3 Pilar

3 Pilar

Rabu, 19 Februari 2020

MANUSIA MATA UANG


               Etos kerja adalah merupakan poros penggerak untuk tercapainya suatu tujuan. Di dalam etos kerja merupakan totalitas dan sumber daya manusia yang menggerakan dan menciptakan semangat kerja yang solid. Sebuah kinerja tidak dapat dikatakan berhasil bila tanpa usaha keras dan maksimal. Semua ada standar, dan harga yang harus dibayar. Sebuat team yang solid, berintegritas, bertanggung jawab, jujur dan mampu bersinergi, al hasil kan tercapai sebuah cita-cita yang terwujud dari proses kerja yang berkesinambungan mencapai prestasi gemilang.
Di luar sana ada banyak insani yang memiliki etos kerja asal “bapak senang”, “yang penting beres”, tidak merasa memiliki, seakan bukan dan tidak merasa memiliki sehingga pekerjaan yang dikerjakan tidak maksimal, bahkan saling ketergantungan satu dengan yang lainnya. Bahkan beberapa diantara mereka beranggapan; merasa dibutuhkan, yang mana bisa saja karena tidak ada yang lain bisa menggantikan posisinya. Keadaan seperti ini akan menciptakan SDM yang pasif dan pemalas, bahkan karena merasa dibutuhkan dan karena tidak adanya yang dapat menggantikan posisinya yang sangat diperlukan oleh perusahaan, kan menjadikan pribadi ini menjadi sesuatu yang diperlukan.
                Di sisi lain ada beberapa SDM yang selalu bila melakukan pekerjaan dilandasi oleh materi semata yang menjadi tolok ukurnya. Bila ada amplop nya maka akan gerak cepat dan tanpa perlu arahan lagi sigap gerak cepat, namun sebaliknya bila diketahui pekerjaan yang dilakukan ini membutuhkan ekstra menguras otak dan tenaga, belm lagi waktu dan biaya walau semua ada badged nya namun karena tidak memberi keuntungan bagi diri nya, maka dikerjakan seakan tidak secara profesional. Kenyataan ini saya beri nama “manusia mata uang”. Hampir semua belahan dunia, etos kerja semacam ini banyak ditemukan. Tidak secara profesional dikerjakan, asal jadi dan yang penting bagi dirinya adalah semua beres, padahal ekspektasinya tidak sesuai yang diharapkan. Hal-hal detail dan sesuai rencana seharusnya dimatangkan dalam program kerja dan rapat koordinasi atau instruksi atasan kepada bawahannya. Kejadian yang sering terjadi ialah tidak demikian sehingga apa yang dihasilkan mungkin bila karya bangunan hanya bertahan jauh dari yang diharapakan untuk tetap kokoh dan kuat, bersih dan apik, indah dan menawan, estetika dan religius.        
                Etos kerja idealnya kinerja yang maksimal didukung oleh skil dan disertai dengan karakter yang baik. Hal ini akan memompa dan menjadi integritas yang kokoh dalam melakukan semua pekerjaan di segala aspek dan bidang nya. Bila seorang pekerja berlandaskan materi dan upah semata, maka ia tidak akan mampu memacu dirinya untuk berprestasi, diandalkan oleh atasannya dan team work. Namun sebaliknya, bagi orang yang disebut sebagai “manusia mata uang”, ia akan memberi dirinya untuk diperbudak oleh jenis mata uang apa yang sesuai dengan nilai tukar yang pantas bagi dirinya. Tidak heran bila koruptor menjadikan dirinya sebagai manusia mata uang yang integritasnya begitu rendah sama rendahnya seperti mereka sebagian yang hanya mau bergerak melakukan suatu pekerjaan bila ada “pelicinnya”. Sepatutnya apapun dapat dilaksanakan bukan berdasarkan materi atau sesuatu yang menguntungkan diri, tapi memprioritaskan etos kerja sebagai bagian dari poros integritas. Salary atau gaji penghasilan sebagai upah pekerja adalah sebuah kehormatan yang layak diterima bagi seorang pekerja, tapi itu bukanlah prioritas utama. Seiring dengan skil dan etos kerja yang maksimal serta prestasi yang ada, maka semua itu patut menjadi pertimbangkan yang progresif.   
                Bekerja adalah ibadah, demikian yang sering disampaikan oleh banyak tokoh agama, namun setidaknya tidak hanya slogan dan dikumandangkan semata. Ibadah yang hidup dan idealnya ialah menyenangkan hati Tuhan, melalui sikap, prilaku dan pribadi yang kita semua dapat tuangkan dalam keseharian termasuk dalam lingkungan pekerjaan, karena semua hanya bagi kemuliaan-Nya [bnd Kolose 3:23]. Sepatutnya seorang pekerja harus mensyukuri bahwa pekerjaan yang diampunya saat ini adalah bagian dari anugerah Tuhan, walau mungkin salary yang diterima masih dibawah UMR atau bisa jadi double job tapi tidak setara dengan apa yang diterimanya. Mungkin juga ada yang belum mendapat pekerjaan hingga saat ini, tetaplah semangat berjuang dan sedaat mungkin merintis usaha kecil-kecilan ataupun bila ada modal, dapat bekerja melakukan apa saja yang halal. Sebab segala sesuatu yang dikerjakan dengan hati tulus dan ikhlas, kelas suatu saat kan mendapat perhatian-Nya. Masakan Sang Pencipta tidak memperhatikan segala kebutuhan umat-nya? Bila kita dapat dipercayai Tuhan, niscaya IA akan mempercayakan dan membuka jalan untuk apa yang menjadi kebahagiaan umat-Nya, dan tentunya semua itu kembali kepada; “jika Tuhan menghendaki-Nya”.
Teruslah berjuang, berprestasi dan memiliki integritas yang cakap dipemandangan-Nya. Apapun yang dikerjakan dengan tulus penuh kasih, pasti kan membuahkan kebaikan bagi dirinya sendiri. Seperti firman-Nya; siapa yang menabur kan menuai, demikian juga bagi semua insan kan berlaku hukum tabur tuai ini, baik yang baik, maupun yang jahat. Walau mungkin ada banyak air mata yang tumpah karena sebuah kejujuran, namun tidak mendapat kebaikan yang pantas diterimanya, teruslah lakukan dengan konsisten, sebab kelak keadaan tersebut tidak selamanya menjadi demikian. ada Matahari kan terbit di ufuk Barat yang cahanya kan menyinarimu dan mengubah kelam menjadi cemerlang dipemandangan-Nya.
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.