3 Pilar

3 Pilar

Rabu, 19 Februari 2020

THEOLOGIA OTAK (bagian 1)


               Istilah “theologia” sering diasumsikan sebagai suatu ilmu pelajaran atau mata kuliah yang berkenaan dengan Tuhan. Sehingga banyak orang awam merasa pesimis, skeptis bahkan enggan untuk membicarakan hal tersebut, walau ada beberapa yang ramai untuk memperbincangkannya dengan debat kusir. Kata ‘theologia’ sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu theos, yang artinya Tuhan, dan logos, yang artinya perkataan, ucapan, firman, pengetahuan, dan sebagainya. Jadi, theologi berarti pengetahuan tentang Tuhan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Teologi adalah pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci). Tergantung dari perspektif sudut pandang mana seseorang mengartikan dan membedah makna kata tersebut asal tidak mengurangi  maknanya.

                Banyak Sekolah Tinggi Theologia saat ini sedang berlomba mencetak sumber daya manusia yang akademisi dibidang baik teologia, PAK (Pendidikan Agama Kristen), Pastoral Konseling, Misiologi, Musik Gereja, dan sebagainya, dalam rangka menciptakan manusia unggul dibidangnya guna menjaring jiwa dan mengimplementasikan ilmu secara akademisi. Keadaan ini sudah ada sejak kekristenan masuk mula-mula di negara kita yang ragam kebudayaan, suku, agama dan tradisinya. Institusi dan lembaga pendidikan dibidang akdemis berbasis teologi terus berkembang, walau tidak semua dan belum terakreditasi oleh BAN-PT dan mereka masih terus memperjuangkannya. Setiap Prodi (program studi) punya misi dan visi untuk mencapai target dalam mengemban Amanat Agung sebagai fokus inti dari sasaran yang hendak dicapai. Mahasiswa dipacu untuk belajar dengan tekun, disamping itu pihak sekolah mengadakan beasiswa bagi mahasiswa yang ber-prestasi.

                Seiring era globalisasi menuju era milenial, maka tak elak semua orang harus mampu memilki skil dan kemampuan dibidangnya bahkan lebih. Bagi mahasiswa theologia dan PAK juga demikian diwajibkan untuk tidak gaptek (gagap teknologi) tapi mapan dan piawai dalam menggunakannya. Demikianpun seorang theolog dan guru PAK tidak hanya cakap dan mapan secara teori akademisi semata dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan nilai-nilai Kristiani. Mengemban tugas Amanat Agung tidaklah mudah karena harus disertai kerelaan dan ada harga yang harus dibayar, segenap hidup. Akademisi dan pola pembelajaran serta metode yang telah diterapkan belum tentu mampu memadai kinerja seorang guru dalam mengajar dan seorang theolog dalam berkotbah dan mungkin penggembalaan. Sekalipun skill seseorang telah diasah dan diberi muatan sebagai modal untuk berkarya, namun bila karakter yang bersangkutan belum mencapai untuk serupa seperti Kristus, artinya rela memberi diri dan tidak perhitungan, jelas akan tersangkut pada cara manusia lama. Justru seorang yang bersedia melayani ialah mereka yang tidak lagi mencari hidup tetapi memberi hidup. Seorang pelayan Tuhan harus berani memberi hidup dan kehilangan nyawa sekalipun bagi keselamatan sesama. Di sini bukan berarti konyol terhadap jiwa sendiri, melainkan tidak lagi fokus dengan apa yang menjadi pemenuhan diri. Asal ada makan dan pakain cukup (1 Timotius 6:8). Seorang pelayan Tuhan harus sudah selesai dengan diri nya sendiri. Seorang pelayan Tuhan itu tidak boleh baper, karena melayani itu sejatinya melepaskan semua dan menyenangkan perasaan-Nya.

