Tidak terasa kita sudah melewati dan melalui 3 kuartal dalam mengantisipasi masalah pandemi Covid-19 sejak awal Desember 2019 hingga saat ini, masih terus berlangsung. Hebatnya, pandemi ini masih tetap eksis dan tak kunjung kelihatan ada tanda-tanda akan menurun dari gejala yang berlangsung hingga saat ini. Masyarakat Indonesia dibeberapa wilayah mengalami zona yang naik turun dan melalui Kepala Negara terus mengimbau agar masyarakatnya tetap pakai masker saat berpergian keluar dari rumah.
Ada
yang percaya bila virus ini ada namun juga ada yang tidak percaya sehingga
mengabaikan untuk tidak pakai masker dan tidak mengindahkan standard protokol
kesehatan yang diwajibkan. Seiring waktu mereka yang terpapar virus ini baru
menyadari bahwa betapa rentannya penularan tersebut melalui droplet saat sedang
berada dekat dengan lawan bicara atau berada dikeramaian. Walau sudah
ditetapkan peraturan New Normal sejak 28 Juni 2020, kebanyakan masyarakat
Indonesia sudah terbiasa dengan pola hidup sebelum masa-masa pandemi
berlangsung. Akibatnya banyak orang
terpapar dikarenakan kelalaian tidak mengikuti standard protoklol
kesehatan yang ada. Banyak yang tidak mengindahkan untuk tetap pakai masker
saat berada diluar kediamannya, berkumpul dikeramaian seperti di pasar, tempat-tempat
pertemuan. Akibatnya, kasus melonjak dan banyak Rumah Sakit kewalahan dalam
menampung pasien yang terjangkit virus Covid-19 ini. Kewalahan para dokter dan
perawat serta tenaga medis lainnya membuat mereka tidak sedikit yang ikut juga
terpapar hingga mengalami kematian. Kesadaran masyarakat pada umumnya masih relatif
rendah atau masa bodo dengan situasi dan kondisi saat ini. Akibatnya, dalam
proses memutus rantai penyebaran virus ini masih dalam proses kerja keras
disemua kalangan dan intensif dilakukan oleh semua pihak.
Banyak
tempat pertemuan, seperti restaurant, ruang resepsi, tempat ibadah, mal, plaza
dan beberapa tempat masih disinyalir tetap menerapkan PSPB, di mana lambat laun
diterapkan secara berkala new normal untuk tempat-tempat yang dianggap
strategis dalam penularan wabah virus ini. Beberapa tempat ibadah sudah mulai dibuka
kembali dengan mengikuti standard protokol kesehatan. Mal, bioskop dan ruang
resepsi juga secara bertahap dengan mengikuti protokol kesehatan kembali dibuka
dan secara terbatas menerima pengunjung/konsumen yang hadir yang sudah
ditetapkan oleh Pemda setempat. Hal ini akan mendongkrak gerak laju ekonomi
yang sudah sekian lama fakum karena pandemi ini yang memicu ke resesi sesaat.
Gerak laju roda perekonomian terus berjalan walau lambat. Ada cukup lumayan
banyak took, pabrik dan perusahaan yang tutup karena mengalami kebangkrutan,
omset yang menurun disamping perlu terus dibayarkan gaji para pegawainya. PHK
besar-besaran terjadi dan mau tidak mau para
pegawai harus menerima dengan lapang dada keputusan tersebut karena
sikon ini menekan keputusan tersebut. Para pedagang kecil dan wiraswasta terus
berjuang dan mengadakan nuansa baru untuk mendobrak sekaligus menarik minat
para konsumen.
Masyarakat Indonesia segera tak akan lama lagi menerima kehadiran vaksin antibodi dalam menangkal Covid-19. Vaksin sudah tiba secara bertahap dan pendistribusiannya memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Perlu ekstra sabar dari semua kalangan agar supaya dapat tersalurkan dengan baik dan merata. Namun demikian kita semua diminta agar tetap memakai masker walau sudah divaksin demi menjaga dan menyelamatkan sesama. Vaksin ini nantinya akan membantu agar semua masyarakat mampu bertahan hidup dari pandemi ini yang berkepanjangan. Di samping itu semua masyarakat harus tetap menjaga diri baik-baik dengan meningkatkan imun diri dan mengikuti standard protokol kesehatan. Luar biasa dan salutnya kita sebagai warga Negara terhadap Bapak Presiden RI kita, Bapak Presiden Joko Widodo beserta staf cabinet menteri yang terpadu bahu membahu dalam berusaha menyelesaikan persoalan yang sedang terjadi, khususnya masalah penanganan kasus masalah pandemi Covid-19 ini. Sudah banyak ribuan masyarakat yang telah terjangkit dan meninggal dunia. Tidak sedikit para tenaga medis, baik perawat maupun dokter, yang turut wafat karena terpapar dalam penanganan pengobatan kepada para pasien kasus covid ini. Semua rumah sakit bahkan wisma atlit telah dibanjiri oleh dan dipenuhi oleh warga masyarakat yang terpapar kasus Covid.
