I. PENDAHULUAN
Iman
merupakan hal yang
sangat penting bagi
orang Kristen. Pada perspektif umum
terdapat
suatu deskripsi yang sifatnya negatif atas hubungan iman
dan pertobatan. Untuk itu
perlu diuraikan dibicarakan
suatu pandangan yang
positif mengenai hubungan
iman dan pertobatan dari perspektif
Alkitab sebagai firman
Allah tanpa salah
menempati posisi yang sangat penting
dalam kehidupan orang
Kristen. Tujuan dari pembahasan
tulisan ini adalah untuk melihat secara komprehensip bahwa
Alkitab Perjanjian Lama dan
Perjanjian Baru mengajarkan
konsep mengenai hubungan
keseimbangan dan keserasian antara
iman dan pertobatan.
A.
Iman
Etimologi kata “iman” dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia (KBBI offline): kepercayaan (yang berkenaan dengan
agama); keyakinan dan kepercayaan kepada Allah, nabi, kitab, dan sebagainya: -
tidak akan bertentangan dengan ilmu; ketetapan hati; keteguhan batin;
keseimbangan batin. Sedangkan menurut pandangan Kristen, istilah kata iman
memilki makna Pistis (Yunani: πίστιν) yang berarti adalah rasa percaya kepada
Tuhan.[1] Kata “iman” sering dimaknai
"percaya" (kata sifat) dan tidak jarang juga diartikan sebagai
kepercayaan (kata benda). Alkitab Terjemahan Baru (TB) mencatat kata
"iman" sebanyak 155 kali. Menurut Paulus, "Iman adalah dasar
dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak
kita lihat" (Ibrani 11:1).
Ἔστιν δὲ πίστις ἐλπιζομένων ὑπόστασις,
πραγμάτων ἔλεγχος ou οὐ
“Iman
adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala
sesuatu yang tidak kita
lihat.” (Ibrani
11:1)
Kata "iman" dengan kata kerjanya "percaya" sering
muncul dalam Alkitab, dan memang merupakan istilah penting yang menggambarkan
hubungan antara umat atau seseorang
dengan Allah. Di bawah ini akan ditinjau secara singkat makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya
dalam Perjanjian Baru. Kata “iman” yang dipakai dalam Perjanjian Baru merupakan
terjemahan dari kata Yunani πίστις
(pistis), sedangkan kata kerjanya "percaya" adalah terjemahan dari
kata πιστεύω (pisteuo – percaya
kepada, mempercayakan kepada). Kata aman dan pistiteuo mengandung pengertian menyerah kepada sesuatu atau
seseorang yang bersifat tetap atau teguh. Kata-kata ini sudah dipakai
dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani,
sebagai terjemahan kata Ibrani: emunah
dan kata kerjanya adalah aman, yang
berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata
sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk menyatakan rasa
percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Percaya kepada Allah
mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri
kepada-Nya, dan taat serta setia kepada-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti
percaya dan menerima apa yang sudah
difirmankan-Nya itu.
Bila kita memeriksa Alkitab, dapat
dijumpai banyak kata iman. Masing-masingmemiliki pengertian yang berbeda-beda
dan dalam konteks yang berbeda. Dari teks-teks yang terdapat dalam Alkitab yang
berbicara mengenai iman dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat tiga
jenis iman. Jenis-jenis iman itu antara lain:
Pertama, iman keyakinan. Iman yang
bertalian dengan keyakinan atau harapan terhadap sesuatu yang bisa terjadi dan
terwujud bila diyakini atau diharapkan dengan kuat. Kisah tersebut bisa dilihat
ketika Tuhan Yesus menjamah mata ortang buta sambil berkata: “Jadilah kepadamu
menurut imanmu (Matius 9:29), kisah perempuan yang pendarahan 12 tahun dengan
imannya, ia menjamah jubah Tuhan Yesus, seketika itu ia menjadi sembuh (Matius
9:21-22). Tuhan Yesus juga memuji iman seorang perwira Romawi di Kapernaum yang meyakini kuasa Tuhan
Yesus. Ia percaya jika Tuhan Yesus mengucapkan sepatah kata maka hambanya yang
sakit akan sembuh (Matius 8:10). Realitanya, iman ini banyak ditekankan dan
diajarkan kepada banyak orang Kristen dewasa ini secara berlebihan tanpa
melihat konteks ayat dan secara berlebihan tidak secara proposional.