       Seorang theolog dan guru PAK yang andal dibidangnya, ia tidak hanya cakap dalam mengaplikasikan ilmunya di dunia nyata dan sesama, tetapi juga harus mampu menjadi role model bagi sesamanya. Bukan hanya menjadi mentor semata tetapi juga “montir” yang mampu me-reparasi karakter manusia lama kepada manusia ilahi. Untuk hal ini perlu proses yang tidak sebentar, tapi bila tekad dan nekad - bulad, maka siapapun pasti bisa untuk mau berubah. Theologia dan PAK bukanlah bahan debat dan menjadi diskusi panjang yang hanya berujung kepada pertikaian batin, saling menyakiti, menyalahkan, menghina, dan tak elak sesama pelayan Tuhan saling membunuh karakter dengan melalui media sosial, media mimbar, media talk show, dan sebagainya. Kecaman demi kecaman bahkan dengan tegas menuding dengan ungkapan kata “sesat” dilayangkan kepada pelayan Tuhan dan ajarannya. Sehingga menimbulkan luka bagi sesama dan jemaat yang mendengar dan melihat hal ini. Tidak perlu ada balasan dan kembali untuk meluruskan hal ini. Bagi orang yang bijak, bukan hanya “sing waras yang penting ngalah”…tetapi efek atau dampak penyalahgunaan kata dan melalui media ini akan berdampak kepada nilai-nilai kekristenan yang luntur dan berubah warna.

                Melihat kebelakang, 2000 tahun yang lalu ketika Anak ALLAH menjelma menjadi manusia dan dengan melalui meminjam rahim Maria, IA dilahirkan secara manusia namun keberadaannya tidak berdosa karena bukan hasil hubungan suami - istri,  Kristus membawa Kabar Baik yang diteruskan kepada murid-murid-Nya. Injil yang murni yang disampaikan Kristus untuk semua umat pengikut-Nya harus hidup tidak bercacat-tidak bercela, hidup sempurna seperti Bapa di surga, tidak mencintai dunia, karena asal ada makan dan pakaian cukup, jelas secara implisit hal ini membawa umat untuk hidup seperti yang Yesus Kristus lakukan pada jaman-Nya ketia IA berada di muka bumi ini. Sampai akhir hayat-Nya, IA, memberi diri untuk mati bagi semua umat manusia. Tidak ada ajaran-Nya yang menyinggung soal kemapanan hidup namun IA akan menyertai umat-Nya sampai kesudahan akhir jaman. Yesus Kristus tergantung di kayu salib dan bersedia mengosongkan diri-Nya menjadi sama seperti manusia, bukti bahwa IA taat dan setia sampai titik darah penghabisan-Nya, oleh karena itu BAPA di surga membangkit-Nya pada hari ketiga dan memberi IA kuasa menjadi TUHAN atas alam semesta. Tuhan Yesus Kristus telah menunjukan bukti bahwa IA telah taat terhadap BAPA di Surga. Dengan demikian sepatutnya, setiap pelayan Tuhan meneladani Kristus dan serupa seperti DIA dalam meneladani seluruh aspek karya pelayanan-Nya sewaktu di bumi ini.

            Keadaan sekarang justru banyak pelayan Tuhan lebih mengedepankan mencari hidup dari pada memberi hidup, lebih fokus kepada kemakmuran dan kemapanan hidup. Bukan tidak boleh mencari berkat tapi justru getol terhadap pemenuhan lahiriah membawa umat hanya kepada kondisi lahiriah semata dan tidak kepada pemenuhan batiniahnya. Padahal, Tuhan Yesus Kristus telah janjikan bahwa ada berkat atas hidup orang percaya. Berkat hujan dan panas untuk semua orangg. Berkat pasti kan datang asal disertai dengan tanggung jawab. Hidup jujur, berintegritas, giat bekerja dan tidak kenal lelah. Kelak berkat terpenuhi bagi orang yang giat bekerja, gilirannya Tuhan punya bagian untuk membuka jalan dan cara-Nya untuk memberkati kita, bisa melalui kesehatan, kekuatan dan kemampuan menghadapi sesuatu didepan hidup ini. Segala yang kita kerjakan ialah theologia. Karena teologia bukan hanya bicara tentang Tuhan dan keberadaan pribadi-Nya, bukan hanya untuk dipelajari semata, namun yang terutama teologia itu harus diejawantahkan melalui sikap, prilaku dan perbuatan dalam keseharian.  Bukan untuk menjadi bahan perdebatan dan menyudutkan doktrin ataupun dogma yang berbeda dari aliran atau pemahaman seseorang, baik itu pengajar, guru Injil, pendeta, pelayan Tuhan,  gereja dan institusi pendidikan lain.  

