3 Pilar

3 Pilar

Rabu, 01 April 2020

IMAN & PERTOBATAN


I.    PENDAHULUAN
            Iman  merupakan  hal  yang  sangat  penting  bagi  orang  Kristen.  Pada perspektif umum
terdapat suatu deskripsi yang sifatnya negatif atas hubungan  iman  dan  pertobatan. Untuk  itu  perlu diuraikan  dibicarakan suatu  pandangan  yang  positif  mengenai  hubungan  iman  dan  pertobatan dari  perspektif  Alkitab  sebagai  firman  Allah  tanpa  salah  menempati posisi  yang sangat  penting  dalam  kehidupan  orang  Kristen. Tujuan dari  pembahasan tulisan ini  adalah    untuk melihat  secara komprehensip  bahwa  Alkitab  Perjanjian  Lama dan  Perjanjian Baru mengajarkan  konsep  mengenai  hubungan  keseimbangan dan  keserasian  antara  iman  dan  pertobatan. 

A.   Iman
            Etimologi kata “iman” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI offline): kepercayaan (yang berkenaan dengan agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya: - tidak akan bertentangan dengan ilmu; ketetapan hati; keteguhan batin; keseimbangan batin. Sedangkan menurut pandangan Kristen, istilah kata iman memilki makna  Pistis (Yunani: πίστιν) yang berarti adalah rasa percaya kepada Tuhan.[1]  Kata “iman” sering dimaknai "percaya" (kata sifat) dan tidak jarang juga diartikan sebagai kepercayaan (kata benda). Alkitab Terjemahan Baru (TB) mencatat kata "iman" sebanyak 155 kali. Menurut Paulus, "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1).
            Ἔστιν δὲ πίστις ἐλπιζομένων ὑπόστασις, πραγμάτων ἔλεγχος ou οὐ
                “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita       
                lihat.” (Ibrani 11:1)

            Kata "iman" dengan  kata kerjanya "percaya" sering muncul dalam Alkitab, dan memang merupakan istilah penting yang menggambarkan hubungan antara umat  atau  seseorang  dengan Allah. Di bawah ini akan ditinjau secara singkat  makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata “iman” yang dipakai dalam Perjanjian Baru merupakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja­nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuo – percaya kepada, mempercayakan  kepada). Kata aman dan pistiteuo mengandung pengertian menyerah kepada sesuatu atau seseorang yang  bersifat  tetap atau teguh. Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani: emunah dan kata kerjanya adalah aman, yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk menyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Percaya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepada-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima  apa yang sudah difirmankan-Nya itu.        

           Bila kita memeriksa Alkitab, dapat dijumpai banyak kata iman. Masing-masingmemiliki pengertian yang berbeda-beda dan dalam konteks yang berbeda. Dari teks-teks yang terdapat dalam Alkitab yang berbicara mengenai iman dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat tiga jenis iman. Jenis-jenis iman itu antara lain:

            Pertama, iman keyakinan. Iman yang bertalian dengan keyakinan atau harapan terhadap sesuatu yang bisa terjadi dan terwujud bila diyakini atau diharapkan dengan kuat. Kisah tersebut bisa dilihat ketika Tuhan Yesus menjamah mata ortang buta sambil berkata: “Jadilah kepadamu menurut imanmu (Matius 9:29), kisah perempuan yang pendarahan 12 tahun dengan imannya, ia menjamah jubah Tuhan Yesus, seketika itu ia menjadi sembuh (Matius 9:21-22). Tuhan Yesus juga memuji iman seorang perwira  Romawi di Kapernaum yang meyakini kuasa Tuhan Yesus. Ia percaya jika Tuhan Yesus mengucapkan sepatah kata maka hambanya yang sakit akan sembuh (Matius 8:10). Realitanya, iman ini banyak ditekankan dan diajarkan kepada banyak orang Kristen dewasa ini secara berlebihan tanpa melihat konteks ayat dan secara berlebihan tidak secara proposional. Seolah-olah dengan iman itu manusia bisa meraih apapun yang diingininya.

