3 Pilar

3 Pilar

Rabu, 19 Februari 2020

THEOLOGIA OTAK (bagian 1)


               Istilah “theologia” sering diasumsikan sebagai suatu ilmu pelajaran atau mata kuliah yang berkenaan dengan Tuhan. Sehingga banyak orang awam merasa pesimis, skeptis bahkan enggan untuk membicarakan hal tersebut, walau ada beberapa yang ramai untuk memperbincangkannya dengan debat kusir. Kata ‘theologia’ sendiri berasal dari bahasa Yunani yaitu theos, yang artinya Tuhan, dan logos, yang artinya perkataan, ucapan, firman, pengetahuan, dan sebagainya. Jadi, theologi berarti pengetahuan tentang Tuhan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Teologi adalah pengetahuan ketuhanan (mengenai sifat Allah, dasar kepercayaan kepada Allah dan agama, terutama berdasarkan pada kitab suci). Tergantung dari perspektif sudut pandang mana seseorang mengartikan dan membedah makna kata tersebut asal tidak mengurangi  maknanya.

                Banyak Sekolah Tinggi Theologia saat ini sedang berlomba mencetak sumber daya manusia yang akademisi dibidang baik teologia, PAK (Pendidikan Agama Kristen), Pastoral Konseling, Misiologi, Musik Gereja, dan sebagainya, dalam rangka menciptakan manusia unggul dibidangnya guna menjaring jiwa dan mengimplementasikan ilmu secara akademisi. Keadaan ini sudah ada sejak kekristenan masuk mula-mula di negara kita yang ragam kebudayaan, suku, agama dan tradisinya. Institusi dan lembaga pendidikan dibidang akdemis berbasis teologi terus berkembang, walau tidak semua dan belum terakreditasi oleh BAN-PT dan mereka masih terus memperjuangkannya. Setiap Prodi (program studi) punya misi dan visi untuk mencapai target dalam mengemban Amanat Agung sebagai fokus inti dari sasaran yang hendak dicapai. Mahasiswa dipacu untuk belajar dengan tekun, disamping itu pihak sekolah mengadakan beasiswa bagi mahasiswa yang ber-prestasi.

                Seiring era globalisasi menuju era milenial, maka tak elak semua orang harus mampu memilki skil dan kemampuan dibidangnya bahkan lebih. Bagi mahasiswa theologia dan PAK juga demikian diwajibkan untuk tidak gaptek (gagap teknologi) tapi mapan dan piawai dalam menggunakannya. Demikianpun seorang theolog dan guru PAK tidak hanya cakap dan mapan secara teori akademisi semata dalam menyampaikan pesan-pesan moral dan nilai-nilai Kristiani. Mengemban tugas Amanat Agung tidaklah mudah karena harus disertai kerelaan dan ada harga yang harus dibayar, segenap hidup. Akademisi dan pola pembelajaran serta metode yang telah diterapkan belum tentu mampu memadai kinerja seorang guru dalam mengajar dan seorang theolog dalam berkotbah dan mungkin penggembalaan. Sekalipun skill seseorang telah diasah dan diberi muatan sebagai modal untuk berkarya, namun bila karakter yang bersangkutan belum mencapai untuk serupa seperti Kristus, artinya rela memberi diri dan tidak perhitungan, jelas akan tersangkut pada cara manusia lama. Justru seorang yang bersedia melayani ialah mereka yang tidak lagi mencari hidup tetapi memberi hidup. Seorang pelayan Tuhan harus berani memberi hidup dan kehilangan nyawa sekalipun bagi keselamatan sesama. Di sini bukan berarti konyol terhadap jiwa sendiri, melainkan tidak lagi fokus dengan apa yang menjadi pemenuhan diri. Asal ada makan dan pakain cukup (1 Timotius 6:8). Seorang pelayan Tuhan harus sudah selesai dengan diri nya sendiri. Seorang pelayan Tuhan itu tidak boleh baper, karena melayani itu sejatinya melepaskan semua dan menyenangkan perasaan-Nya.

