3 Pilar

3 Pilar

Rabu, 01 April 2020

PELAKSANAAN PAK DALAM GEREJA


I.         Pendahuluan
                        Gereja hadir ditengah dunia untuk melaksanakan maksud dan kehendak Tuhan di tengah – tengah dunia. Dalam rangka menyampaikan kehendak Tuhan, maka salah satu tugas gereja adalah selalu belajar dan mengajar. Andar Ismail menjelaskan bahwa, kehidupan gereja mula-mula bertumbuh dalam kegiatan belajar dan mengajar.[1] Jemaat mula-mula berkumpul di satu tempat dan para rasul (kedua belas murid Yesus) menyampaikan pengajarannya. Perkembangan gereja selanjutnya adalah dibentuknya jabatan guru atau pengajar untuk memperlengkapi jemaat dalam melaksanakan pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus (Efesus 4 :12). Tuhan Yesus juga memberikan perintah melalui amanat agungNya, supaya murid-muridNya meneruskan dan mengajarkan apa yang telah diajarkanNya kepada dunia. Ini berarti gereja tidak bisa melepaskan tugas mengajar dari kehidupan pelayanan dan kesaksiannya. Selain tiga tugas utama gereja, mengajar juga merupakan bagian didalamnya yang menjadi kesatuan utuh dan tidak dapat dipisahkan.

II.      Pelaksanaan PAK dalam Gereja.
                 Berbicara tentang pelaksanaan PAK di dalam gereja, maka ada beberapa hal perlu dibahas yaitu menyangkut pengajar dan yang diajar, isi pengajaran, metode, konteks dan tantangan yang dihadapi.

                 Gereja adalah persekutuan orang-orang yang telah dikuduskan. Dalam diri orang – orang itu ada berbagai karunia, yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan bersama iman jemaat. Itu berarti karunia – karunia yang ada dalam jemaat harus ditonjolkan, sehingga gereja menjadi suatu persekutuan yang belajar bersama. Dengan pemahaman ini gereja memberi kesempatan kepada warganya untuk berpartisipasi aktif dalam persekutuan dan kegiatan gereja. Pemahaman “gereja sentris” yang beranggapan bahwa usaha PAK hanya dilakukan oleh gereja sebagai lembaga dapat dihindari. 

            Gereja bukan sebagai lembaga yang hanya menggurui, menegur, menyiasati yang melanggar ketentuan gereja dan yang mengatur dari atas, tetapi gereja lebih kepada persekutuan yang ajar mengajar, yang memberikan tempat kepada warga gereja untuk lebih berperan di dalamnya. Tugas mengajar dalam gereja tidak dilakukan sepihak oleh pemangku jabatan gerejawi (diaken, penatua dan pendeta), namun dalam rangka imamat am orang percaya dan berbagai karunia yang diterima oleh warga gereja, maka pada dasarnya tiap orang dapat belajar dan mengajar dalam persekutuan yang telah diperbaharui oleh Kristus.[2] Jemaat bukan hanya obyek yang statis dari proses pembelajaran, tetapi juga subyek yang dinamis. Pelayan-pelayan gereja adalah orang-orang yang dipilih khusus untuk mendidik dan menggembalakan agar jemaat dapat berfungsi ajar mengajar  sebagai persekutuan Kristen. Namun bukan berarti peranan pelayan-pelayan gereja diabaikan begitu saja. Diaken, penatua dan pendeta juga pelayan-pelayan khusus yang diangkat oleh jemaat tetap mempunyai tanggung jawab yang penting dalam PAK. Khususnya peranan pendeta sebagai seorang pelayan juga sebagai seorang guru, menuntutnya untuk dapat menjadi seorang pengajar yang handal, yang dapat mentransfer isi Firman Tuhan lewat pengajarannya secara lisan maupun melalui sikap hidupnya yang selalu harus menjadi teladan. Ini tidak mudah. Pendeta juga harus melakukan latihan-latihan, sehingga ia dapat menjalankan tugasnya dengan maksimal. Perlu difahami bahwa belajar adalah proses seumur hidup, juga dalam gereja dalam memahami, memaknai dan melakukan kehendak Tuhan.
                 Materi pembelajaran PAK yang dilaksanakan oleh gereja pada intinya hendak menyampaikan Allah yang Maha Kuasa, janji dan karya keselamatan Allah bagi manusia serta penyertaanNya dalam hidup manusia melalui Roh Kudus[3] :
            Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam  nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

              Materi pembelajaran ini diberikan kepada warga gereja dalam berbagai wadah kategorial, seperti sekolah minggu, persekutuan remaja, pemuda, kaum ibu, kaum bapak dan kaum lansia, juga dalam ibadah-ibadah dalam jemaat, perkunjungan, katekisasi dan lain sebagainya. Tentunya materi pembelajaran ini disesuaikan dengan usia dan kelompok kategorial, dengan memperhatikan tahap –tahap perkembangan manusia. 