            Kedua, iman persetujuan pikiran. Iman jenis ini bertalian dengan persetujuan pikiran yaitu menerima sesuatu sebagai suatu kebenaran atau kebaikan. Hal ini bisa juga disebut sebagai pengaminan akali. Banyak orang yang memiliki keyakinan agama sejak kecil karena pengaruh keluarga dan lingkungannya. Mereka belum memahami bahkan tidak tahu sama sekali apa yang dipercayainya. Oleh karena orang tua dan lingkungan mengatakan demikian, maka ia mengikut saja. Iman seperti ini belumlah iman yang menyelamatkan. Iman adalah suatu tindakan. Jadi, bila seseorang mengaku beriman tetapi tidak ada tindakan yang menunjukkan imannya, berarti ia pembohong (Yakobus 2:17-18) Banyak orang Kristen berpindah agama sebab mereka tidak mengenal kebenaran Alkitab. Mereka merasa telah memilki iman tetapi tidak mengenal apa dan siapa yang diimaninya. Ini berarti iman yang palsu.

            Ketiga, iman keselamatan. Iman jenis ini adalah iman yang bertalian dengan keselamatan. Iman ini lebih berkualitas disbanding iman jenis pertama dan kedua. Iman disini bukan sekedar pengaminan akali atau persetujuan pikiran, tetapi berupa tindakan konkret. Dalam memahami kata iman menurut Alkitab perlu dipahami dan diperhatikan bukan saja aspek, kepercayaan secara pikiran atau persetujuan secara pikiran, ini disebut pula keyakinan akali atau pengaminan akali, tetapi juga aspek hubungan antara umat yang percaya dan Allah yang dipercayai. Kalua iman hanya dikaitkan dengan keyakinan akali atau persetujuan pikiran (sesuai dengan pengertian kata itu sendiri secara etimologi), maka belumlah dapat mencakup pengertian iman secara lengkap.
            Banyak orang merasa sudah beriman hanya karena percaya bahwa Tuhan itu ada. Kepercayaan seperti ini bukanlah iman yang benar, sebab kalua hanya kepercayaan berangkat dari persetujuan pikiran bahwa Allah itu ada, maka setanpun percaya kepada Tuhan dan gemetar (Yakobus 2:19).[2]        

            Jadi apakah iman itu? Pada hakekatnya iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Iman dimulai dengan kesediaan bukan saja mengakui bahwa Ia (Tuhan Yesus Kristus) datang dari Allah, seperti pengakuan Nikodemus (Yohanes 3:2), tetapi bersedia menanggalkan segala filosofi hidup serta segala keinginannya, kemudian menuruti kehendak-Nya. 

B.   Pertobatan
             Pertobatan mengandung arti bahwa seseorang berpaling dari yang jahat serta memalingkan hati dan kehendaknya kepada Allah, tunduk pada perintah-perintah dan hasrat Allah serta meninggalkan dosa. Pertobatan sejati datang dari kasih bagi Allah dan hasrat yang tulus untuk mematuhi perintah-perintah-Nya. Semua orang yang bertanggung jawab telah berdosa dan mesti bertobat supaya maju menuju keselamatan. Hanya melalui pendamaian Yesus Kristus pertobatan kita dapat menjadi berdampak dan diterima oleh Allah. Perubahan pikiran dan hati yang membawa sikap yang baru terhadap Allah, diri sendiri, dan kehidupan secara umum. Pertobatan adalah karunia Allah, namun juga manusia mengerjakan bagian untuk mau bertindak dalam berubah kearah pertobatan dari segala yang menyimpang dan tidak berkenan kepada Allah. Siapakah yang dipanggil untuk bertobat?
            “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Lukas 5:32)
             "Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus                  
             untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.Jawabmereka: "Percayalah   
             kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." (Kisahl 2:38;16:31)

            Jadi apa yang dimaksud dengan pertobatan? Pengertian pertobatan ialah pembaharuan hidup sehingga kembali kepada Tuhan. Perubahan total sehingga yang lama ditinggalkan. Pemberitaan Yesus yang pertama berbunyi:
            "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 4:17). 