       Seorang theolog dan guru PAK yang andal dibidangnya, ia tidak hanya cakap dalam mengaplikasikan ilmunya di dunia nyata dan sesama, tetapi juga harus mampu menjadi role model bagi sesamanya. Bukan hanya menjadi mentor semata tetapi juga “montir” yang mampu me-reparasi karakter manusia lama kepada manusia ilahi. Untuk hal ini perlu proses yang tidak sebentar, tapi bila tekad dan nekad - bulad, maka siapapun pasti bisa untuk mau berubah. Theologia dan PAK bukanlah bahan debat dan menjadi diskusi panjang yang hanya berujung kepada pertikaian batin, saling menyakiti, menyalahkan, menghina, dan tak elak sesama pelayan Tuhan saling membunuh karakter dengan melalui media sosial, media mimbar, media talk show, dan sebagainya. Kecaman demi kecaman bahkan dengan tegas menuding dengan ungkapan kata “sesat” dilayangkan kepada pelayan Tuhan dan ajarannya. Sehingga menimbulkan luka bagi sesama dan jemaat yang mendengar dan melihat hal ini. Tidak perlu ada balasan dan kembali untuk meluruskan hal ini. Bagi orang yang bijak, bukan hanya “sing waras yang penting ngalah”…tetapi efek atau dampak penyalahgunaan kata dan melalui media ini akan berdampak kepada nilai-nilai kekristenan yang luntur dan berubah warna.

                Melihat kebelakang, 2000 tahun yang lalu ketika Anak ALLAH menjelma menjadi manusia dan dengan melalui meminjam rahim Maria, IA dilahirkan secara manusia namun keberadaannya tidak berdosa karena bukan hasil hubungan suami - istri,  Kristus membawa Kabar Baik yang diteruskan kepada murid-murid-Nya. Injil yang murni yang disampaikan Kristus untuk semua umat pengikut-Nya harus hidup tidak bercacat-tidak bercela, hidup sempurna seperti Bapa di surga, tidak mencintai dunia, karena asal ada makan dan pakaian cukup, jelas secara implisit hal ini membawa umat untuk hidup seperti yang Yesus Kristus lakukan pada jaman-Nya ketia IA berada di muka bumi ini. Sampai akhir hayat-Nya, IA, memberi diri untuk mati bagi semua umat manusia. Tidak ada ajaran-Nya yang menyinggung soal kemapanan hidup namun IA akan menyertai umat-Nya sampai kesudahan akhir jaman. Yesus Kristus tergantung di kayu salib dan bersedia mengosongkan diri-Nya menjadi sama seperti manusia, bukti bahwa IA taat dan setia sampai titik darah penghabisan-Nya, oleh karena itu BAPA di surga membangkit-Nya pada hari ketiga dan memberi IA kuasa menjadi TUHAN atas alam semesta. Tuhan Yesus Kristus telah menunjukan bukti bahwa IA telah taat terhadap BAPA di Surga. Dengan demikian sepatutnya, setiap pelayan Tuhan meneladani Kristus dan serupa seperti DIA dalam meneladani seluruh aspek karya pelayanan-Nya sewaktu di bumi ini.

            Keadaan sekarang justru banyak pelayan Tuhan lebih mengedepankan mencari hidup dari pada memberi hidup, lebih fokus kepada kemakmuran dan kemapanan hidup. Bukan tidak boleh mencari berkat tapi justru getol terhadap pemenuhan lahiriah membawa umat hanya kepada kondisi lahiriah semata dan tidak kepada pemenuhan batiniahnya. Padahal, Tuhan Yesus Kristus telah janjikan bahwa ada berkat atas hidup orang percaya. Berkat hujan dan panas untuk semua orangg. Berkat pasti kan datang asal disertai dengan tanggung jawab. Hidup jujur, berintegritas, giat bekerja dan tidak kenal lelah. Kelak berkat terpenuhi bagi orang yang giat bekerja, gilirannya Tuhan punya bagian untuk membuka jalan dan cara-Nya untuk memberkati kita, bisa melalui kesehatan, kekuatan dan kemampuan menghadapi sesuatu didepan hidup ini. Segala yang kita kerjakan ialah theologia. Karena teologia bukan hanya bicara tentang Tuhan dan keberadaan pribadi-Nya, bukan hanya untuk dipelajari semata, namun yang terutama teologia itu harus diejawantahkan melalui sikap, prilaku dan perbuatan dalam keseharian.  Bukan untuk menjadi bahan perdebatan dan menyudutkan doktrin ataupun dogma yang berbeda dari aliran atau pemahaman seseorang, baik itu pengajar, guru Injil, pendeta, pelayan Tuhan,  gereja dan institusi pendidikan lain.  