Perjuangan
kita belumlah selesai, walau masih banyak warga masyarakat yang tetap bandel
dan lalai dalam mengikuti standard protokol kesehatan yang berlaku. Cukup
banyak yang bukan hanya lalai tapi justru dengan sengaja tidak mematuhinya dengan dalih alasan yang
dibuat-buat. Belakangan belum lama ini ada kasus yang membuat terjadinya
kerumunan massa secara berkala sehingga pada akhirnya membuat cluster baru
kasus Covid. Kasus ini segera ditindaklanjuti oleh pihak hukum terkait untuk
diproses. Kedapatan mereka yang telah berkumpul bersama dan tidak menjaga
jarak. Akhirnya terpapar bahkan ada yang dsinyalir posistif.
Kesadaran semacam ini ditengah
masyarakat Indonesia masih sangat minim bahkan dapat dikatakan jauh dari
tingkat kesadaran mawas diri, sehingga berakibat fatal. Anjuran dan imbauan
dari Pemerintah dianggap enteng bahkan sebagian besar mereka menganggap bahwa
Covid itu tidak ada hanya rekaan saja. Tapi begitu sudah terpapar dan
terjangkit positif, barulah mereka percaya, namun demikian ada banyak yang
terlambat karena nyawa mereka melayang tidak tertolong. Sekarang ini banyak
orang bias saja reaktif dan OTG karena berhubung pandemi ini sudah berjalan
cukup lama. Jadi bagi semua masyarakat, kita semua diimbau untuk tetap
mengikuti standard protkol kesehatan disamping imbauan 3M (memakai masker, mencuci tangan menjaga
jarak dan menghindari kerumunan). Seiring waktu terjadi perkembangan kasus
baru, yakni gejala baru Covid-19, waspadai Delirium, adalah gangguan mental
yang diakibatkan perubahan cepat dalam fungsi otak. Delirium mengakibatkan bagi
penderita akan mengalami penurunan kemampuan berpikir, susah focus, kesulitan
mengingat dan berkonsentrasi bahkan mengalami sulit tidur serta kebingungan.
bila
kita mendengar banyak kasus akan membuat rasa ngeri dan was-was, namun demikian
kita tidak kuatir berlebihan karena itu akan membuat daya tahan imun kita
sendiri akan turun. Tetaplah waspada dan mengikuti standard protokol kesehatan
maka aman untuk sementara. Selanjutnya hindari berada dikeramaian atau berada
di dalam ruangan tertutup dengan banyak orang. Sirkulasi udara yang fakum
seharusnya dapat membuat seseorang terpapar karena itu buatlah ruangan dengan
sirkulasi udara yang baik. Tetap jaga pola hidup, upayakan berjemur 10-15 menit
di terik matahari pagi.
Cepat atau lambat kasus pandemi ini akan global dan bias jadi hamper semua manusia dibelahan muka bumi ini akan terpapar. Mereka yang memiliki daya tahan tubuh (imun)yang kuat akan segera pulih atau setidaknya mampu bertahan dalam pengobatan. Namun naas bagi mereka yang memiliki penyakit bawaan dan yang berusia di atas 50 tahun. Kendati demikian setiap kita memiliki kekuatan imun yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu semua wajib menyadari hal ini dan mengerjakan bagiannya masing-masing untuk menjagai dirinya sendiri dan keluarga bahkan sesama.
