Salah satu keajaiban dunia di Indonesia
yang sangat terkenal adalah candi Borobudur. Candi Borobudur dibangun pada 824 masehi oleh Raja
Samaratungga ketika masa Wangsa Syailendra. Pembangunan Candi Borobudur selesai
pada 847 masehi oleh Ratu Prabudawardhani, putri Samaratungga. Candi Borobudur
dibangun untuk memuliakan agama Budha Mahayana. Candi Borobudur dengan luas 123
x 123 meter persegi. Di mana yang terdiri dari 504 patung Budha, 72 stupa
terawang serta 1 stupa induk. Seluruh mancanegara dibelahan dunia manapun
pasti ketika berkunjung ke Indonesia akan mampir ke sini, selain ke Bali. Batu-batu
besar dan pada jamannya dengan pahatan yang sangat rapi dan sangat kental
dengan nuansa religinya tersusun sedimikian rupa yang dijadikan sebagai bentuk
keajaiban alam dan karya maha besar oleh UNESCO. Bila kita berkunjung ke sana
akan ditemui banyak pahatan relief pada setiap dinding dan beberapa tempat yang
menceritakan keagungan para pertapa, raja, budaya dan religi Budha. Keindahan
candi Borobudur telah menjadi buah bibir oleh semua orang yang pernah ke tempat
tersebut. Decak kagum akan maha karya ini seakan tidakdapat di nalar secara
logis, karena begitu hebat dan luar biasanya, dibandingkan bila pada era
milenial dan teknologi masa kini, sudah barang tentu dapat difasilitasi oleh
peralatan yang canggih dan teknisi berpengalaman dibidangnya.
Candi
Borobudur selain ditetapkan oleh UNESCO melalui WHO sebagai Warisan Budaya Dunia (World Heritage), Indonesia juga menetapkan candi ini sebagai
cagar budaya yang harus dilindungi karena sarat mengandung sejarah dan
merupakan peninggalan nenek moyang pada masa kerajaan dijamannya. Pembangunan dan
berdirinya bangunan candi ini memakan waktu yang tidak sebentar dan pasti
membutuhkan tenaga kerja yang tidak sedikit mengingat bangunan candi ini
terdiri dari material batu alam yang cukup besar dan kokoh. Pemerintah dalam
hal sangat membanggakan hasil karya seni tersebut dan juga sebagai promo wisata
bagi dunia. Perlindungan dan melestarikan bangunan candi ini tidak sedikit biaya
yang dikeluarkan demi kelestraian, keasrian sesuai teksture dan estetis
bangunan aslinya. Ditetapkan sebagai
cagar budaya, karena ini bisa dapat menunjukkan jati diri bangsa Indonesia,
bahwa pernah ada kerajaan yang bercorak Budha dan disamping itu maha karya
tersebut merupakan icon kebanggaan negara sebagai simbol ke-Bhinneka Tunggal
Ika-an. Pengertian dari cagar budaya adalah sebagai warisan budaya yang bersifat
kebendaan, baik berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, struktur cagar
budaya, situs cagar budaya, dan kawasan cagar budaya di darat dan/atau di air
yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi
sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui
proses penetapan.
Istilah cagar
itu sendiri ialah pelestarian dan perlindungan terhadap sesuatu baik benda dan
sesuatu yang dapat dianggap perlu dilindungi. Dalam kehidupan kerohanian orang
percaya, ada kebutuhan yang mendasar selain kebutuhan pokok manusia, primer,
sekunder dan tersier. Yakni kebutuhan kerohanian yang menyangkut nafkah
batiniah. Manusia diciptakan oleh Allah lengkap dengan roh, jiwa, dan tubuh
(Kejadian 1:27; 1 Tesalonika 5:23). Setiap manusia memiliki dua sisi kehidupan
yakni sisi lahiriah dan batiniah. Secara sederhana perbedaan keduanya adalah,
sisi lahiriah adalah hal-hal yang kelihatan. Sedangkan sisi batiniah merupakan
hal-hal yang tidak kelihatan. Kebutuhan roh senantiasa menyangkut hal-hal kebutuhan batiniah. Jiwa kita merupakan pusat
kepribadian kita yang daripadanya pikiran, kehendak, dan emosi kita berasal. Di
dalam jiwa, kita memilih mendengar dan tunduk kepada nafsu kedagingan kita atau
keinginan Roh Kudus (Galatia 5:16-17; Roma 8:9; Markus 14:38). Manusia batin
kita juga perlu diberi makan, seperti yang tertulis dalam Matius 4:4 : “Tetapi
Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari
setiap firman yang keluar dari mulut Allah.”