Seolah-olah dengan iman itu manusia bisa meraih apapun yang diingininya.
Kedua, iman persetujuan pikiran.
Iman jenis ini bertalian dengan persetujuan pikiran yaitu menerima sesuatu
sebagai suatu kebenaran atau kebaikan. Hal ini bisa juga disebut sebagai
pengaminan akali. Banyak orang yang memiliki keyakinan agama sejak kecil karena
pengaruh keluarga dan lingkungannya. Mereka belum memahami bahkan tidak tahu
sama sekali apa yang dipercayainya. Oleh karena orang tua dan lingkungan
mengatakan demikian, maka ia mengikut saja. Iman seperti ini belumlah iman yang
menyelamatkan. Iman adalah suatu tindakan. Jadi, bila seseorang mengaku beriman
tetapi tidak ada tindakan yang menunjukkan imannya, berarti ia pembohong
(Yakobus 2:17-18) Banyak orang Kristen berpindah agama sebab mereka tidak mengenal
kebenaran Alkitab. Mereka merasa telah memilki iman tetapi tidak mengenal apa
dan siapa yang diimaninya. Ini berarti iman yang palsu.
Ketiga, iman keselamatan. Iman jenis
ini adalah iman yang bertalian dengan keselamatan. Iman ini lebih berkualitas
disbanding iman jenis pertama dan kedua. Iman disini bukan sekedar pengaminan
akali atau persetujuan pikiran, tetapi berupa tindakan konkret. Dalam memahami
kata iman menurut Alkitab perlu dipahami dan diperhatikan bukan saja aspek,
kepercayaan secara pikiran atau persetujuan secara pikiran, ini disebut pula
keyakinan akali atau pengaminan akali, tetapi juga aspek hubungan antara umat
yang percaya dan Allah yang dipercayai. Kalua iman hanya dikaitkan dengan
keyakinan akali atau persetujuan pikiran (sesuai dengan pengertian kata itu
sendiri secara etimologi), maka belumlah dapat mencakup pengertian iman secara
lengkap.
Banyak orang merasa sudah beriman
hanya karena percaya bahwa Tuhan itu ada. Kepercayaan seperti ini bukanlah iman
yang benar, sebab kalua hanya kepercayaan berangkat dari persetujuan pikiran
bahwa Allah itu ada, maka setanpun percaya kepada Tuhan dan gemetar (Yakobus
2:19).[2]
Jadi apakah iman itu? Pada
hakekatnya iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Iman dimulai dengan
kesediaan bukan saja mengakui bahwa Ia (Tuhan Yesus Kristus) datang dari Allah,
seperti pengakuan Nikodemus (Yohanes 3:2), tetapi bersedia menanggalkan segala
filosofi hidup serta segala keinginannya, kemudian menuruti kehendak-Nya.
B.
Pertobatan
Pertobatan mengandung arti bahwa seseorang
berpaling dari yang jahat serta memalingkan hati dan kehendaknya kepada Allah,
tunduk pada perintah-perintah dan hasrat Allah serta meninggalkan dosa.
Pertobatan sejati datang dari kasih bagi Allah dan hasrat yang tulus untuk mematuhi
perintah-perintah-Nya. Semua orang yang bertanggung jawab telah berdosa dan
mesti bertobat supaya maju menuju keselamatan. Hanya melalui pendamaian Yesus
Kristus pertobatan kita dapat menjadi berdampak dan diterima oleh Allah. Perubahan
pikiran dan hati yang membawa sikap yang baru terhadap Allah, diri sendiri, dan
kehidupan secara umum. Pertobatan adalah karunia Allah, namun juga manusia
mengerjakan bagian untuk mau bertindak dalam berubah kearah pertobatan dari
segala yang menyimpang dan tidak berkenan kepada Allah. Siapakah yang dipanggil
untuk bertobat?
“Aku datang bukan untuk memanggil
orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat” (Lukas 5:32)
"Bertobatlah dan hendaklah
kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus
untuk
pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.Jawabmereka: "Percayalah
kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan
selamat, engkau dan seisi rumahmu." (Kisahl 2:38;16:31)
Jadi apa yang dimaksud dengan
pertobatan? Pengertian pertobatan ialah pembaharuan hidup sehingga kembali
kepada Tuhan. Perubahan total sehingga yang lama ditinggalkan. Pemberitaan
Yesus yang pertama berbunyi:
"Bertobatlah,
sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!" (Mat 4:17).