         Pada waktu seseorang menjawab panggilan Allah, saat itu dikenang sebagai pengalaman pertobatan. Hal tersebut ditandai dengan perubahan cara hidup. Dalam Perjanjian Baru,  pertobatan diikuti dengan baptisan; seperti yang terjadi pada kepala penjara Filipi dan keluarganya (Kisah 16). Dalam Perjanjian Baru pertobatan itu diberitakan oleh Yohanes Pembaptis (Matius 3:9-10) dan harus disahkan oleh baptisan. Seruan itu diulangi Yesus (Lukas 5:32) dan sesekali juga oleh Paulus (Roma. 2:4), dan lagi dalam Wahyu. 2:5.
           
            1.  Menurut Perjanjian Lama
            Dalam Perjanjian Lama, pertobatan dari kata “tobat”, dalam teks Bahasa Ibrani terdapat dua kata yang memiliki pengertian “tobat” yaitu naham dan shubh. Kata naham berarti menarik nafas panjang (to sigh). Kata naham juga berarti mengerang atau merintih (to groan) atau meratap (to lament). Kata naham menyiratkan suatu duka yang sangat mendalam. Kata naham juga sering diterjemahkan menyesal atau bertobat, ditulis 40 kali dalam Alkitab.  

            Sedangkan kata shubh berarti berbalik atau berganti arah. Kata ini secara scriptural telah menunjuk kepada pertobatan sejati, maknanya lebih kuat dari naham. Kata shubh secara ekstensif (meluas) digunakan para para nabi sebagai seruan agar umat Tuhan melakukan perubahan secara radikal dengan berbalik meninggalkan dosa dan masuk ke dalam persekutuan dengan Tuhan dengan meninggalkan praktek sinkretismenya. Mengacu kepada tindakan berbalik dari dosa kita terhadap Allah. Dalam Yeremia 3:14 diterjemahkan "kembalilah", dalam Mazmur 78:34 "berbalik", Mengacu kepada tindakan berbalik dari dosa kepada Allah. Dalam Yeremia 3:14 diterjemahkan “kembalilah”, dalam Mazmur 78:34 “berbalik”.

            Istilah kata ini merupakan serapan dari bahasa Arab yang menurut Kamus Bahasa Indonesia: sadar dari dosa dan tak akan mengulanginya lagi (kata kerja); kembali ke jalan yang benar, kembali ke jalan agama; menyesali perbuatannya, sedangkan bertobat adalah: menyesal dan berniat hendak memperbaiki perbuatan (perilakunya); kembali kepada Tuhan atau agama (jalan) yang benar. 

            Sedangkan dalam Perjanjian Baru, istilah kata ini berarti μετανοια - yang juga berarti metanoia (pertobatan, repentance, a change of mind, as it appears to one who repents, of a purpose he has formed or of something he has done). Berasal dari kata μετανοεω - metanoeô :
1) to change one's mind, i.e. to repent;
2) to change one's mind for better, heartily to amend with abhorrence of one's past sins, tobat.

            Adalah hal yang sangat penting untuk bisa membedakan pertobatan menurut Perjanjian Baru  yaitu  untuk  orang  baru  pada  jaman  anugerah  (jaman Tuhan Yesus)  dengan  pertobatan menurut Perjanjian Lama untuk Bangsa Israel. Pertobatan antara dua umat pilihan ini tidak sama. Bagi orang Israel di Perjanjian Lama, pertobatan pada umumnya menyangkut dua aspek antara lain: pertama, perubahan tingkah laku atau perbuatan. Kehidupan umat yang meninggalkan  Torat, hidup dalam tingkah laku yang tidak menuruti hokum Torat kembali kepada kehidupan sesuai sesuai dengan hokum Torat. Pertobaran ini pertobatan moral. Pertobatan seperti ini juga dimiliki oleh agama-agama pada umumnya. Kedua, kesediaan meninggalkan praktek sinkritismenya (mencampurkan atau menggabungkan beberapa agama atau keyakinan). Kehidupan umat yang meninggalkan ibadah  kepada Yahwe, kembali  beribadah  kepada Yahwe.[3]

