Belum lama ini, merebak
pandemi yang menakutkan hampir seluruh bagian dunia turut mengalaminya. Tak
elak siapapun pada peristiwa waktu itu merasakan ketakutan dan kekuatiran serta
kecemasan yang begitu hebat sehingga menimbulkan paranoid dikalangan masyarakat
pada waktu itu. Pandemi itu bernama virus corona (Covid-19), yang jelas belum
ada vaksin serta penyebarannya sangat rentan penularan melalui udara, kontak
fisik dan akses benda yang tersentuh oleh si penderita.
Kasus pandemi ini berawal dari kota
Wuhan, ibu kota
provinsi Hubei, bagian
pusat Tiongkok. Tepatnya pada Desember 2019, Wuhan dikenal
karena wabah nCov (Novel CoronaVirus), yang memiliki gejala seperti SARS. Pandemi ini terus mewabah hingga keseluruh negara
lain yang diakibatkan oleh penularan yang begitu mudah terjadi melalui kontak fisik,
udara dan faktor lainnya. Kepala negara dibeberapa negara bagian telah
memberlakukan steril tempat-tempat pertemuan dan keramaian dengan menghindari social distance, guna menghambat
penularan wabah nCov ini. Hal ini
terus digencarkan walau belum sepenuhnya menjadi kesadaran masyarakat,
khususnya di Indonesia. Namun lambat laun mereka menyadarinya.
Beberapa gereja baik dibelahan dunia dan di Indonesia terus menyuarakan
agar umat Tuhan perbanyak khusuk dan berdoa agar supaya terhindar dari pandemi ini.
Tokoh-tokoh rohaniawan menghimbau agar umat Tuhan teguh dalam iman dan tidak
perlu takut dalam menghadapi persoalan yang sedang terjadi. Seruan doa puasa
bagi bangsa dan tetap berjalan dengan iman terus digencarkan. Pada sisi lain
mereka mengabaikan imbauan pemerintah agar supaya social distance dalam
pertemuan ibadah sebaiknya dilakukan secara live streaming atau online, namun
kenyataannya sebagian mereka yang masuk dalam golongan orang percaya tetap
terus melakukan kegiatan tersebut. Mereka beranggapan dan percaya dengan apa
yang diyakininya bahwa Tuhan ada serta mereka, kuasa dan bilur-Nya mampu
menutup bungkus orang percaya yang percaya kepada-Nya. Kenyataannya, terjadi
penularan lebih cepat kepada para anggota jemaat Tuhan termasuk para hamba
Tuhan pada waktu itu.
Bila kita telaah tentang pengertian
iman, adalah dari kata pistis
(Yunani= πίστις , yang
berarti kepercayaan atau penyerahan diri kepada
seseorang. Kata kerja dari pistis
adalah pisteuo (πιστεύω), yang
mempunyai pengertian “percaya kepada, memercayakan diri atau menyerahkan diri
kepada suatu obyek,” Jadi
tidak serta merta memiliki iman berarti hanya percaya saja atau cukup disebut
beriman semata. Iman harus disertai perbuatan, yakni perbuatan apa yang
dipandang baik dan sesuai kehendak Dia sebagai objek yang dipercayai oleh orang
percaya. Percaya yang benar adalah melakukan kehendak Bapa (bnd. Matius 7:21), iman
adalah kesediaan untuk berusaha mengenal Pribadi Allah, mencari kehendak-Nya
dan melakukannya, serta mengerti rencana-rencana-Nya dalam hidup ini untuk dipenuhi.
Jadi jika seseorang menyatakan diri ber-iman, maka yang bersangkutan harus mengerti dan memahami
bagaimana apa yang harus dilakukannya sesuai dengan yang dikehendaki-nya dimana
baik hidup yang dijalani orang tersebut sesuai dengan pikiran dan persaan
Tuhan. Untuk meahami ini harus disertai pengalaman hidup bersama Dia, melalui
persekutuan pribadi, perenungan diri melalui belajar kebenaran firman-Nya dan
melihat kejadian-kejadian yang terjadi. Orang beriman juga harus mau dipimpin dan
dididik oleh karya Roh Kudus. Orang beriman harus berhikmat, artinya melalui
pimpinan Roh Kudus dengan logikanya yang Tuhan berikan, ia melihat situasi dan
kondisi yang ada dapat disesuaikan untuk belajar dan menjaga diri dengan
disertai takut akan Tuhan, bahwa hidup yang dipercayakan harus dijaga dengan
penuh tanggung jawab dan bukan mengabaikannya dengan bertindak bahwa sepenuhnya
tanggung jawab Tuhan untuk menjagai hidup ini. Menjaga pola hidup yang sehat
juga bagian dari tanggung jawab dan bagian dari iman dalam perbuatan orang
percaya sebagai anugerah hidup dalam perwujudan iman dan tanggung jawab.
Pandemi kan berakhir, kan berganti
dengan wabah baru dan peristiwa lainnya di mana dunia tidak akan terasa nyaman
untuk di huni. Sikap ini bukanlah pesimis, skeptis dan stereotip terhadap dunia
dan jaman sekarang ini, namun kedepannya memang dunia akan semakin memburuk.
Apapun yang kita kerjakan sekarang haruslah dengan giat, rajin, punya
integritas dan etos kerja yang benar disertai tanggung jawab. Tapi satu hal
bahwa semua itu di mana keadaan akan semakin menuju kepada kehancuran. Apapun
yang diperbuat oleh orang benar, orang beriman, akan diperhitungkan-Nya. Kelak
apapun yang kita perbuat adalah sebagai perwujudan tindakan karya nyata yang
akan terulang di kekekalan, di langit yang baru dan bumi yang baru. Orang
beriman tidak boleh skeptis, namun apapun yang diperbuatnya atau yang
dikerjakannya semata-mata seperti untuk Tuhan (bnd. Kolose 3:23; 1 Korintus
10:31).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.