3 Pilar

3 Pilar

Sabtu, 12 Oktober 2019

BUMI YANG BARU


Seiring waktu berjalan banyak insani beranggapan bahwa dunia segera berakhir. Kenyataannya, dunia semakin eksis dan membahana. Keberadaannya yang sudah berusia jutaan milyar tahun (menurut para ahli) membuktikan bahwa dunia semakin indah untuk dinikmati sebagai tempat kediaman manusia. Semakin tua semakin menjadi, demikian istilah yang beredar dikalangan. Walau keadaan usia bumi sudah tua, banyak gejolak alam terjadi namun itu tidak menyurutkan sebagian besar insani untuk “nyadar diri” bahwa sesungguhnya keadaan tersebut tak senyaman yang diduga.
Situasi dan kondisi yang terjadi dibeberapa belahan bumi, negara-negara tertentu mengalami kekeringan berkepanjangan, banjir besar, krisis pangan, bencana alam, dan sebagainya. Alam seakan sudah mulai tidak terkontrol sesuai siklus dan akselarasinya. Hal ini bisa dikarenakan faktor human error atau juga karena bumi sudah mulai tua. Keadaan situasi dan kondisi ini bukan lagi menjadi fenomena tapi bisa menjadi sebuah PERINGATAN  bahwa bumi memang sudah tidak nyaman lagi untuk di huni. David Wallace - Wells, “The Uninhabitable Earth” (Bumi Yang Tak Dapat Dihuni; 2019), menuliskan bahwa bumi sedang menuju ke perubahan yang radikal, dimulai dari perubahan iklim, hingga perubahan struktur sistem alam yang sudah tidak kondusif lagi, perlahan tapi pasti.

Pernyataan ini bukanlah sebuah momok untuk menakuti ataupun bersifat apatis terhadap perubahan-perubahan kea rah transformasi yang sering dan banyak dikumandangan oleh para motivator dan dibeberapa kalangan. Ini realitas yang harus kita hadapi bersama, disamping kita berusaha keras untuk terus berjuang membenahi dan memperbaikinya (bumi). Sadar dan bertekad menciptakan serta mengembalikan keadaan bumi seperti awal mula diciptakan adalah sebuah kemustahilan akan tetapi kita bisa bersama dengan tekad tersebut setidaknya memperlambat kerusakan fatal dan kepunahan massal, baik ekosistim hingga global.

Sebagai seorang tenaga pendidik, guru PAK, saya perlu memaparkan bahwa keadaan dunia atau bumi secara global sudah semakin tidak nyaman untuk di huni. Pernyataan ini bukan berarti sebagai sikap apatis dan skeptis terhadap bumi yang kita pijak dan huni saat ini, akan tetapi manusia secara global harus menyadari dengan seksama bahwa kenyamanan yang ideal sesungguhnya bukan di bumi yang sekarang kita semua tempati. Tetapi yang ideal itu adalah di langit yang baru dan bumi yang baru, yakni bumi yang baru yang diciptakan-Nya untuk dihuni dan tempati oleh insani yang berkenan kepada-Nya (bnd. Yesaya 65:17;  66:22;  2Pet.3:13;  Wahyu 21:1).

Bumi adalah bagian dari dari salah satu jagat raya yang di dalamnya dimana manusia hidup dengan ekosistim yang sempurna mengalami kemunduran eksistensinya. Dunia adalah yang dalam bahasa Yunani; kosmov, kosmos ” yang dapat juga berarti alam semesta, langit dan bumi (Kisah 17:24) merupakan hunian yang nyaman pada awal mula diciptakan-Nya. Setelah Allah menciptakan semua binatang dan manusia, sampai diayat 31, dikatakan: “Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Kata “sungguh amat baik” (Ibrani = מְאֹ֑ד ט֖וֹב ,tov meod); ayat 4, 10, 12, 18, 21, 25. Dari sini jelas terlihat alam semesta dan segala isinya yang diciptakan pada dasarnya amat baik, termasuk semua hubungan antara  manusia dengan manusia, manusia dan segala makhluk sungguh indah dan harmonis. Secara khusus hubungan antara manusia dengan Allah adalah tidak terpisahkan. Sungguh amat baik. Tapi bagaimana dunia saat ini?  