Batiniah kita harus
senantiasa diperbaharui dari hari ke hari (2 Korintus 4 : 16 -17). Selain itu,
manusia batin kita harus dilatih supaya menjadi gaya hidup dan mengalami kuasa
Firman Tuhan yang hidup. 1 Tim 4:7-8 : “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng
nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya,
tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk
hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang.” Batiniah setiap individu
sarat dan rentan terhadap pengaruh dunia yang terus senantiasa menggoda dengan
segala kemolekannya dan filosofi yang senantiasa dapat diterima oleh nalar
kebanyakan manusia pada umumnya sebagai suatu kewajaran sehingga condong dan
cenderung kenikmatan dunia terus bergulir menjadi lahan yang asri di setiap
batiniah manusia. Padahal batiniah manusia hanya dapat dipuaskan dan terpenuhi
bila Tuhan bersemayam di sana. Ruang hati manusia sebenarnya tidak dapat di isi
oleh apapun sekalipun seluruh isi dunia, karena pasti ada saja merasa ada yang
kurang. Dan ruang itu hanya dapat di isi oleh kehadiran Pribadi-Nya. Kekacauan yang
dibuat leh pengaruh dunia membuat manusia sering gelap mata dan khilaf terhadap
kemolekan dan kecantikan yang dunia tawarkan sehingga manusia tergoda dan
berzina rohani terhadap tawaran dunia. Cagar batiniah kita harus diteguhkan. Dijagai,
dilestarikan dan dipelihara sedemikian rupa agar tidak terpincut oleh goda rayu
kenikmatan yang dunia tawarkan melalui kesenangan mata memandang, memanjakan
perasaan dan mengikuti keinginan daging. Keberadaan diri kita di dunia ini
sebenarnya sangat rentan terhadap gejolak keadaan alam dan dunia semakin
merosot keberadaannya menuju kehancuran kekal. Pandemik wabah virus dan gejolak
ekonomi dunia secara global membuat manusia semakin terhimpit sementara itu ada
yang berada di strata atas mampu membeli ini dan itu serta memuaskan diri dengan
apa yang mampu dia belanjakan. Sebagai orang percaya yang telah mengenal kebenaran
firman Tuhan, harus mampu memanahan diri dan tidak merasa cemburu dengan
keadaan sekitar. Manusia semakin memuaskan keinginan hasrat dan kedagingannya
dari pada memenuhi kebutuhan batiniahnya. Pada hal keingianan lahiriah
senantiasa tidak akan pernah terpuaskan sampai ajal menjemput. Kebutuhan batiniah
yang harus dilestarikan dan dilindungi agar supaya tidak punah termakan oleh
gerusan hebat dari pengaruh jaman yang semakin edan dan tidak menentu. Agama dijadikan
tuhan untuk memobilisasi banyak umat dan meraup keuntungan diri dan golongan. Padahal
Tuhan tidak ada dalam agama dan Tuhan tidak ber-“agama” dalam pengertian bahwa
agama hanyalah buatan dan karya manusia. Yang perlu kita lestarikan dan
lindungi ialah bukan bangunan yang permanen (lahiriah manusia), seperti cagar
budaya yang disebutkan sebagai contoh di atas, melainkan diri kitalah yang
dalam hal ini pemenuhan batiniah yang tidak pernah usang dimakan oleh waktu.
