Budaya adalah ciri khas
atau sebuah kebiasaan yang terjadi dan dikerjakan ditengah-tengah masyarakat
yang terbentuk dari beberapa komponen berbeda pandangan ataupun kebiasaan
termasuk dalam sistem agama, politik, bahasa, adat istiadat, pakaian, karya
seni, dan bangunan. Budaya tidak dapat dipisahkan dari masyarakat begitu pula
sebaliknya, karena budaya tercipta dari pola dan kerja masyarakat dan peradaban
manusia secara umum. Peradaban ini akan terbentuk norma-norma dan nilai
kehidupan yang menjadi pandangan hidup dalam masyarakat.
Kebiasaan yang sudah terbentuk di tengah masyarakat (baik
dari masa lalu dan masa kini) akan berakar budaya sehingga menjadi suatu
kebiasaan (yang diwariskan dari masa lalu ke masa kini dan masih saling terkait
- tradisi) yang lazim dikerjakan dan diterima sepenuhnya oleh masyarakat
setempat. Sebagai contoh misalnya, kebiasaan atau budaya dan tradisi suku
Maasai di Kenya dan Tanzania, Afrika Timur. Suku ini memberikan salam dengan
cara meludah di muka sesamanya. Kebiasaan ini menjadi turun temurun dan sebagai
tardisi untuk menyapa dengan sopan yang sebenarnya dianggap oleh kalangan
mereka. Namun bila diterapkan di tengah-tengah masyarakat di kota Jakarta,
sungguh alangkah fatalnya, karena ini dapat dianggap penghinaan dan merendahkan
sesama.
Sebuah budaya atau tradisi yang sudah terbentuk akan
mempengaruhi keadaan sosial masyarakat tersebut. Kebiasaan ini akan tercipta
oleh banyak faktor pendukung, oleh masyarakat setempat atau individu dan yang
juga dipengaruhi oleh situasi dan kondisi yang terus berkesinambungan walau
keadaan tersebut tercipta dimanipulasi oleh pihak tertentu untuk maksud dan
tujuan tersendiri. Keadaan inilah yang akan menciptakan pertentangan kelompok
satu dengan yang lainnya yang dianggap sebagai suatu perbedaan. Perbedaan pada
prinsipnya tidak harus membuat jurang satu dengan yang lainnya apabila dapat
diukur dengan kaidah-kaidah dan norma yang wajar dan masih diterima oleh
logika, keyakinan dan kemanusiaan, adat istiadat dan budaya yang manusiawi.
Di tengah-tengah masyarakat yang majemuk ini, ada banyak
tercipta budaya “semau gue”. Istilah ini lahir dikarenakan hamper semua lapisan
masyarakat yang tidak diatur atau tidak masuk dalam lingkaran tertib budaya,
maka yang ada, semau gue, semau-maunya berbuat, bertindak, tanpa memikirkan
kepentingan bersama. Asal untuk dirinya beruntung, tidak lagi peduli orang
lain. Masalah antri, kebanyakan orang lebih memilih “siapa cepat dia dapat”, ya
benar, asal dating lebih awal dan tertib harus antri bila memang demikian
kondisinya, maka semua pasti berjalan baik dan lancar. Di jalan umum juga
banyak orang berkendara tidak tertib karena mau lebih dulu berjalan melaju,
tanpa peduli, maka main serobot dan maju, mengabaikan traffic light, pejalan
kaki dan pengendara liannya.
Sifat budaya seperti ini akan menjadi warisan atau
tradisi turun menurun dimanapun manusia berada. Tertib dan disiplin juga
merupakan budaya yang harus dilestarikan bagi kelangsungan hidup anak cucu di
masa yang akan datang. Kelangsungan hidup akan terus meniru dan melakukan hal
yang sama sekalipun itu salah dalam kaca mata bermasyarakat. Seyogyanya kita
semua memperhatikan dan memberi teladan bagi sesama, sesuatu yang benar untuk
dikerjakan sebagai contoh bagi masyarakat secara konkrit, walauini butuh waktu
yang tidak sebentar dan harus dengan sabar mengerjakannya.
Pendidikan Agama Kristen, punya andil dan harus menjadi
landasan yang kokoh bagi orang percaya untuk menjadi role model ditengah-tengah
masyarakat majemuk untuk menciptakan hidup bermasyarakat dan bernegara dengan
benar sesuai kaidah, norma dan budaya yang sudah terbentuk sebagai bangsa yang
berbudaya dan arif. Kita semua, orang percaya, terpanggil menjadi corpus
delicti dalam meng-ejawantah-kan hidup yang berpadanan sesuai Injil Kristus, untuk
hidup taat, tertib dan mendukung semua program pemerintah sebagai budaya
masyarakat yang loyal terhadap pemerintahnya, taat dan patuh terhadap
Pancasila, UUD 1945, ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, dan solid terhadap keutuhan
NKRI. Melalui PAK, warga gereja diajak
untuk memahami nilai-nilai Budaya sebagai bagian dari masyarakat Indonesia
untuk mencintai serta patuh terhadap nilai-nilai kebangsaan Republik Indonesia,
dimana ia dilahirkan, dibesarkan, hidup berbangsa dan bernegara didalamnya.
Ketaatan kepada Tuhan harus juga terwujud melalui kepatuhan kepada pemerintah
dan Undang-Undangnya yang diberlakukan. Mencintai masyarakat sebagai sesama
yang harusa dikasihi dan dilindungi sebagai milik kepunyaan-Nya yang harus
diayomi, dilindungi dan dikasihi, seperti Kristus telah menyerahkan diri-Nya,
rela mati tersalib demi menebus dosa semua umat manusia (Gal.3:13; Ibr.9:15; 1Pet.3:18)
dan keselamatan bagi semua suku bangsa (Mat.4:23; Kisah13:18, 46,47; 14:27;
15:7,14).