            Konsep pertobatan bangsa Israel pada jaman Perjanjian Lama ternyata juga terdapat pada agama di dunia. Pertobatan semacam ini masih bisa digolongkan pertobatan menurut konsep umum. Bedanya untuk bangsa Israel, pertobatan mereka memiliki keistimewaan, sebab mereka memilki Allah Yahwe dan Torat yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Pada intinya pertobatan menurut konsep umum adalah meninggalkan perbuatan yang melanggar norma yang diberlakukan dan mulai atau kembali beribadah kepada allah atau dewa yang diyakini sebagai allah atau dewa yang benar. Sering pula dikatakan sebagai suatu pertobatan, yaitu ketika seorang yang memeluk suatu agama berpindah ke suatu agama lain yang diyakini benar. Sebaliknya, kelompok orang yang menganut agama yang ditinggalkan tersebut akan menganggap anggota mereka yang berpindah agama lain sebagai tindakan murtad. Jika pertobatan hanyalah sekedar tindakan berbalik kepada Tuhan supaya Tuhan memulihkan ekonominya, menyembuhkan penyakitnya atau memberi pertolongan dari problem hidup yang lain, maka pertobatan seperti ini adalah pertobatan palsu. Pada kenyataannya, pertobatan seperti inilah yang ditawarkan kepada banyak orang hari ini, juga di dalam gereja.       
   
           Dalam Perjanjian Lama kita menemukan beberapa kisah yang berkaitan dengan hal disorientasi ini. Kisah-kisah itu antara lain kehidupan Lot dan keluarganya (Kejadian 19:1-29). Istri Lot tidak fokus melarikan diri dari Sodom dan Gomora. Keselamatan yang disediakan Allah atas hidupnya gagal terwujud. Ia terpengaruh dengan keindahan yang ada dibelakangnya (keindahan dunia) daripada ia hars fokus berlari kedepan meninggalkan keindahan dan kenikmatan dunia. Hal ini bila dapat dihubungkan sama seperti prinsip Rasul Paulus: “…aku melupakan apa yang ada dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Yesus Kristus” (Filipi 3:13-14). Dalam pernyataannya ini menunjukkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas. Oleh sebab itu, langkah yang harus dilakukan orang percaya adalah memberi diri mengikuti segala jalan yang ditunjukkan-Nya.

            2.  Menurut Perjanjian Baru
            Kata  μετανοεω - metanoeô  dari  kata  μετα - meta  (after,  setelah)  dan  νοιεω - noieô;
1) to perceive with the mind, to understand, to have understanding;
2) to think upon, heed, ponder, consider) sehingga kata ini bermakna: to think differently or afterwards, i.e. reconsider (morally, feel compunction): - repent.
Dan hasil pertobatan adalah "metanoia" (perubahan pola pikir). Jadi bila pola pikir seseorang tidak berubah, maka masih sama dengan pola pikir yang lama, berarti ia belum bertobat. 

            Kata tersebut muncul dalam Perjanjian Baru kurang lebih 58 kali dan selalu diterjemahkan "bertobat"; kecuali dalam Lukas 17:3 (menyesal) dan Ibrani 12:17 (memperbaiki kesalahan). Arti asasi kedua kata diatas ialah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang samasekali berubah, putar balik dari dosa kepada Allah dan pengabdian kepadaNya. Inilah yang terungkap dalam perangai atau perilaku seseorang sebagai dampak dari karya Roh Kudus yang melahirkan kembali orang itu. 

            Bila seseorang memiliki keselamatan dalam dirinya, maka ia menunjukkan buah pertobatan dan kelahiran barunya dengan pelayanan yang benar kepada Tuhan. Pembaharuan pikiran merupakan proses yang mutlak harus terjadi dalam pertobatan sejati. Pertobatan itu sendiri adalah pembaharuan pikiran (metanoia). Pembaharuan pikiran ini membutuhkan sarana Firman Tuhan. Manusia hidup bukan hanya dari roti tetapi juga dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah (Matius 4:4).

