3 Pilar

3 Pilar

Rabu, 23 Desember 2020

MENGKULTUSKAN DUNIA

            K-pop, istilah tersebut sangat terdengar memukau dikalangan para kawula muda, bahkan disemua kalangan. Istilah K-pop adalah  singkatan dari Korean pop. K-pop adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Kepopuleran para artis ini telah merambah hampir diseluruh mancanegara. Kegandrungan hampir disemua kalangan, khsusnya kawula muda akan musik K-Pop merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Korean Wave (demam Korea). Begitu banyak artis Korea yang tampil memukau dan memikat hati semua penonton, khususnya di kalangan kawula muda, sehingga kettika mereka tampil manggung di Jakarta, apalagi bila bintang K-pop yang dimaksud adalah benar-benar lagi populer, sudah dapat dipastikan 1 bulan sebelum acara konser, tiket sudah habis terjual, bahkan ada yang memanfaatkan peluang tersebut oleh para calo dengan menjual berkali lipat dari harga yang sebenmarnya. Sungguh sangat fantastis, begitu trendy dan memikatnya para artis ini sebagai pujaan hati di hati para penggem,arnya. Bahkan ketika mereka hadir dipanggung, ada yang sampai meng-elu-elukan dan menangis histeris karena begitu memukaunya penampilan dankharisma mereka dihadapan penggemarnya. Tidak sedikit ada yang pingsan dan histeris saat para artis ini sudah mulai menunjukkan kepiawaiannya di atas panggung dengan suara khas dan gerak tari mereka. Begitu mereka memujanya sampai-sampai mereka berperilaku dengan memakai simbol-simbol asesoris dan apapun yang dapat dikenakan bahkan potongan rambut dan style mereka disamai persis seperti artis Korea tersebut. Lantunan lagu dan gaya mereka saat menyanyi dikumandangakan bersama baik di saat-saat tertentu dan kala mereka rindu. Sungguh menakjubkan dan heboh. Euphoria semacam ini sangat bisa sesaat bahkan bisa berkelanjutan dan mewabah seakan meng-influence semua kalangan. Tidak sedikit memakan korban, khususnya kawula muda. Memakan korban dalam artian, banyak waktu yang dikorbankan, kesempatan dan peluang yang disia-siakan untuk kesempatan belajar dan hal-hal penting lainnya, belum lagi dana dan sebagainya. Kawula muda tidak akan sungkan mengeluarkan kocek bahkan mengorbankan waktu, kesempatan dan peluang yang ada hanya demi bertemu dan menyaksikan konser artis pujaannya. Kegandrungan tersebut membuat mereka mengkultuskan hingga memuja artis kesukaannya.

            Kata mengkultuskan dari dasar kata “kultus”, yang berarti penghormatan secara berlebih-lebihan kepada orang, paham, atau benda (KBBI). Dalam Keluaran 20:4-6 dituliskan di sana:

            “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang adadi dalam air di bawah bumi. Jangan sujud   menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu,   adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya,   kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku!           

            Sepututnya orang percaya tidak menjadi ikut-ikutan atau terpapar oleh pengaruh yang merebak dikalangan kawula muda. Khususnya para kawula muda, anak remaja dan mereka yang masih tergolong dalam taraf pertumbuhan, bahkan tidak sedikit pula di kalangan orang dewasa pun juga ikut andil dalam euphoria semacam ini. Sebagai contoh, ketika Tommy Page hadir di Summarecon Mal Bekasi pada Kamis 28 Mei 2015 di area The Downtown Walk, dipenuhi oleh para penggemarnya, lebih banyak para orang dewasa yang terdiri dari orang tua, ibu-ibu dan bapak-bapak dari pada kawula muda. Kondisi demikian dikarenakan artis tersebut menjadi idola awal tahun 1990 an, sehingga mereka para penggemanya telah beranjak dewasa. Lain halnya anak remaja yang lahir di tahun sekarang ini yang masih tergolong dapat disebut anak milenial maka tidak dapat dipungkiri bahwa kemajuan teknologi telah mendukung artis favorit pujaan mereka booming lebih cepat dari pada pendahulunya. Ketika Tommy Page (24 Mei 1970) wafat, Jumat (3/3/2017) diusianya ke 46 tahun, banyak para penggemarnya sedih dan patah hati. Namun berselang sebulan, tergantikan dengan artis idola lain yang hadir dipanggung tarik suara. Sementara itu beberapa penggemarnya melepaskan ingatan tersebut dan mencari idola lain untuk dikagumi dan dikultuskan. Sungguh manusiawi dan itulah fakta kenyataannya.

