Istilah
“theologia” sering diasumsikan sebagai suatu ilmu pelajaran atau mata kuliah yang
berkenaan dengan Tuhan. Sehingga banyak orang awam merasa pesimis, skeptis
bahkan enggan untuk membicarakan hal tersebut, walau ada beberapa yang ramai
untuk memperbincangkannya dengan debat kusir. Kata ‘theologia’ sendiri berasal
dari bahasa Yunani yaitu theos, yang
artinya Tuhan, dan logos, yang
artinya perkataan, ucapan, firman, pengetahuan, dan sebagainya. Jadi, theologi
berarti pengetahuan tentang Tuhan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Teologi adalah pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan
kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci). Tergantung dari
perspektif sudut pandang mana seseorang mengartikan dan membedah makna kata
tersebut asal tidak mengurangi maknanya.
Banyak Sekolah Tinggi Theologia
saat ini sedang berlomba mencetak sumber daya manusia yang akademisi dibidang
baik teologia, PAK (Pendidikan Agama Kristen), Pastoral Konseling, Misiologi,
Musik Gereja, dan sebagainya, dalam rangka menciptakan manusia unggul
dibidangnya guna menjaring jiwa dan mengimplementasikan ilmu secara akademisi.
Keadaan ini sudah ada sejak kekristenan masuk mula-mula di negara kita yang ragam
kebudayaan, suku, agama dan tradisinya. Institusi dan lembaga pendidikan
dibidang akdemis berbasis teologi terus berkembang, walau tidak semua dan belum
terakreditasi oleh BAN-PT dan mereka masih terus memperjuangkannya. Setiap
Prodi (program studi) punya misi dan visi untuk mencapai target dalam mengemban
Amanat Agung sebagai fokus inti dari sasaran yang hendak dicapai. Mahasiswa
dipacu untuk belajar dengan tekun, disamping itu pihak sekolah mengadakan
beasiswa bagi mahasiswa yang ber-prestasi.
Seiring era globalisasi menuju era
milenial, maka tak elak semua orang harus mampu memilki skil dan kemampuan
dibidangnya bahkan lebih. Bagi mahasiswa theologia dan PAK juga demikian
diwajibkan untuk tidak gaptek (gagap teknologi) tapi mapan dan piawai dalam
menggunakannya. Demikianpun seorang theolog dan guru PAK tidak hanya cakap dan
mapan secara teori akademisi semata dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan
nilai-nilai Kristiani. Mengemban tugas Amanat Agung tidaklah mudah karena harus
disertai kerelaan dan ada harga yang harus dibayar, segenap hidup. Akademisi
dan pola pembelajaran serta metode yang telah diterapkan belum tentu mampu
memadai kinerja seorang guru dalam mengajar dan seorang theolog dalam berkotbah
dan mungkin penggembalaan. Sekalipun skill seseorang telah diasah dan diberi
muatan sebagai modal untuk berkarya, namun bila karakter yang bersangkutan
belum mencapai untuk serupa seperti Kristus, artinya rela memberi diri dan
tidak perhitungan, jelas akan tersangkut pada cara manusia lama. Justru seorang
yang bersedia melayani ialah mereka yang tidak lagi mencari hidup tetapi
memberi hidup. Seorang pelayan Tuhan harus berani memberi hidup dan kehilangan
nyawa sekalipun bagi keselamatan sesama. Di sini bukan berarti konyol terhadap
jiwa sendiri, melainkan tidak lagi fokus dengan apa yang menjadi pemenuhan
diri. Asal ada makan dan pakain cukup (1 Timotius 6:8). Seorang pelayan Tuhan harus sudah selesai dengan diri nya sendiri. Seorang pelayan Tuhan itu tidak boleh baper, karena melayani itu sejatinya melepaskan semua dan menyenangkan perasaan-Nya.