II.        Persfektif Iman dan Pertobatan menurut Injil
            Bila kita melihat terjemahan Injil Lukas 8:25, maka kita akan melihat arti iman menurut Kristen:
            εἶπε δὲ αὐτοῖς· Ποῦ ἐστιν ἡ πίστις ὑμῶν; φοβηθέντες δὲ ἐθαύμασαν λέγοντες πρὸς ἀλλήλους· Τίς ἄρα          οὗτός  ἐστιν, ὅτι καὶ τοῖς ἀνέμοις ἐπιτάσσει καὶ τῷ ὕδατι, καὶ ὑπακούουσιν αὐτῷ;
                Lalu kata-Nya kepada mereka: "Di manakah kepercayaanmu?" Maka takutlah mereka dan heran, lalu         berkata seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya?". (TB)
Dari terjemahan di atas, maka kata "Iman" menurut kepercayaan Kristen dapat dimaknai sebagai "percaya".   Perintah   untuk   beriman   kepada   Yesus   merupakan   inti   dari   Injil,  dan sudah
dikumandangkan sejak semula. Tuhan Yesus sendiri memulai pelayanan-Nya dengan menekankan tanggung jawab ini: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15). Ia juga berkata, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.” Ini adalah perintah (Kata “percaya” (pisteuo), muncul 13 kali dalam Perjanjian Baru dalam bentuk perintah (Imperative).

            J.  Wesley  Brill  mengatakan  bahwa  “Iman  sangat  penting bagi  orang  Kristen  (Ibrani  11:6).  Sebab  Tuhan  Yesus  mengutamakan dan menuntut iman dalam hati orang-orang yang percaya akan Dia; dan  iman  selalu  dihargai-Nya.”[4] Demikianpun juga yang disampaikan oleh Chris  Marantika  juga  menegaskan bahwa   “Iman   adalah   elemen   atau   unsur   positif   dari   berpaling (konversi)  kepada  Kristus.  Sesudah  perubahan  pikiran,  perasaan, dan  tujuan  hidup,  maka  iman  kepada  Kristus  barulah  benar-benar bermanfaat.”[5]
 
            Menurut Bucer dari sudut pandang atau perspektif iman bahwa “hanya firman Allah yang membuat kita menjadi sehat dan bahagia. Firman Allah yang mengaruniakan iman, iman mengaruniakan kasih, dan kasih mengaruniakan perbuatan baik kepada kita. Dari perbuatan baik menyusul “warisan yang abadi”, yaitu suatu suatu kehidupan yang melulu terdiri dari kebahagiaan ilahi”.[6]   

           Sedangkan menurut Calvin melihat perbuatan baik dari suatu perspektif yang lain, yaitu “tujuan akhir” dari jalan keselamatan, dari kebahagian yang  telah Allah sediakan bagi orang-orang yang telah terpilih.[7] Jadi menurut Calvin bahwa perbuatan baik dari bentuk wujud iman/ implementasi iman tersebut tertuang dalam perbuatan baik walau itu semua merupakan bagian yang telah ditentukan sejak semula dari bagian predistinasi. Dalam hal ini penulis tidak sepakat dan sependapat dengan pandangan Calvin sebab bila berbicara tentang keselamatan itu merupakan anugerah Allah yang diberikan bagi semua umat melalui kematian-Nya di Golgota dan anugerah itu harus sebagai anugerah dalam kehendak bebas yang manusia harus responi dan jalani sebagai bentuk iman dan ketaatannya kepada Dia, Kristus Tuhan. 

            Alkitab mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh - mati (Yak. 2:26). Sekarang, perbuatan apakah yang ada pada kita yang menunjukkan iman kita? Bila tidak ada tindakan, itu berarti tidak ada iman. Harga iman yang murni itu sangat mahal. Penyesatan yang terjadi saat ini yang sering dijumpai dalam diri orang-orang Kristen merupakan penipuan dari kuasa setan, yang membuat orang merasa sudah memiliki iman yang mahal hanya karena sudah tahu banyak firman, rajin datang ke gereja dan ikut melayani di gereja. Di sini iman dihargai sangat murah. Sedangkan iman yang benar dan mahal itu dihargai lewat seluruh aspek kehidupan yang dipertaruhkan untuk Tuhan. Ringkasnya, harga iman yang benar dan mahal adalah melakukan kehendak Bapa dalam keseharian. Umat percaya banyak ditipu oleh pemahaman bahwa menjadi kristen sudah otomatis menjadi pengikut Krsitus, akibat dari pemahaman ini adalah, umat terjebak ke dalam kegiatankegiatan agamawi saja. Mengikut Tuhan telah digantikan dengan rajin mengikuti kegiatan gerejawi, aktif dalam kegiatan persekutuan-persekutaun doa dan sebagainya sehingga lupa tugas pokok panggilan sebagai pengikut Kristus yaitu sempurna seperti Bapa (Mat.5:48). Mengapa harus sempurna? Karena Bapa yang disurga adalah sempurna. 