Keberadaan batiniah orang
percaya kelak kan menjadi pusat perhatian ALLAH ketika mansuai itu menghadap
Tahta-Nya, apakah dirinya telah menjadi man of God atau masih mengenakan
kodrat dosa (sinful nature). ALLAH adalah arsitek jiwa bagi mereka yang mau dan
memberi dirinya dibentuk oleh-Nya. Lukisan yang diperbuat-Nya akan menciptakan manusia
ilahi yang layak dipandang diperkenan oleh-Nya. Orang percaya harus pro aktif
dalam hal ini memberi diri dan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar
melalui pemenuhan batiniah yang tercukupi oleh kebenaran-kebenaran dari Injil
yang murni dan dengan komitmen serta konsistensi tinggi bersedia dibentuk oleh
arahan dan bimbingan Roh Kudus untuk memahami dan mengerti pikiran dan
persaan-Nya untuk dilaksanakan seperti yang Tuhan inginkan. Tanpa tuntunan
karya Roh Kudus tidak mungkin seseorang dapat bertumbuh dan mengalami
pembaharuan batiniahnya. Namun juga harus ada pro aktif dari diri kita juga
untuk memaksakan diri bahkan rela membunuh diri dari nafsu kedagingan.
Gereja dalam hal ini harus
senantiasa mengajarkan dan membimbing warga gerejanya untuk berani menyangkal
diri dan pikul salib. Menjadi manusia baru dan mengenakan kodrat ilahi serta
berani untuk hidup tidak bercacat dan tak bercela demi mencapai status corpus
delicti dan sebagai anak Allah yang diperkenan-Nya. Keadaan ini adalah
kebutuhan batiniah orang percaya, di mana individu tersebut harus berani memiliki
kerinduan dan memberi diri dibentuk dalam proses tersebut. Keadaan manusia
lahiriah akan merosot seiring waktu seperti kuota usia berbatas waktu, namun
yang tinggal tetap ialah keadaan batiniah manusia yang Kembali kepada Sang Pencipta.
Keadaan batiniah manusia yang murni akan membentuk jiwa yang dimurnikan dan
dikembalikan kepada rancangan Allah semula.
Gereja harus benar-benar
menyuarakan suara kebenaran dari Injil yang murni tepat seperti sesuai yang
Tuhan Yesus Kristus ajarkan mula-mula pada saat IA datang ke dalam dunia
membawa Kalam Hidup itu sebagai euangelion. Kristus akan datang yang
kedua kalinya kelak, dan IA pasti menayakan apakah masih ditemukan iman di bumi?
Iman bukan hanya percaya semata tetapi penurutan terhadap objek yang dipercayainya.
Penurutan terhadap kehendak Allah merupakan cara kerja batiniah orang percaya
yang membutuhkan proses panjang. Bagaimana seseorang belajar untuk mengenal
pencipta-Nya dan bersekutu dengan-Nya melalui proses meditasi setiap hari,
waktu dan saat dimanapun ia berada. Guru-guru sekolah Minggu juga harus piawai serta
cakap dalam membimbing anak didiknya untuk menemukan Tuhan sehingga batiniah
mereka mengalami pembaruan dan jamahan-Nya. Para pelayan Tuhan, baik gembala siding,
guru-guru sekolah Minggu, para aktivis yang turun dalam pelayanan gerejawi harus
benar-benar membenahi batiniah masing-masing untuk tercukupi asupannya. Harus mengalami
Tuhan secara pribadi dan bertumbuh dewasa rohani sehingga mampu mengimpartasi
orang-orang yang dilayaninya hingga menyentuh manusia batiniahnya. Lestarikan
dan lindungi manusia batiniah kita dari pengaruh dunia yang semakin rusak. Temukan
Tuhan secara pribadi dan ketertundukan diri kita terhadap segala titah dan
kehendak-Nya. [JK]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.