Allah mempersiapkan bumi ini sebagai rumah bagi anak-anak-Nya. Adam dan Hawa dipilih untuk menjadi orang-orang pertama yang tinggal di bumi. Bagian mereka dalam rencana Allah adalah untuk  mendatangkan  kebagiaan di dunia. 
                Banyak penjelasan para teolog mengenai dua kata penting dalam Kejadian 1:26-27;
Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."
Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya,  menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.
Kata gambar dan rupa Allah (tselem dan demuth), pada umumnya kata-kata itu diartikan tunggal, yaitu bahwa manusia diciptakan segambar dengan Allah. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan in His own image, dalam bahasa Latin Imago Dei yang sama dengan similitudo. Segambar dengan Allah biasanya juga dapat diartikan ringkas yaitu “mirip seperti Tuhan sendiri”. Kemiripan atau kesegambaran dengan Allah ini tanpa penjelasan yang memadai bisa mengacaukan pengertian mengenai anthropologi; studi mengenai manusia dari sudut pandang Alkitab. Salah memahami hal ini merusak konsep keselamatan yang benar menurut Alkitab. Sebenarnya gambar dan keserupaan Allah atas manusialah yang memberi nilai pada manusia (The image of God is what makes man).

                Inilah letak keagungan manusia atau kemuliaannya. Allah merancang demikian atau menghendaki demikian sejak mulanya. Kemuliaan yang dimiliki manusia mestinya sesuai dengan rancangan Allah semula, di mana manusia berkeadaan seperti Allah. Berkeadaan seperti Allah artinya manusia memiliki moral seperti Allah, di mana segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia (pikiran, ucapan dan tindakan) selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Namun kenyataannya manusia gagal memiliki keberadaan seperti ini atas pilihannya sendiri.

                Pada umumnya para teolog tidak membedah secara detail pengertian keserupaan ini. Mereka tidak dapat membedakan antara gambar dan rupa secara tepat. Sehingga mereka tidak memahami sebenarnya apa yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah itu. Pada umumnya mereka hanya memahami secara ringkas dan dangkal pengertian kejatuhan manusia ke dalam dosa. Keringkasan dan kedangkalan tersebut tidak bisa menjadi landasan kebenaran yang kokoh mengenai manusia (antropologi), sehingga tidak dapat membangun soteriology (pengajaran keselamatan) secara utuh dan tepat. Terkait dengan kejatuhan manusia ke dalam dosa, perlu kita meninjau ayat dalam Kejadian 9:6. Di ayat ini tertulis bahwa siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya. Dalam teks aslinya kata “gambar” adalah tselem (מֵ֖לְצַ). Dalam ayat ini tidak dikatakan bahwa manusia memiliki keserupaan (demuth), tetapi manusia hanya memiliki gambar (tselem). Ayat Firman Tuhan jelas mengatakan Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya Hal ini kembali menegaskan bahwa Allah hanya menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem-Nya), bukan rupa-Nya (demuth-Nya).
                
Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, sehingga keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah, berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas kehidupan manusia. Dalam teks bahasa Yunani kata kehilangan adalah hustereo (ὑστερέω) (Rm. 3:23). Gambar Allah merupakan sesuatu yang intern di dalam diri manusia, yaitu sesuatu yang tidak dapat dilepaskan dari diri manusia. Sampai kapan pun gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Sekalipun manusia telah jatuh dalam dosa, tetapi manusia masih memiliki komponen yang juga ada pada Allah atau gambar Allah (tselem). Komponen-komponen itu tidak hilang - yaitu pikiran, perasaan dan kehendak tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat lagi bisa mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah.