            Apa yang dimaksud sempurna? Dalam teks Yunani kata sempurna menggunakan kata τέλειος, teleios yang berarti lengkap, dewasa secara mental, moral dan karakter. Tidak ada orang tua di muka bumi ini yang menyerahkan perusahaanya kepada anak yang tidak siap memimpin, oleh karena itu segala upaya dilakukan untuk mendewasakannya. Mulai dari makan, kesehatan dan pendidikannya pasti dipersiapkan dengan baik. Apalagi Bapa yang di surga, kerajaan-Nya bukanlah negeri korup yang bisa disuap, segala sesuatunya sempurna, tentunya Ia menghendaki anak-anak-Nya pun sempurna dan Tuhan Yesus - lah rujukannya.[8]
                       
            Dalam Calvinisme terdapat ajaran tentang predestinasi. Calvin mengajarkan bahwa sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, bahkan sebelum penciptaan, Allah telah menetapkan beberapa orang untuk memperoleh keselamatan dan yang lainnya untuk memperoleh penghukuman. Pokok ajaran ini membawa banyak perdebatan dan perbedaan pandangan di kalangan Calvinis sendiri, serta mengakibatkan perpecahan-perpecahan dalam kalangan Calvinis.

            Bicara mengenai iman dan pertobatan berarti berkenaan dengan keselamatan. Dengan ditempatkannya predestinasi di bawah topik keselamatan, Calvin ingin menunjukkan bahwa predestinasi pun merupakan bagian dari berkat-berkat yang diperoleh orang-orang percaya di dalam Kristus.  Pengertian  ini  tidak bisa diabaikan begitu saja. Itu sebabnya, sekalipun faktanya
doktrin predestinasi mengandung "labyrinth" yang tak terselami sebagai bagian dari wahyu Allah, Calvin percaya bahwa predestinasi adalah "very sweet fruit", atau sesuatu yang sangat bermanfaat bagi orang percaya.[9]  

            Calvin yakin sepenuhnya berdasarkan Alkitab bahwa kehendak Allah sebagai dasar utama keselamatan harus ditegakkan.[10] Kepentingannya adalah sebagai jaminan keselamatan, yaitu bahwa keselamatan bukan berdasarkan perbuatan baik kita, melainkan sepenuhnya karena kemurahan Allah. Masalahnya, jika kebebasan manusia memiliki peran yang signifikan dalam hal keselamatan, keselamatan menjadi sesuatu yang tidak pasti. Sebab, apa standarnya? Sampai batas mana manusia harus melakukan kebaikan? Belum lagi adanya realitas dosa yang sangat serius dalam diri manusia. Namun, jika keselamatan bergantung pada ketetapan Allah sendiri, tidak ada hal apa pun juga di bumi maupun di surga yang bisa membatalkan ketetapan Allah tersebut.

            Keyakinan Calvin bahwa manusia tidak mungkin sanggup mendaki secara langsung ke dalam misteri ketetapan kekal Allah. Namun, terdorong oleh panggilan untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa pemilihan kekal Allah merupakan jaminan keselamatan manusia dan bukan sebagai problem metafisika, maka berikutnya ia berusaha untuk tidak secara langsung menarik hubungan  antara  apa  yang  terjadi  di dalam  kekekalan  (eternity) dan keselamatan yang terjadi
pada manusia di dalam dunia ini (temporal). Artinya, ia tidak ingin terjebak di dalam silogisme: "Karena aku dipilih, maka aku diselamatkan". Sekalipun secara ontologi kalimat ini pasti ia setujui, tetapi ia memandang hal itu berbahaya.

