3 Pilar

3 Pilar

Kamis, 05 Desember 2019

BUDAYA BER-KODRAT ILAHI


               Budaya adalah ciri khas atau sebuah kebiasaan yang terjadi dan dikerjakan ditengah-tengah masyarakat yang terbentuk dari beberapa komponen berbeda pandangan ataupun kebiasaan termasuk dalam sistem agama, politik, bahasa, adat istiadat, pakaian, karya seni, dan bangunan. Budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat begitu pula sebaliknya, karena budaya tercipta dari pola dan kerja masyarakat dan peradaban manusia secara umum. Peradaban ini akan terbentuk norma-norma dan nilai kehidupan yang menjadi pandangan hidup dalam masyarakat.


            Kebiasaan yang sudah terbentuk di tengah masyarakat (baik dari masa lalu dan masa kini) akan berakar budaya sehingga menjadi suatu kebiasaan (yang diwariskan dari masa lalu ke masa kini dan masih saling terkait - tradisi) yang lazim dikerjakan dan diterima sepenuhnya oleh masyarakat setempat. Sebagai contoh misalnya, kebiasaan atau budaya dan tradisi suku Maasai di Kenya dan Tanzania, Afrika Timur. Suku ini memberikan salam dengan cara meludah di muka sesamanya. Kebiasaan ini menjadi turun temurun dan sebagai tardisi untuk menyapa dengan sopan yang sebenarnya dianggap oleh kalangan mereka. Namun bila diterapkan di tengah-tengah masyarakat di kota Jakarta, sungguh alangkah fatalnya, karena ini dapat dianggap penghinaan dan merendahkan sesama.


            Sebuah budaya atau tradisi yang sudah terbentuk akan mempengaruhi keadaan social masyarakat tersebut. Kebiasaan ini akan tercipta oleh banyak faktor pendukung, oleh masyarakat setempat atau individu dan yang juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terus berkesinambungan walau keadaan tersebut tercipta dimanipulasi oleh pihak tertentu untuk maksud dan tujuan tersendiri. Keadaan inilah yang akan menciptakan pertentangan kelompok satu dengan yang lainnya yang dianggap sebagai suatu perbedaan. Perbedaan pada prinsipnya tidak harus membuat jurang satu dengan yang lainnya apabila dapat diukur dengan kaidah-kaidah dan norma yang wajar dan masih diterima oleh logika, keyakinan dan kemanusiaan, adat istiadat dan budaya yang manusiawi.

            Di tengah-tengah masyarakat yang majemuk ini, ada banyak tercipta budaya “semau gue”. Istilah ini lahir dikarenakan hamper semua lapisan masyarakat yang tidak diatur atau tidak masuk dalam lingkaran tertib budaya, maka yang ada, semau gue, semau-maunya berbuat, bertindak, tanpa memikirkan kepentingan bersama. Asal untuk dirinya beruntung, tidak lagi peduli orang lain. Masalah antri, kebanyakan orang lebih memilih “siapa cepat dia dapat”, ya benar, asal dating lebih awal dan tertib harus antri bila memang demikian kondisinya, maka semua pasti berjalan baik dan lancar. Di jalan umum juga banyak orang berkendara tidak tertib karena mau lebih dulu berjalan melaju, tanpa peduli, maka main serobot dan maju, mengabaikan traffic light, pejalan kaki dan pengendara liannya.

            Sifat budaya seperti ini akan menjadi warisan atau tradisi turun menurun dimanapun manusia berada. Tertib dan disiplin juga merupakan budaya yang harus dilestarikan bagi kelangsungan hidup anak cucu di masa yang akan datang. Kelangsungan hidup akan terus meniru dan melakukan hal yang sama sekalipun itu salah dalam kaca mata bermasyarakat. Seyogyanya kita semua memperhatikan dan memberi teladan bagi sesama, sesuatu yang benar untuk dikerjakan sebagai contoh bagi masyarakat secara konkrit, walau ini butuh waktu yang tidak sebentar dan harus dengan sabar mengerjakannya.

            Pendidikan Agama Kristen, punya andil dan harus menjadi landasan yang kokoh bagi orang percaya untuk menjadi role model ditengah-tengah masyarakat majemuk untuk menciptakan hidup bermasyarakat dan bernegara dengan benar sesuai kaidah, norma dan budaya yang sudah terbentuk sebagai bangsa yang berbudaya dan arif. Kita semua, orang percaya, terpanggil menjadi corpus delicti dalam meng-ejawantah-kan hidup yang berpadanan sesuai Injil Kristus, untuk hidup taat, tertib dan mendukung semua program pemerintah sebagai budaya masyarakat yang loyal terhadap pemerintahnya, taat dan patuh terhadap Pancasila, UUD 1945, ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, dan solid terhadap keutuhan NKRI.  Melalui PAK, warga gereja diajak untuk memahami nilai-nilai Budaya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia untuk mencintai serta patuh terhadap nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia, dimana ia dilahirkan, dibesarkan, hidup berbangsa dan bernegara didalamnya. Ketaatan kepada Tuhan harus juga terwujud melalui kepatuhan kepada pemerintah dan Undang-Undangnya yang diberlakukan. Mencintai masyarakat sebagai sesama yang harusa dikasihi dan dilindungi sebagai milik kepunyaan-Nya yang harus diayomi, dilindungi dan dikasihi, seperti Kristus telah menyerahkan diri-Nya, rela mati tersalib demi menebus dosa semua umat manusia (Gal.3:13; Ibr.9:15; 1Pet.3:18) dan keselamatan bagi semua suku bangsa (Mat.4:23; Kisah13:18, 46,47; 14:27; 15:7,14).

