I.
Pendahuluan
Gereja
hadir ditengah dunia untuk melaksanakan maksud dan kehendak Tuhan di tengah –
tengah dunia. Dalam rangka menyampaikan kehendak Tuhan, maka salah satu tugas
gereja adalah selalu belajar dan mengajar. Andar Ismail menjelaskan bahwa,
kehidupan gereja mula-mula bertumbuh dalam kegiatan belajar dan mengajar.[1] Jemaat
mula-mula berkumpul di satu tempat dan para rasul (kedua belas murid Yesus)
menyampaikan pengajarannya. Perkembangan gereja selanjutnya adalah dibentuknya
jabatan guru atau pengajar untuk memperlengkapi jemaat dalam melaksanakan
pelayanan bagi pembangunan tubuh Kristus (Efesus 4 :12). Tuhan Yesus juga
memberikan perintah melalui amanat agungNya, supaya murid-muridNya meneruskan
dan mengajarkan apa yang telah diajarkanNya kepada dunia. Ini berarti gereja
tidak bisa melepaskan tugas mengajar dari kehidupan pelayanan dan kesaksiannya.
Selain tiga tugas utama gereja, mengajar juga merupakan bagian didalamnya yang
menjadi kesatuan utuh dan tidak dapat dipisahkan.
II. Pelaksanaan PAK dalam
Gereja.
Berbicara
tentang pelaksanaan PAK di dalam gereja, maka ada beberapa hal perlu dibahas
yaitu menyangkut pengajar dan yang diajar, isi pengajaran, metode, konteks dan
tantangan yang dihadapi.
Gereja adalah persekutuan
orang-orang yang telah dikuduskan. Dalam diri orang – orang itu ada berbagai
karunia, yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan bersama iman jemaat. Itu
berarti karunia – karunia yang ada dalam jemaat harus ditonjolkan, sehingga
gereja menjadi suatu persekutuan yang belajar bersama. Dengan pemahaman ini gereja
memberi kesempatan kepada warganya untuk berpartisipasi aktif dalam persekutuan
dan kegiatan gereja. Pemahaman “gereja sentris” yang beranggapan bahwa usaha
PAK hanya dilakukan oleh gereja sebagai lembaga dapat dihindari.
Gereja bukan
sebagai lembaga yang hanya menggurui, menegur, menyiasati yang melanggar
ketentuan gereja dan yang mengatur dari atas, tetapi gereja lebih kepada
persekutuan yang ajar mengajar, yang memberikan tempat kepada warga gereja
untuk lebih berperan di dalamnya. Tugas mengajar dalam gereja tidak dilakukan
sepihak oleh pemangku jabatan gerejawi (diaken, penatua dan pendeta), namun
dalam rangka imamat am orang percaya dan berbagai karunia yang diterima oleh
warga gereja, maka pada dasarnya tiap orang dapat belajar dan mengajar dalam
persekutuan yang telah diperbaharui oleh Kristus.[2] Jemaat
bukan hanya obyek yang statis dari proses pembelajaran, tetapi juga subyek yang
dinamis. Pelayan-pelayan gereja adalah orang-orang yang dipilih khusus untuk
mendidik dan menggembalakan agar jemaat dapat berfungsi ajar mengajar sebagai persekutuan Kristen. Namun bukan
berarti peranan pelayan-pelayan gereja diabaikan begitu saja. Diaken, penatua
dan pendeta juga pelayan-pelayan khusus yang diangkat oleh jemaat tetap
mempunyai tanggung jawab yang penting dalam PAK. Khususnya peranan pendeta
sebagai seorang pelayan juga sebagai seorang guru, menuntutnya untuk dapat
menjadi seorang pengajar yang handal, yang dapat mentransfer isi Firman Tuhan lewat pengajarannya secara lisan
maupun melalui sikap hidupnya yang selalu harus menjadi teladan. Ini tidak
mudah. Pendeta juga harus melakukan latihan-latihan, sehingga ia dapat
menjalankan tugasnya dengan maksimal. Perlu difahami bahwa belajar adalah
proses seumur hidup, juga dalam gereja dalam memahami, memaknai dan melakukan
kehendak Tuhan.
Materi pembelajaran PAK yang
dilaksanakan oleh gereja pada intinya hendak menyampaikan Allah yang Maha
Kuasa, janji dan karya keselamatan Allah bagi manusia serta penyertaanNya dalam
hidup manusia melalui Roh Kudus[3] :
Karena itu
pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah
mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan
ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."
Materi
pembelajaran ini diberikan kepada warga gereja dalam berbagai wadah kategorial,
seperti sekolah minggu, persekutuan remaja, pemuda, kaum ibu, kaum bapak dan
kaum lansia, juga dalam ibadah-ibadah dalam jemaat, perkunjungan, katekisasi
dan lain sebagainya. Tentunya materi pembelajaran ini disesuaikan dengan usia
dan kelompok kategorial, dengan memperhatikan tahap –tahap perkembangan
manusia.
