3 Pilar

3 Pilar

Senin, 30 Maret 2020

INVISIBLE ENEMY


             Dalam dunia fisika dan metafisika, ada sesuatu yang terlihat dengan jelas dan tidak terlihat. Sesuatu yang dapat dibuktikan secara empiris dan beberapa hal yang sulit dibuktikan karena memang tidak terlihat bahkan sulit untuk dibuktikan secara empiris dan logis. Hal ini yang membuat manusia harus ekstra untuk mengamati dan mengadakan penelitian. Dalam dunia akademis, sesuatu yang tidak dapat dibuktikan secara empiris maka disebut invalid. Hal-hal yang sulit dibuktikan secara empiris walau demikian, namun hal tersebut tetap ada dan dapat menjadi fenomena bagi manusia, baik yang terjadi di alam bahkan secara fisika.

            Pandemi virus yang marak sejak bulan Desember 2019, Covid nineteen (n-Cov19) yang dimulai dari Wuhan, di mana sekarang sudah hampir mendunia, ternyata mampu menyedot perhatian semua manusia dibelahan bumi manapun. Ketakutan, dan kekuatiran yang tinggi membuat banyak manusia berubah haluan menjadi paranoid terhadap pandemi ini. Kita harus tetap waspada, itu harus, namun jangan menjadi paranoid, karena akan membuat seseorang menjadi panic dan tidak tahu harus berbuat apa yang sewajarnya bertindak. Virus ini disebut Covid karena Covid-19 adalah singkatan dari Corona (CO), Virus (VI) Disease (D) dan tahun 2019 (19), yang mana virus corona Covid-19 ini pertama kali muncul di tahun 2019. Virus ini berukuran dengan diameter 400-500 micro. Virus ini tidak bisa terlihat dengan mata telanjang, harus menggunakan melalui mikroskop berteknologi dan bercahaya tinggi yakni mikroskop elekron, tidak bisa menggunakan mikroskop biasa.

            Covid-19, tidak terlihat namun sangat ditakuti oleh semua mahluk hidup yang namanya manusia. Bisa dapat dikatakan sebagai musuh yang tidak terlihat (invisible enemy). Seseorang dapat terpapar virus ini melalui tetesan cairan dari mulut dan hidung saat orang yang terinfeksi sedang batuk atau bersin, mirip dengan cara penularan penyakit flu. Tetes cairan dari mulut dan hidung pasien tersebut bisa jatuh dan tertinggal pada mulut dan hidung orang lain yang berada di dekatnya, bahkan dihisap dan terserap ke dalam paru-paru orang tersebut melalui hidungnya. Virus ini akan masuk ke saluran pernafasan manusia dan mengembangkan diri melalui sel manusia. Karena itu kita harus memiliki imun yang kuat. Jaga pola hidup sehat. Hindari dikeramaian, tidak berpergian bila tidak diperlukan/penting. Gunakan masker agar tidak menghirup udara yang terpapar karena bersin orang lain, jaga jarak (social distance), mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir,  dan sanitizer, tidak menyentuh muka sebelum mencuci tangan. Hindari kotak fisik dengan sesama, dan benda-benda di mana sesudahnya mencuci tangan atau dengan sanitizer.

            Kenyataan dilapangan banyak orang tetap kuatir dan parno menghadapi pandemic. Perang terhadap virus tidak terlihat ini menjadi musuh besar. Dengan segala cara dilakukan baik penyemprotan disinfectant, bahkan sampai dilakukan stay home atas anjuran pemerintah diterapkan. Banyak masyarakat akhirnya menimbun sembako, menimbun masker, menimbun sanitizer dan beberapa orang spekulasi dengan menjual harga tinggi.

            Sesungguhnya kita bukan hanya berperang dengan virus Corona, musuh yang tak terlihat ini. Ada juga yang tidak terlihat namun dengan cara yang lihai, licik dan cerdik senantiasa menjerat, iblis namanya. Dengan cara kerja yang hampir semua manusia tidak ‘ngeh’ untuk memahami ketika si iblis bekerja mempengaruhi pikiran dan jiwa manusia untuk melakukan apa yang tidak berkenan, sesuatu yang tidak berkenan. Ini yang dikatakan sebagai ‘meleset’ karena tidak sesuai kehendak Tuhan. Musuh ini juga invisible enemy yang mampu membawa manusia kepada kebinasaan kekal dikekekalan kelak. Bujuk rayu iblis akan memikat pikiran dan jiwa manusia dengan menampilkan pesona dan kemolekan melalui dunia ini. Manusia dijerat akan hal itu dengan pemenuhan diri sebagai kewajaran hidup. Manusia akan disibukan dengan hal-hal pemenuhan diri, cara hidup dengan tidak pernah cukup, mengejar karir, pangkat, title strata akademisi semata. Semua seakan-akan berjalan running well, padahal manusia hidupnya semakin jauh…jauh...jauhhh dari Rumah Bapa. Manusia lebih focus pada diri sendiri dana pa yang disekitarnya. Seluruh hidupnya akan dihabiskan hanya pada hal-hal dianggapnya itulah kewajaran hidup hingga dipenghujung hidupnya ia tidak mengenal siapa, dan tidak bergaul karib dengan penciptanya. Ketika ia berada diujung maut, manusia kan menyapa Tuhan namun hambar. Saat berada di hadapan Tahta-Nya, tentu manusia ini tidak dikenal Tuhan karena tidak sesuai sebagai pelaku kebenaran, melakukan kehendak-Nya (bnd. Matius 7:21-23).
            Manusia harus sadar diri, tahu diri dan mawas diri karena bisa kapan saja, di mana saja siap atau tidak siap semua orang pasti akan mengalami kematian. Tidak harus kena covid, sekejap saja bila dicabut nyawanya oleh Sang Khalik, maka selesai sudah. Saatnya kita harus hidup benar, hidup suci, tak bercacat, tak bercela, melakukan kehendak Tuhan. Mengenakan kodrat ilahi dan membuang manusia lama dengan cara-cara duniawi. Kenakan pikiran yang sesuai pikiran dan perasaan Tuhan. Berjuanglah hidup didalam Tuhan dan IA akan menjagaimu seperti biji mata-Nya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.