                Theologia dan PAK yang ideal ialah sikap hidup dalam keseharian. Sebagus dan seelok apapun kata-kata dalam kalimat yang dibingkai apik dengan doktrin dan balutan manis nan indah dengan frame filosofi kemanusiaan, itu hanya bersifat sementara dan akan usang termakan jaman. Teologia yang hidup harus lahir dari cara hidup yang telah diubahkan oleh kebenaran Injil yang murni. Seorang teolog tersebut sudah mengalami lahir baru, mengenakan divine nature dan hidup berpadanan sesuai Injil yang murni, tepat seperti Kristus hidup 2000 tahun yang lalu. Walau demikian hidup di kekinian tidak bisa terlepas namun tidak terikat karena baginya hidup adalah hanya bagi Kristus.

            Theologia yang hanya lahir dari otak, pemikiran dan akademisi semata hanya akan menciptakan konflik. Perbedaan doktrin, dogma dan tata cara agamawi itu adalah hal yang wajar. Karena semua itu lahir dari pengembangan theologia untuk mencari kebenaran yang murni sesuai apa yang dikehendaki Kristus. Karena itu seorang pelayan Tuhan harus hidup sama seperti yang dilakukan Kristus. Ia harus memiliki perasaan dan pikiran yang sama seperti Kristus (Phroneo). Hidup yang berkenan, tidak lagi duniawi kan membawa pelayan Tuhan untuk melihat bukan lagi secara fisik tapi melihat dan mendengar dengan mata rohani (Horao), karena dunia dengan segala pesona dan kemolekannya terus membanjiri dengan filosofinya guna memalingkan hidup orang benar kepada kefanaan dunia. Cara berpikir yang terjerat dengan dunia hanya akan membawa orang percaya untuk tidak mencintai Tuhan sepatutnya. Lebih dominan hidup melekat di bumi dan tidak merindukan kekekalan yang dahsyat. Orang percaya yng hidup kudus, maka ia pasti merindukan langit yang baru dan bumi yang baru. Hidup ini hanya sementara, ia akan kerjakan dengan sepenuhnya hanya bagi DIA. Keyakinannya bahwa hidup di bumi hanya sementara jadi tidak perlu “ngoyo” untuk pemenuhan hidup karena asal ada makan dan pakaian cukup.

            Theologia otak hanya akan melahirkan kata-kata dan kalimat yang disusun berdasarkan nalar manusiawi semata dan jelas bukan bimbingan Roh Kudus dan kepada pengenalan akan Tuhan secara pribadi melalui meditasi dan persekutuan pribadi. Suatu hari kelak kan terbukti bahkan tergilas jaman. bahwa theologia yang hidup ialah yang berlandaskan firman Tuhan dan dapat mampu mengubah hidup umat Tuhan untuk hidup dalam kesucian dan meninggalkan cara hidup yang lama, mengenakan manusia baru serta mau dibimbing, diarahkan oleh Roh Kudus. Hidupnya bukan lagi bagi dirinya melainkan Kristus yang hidup didalam dirinya. Seorang yang masih mempertahankan theologianya, ia belum menemukan kehidupan Kristus didalam dirinya. Theologianya hanya sebatas pemikiran semata dan belum menjangkau kebenaran-Nya. Menundukkan diri dalam kebenaran Firman-Nya dan siap dibimbing, digarap oleh Roh Kudus, kan menjadikan pelayan Tuhan melihat siapa pencipta-Nya.
[JK]