Pada
waktu seseorang menjawab panggilan Allah, saat itu dikenang sebagai pengalaman
pertobatan. Hal tersebut ditandai dengan perubahan cara hidup. Dalam Perjanjian
Baru, pertobatan diikuti dengan baptisan;
seperti yang terjadi pada kepala penjara Filipi dan keluarganya (Kisah 16). Dalam
Perjanjian Baru pertobatan itu diberitakan oleh Yohanes Pembaptis (Matius
3:9-10) dan harus disahkan oleh baptisan. Seruan itu diulangi Yesus (Lukas
5:32) dan sesekali juga oleh Paulus (Roma. 2:4), dan lagi dalam Wahyu. 2:5.
1. Menurut Perjanjian Lama
Dalam Perjanjian Lama, pertobatan
dari kata “tobat”, dalam teks Bahasa Ibrani terdapat dua kata yang memiliki
pengertian “tobat” yaitu naham dan shubh. Kata naham berarti menarik nafas panjang (to sigh). Kata naham juga berarti mengerang atau
merintih (to groan) atau meratap (to lament). Kata naham menyiratkan suatu duka yang sangat mendalam. Kata naham juga sering diterjemahkan menyesal
atau bertobat, ditulis 40 kali dalam Alkitab.
Sedangkan
kata shubh berarti berbalik atau
berganti arah. Kata ini secara scriptural telah menunjuk kepada pertobatan
sejati, maknanya lebih kuat dari naham.
Kata shubh secara ekstensif (meluas)
digunakan para para nabi sebagai seruan agar umat Tuhan melakukan perubahan
secara radikal dengan berbalik meninggalkan dosa dan masuk ke dalam persekutuan
dengan Tuhan dengan meninggalkan praktek sinkretismenya. Mengacu kepada
tindakan berbalik dari dosa kita terhadap Allah. Dalam Yeremia 3:14
diterjemahkan "kembalilah", dalam Mazmur 78:34 "berbalik", Mengacu
kepada tindakan berbalik dari dosa kepada Allah. Dalam Yeremia 3:14
diterjemahkan “kembalilah”, dalam Mazmur 78:34 “berbalik”.
Istilah kata ini merupakan serapan
dari bahasa Arab yang menurut Kamus Bahasa Indonesia: sadar dari dosa dan tak
akan mengulanginya lagi (kata kerja); kembali ke jalan yang benar, kembali ke
jalan agama; menyesali perbuatannya, sedangkan bertobat adalah: menyesal dan
berniat hendak memperbaiki perbuatan (perilakunya); kembali kepada Tuhan atau
agama (jalan) yang benar.
Sedangkan
dalam Perjanjian Baru, istilah kata ini berarti μετανοια - yang juga berarti metanoia
(pertobatan, repentance, a change of mind, as it appears to one who repents, of
a purpose he has formed or of something he has done). Berasal dari kata μετανοεω - metanoeô :
1) to
change one's mind, i.e. to repent;
2) to
change one's mind for better, heartily to amend with abhorrence of one's past
sins, tobat.
Adalah hal yang sangat penting untuk
bisa membedakan pertobatan menurut Perjanjian Baru yaitu untuk
orang baru pada
jaman anugerah (jaman Tuhan Yesus) dengan pertobatan menurut
Perjanjian Lama untuk Bangsa Israel. Pertobatan
antara dua umat pilihan ini tidak sama. Bagi orang Israel di Perjanjian Lama,
pertobatan pada umumnya menyangkut dua aspek antara lain: pertama, perubahan
tingkah laku atau perbuatan. Kehidupan umat yang meninggalkan Torat, hidup dalam tingkah laku yang tidak
menuruti hokum Torat kembali kepada kehidupan sesuai sesuai dengan hokum Torat.
