3 Pilar

3 Pilar

Sabtu, 12 Desember 2020

AGAMA TUHAN

 

Tidak terasa kita sudah melewati dan melalui 3 kuartal dalam  mengantisipasi masalah  pandemi Covid-19  sejak awal Desember 2019 hingga saat ini, masih terus berlangsung. Hebatnya, pandemi ini masih tetap eksis dan tak kunjung kelihatan ada tanda-tanda akan menurun dari gejala yang berlangsung hingga saat ini. Masyarakat Indonesia dibeberapa wilayah mengalami zona yang naik turun dan melalui Kepala Negara terus mengimbau agar masyarakatnya tetap pakai masker saat berpergian keluar dari rumah.

             Ada yang percaya bila virus ini ada namun juga ada yang tidak percaya sehingga mengabaikan untuk tidak pakai masker dan tidak mengindahkan standard protokol kesehatan yang diwajibkan. Seiring waktu mereka yang terpapar virus ini baru menyadari bahwa betapa rentannya penularan tersebut melalui droplet saat sedang berada dekat dengan lawan bicara atau berada dikeramaian. Walau sudah ditetapkan peraturan New Normal sejak 28 Juni 2020, kebanyakan masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan pola hidup sebelum masa-masa pandemi berlangsung. Akibatnya banyak orang  terpapar dikarenakan kelalaian tidak mengikuti standard protoklol kesehatan yang ada. Banyak yang tidak mengindahkan untuk tetap pakai masker saat berada diluar kediamannya, berkumpul dikeramaian seperti di pasar, tempat-tempat pertemuan. Akibatnya, kasus melonjak dan banyak Rumah Sakit kewalahan dalam menampung pasien yang terjangkit virus Covid-19 ini. Kewalahan para dokter dan perawat serta tenaga medis lainnya membuat mereka tidak sedikit yang ikut juga terpapar hingga mengalami kematian. Kesadaran masyarakat pada umumnya masih relatif rendah atau masa bodo dengan situasi dan kondisi saat ini. Akibatnya, dalam proses memutus rantai penyebaran virus ini masih dalam proses kerja keras disemua kalangan dan intensif dilakukan oleh semua pihak.

            Banyak tempat pertemuan, seperti restaurant, ruang resepsi, tempat ibadah, mal, plaza dan beberapa tempat masih disinyalir tetap menerapkan PSPB, di mana lambat laun diterapkan secara berkala new normal untuk tempat-tempat yang dianggap strategis dalam penularan wabah virus ini. Beberapa tempat ibadah sudah mulai dibuka kembali dengan mengikuti standard protokol kesehatan. Mal, bioskop dan ruang resepsi juga secara bertahap dengan mengikuti protokol kesehatan kembali dibuka dan secara terbatas menerima pengunjung/konsumen yang hadir yang sudah ditetapkan oleh Pemda setempat. Hal ini akan mendongkrak gerak laju ekonomi yang sudah sekian lama fakum karena pandemi ini yang memicu ke resesi sesaat. Gerak laju roda perekonomian terus berjalan walau lambat. Ada cukup lumayan banyak took, pabrik dan perusahaan yang tutup karena mengalami kebangkrutan, omset yang menurun disamping perlu terus dibayarkan gaji para pegawainya. PHK besar-besaran terjadi dan mau tidak mau para  pegawai harus menerima dengan lapang dada keputusan tersebut karena sikon ini menekan keputusan tersebut. Para pedagang kecil dan wiraswasta terus berjuang dan mengadakan nuansa baru untuk mendobrak sekaligus menarik minat para konsumen.

            Masyarakat Indonesia segera tak akan lama lagi menerima kehadiran vaksin antibodi dalam menangkal Covid-19. Vaksin sudah tiba secara bertahap dan pendistribusiannya memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Perlu ekstra sabar dari semua kalangan agar supaya dapat tersalurkan dengan baik dan merata. Namun demikian kita semua diminta agar tetap memakai masker walau sudah divaksin demi menjaga dan menyelamatkan sesama. Vaksin ini nantinya akan membantu agar semua masyarakat mampu bertahan hidup dari pandemi ini yang berkepanjangan. Di samping itu semua masyarakat harus tetap menjaga diri baik-baik dengan meningkatkan imun diri dan mengikuti standard protokol kesehatan. Luar biasa dan salutnya kita sebagai warga Negara terhadap Bapak Presiden RI kita, Bapak Presiden Joko Widodo beserta staf cabinet menteri yang terpadu bahu membahu dalam berusaha menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi, khususnya  masalah penanganan kasus masalah pandemi Covid-19 ini.  Sudah banyak ribuan masyarakat yang telah terjangkit dan meninggal dunia. Tidak sedikit para tenaga medis, baik perawat maupun dokter, yang turut wafat karena terpapar dalam penanganan pengobatan kepada para pasien kasus covid ini. Semua rumah sakit bahkan wisma atlit telah dibanjiri oleh dan dipenuhi oleh warga masyarakat yang terpapar kasus Covid.