            Firman Tuhan meneguhkan supaya kita hanya terpaut kepada Tuhan semata. Menyukai artis idola, bintang film, penyanyi, pemain olah ragawan atau siapapun yang membuat seseorang tergandruni, hendaknya jangan menjadikannya mendapat tempat utama di hati dan pikiran orang percaya. Secara psikologis, kegandrungan tersebut akan membuat seseorang mengidalkan berlebihan dan terpikat hingga terpincut, apalagi idolanya cantik, ganteng, punya karisma yang tentunya siapapun tidak tahu apapun iru bisa saja dibuat untuk menarik minat penggemarnya bukan? No body perfect, lebih tepatnya istilah ini harus dapat kita semua pahami bahwa tidak ada yang sempurna di muka bumi ini. Jadi jangan berlebihan menempatakan seseorang sebagai idola yang dikultuskan sehingga berdampak men-duakan hati dari pada kita menempatkan Tuhan sebagai yang utama dan prioritas. Tidak perlu berlebihan menempatkan  seseorang melebihi cinta dan kasih sayangnya hanya kepada Tuhan. Bila seseorang lebih rohaniawan dan memperhatikan kebutuhan batiniahnya, maka ia akan peka akan hal ini sehingga baginya apapun yang dihadapannya hanyalah bersifat sementara dan fana. Sikap menghormati sesama secara proporsional menjadi bagian dalam hidupnya seperti yang dititahkan-Nya namun tidak memberi tempat secara berlebihan sehingga dapat membuat Tuhan cemburu dan murka (Ulangan 32:21; 1 Korintus 10:22, 23).

            Hendaknya kita jangan terpikat dan mengikuti kewajaran dunia dengan segala filosofinya. Kebiasaan seseorang yang bergaul dengan sembarang orang akan membuat ia terpikat dan terpengaruh dengan model gaya dari pengaruh disekitarnya. Sepatutnya orang percaya tidak terikat dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Orang percaya tidak harus fanatik dengan apa yang dipercayainya, tetapi harus sangat ekstrim dan memfilter terhadap apa yang ada disekitarnya namun tidak membabi buta dan menentang segalanya. Apa yang berkenan dan menyenangkan hati-Nya tentu menjadi prioritas utama orang percaya untuk berbuat dan melakukan segala sesuatu, sehingga apa yang dilakukannya tidak berdosa. Tidak semua berkenan dan bermanfaat, oleh sebab itu harus belajar mengerti dan memahami kehendak Tuhan. Melalui hubungan yang intim dengan Tuhan melalui meditasi dan doa serta terus belajar tentang kebenaran-Nya, maka seseorang akan belajar untuk mengerti dan memahami isi hati dan pikiran-Nya. Ini perlu proses dan bukan instan, namun bila dilakukan akan membuahkan hasil sehingga akan berdampak untuk tidak mencintai dunia dengan segala isinya. Kalau hanya sebuah lagu untuk didengar maka hati dan perasaan akan mengkoreksi dengan sendsirinya apa ini pantas didengar dan membawa damai? Apalagi bila harus mengkultuskan figur artis sebagai idola berlebihan sduah barang tentu bukan rana bagi orang yang sudah benar dekat intim dengan Tuhan. Baginya Tuhan adalah sesembahan yang menjadi bagian dalam hidupnya. Ia akan menempatkan Tuhan di atas segalanya. Keinduan hatinya senantiasa berkenan dihadapan-Nya setiap waktu. Menjadikan Tuhan sebagai idola utama adalah keputusan tepat dan menjadikannya hanya sebagai satu-satunya kebahagiaan dalam hidup ini.