Pertobaran ini pertobatan moral. Pertobatan seperti ini juga dimiliki oleh
agama-agama pada umumnya. Kedua, kesediaan meninggalkan praktek sinkritismenya
(mencampurkan atau menggabungkan beberapa agama atau keyakinan). Kehidupan umat
yang meninggalkan ibadah kepada Yahwe,
kembali beribadah kepada Yahwe.[3]
Konsep pertobatan bangsa Israel pada
jaman Perjanjian Lama ternyata juga terdapat pada agama di dunia. Pertobatan
semacam ini masih bisa digolongkan pertobatan menurut konsep umum. Bedanya
untuk bangsa Israel, pertobatan mereka memiliki keistimewaan, sebab mereka memilki
Allah Yahwe dan Torat yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Pada intinya
pertobatan menurut konsep umum adalah meninggalkan perbuatan yang melanggar
norma yang diberlakukan dan mulai atau kembali beribadah kepada allah atau dewa
yang diyakini sebagai allah atau dewa yang benar. Sering pula dikatakan sebagai
suatu pertobatan, yaitu ketika seorang yang memeluk suatu agama berpindah ke
suatu agama lain yang diyakini benar. Sebaliknya, kelompok orang yang menganut
agama yang ditinggalkan tersebut akan menganggap anggota mereka yang berpindah
agama lain sebagai tindakan murtad. Jika pertobatan hanyalah sekedar tindakan
berbalik kepada Tuhan supaya Tuhan memulihkan ekonominya, menyembuhkan
penyakitnya atau memberi pertolongan dari problem hidup yang lain, maka
pertobatan seperti ini adalah pertobatan palsu. Pada kenyataannya, pertobatan
seperti inilah yang ditawarkan kepada banyak orang hari ini, juga di dalam
gereja.
Dalam
Perjanjian Lama kita menemukan beberapa kisah yang berkaitan dengan hal
disorientasi ini. Kisah-kisah itu antara lain kehidupan Lot dan keluarganya
(Kejadian 19:1-29). Istri Lot tidak fokus melarikan diri dari Sodom dan Gomora.
Keselamatan yang disediakan Allah atas hidupnya gagal terwujud. Ia terpengaruh
dengan keindahan yang ada dibelakangnya (keindahan dunia) daripada ia hars
fokus berlari kedepan meninggalkan keindahan dan kenikmatan dunia. Hal ini bila
dapat dihubungkan sama seperti prinsip Rasul Paulus: “…aku melupakan apa yang
ada dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang ada dihadapanku, dan
berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi
dari Allah dalam Yesus Kristus” (Filipi 3:13-14). Dalam pernyataannya ini
menunjukkan bahwa ia memiliki arah hidup yang jelas. Oleh sebab itu, langkah
yang harus dilakukan orang percaya adalah memberi diri mengikuti segala jalan
yang ditunjukkan-Nya.
2. Menurut Perjanjian Baru
Kata
μετανοεω
- metanoeô dari kata μετα - meta (after, setelah) dan νοιεω - noieô;
1) to
perceive with the mind, to understand, to have understanding;
2)
to think upon, heed, ponder, consider)
sehingga kata ini bermakna: to think differently or afterwards, i.e. reconsider
(morally, feel compunction): - repent.
Dan
hasil pertobatan adalah "metanoia" (perubahan pola pikir). Jadi bila
pola pikir seseorang tidak berubah, maka masih sama dengan pola pikir yang
lama, berarti ia belum bertobat.
Kata tersebut muncul dalam Perjanjian
Baru kurang lebih 58 kali dan selalu diterjemahkan "bertobat";
kecuali dalam Lukas 17:3 (menyesal) dan Ibrani 12:17 (memperbaiki kesalahan).
Arti asasi kedua kata diatas ialah perubahan hati, yakni pertobatan nyata dalam
pikiran, sikap, pandangan dengan arah yang samasekali berubah, putar balik dari
dosa kepada Allah dan pengabdian kepadaNya. Inilah yang terungkap dalam
perangai atau perilaku seseorang sebagai dampak dari karya Roh Kudus yang
melahirkan kembali orang itu.
Bila
seseorang memiliki keselamatan dalam dirinya, maka ia menunjukkan buah
pertobatan dan kelahiran barunya dengan pelayanan yang benar kepada Tuhan.
Pembaharuan pikiran merupakan proses yang mutlak harus terjadi dalam pertobatan
sejati. Pertobatan itu sendiri adalah pembaharuan pikiran (metanoia).
Pembaharuan pikiran ini membutuhkan sarana Firman Tuhan. Manusia hidup bukan
hanya dari roti tetapi juga dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah
(Matius 4:4).