Materi
yang diberikan sebagai isi PAK di gereja juga harus memperhatikan konteks yang
ada, isu-isu yang sedang bergulir, budaya, masyarakat majemuk, pluralitas agama
di Indonesia, tantangan-tantangan modern, kemajuan ilmu pengetahuan dan
tekhnologi dan lain sebagainya. Konteks sangat perlu diperhitungkan, mengingat
PAK ada juga karena tuntutan konteks. Yesus
hadir di dunia dan juga melaksanakan PAK dalam konteks Yahudi. Isi PAK
yang disampaikan lebih mendarat, ketika Yesus juga Paulus (budaya Yunani)
memperhatikan dan memperhitungkan konteks yang ada. Pengajaran yang dilakukan
oleh Yesus dan Paulus tidak dapat dipisahkan dari konteks kehidupan yang
dialami. Ini menjadi acuan juga bagi gereja, untuk memperhitungkan konteks
dimana ia berada, sehingga PAK yang dilaksanakan benar- benar “mendarat.” Gereja
perlu memikirkan dan mengupayakan supaya pemberitaan Firman Allah menjadi
relevan dengan konteks yang ada pada masa kini, sehingga warga gereja dapat
menghadapi realitas hidupnya dengan berpedoman pada kebenaran Firman Allah.
Metode merupakan alat atau cara
yang membuat kebenaran Kristen disampaikan sedemikian rupa sehingga menjadi
efektif dalam perjumpaan seseorang dan usaha memahami masalah-masalah
kehidupan.[4]
Mengingat metode membuat penyampaian isi PAK lebih mudah, maka metode juga harus
dipersiapkan dengan baik.[5]
Masalahnya separuh
orang berpendapat bahwa metode kurang penting. Ada ahli teologi yang menyangka
bahwa ilmu teologi saja yang penting dan perlu dipelajari, soal metode tidak
begitu penting. Dan ada pula pendeta-pendeta yang tidak menaruh minat terhadap
cara –cara yang harus dipergunakan dalam berkhotbah atau mengajar.
Ini menjadi perhatian
penting bagi semua pelayan-pelayan gereja dalam pelaksanaan pengajaran PAK,
termasuk pendeta. Isi yang baik bila tidak menggunakan kendaraan yang baik,
tidak akan sampai ke empat tujuan dengan kondisi yang baik. Yang terjadi bisa
jatuh, hancur, cacat bahkan tidak sampai pada tujuan. Berbagai metode yang bisa digunakan dalam PAK
di gereja. Namun sebaiknya metode yang digunakan mengajak peserta didik untuk
berdialog, menyampaikan pendapatnya, perasaannya bahkan sarannya sehingga
proses belajar adalah jalan bersama. Metode satu arah seperti ceramah, khotbah
yang bersifat tradisional sebaiknya digunakan seperlunya, sehingga peserta
didik tidak hanya mendengar dan menerima, berpusat pada guru dan peserta didik
bagaikan tong kosong yang harus selalu diisi.
Dalam pelaksanaan PAK di gereja
tentu saja tidak selalu mulus prosesnya. Ada beberapa tantangan yang dihadapi
gereja. Misalnya pelayan atau pengajar yang tidak mempunyai dasar pengetahuan
yang baik (umumnya terjadi pada para pengajar di sekolah minggu yang bukan
orang-orang berlatar belakang guru), pengajaran PAK yang tidak dipersiapkan
dengan baik sehingga membuat isi pengajaran PAK tidak “mendarat” sesuai dengan
yang diharapkan, isi PAK yang tidak memperhatikan konteks terutama budaya kita.
Tantangan-tantangan ini perlu mendapat perbaikan dan pemikiran untuk merubah
pelaksanaan PAK di gereja menjadi lebih baik dan efektif.
III. Kesimpulan dan Penutup.
Gereja
adalah persekutuan yang ajar mengajar, artinya gereja tidak lagi sebagai
lembaga yang hanya mengajar, tetapi gereja mempersiapkan warganya juga untuk
berpartisipasi secara aktif dalam mengajar, bahkan gereja pun selalu belajar
untuk mencari tahu kebenaran Kristus dalam kehidupan.
Mengingat
mengajar adalah perintah Tuhan Yesus, maka PAK adalah bagian dari tugas gereja
yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan gereja. Untuk itu gereja perlu
merancangkan, mempersiapkan dan melaksanakan PAK yang lebih baik dan menjawab
kebutuhan jemaat, sehingga jemaat dapat mengalami pertumbuhan iman dan
menghadapi kenyataan hidupnya dengan tuntunan kebenaran Firman Tuhan.
Semua yang terlibat dalam
proses pengajaran PAK, harus serius memikirkan dan menghasilkan pengajaran yang
efektif, sehingga kebenaran Kristen benar-benar dapat diperjumpakan dengan
setiap warga gereja yang menjadi peserta didiknya.
IV. Daftar Pustaka
Alkitab,
Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia, 2012
Andar Ismail, Ajarlah Mereka Melakukan : Kumpulan Karaga
Seputar Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2011
Andar Ismail, Selamat Menabur : 33 Renungan Tentang Didik
Mendidik, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2002.
E.G Homrighausen, I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK
Gunung Mulia, 2014.
Iris V. Cully, Dinamika Pendidikan Kristen, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009
N.K. Atmadja Hadinoto, Dialog dan Edukasi : Keluarga Kristen Dalam
Masyarakat Indonesia, Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2012.
[1] Andar Ismail, Selamat Menabur :
33 Renungan Tentang Didik Mendidik, Jakarta : BPK Gunung
Mulia, 2002, hal.
91.
[2] N.K. Atmadja Hadinoto, Dialog
Dan Edukasi : Keluarga Kristen Dalam Masyarakat Indonesia,
Jakarta : BPK Gunung Mulia, hal. 276.
[3] Alkitab, Perjanjian Baru Matius
28 : 19 – 20, Jakarta : Lembaga
Alkitab Indonesia, 2012, hal.40.
[4] N.K. Atmadja Hadinoto, Op.Cit,
Hal. 292.
[5] E.G Homrighausen, I.H. Enklaar, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta : BPK
Gunung Mulia, 2014, hal. 72.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.