                Theologia dan PAK yang ideal ialah sikap hidup dalam keseharian. Sebagus dan seelok apapun kata-kata dalam kalimat yang dibingkai apik dengan doktrin dan balutan manis nan indah dengan frame filosofi kemanusiaan, itu hanya bersifat sementara dan akan usang termakan jaman. Teologia yang hidup harus lahir dari cara hidup yang telah diubahkan oleh kebenaran Injil yang murni. Seorang teolog tersebut sudah mengalami lahir baru, mengenakan divine nature dan hidup berpadanan sesuai Injil yang murni, tepat seperti Kristus hidup 2000 tahun yang lalu. Walau demikian hidup di kekinian tidak bisa terlepas namun tidak terikat karena baginya hidup adalah hanya bagi Kristus.

            Theologia yang hanya lahir dari otak, pemikiran dan akademisi semata hanya akan menciptakan konflik. Perbedaan doktrin, dogma dan tata cara agamawi itu adalah hal yang wajar. Karena semua itu lahir dari pengembangan theologia untuk mencari kebenaran yang murni sesuai apa yang dikehendaki Kristus. Karena itu seorang pelayan Tuhan harus hidup sama seperti yang dilakukan Kristus. Ia harus memiliki perasaan dan pikiran yang sama seperti Kristus (Phroneo). Hidup yang berkenan, tidak lagi duniawi kan membawa pelayan Tuhan untuk melihat bukan lagi secara fisik tapi melihat dan mendengar dengan mata rohani (Horao), karena dunia dengan segala pesona dan kemolekannya terus membanjiri dengan filosofinya guna memalingkan hidup orang benar kepada kefanaan dunia. Cara berpikir yang terjerat dengan dunia hanya akan membawa orang percaya untuk tidak mencintai Tuhan sepatutnya. Lebih dominan hidup melekat di bumi dan tidak merindukan kekekalan yang dahsyat. Orang percaya yng hidup kudus, maka ia pasti merindukan langit yang baru dan bumi yang baru. Hidup ini hanya sementara, ia akan kerjakan dengan sepenuhnya hanya bagi DIA. Keyakinannya bahwa hidup di bumi hanya sementara jadi tidak perlu “ngoyo” untuk pemenuhan hidup karena asal ada makan dan pakaian cukup.

            Theologia otak hanya akan melahirkan kata-kata dan kalimat yang disusun berdasarkan nalar manusiawi semata dan jelas bukan bimbingan Roh Kudus dan kepada pengenalan akan Tuhan secara pribadi melalui meditasi dan persekutuan pribadi. Suatu hari kelak kan terbukti bahkan tergilas jaman. bahwa theologia yang hidup ialah yang berlandaskan firman Tuhan dan dapat mampu mengubah hidup umat Tuhan untuk hidup dalam kesucian dan meninggalkan cara hidup yang lama, mengenakan manusia baru serta mau dibimbing, diarahkan oleh Roh Kudus. Hidupnya bukan lagi bagi dirinya melainkan Kristus yang hidup didalam dirinya. Seorang yang masih mempertahankan theologianya, ia belum menemukan kehidupan Kristus didalam dirinya. Theologianya hanya sebatas pemikiran semata dan belum menjangkau kebenaran-Nya. Menundukkan diri dalam kebenaran Firman-Nya dan siap dibimbing, digarap oleh Roh Kudus, kan menjadikan pelayan Tuhan melihat siapa pencipta-Nya.
[JK]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.