                Kata hustereo sebenarnya berarti kurang atau tidak mencapai. Terjemahan Bahasa Indonesia untuk kata hustereo yaitu “kehilangan” sebenarnya kurang tepat, sebab kata ini seakan-akan mengisyaratkan bahwa manusia pernah memiliki kemuliaan itu. Padahal sebenarnya Adam belum pernah menemukan atau mencapai kemuliaan Allah yang dikehendaki oleh-Nya. Kalau Adam sudah mencapai kemuliaan yang dimaksud berarti Adam mampu memiliki moral seperti Allah, sehingga Adam hidup dalam penurutan dan penghormatan yang pantas terhadap Allah. Ini juga berarti Adam berhasil menjadi corpus delicti.
                Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah, tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi berkeadaan kurang kualitasnya, tidak seperti yang Allah kehendaki. Ini yang disebut kehilangan kemuliaan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah tersebut dalam kehidupan umat pilihan. Di sini dapatlah kita pahami bahwa Kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah itu terdapat pada moralnya, bukan hanya mampu melakukan hukum secara umum tetapi memiliki cara berpikir dan nurani seperti Allah.
                Dalam Kejadian 1:26 tertulis: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Harus dipahami, bahwa menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah barulah sebuah rancangan dari Allah Tritunggal. Kata-kata yang digunakan untuk gambar dan rupa di dalam teks asli Alkitab dalam bahasa Ibrani adalah tselem demuth (תוּמדְ םלֶצֶ). Dua kata ini digabung tanpa kata penghubung, tetapi kalau secara terpisah tselem sering diartikan sebagai gambar. Kata tselem hendak menunjuk gambar dalam arti bahwa komponen-komponen yang dimiliki Allah yang juga dimiliki manusia yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Sedangkan demuth artinya keserupaan atau kemiripan, hal ini menunjuk kualitas. Kemudian dalam Kejadian 1:27 tertulis: Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. Di ayat ini Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (tselem), tidak ada kata keserupaan (demuth). Adapun demuth adalah keserupaan yang menunjuk kepada kualitas atas komponen-komponennya (pikiran, perasan dan kehendak). Kata demuth lebih menunjuk kepada kemiripan (Ing. fashion, like, similitude). Keserupaan dengan Allah yang dimiliki manusia ini bukan sesuatu yang sifatnya statis, tetapi progresif. Dan manusia pertama, Adam harus mengembangkan sendiri keserupaan itu dalam pimpinan Roh Allah. Kemiripan ini (demuth) mengalami proses perkembangan. Jadi, yang diciptakan Allah pada mulanya atas manusia adalah segambarannya (demuth) saja, yaitu manusia memiliki komponen-komponen yang ada pada Allah, yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Adapun kualitas komponen-komponen tersebut atau keserupaannya (demuth) menjadi tanggung jawab manusia.

                Ketika manusia dinyatakan jatuh dalam dosa, keberadaannya tidak tepat seperti yang dikehendaki oleh Allah berarti kemuliaan Allah hilang atau berkurang atas kehidupan manusia. Dalam teks bahasa Yunani kata kehilangan adalah hustereo (ὑστερέω; Rm. 3:23). Sampai kapanpun gambar Allah (tselem) atas manusia tidak hilang, tetapi keserupaannya (demuth) yang gagal dicapai. Komponen-komponen itu tidak hilang yaitu pikiran, perasaan dan kehendak, tetapi komponen-komponen tersebut tidak pernah dapat lagi bisa mencapai kualitas seperti rupa (demuth) Allah. Kata hustereo sebenarnya berarti kurang atau tidak mencapai. Hal ini sama artinya, bahwa Adam belum menemukan gambar diri yang benar atau ideal menurut Tuhan. Adam belum pernah menemukan atau mencapai kemuliaan Allah yang dikehendaki oleh-Nya. Kalau Adam sudah mencapai kemuliaan yang dikehendaki Allah, berarti Adam mampu memiliki moral seperti Allah, sehingga Adam hidup dalam penurutan dan penghormatan yang pantas terhadap Allah. Ini juga berarti Adam berhasil menjadi corpus delicti.

