Dalam
dunia fisika dan metafisika, ada sesuatu yang terlihat dengan jelas dan tidak
terlihat. Sesuatu yang dapat dibuktikan secara empiris dan beberapa hal yang
sulit dibuktikan karena memang tidak terlihat bahkan sulit untuk dibuktikan
secara empiris dan logis. Hal ini yang membuat manusia harus ekstra untuk
mengamati dan mengadakan penelitian. Dalam dunia akademis, sesuatu yang tidak
dapat dibuktikan secara empiris maka disebut invalid. Hal-hal yang sulit
dibuktikan secara empiris walau demikian, namun hal tersebut tetap ada dan
dapat menjadi fenomena bagi manusia, baik yang terjadi di alam bahkan secara
fisika.
Pandemi virus yang marak sejak bulan
Desember 2019, Covid nineteen (n-Cov19) yang dimulai dari Wuhan, di mana
sekarang sudah hampir mendunia, ternyata mampu menyedot perhatian semua manusia
dibelahan bumi manapun. Ketakutan, dan kekuatiran yang tinggi membuat banyak
manusia berubah haluan menjadi paranoid terhadap pandemi ini. Kita harus tetap
waspada, itu harus, namun jangan menjadi paranoid, karena akan membuat
seseorang menjadi panic dan tidak tahu harus berbuat apa yang sewajarnya
bertindak. Virus ini disebut Covid karena Covid-19 adalah singkatan dari Corona
(CO), Virus (VI) Disease (D) dan tahun 2019 (19), yang mana virus corona
Covid-19 ini pertama kali muncul di tahun 2019. Virus ini berukuran dengan diameter 400-500 micro. Virus ini tidak bisa
terlihat dengan mata telanjang, harus menggunakan melalui mikroskop berteknologi
dan bercahaya tinggi yakni mikroskop elekron, tidak bisa menggunakan
mikroskop biasa.
Covid-19,
tidak terlihat namun sangat ditakuti oleh semua mahluk hidup yang namanya
manusia. Bisa dapat dikatakan sebagai musuh yang tidak terlihat (invisible enemy).
Seseorang dapat terpapar virus ini melalui tetesan cairan dari mulut dan hidung
saat orang yang terinfeksi sedang batuk atau bersin, mirip dengan cara
penularan penyakit flu. Tetes cairan dari mulut dan hidung pasien tersebut bisa
jatuh dan tertinggal pada mulut dan hidung orang lain yang berada di dekatnya,
bahkan dihisap dan terserap ke dalam paru-paru orang tersebut melalui
hidungnya. Virus ini akan masuk ke saluran pernafasan manusia dan mengembangkan
diri melalui sel manusia. Karena itu kita harus memiliki imun yang kuat. Jaga
pola hidup sehat. Hindari dikeramaian, tidak berpergian bila tidak diperlukan/penting.
Gunakan masker agar tidak menghirup udara yang terpapar karena bersin orang
lain, jaga jarak (social distance), mencuci tangan dengan sabun dan air yang
mengalir, dan sanitizer, tidak menyentuh
muka sebelum mencuci tangan. Hindari kotak fisik dengan sesama, dan benda-benda
di mana sesudahnya mencuci tangan atau dengan sanitizer.
Kenyataan
dilapangan banyak orang tetap kuatir dan parno menghadapi pandemic. Perang
terhadap virus tidak terlihat ini menjadi musuh besar. Dengan segala cara
dilakukan baik penyemprotan disinfectant, bahkan sampai dilakukan stay home
atas anjuran pemerintah diterapkan. Banyak masyarakat akhirnya menimbun
sembako, menimbun masker, menimbun sanitizer dan beberapa orang spekulasi
dengan menjual harga tinggi.
Sesungguhnya
kita bukan hanya berperang dengan virus Corona, musuh yang tak terlihat ini. Ada
juga yang tidak terlihat namun dengan cara yang lihai, licik dan cerdik
senantiasa menjerat, iblis namanya. Dengan cara kerja yang hampir semua manusia
tidak ‘ngeh’ untuk memahami ketika si iblis bekerja mempengaruhi pikiran dan
jiwa manusia untuk melakukan apa yang tidak berkenan, sesuatu yang tidak
berkenan. Ini yang dikatakan sebagai ‘meleset’ karena tidak sesuai kehendak
Tuhan. Musuh ini juga invisible enemy yang mampu membawa manusia kepada
kebinasaan kekal dikekekalan kelak. Bujuk rayu iblis akan memikat pikiran dan
jiwa manusia dengan menampilkan pesona dan kemolekan melalui dunia ini. Manusia
dijerat akan hal itu dengan pemenuhan diri sebagai kewajaran hidup. Manusia
akan disibukan dengan hal-hal pemenuhan diri, cara hidup dengan tidak pernah
cukup, mengejar karir, pangkat, title strata akademisi semata. Semua
seakan-akan berjalan running well, padahal manusia hidupnya semakin jauh…jauh...jauhhh
dari Rumah Bapa. Manusia lebih focus pada diri sendiri dana pa yang
disekitarnya. Seluruh hidupnya akan dihabiskan hanya pada hal-hal dianggapnya
itulah kewajaran hidup hingga dipenghujung hidupnya ia tidak mengenal siapa, dan
tidak bergaul karib dengan penciptanya. Ketika ia berada diujung maut, manusia kan
menyapa Tuhan namun hambar. Saat berada di hadapan Tahta-Nya, tentu manusia ini
tidak dikenal Tuhan karena tidak sesuai sebagai pelaku kebenaran, melakukan
kehendak-Nya (bnd. Matius 7:21-23).
Manusia
harus sadar diri, tahu diri dan mawas diri karena bisa kapan saja, di mana saja
siap atau tidak siap semua orang pasti akan mengalami kematian. Tidak harus
kena covid, sekejap saja bila dicabut nyawanya oleh Sang Khalik, maka selesai
sudah. Saatnya kita harus hidup benar, hidup suci, tak bercacat, tak bercela,
melakukan kehendak Tuhan. Mengenakan kodrat ilahi dan membuang manusia lama dengan
cara-cara duniawi. Kenakan pikiran yang sesuai pikiran dan perasaan Tuhan. Berjuanglah
hidup didalam Tuhan dan IA akan menjagaimu seperti biji mata-Nya.