             Perjuangan kita belumlah selesai, walau masih banyak warga masyarakat yang tetap bandel dan lalai dalam mengikuti standard protokol kesehatan yang berlaku. Cukup banyak yang bukan hanya lalai tapi justru dengan sengaja  tidak mematuhinya dengan dalih alasan yang dibuat-buat. Belakangan belum lama ini ada kasus yang membuat terjadinya kerumunan massa secara berkala sehingga pada akhirnya membuat cluster baru kasus Covid. Kasus ini segera ditindaklanjuti oleh pihak hukum terkait untuk diproses. Kedapatan mereka yang telah berkumpul bersama dan tidak menjaga jarak. Akhirnya terpapar bahkan ada yang dsinyalir posistif.

            Kesadaran semacam ini ditengah masyarakat Indonesia masih sangat minim bahkan dapat dikatakan jauh dari tingkat kesadaran mawas diri, sehingga berakibat fatal. Anjuran dan imbauan dari Pemerintah dianggap enteng bahkan sebagian besar mereka menganggap bahwa Covid itu tidak ada hanya rekaan saja. Tapi begitu sudah terpapar dan terjangkit positif, barulah mereka percaya, namun demikian ada banyak yang terlambat karena nyawa mereka melayang tidak tertolong. Sekarang ini banyak orang bias saja reaktif dan OTG karena berhubung pandemi ini sudah berjalan cukup lama. Jadi bagi semua masyarakat, kita semua diimbau untuk tetap mengikuti standard protkol kesehatan disamping imbauan 3M (memakai masker, mencuci tangan menjaga jarak dan menghindari kerumunan). Seiring waktu terjadi perkembangan kasus baru, yakni gejala baru Covid-19, waspadai Delirium, adalah gangguan mental yang diakibatkan perubahan cepat dalam fungsi otak. Delirium mengakibatkan bagi penderita akan mengalami penurunan kemampuan berpikir, susah focus, kesulitan mengingat dan berkonsentrasi bahkan mengalami sulit tidur serta kebingungan.
bila kita mendengar banyak kasus akan membuat rasa ngeri dan was-was, namun demikian kita tidak kuatir berlebihan karena itu akan membuat daya tahan imun kita sendiri akan turun. Tetaplah waspada dan mengikuti standard protokol kesehatan maka aman untuk sementara. Selanjutnya hindari berada dikeramaian atau berada di dalam ruangan tertutup dengan banyak orang. Sirkulasi udara yang fakum seharusnya dapat membuat seseorang terpapar karena itu buatlah ruangan dengan sirkulasi udara yang baik. Tetap jaga pola hidup, upayakan berjemur 10-15 menit di terik matahari pagi.

            Cepat atau lambat kasus pandemi ini akan global dan bias jadi hamper semua manusia dibelahan muka bumi ini akan terpapar. Mereka yang memiliki daya tahan tubuh (imun)yang kuat akan segera pulih atau setidaknya mampu bertahan dalam pengobatan. Namun naas bagi mereka yang memiliki penyakit bawaan dan yang berusia di atas 50 tahun. Kendati demikian setiap kita memiliki kekuatan imun yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu semua wajib menyadari hal ini dan mengerjakan bagiannya masing-masing untuk menjagai dirinya sendiri dan keluarga bahkan sesama.