                 Materi yang diberikan sebagai isi PAK di gereja juga harus memperhatikan konteks yang ada, isu-isu yang sedang bergulir, budaya, masyarakat majemuk, pluralitas agama di Indonesia, tantangan-tantangan modern, kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dan lain sebagainya. Konteks sangat perlu diperhitungkan, mengingat PAK ada juga karena tuntutan konteks. Yesus hadir di dunia dan juga melaksanakan PAK dalam konteks Yahudi. Isi PAK yang disampaikan lebih mendarat, ketika Yesus juga Paulus (budaya Yunani) memperhatikan dan memperhitungkan konteks yang ada. Pengajaran yang dilakukan oleh Yesus dan Paulus tidak dapat dipisahkan dari konteks kehidupan yang dialami. Ini menjadi acuan juga bagi gereja, untuk memperhitungkan konteks dimana ia berada, sehingga PAK yang dilaksanakan benar- benar “mendarat.” Gereja perlu memikirkan dan mengupayakan supaya pemberitaan Firman Allah menjadi relevan dengan konteks yang ada pada masa kini, sehingga warga gereja dapat menghadapi realitas hidupnya dengan berpedoman pada kebenaran Firman Allah.

                 Metode merupakan alat atau cara yang membuat kebenaran Kristen disampaikan sedemikian rupa sehingga menjadi efektif dalam perjumpaan seseorang dan usaha memahami masalah-masalah kehidupan.[4] Mengingat metode membuat penyampaian isi PAK lebih mudah, maka metode juga harus dipersiapkan dengan baik.[5] 
Masalahnya separuh orang berpendapat bahwa metode kurang penting. Ada ahli teologi yang menyangka bahwa ilmu teologi saja yang penting dan perlu dipelajari, soal metode tidak begitu penting. Dan ada pula pendeta-pendeta yang tidak menaruh minat terhadap cara –cara yang harus dipergunakan dalam berkhotbah atau mengajar.

          Ini menjadi perhatian penting bagi semua pelayan-pelayan gereja dalam pelaksanaan pengajaran PAK, termasuk pendeta. Isi yang baik bila tidak menggunakan kendaraan yang baik, tidak akan sampai ke empat tujuan dengan kondisi yang baik. Yang terjadi bisa jatuh, hancur, cacat bahkan tidak sampai pada tujuan.  Berbagai metode yang bisa digunakan dalam PAK di gereja. Namun sebaiknya metode yang digunakan mengajak peserta didik untuk berdialog, menyampaikan pendapatnya, perasaannya bahkan sarannya sehingga proses belajar adalah jalan bersama. Metode satu arah seperti ceramah, khotbah yang bersifat tradisional sebaiknya digunakan seperlunya, sehingga peserta didik tidak hanya mendengar dan menerima, berpusat pada guru dan peserta didik bagaikan tong kosong yang harus selalu diisi. 

                 Dalam pelaksanaan PAK di gereja tentu saja tidak selalu mulus prosesnya. Ada beberapa tantangan yang dihadapi gereja. Misalnya pelayan atau pengajar yang tidak mempunyai dasar pengetahuan yang baik (umumnya terjadi pada para pengajar di sekolah minggu yang bukan orang-orang berlatar belakang guru), pengajaran PAK yang tidak dipersiapkan dengan baik sehingga membuat isi pengajaran PAK tidak “mendarat” sesuai dengan yang diharapkan, isi PAK yang tidak memperhatikan konteks terutama budaya kita. Tantangan-tantangan ini perlu mendapat perbaikan dan pemikiran untuk merubah pelaksanaan PAK di gereja menjadi lebih baik dan efektif.
     
III.   Kesimpulan dan Penutup.
                 Gereja adalah persekutuan yang ajar mengajar, artinya gereja tidak lagi sebagai lembaga yang hanya mengajar, tetapi gereja mempersiapkan warganya juga untuk berpartisipasi secara aktif dalam mengajar, bahkan gereja pun selalu belajar untuk mencari tahu kebenaran Kristus dalam kehidupan.

                 Mengingat mengajar adalah perintah Tuhan Yesus, maka PAK adalah bagian dari tugas gereja yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan gereja. Untuk itu gereja perlu merancangkan, mempersiapkan dan melaksanakan PAK yang lebih baik dan menjawab kebutuhan jemaat, sehingga jemaat dapat mengalami pertumbuhan iman dan menghadapi kenyataan hidupnya dengan tuntunan kebenaran Firman Tuhan. 

                 Semua yang terlibat dalam proses pengajaran PAK, harus serius memikirkan dan menghasilkan pengajaran yang efektif, sehingga kebenaran Kristen benar-benar dapat diperjumpakan dengan setiap warga gereja yang menjadi peserta didiknya.    
                

IV.   Daftar Pustaka
Alkitab, Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2012
Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan : Kumpulan Karaga Seputar Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2011
Andar Ismail,  Selamat Menabur : 33 Renungan Tentang Didik Mendidik, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002.
E.G Homrighausen, I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2014.
 Iris V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009
 N.K. Atmadja Hadinoto, Dialog dan Edukasi : Keluarga Kristen Dalam Masyarakat Indonesia, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2012.


[1] Andar Ismail, Selamat Menabur : 33 Renungan Tentang Didik Mendidik, Jakarta : BPK Gunung 
     Mulia, 2002, hal. 91.
[2] N.K. Atmadja Hadinoto, Dialog Dan Edukasi : Keluarga Kristen Dalam Masyarakat Indonesia,  
     Jakarta :  BPK Gunung Mulia, hal. 276.
[3] Alkitab, Perjanjian Baru Matius 28 : 19 – 20,  Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2012, hal.40.
[4] N.K. Atmadja Hadinoto, Op.Cit, Hal. 292.
[5] E.G Homrighausen, I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2014, hal. 72.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.