3 Pilar

3 Pilar

Sabtu, 12 Oktober 2019

RECYLE BIN KEHIDUPAN


Istilah kata ini (recyle bin) terdapat dalam sebuah perangkat yang namanya komputer, dimana yang berarti “tempat sampah” atau merupakan tempat dimana pencarian dan pengambilan data-data yang telah dihapus dengan cepat dan mudah. Tempat sampah hanya menampung data-data yang berasal dari harddisk. Data-data yang berasal dari disket atau network yang telah dihapus tidak dapat ditampung atau diambil kembali dari tempat sampah (recycle bin). 

Pada umumnya pengguna komputer menyimpan data begitu banyak sehingga banyak pula data-data yang seharusnya disortir tidak tertampung lagi. Ketia seseorang sadar bahwa begitu banyak data yang telah melampui tempat penyimpanan ataupun si pemakai merasa ada beberapa data yang memang sangat mengganggu dan harus segera dihapus maka recyle bin adalah tempat pertama menampung semua data-data yang dibuang. Ketika si pengguna merasa bahwa salah satu data tersebut diperlukan, maka ia bisa kembali ke shortcut recycle bin untuk mengambil kembali data tersebut, walau ada beberap mungkin yang sudah using dan tidak bisa pulih data tersebut seperti semula.

Dalam kehidupan ini pun juga ada hal-hal dimana setiap insani memiliki persoalan hidupnya masing-masing dan ketika ia bertindak untuk melupakan setiap masalah tersebut dari pikiran dan perasaannya seakan-akan tuntas, merdeka, apalagi didukung dalam altar call dalam sebuah kebaktian ibadah. Secara emosional, dengan menangis dan memohon kepada Tuhan dengan yakin ia mencoba melepaskan persoalannya kedalam tangan-Nya. Namun mungkin saja sesampai dirumah atau bisa juga seminggu, sebulan atau setahun kemudian, orang tersebut masih merasakan persoalan yang belum rampung. Bukan hanya soal persoalan hidup. Terkadang bahkan sering setiap kesalahan orang lain kita sering simpan di hati (recycle bin) dan kemudian diingat-ingat kembali ketika teringat atau coba mengorek kembali masalah lama (lalu).
Tak elak berujung pada stagnasi dan mengganggu pertumbuhan iman, kedewasaan dalam pertumbuhan rohani seseorang. Karena dengan mengungkit kembali maslaah lalu, persoalan lama dan kesalahan sesama hanya akan membuat kerdil keyakinan seseorang dan menjadikan Tuhan tidak berdaya menurut cara pandang insani. Manusia diberi kehendak bebas (free will) oleh Tuhan untuk melakukan berbuat dan bertindak apa yang dipandangnya baik. namun bagi seorang yang bertumbuh dewasa dalam kerohanian, ia akan senantiasa berpikir sesuai kehendak Tuhan (Yunani= Phroneo) karena yang akhirnya itu semua menyenangkan hati-Nya.

Luka lama; persoalan hidup, kesalahan sesama seharusnya jangan di recyle bin tapi harus benar-benar di DELETE dari hidup seseorang. Menyimpan segala sesuatu yang tak berguna dalam hati dan pikiran hanya akan menghambat pertumbuhan dan Tuhan berkarya dalam diri seseorang. 

Sering kali seseorang merasa sudah terbebas dari menyimpan salah sesama, dari semua persoalan hidup yang mengikatnya, padahal sekali kelak secara psikologis akan timbul kembali kepermukaan karena menyimpan dalam penyimpanan sementara atau bahkan tersembunyi (hidden) dilubuk hatinya, dialam bawah sadarnya yang sekali kelak bisa restore dengan sendirinya karena sikon tertentu. Hal ini memang tidak mudah, bukan berarti Tuhan tidak berkarya atau turut campur tangan. Dari diri kita sendiri yang harus berjuang keras dengan tekad dan kemauan keras untuk membenahi hidup dengan sebaik-baiknya dan mohon tuntunan Roh Kudus agar dimampukan-Nya.

Tidak ada persoalan dan kesalahan sesama yang dapat dilupakan begitu saja apalagi jika sangat membekas dan merona jiwa. Tapi bagi orang yang melekat dekat dengan Tuhan dapat dipastikan bahwa semua itu merupakan nutrisi jiwa dan yang mendewasakannya untuk dapat mengenakan karakter dan berkodrat ilahi.  Selamat Berjuang!
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.