MANUSIA MATA UANG


               Etos kerja adalah merupakan poros penggerak untuk tercapainya suatu tujuan. Di dalam etos kerja merupakan totalitas dan sumber daya manusia yang menggerakan dan menciptakan semangat kerja yang solid. Sebuah kinerja tidak dapat dikatakan berhasil bila tanpa usaha keras dan maksimal. Semua ada standar, dan harga yang harus dibayar. Sebuat team yang solid, berintegritas, bertanggung jawab, jujur dan mampu bersinergi, al hasil kan tercapai sebuah cita-cita yang terwujud dari proses kerja yang berkesinambungan mencapai prestasi gemilang.
Di luar sana ada banyak insani yang memiliki etos kerja asal “bapak senang”, “yang penting beres”, tidak merasa memiliki, seakan bukan dan tidak merasa memiliki sehingga pekerjaan yang dikerjakan tidak maksimal, bahkan saling ketergantungan satu dengan yang lainnya. Bahkan beberapa diantara mereka beranggapan; merasa dibutuhkan, yang mana bisa saja karena tidak ada yang lain bisa menggantikan posisinya. Keadaan seperti ini akan menciptakan SDM yang pasif dan pemalas, bahkan karena merasa dibutuhkan dan karena tidak adanya yang dapat menggantikan posisinya yang sangat diperlukan oleh perusahaan, kan menjadikan pribadi ini menjadi sesuatu yang diperlukan.
                Di sisi lain ada beberapa SDM yang selalu bila melakukan pekerjaan dilandasi oleh materi semata yang menjadi tolok ukurnya. Bila ada amplop nya maka akan gerak cepat dan tanpa perlu arahan lagi sigap gerak cepat, namun sebaliknya bila diketahui pekerjaan yang dilakukan ini membutuhkan ekstra menguras otak dan tenaga, belm lagi waktu dan biaya walau semua ada badged nya namun karena tidak memberi keuntungan bagi diri nya, maka dikerjakan seakan tidak secara profesional. Kenyataan ini saya beri nama “manusia mata uang”. Hampir semua belahan dunia, etos kerja semacam ini banyak ditemukan. Tidak secara profesional dikerjakan, asal jadi dan yang penting bagi dirinya adalah semua beres, padahal ekspektasinya tidak sesuai yang diharapkan. Hal-hal detail dan sesuai rencana seharusnya dimatangkan dalam program kerja dan rapat koordinasi atau instruksi atasan kepada bawahannya. Kejadian yang sering terjadi ialah tidak demikian sehingga apa yang dihasilkan mungkin bila karya bangunan hanya bertahan jauh dari yang diharapakan untuk tetap kokoh dan kuat, bersih dan apik, indah dan menawan, estetika dan religius.        
                Etos kerja idealnya kinerja yang maksimal didukung oleh skil dan disertai dengan karakter yang baik. Hal ini akan memompa dan menjadi integritas yang kokoh dalam melakukan semua pekerjaan di segala aspek dan bidang nya. Bila seorang pekerja berlandaskan materi dan upah semata, maka ia tidak akan mampu memacu dirinya untuk berprestasi, diandalkan oleh atasannya dan team work. Namun sebaliknya, bagi orang yang disebut sebagai “manusia mata uang”, ia akan memberi dirinya untuk diperbudak oleh jenis mata uang apa yang sesuai dengan nilai tukar yang pantas bagi dirinya. Tidak heran bila koruptor menjadikan dirinya sebagai manusia mata uang yang integritasnya begitu rendah sama rendahnya seperti mereka sebagian yang hanya mau bergerak melakukan suatu pekerjaan bila ada “pelicinnya”. Sepatutnya apapun dapat dilaksanakan bukan berdasarkan materi atau sesuatu yang menguntungkan diri, tapi memprioritaskan etos kerja sebagai bagian dari poros integritas. Salary atau gaji penghasilan sebagai upah pekerja adalah sebuah kehormatan yang layak diterima bagi seorang pekerja, tapi itu bukanlah prioritas utama. Seiring dengan skil dan etos kerja yang maksimal serta prestasi yang ada, maka semua itu patut menjadi pertimbangkan yang progresif.   
                Bekerja adalah ibadah, demikian yang sering disampaikan oleh banyak tokoh agama, namun setidaknya tidak hanya slogan dan dikumandangkan semata. Ibadah yang hidup dan idealnya ialah menyenangkan hati Tuhan, melalui sikap, prilaku dan pribadi yang kita semua dapat tuangkan dalam keseharian termasuk dalam lingkungan pekerjaan, karena semua hanya bagi kemuliaan-Nya [bnd Kolose 3:23]. Sepatutnya seorang pekerja harus mensyukuri bahwa pekerjaan yang diampunya saat ini adalah bagian dari anugerah Tuhan, walau mungkin salary yang diterima masih dibawah UMR atau bisa jadi double job tapi tidak setara dengan apa yang diterimanya. Mungkin juga ada yang belum mendapat pekerjaan hingga saat ini, tetaplah semangat berjuang dan sedaat mungkin merintis usaha kecil-kecilan ataupun bila ada modal, dapat bekerja melakukan apa saja yang halal. Sebab segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati tulus dan ikhlas, kelas suatu saat kan mendapat perhatian-Nya. Masakan Sang Pencipta tidak memperhatikan segala kebutuhan umat-nya? Bila kita dapat dipercayai Tuhan, niscaya IA akan mempercayakan dan membuka jalan untuk apa yang menjadi kebahagiaan umat-Nya, dan tentunya semua itu kembali kepada; “jika Tuhan menghendaki-Nya”.
Teruslah berjuang, berprestasi dan memiliki integritas yang cakap dipemandangan-Nya. Apapun yang dikerjakan dengan tulus penuh kasih, pasti kan membuahkan kebaikan bagi dirinya sendiri. Seperti firman-Nya; siapa yang menabur kan menuai, demikian juga bagi semua insan kan berlaku hukum tabur tuai ini, baik yang baik, maupun yang jahat. Walau mungkin ada banyak air mata yang tumpah karena sebuah kejujuran, namun tidak mendapat kebaikan yang pantas diterimanya, teruslah lakukan dengan konsisten, sebab kelak keadaan tersebut tidak selamanya menjadi demikian. ada Matahari kan terbit di ufuk Barat yang cahanya kan menyinarimu dan mengubah kelam menjadi cemerlang dipemandangan-Nya.
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]

