Etos kerja adalah
merupakan poros penggerak untuk tercapainya suatu tujuan. Di dalam etos kerja
merupakan totalitas dan sumber daya manusia yang menggerakan dan menciptakan
semangat kerja yang solid. Sebuah kinerja tidak dapat dikatakan berhasil bila
tanpa usaha keras dan maksimal. Semua ada standar, dan harga yang harus
dibayar. Sebuat team yang solid, berintegritas, bertanggung jawab, jujur dan
mampu bersinergi, al hasil kan tercapai sebuah cita-cita yang terwujud dari
proses kerja yang berkesinambungan mencapai prestasi gemilang.
Di luar sana ada banyak
insani yang memiliki etos kerja asal “bapak senang”, “yang penting beres”,
tidak merasa memiliki, seakan bukan dan tidak merasa memiliki sehingga
pekerjaan yang dikerjakan tidak maksimal, bahkan saling ketergantungan satu
dengan yang lainnya. Bahkan beberapa diantara mereka beranggapan; merasa
dibutuhkan, yang mana bisa saja karena tidak ada yang lain bisa menggantikan
posisinya. Keadaan seperti ini akan menciptakan SDM yang pasif dan pemalas,
bahkan karena merasa dibutuhkan dan karena tidak adanya yang dapat menggantikan
posisinya yang sangat diperlukan oleh perusahaan, kan menjadikan pribadi ini
menjadi sesuatu yang diperlukan.
Di sisi lain ada beberapa SDM yang selalu bila
melakukan pekerjaan dilandasi oleh materi semata yang menjadi tolok ukurnya.
Bila ada amplop nya maka akan gerak cepat dan tanpa perlu arahan lagi sigap
gerak cepat, namun sebaliknya bila diketahui pekerjaan yang dilakukan ini
membutuhkan ekstra menguras otak dan tenaga, belm lagi waktu dan biaya walau
semua ada badged nya namun karena tidak memberi keuntungan bagi diri nya, maka
dikerjakan seakan tidak secara profesional. Kenyataan ini saya beri nama
“manusia mata uang”. Hampir semua belahan dunia, etos kerja semacam ini banyak
ditemukan. Tidak secara profesional dikerjakan, asal jadi dan yang penting bagi
dirinya adalah semua beres, padahal ekspektasinya tidak sesuai yang diharapkan.
Hal-hal detail dan sesuai rencana seharusnya dimatangkan dalam program kerja
dan rapat koordinasi atau instruksi atasan kepada bawahannya. Kejadian yang
sering terjadi ialah tidak demikian sehingga apa yang dihasilkan mungkin bila karya
bangunan hanya bertahan jauh dari yang diharapakan untuk tetap kokoh dan kuat,
bersih dan apik, indah dan menawan, estetika dan religius.
Etos kerja idealnya kinerja yang maksimal didukung
oleh skil dan disertai dengan karakter yang baik. Hal ini akan memompa dan
menjadi integritas yang kokoh dalam melakukan semua pekerjaan di segala aspek
dan bidang nya. Bila seorang pekerja berlandaskan materi dan upah semata, maka
ia tidak akan mampu memacu dirinya untuk berprestasi, diandalkan oleh atasannya
dan team work. Namun sebaliknya, bagi orang yang disebut sebagai “manusia mata
uang”, ia akan memberi dirinya untuk diperbudak oleh jenis mata uang apa yang
sesuai dengan nilai tukar yang pantas bagi dirinya. Tidak heran bila koruptor
menjadikan dirinya sebagai manusia mata uang yang integritasnya begitu rendah
sama rendahnya seperti mereka sebagian yang hanya mau bergerak melakukan suatu
pekerjaan bila ada “pelicinnya”. Sepatutnya apapun dapat dilaksanakan bukan
berdasarkan materi atau sesuatu yang menguntungkan diri, tapi memprioritaskan
etos kerja sebagai bagian dari poros integritas. Salary atau gaji penghasilan
sebagai upah pekerja adalah sebuah kehormatan yang layak diterima bagi seorang
pekerja, tapi itu bukanlah prioritas utama. Seiring dengan skil dan etos kerja
yang maksimal serta prestasi yang ada, maka semua itu patut menjadi
pertimbangkan yang progresif.
Bekerja adalah ibadah, demikian yang sering
disampaikan oleh banyak tokoh agama, namun setidaknya tidak hanya slogan dan dikumandangkan
semata. Ibadah yang hidup dan idealnya ialah menyenangkan hati Tuhan, melalui
sikap, prilaku dan pribadi yang kita semua dapat tuangkan dalam keseharian
termasuk dalam lingkungan pekerjaan, karena semua hanya bagi kemuliaan-Nya [bnd
Kolose 3:23]. Sepatutnya seorang pekerja harus mensyukuri bahwa pekerjaan yang
diampunya saat ini adalah bagian dari anugerah Tuhan, walau mungkin salary yang
diterima masih dibawah UMR atau bisa jadi double job tapi tidak setara dengan
apa yang diterimanya. Mungkin juga ada yang belum mendapat pekerjaan hingga
saat ini, tetaplah semangat berjuang dan sedaat mungkin merintis usaha kecil-kecilan
ataupun bila ada modal, dapat bekerja melakukan apa saja yang halal. Sebab
segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati tulus dan ikhlas, kelas suatu saat
kan mendapat perhatian-Nya. Masakan Sang Pencipta tidak memperhatikan segala
kebutuhan umat-nya? Bila kita dapat dipercayai Tuhan, niscaya IA akan
mempercayakan dan membuka jalan untuk apa yang menjadi kebahagiaan umat-Nya,
dan tentunya semua itu kembali kepada; “jika Tuhan menghendaki-Nya”.
Teruslah
berjuang, berprestasi dan memiliki integritas yang cakap dipemandangan-Nya.
Apapun yang dikerjakan dengan tulus penuh kasih, pasti kan membuahkan kebaikan
bagi dirinya sendiri. Seperti firman-Nya; siapa yang menabur kan menuai,
demikian juga bagi semua insan kan berlaku hukum tabur tuai ini, baik yang
baik, maupun yang jahat. Walau mungkin ada banyak air mata yang tumpah karena
sebuah kejujuran, namun tidak mendapat kebaikan yang pantas diterimanya,
teruslah lakukan dengan konsisten, sebab kelak keadaan tersebut tidak selamanya
menjadi demikian. ada Matahari kan terbit di ufuk Barat yang cahanya kan
menyinarimu dan mengubah kelam menjadi cemerlang dipemandangan-Nya.
[Johanes
Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.