            Keadaan situasi dimana masyarakat telah dipengaruhi oleh banyak faktor, diantaranya era globalisasi, membuat masyarakat semakin luas memiliki wawasan sehingga berdampak tanpa disadari bahwa budaya yang baik, yang terpupuk sejak nenek moyang ajarkan, terpupus sedikit demi sedikit sehingga tergantikan oleh budaya dan tradisi milenial. Norma-norma dan kaidah-kaidah yang dulu dipertahankan karena dapat membina rasa kemanusiaan dan kebersamaan, kerukunan dan rasa cinta sesama, kini semakin pupus dengan hadirnya pola hidup “diatas kepentingan diri”, dan sebagainya. Keadaan perubahan ini bukanlah salah total namun karenafaktor human error, dimana manusianya yang tidak dapat mawas diri, memfilter dan memilah mana yang baik yang tidak baik untuk dibuang. Justru keadaan sekarang, yang dianggap tidak baik dikalangan bersama malah dibudayakan sebagai sesuatu yang menguntungkan dan “asyik” dilakukan. Keadaan sekarang manusia semakin egosentris dan “serigala bagi sesamanya”, tidak ada lagi budaya kasih,  empati dan toleransi yang dulu membara, bahkan menyala terang pada jaman perjuangan. Di masa kini istilah tersebut hanyalah sebuah kata-kata dalam tulisan dan frasa tanpa makna yang terlahir dalam perbuatan.

            Budaya dan tradisi telah tergantikan menjadi era “EGP” (Emang Gue Pikiran) atau cuek. Dalam arti kata masa bodoh dan tidak mau tahu, yang penting diri sendiri tidak merugi, apa peduli buat orang lain, bila perlu hantam kromo. Budaya dadakan akan tercipta sesuai sikon dibutuhkan oleh pihak tertentu atau golongan. Misalnya budaya “korupsi berjemaah”, bila ada kesempatan dan peluang, maka secara bersama-sama mengambil peluang ini walau pasti instansi, lembaga bahkan Negara dirugikan oleh perbuatan ini. Hukum sudah tidak lagi perlu ditakutkan karena mereka berpikir bahwa semua itu bisa di ”beli”, dan ini sudah “mewabah”, menjadi budaya yang salah hampir disemua kalangan. Kondisi ini akan menciptakan manusia yang tidak berbudaya pekerti luhur, melainkan menciptakan manusia yang rakus dan tamak akan kenikmatan dunia.

            Injil dengan tegas dan gamblang mengatakan bahwa semua perbuatan jahat akan diadili di tahta pengadilan-Nya (2Kor.5:10). Semua mahluk ciptaan-Nya akan terbuka dengan telanjang di depan penghakiman-Nya (Ibr.4:13). Kristus yang adalah Hakim yang Adil akan menghakimi semua umat, baik yang baik maupun yang jahat (2Tim.4:8; Ibr.10:30). Tatanan Allah adalah budaya yang tercipta oleh kemahakuasaan-Nya, adil dalam pemandangan-Nya, baik dan sempurna bagi umat-Nya. Tidak ada berat sebelah ataupun ketidak-adilan yang dianggap oleh sebagian umat karena mereka hidup tidak sesuai dengan ketetapan-Nya. Bila manusia hidup dalam tatanan-Nya, maka budaya hidup yang dijalaninya pasti bermuara dari Dia dan bagi Dia, segala kemuliaan. Manusia akan akan berbahagia bila patuh, taat dan setia terhadap kebenaran-Nya, yakni segala Titah-Nya, maka manusia akan akan melahirkan budaya dan tradisi yang menciptakan kedamaian bagi sesama dan membawa umat ke jalan yang benar. Untuk itulah kita yang terpanggil; sebagai kawan sekerja-Nya, harus menanggalkan ke-egooan manusiawi kita. Mengenakan manusia ber-kodrat Ilahi (divine nature), sehingga segala prilaku kita dapat menjadi suri teladan bagi sesama. Menempatkan diri sebagai gambar ciptaan Allah yang hidup, sesuai kodrat Ilahi, kan membantu menciptakan suasana kondusif ditengah-tengah keadaan di mana generasi muda membutuhkan figure yang dapat ditiru dan dicontohi, walaupun sikon nya saat ini banyak generasi muda lebih condong terikat kepada gaya hidup dunia luar dari pada melestarikan budaya yang baik yang sudah terbentuk di tanah air kita. Jangan pesimis dan takkabur tapi tetap semangat dalam menyuarakan suara kebenaran bukan hanya dengan  keras dalam menyuarakannya tetapi terlebih harus lantang dalam perbuatan. Sebab perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan kuasa gelap, yakni si jahat (iblis). Selama kita masih ada di bumi, maka kita yang telah mengenal kebenaran-Nya, haruslah menjadi corpus delicti di akhir jaman yang rela melepaskan manusia lama dan hidup bagi Kristus. Dunia di mana yang sekarang kita tempati adalah bumi yang tidak akan selamanya abadi. Kelak kan menjadi lautan api (Wah.20:14), diakhir penghakiman-Nya. Oleh sebab itu selagi masih ada kesempatan kuota hidup dan waktu masih berjalan, maka kita semua harus memancarkan sinar yang bersinar cemerlang melalui segenap aspek kehidupan ini dan bila ini dilakukan secara seksama dan berkesinambungan akan membudaya. Selamat Berjuang.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.