                Manusia sudah jatuh dalam dosa, artinya gagal mencapai rancangan Allah. Tidak dinyatakan bahwa gambar Allah (tselem) telah hilang sama sekali, tetapi berkeadaan kurang kualitasnya, tidak seperti yang Allah kehendaki. Ini yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus bertujuan untuk menemukan kemuliaan Allah tersebut dalam kehidupan umat pilihan. Di sini dapatlah kita pahami bahwa Kekristenan adalah perjuangan menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut. Kemuliaan Allah itu terdapat pada moralnya, bukan hanya mampu melakukan hukum secara umum, tetapi memiliki cara berpikir dan nurani seperti Allah.
                Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya berkeadaan seperti Adam sendiri. Kebenaran ini diteguhkan oleh Kejadian 5:3. Dalam ayat tersebut tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepada-nya. Kata rupa dan gambar dalam teks aslinya (Kej. 5:3) adalah tselem dan demuth. Set memiliki rupa dan gambar Adam, bukan rupa dan gambar Allah. Hal ini hendak menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan oleh Adam segambar dengan “diri Adam” sendiri, sama kualitasnya dengan Adam yang sudah jatuh dalam dosa. Dengan demikian, keturunan Adam tidak pernah melihat atau menemukan sebuah contoh dari gambar diri manusia yang benar atau ideal, karena Adam yang diharapkan menjadi teladan gagal menemukan gambar diri yang sesuai kehendak dan rancangan Allah. Oleh sebab itu, dibutuhkan satu sosok yang dapat menjadi role model gambar diri yang benar. Yesuslah jawabannya.

                Hakikat manusia sebagai gambar dan rupa Allah (Kej  1:26-27), menjelaskan bahwa manusia merupakan hasil karya buatan-Nya, secara ilahi dan memang sebagai ciptaan yang mulia atau berbeda dengan ciptaan lainnya. Karena sangat berbeda dari yang Ia ciptakan, maka kita sebagai manusia di berikan hak yang istimewa untuk menjadi gambar (Teladan) serta serupa  Allah (Imago Dei).  Tetapi kita tahu bahwa pada masa yang dulu setelah nenek moyang kita jatuh ke dalam dosa maka kita juga ikut terbawa ke dalam dosa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa sebagai ciptaan yang mulia yang memiliki ke istimewaan khusus dari pada ciptaan lainnya. Di sini kita melihat bahwa sebenarnya kita sudah kehilangan gambar dan rupa Allah dan juga gambar indentitas diri kita sebagai ciptaan. Hanya saja sebagai Allah yang sangat mengasihi kita sebagai ciptaanNya, Ia memberikan kita kesempatan untuk menjadi gambar dan rupa Allah, sehingga kita tidak kehilangan akan indentitas diri kita sebagai manusia yang awalnya segambar dan serupa dengan Allah. Maka dari itu kita di selamatkan dari pelanggaran yang dahulu pernah dilakukan oleh Adam dan Hawa sehingga kita tidak menjadi ciptaan yang tidak memiliki gambar dan rupa Allah. (lihat Kejadian. 5:1), akan tetapi  pada waktu manusia itu diciptakan oleh Allah, dibuat-Nyalah dia menurut rupa Allah. Dan  manusia yang harusnya telah rusak, telah kehilangan jati diri, akan tetapi Allah sebagai pencipta selalu memberikan kesempatan bagi ciptaanNya, agar dapat memperbaiki diri dan kembali kepada rancangan semula yang merupakan gambar dan rupaNya. Hal ini yang membuat ciptaan itu berbeda dari yang lainnya sehingga ia layak disebut menjadi hakikat manusia sebagai gambar dan rupa Allah.

Dunia bukan rumah kita. Kita tidak boleh merasa betah di bumi. Seluruh pengharapan dan kebahagiaan kita hanya di dalam Tuhan Yesus Kristus yang diwujudkan secara nyata kelak dikekekalan; dilangit yang baru dan bumi yang baru. Di sana kelak tak ada air mata dan dukacita.
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]



Referensi:

1.          Dr. Erastus Sabdono, New Paradigm of Christian Living, Precision Printing, Rehobot Literature, 
                     Jakarta:2017
2.             Dr. Erastus Sabdono, Surga, Precision Printing, Rehobot Literature, Jakarta:2017
3.             Dr. Erastus Sabdono, Corpus Delicti, Presicion Printing, Jakarta:2018
4.             David Wallace - Wells, Bumi Yang Tak Dapat Dihuni (The Uninhabitable Earth), Gramedia, Jakarta;2019
5.             John Rogers, Etika Medis: Suatu Perspektif Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2003   
6.             Dr. R . Soedarmo Iktisar Dogmatika, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2000
7.             Paul F. Knitter, Satu Bumi Banyak Agama, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2018
                  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.