II. Persfektif Iman dan Pertobatan menurut
Injil
Bila kita melihat
terjemahan Injil Lukas 8:25, maka kita akan melihat arti iman menurut Kristen:
εἶπε δὲ αὐτοῖς· Ποῦ ἐστιν
ἡ πίστις ὑμῶν; φοβηθέντες δὲ ἐθαύμασαν λέγοντες πρὸς ἀλλήλους· Τίς ἄρα οὗτός ἐστιν, ὅτι καὶ τοῖς ἀνέμοις ἐπιτάσσει καὶ τῷ ὕδατι,
καὶ ὑπακούουσιν αὐτῷ;
Lalu
kata-Nya kepada mereka: "Di manakah kepercayaanmu?" Maka takutlah
mereka dan heran, lalu berkata
seorang kepada yang lain: "Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi
perintah kepada angin dan air dan
mereka taat kepada-Nya?". (TB)
Dari terjemahan di atas, maka kata
"Iman" menurut kepercayaan Kristen dapat dimaknai sebagai
"percaya". Perintah untuk beriman
kepada Yesus merupakan inti dari Injil,
dan sudah
dikumandangkan
sejak semula. Tuhan Yesus sendiri memulai pelayanan-Nya dengan menekankan
tanggung jawab ini: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat.
Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Markus 1:15). Ia juga berkata,
“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.”
Ini adalah perintah (Kata “percaya” (pisteuo), muncul 13 kali dalam Perjanjian
Baru dalam bentuk perintah (Imperative).
J. Wesley
Brill mengatakan bahwa
“Iman sangat penting bagi
orang Kristen (Ibrani
11:6). Sebab Tuhan
Yesus mengutamakan dan menuntut
iman dalam hati orang-orang yang percaya akan Dia; dan iman
selalu dihargai-Nya.”[4]
Demikianpun juga yang disampaikan oleh Chris
Marantika juga menegaskan bahwa “Iman
adalah elemen atau
unsur positif dari
berpaling (konversi) kepada Kristus.
Sesudah perubahan pikiran,
perasaan, dan tujuan hidup,
maka iman kepada
Kristus barulah benar-benar bermanfaat.”[5]
Menurut Bucer dari sudut pandang
atau perspektif iman bahwa “hanya firman Allah yang membuat kita menjadi sehat
dan bahagia. Firman Allah yang mengaruniakan iman, iman mengaruniakan kasih,
dan kasih mengaruniakan perbuatan baik kepada kita. Dari perbuatan baik
menyusul “warisan yang abadi”, yaitu suatu suatu kehidupan yang melulu terdiri
dari kebahagiaan ilahi”.[6]
Sedangkan menurut Calvin melihat
perbuatan baik dari suatu perspektif yang lain, yaitu “tujuan akhir” dari jalan
keselamatan, dari kebahagian yang telah
Allah sediakan bagi orang-orang yang telah terpilih.[7]
Jadi menurut Calvin bahwa perbuatan baik dari bentuk wujud iman/ implementasi
iman tersebut tertuang dalam perbuatan baik walau itu semua merupakan bagian
yang telah ditentukan sejak semula dari bagian predistinasi. Dalam hal ini
penulis tidak sepakat dan sependapat
dengan pandangan Calvin sebab bila berbicara tentang keselamatan itu merupakan
anugerah Allah yang diberikan bagi semua umat melalui kematian-Nya di Golgota
dan anugerah itu harus sebagai anugerah dalam kehendak bebas yang manusia harus
responi dan jalani sebagai bentuk iman dan ketaatannya kepada Dia, Kristus
Tuhan.
Alkitab mengatakan bahwa iman tanpa
perbuatan seperti tubuh tanpa roh - mati (Yak. 2:26). Sekarang, perbuatan
apakah yang ada pada kita yang menunjukkan iman kita? Bila tidak ada tindakan,
itu berarti tidak ada iman. Harga iman yang murni itu sangat mahal. Penyesatan
yang terjadi saat ini yang sering dijumpai dalam diri orang-orang Kristen
merupakan penipuan dari kuasa setan, yang membuat orang merasa sudah memiliki
iman yang mahal hanya karena sudah tahu banyak firman, rajin datang ke gereja
dan ikut melayani di gereja. Di sini iman dihargai sangat murah. Sedangkan iman
yang benar dan mahal itu dihargai lewat seluruh aspek kehidupan yang
dipertaruhkan untuk Tuhan. Ringkasnya, harga iman yang benar dan mahal adalah
melakukan kehendak Bapa dalam keseharian. Umat percaya banyak ditipu oleh
pemahaman bahwa menjadi kristen sudah otomatis menjadi pengikut Krsitus, akibat
dari pemahaman ini adalah, umat terjebak ke dalam kegiatankegiatan agamawi
saja. Mengikut Tuhan telah digantikan dengan rajin mengikuti kegiatan gerejawi,
aktif dalam kegiatan persekutuan-persekutaun doa dan sebagainya sehingga lupa
tugas pokok panggilan sebagai pengikut Kristus yaitu sempurna seperti Bapa
(Mat.5:48). Mengapa harus sempurna? Karena Bapa yang disurga adalah sempurna.