BUDAYA



            Budaya adalah ciri khas atau sebuah kebiasaan yang terjadi dan dikerjakan ditengah-tengah masyarakat yang terbentuk dari beberapa komponen berbeda pandangan ataupun kebiasaan termasuk dalam sistem agama, politik, bahasa, adat istiadat, pakaian, karya seni, dan bangunan. Budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat begitu pula sebaliknya, karena budaya tercipta dari pola dan kerja masyarakat dan peradaban manusia secara umum. Peradaban ini akan terbentuk norma-norma dan nilai kehidupan yang menjadi pandangan hidup dalam masyarakat.
            Kebiasaan yang sudah terbentuk di tengah masyarakat (baik dari masa lalu dan masa kini) akan berakar budaya sehingga menjadi suatu kebiasaan (yang diwariskan dari masa lalu ke masa kini dan masih saling terkait - tradisi) yang lazim dikerjakan dan diterima sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Sebagai contoh misalnya, kebiasaan atau budaya dan tradisi suku Maasai di Kenya dan Tanzania, Afrika Timur. Suku ini memberikan salam dengan cara meludah di muka sesamanya. Kebiasaan ini menjadi turun temurun dan sebagai tardisi untuk menyapa dengan sopan yang sebenarnya dianggap oleh kalangan mereka. Namun bila diterapkan di tengah-tengah masyarakat di kota Jakarta, sungguh alangkah fatalnya, karena ini dapat dianggap penghinaan dan merendahkan sesama.
          Sebuah budaya atau tradisi yang sudah terbentuk akan mempengaruhi keadaan sosial masyarakat tersebut. Kebiasaan ini akan tercipta oleh banyak faktor pendukung, oleh masyarakat setempat atau individu dan yang juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terus berkesinambungan walau keadaan tersebut tercipta dimanipulasi oleh pihak tertentu untuk maksud dan tujuan tersendiri. Keadaan inilah yang akan menciptakan pertentangan kelompok satu dengan yang lainnya yang dianggap sebagai suatu perbedaan. Perbedaan pada prinsipnya tidak harus membuat jurang satu dengan yang lainnya apabila dapat diukur dengan kaidah-kaidah dan norma yang wajar dan masih diterima oleh logika, keyakinan dan kemanusiaan, adat istiadat dan budaya yang manusiawi.
            Di tengah-tengah masyarakat yang majemuk ini, ada banyak tercipta budaya “semau gue”. Istilah ini lahir dikarenakan hamper semua lapisan masyarakat yang tidak diatur atau tidak masuk dalam lingkaran tertib budaya, maka yang ada, semau gue, semau-maunya berbuat, bertindak, tanpa memikirkan kepentingan bersama. Asal untuk dirinya beruntung, tidak lagi peduli orang lain. Masalah antri, kebanyakan orang lebih memilih “siapa cepat dia dapat”, ya benar, asal dating lebih awal dan tertib harus antri bila memang demikian kondisinya, maka semua pasti berjalan baik dan lancar. Di jalan umum juga banyak orang berkendara tidak tertib karena mau lebih dulu berjalan melaju, tanpa peduli, maka main serobot dan maju, mengabaikan traffic light, pejalan kaki dan pengendara liannya.
