3 Pilar

3 Pilar

Jumat, 18 Desember 2020

KEMAH ABADI

 

Dua puluh lima tahun yang lalu, rumah yang saya tempati bersama orang tua, saudara dan keluarga, masih kelihatan cukup kokoh. Sejak tahun 1972 berdiri, bangunan rumah ini belum mengalami renovasi apapun. Seiring waktu termakan oleh usia dan mau tidak mau harus direnovasi mengingat kondisi usia bangunan tersebut, belum lagi jalur kabel kelistrikan yang masih menggunakan model lama sekali. Pembanguann renovasi pun dilaksanakan dan memakan waktu yang tidak sebentar karena disamping dana yang tidak langsung terpenuhi kuotanya, juga karena factor lain sehingga membutuhkan beberapa bulan untuk mencapai rampung. Rumah tersebut yang dulu tidak bertingkat, kini dibuat memiliki beberapa lantai bertingkat. Lantai kedua dibuat beberapa kamar dikarenakan ada banyak anggota keluarga, keponakan dan sepupu, juga ada ruangan yang cukup besar untuk dijadikan temat ibadah, karena dulu sebelumnya sejak tahun 1972, sudah ada dirintis ibadah kecil dari persekutuan seggelintir orang-orang disekitar tempat tersebut bahkan dari beberapa tempat lain. Lambat laun semakin bertambah umat yang bergabung sehingga pada tahun 1980, oleh gereja induk yang mempelopori dan turut merintis menetapkan dan meneguhkan rumah tersebut selain tempat tinggal juga sebagai gereja cabang wilayah. 

Papa yang kala itu masih sebagai umat awam, kepala keluarga dari rumah tersebut, diberi kuasa untuk melayani dan menjadi gembala wilayah untuk membina dan memimpin jalannya ibadah dan kerohanian di tempat ini. Seiring waktu dengan bertambahnya usia papa yang semakin uzur, maka kala itu saya yang telah turut serta dalam pelayanan dan dengan didukung telah menempuh sekolah Alkitab di salah satu Institut Theologia dan Keguruan Jakarta, maka gembala senior pada gereja induk, mempercayakan saya untuk terus melanjutkan tongkat estafet yang papa sudah selesaikan dikarenakan telah tutup usia. Kala itu saya masih sangat muda dan bisa dibilang baru selesai menunaikan sekolah dari SMA ke jenjang sekolah Alkitab. Jadi bisa dikatakan sambil kuliah juga praktek langsung. 

Jemaat yang dipercayakan kepada saya untuk dibina, kebanyakan mereka dari strata menengah kebawah. Walau mereka tinggal di kota Jakarta, dibilangan utara, namun keberadaan perekonomian mereka masih tergolong tidak berada digolongan atas dan juga tidak marginal. Rumah tempat tinggal mereka kebanyakan berada dilingkungan padat penduduk dan sangat riskan akan bahaya kebakaran bila terjadi musibah tersebut. Walau demikian soal kerajianan untuk setia beribadah, patut diacungkan jempol. Kala musim penghujan tiba dan banjir terjadi, maka rumah-rumah jemaat hampir secara keseluruhan terendam oleh banjir. Ada beberapa diantara mereka yang masih mengontrak dan belum punya rumah sendiri. Beberapa kali sering dilakuak kegiatan perkunjungan apalagi disaat banjir melanda, sedapatnya gereja bisa membantu pangan dan sedikit persembahan kasih bagi keluarga yang membutuhkan. Terenyuh hati bila melihat dan menyaksikan banyak rumah yang terendam air hingga setinggi di atas lutut kaki. Sofa tempat duduk yang basah, ranjang pun demikian, dan hampir semua air yang masuk berwarna hitam karena begitu dekat dengan saluran got. Hakikinya semua manusia mendambakan tempat tinggal kediaman yang nyaman dan tentram. Segala kebutuhan hidup tercukupi disertai keadaan cukup soal kemapanan dan ketersediaan tersebut. Hal ini adalah manusiawi dan wajar. Tidak bisa dipungkiri bahwa ini adalah keinginan yang wajar dan didambakan oleh semua umat manusia. Satu hal yang perlu kita simak dancermati serta pahami bahwa hidup ini bukanlah semata hanya untuk memenuhi segala kebutuhan material demi kemapanan hidup. Sayangnya, keadaan situasi dan kondisi ini akan membuat manusia seringkali tidak pernah puas dengan keadaan yang ada. Dari pemenuhan yang satu akan menuntut kepada pemenuhan yang selanjutnya. Bukan tidak boleh mendambakan tempat tinggal yang asri, jauh dari musibah banjir, milik sendiri dan tidak mengontrak, serta ketercukupan kebutuhan baik sandang, pangan dan papan. Itu adalah hal yang normal secara manusia dan dikerjakan oleh semua insan di muka bumi ini. Manusia bekerja keras demi memenuhi kebutuhan keluarga, anak-anak, dan anggota keluarga lainnya. Bila secara pribadi, ia pasti memenuhi apa yang menjadi kebutuhan yang diidamkannya. Bahkan mereka yang masih tergolong single atau belum berkeluraga, bila ia laki-laki, berusaha untuk menabung bahkan memprogram untuk membeli rumah idaman ketika mereka siap membangun sebuah keluarga yang baru. Nanti ketika seseorang telah menikah dan memiliki momongan anak, akan dituntut untuk memiliki investasi lebih untuk kebutuhan anak-anaknya saat akan sekolah hingga ke perguruan tinggi. Nanti akan disibukan untuk memugar, merenovasi bahkan bisa jadi pindah dan membeli rumah baru, dikarenakan rumah yang ada mungkin sudah tidak terpenuhi untuk mencukupi akomodasi anggota keluarga yang semakin bertambah. 