Seorang theolog dan guru PAK yang
andal dibidangnya, ia tidak hanya cakap dalam mengaplikasikan ilmunya di dunia
nyata dan sesama, tetapi juga harus mampu menjadi role model bagi sesamanya. Bukan
hanya menjadi mentor semata tetapi juga “montir” yang mampu me-reparasi
karakter manusia lama kepada manusia ilahi. Untuk hal ini perlu proses yang
tidak sebentar, tapi bila tekad dan nekad - bulad, maka siapapun pasti bisa untuk
mau berubah. Theologia dan PAK bukanlah bahan debat dan menjadi diskusi panjang
yang hanya berujung kepada pertikaian batin, saling menyakiti, menyalahkan,
menghina, dan tak elak sesama pelayan Tuhan saling membunuh karakter dengan
melalui media sosial, media mimbar, media talk show, dan sebagainya. Kecaman
demi kecaman bahkan dengan tegas menuding dengan ungkapan kata “sesat”
dilayangkan kepada pelayan Tuhan dan ajarannya. Sehingga menimbulkan luka bagi
sesama dan jemaat yang mendengar dan melihat hal ini. Tidak perlu ada balasan
dan kembali untuk meluruskan hal ini. Bagi orang yang bijak, bukan hanya “sing
waras yang penting ngalah”…tetapi efek atau dampak penyalahgunaan kata dan
melalui media ini akan berdampak kepada nilai-nilai kekristenan yang luntur dan
berubah warna.
Melihat kebelakang, 2000 tahun
yang lalu ketika Anak ALLAH menjelma menjadi manusia dan dengan melalui meminjam
rahim Maria, IA dilahirkan secara manusia namun keberadaannya tidak berdosa
karena bukan hasil hubungan suami - istri, Kristus membawa Kabar Baik yang
diteruskan kepada murid-murid-Nya. Injil yang murni yang disampaikan Kristus
untuk semua umat pengikut-Nya harus hidup tidak bercacat-tidak bercela, hidup
sempurna seperti Bapa di surga, tidak mencintai dunia, karena asal ada makan
dan pakaian cukup, jelas secara implisit hal ini membawa umat untuk hidup
seperti yang Yesus Kristus lakukan pada jaman-Nya ketia IA berada di muka bumi
ini. Sampai akhir hayat-Nya, IA, memberi diri untuk mati bagi semua umat
manusia. Tidak ada ajaran-Nya yang menyinggung soal kemapanan hidup namun IA
akan menyertai umat-Nya sampai kesudahan akhir jaman. Yesus Kristus tergantung
di kayu salib dan bersedia mengosongkan diri-Nya menjadi sama seperti manusia,
bukti bahwa IA taat dan setia sampai titik darah penghabisan-Nya, oleh karena
itu BAPA di surga membangkit-Nya pada hari ketiga dan memberi IA kuasa menjadi
TUHAN atas alam semesta. Tuhan Yesus Kristus telah menunjukan bukti bahwa IA
telah taat terhadap BAPA di Surga. Dengan demikian
sepatutnya, setiap pelayan Tuhan meneladani Kristus dan serupa seperti DIA dalam
meneladani seluruh aspek karya pelayanan-Nya sewaktu di bumi ini.
Keadaan
sekarang justru banyak pelayan Tuhan lebih mengedepankan mencari hidup dari
pada memberi hidup, lebih fokus kepada kemakmuran dan kemapanan hidup. Bukan
tidak boleh mencari berkat tapi justru getol terhadap pemenuhan lahiriah membawa umat hanya kepada kondisi lahiriah semata dan tidak kepada pemenuhan batiniahnya.
Padahal, Tuhan Yesus Kristus telah janjikan bahwa ada berkat atas hidup orang percaya.
Berkat hujan dan panas untuk semua orangg. Berkat pasti kan datang asal
disertai dengan tanggung jawab. Hidup jujur, berintegritas, giat bekerja dan
tidak kenal lelah. Kelak berkat terpenuhi bagi orang yang giat bekerja,
gilirannya Tuhan punya bagian untuk membuka jalan dan cara-Nya untuk memberkati
kita, bisa melalui kesehatan, kekuatan dan kemampuan menghadapi sesuatu didepan
hidup ini. Segala yang kita kerjakan ialah theologia. Karena teologia bukan
hanya bicara tentang Tuhan dan keberadaan pribadi-Nya, bukan hanya untuk
dipelajari semata, namun yang terutama teologia itu harus diejawantahkan
melalui sikap, prilaku dan perbuatan dalam keseharian. Bukan untuk menjadi bahan perdebatan dan
menyudutkan doktrin ataupun dogma yang berbeda dari aliran atau pemahaman
seseorang, baik itu pengajar, guru Injil, pendeta, pelayan Tuhan, gereja dan institusi pendidikan lain.