            Sifat budaya seperti ini akan menjadi warisan atau tradisi turun menurun dimanapun manusia berada. Tertib dan disiplin juga merupakan budaya yang harus dilestarikan bagi kelangsungan hidup anak cucu di masa yang akan datang. Kelangsungan hidup akan terus meniru dan melakukan hal yang sama sekalipun itu salah dalam kaca mata bermasyarakat. Seyogyanya kita semua memperhatikan dan memberi teladan bagi sesama, sesuatu yang benar untuk dikerjakan sebagai contoh bagi masyarakat secara konkrit, walauini butuh waktu yang tidak sebentar dan harus dengan sabar mengerjakannya.
            Pendidikan Agama Kristen, punya andil dan harus menjadi landasan yang kokoh bagi orang percaya untuk menjadi role model ditengah-tengah masyarakat majemuk untuk menciptakan hidup bermasyarakat dan bernegara dengan benar sesuai kaidah, norma dan budaya yang sudah terbentuk sebagai bangsa yang berbudaya dan arif. Kita semua, orang percaya, terpanggil menjadi corpus delicti dalam meng-ejawantah-kan hidup yang berpadanan sesuai Injil Kristus, untuk hidup taat, tertib dan mendukung semua program pemerintah sebagai budaya masyarakat yang loyal terhadap pemerintahnya, taat dan patuh terhadap Pancasila, UUD 1945, ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, dan solid terhadap keutuhan NKRI.  Melalui PAK, warga gereja diajak untuk memahami nilai-nilai Budaya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia untuk mencintai serta patuh terhadap nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia, dimana ia dilahirkan, dibesarkan, hidup berbangsa dan bernegara didalamnya. Ketaatan kepada Tuhan harus juga terwujud melalui kepatuhan kepada pemerintah dan Undang-Undangnya yang diberlakukan. Mencintai masyarakat sebagai sesama yang harusa dikasihi dan dilindungi sebagai milik kepunyaan-Nya yang harus diayomi, dilindungi dan dikasihi, seperti Kristus telah menyerahkan diri-Nya, rela mati tersalib demi menebus dosa semua umat manusia (Gal.3:13; Ibr.9:15; 1Pet.3:18) dan keselamatan bagi semua suku bangsa (Mat.4:23; Kisah13:18, 46,47; 14:27; 15:7,14).
            Keadaan situasi dimana masyarakat telah dipengaruhioleh banyak faktor, diantaranya era globalisasi, membuat masyarakat semakin luas memiliki wawasan sehingga berdampak tanpa disadari bahwa budaya yang baik, yang terpupuk sejak nenek moyang ajarkan, terpupus sedikit demi sedikit sehingga tergantikan oleh budaya dan tradisi milenial. Norma-norma dan kaidah-kaidah yang dulu dipertahankan karena dapat membina rasa kemanusiaan dan kebersamaan, kerukunan dan rasa cinta sesama, kini semakin pupus dengan hadirnya pola hidup “diatas kepentingan diri”, dan sebagainya. Keadaan perubahan ini bukanlah salah total namun karenafaktor human error, dimana manusianya yang tidak dapat mawas diri, memfilter dan memilah mana yang baik yang tidak baik untuk dibuang. Justru keadaan sekarang, yang dianggap tidak baik dikalangan bersama malah dibudayakan sebagai sesuatu yang menguntungkan dan “asyik” dilakukan. Keadaan sekarang manusia semakin egosentris dan “serigala bagi sesamanya”, tidak ada lagi budaya kasih,  empati dan toleransi yang dulu membara, bahkan menyala terang pada jaman perjuangan. Di masa kini istilah tersebut hanyalah sebuah kata-kata dalam tulisan dan frasa tanpa makna yang terlahir dalam perbuatan.
