyle bin tapi harus benar-benar di DELETE dari hidup seseorang. Menyimpan segala sesuatu yang tak berguna dalam hati dan pikiran hanya akan menghambat pertumbuhan dan Tuhan berkarya dalam diri seseorang. 

Sering kali seseorang merasa sudah terbebas dari menyimpan salah sesama, dari semua persoalan hidup yang mengikatnya, padahal sekali kelak secara psikologis akan timbul kembali kepermukaan karena menyimpan dalam penyimpanan sementara atau bahkan tersembunyi (hidden) dilubuk hatinya, dialam bawah sadarnya yang sekali kelak bisa restore dengan sendirinya karena sikon tertentu. Hal ini memang tidak mudah, bukan berarti Tuhan tidak berkarya atau turut campur tangan. Dari diri kita sendiri yang harus berjuang keras dengan tekad dan kemauan keras untuk membenahi hidup dengan sebaik-baiknya dan mohon tuntunan Roh Kudus agar dimampukan-Nya.

Tidak ada persoalan dan kesalahan sesama yang dapat dilupakan begitu saja apalagi jika sangat membekas dan merona jiwa. Tapi bagi orang yang melekat dekat dengan Tuhan dapat dipastikan bahwa semua itu merupakan nutrisi jiwa dan yang mendewasakannya untuk dapat mengenakan karakter dan berkodrat ilahi.  Selamat Berjuang!
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]


BUMI YANG BARU


Seiring waktu berjalan banyak insani beranggapan bahwa dunia segera berakhir. Kenyataannya, dunia semakin eksis dan membahana. Keberadaannya yang sudah berusia jutaan milyar tahun (menurut para ahli) membuktikan bahwa dunia semakin indah untuk dinikmati sebagai tempat kediaman manusia. Semakin tua semakin menjadi, demikian istilah yang beredar dikalangan. Walau keadaan usia bumi sudah tua, banyak gejolak alam terjadi namun itu tidak menyurutkan sebagian besar insani untuk “nyadar diri” bahwa sesungguhnya keadaan tersebut tak senyaman yang diduga.
Situasi dan kondisi yang terjadi dibeberapa belahan bumi, negara-negara tertentu mengalami kekeringan berkepanjangan, banjir besar, krisis pangan, bencana alam, dan sebagainya. Alam seakan sudah mulai tidak terkontrol sesuai siklus dan akselarasinya. Hal ini bisa dikarenakan faktor human error atau juga karena bumi sudah mulai tua. Keadaan situasi dan kondisi ini bukan lagi menjadi fenomena tapi bisa menjadi sebuah PERINGATAN  bahwa bumi memang sudah tidak nyaman lagi untuk di huni. David Wallace - Wells, “The Uninhabitable Earth” (Bumi Yang Tak Dapat Dihuni; 2019), menuliskan bahwa bumi sedang menuju ke perubahan yang radikal, dimulai dari perubahan iklim, hingga perubahan struktur sistem alam yang sudah tidak kondusif lagi, perlahan tapi pasti.

Pernyataan ini bukanlah sebuah momok untuk menakuti ataupun bersifat apatis terhadap perubahan-perubahan kea rah transformasi yang sering dan banyak dikumandangan oleh para motivator dan dibeberapa kalangan. Ini realitas yang harus kita hadapi bersama, disamping kita berusaha keras untuk terus berjuang membenahi dan memperbaikinya (bumi). Sadar dan bertekad menciptakan serta mengembalikan keadaan bumi seperti awal mula diciptakan adalah sebuah kemustahilan akan tetapi kita bisa bersama dengan tekad tersebut setidaknya memperlambat kerusakan fatal dan kepunahan massal, baik ekosistim hingga global.

Sebagai seorang tenaga pendidik, guru PAK, saya perlu memaparkan bahwa keadaan dunia atau bumi secara global sudah semakin tidak nyaman untuk di huni. Pernyataan ini bukan berarti sebagai sikap apatis dan skeptis terhadap bumi yang kita pijak dan huni saat ini, akan tetapi manusia secara global harus menyadari dengan seksama bahwa kenyamanan yang ideal sesungguhnya bukan di bumi yang sekarang kita semua tempati. Tetapi yang ideal itu adalah di langit yang baru dan bumi yang baru, yakni bumi yang baru yang diciptakan-Nya untuk dihuni dan tempati oleh insani yang berkenan kepada-Nya (bnd. Yesaya 65:17;  66:22;  2Pet.3:13;  Wahyu 21:1).