Globalisasi pandemi sebenarnya bukanlah ancaman baru. Ribuan tahun yang telah lalu pun juga manusia dan hewan telah mengalaminya. Ada banyak pandemi yang dialami bahkan sampai kerusakan ekosistem. Seharusnya manusia belajar dari masa lalu dan memperbaikinya. Kelalaian ini akan membuat kejadian serupa terulang. Bayangkan, bila kerusakan alam oleh factor manusia membuat banyak kejadian gunung meletus, banjir, longsor, kebakaran hutan, erosi, dan lain sebagainya, itu semua adalah bagian ulah manusia. Nah sekarang dengan kasus pandmei Covid-19 juga ditenggarai oleh ulah manusia, yang dijadikan sasaran penyebab adalah mahluk hidup (hewan). Manusia telah gagal untuk menjagai alam dan merawatnya. Sebagai mahluk hidup tertinggi (manusia) diantara mahluk hidup lainnya, sepatutnya manusia menjadi penguasa sekaligus pengelola yang baik terhadap mahluk hidup yang lemah bahkan menguasai alam dengan terpadu.
Bila kita membahas kasus demi kasus, sesungguhnya bukan hanya kasus masalah Covid-19 yang belum berakhir dan tertangani. Ada banyak kasus yang juga belum berakhir hingga sekarang ini. Kasus korupsi, kasus penyelewengan hukum, tindak pidana ini dan itu, teroris, dan masih banyak lagi. Jika kita terus memikirkan dan membicarakan hal ini tentu akan membuat kepala menjadi pusing. Sungguh aneh memang bahwa keadaan dunia semakin semrawut ditengah gejolak jaman. Ada orang yang beragama tapi dalam kelakuan justru tidak ber-Tuhan. Tidak sedikit orang yang mengganggap Tuhan tidak ada namun dalam prakteknya justru mereka lebih manusiawi dari manusia. Mensejajarkan dirinya sebagai mahluk mulia dan menghargai serta mencintai kedamaian. Di sisi lain ada banyak yang menyuarakan cinta damai, kemahakuasaan Tuhan, namun memungkiri kedaulatan-Nya dengan hidup bercela dan tidak pantas. Kelakuan dan karakter mereka justru membuat penyataan bahwa Tuhan itu tidak ada. Mereka tidak respek dan menghormati nilai-nilai kebenaran-Nya yang tertuang didalam Kitab Suci.
Keadaan pandemi Covid-19 ini seharusnya membuat semua manusia sadar diri dan tahu diri bahwa usia kuota manusia berbatas waktu. Rentan dan tragis, kapan saja ajal bias menjemput. Kelakuan dan perbuatan kita seharusnya terus dievaluasi apakah sudah menyenangkan hati Tuhan dan memberkati sesama atau sebaliknya? Sebenarnya Tuhan tidak ada dalam agama manusia. Agama tercipta karena manusia yang mengadakannya. Agama dibentuk supaya manusia tidak melenceng dari kodrat-Nya. Manusia diberi hikmat agar supaya dapat mengenal siapa penciptanya. Namun seiring waktu dan karena filossofi terus berkembang dan nalar manusia berikir bahwa agama dapat dijadikan tameng untuk keselamatan dan meraup keuntungan; menghimpun masaa, politik dan sebagainya, sehingga agama dijadikan mobilisasi untuk kepenntingan diri dan golongan. Nah, sekarang masa pandemi, siapakah yang mampu melawan Covid-19? Tidak ada seorangpun yang mempan dan kebal terhadapnya. Sekarang saatnya banyak orang berteriak memanggil nama Tuhan yang dipercayainya, seakan memohon perlindungan agar terhindar dari wabah tersebut.
Tuhan tidak ada dalam agama manusia. Tuhan tidak hidup di dalam agama manusia. Tuhan berdiri sendiri sebagai Sang Mahakuasa yang berjaya dengan segala otoritas dalam kemuliaan-Nya. Manusia hanyalah sebagai ciptaan-Nya yang dulu dimuliakan sebagai mahluk tertinggi dari segala ciptaan-Nya di muka bumi. Kemuliaan dan citra tersebut rapuh karena pelanggaran dan pemberontakan manusia pertama di Taman Eden (Adam dan Hawa). Kenyataannya bahwa manusia terlepas dari kemuliaan-Nya sehingga hubungan antara manusia dengan Tuhan terputus. Manusia berusaha mencari dan menjalin hubungan itu melalui ranah agama. Tapi kenyataannya, agama justru membuat manusia menalar dan mengukur Tuhan dengan akal budi yang fana, tidak mampu menjangkau dan mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwanya. Keadaan ini terus terpupuk terlihat terkondisi dengan keadaan dunia yang semakin carut marut. Memang tidak semua manusia mengalami kebobrakan moral dan iman, namun tidak sedikit bahkan banyak hampir semua manusia hanya berspekulasi tentang Tuhan. Tuhan dimobilisasi melalui agama dan kepercayaan. Justru ditengah pandemi wabah Covid-19 ini, mata kita semua terbuka bahwa begitu rentannya hidup ini. Mungkin keadaan ini belum berakhir pulih hingga ditahun yang akan datang, atau mungkin saja bisa menjadi bertambah semakin menjadi. Kenyataannya, manusia berusaha untuk memperbaiki keadaan ini, ya kita semua harus berjuang bersama-sama dalam memutus rantai penyebaran Covid-19 ini.
