3 Pilar

3 Pilar

Senin, 30 Maret 2020

TERMOMETER



              Termometer ditemukan pertama kali pada tahun 1593 oleh Galileo Galilei. Penemuan tersebut olehnya diberi nama termoskop, walau pun sangat sederhana namun ini cikal bakal berkembang menjadi termometer di masa yang akan datang.
Termometer digunakan sebagai alat ukur suhu (temperatur), baik pada suhu tubuh manusia, maupun pada beberapa alat/benda. Istilah termometer berasal dari bahasa Latin thermo yang berarti panas dan meter yang berarti untuk mengukur.

Ada beberapa jenis termometer, seperti termometer ruangan, termometer klinis, termometer laboratorium, dan sebagainya. Ada 2 jenis termometer, termometer yang menggunakan air raksa, dan yang terkini dengan infra red. Termometer infra red tidak sama seperti yang menggunakan air raksa, perbedaannya terletak pada tidak perlu lagi menyentuh/kontak fisik kala mengukur suhu tubuh, melainkan cukup dengan jarak 5-10 cm yang ditembakkan pada dahi manusia yang hendak diukur suhunya. Termometer IR (infra red), lebih praktis, dan efisien dalam pemakaiannya karena lebih cepat dan tidak perlu mengenai kontak tubuh ataupun benda yang suhu/temperaturnya tidak dapat disentuh. Namun belakangan ini alat tersebut, laris manis dipasaran, sehingga langka untuk didapatkan. Apa penuyebabnya? Tak lain dan tak bukan ialah karena pandemi covid-19, sehingga banyak konsumen ramai-ramai order alat tersebut sehingga menjadi langka dipasaran, belum lagi harga penjualan bisa berubah drastis tinggi karena stok barang yang menipis dan juga faktor  import.

Termometer IR untuk sekarang ini, sejak pandemi corona lagi laris dipasaran karena dapat mengukur suhu manusia sebelum masuk ditempat keramaian, seperti mal, rumah sakit, plasa, sekolah, kantor, dan keperluan mengukur temperatur lainnya tanpa kontak langsung. Bila kedapatan mereka bertemparatur suhu melebihi ambang batas wajar, seperti 38, maka orang tersebut tidak diperbolehkan untuk masuk karena suhu tubuh diambang wajar. Bisa karena demam atau keadaan suhu tubuh tidak stabil. Pada situasional saat ini, bisa dicurigai sebagai gejala pneumonia, dan harus segera dibawa ke rumah sakit. Perketat keluar masuk orang dari dan dalam akses pertemuan serta beberapa tempat dapat tersensor melalui alat sensor suhu dan termometer tersebut guna pencegahan lolos sensor mereka yang terjangkit penyakit tersebut.

Suhu tubuh memang sulit dilihat dengan kasat mata, harus digunakan dengan alat bantu. Namun alat bantu tersebut juga tidak seakurat dengan kontak tubuh secara langsung, walau riskan penggunaannya sesudah pemakaian. Namun setidaknya dapat dianulir bila mendekati diambang wajar suhu tubuh. Suhu tubuh manusia yang normal ialah 35-37,5℃, lebih dari itu masuk dalam kategori demam atau orang tersebut mengalami peradangan pada tubuhnya.  Kewaspadaan tingkat tinggi untuk masa sekarang ini berdampak bahwa semua orang harus menjaga stamina dan imun tubuh masing-masing. Kekuatiran yang berlebihan tersebut menimbulkan kepanikan sehingga hamper semua orang menjadi paranoid. Belum lagi pemerintah telah mengeluarkan perintah agar masyarakat tidak keluar rumah atau stay home, meliburkan kegiatan sekolah dan akademik sementara baik dikampus dan institusi pendidikan, mewajibkan semua orang stay home sementara sampai batas yang ditentukan aman oleh pemerintah. Seharusnya masyarakat tidak perlu panic dan paranoid, cukup menjaga stamina stabil, meningkatkan imun tubuh dengan pola makan yang sehat, berolah raga bila perlu, berjemur matahari 15-20 menit (pukul 10.00), menggunakan masker bila berpergian keluar jika ada hal penting, hindari dikeramaian dan social distance. Sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan sanitizer sementara waktu. Bila suhu tubuh saja dapat diukur untuk melihat kondisi kesehatan, seharusnya kita semua perhatikan suhu hati ini terhadap kasih dan cinta kita kepada Sang Khalik. 

Rasul Paulus dengan tegas mengingatkan kepada jemaat di Laodikia, agar tidak suam-suam kuku:  χλιαρος (KHLIAROS); bermakna metaforis: setengah hati, tanpa semangat, merupakan keadaan yang "mati suri". Jemaat Laodikia yang dinyatakan: "hangat-hangat kuku" hingga tak bermanfaat (Wahyu 3:15-16). Bagimana cara mengkur suhu tersebut yang tidak kasat mata atau dapat terukur dengan media termometer? Hal ini harus kesadaran diri dan kepekaan sebagai orang percaya dalam mengoreksi diri dan keberadaannya bertanggung jawab atas hidupnya dihadapan Tuhan. Rasul Paulus menegaskan didalam  Matius 5:13 mengenai garam yang menjadi tawar sehingga akhirnya tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kadar kasih kepada sesama dan cinta kepada Tuhan harus senantiasa di-bara-kan, dengan kata lain terus dikobarkan terus menerus melalui persekutuan pribadi, menyelami isi hati-Nya dalam pembacaan Alkitab. Sebagai anak-anak Allah Bapa, perjumpaan dan pengalaman kita bersama Tuhan akan membuat kita semakin bertumbuh sampai kita perlahan-lahan memahami bahwa Allah begitu mengasihi kita dan mulai memahami bahwa apapun yang dilakukan Allah terhadap hidup kita, Dia  tetap Allah yang  baik. Pengalaman-pengalaman kita mengenal Tuhan akan membawa kita mengalami pertumbuhan sampai kita mencapai titik dimana kita menjadi dewasa secara rohani.

Di dunia ini tidak ada alat ataupun media yang mampu mengukur kedalaman dan kehangatan temperatur hati dan pikiran orang percaya terhadap cintanya kepada Tuhan. Dirinya sednirilah yang dapat mengukur secara jujur kedalaman dan kehanngatan cintanya kepada Tuhan, selain tentunya yang pertama adalah Tuhan secara langsung karena IA mampu melihat kedalaman batiniah semua umat. Peristiwa ketika Yesus bertanya kepada Simon Petrus (Yohanes 21:15-19), apakah engkau mengasihi-Ku? Hingga 3 kali ditanyakan-Nya kepada Simon Petrus untuk mengukur seberapa dalam dan besarnya cinta dia kepada Tuhannya. Semua kembali kepada diri kita masing-masing, apakah dan seberapa dalam kita mencintai-Nya, seberapa besar temperatur kehangatan yang terus stabil atau mungkin dingin semata sehingga saat diukur temperatur suhunya didapati-Nya, suam-suam? Mari kita terus berjaga-jaga dan membangun relasi yang baik dengan Tuhan, karena dunia semakin membara dengan pesona dan kemolekannya untuk merenggut hati dan pikiran anak-anak Allah Bapa beralih kepada cinta fana kepada keindahannya. Solagracia.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.