Rumah adalah tempat tinggal yang nyaman. Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia pra sejarah juga mendambakan tempat tinggal. Walau mereka hidup nomaden, sesungguhnya mereka memiliki idaman terhadap tempat untuk bernaung terhindar dari air ketika hujan turun, dari hawa dingin dan salju, bahkan dari keterusikan mahluk hidup lainnya. Manusia prasejarah juga memiliki idaman untuk membangun sebuah keluarga, dan nyaman tinggal bersama bercengkerama di dalam rumah. Pada jamannya mereka tinggal di goa-goa, di atas pohon, dan di dalam tanah. Hingga menuju abad pencerahan, manusia yang sudah memiliki pengetahuan yang lebih maju dan modern, membangun rumah dengan gaya dan arsitekture yang terkondisi oleh kultur dan tradisi yang disesuaikan oleh keadaan budaya yang ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa kebutuhan akan tempat tinggal (rumah) sebagai tempat bernaung, bercengkerama, beristrirahat dan membangun sebuah kelurag adalah sebagai pondasi yang kokoh keinginan manusia secara normal dan wajar.                                                   

            Rasul Paulus dalam tulisannya, 2 Korintus 5:1-2, mengungkapkan bahwa tempat kediaman kita di dunia ini sekali waktu kelak akan dibongkar, karena fananya dunia dan tidak akan bertahan untuk selamanya. Rasul Paulus menegaskan bahwa kemah yang dimaksud bukan hanya tempat kediaman secara permanen, tapi yang dimaksudkan ialah kemah (tubuh ) ini, sebagai tempat kediaman yang didalamnya ada jiwa dan roh manusia. Tubuh manusia adalah rumah hidup manusia. Tuhan menciptakan mansia terdiri dari tubuh, jiwa dan roh. Tubuh yang kita kenakan adalah yang dalam Ibrani untuk tubuh manusia adalah בָּשָׂר - basar (Ibrani), atau σάρξ - sarx, (Yunani), harfiah: 'daging'. Tubuh ini sifatnya fana, tidak kekal. Rentan dengan segala macam penyakit dan lemah sifatnya. Bila termakan atau seiring waktu oleh faktor usia, maka tubuh akan semakin merosot (2 Korintus 4:16). Namun lain halnya berbeda dengan batiniah manusia yang senantiasa dapat terus diperbaharui dengan melalui asupan kebenaran firman-Nya. Rasul Paulus pernah menulis betapa keinginan daging itu kuat dan manusia dalam kedagingan itu memang posisinya bertentangan dengan manusia rohani. Oleh sejumlah Injil dan penulis surat perjanjian baru hal tersebut diulangi kembali. Semuanya menekankan betapa lemah, rentan dan rendahnya tubuh fisik dibandingkan kerohanian. Yesus pun pernah menyatakan: ”Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25). Jadi, baik sarx (tubuh) dan psukhe (diterjemahkan sebagai hidup, namun bisa juga diartikan sebagai jiwa atau diri sendiri). Pada hakekatnya, manusia lebih condong dan cenderung dalam mengupayakan pemenuhan diri dari pada pemenuhan kerohanian, batiniahnya. Jiwanya lebih banyak dipuaskan oleh keinginan mata, dan hasrat belaka. Padahal kemah - tubuh tersebut hanya dapat bertahan berkisar 70-80 tahun saja, selebihnya kesusahan dan penderitaan.