Ketika kita dulu duduk di sekolah dasar sampai ditingkat menengah atas bahkan hingga di Perguruan Tinggi, pelajaran atau mata kuliah tentang religi terus dikumandangkan dan dipelajari. Kenyataannya, pelajaran tersebut tidak membuat manusia sebagai mahluk yang tercipta sesuai kodrat ilahi. Manusia pembelajar justru menganalisa dan menalar Tuhan sebagai yang berada diluar nalar kemampuan manusia. Bahkan hidup yang dijalani saat ini adalah hak penuh atas hidupnya, Tuhan tidak berdaya mengatur dan memberi wacana kepadanya. Kenyataannya memang demikian karena hampir semua manusia lebih cenderung egosentris dan berpijak pada kemandiriannya sebagai mahluk tertinggi. Pendidikan agama yang dipelajari dan dihayati hanya sebatas nalar dan sebagai ilmu pengetahuan belaka. Pada prinsipnya manusia lebih cenderung mengikuti keinginan daging dan hawa nafsunya. Cara berpikir yang dianggapnya baik dan harus dilaksanakan sebagai bentuk hasrat dan kehendak bebasnya.
Injil telah menyatakan sejak ribuan tahun silam bahwa manusia telah jatuh dalam dosa, segala yang dikehendakinya hanyalah berbuahkan dosa semata (Kejadian 6:5; Roma 3:10,11,23). Dosa telah menguasai kehidupan manusia dalams egala aspek, dan manusia menikmati itu sebagai bentuk kebebasannya tidak terikat kepada Tuhan. Karena apa yang dianggapnya baik menurut pola pikirnya itu menguntungkan dirinya semata. Pada hal melalui musibah pandemi ini kita sebagai mahluk ciptaan-Nya yang mulia, dapat merenungkan bahwa hidup ini sangat rentan dan tragis. Keterbatasan dan kerapuhan hidup ini tidak dapat mampu melawan kodrat dari Sang Mahakuasa. Manusia harus menyadari itu dan memberi diri untuk dipulihkan. Manusia harus kembali kepada tracknya Tuhan untuk dikembalikan kepada rancangan keselamatan semula yang Tuhan inginkan. Manusia tidak perlu memandang dan berpikir curiga atas apa yang Tuhan mau perbuat atas kita. Sepatutnya kita harus berinisiatif menyerahkan diri kepada-Nya. Kini oleh pengaruh dampak yang besar di era milenial, manusia lebih cenderung mengungkung diri kepada kemajuan teknologi sehingga di masa kini manusia men-tuhan-kan teknologi, bahkan dirinya, atau apapun segala bentuk yang dapat mendukung - menyokong pemenuhan kehidupan serta dapat menaikan derajat manusia. Bila Tuhan dapat mencipta, maka manusia juga dengan segala eksistensinya mampu menciptakan segala sesuatu yang dapat sebagai distribusi kebutuhan bersama. Hanya saja keterbatasan itu tidak disadari oleh manusia sehingga manusia terus berlomba dengan kepintarannya untuk mampu menciptakan yang brilian di mata sesama. Belum lama ini China sudah dapat mampu menciptakan matahari buatan (proyek HL-2M Tokamak) yang mampu memberi pencahayaan diluar batas normal manusia pada umumnya. Proyek matahari buatan China bekerja dari hasil reaksi nuklir dengan menggunakan magnet yang dipadukan plasma panas. Akibatnya, suhu yang diciptakan bisa mencapai 15 juta derajat Celcius atau 10 kali lipat lebih panas dari inti matahari. HL-2M Tokamak ini mampu beroperasi pada suhu 150 juta derajat celcius. Sementara inti matahari hanya mencapai suhu 15 juta derajat celcius. Kecanggihan dan perkembangan teknologi dipadukan dengan kepintaran manusia hendaknya tidak melewati batas ambang wajar bahwa semua itu untuk kesejahteran manusia dan seiring kehendak Tuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.