            Tidak sedikit orang Kristen juga sering mengidolakan dan mengkultuskan para pendeta, gembala sidangnya, pastor, pelayan Tuhan, para penginjil atau siapapun rohaniawan yang dianggap ber-karisma, atau dianggap sebagai penyambung lidah Tuhan, yang memiliki karunia roh, bernubuat. menyembuhkan dan hal-hal supranatural lainnya sehingga banyak jemaat tidak sadar diri bahwa dengaja telah mengkultuskan sesama dari pada Tuhan. Menghormati dan menerima para hamba Tuhan dengan segala kelebihan dan karunianya adalah wajar namun janganlah mengkultuskan, seakan-akan yang bersangkutan adalah Hamba Tuhan yang diurapi sehingga jemaat terus terpikat, idolakan dan memuja yang bersangkutan. Padahal kita semua adalah hamba-hamba-Nya (hamba Tuhan), pelayan Tuhan yang melayani dimanapun kita berada dengan segala komopetensi dan kapasitasnya amsing-masing. Bila seorang wanita sebagai ibu rumah tangga, maka ia adalah hamba Tuhan yang melayani bagi suami dan anak-anaknya dengan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan dan sesuai kodratnya. Demikianpun sebaliknya dengan para suami dan anak-anak. Di manapun kita ditempatkan baik sebagai pekerja kantoran, guru, pedagang, tukang sapu jalanna, juru parkir, atau apapun profesinya, tetap sebagai hamba Tuhan yang dutus ditengah-tengah masyarakat. Mengkultuskan para rohaniawan adalah sebuah kepicikan dan perbuatan jahat yang mendukakan hati Tuhan, karena apa yang dikerjakan dan dikarunikaan kepada para rohaniawan tersebut semuanya dari Dia dan untuk Dia, bagi kemuliaan nama-Nya.   

            Bila seseorang mengkultuskan Tuhan di atas segala aspek hidupnya, maka yang terjadi ialah orang tersebut akan hidup menuruti segala titah dan perintah-Nya. Hidupnya akan diarahkan kepada apa yang berkenan dan menyenangkan hati-Nya. Ia akan menjauhi dari keinginan daging dan hidup dalam kesucian, menghindari keinginan terhadap yang dunia tawarkan dari berbagai hawa nafsu duniawi. Tuhan memang harus dikultuskan sebagai sesembahan yang hidup. Dengan demikian hidup orang percaya menjadi hidup orang benar yang berkenan di mata Tuhan. Yusuf karena takut akan Tuhan dan hidup benar di mata-Nya, maka ia berani mengambil sikap melarikan diri dari tawaran nikmat dari istri Potifar terhadap kenikmatan seks yang ditawarakannya. Walau akibatnya Yusuf harus menanggung masuk dalam bui karena fitnah tersebut. Namun Tuhan membuat indah hidup Yusuf karena ia senantiasa ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan. Dunia tidak menawarkan apa yang baik dan kekal, karena dunia adalah fana. Selama bumi masih ada (Kejadian 8:22), dan masih ada kesempatan hidup yang harus kita jalani ialah memuliakan Tuhan dengan segala kemampuan, kompetensi yang kita miliki untuk berkarya bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dapat menjadi berkat melalui sikap dan perbuatan bahkan wujud nyata bagi sesama.           

            Dunia akan senantiasa membuat mata banyak orang terlelap dengan segala pesona dan kecantikan yang dibuatnya, sehingga tidak sedikit dibuatnya mengidolakan dirinya (dunia) sebagai tempat yang nyaman dan tentram, padahal dunia akan lenyap menjadi danau api kelak (limn e tou puros). Keindahannya memang memikat banyak manusia untuk tetap melekat hatinya di sini dan tidak menantikan kehidupan yang akan datang di langit yang baru dan bumi yang baru. Dunia hanya membuat manusia mengkultuskan dirinya sendiri dengan mengejar akan pemenuhan hidup semata. Manusia menjadikan dirinya tuhan, merasa mampu dan berjaya. Hal inilah yang membuat manusia semakin menyombongkan dirinya sebagai yang berkuasa atas hidup dan bagi sesama disekitarnya. Yang lebih kuat akan menekan yang lemah dan yang tidak takut akan Tuhan semakin bertambah kejahatannya. Dunia mempengaruhi paradigma manusia terhadap nihilistis sehingga merasa yakin bila Tuhan hanyalah cerita yang ada di agama dan kitab suci semata. Kejayaan dan kemakmuran juga dapat membuat manusia lupa akan penciptanya. Bahkan mereka memuja keberhasilan dan kejayaan mereka sebagai hasil karya sendiri.mengindahkan keberadaan