Bumi adalah bagian dari dari salah satu jagat raya yang di dalamnya dimana manusia hidup dengan ekosistim yang sempurna mengalami kemunduran eksistensinya. Dunia adalah yang dalam bahasa Yunani; kosmov, kosmos ” yang dapat juga berarti alam semesta, langit dan bumi (Kisah 17:24) merupakan hunian yang nyaman pada awal mula diciptakan-Nya. Setelah Allah menciptakan semua binatang dan manusia, sampai diayat 31, dikatakan: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kata “sungguh amat baik” (Ibrani = מְאֹ֑ד ט֖וֹב ,tov meod); ayat 4, 10, 12, 18, 21, 25. Dari sini jelas terlihat alam semesta dan segala isinya yang diciptakan pada dasarnya amat baik, termasuk semua hubungan antara  manusia dengan manusia, manusia dan segala makhluk sungguh indah dan harmonis. Secara khusus hubungan antara manusia dengan Allah adalah tidak terpisahkan. Sungguh amat baik. Tapi bagaimana dunia saat ini?  

Allah mempersiapkan bumi ini sebagai rumah bagi anak-anak-Nya. Adam dan Hawa dipilih untuk menjadi orang-orang pertama yang tinggal di bumi. Bagian mereka dalam rencana Allah adalah untuk  mendatangkan  kebagiaan di dunia. 
                Banyak penjelasan para teolog mengenai dua kata penting dalam Kejadian 1:26-27;
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,  menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Kata gambar dan rupa Allah (tselem dan demuth), pada umumnya kata-kata itu diartikan tunggal, yaitu bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan in His own image, dalam bahasa Latin Imago Dei yang sama dengan similitudo. Segambar dengan Allah biasanya juga dapat diartikan ringkas yaitu “mirip seperti Tuhan sendiri”. Kemiripan atau kesegambaran dengan Allah ini tanpa penjelasan yang memadai bisa mengacaukan pengertian mengenai anthropologi; studi mengenai manusia dari sudut pandang Alkitab. Salah memahami hal ini merusak konsep keselamatan yang benar menurut Alkitab. Sebenarnya gambar dan keserupaan Allah atas manusialah yang memberi nilai pada manusia (The image of God is what makes man).

                Inilah letak keagungan manusia atau kemuliaannya. Allah merancang demikian atau menghendaki demikian sejak mulanya. Kemuliaan yang dimiliki manusia mestinya sesuai dengan rancangan Allah semula, di mana manusia berkeadaan seperti Allah. Berkeadaan seperti Allah artinya manusia memiliki moral seperti Allah, di mana segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia (pikiran, ucapan dan tindakan) selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Namun kenyataannya manusia gagal memiliki keberadaan seperti ini atas pilihannya sendiri.

                Pada umumnya para teolog tidak membedah secara detail pengertian keserupaan ini. Mereka tidak dapat membedakan antara gambar dan rupa secara tepat. Sehingga mereka tidak memahami sebenarnya apa yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah itu. Pada umumnya mereka hanya memahami secara ringkas dan dangkal pengertian kejatuhan manusia ke dalam dosa. Keringkasan dan kedangkalan tersebut tidak bisa menjadi landasan kebenaran yang kokoh mengenai manusia (antropologi), sehingga tidak dapat membangun soteriology (pengajaran keselamatan) secara utuh dan tepat. Terkait dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, perlu kita meninjau ayat dalam Kejadian 9:6. Di ayat ini tertulis bahwa siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya. Dalam teks aslinya kata “gambar” adalah tselem (מֵ֖לְצַ). Dalam ayat ini tidak dikatakan bahwa manusia memiliki keserupaan (demuth), tetapi manusia hanya memiliki gambar (tselem). Ayat Firman Tuhan jelas mengatakan Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya Hal ini kembali menegaskan bahwa Allah hanya menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem-Nya), bukan rupa-Nya (demuth-Nya).
                
Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, sehingga keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah, berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas kehidupan manusia. Dalam teks bahasa Yunani kata kehilangan adalah hustereo (ὑστερέω) (Rm. 3:23). Gambar Allah merupakan sesuatu yang intern di dalam diri manusia, yaitu sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari diri manusia. Sampai kapan pun gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Sekalipun manusia telah jatuh dalam dosa, tetapi manusia masih memiliki komponen yang juga ada pada Allah atau gambar Allah (tselem). Komponen-komponen itu tidak hilang - yaitu pikiran, perasaan dan kehendak tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat lagi bisa mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah.

                Kata hustereo sebenarnya berarti kurang atau tidak mencapai. Terjemahan Bahasa Indonesia untuk kata hustereo yaitu “kehilangan” sebenarnya kurang tepat, sebab kata ini seakan-akan mengisyaratkan bahwa manusia pernah memiliki kemuliaan itu. Padahal sebenarnya Adam belum pernah menemukan atau mencapai kemuliaan Allah yang dikehendaki oleh-Nya. Kalau Adam sudah mencapai kemuliaan yang dimaksud berarti Adam mampu memiliki moral seperti Allah, sehingga Adam hidup dalam penurutan dan penghormatan yang pantas terhadap Allah. Ini juga berarti Adam berhasil menjadi corpus delicti.
                Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah, tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi berkeadaan kurang kualitasnya, tidak seperti yang Allah kehendaki. Ini yang disebut kehilangan kemuliaan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah tersebut dalam kehidupan umat pilihan. Di sini dapatlah kita pahami bahwa Kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah itu terdapat pada moralnya, bukan hanya mampu melakukan hukum secara umum tetapi memiliki cara berpikir dan nurani seperti Allah.
                Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Harus dipahami, bahwa menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah barulah sebuah rancangan dari Allah Tritunggal. Kata-kata yang digunakan untuk gambar dan rupa di dalam teks asli Alkitab dalam bahasa Ibrani adalah tselem demuth (תוּמדְ םלֶצֶ). Dua kata ini digabung tanpa kata penghubung, tetapi kalau secara terpisah tselem sering diartikan sebagai gambar. Kata tselem hendak menunjuk gambar dalam arti bahwa komponen-komponen yang dimiliki Allah yang juga dimiliki manusia yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Sedangkan demuth artinya keserupaan atau kemiripan, hal ini menunjuk kualitas. Kemudian dalam Kejadian 1:27 tertulis: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Di ayat ini Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem), tidak ada kata keserupaan (demuth). Adapun demuth adalah keserupaan yang menunjuk kepada kualitas atas komponen-komponennya (pikiran, perasan dan kehendak). Kata demuth lebih menunjuk kepada kemiripan (Ing. fashion, like, similitude). Keserupaan dengan Allah yang dimiliki manusia ini bukan sesuatu yang sifatnya statis, tetapi progresif. Dan manusia pertama, Adam harus mengembangkan sendiri keserupaan itu dalam pimpinan Roh Allah. Kemiripan ini (demuth) mengalami proses perkembangan. Jadi, yang diciptakan Allah pada mulanya atas manusia adalah segambarannya (demuth) saja, yaitu manusia memiliki komponen-komponen yang ada pada Allah, yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Adapun kualitas komponen-komponen tersebut atau keserupaannya (demuth) menjadi tanggung jawab manusia.

                Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas kehidupan manusia. Dalam teks bahasa Yunani kata kehilangan adalah hustereo (ὑστερέω; Rm. 3:23). Sampai kapanpun gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Komponen-komponen itu tidak hilang yaitu pikiran, perasaan dan kehendak, tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat lagi bisa mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah. Kata hustereo sebenarnya berarti kurang atau tidak mencapai. Hal ini sama artinya, bahwa Adam belum menemukan gambar diri yang benar atau ideal menurut Tuhan. Adam belum pernah menemukan atau mencapai kemuliaan Allah yang dikehendaki oleh-Nya. Kalau Adam sudah mencapai kemuliaan yang dikehendaki Allah, berarti Adam mampu memiliki moral seperti Allah, sehingga Adam hidup dalam penurutan dan penghormatan yang pantas terhadap Allah. Ini juga berarti Adam berhasil menjadi corpus delicti.

                Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah. Tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi berkeadaan kurang kualitasnya, tidak seperti yang Allah kehendaki. Ini yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah tersebut dalam kehidupan umat pilihan. Di sini dapatlah kita pahami bahwa Kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut. Kemuliaan Allah itu terdapat pada moralnya, bukan hanya mampu melakukan hukum secara umum, tetapi memiliki cara berpikir dan nurani seperti Allah.
                Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya berkeadaan seperti Adam sendiri. Kebenaran ini diteguhkan oleh Kejadian 5:3. Dalam ayat tersebut tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepada-nya. Kata rupa dan gambar dalam teks aslinya (Kej. 5:3) adalah tselem dan demuth. Set memiliki rupa dan gambar Adam, bukan rupa dan gambar Allah. Hal ini hendak menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan oleh Adam segambar dengan “diri Adam” sendiri, sama kualitasnya dengan Adam yang sudah jatuh dalam dosa. Dengan demikian, keturunan Adam tidak pernah melihat atau menemukan sebuah contoh dari gambar diri manusia yang benar atau ideal, karena Adam yang diharapkan menjadi teladan gagal menemukan gambar diri yang sesuai kehendak dan rancangan Allah. Oleh sebab itu, dibutuhkan satu sosok yang dapat menjadi role model gambar diri yang benar. Yesuslah jawabannya.

                Hakikat manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Kej  1:26-27), menjelaskan bahwa manusia merupakan hasil karya buatan-Nya, secara ilahi dan memang sebagai ciptaan yang mulia atau berbeda dengan ciptaan lainnya. Karena sangat berbeda dari yang Ia ciptakan, maka kita sebagai manusia di berikan hak yang istimewa untuk menjadi gambar (Teladan) serta serupa  Allah (Imago Dei).  Tetapi kita tahu bahwa pada masa yang dulu setelah nenek moyang kita jatuh ke dalam dosa maka kita juga ikut terbawa ke dalam dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa sebagai ciptaan yang mulia yang memiliki ke istimewaan khusus dari pada ciptaan lainnya. Di sini kita melihat bahwa sebenarnya kita sudah kehilangan gambar dan rupa Allah dan juga gambar indentitas diri kita sebagai ciptaan. Hanya saja sebagai Allah yang sangat mengasihi kita sebagai ciptaanNya, Ia memberikan kita kesempatan untuk menjadi gambar dan rupa Allah, sehingga kita tidak kehilangan akan indentitas diri kita sebagai manusia yang awalnya segambar dan serupa dengan Allah. Maka dari itu kita di selamatkan dari pelanggaran yang dahulu pernah dilakukan oleh Adam dan Hawa sehingga kita tidak menjadi ciptaan yang tidak memiliki gambar dan rupa Allah. (lihat Kejadian. 5:1), akan tetapi  pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah. Dan  manusia yang harusnya telah rusak, telah kehilangan jati diri, akan tetapi Allah sebagai pencipta selalu memberikan kesempatan bagi ciptaanNya, agar dapat memperbaiki diri dan kembali kepada rancangan semula yang merupakan gambar dan rupaNya. Hal ini yang membuat ciptaan itu berbeda dari yang lainnya sehingga ia layak disebut menjadi hakikat manusia sebagai gambar dan rupa Allah.

Dunia bukan rumah kita. Kita tidak boleh merasa betah di bumi. Seluruh pengharapan dan kebahagiaan kita hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus yang diwujudkan secara nyata kelak dikekekalan; dilangit yang baru dan bumi yang baru. Di sana kelak tak ada air mata dan dukacita.
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]



Referensi:

1.          Dr. Erastus Sabdono, New Paradigm of Christian Living, Precision Printing, Rehobot Literature, 
                     Jakarta:2017
2.             Dr. Erastus Sabdono, Surga, Precision Printing, Rehobot Literature, Jakarta:2017
3.             Dr. Erastus Sabdono, Corpus Delicti, Presicion Printing, Jakarta:2018
4.             David Wallace - Wells, Bumi Yang Tak Dapat Dihuni (The Uninhabitable Earth), Gramedia, Jakarta;2019
5.             John Rogers, Etika Medis: Suatu Perspektif Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2003   
6.             Dr. R . Soedarmo Iktisar Dogmatika, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2000
7.             Paul F. Knitter, Satu Bumi Banyak Agama, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2018