Theologia dan PAK yang ideal ialah
sikap hidup dalam keseharian. Sebagus dan seelok apapun kata-kata dalam kalimat
yang dibingkai apik dengan doktrin dan balutan manis nan indah dengan frame
filosofi kemanusiaan, itu hanya bersifat sementara dan akan usang termakan
jaman. Teologia yang hidup harus lahir dari cara hidup yang telah diubahkan
oleh kebenaran Injil yang murni. Seorang teolog tersebut sudah mengalami lahir
baru, mengenakan divine nature dan hidup berpadanan sesuai Injil yang murni,
tepat seperti Kristus hidup 2000 tahun yang lalu. Walau demikian hidup di
kekinian tidak bisa terlepas namun tidak terikat karena baginya hidup adalah
hanya bagi Kristus.
Theologia yang hanya lahir dari
otak, pemikiran dan akademisi semata hanya akan menciptakan konflik.
Perbedaan doktrin, dogma dan tata cara agamawi itu adalah hal yang wajar.
Karena semua itu lahir dari pengembangan theologia untuk mencari kebenaran yang
murni sesuai apa yang dikehendaki Kristus. Karena itu seorang pelayan Tuhan
harus hidup sama seperti yang dilakukan Kristus. Ia harus memiliki perasaan dan
pikiran yang sama seperti Kristus (Phroneo). Hidup yang berkenan, tidak lagi
duniawi kan membawa pelayan Tuhan untuk melihat bukan lagi secara fisik tapi
melihat dan mendengar dengan mata rohani (Horao), karena dunia dengan segala
pesona dan kemolekannya terus membanjiri dengan filosofinya guna memalingkan
hidup orang benar kepada kefanaan dunia. Cara berpikir yang terjerat dengan
dunia hanya akan membawa orang percaya untuk tidak mencintai Tuhan sepatutnya.
Lebih dominan hidup melekat di bumi dan tidak merindukan kekekalan yang
dahsyat. Orang percaya yng hidup kudus, maka ia pasti merindukan langit yang
baru dan bumi yang baru. Hidup ini hanya sementara, ia akan kerjakan dengan
sepenuhnya hanya bagi DIA. Keyakinannya bahwa hidup di bumi hanya sementara
jadi tidak perlu “ngoyo” untuk pemenuhan hidup karena asal ada makan dan
pakaian cukup.
Theologia otak hanya akan
melahirkan kata-kata dan kalimat yang disusun berdasarkan nalar manusiawi
semata dan jelas bukan bimbingan Roh Kudus dan kepada pengenalan akan Tuhan secara pribadi melalui meditasi dan persekutuan pribadi. Suatu hari kelak kan terbukti bahkan
tergilas jaman. bahwa theologia yang hidup ialah yang berlandaskan firman Tuhan dan dapat
mampu mengubah hidup umat Tuhan untuk hidup dalam kesucian dan meninggalkan cara hidup yang lama, mengenakan manusia baru serta mau dibimbing, diarahkan oleh Roh Kudus.
Hidupnya bukan lagi bagi dirinya melainkan Kristus yang hidup didalam dirinya.
Seorang yang masih mempertahankan theologianya, ia belum menemukan kehidupan
Kristus didalam dirinya. Theologianya hanya sebatas pemikiran semata dan belum
menjangkau kebenaran-Nya. Menundukkan
diri dalam kebenaran Firman-Nya dan siap dibimbing, digarap oleh Roh Kudus, kan
menjadikan pelayan Tuhan melihat siapa pencipta-Nya.
[JK]