            Sungguh malang nasib orang-orang yang tidak mengindahkan keberadaan Tuhan. Kelak mereka akan tetap berada di bumi tatkala bumi hangus menjadi danau api. Dunia akan menjadi gehena (neraka), tempat kekal bagi mereka yang patut mendapat hukuman dari Tuhan atas ketidaktaatannya.  Gereja harus berani menyuarakan suara kebenaran dari isi hati Tuhan melalui Injil yang murni agar banyak umat diselamatkan dari pengaruh dunia yang menyesatkan. Penyesatan terselubung yang dilakukan oleh banyak para hamba Tuhan menjadikan mimbar dan gereja sebagai sarana untuk menarik banyak umat untuk bergantung kepada para rohaniawan dan hanya mencari berkat lahiriah semata dan bukan dibawa kepada penurutan untuk bertumbuh dewasa dan melakukan kehendak-Nya. Demikianpun mamon juga dapat dikultuskan oleh semua insani, dan sangat berbahayanya bila orang percaya terikat dengan mamon. Cinta akan uang seperti raksasa kuat yang tidak mudah dikalahkan,tetapi kita harus bisa mengalahkannya dalam hidup ini dan menolong orang lain juga untuk bisa dimerdekakan dari belenggu harta kekayaan dan uang. Sejak dini dari anak-anak juga dapat memahami hal ini untuk tidak mencintai idola mereka melebihi dari apapun selain Tuhan. Pendidikan tersebut dapat sedianya dimulai dari rumah oleh para orang tua dan guru-guru sekolah Minggu di gereja. Peran serta dan tanggung jawab ini harus kita semua pikul bersama dan fokus supaya anak-anak ini kelak tahu memberi tempat istimewa bagi Sang Pencipta atas alam semesta dalam hidup mereka. Ajar juga mereka untuk ikat pinggang erat-erat dengan kebenaran firman-Nya agar tidak terkontaminasi dengan pengaruh dunia. Selamat Berjuang [JK]

 

Minggu, 20 Desember 2020

NATAL KELABU (HIASI BATINIAH)

            Biasanya dua bulan menjelang memasuki sebelum bulan Desember, setiap mal dan tempat penjual asesoris pohon natal sudah ramai memasang dan mengadakan promo besar-besaran disertai pernak pernik hiasan natal pada pohon cemara pabrikan dengan berbagai macam model bentuk dan tipenya. Natal tahun ini (2020), banyak mal menjual dengan harga sangat miring dan bisa dibilang hampir membuat kaget para konsumen. Kenyataannya harga bandrol yang direlease oleh penjual, ternyata sangat fantastis jauh dari harga tahun-tahun sebelumnya, atau bisa dikatakan super diskon. Itulah istimewanya natal tahun ini, pabrikan dan stockis mengadakan cuci gudang besar-besaran dikarenakan masalah pandemi ini, wabah virus Covid-19, menjadi peluang bagi para pedagang untuk memburu konsumen. Di kala pandemi ini keadaan perekonomian juga agak seret dan miris krisis. Untuk membuat lancar roda perekonomian dan setidaknya para pedagang/penjual setidaknya dapat balik modal atau sedikit keuntungan, terpaksa harus dengan promo diskon besar dan berbagai merchandise dibuat sedemikian rupa untuk menarik minat konsumen untuk membeli.