Apa yang dimaksud sempurna? Dalam
teks Yunani kata sempurna menggunakan kata τέλειος,
teleios yang berarti lengkap, dewasa
secara mental, moral dan karakter. Tidak ada orang tua di muka bumi ini yang
menyerahkan perusahaanya kepada anak yang tidak siap memimpin, oleh karena itu
segala upaya dilakukan untuk mendewasakannya. Mulai dari makan, kesehatan dan
pendidikannya pasti dipersiapkan dengan baik. Apalagi Bapa yang di surga,
kerajaan-Nya bukanlah negeri korup yang bisa disuap, segala sesuatunya
sempurna, tentunya Ia menghendaki anak-anak-Nya pun sempurna dan Tuhan Yesus - lah
rujukannya.[8]
Dalam
Calvinisme terdapat ajaran tentang predestinasi. Calvin mengajarkan bahwa
sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, bahkan sebelum penciptaan, Allah telah
menetapkan beberapa orang untuk memperoleh keselamatan dan yang lainnya untuk
memperoleh penghukuman. Pokok ajaran ini membawa banyak perdebatan dan
perbedaan pandangan di kalangan Calvinis sendiri, serta mengakibatkan
perpecahan-perpecahan dalam kalangan Calvinis.
Bicara
mengenai iman dan pertobatan berarti berkenaan dengan keselamatan. Dengan
ditempatkannya predestinasi di bawah topik keselamatan, Calvin ingin
menunjukkan bahwa predestinasi pun merupakan bagian dari berkat-berkat yang
diperoleh orang-orang percaya di dalam Kristus. Pengertian ini tidak
bisa diabaikan begitu saja. Itu sebabnya, sekalipun faktanya
doktrin predestinasi mengandung "labyrinth" yang tak terselami
sebagai bagian dari wahyu Allah, Calvin percaya bahwa predestinasi adalah
"very sweet fruit", atau
sesuatu yang sangat bermanfaat bagi orang percaya.[9]
Calvin yakin sepenuhnya berdasarkan
Alkitab bahwa kehendak Allah sebagai dasar utama keselamatan harus ditegakkan.[10]
Kepentingannya adalah sebagai jaminan keselamatan, yaitu bahwa keselamatan
bukan berdasarkan perbuatan baik kita, melainkan sepenuhnya karena kemurahan
Allah. Masalahnya, jika kebebasan manusia memiliki peran yang signifikan dalam
hal keselamatan, keselamatan menjadi sesuatu yang tidak pasti. Sebab, apa
standarnya? Sampai batas mana manusia harus melakukan kebaikan? Belum lagi
adanya realitas dosa yang sangat serius dalam diri manusia. Namun, jika
keselamatan bergantung pada ketetapan Allah sendiri, tidak ada hal apa pun juga
di bumi maupun di surga yang bisa membatalkan ketetapan Allah tersebut.
Keyakinan Calvin bahwa manusia tidak
mungkin sanggup mendaki secara langsung ke dalam misteri ketetapan kekal Allah.
Namun, terdorong oleh panggilan untuk membuktikan dan menunjukkan bahwa
pemilihan kekal Allah merupakan jaminan keselamatan manusia dan bukan sebagai
problem metafisika, maka berikutnya ia berusaha untuk tidak secara langsung
menarik hubungan antara apa yang
terjadi di dalam kekekalan (eternity) dan keselamatan yang terjadi
pada
manusia di dalam dunia ini (temporal). Artinya, ia tidak ingin terjebak di
dalam silogisme: "Karena aku dipilih, maka aku diselamatkan".
Sekalipun secara ontologi kalimat ini pasti ia setujui, tetapi ia memandang hal
itu berbahaya.