             Kata kemah disini dapat diartikan sebagai parokia.   Kata ‘paroki’ sendiri berasal dari bahasa Yunani parokein yang berarti musafir atau pengembara. Namun, paroki saat ini menggambarkan pembagian wilayah jemaat gereja dan istilah ini juga merujuk pada jemaat gereja yang mengharapkan kehidupan kekal dalam Kerajaan Sorga. Jemaat hanyalah orang-orang yang menumpang hidup di dunia (1 Petrus 1:17b). Keberadaan bahwa kita sebagai orang percaya ialah sedang menumpang di bumi dan bumi ini tidaklah abadi sama hal nya dengan tidak abadinya kehidupan manusia. Sebagai orang percaya kita harus memahami akan hal ini, bahwa keberadaan kita di bumi ini hanyalah hanya menumpang. Tubuh yang dititipkan kepada kita adalah merupakan anugerah sebagi kesempatan untuk dibenahi, dijagai dan dirawat agar tetap prima sampai pada akhirnya harus kembali ke pembaringan terakhir. Namun bukan hanya tubuh yang harus dibenahi, batiniah nya pun harus diberi asupan yang optimal melalui kebenaran firman dari Injil yang murni. Sejak dulu banyak orang percaya terkontaminasi dengan pengaruh filosofi yang dunia suguhkan. Belum lagi pengajaran di gereja oleh para hamba Tuhan yang memanipulasi kebenaran firman-Nya; dengan salah menafsirkan, mengambil keuntungan dari pelayanan seakan-akan hamba Tuhan itu sebagai wakil-Nya, sehingga banyak umat berbondong dating dan menyuguhkan sesuatu sebagai imbalan dan justru kesempatan ini sebagai mobilisasi para hamba Tuhan untuk meraup keuntungan tersebut. Pada hal kita semua sebagai orang percaya adalah hamba-hamba Tuhan, artinya kita semua merupakan bagian dari-Nya, yang dipercayakan untuk menyuarakan kebenaran firman-Nya melalui sikap hidup yang diejawantahkan dalam keseharian dan bukan hanya secara verbal. Kita dapat menjadi perpanjangan tangan-Nya untuk memberkati sesama. Berkat yang dimaksud bukan diartikan sebagai berkat pemenuhan hidup lahiriah, tapi yang lebih utama ialah bahwa seseorang diberkati dengan kebenaran firman dari Injil yang murni, apa yang Tuhan Yesus ajarkan secara murni dan tidak dimanipulasi untuk kepentingan pihak melainkan untuk kemuliaan bagi-Nya.

             Kita semua lahir dan datang ke dalam dunia, tidak membawa apa-apa. Kita kelak kan kembali kepada Sang Pencipta dan mempertanggung jawabkannya di meja Pengadilan Tahta-Nya. Di Sana, tidak ada pengacara maupun pembela yang dapat mendukung dn membenarkan diri kita, semua terbuka dihadapan-Nya tanpa sedikitpun untuk bisa ditutupi atau direkayasa.

             Tubuh ini harus dipersembahkan sebagai persembahan yang berkenan dan harum dihadapan Tuhan, Sang Pencipta alam semesta. Mempersembahkan hidup dapat seyogyanya dengan hidup tidak bercacat dan tak bercela. Hidup dalam kesuciaan seperti yang DIA ajarkan kepada kita. Dunia senantiasa menawarkan banyak cara dengan pesona dan kemolekannya sehingga banyak orang, juga termasuk orang percaya untuk menoleh tertarik bahkan terpincut oleh kecantikan yang dunia tawarkan. Karena itu orang percaya harus tahu diri dan sadar diri, siapa dirinya dan apa tugas serta tanggungjawabnya dalam mengemban Amanat Agung untuk menggarami dan menjadi terang bagi sesame melalui sikap hidup yang mencerminkan gambaran Kristus dan disertai perbuatan yang menghidupi kebenaran firman-Nya. Tubuh ini tidak boleh digunakan dengan sembarangan, dengan memenuhi keinginannya untuk dipenuhi secara keinginan daging. Keinginan daging senantiasa memaksa seseorang untuk berusaha mencari cara dengan segala cara untuk terpenuhi hasrat jiwa yang akan membawa dampak kepada kebinasaan kekal. Firman Tuhan mengatakan asal ada makan dan pakaian, cukup (1 Timotius 6:8), kita tidak boleh memaksakan diri untuk segala sesuatu yang tidak memuliakan nama-Nya. Kekuatiran hidup adalah dosa. Menjadi berdosa karena hasrat pemenuhan hidup yang tidak terpenuhi. Rasa kuatir memang ada namun bila orang percaya hidup dalam rasa syukur dengan apa yang ada padanya justru membawa nikmat (baca Matius 6:34).

             Pemenuhan diri akan membawa dampak kepada seseorang untuk melayani dirinya sendiri. Baginya kewajaran hidup disesuaikan atau dikondisikan sebagai sesuatu yang harus dipenuhi. Kebutuhan hidup tidaklah dosa, akan tetapi bila telah menjadi keinginan daging maka segala kebutuhan akan tidak proposional. Orang percaya harus sepikiran dan seperasaan dengan-Nya sehingga apa yang dilakukannya menyenangkan hati-Nya. Hidup yang singkat ini harus diisi oleh hal-hal yang menyenangkan hati-Nya. Kebutuhan hidup pasti akan terpenuhi dengan disertai oleh tanggung jawab insani. Tuhan tahu memberkati orang berintegritas dan bertanggungb jawab. Hidup jujur dan rajin bekerja, akan membuahkan hasil bahwa manusia tidak berkekurangan. Yang harus dipenuhi bukanlah keinginan daging melainkan apa yang berkenan dari-Nya untuk dilakukan oleh orang percaya. Keinginan daging hanya akan membawa seseorang kepada jurang maut kebinasaan. Semua kita pasti akan berpulang. Selama masih ada waktu dan kuota usia ini berbatas waktu, kita gunakan dengan optimal hanya untuk menyenangkan Tuhan. Kemah abadi kita bukanlah di bumi tetapi di langit yang baru dan bumi yang baru, di mana tidak ada air mata dan kematian. [JK]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.