            Uniknya natal tahun tahun ini tidak lagi dapat dirayakan semegah dan semeriah pada tahun-tahun sebelumnya. Berbagai atribut bernuansa natal biasanya telah dipersiapkan sejak memasuki awal Desember. Gereja-gereja mulai sibuk dengan berbagai kegiatan, serta menjalankan tradisi-tradisi menyambut Natal. Perayaan natal sebelumnya menjadi moment yang memiliki makna tersendiri bagi umat Kristiani. Tapi kini umat Kristen di seluruh dunia, tidak semua dapat melakukan acara ritual kegiatan ini seperti tahun-tahun yang sudah dilewati sebelumnya. Gereja-gereja tidak lagi dapat melaksanakan perayaan natal secara besar-besaran, dibatasi dengan perketat standard prokes, bahkan di zona yang rawan justru sama sekali tidak diperbolehkan diadakan pertemuan ibadah. Natal tahun ini benar-benar kelabu.

            Istilah kata Natal berasal dari bahasa Latin, Dies Natalis, yang berarti hari lahir. Dalam bahasa Inggris, disebut Christmas, sedangkan istilah Inggris kuno, Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Namun pengertian natal sesungguhnya tidak hanya terletak pada kata dan arti semata, sebab Yesus Kristus, tidak lagi tetap menjadi bayi dalam palungan. Kristus telah dewasa dan menjadi Raja atas alam semesta. Kedatangan-Nya yang pertama kedunia untuk menyampaikan Kabar Baik melalui diri-Nya yang diutus oleh ALLAH Bapa sebagai Sang Penebus dan Juruselamat umat manusia di bumi. Kedatangan-Nya yang kedua kali akan menghakimi seluruh umat manusia baik yang berkenan dihadapan-Nya juga yang tidak taat kepada-Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat luput dari penghakiman-Nya pada saat itu. Mereka yang taat dan setia serta hidup dalam kesuciaan, akan mendapat kemuliaan kekal, sebaliknya bagi yang tidak taat dan hidup memberontak terhadap Dia, maka bumi adalah tempat yang tepat bagi mereka untuk selamanya, karena bumi akan menjadi danau api yang kekal, Yunani= limne tou puros (Why. 20:14). Dalam bahasa Ibrani, istilah tersebut disebut Gehena. realitas ini  oleh Tuhan Yesus menyinggung mengenai neraka ini berulang-ulang (Mat. 5:22,29; 10:28; 18:9; Mrk. 9:43,49; Luk. 12:5). Dalam suratnya, rasul Yakobus juga menyinggung realitas neraka (Yak. 3:6). Oleh sebab itu, orang percaya dituntut untuk hidup sempurna seperti Tuhan Yesus Kristus dan melakukan kehendak-Nya.

           Konsep kekristenan selama ini banyak diajarkan oleh para hamba Tuhan tidak sesuai seperti yang Tuhan inginkan. Merayakan natal tidaklah salah, sayangnya natal hanya sebagai ceremonial semata. Natal hanya dijadikan moment bahka Kristus telah lahir ke dunia dan dirayakan, tapi pada hakekatnya Dia tidak tumbuh dewasa dalam kebenaran melalui hidup orang percaya untuk turut melakukan apa yang telah Ia perbuat. Natal hanya menjadi euphoria sesaat di bulan Desember dan sibuk dalam menyiapkan segala sesuatu yang dianggap penting seperti baju dan pakaian baru, makan dan kue-kue yang identik dengan kebutuhan natal. Hiasan-hiasan, pohon natal, sibuk dan heboh dalam tata cara liturgi disertai latihan dan gladi resik berulang kali bahkan mengeluarkan dana yang tidak sedikit, yang mana durasi  ibadah perayaan hanya paling lama 2-3 jam. Makna natal telah menjadi euphoria dan klise semata yang setiap tahun dirayakan dan diulang-ulang tanpa dimaknai dengan benar dan tepat sasaran.  Euphoria natal seharusnya tidak menjadi bingkai utama di kalangan orang percaya yang hanya disajikan hanya untuk membuat suasana seakan damai dan tentram, pada hal itu hanya rekaan dan buatan semata. Bila acara sudah rampung, yang ada hanya tinggal kenyataan yang sesungguhnya. Damai natal tidak hanya didapati hanya pada hari natal dibulan Desember. Damai Kristus dapat dirasakan diresapi oleh semua lapisan orang percaya setiap hari, setiap saat dalam segala situasi dan keadaan bila kita benar-benar telah menjadikan Kristus sebagai satu-satunya kebahagiaan. Kebahagiaan kita sesungguhnya bukanlah hal-hal lahiriah, itu hanya sementara. Yang kekal ialah di Sana, dilangit yang baru dan bumi yang baru. Kebanyakan insani mengejar sesuatu yang terlihat secara kasat mata, fisikly dan lahiriah. Kebanyakan orang percaya tidak mencari perkenanan-Nya, menjadi terhormat dan berkenan di mata Tuhan. Sama seperti Ayub sebagai insani yang suci di jamannya. Kita harus mengikuti dan mengejar kesuciaan yang Tuhan Yesus Kristus ajarkan. Jangan terjerumus pada kesenangan dunia dan  terjebak pada panggung-panggung kenikmatan hidup yang memompa harga diri dan ketamakan. Mengejar nama baik dan popularitas diri, mencari kesempatan untuk mencari hidup. Bila demikian, apakah natal dapat menjadi sesuatu yang istimewa, di mana Dia pernah datang pertama kali ke dunia sebagai Penebus dan seiring waktu kuota usia kita masih tersedia, menyambut kedatangan-Nya kedua kali dengan berkemas-kemas? Yesus Kristus akan datang segera kedua kalinya sebagai Raja. Kita harus berkemas-kemas dan selesai dengan diri sendiri, artinya, sudah tidak ada lagi apapun yang dapat membuat hati dan seluruh aspek hidup ini dapat dibahagiakan selain Tuhan satu-satunya sebagai kebahagiaan.