Ia
lebih mengarahkan argumentasi kepada keberadaan Yesus Kristus, yang adalah
Allah sekaligus Manusia, sebagai titik temu antara apa yang terjadi di dalam
kekekalan dan keselamatan yang dialami oleh manusia. Di sinilah, terjadi
interpenetrasi antara paham tentang Kristus dan predestinasi. Mengarahkan iman
kepada Kristus di sini memiliki makna yang sangat dalam, sebab berarti kita
bukan sekadar "believe in Him"
(Yohanes 3:16), tetapi lebih dari itu, kita percaya:
1. Kepada Yesus Kristus sebagai dasar pilihan
Allah di dalam kekekalan, yang sekaligus
merupakan jaminan kekal yang tak tergoyahkan (Efesus 1:4-6);
2) Kristus
di dalam sejarah, menyatakan pemilihan kita oleh Allah di dalam kekekalan
(Efesus
1:7-9);
3) Kristus
menyingkapkan tujuan pemilihan Allah, yaitu menjadi serupa dengan Kristus (Roma
8:29), mengenakan Kristus sebagai perlengkapan senjata terang (Roma 13:14),
dan
bertumbuh ke arah Kristus (Efesus 4:15).
Hal yang terakhir ini menurut
Calvin, sekaligus merupakan panggilan bagi setiap orang percaya untuk memiliki
ketekunan dan hidup yang kudus. Melalui "union with Christ" inilah, kita juga akan dibawa kepada
jaminan keselamatan yang berdasarkan pada pemilihan kekal Allah.
Dalam keKristenan, pengertian
pertobatan tidaklah sama dengan konsep pertobatan menurut bangsa Israel atau
umat Perjanjian Lama dan agama-agama pada umumnya. Pertobatan dalam keKristenan
adalah perubahan yang didorong oleh kesadaran moral, tetapi juga meliputi
pemahaman hidup secara menyeluruh (ekstensif).
Pertobatan
adalah sesuatu yang berlangsung terus sepanjang hidup. Mengapa? Sebab
pertobatan adalah perubahan pikiran, oleh sebab itu setiap kali pikiran
diperbaharui (Yunani: Metamorphouste) atau dicerahi mengenal kebenaran dan ia
mau berubah pikiran atau berbalik, maka ia mengalami pertobatan (baca Roma
12:2). Jadi setiap kali pikiran dibukakan untuk mengenal kebenaran, maka ia harus
bersedia berubah untuk hidup sesuai dengan kebenaran itu.
Jadi bila seseorang tidak mengalami
pembaharuan cara berpikir setelah mendengar dan mngenal Kebenarn, maka ia belum
masuk dalam rancangan keselamatan. Keselamatan adalah suatu anugerah yang harus
direspon oleh manusia untuk dikerjakan setalah ia mendengar Injil (Kebenaran)
dan timbul iman melalui itu serta dalam kehendak bebasnya ia
melakukan/melaksanakan Kebenaran itu sebagai bagian mengerjakan keselamatannya.
Pertobatan yang sejati dikerjakan
melalui iman oelh Firman Tuhan yang ia dengar. Namun pertobatan yang sejati
adalah pembaharuan pikiran yang berdampak seseorang tidak sama dengan dunia
(Roma 12:2). Serupa dalam teks aslinya suschematizo
yang berarti to fashion alike atau
conform to the same pattern, conform to fashionself according to. Oleh
sebab itu dalam terjemahan bahasa Inggris versi King James diterjemahkan And be not conformed to this world.
Banyak orang tidak mengenali diri dengan benar sebab ia tidak peduli bagaimana
dirinya dipemandangan Tuhan. Ia lebih peduli bagaimana orang memandang dirinya,
reputasi, nama baik, penampilan lahiriah yang diperani oleh perhiasan yang
menempel ditubuh, baju yang dikenakan, kendaraan sampai tindak tanduk yang
ditampilkan di depan umum. Bila mereka tidak berubah berarti tidak bertobat.
Tidak
serupa dengan dunia ini harus dipahami dengan benar. Tidak serupa di sini yang
terutama bukan pada penampilan lahiriahnya. Tetapi “pikiran”nya atau “budi”nya.
Dalam teks aslinya adalah nous, yang
diterjemahkan mind juga diterjemahkan
understanding (pengertian). Bertalian
dengan hal ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa pikiran Petrus yang tidak sesuai
dengan pikiran Allah adalah dari setan (Matius 16:21-23). Petrus
berkatademikian, seba ia berpikir sama seperti orang-orang Yahudi berpikir.
Petrus pikir mengikuti suara terbanyak adalah yang terbaik. Dunia ini telah
cemar, suara terbanyak atau gaya hidup kebanyakan manusia pada umumnya,
bukanlah ukuran kebenaran. Paulus menyebutkan sebagai “pengertian yang gelap”
(Efesus 4:18 dianonia ontes
apellotriomenoi; the understanding being
alienated – pengertian yang asing atau pikiran asing).
