Termometer ditemukan pertama kali pada
tahun 1593 oleh Galileo Galilei. Penemuan tersebut olehnya diberi nama
termoskop, walau pun sangat sederhana namun ini cikal bakal berkembang menjadi
termometer di masa yang akan datang.
Termometer digunakan sebagai
alat ukur suhu (temperatur), baik pada suhu tubuh manusia, maupun pada beberapa
alat/benda. Istilah termometer berasal dari bahasa Latin
thermo yang berarti panas
dan meter yang berarti untuk mengukur.
Ada beberapa
jenis termometer, seperti termometer ruangan, termometer klinis, termometer
laboratorium, dan sebagainya. Ada 2 jenis termometer, termometer yang
menggunakan air raksa, dan yang terkini dengan infra red. Termometer infra red tidak sama seperti yang menggunakan
air raksa, perbedaannya terletak pada tidak perlu lagi menyentuh/kontak fisik
kala mengukur suhu tubuh, melainkan cukup dengan jarak 5-10 cm yang ditembakkan
pada dahi manusia yang hendak diukur suhunya. Termometer IR (infra red), lebih
praktis, dan efisien dalam pemakaiannya karena lebih cepat dan tidak perlu
mengenai kontak tubuh ataupun benda yang suhu/temperaturnya tidak dapat
disentuh. Namun belakangan ini alat tersebut, laris manis dipasaran, sehingga
langka untuk didapatkan. Apa penuyebabnya? Tak lain dan tak bukan ialah karena
pandemi covid-19, sehingga banyak konsumen ramai-ramai order alat tersebut
sehingga menjadi langka dipasaran, belum lagi harga penjualan bisa berubah
drastis tinggi karena stok barang yang menipis dan juga faktor import.
Termometer IR
untuk sekarang ini, sejak pandemi corona lagi laris dipasaran karena dapat
mengukur suhu manusia sebelum masuk ditempat keramaian, seperti mal, rumah
sakit, plasa, sekolah, kantor, dan keperluan mengukur temperatur lainnya tanpa
kontak langsung. Bila kedapatan mereka bertemparatur suhu melebihi ambang batas
wajar, seperti 38℃, maka orang tersebut tidak diperbolehkan untuk masuk karena suhu
tubuh diambang wajar. Bisa karena demam atau keadaan suhu tubuh tidak stabil.
Pada situasional saat ini, bisa dicurigai sebagai gejala pneumonia, dan harus
segera dibawa ke rumah sakit. Perketat keluar masuk orang dari dan dalam akses
pertemuan serta beberapa tempat dapat tersensor melalui alat sensor suhu dan
termometer tersebut guna pencegahan lolos sensor mereka yang terjangkit
penyakit tersebut.
Suhu tubuh
memang sulit dilihat dengan kasat mata, harus digunakan dengan alat bantu.
Namun alat bantu tersebut juga tidak seakurat dengan kontak tubuh secara
langsung, walau riskan penggunaannya sesudah pemakaian. Namun setidaknya dapat
dianulir bila mendekati diambang wajar suhu tubuh. Suhu tubuh manusia yang
normal ialah 35℃-37,5℃, lebih dari itu masuk dalam kategori demam atau orang tersebut
mengalami peradangan pada tubuhnya. Kewaspadaan
tingkat tinggi untuk masa sekarang ini berdampak bahwa semua orang harus
menjaga stamina dan imun tubuh masing-masing. Kekuatiran yang berlebihan
tersebut menimbulkan kepanikan sehingga hamper semua orang menjadi paranoid.
Belum lagi pemerintah telah mengeluarkan perintah agar masyarakat tidak keluar
rumah atau stay home, meliburkan kegiatan sekolah dan akademik sementara baik
dikampus dan institusi pendidikan, mewajibkan semua orang stay home sementara
sampai batas yang ditentukan aman oleh pemerintah. Seharusnya masyarakat tidak
perlu panic dan paranoid, cukup menjaga stamina stabil, meningkatkan imun tubuh
dengan pola makan yang sehat, berolah raga bila perlu, berjemur matahari 15-20
menit (pukul 10.00), menggunakan masker bila berpergian keluar jika ada hal
penting, hindari dikeramaian dan social distance. Sesering mungkin mencuci
tangan dengan sabun dan air mengalir atau menggunakan sanitizer sementara
waktu. Bila
suhu tubuh saja dapat diukur untuk melihat kondisi kesehatan, seharusnya kita
semua perhatikan suhu hati ini terhadap kasih dan cinta kita kepada Sang
Khalik.
Rasul Paulus
dengan tegas mengingatkan kepada jemaat di Laodikia, agar tidak suam-suam
kuku: χλιαρος (KHLIAROS); bermakna metaforis: setengah hati, tanpa semangat,
merupakan keadaan yang "mati suri". Jemaat Laodikia yang
dinyatakan: "hangat-hangat kuku" hingga tak bermanfaat (Wahyu
3:15-16). Bagimana cara mengkur suhu tersebut yang tidak kasat mata atau dapat
terukur dengan media termometer? Hal ini harus kesadaran diri dan kepekaan
sebagai orang percaya dalam mengoreksi diri dan keberadaannya bertanggung jawab
atas hidupnya dihadapan Tuhan. Rasul Paulus menegaskan didalam Matius 5:13 mengenai garam yang menjadi tawar
sehingga akhirnya tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
Kadar kasih kepada sesama dan cinta kepada Tuhan harus senantiasa di-bara-kan,
dengan kata lain terus dikobarkan terus menerus melalui persekutuan pribadi,
menyelami isi hati-Nya dalam pembacaan Alkitab. Sebagai anak-anak Allah Bapa, perjumpaan dan pengalaman kita
bersama Tuhan akan membuat kita semakin bertumbuh sampai kita perlahan-lahan
memahami bahwa Allah begitu mengasihi kita dan mulai memahami bahwa apapun yang
dilakukan Allah terhadap hidup kita, Dia tetap Allah yang baik.
Pengalaman-pengalaman kita mengenal Tuhan akan membawa kita mengalami
pertumbuhan sampai kita mencapai titik dimana kita menjadi dewasa secara
rohani.
Di dunia ini
tidak ada alat ataupun media yang mampu mengukur kedalaman dan kehangatan
temperatur hati dan pikiran orang percaya terhadap cintanya kepada Tuhan. Dirinya
sednirilah yang dapat mengukur secara jujur kedalaman dan kehanngatan cintanya
kepada Tuhan, selain tentunya yang pertama adalah Tuhan secara langsung karena
IA mampu melihat kedalaman batiniah semua umat. Peristiwa ketika Yesus bertanya
kepada Simon Petrus (Yohanes 21:15-19), apakah engkau mengasihi-Ku? Hingga 3
kali ditanyakan-Nya kepada Simon Petrus untuk mengukur seberapa dalam dan
besarnya cinta dia kepada Tuhannya. Semua kembali kepada diri kita
masing-masing, apakah dan seberapa dalam kita mencintai-Nya, seberapa besar
temperatur kehangatan yang terus stabil atau mungkin dingin semata sehingga
saat diukur temperatur suhunya didapati-Nya, suam-suam? Mari kita terus
berjaga-jaga dan membangun relasi yang baik dengan Tuhan, karena dunia semakin
membara dengan pesona dan kemolekannya untuk merenggut hati dan pikiran
anak-anak Allah Bapa beralih kepada cinta fana kepada keindahannya. Solagracia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.