            Globalisasi pandemi sebenarnya bukanlah ancaman baru. Ribuan tahun yang telah lalu pun juga manusia dan hewan telah mengalaminya. Ada banyak pandemi yang dialami bahkan sampai kerusakan ekosistem. Seharusnya manusia belajar dari masa lalu dan memperbaikinya. Kelalaian ini akan membuat kejadian serupa terulang. Bayangkan, bila kerusakan alam oleh factor manusia membuat banyak kejadian gunung meletus, banjir, longsor, kebakaran hutan, erosi, dan lain sebagainya, itu semua adalah bagian ulah manusia. Nah sekarang dengan kasus pandmei Covid-19 juga ditenggarai oleh ulah manusia, yang dijadikan sasaran penyebab adalah mahluk hidup (hewan). Manusia telah gagal untuk menjagai alam dan merawatnya. Sebagai mahluk hidup tertinggi (manusia) diantara mahluk hidup lainnya, sepatutnya manusia menjadi penguasa sekaligus pengelola yang baik terhadap mahluk hidup yang lemah bahkan menguasai alam dengan terpadu.

            Bila kita membahas kasus demi kasus, sesungguhnya bukan hanya kasus masalah Covid-19 yang belum berakhir dan tertangani. Ada banyak kasus yang juga belum berakhir hingga sekarang ini. Kasus korupsi, kasus penyelewengan hukum, tindak pidana ini dan itu, teroris, dan masih banyak lagi. Jika kita terus memikirkan dan membicarakan hal ini tentu akan membuat kepala menjadi pusing. Sungguh aneh memang bahwa keadaan dunia semakin semrawut ditengah gejolak jaman. Ada orang yang beragama tapi dalam kelakuan justru tidak ber-Tuhan. Tidak sedikit orang yang mengganggap Tuhan tidak ada namun dalam prakteknya justru mereka lebih manusiawi dari manusia. Mensejajarkan dirinya sebagai mahluk mulia dan menghargai serta mencintai kedamaian. Di sisi lain ada banyak yang menyuarakan cinta damai, kemahakuasaan Tuhan, namun memungkiri kedaulatan-Nya dengan hidup bercela dan tidak pantas. Kelakuan dan karakter mereka justru membuat penyataan bahwa Tuhan itu tidak ada. Mereka tidak respek dan menghormati nilai-nilai kebenaran-Nya yang tertuang didalam Kitab Suci.

            Keadaan pandemi Covid-19 ini seharusnya membuat semua manusia sadar diri dan tahu diri bahwa usia kuota manusia berbatas waktu. Rentan dan tragis, kapan saja ajal bias menjemput. Kelakuan dan perbuatan kita seharusnya terus dievaluasi apakah sudah menyenangkan hati Tuhan dan memberkati sesama atau sebaliknya? Sebenarnya Tuhan tidak ada dalam agama manusia. Agama tercipta karena manusia yang mengadakannya. Agama dibentuk supaya manusia tidak melenceng dari kodrat-Nya. Manusia diberi hikmat agar supaya dapat mengenal siapa penciptanya. Namun seiring waktu dan karena filossofi terus berkembang dan nalar manusia berikir bahwa agama dapat dijadikan tameng untuk keselamatan dan meraup keuntungan; menghimpun masaa, politik dan sebagainya, sehingga agama dijadikan mobilisasi untuk kepenntingan diri dan golongan. Nah, sekarang masa pandemi, siapakah yang mampu melawan Covid-19? Tidak ada seorangpun yang mempan dan kebal terhadapnya. Sekarang saatnya banyak orang berteriak memanggil nama Tuhan yang dipercayainya, seakan memohon perlindungan agar terhindar dari wabah tersebut. 

            Tuhan tidak ada dalam agama manusia. Tuhan tidak hidup di dalam agama manusia. Tuhan berdiri sendiri sebagai Sang Mahakuasa yang berjaya dengan segala otoritas dalam kemuliaan-Nya. Manusia hanyalah sebagai ciptaan-Nya yang dulu dimuliakan sebagai mahluk tertinggi dari segala ciptaan-Nya di muka bumi. Kemuliaan dan citra tersebut rapuh karena pelanggaran dan pemberontakan manusia pertama di Taman Eden (Adam dan Hawa). Kenyataannya bahwa manusia terlepas dari kemuliaan-Nya sehingga hubungan antara manusia dengan Tuhan terputus. Manusia berusaha mencari dan menjalin hubungan itu melalui ranah agama. Tapi kenyataannya, agama justru membuat manusia menalar dan mengukur Tuhan dengan akal budi yang fana, tidak mampu menjangkau dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwanya. Keadaan ini terus terpupuk terlihat terkondisi dengan keadaan dunia yang semakin carut marut. Memang tidak semua manusia mengalami kebobrakan moral dan iman, namun tidak sedikit bahkan banyak hampir semua manusia hanya berspekulasi tentang Tuhan.  Tuhan dimobilisasi melalui agama dan kepercayaan. Justru ditengah pandemi wabah Covid-19 ini, mata kita semua terbuka bahwa begitu rentannya hidup ini. Mungkin keadaan ini belum berakhir pulih hingga ditahun yang akan datang, atau mungkin saja bisa menjadi bertambah semakin menjadi. Kenyataannya, manusia berusaha untuk memperbaiki keadaan ini, ya kita semua harus berjuang bersama-sama dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 ini.