            Natal boleh menjadi kelabu karena situasi dan kondisi pandemi membuat segala sesutau menjadi terbatas oleh standard protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Namun demikian tidak menjadikan hati kita sebagai orang percaya yang benar-benar kelabu, karena Kristus sudah menjadi satu-satunya kebahagiaan kita. Kebahagiaan kita sebagai orang percaya bukanlah dipengaruhi oleh suasana situasi dan kondisi keadaan, pangkat, gelar, kedudukan, financial, strata akademisi, dan lain sebagainya. Kebahagiaan hanya dapat berpengaruh besar bila kita terpikat oleh percintaan dengan dunia. Kita harus frustasi dan patah hati terhadap dunia. Sekalipun dunia mempesona dengan segala kemolekannya, nemun itu menjadi najis di mata kita bila Kekasih Abadi telah memikat dan kita kepincut dengan-Nya. Hati kita tidak boleh terisi oleh apapun dan siapapun oleh pengaruh yang dunia tawarkan, karena itu hanya akan membuat bukan hanya kelabu hidup kita nantinya tetapi justru menjadi kelam dalam kebinasaan kekal.

            Natal tetaplah sebagai peringatan dan perayaan bahwa Kristus Yesus pernah terlahir ke dunia reinkarnasi sebagai manusia. Dia datang mengosongkan diri-Nya menjadi sama seperti manusia namun dalam hal tersebut, Kristus tidak berdosa karena ketaatan-Nya kepada Bapa. Kristus taat sampai mati, mati di kayu salib, itu semua telah dinubuatkan sejak lama oleh para nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Natal idealnya tidak lagi dengan lantunan lagu-lagu nuansa tersebut yang hanya bersifat melankolis semata. Bukan tidak boleh, namun sejatinya, natal menjadi momentum apa yang sudah kita perbuat untuk menyenangkan hati-Nya? Apa yang sudah kita perbuat dan lakukan dalam melaksanakan kehendak-Nya. Ketaatan dan kedewasaan kita sebagai anak Allah harus ditunjukan bahwa berkat jasmani bukanlah prioritas utama dan tidak lagi menjadi bahan “rengekan” dan permohonan dalam doa-doa yang dipanjatkan. Sekarang saatnya untuk kita menjadi dewasa rohani dan lebih fokus dalam pemenuhan dan menghiasi batiniah, sehingga dapat menyenangkan hati-Nya. Hiasai batiniah kita dengan kesucian, ketaatan, menghidupi suara kebenaran, melumpuhkan dan membinasakan kedagingan dari sifat-sifat dosa favorit secara kontinue dan pasti untuk mengenakan manusia ilahi. Selamat Berjuang. [JK]