III. KESIMPULAN
Jadi iman yang sejati adalah iman
yang bertumpu pada keyakinan bahwa semua yang Tuhan kehendaki untuk dilakukan dan
dialami atau yang Tuhan kerjakan adalah yang terbaik. Ini berarti seseorang
yang memiliki iman yang sejati tidak akan bersungut-sungut di dalam segala
keadaan. Ia tidak akan memaksakan kehendaknya
kepada Tuhan. Ia akan tetap mempercayai pribadi Allah walaupun keadaannya tidak
memuaskan hatinya. Ia tetap mempercayai Tuhan sekalipun doanya tidak
dikabulkan-Nya.
Iman yang sejati telah ditunjukkan
Tuhan Yesus melalui pergumulan-Nya di taman Getsemani dengan pengakuan:
“…janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki”
(Matius 26:39-44). Disini Tuhan Yeus menunjukkan ketaatan-Nya sebagai seorang
Anak. Tuhan Yesus dapat memuaskan hati Bapa oleh ketaatan-Nya. Itulah sebabnya
dikatakan bahwa Ia yang membawa iman kita kepada kesempurnaan (Ibrani 12:1-3).
Seorang
yang telah menyesal belum tentu bertobat, kata menyesal lebih bersifat umum.
Tetapi pertobatan lebih lebih menunjukkan perubahan pikiran (metanoia). Kata
ini terbentuk dari dua kata yaitu meta yang
artinya “berubah” (change) dan neous
yan artinya “pikiran” (mind). Jadi metanoia berarti perubahan pikiran. Kata
inilah yang yang sering digunakan untuk menunjukkan pertobatan seseorang yang
ditandai dengan perubahan pikiran. Kata metanoia lebih sering digunakan untuk
menunjukkan pertobatan yang sejati. Kata ini sejajar dengan kata shubh dalam teks Ibrani.
KEPUSTAKAAN
LAI, Alkitab
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, LAI, Jakarta: 2007
Willi Marxsen. Introduction to the New Testament. Pengantar Perjanjian Baru: pendekatan kristis
terhadap masalah-masalahnya, Jakarta: BPK Gunung Mulia: 2008. ISBN
9789794159219.
Pdt Bambang Subandrijo, Bahan Ajar MK Kolloquium PB, Prodi S2
M.PAK, UKI: 2016
Donald Guthrie, Theologi Perjanjian Baru 1, 2, 3; Allah, Manusia, Kristus, BPK Gunung Mulia, Jakarta: 1993
John Drane. Introducing the New Testament,
Memahami Perjanjian Baru: Pengantar
historis- teologis, Jakarta: BPK
Gunung Mulia, 2005. ISBN 9794159050.
Dr. Erastus Sabdono, Diktat: Keselamatan, Sekretariat Pusat Rehobot Ministry, Jakarta:
2015
Dr. J.L.Ch. Abineno, Bucer dan Calvin: Suatu Perbandingan Singkat, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2016. ISBN 9796873141
[1] http://alkitab.sabda.org/strong.php?id=4102
[2] Yakobus 2:19, artinya, setan pun percaya
bahwa Allah ada bahkan
ketakutan namun setan
tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan, bahkan
setan memposisikan diri sebagai
musuh. Dalam hal ini setan bukan pribadi yang bisa dikatakan beriman
kepada Tuhan walau ia
percaya Allah itu ada.
[3] Erastus Sabdono, Diktat: Keselamatan, Sekretariat Pusat
Rehobot Ministry, Jakarta: 2015
[4] J. Wesley Brill, Dasar yang Teguh, Kalam Hidup, Bandung:1992.
Hal. 213.
[5] Chris Marantika, Doktrin Keselamatan dan Kehidupan Rohani,
Iman Press, Yogyakarta:2002.
Hal. 89.
[6] J.L.Ch. Abineno, Bucer dan Calvin: suatu Perbandingan Singkat,
BPK Gunung Mulia,
Jakarta:2016. Hal. 73.
[7] Ibid.
[8] Erastus Sabdono, Diktat: Keselamatan, Sekretariat Pusat
Rehobot Ministry, Jakarta: 2015
[9] A. Kenneth Curtis, J. Stephen Lang dan Randy
Petersen, 100 Peristiwa Penting dalam
Sejarah
Kristen, BPK Gunung Mulia, Jakarta:2009.
[10] Buku III "Institutes".xxi.1. (1559)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.