            Ia lebih mengarahkan argumentasi kepada keberadaan Yesus Kristus, yang adalah Allah sekaligus Manusia, sebagai titik temu antara apa yang terjadi di dalam kekekalan dan keselamatan yang dialami oleh manusia. Di sinilah, terjadi interpenetrasi antara paham tentang Kristus dan predestinasi. Mengarahkan iman kepada Kristus di sini memiliki makna yang sangat dalam, sebab berarti kita bukan sekadar "believe in Him" (Yohanes 3:16), tetapi lebih dari itu, kita percaya:
1.  Kepada Yesus Kristus sebagai dasar pilihan Allah di dalam kekekalan, yang sekaligus  
     merupakan jaminan kekal yang tak tergoyahkan (Efesus 1:4-6);
2)  Kristus di dalam sejarah, menyatakan pemilihan kita oleh Allah di dalam kekekalan (Efesus  
     1:7-9);
3)  Kristus menyingkapkan tujuan pemilihan Allah, yaitu menjadi serupa dengan Kristus (Roma
     8:29), mengenakan Kristus sebagai perlengkapan senjata terang (Roma 13:14), dan
     bertumbuh ke arah Kristus (Efesus 4:15). 

            Hal yang terakhir ini menurut Calvin, sekaligus merupakan panggilan bagi setiap orang percaya untuk memiliki ketekunan dan hidup yang kudus. Melalui "union with Christ" inilah, kita juga akan dibawa kepada jaminan keselamatan yang berdasarkan pada pemilihan kekal Allah.

            Dalam keKristenan, pengertian pertobatan tidaklah sama dengan konsep pertobatan menurut bangsa Israel atau umat Perjanjian Lama dan agama-agama pada umumnya. Pertobatan dalam keKristenan adalah perubahan yang didorong oleh kesadaran moral, tetapi juga meliputi pemahaman hidup secara menyeluruh (ekstensif).

            Pertobatan adalah sesuatu yang berlangsung terus sepanjang hidup. Mengapa? Sebab pertobatan adalah perubahan pikiran, oleh sebab itu setiap kali pikiran diperbaharui (Yunani: Metamorphouste) atau dicerahi mengenal kebenaran dan ia mau berubah pikiran atau berbalik, maka ia mengalami pertobatan (baca Roma 12:2). Jadi setiap kali pikiran dibukakan untuk mengenal kebenaran, maka ia harus bersedia berubah untuk hidup sesuai dengan kebenaran itu. 

            Jadi bila seseorang tidak mengalami pembaharuan cara berpikir setelah mendengar dan mngenal Kebenarn, maka ia belum masuk dalam rancangan keselamatan. Keselamatan adalah suatu anugerah yang harus direspon oleh manusia untuk dikerjakan setalah ia mendengar Injil (Kebenaran) dan timbul iman melalui itu serta dalam kehendak bebasnya ia melakukan/melaksanakan Kebenaran itu sebagai bagian mengerjakan keselamatannya. 

            Pertobatan yang sejati dikerjakan melalui iman oelh Firman Tuhan yang ia dengar. Namun pertobatan yang sejati adalah pembaharuan pikiran yang berdampak seseorang tidak sama dengan dunia (Roma 12:2). Serupa dalam teks aslinya suschematizo yang berarti to fashion alike atau conform to the same pattern, conform to fashionself according to. Oleh sebab itu dalam terjemahan bahasa Inggris versi King James diterjemahkan And be not conformed to this world. Banyak orang tidak mengenali diri dengan benar sebab ia tidak peduli bagaimana dirinya dipemandangan Tuhan. Ia lebih peduli bagaimana orang memandang dirinya, reputasi, nama baik, penampilan lahiriah yang diperani oleh perhiasan yang menempel ditubuh, baju yang dikenakan, kendaraan sampai tindak tanduk yang ditampilkan di depan umum. Bila mereka tidak berubah berarti tidak bertobat. 

            Tidak serupa dengan dunia ini harus dipahami dengan benar. Tidak serupa di sini yang terutama bukan pada penampilan lahiriahnya. Tetapi “pikiran”nya atau “budi”nya. Dalam teks aslinya adalah nous, yang diterjemahkan mind juga diterjemahkan understanding (pengertian). Bertalian dengan hal ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa pikiran Petrus yang tidak sesuai dengan pikiran Allah adalah dari setan (Matius 16:21-23). Petrus berkatademikian, seba ia berpikir sama seperti orang-orang Yahudi berpikir. Petrus pikir mengikuti suara terbanyak adalah yang terbaik. Dunia ini telah cemar, suara terbanyak atau gaya hidup kebanyakan manusia pada umumnya, bukanlah ukuran kebenaran. Paulus menyebutkan sebagai “pengertian yang gelap” (Efesus 4:18  dianonia ontes apellotriomenoi;  the understanding being alienated – pengertian yang asing atau pikiran asing).