            Budaya dan tradisi telah tergantikan menjadi era “EGP” (Emang Gue Pikiran) atau cuek. Dalam arti kata masa bodoh dan tidak mau tahu, yang penting diri sendiri tidak merugi, apa peduli buat orang lain, bila perlu hantam kromo. Budaya dadakan akan tercipta sesuai sikon dibutuhkan oleh pihak tertentu atau golongan. Misalnya budaya “korupsi berjemaah”, bila ada kesempatan dan peluang, maka secara bersama-sama mengambil peluang ini walau pasti instansi, lembaga bahkan Negara dirugikan oleh perbuatan ini. Hukum sudah tidak lagi perlu ditakutkan karena mereka berpikir bahwa semua itu bisa di ”beli”, dan ini sudah “mewabah”, menjadi budaya yang salah hamper disemua kalangan. Kondisi ini akan menciptakan manusia yang tidak berbudaya pekerti luhur, melainkan menciptakan manusia yang rakus dan tamak akan kenikmatan dunia.
            Injil dengan tegas dan gamblang mengatakan bahwa semua perbuatan jahat akan diadili di tahta pengadilan-Nya (2Kor.5:10). Semua mahluk ciptaan-Nya akan terbuka dengan telanjang di depan penghakiman-Nya (Ibr.4:13). Kristus yang adalah Hakim yang Adil akan menghakimi semua umat, baik yang baik maupun yang jahat (2Tim.4:8; Ibr.10:30). Tatanan Allah adalah budaya yang tercipta oleh kemahakuasaan-Nya, adil dalam pemandangan-Nya, baik dan sempurna bagi umat-Nya. Tidak ada berat sebelah ataupun ketidak-adilan yang dianggap oleh sebagian umat karena mereka hidup tidak sesuai dengan ketetapan-Nya. Bila manusia hidup dalam tatanan-Nya, maka budaya hidup yang dijalaninya pasti bermuara dari Dia dan bagi Dia, segala kemuliaan. Manusia akan akan berbahagia bila patuh, taat dan setia terhadap kebenaran-Nya, yakni segala Titah-Nya, maka manusia akan akan melahirkan budaya dan tradisi yang menciptakan kedamaian bagi sesama dan membawa umat ke jalan yang benar. Untuk itulah kita yang terpanggil; sebagai kawan sekerja-Nya, harus menanggalkan ke-egooan manusiawi kita. Mengenakan manusia ber-kodrat Ilahi (divine nature), sehingga segala prilaku kita dapat menjadi suri teladan bagi sesama. Menempatkan diri sebagai gambar ciptaan Allah yang hidup, sesuai kodrat Ilahi, kan membantu menciptakan suasana kondusif ditengah-tengah keadaan di mana generasi muda membutuhkan figure yang dapat ditiru dan dicontohi, walaupun sikon nya saat ini banyak generasi muda lebih condong terikat kepada gaya hidup dunia luar dari pada melestarikan budaya yang baik yang sudah terbentuk di tanah air kita. Jangan pesimis dan takkabur tapi tetap semangat dalam menyuarakan suara kebenaran bukan hanya dengan  keras dalam menyuarakannya tetapi terlebih harus lantang dalam perbuatan. Sebab perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan kuasa gelap, yakni si jahat (iblis). Selama kita masih ada di bumi, maka kita yang telah mengenal kebenaran-Nya, haruslah menjadi corpus delicti di akhir jaman yang rela melepaskan manusia lama dan hidup bagi Kristus. Dunia di mana yang sekarang kita tempati adalah bumi yang tidak akan selamanya abadi. Kelak kan menjadi lautan api (Wah.20:14), diakhir penghakiman-Nya. Oleh sebab itu selagi masih ada kesempatan kuota hidup dan waktu masih berjalan, maka kita semua harus memancarkan sinar yang bersinar cemerlang melalui segenap aspek kehidupan ini dan bila ini dilakukan secara seksama dan berkesinambungan akan membudaya. Selamat Berjuang.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]