3 Pilar

3 Pilar

Kamis, 26 Maret 2020

IMAN DITENGAH PANDEMI


        Belum lama ini, merebak pandemi yang menakutkan hampir seluruh bagian dunia turut mengalaminya. Tak elak siapapun pada peristiwa waktu itu merasakan ketakutan dan kekuatiran serta kecemasan yang begitu hebat sehingga menimbulkan paranoid dikalangan masyarakat pada waktu itu. Pandemi itu bernama virus corona (Covid-19), yang jelas belum ada vaksin serta penyebarannya sangat rentan penularan melalui udara, kontak fisik dan akses benda yang tersentuh oleh si penderita.

            Kasus pandemi ini berawal dari kota Wuhan, ibu kota provinsi Hubei, bagian pusat Tiongkok. Tepatnya pada Desember 2019, Wuhan dikenal karena wabah nCov (Novel CoronaVirus), yang memiliki gejala seperti SARS. Pandemi ini terus mewabah hingga keseluruh negara lain yang diakibatkan oleh penularan yang begitu mudah terjadi melalui kontak fisik, udara dan faktor lainnya. Kepala negara dibeberapa negara bagian telah memberlakukan steril tempat-tempat pertemuan dan keramaian dengan menghindari social distance, guna menghambat penularan wabah nCov ini. Hal ini terus digencarkan walau belum sepenuhnya menjadi kesadaran masyarakat, khususnya di Indonesia. Namun lambat laun mereka menyadarinya.
 
                Beberapa gereja baik dibelahan dunia dan di Indonesia terus menyuarakan agar umat Tuhan perbanyak khusuk dan berdoa agar supaya terhindar dari pandemi ini. Tokoh-tokoh rohaniawan menghimbau agar umat Tuhan teguh dalam iman dan tidak perlu takut dalam menghadapi persoalan yang sedang terjadi. Seruan doa puasa bagi bangsa dan tetap berjalan dengan iman terus digencarkan. Pada sisi lain mereka mengabaikan imbauan pemerintah agar supaya social distance dalam pertemuan ibadah sebaiknya dilakukan secara live streaming atau online, namun kenyataannya sebagian mereka yang masuk dalam golongan orang percaya tetap terus melakukan kegiatan tersebut. Mereka beranggapan dan percaya dengan apa yang diyakininya bahwa Tuhan ada serta mereka, kuasa dan bilur-Nya mampu menutup bungkus orang percaya yang percaya kepada-Nya. Kenyataannya, terjadi penularan lebih cepat kepada para anggota jemaat Tuhan termasuk para hamba Tuhan pada waktu itu.

            Bila kita telaah tentang pengertian iman, adalah dari kata pistis (Yunani= πίστις , yang berarti kepercayaan atau penyerahan diri kepada seseorang. Kata kerja dari pistis adalah pisteuo (πιστεύω), yang mempunyai pengertian “percaya kepada, memercayakan diri atau menyerahkan diri kepada suatu obyek,”  Jadi tidak serta merta memiliki iman berarti hanya percaya saja atau cukup disebut beriman semata. Iman harus disertai perbuatan, yakni perbuatan apa yang dipandang baik dan sesuai kehendak Dia sebagai objek yang dipercayai oleh orang percaya. Percaya yang benar adalah melakukan kehendak Bapa (bnd. Matius 7:21), iman adalah kesediaan untuk berusaha mengenal Pribadi Allah, mencari kehendak-Nya dan melakukannya, serta mengerti rencana-rencana-Nya dalam hidup ini untuk dipenuhi.

            Jadi jika seseorang menyatakan diri ber-iman, maka yang bersangkutan harus mengerti dan memahami bagaimana apa yang harus dilakukannya sesuai dengan yang dikehendaki-nya dimana baik hidup yang dijalani orang tersebut sesuai dengan pikiran dan persaan Tuhan. Untuk meahami ini harus disertai pengalaman hidup bersama Dia, melalui persekutuan pribadi, perenungan diri melalui belajar kebenaran firman-Nya dan melihat kejadian-kejadian yang terjadi. Orang beriman juga harus mau dipimpin dan dididik oleh karya Roh Kudus. Orang beriman harus berhikmat, artinya melalui pimpinan Roh Kudus dengan logikanya yang Tuhan berikan, ia melihat situasi dan kondisi yang ada dapat disesuaikan untuk belajar dan menjaga diri dengan disertai takut akan Tuhan, bahwa hidup yang dipercayakan harus dijaga dengan penuh tanggung jawab dan bukan mengabaikannya dengan bertindak bahwa sepenuhnya tanggung jawab Tuhan untuk menjagai hidup ini. Menjaga pola hidup yang sehat juga bagian dari tanggung jawab dan bagian dari iman dalam perbuatan orang percaya sebagai anugerah hidup dalam perwujudan iman dan tanggung jawab.     

            Pandemi kan berakhir, kan berganti dengan wabah baru dan peristiwa lainnya di mana dunia tidak akan terasa nyaman untuk di huni. Sikap ini bukanlah pesimis, skeptis dan stereotip terhadap dunia dan jaman sekarang ini, namun kedepannya memang dunia akan semakin memburuk. Apapun yang kita kerjakan sekarang haruslah dengan giat, rajin, punya integritas dan etos kerja yang benar disertai tanggung jawab. Tapi satu hal bahwa semua itu di mana keadaan akan semakin menuju kepada kehancuran. Apapun yang diperbuat oleh orang benar, orang beriman, akan diperhitungkan-Nya. Kelak apapun yang kita perbuat adalah sebagai perwujudan tindakan karya nyata yang akan terulang di kekekalan, di langit yang baru dan bumi yang baru. Orang beriman tidak boleh skeptis, namun apapun yang diperbuatnya atau yang dikerjakannya semata-mata seperti untuk Tuhan (bnd. Kolose 3:23; 1 Korintus 10:31).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.