Keadaan situasi dimana masyarakat telah dipengaruhioleh
banyak faktor, diantaranya era globalisasi, membuat masyarakat semakin luas
memiliki wawasan sehingga berdampak tanpa disadari bahwa budaya yang baik, yang
terpupuk sejak nenek moyang ajarkan, terpupus sedikit demi sedikit sehingga
tergantikan oleh budaya dan tradisi milenial. Norma-norma dan kaidah-kaidah
yang dulu dipertahankan karena dapat membina rasa kemanusiaan dan kebersamaan,
kerukunan dan rasa cinta sesama, kini semakin pupus dengan hadirnya pola hidup
“diatas kepentingan diri”, dan sebagainya. Keadaan perubahan ini bukanlah salah
total namun karenafaktor human error, dimana manusianya yang tidak dapat mawas
diri, memfilter dan memilah mana yang baik yang tidak baik untuk dibuang.
Justru keadaan sekarang, yang dianggap tidak baik dikalangan bersama malah
dibudayakan sebagai sesuatu yang menguntungkan dan “asyik” dilakukan. Keadaan
sekarang manusia semakin egosentris dan “serigala bagi sesamanya”, tidak ada
lagi budaya kasih, empati dan toleransi
yang dulu membara, bahkan menyala terang pada jaman perjuangan. Di masa kini
istilah tersebut hanyalah sebuah kata-kata dalam tulisan dan frasa tanpa makna
yang terlahir dalam perbuatan.
Budaya dan tradisi telah tergantikan menjadi era “EGP”
(Emang Gue Pikiran) atau cuek. Dalam arti kata masa bodoh dan tidak mau tahu,
yang penting diri sendiri tidak merugi, apa peduli buat orang lain, bila perlu
hantam kromo. Budaya dadakan akan tercipta sesuai sikon dibutuhkan oleh pihak
tertentu atau golongan. Misalnya budaya “korupsi berjemaah”, bila ada kesempatan
dan peluang, maka secara bersama-sama mengambil peluang ini walau pasti
instansi, lembaga bahkan Negara dirugikan oleh perbuatan ini. Hukum sudah tidak
lagi perlu ditakutkan karena mereka berpikir bahwa semua itu bisa di ”beli”,
dan ini sudah “mewabah”, menjadi budaya yang salah hamper disemua kalangan.
Kondisi ini akan menciptakan manusia yang tidak berbudaya pekerti luhur,
melainkan menciptakan manusia yang rakus dan tamak akan kenikmatan dunia.
Injil dengan tegas dan gamblang
mengatakan bahwa semua perbuatan jahat akan diadili di tahta pengadilan-Nya
(2Kor.5:10). Semua mahluk ciptaan-Nya akan terbuka dengan telanjang di depan
penghakiman-Nya (Ibr.4:13). Kristus yang adalah Hakim yang Adil akan menghakimi
semua umat, baik yang baik maupun yang jahat (2Tim.4:8; Ibr.10:30). Tatanan
Allah adalah budaya yang tercipta oleh kemahakuasaan-Nya, adil dalam
pemandangan-Nya, baik dan sempurna bagi umat-Nya. Tidak ada berat sebelah
ataupun ketidak-adilan yang dianggap oleh sebagian umat karena mereka hidup
tidak sesuai dengan ketetapan-Nya. Bila manusia hidup dalam tatanan-Nya, maka
budaya hidup yang dijalaninya pasti bermuara dari Dia dan bagi Dia, segala
kemuliaan. Manusia akan akan berbahagia bila patuh, taat dan setia terhadap
kebenaran-Nya, yakni segala Titah-Nya, maka manusia akan akan melahirkan budaya
dan tradisi yang menciptakan kedamaian bagi sesama dan membawa umat ke jalan
yang benar. Untuk itulah kita yang terpanggil; sebagai kawan sekerja-Nya, harus
menanggalkan ke-egooan manusiawi kita. Mengenakan manusia ber-kodrat Ilahi
(divine nature), sehingga segala prilaku kita dapat menjadi suri teladan bagi
sesama. Menempatkan diri sebagai gambar ciptaan Allah yang hidup, sesuai kodrat
Ilahi, kan membantu menciptakan suasana kondusif ditengah-tengah keadaan di
mana generasi muda membutuhkan figure yang dapat ditiru dan dicontohi, walaupun
sikon nya saat ini banyak generasi muda lebih condong terikat kepada gaya hidup
dunia luar dari pada melestarikan budaya yang baik yang sudah terbentuk di
tanah air kita. Jangan pesimis dan takkabur tapi tetap semangat dalam menyuarakan suara
kebenaran bukan hanya dengan keras dalam
menyuarakannya tetapi terlebih harus lantang dalam perbuatan. Sebab
perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi melawan kuasa gelap, yakni
si jahat (iblis). Selama kita masih ada di bumi, maka kita yang telah mengenal
kebenaran-Nya, haruslah menjadi corpus delicti di akhir jaman yang rela
melepaskan manusia lama dan hidup bagi Kristus. Dunia di mana yang sekarang
kita tempati adalah bumi yang tidak akan selamanya abadi. Kelak kan menjadi
lautan api (Wah.20:14), diakhir penghakiman-Nya. Oleh sebab itu selagi masih
ada kesempatan kuota hidup dan waktu masih berjalan, maka kita semua harus
memancarkan sinar yang bersinar cemerlang melalui segenap aspek kehidupan ini
dan bila ini dilakukan secara seksama dan berkesinambungan akan membudaya.
Selamat Berjuang.
[Johanes
Kurniawan, M.Pd.K]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.