 III.       KESIMPULAN
            Jadi iman yang sejati adalah iman yang bertumpu pada keyakinan bahwa semua yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dan dialami atau yang Tuhan kerjakan adalah yang terbaik. Ini berarti seseorang yang memiliki iman yang sejati tidak akan bersungut-sungut di dalam segala keadaan. Ia tidak akan memaksakan  kehendaknya kepada Tuhan. Ia akan tetap mempercayai pribadi Allah walaupun keadaannya tidak memuaskan hatinya. Ia tetap mempercayai Tuhan sekalipun doanya tidak dikabulkan-Nya.
            Iman yang sejati telah ditunjukkan Tuhan Yesus melalui pergumulan-Nya di taman Getsemani dengan pengakuan: “…janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki” (Matius 26:39-44). Disini Tuhan Yeus menunjukkan ketaatan-Nya sebagai seorang Anak. Tuhan Yesus dapat memuaskan hati Bapa oleh ketaatan-Nya. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Ia yang membawa iman kita kepada kesempurnaan (Ibrani 12:1-3).
            Seorang yang telah menyesal belum tentu bertobat, kata menyesal lebih bersifat umum. Tetapi pertobatan lebih lebih menunjukkan perubahan pikiran (metanoia). Kata ini terbentuk dari dua kata yaitu meta yang artinya “berubah” (change) dan neous yan artinya “pikiran” (mind). Jadi metanoia berarti perubahan pikiran. Kata inilah yang yang sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan seseorang yang ditandai dengan perubahan pikiran. Kata metanoia lebih sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan yang sejati. Kata ini sejajar dengan kata shubh dalam teks Ibrani.
                    

KEPUSTAKAAN
LAI, Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, LAI, Jakarta: 2007
Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan        kristis terhadap masalah-masalahnya, Jakarta: BPK Gunung Mulia: 2008. ISBN   9789794159219.
Pdt Bambang Subandrijo, Bahan Ajar MK Kolloquium PB, Prodi S2 M.PAK, UKI: 2016
Donald Guthrie, Theologi Perjanjian Baru 1, 2, 3; Allah, Manusia, Kristus, BPK Gunung Mulia,             Jakarta: 1993 
John Drane. Introducing the New Testament, Memahami Perjanjian Baru: Pengantar historis-     teologis, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2005. ISBN 9794159050.
Dr. Erastus Sabdono, Diktat: Keselamatan, Sekretariat Pusat Rehobot Ministry, Jakarta: 2015
Dr. J.L.Ch. Abineno, Bucer dan Calvin: Suatu Perbandingan Singkat, BPK Gunung Mulia,             Jakarta:2016.  ISBN 9796873141



[1]  http://alkitab.sabda.org/strong.php?id=4102
[2]  Yakobus 2:19, artinya, setan pun percaya bahwa  Allah ada  bahkan  ketakutan  namun  setan    
      tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan, bahkan setan memposisikan diri sebagai  
      musuh. Dalam hal ini setan bukan pribadi yang bisa dikatakan beriman kepada Tuhan walau ia 
      percaya Allah itu ada.
[3]  Erastus Sabdono, Diktat: Keselamatan, Sekretariat Pusat Rehobot Ministry, Jakarta: 2015
[4]  J. Wesley Brill, Dasar yang Teguh, Kalam Hidup, Bandung:1992. Hal. 213.
[5]  Chris Marantika, Doktrin Keselamatan dan Kehidupan Rohani, Iman Press, Yogyakarta:2002.      
      Hal. 89.
[6]  J.L.Ch. Abineno, Bucer dan Calvin: suatu Perbandingan Singkat, BPK Gunung Mulia,  
      Jakarta:2016. Hal. 73.
[7]  Ibid.
[8]  Erastus Sabdono, Diktat: Keselamatan, Sekretariat Pusat Rehobot Ministry, Jakarta: 2015
[9]  A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang dan Randy Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam Sejarah  
      Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2009.
[10]  Buku III "Institutes".xxi.1. (1559)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.