            Ketika kita dulu duduk di sekolah dasar sampai ditingkat menengah atas bahkan hingga di Perguruan Tinggi, pelajaran atau mata kuliah tentang religi terus dikumandangkan dan dipelajari. Kenyataannya, pelajaran tersebut tidak membuat manusia sebagai mahluk yang tercipta sesuai kodrat ilahi. Manusia pembelajar justru menganalisa dan menalar Tuhan sebagai yang berada diluar nalar kemampuan manusia. Bahkan hidup yang dijalani saat ini adalah hak penuh atas hidupnya, Tuhan tidak berdaya mengatur dan memberi wacana kepadanya. Kenyataannya memang demikian karena hampir semua manusia lebih cenderung egosentris dan berpijak pada kemandiriannya sebagai mahluk tertinggi. Pendidikan agama yang dipelajari dan dihayati hanya sebatas nalar dan sebagai ilmu pengetahuan belaka. Pada prinsipnya manusia lebih cenderung mengikuti keinginan daging dan hawa nafsunya. Cara berpikir yang dianggapnya baik dan harus dilaksanakan sebagai bentuk hasrat dan kehendak bebasnya.

            Injil telah menyatakan sejak ribuan tahun silam bahwa manusia telah jatuh dalam dosa, segala yang dikehendakinya hanyalah berbuahkan dosa semata (Kejadian 6:5; Roma 3:10,11,23). Dosa telah menguasai kehidupan manusia dalams egala aspek, dan manusia menikmati itu sebagai bentuk kebebasannya tidak terikat kepada Tuhan. Karena apa yang dianggapnya baik menurut pola pikirnya itu menguntungkan dirinya semata. Pada hal melalui musibah pandemi ini kita sebagai mahluk ciptaan-Nya yang mulia, dapat merenungkan bahwa hidup ini sangat rentan dan tragis. Keterbatasan dan kerapuhan hidup ini tidak dapat mampu melawan kodrat dari Sang Mahakuasa. Manusia harus menyadari itu dan memberi diri untuk dipulihkan. Manusia harus kembali kepada tracknya Tuhan untuk dikembalikan kepada rancangan keselamatan semula yang Tuhan inginkan. Manusia tidak perlu memandang dan berpikir curiga atas apa yang Tuhan mau perbuat atas kita. Sepatutnya kita harus berinisiatif menyerahkan diri kepada-Nya. Kini oleh pengaruh dampak yang besar di era milenial, manusia lebih cenderung mengungkung diri kepada kemajuan teknologi sehingga di masa kini manusia men-tuhan-kan teknologi, bahkan dirinya, atau apapun segala bentuk yang dapat mendukung - menyokong pemenuhan kehidupan serta dapat menaikan derajat manusia.  Bila Tuhan dapat mencipta, maka manusia juga dengan segala eksistensinya mampu menciptakan segala sesuatu yang dapat sebagai distribusi kebutuhan bersama. Hanya saja keterbatasan itu tidak disadari oleh manusia sehingga manusia terus berlomba dengan kepintarannya untuk mampu menciptakan yang brilian di mata sesama. Belum lama ini China sudah dapat mampu menciptakan matahari buatan (proyek HL-2M Tokamak) yang mampu memberi pencahayaan diluar batas normal manusia pada umumnya. Proyek matahari buatan China bekerja dari hasil reaksi nuklir dengan menggunakan magnet yang dipadukan plasma panas. Akibatnya, suhu yang diciptakan bisa mencapai 15 juta derajat Celcius atau 10 kali lipat lebih panas dari inti matahari. HL-2M Tokamak ini mampu beroperasi pada suhu 150 juta derajat celcius. Sementara inti matahari hanya mencapai suhu 15 juta derajat celcius. Kecanggihan dan perkembangan teknologi dipadukan dengan kepintaran manusia hendaknya tidak melewati batas ambang wajar bahwa semua itu untuk kesejahteran manusia dan seiring kehendak Tuhan.

        Proporsi manusia dalam mengembangkan teknologi hingga menemukan vaksin dalam memutus mata rantai penularan wabah virus Covid-19 terus dikembangkan. Manusia harus tahu diri dan sadar diri bahwa keterbatasannya sebagai mahluk fana diwujudkan dengan ketertundukannya kepada Sang Khalik. Apapun usaha manusia kelak mendapat restu sesuai kehendak-Nya. Semua harus dikerjakan dan diupayakan untuk kesejahteraan manusia dan bumi ini. Bumi tidak akan selamanya kokoh dengan segala eksistensinya, kelak akan pudar pada waktunya. Namun apa yang dikerjakan oleh anak-anak Tuhan untuk mengembangkan IPTEK dan segala fasilitas yang disediakan melalui sumber daya alam dan sumber daya manusianya pasti akan membuahkan hasil. Seandainya manusia di muka bumi ini berjalan sesuai track Tuhan sudah barang tentu, manusia tidak perlu melakukan ritual hanya secara liturgis semata, yang pada umumnya dilakukan hanya pada saat mereka menjalankan ritual keagamaan semata. Sesudah itu manusia kembali pada aktivitas dan kesibukan yang banyak menyita waktu bercengkerama dengan sesama dan  apa yang dikerjakannya. Agama hanya menjadi label putih polos dan passport untuk masuk kehidupan di dunia yang akan dating. Padahal bila diukur dan dengan dianalisa dari perspektif sudut pandang Tuhan, sudah barang tentu kita tidak layak mendapat kesempatan tersebut. Kita sebagai manusia memandang bahwa agama kitalah yang paling benar dibandingkan agama sesama dengan keyakinannya. Belum lagi memandang dan menyakini bahwa agama yang dianut adalah agama Tuhan. Bila agama Tuhan, maka apakah Tuhan memiliki agama? Agama adalah buatan dan buah karya pemikiran manusia. Melalui agama, manusia diajak untuk mengenal Sang Khalik, mengenal jalan-jalan-Nya untuk dilakukan dan diterapkan dalam hidup manusia. Melalui agama, manusia diajak untuk hidup sanling mengasihi, mengayomi yang lemah dan menjaga ciptaan-Nya untuk dilindungi, dipelihara, dibudi-dayakan, dikembangkan, dikelola dengan baik. Tapi pada kenyataanhya, manusia justru mengabaikan hal tersebut. Manusia mengeksploitasi alam dan sesama hanya untuk kepentingan diri, dan golongan. Bahkan manusia menggunakan kekuatan agama sebagai mobilisasi muatan yang dapat mengangkut kepentingan tersebut. Oleh karena itu sangat jarang sekali, khususnya di era milenial ini, manusia lebih cenderung untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik. Justru manusia lebih condong kepada pemenuhan diri dan kemapanan hidup. Tuhan hanya dijadikan sebagai komoditas pemenuhan tersebut. Sungguh ironis dan akhirnya manusia mengalami kekecewaan karena ulahnya sendiri. Semoga melalui wabah pandemi ini, manusia menemukan jati dirinya dan menyadari bahwa dirinya memiliki keterbatasan. Sehebat apapun dan sekuat kemampuannya, tetap manusia tunduk pada waktu Tuhan mencabut nyawanya. Sepatutnya kehidupan keagamaan ter-endus oleh sesama melalui sikap hidup, tingkah laku yang diejawantahkan dalam keseharian. Tuhan tidak pernah terlihat, namun wujudnya akan Nampak samar melalui sikap perbuatan umat-Nya. Kepada siapa DIA mendapat layak dimuliakan atau dihujat oleh umat-Nya sendiri atau oleh penganut kepercayaan lain, yang nota bene saling menyindir, menghujat, melukai dan mencemooh agama Tuhan. Semua agama mengajarkan dan mengarahkan umat untuk hal yang baik dan melakukan kebajikan. Semua itu harus direalisasikan, diimplementasikan mulai dari diri kita sendiri masing-masing. Semoga ini dapat menjadi bahan perenungan yang mampu membuat sadar kita semua.[JK]  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.