3 Pilar

3 Pilar

Sabtu, 12 Desember 2020

EKSTRAKURIKULER AGAMA

Pada masa perjuangan dalam merebut kemerdekaan dari para penjajah yang pernah masuk ke Indonesia; Portugis (1509 - 1595),  Spanyol (1521 - 1692), Belanda (1602 - 1942), Perancis (1806 - 1811), Inggris (1811 - 1816), Jepang (1942 – 1945), semua para pejuang tidak pernah memandang suku, ras bahkan agama kepercayaan masing-masing mereka.  Para pejuang berfokus bagaimana untuk melakukan perlawanan kepada para penjajah dan mereka bersatu. Sekalipun ada peran politik propaganda dari pihak Belanda, yang berusaha mengadu domba para pejuang sehingga terpecah belah dengan politik yang bernama Devide et Impera. Kendati demikian rasa persatuan dan kesatuan telah mengental dan mendarah daging di dalam tubuh mereka , para pejuang kemerdekaan. Walau membutuhkan ratusan tahun atau hampir 3,5 abad untuk terlepas dan merdeka dari tangan para penjajah, namun usaha tersebut memang perlu memakan banyak pengorbanan disamping karena faktor-faktor internal selain eksternal. Kendala tersebut tidak lain dan tidak bukan ialah faktor adu domba, pengkhianatan, haus kekuasaan dan sebagainya, sehingga menimbulkan perpecahan dan kekalahan. Butuh banyak waktu yang tidak sedikit da nada banyak nyawa melayang dalam hal ini, disamping karena sangat terbatas dan kalah asset dalam persenjataan musuh. Para pemuka agama, pelajar, wartawan dan semua lapisan masyarakat terjun bahu membahu dalam memenuhi tugas dan tanggung jawababnya untuk ikut andil turun di medan tempur dengan alat perang seadanya. Kesederhanaan alat perang tidak membuat pupus niat dan tekad untuk membungkam keadaan lawan dari tanah pertiwi.  Semua membaur dan menjadi satu dengan lantunan dan sorak gegap gempita untuk merdeka.      

            Ketika Indonesia terlepas dari ikatan para penjajah, perasaan dan suasana untuk bersatu memudar secara perlahan dan pasti, bahkan setelah wacana kemerdekaan Sumpah Pemuda digemakan sebagai langkah membulatkan kembali tekad perrsatuan tersebut. Di era milenial ini, istilah persatuan dan kesatuan sudah terasa asing ditelinga para kawula muda. Seiring waktu, karena tuntutan jaman dan kemajuan globalisasi, manusia semakin memperdulikan diri dan orang-orang terdekat sebagai keluarga. Nilai-nilai budaya, tradisi, norma-norma dan kaidah sudah semakin luntur dan mengalami degradasi pada masa kekinian. Nilai-nilai religi semakin dikesampingkan tergantikan dengan filosofi dunia modern yang semakin eksis dan matching dengan kebutuhan yang dianggap tepat oleh semua lapisan. Pemikiran moderat, pola asuh yang dunia barat serta pengaruh budaya barat yang teradopsi secara otomatis karena faktor globalisasi membuat kalangan anak muda tidak dapat meresapi dan menghayati nilai-nilai tersebut di atas.

            Pada hal bila kaji, baik di sekolah maupun hingga di Perguruan Tinggi, nilai-nilai religi terus diberikan sebagai mata pelajaran dan mata kuliah dasat yang harus dan wajib diikuti oleh semua para pembelajar. Sayangnya, nilai-nilai religi hanya sampai secara akademisi dan pengetahuan secara knowledge semata disampaikan. Sehingga para pembelajar tidak mampu memahami dan mengalami Sang Pencipta sebagai Pribadi yang hidup dan Ada untuk rasakan dan dialami, baik secara akal budi dan batiniah. Bila pemahaman tenatng Tuhan hanya dianggap sebagai mistis, maka keberadaan-Nya hanyalah belaka. Sayangnya juga tidak sedikit para pemuka agama, baik Pendeta, Pastor ataupun para Pelayan Tuhan yang seakan mampu mewakili diri-Nya sebagai penyambung dan wakil-Nya bagi umat. Sehingga tidak sedikit ada “permainan” dan mengambil keuntungan dari kesempatan tersebut untuk meraup pemenuhan diri. Tuhan bagi mereka, dijadikan sebagai alat komoditas untuk menguntungkan diri dengan mengeksploitasi umat yang awam tentang pengetahuan agama.

            Guru PAK (Pendidikan Agama Kristen) dalam hal ini sebagai tenaga pengajar baik disekolah maupun dosen pengampu PAK  di Perguruan Tinggi, harus dapat meng-ejawantahkan nilai-nilai kebenaran dari Injil yang murni secara konkrit melalui dirinya sendiri sehingga apa yang diajarkan bukan hanya secara knowledge semata tetapi terpancar nilai-nilai kebenaran yang hidup dalam kata-kata dan membuat pencerahan sehingga mata batin para pendengarnya dapat disentuh. Manusia batiniah pada prinsipnya memiliki mata dan telinga yang mapu melihat kejauhan kedalam batin seseorang. Namun hal ini membutuhkan kepekaan disamping derasnya pengaruh dunia yang begitu besar sehingga nilai-nilai kedagingan lebih dominan.

            Pelajaran ataupun mata kuliah Agama tidak lagi menjadi kebutuhan yang menyenangkan tetapi justru sebaliknya bagi para pembelajar. Mereka lebih menyukai eksakta dan akademisi yang membutuhkan nalar dan respon secara filsafat. Peran andil serta tanggung jawab yang besar dari para tenaga pengajar (guru PAK dan dosen PAK) harus mengemas modul pembelajaran yang menarik bahkan bila perlu memberikan ekstrakurikuler Agama kepada nara didiknya. Para pembelajar ini (nara didik) lebih menyukai games, chat, video call, youtubers dan sebagainya yang menyangkut daya tarik teknologi yang mendukungnya. Karena itu para tenaga pengajar harus mampu memikat hati mereka dengan Kegiatan Belajar Mengajar berbeda dengan disertai dan didukung oleh teknologi sebagai media yang menyertainya. Disamping itu, para tenaga pengajar harus membawa mereka para pembelajar untuk mengenal secara pribadi siapa Tuhan yang hidup secara konkrit melalui mediasi dan meditasi dalam doa, pujian, penyembahan dan persekutuan ibadah bersama. Bawalah mereka untuk menemukan pribadi-Nya secara individu dan ajar mereka mengasihi-Nya seperti mereka mengasihi diri sendiri.

            Nilai-nilai kebenaran yang sesaui dengan Injil yang murni seperti yang Tuhan Yesus Kristus ajarkan untuk saat masa kini mengalami degradasi dan pembiasan yang hampir tidak terlihat secara benar. Pengaruh dan dampak negatif dari filosofi dunia ditambah dengan semakin meningginya nilai-nilai kemanusiaan yang menganggap bahwa Tuhan itu tiada (nihilistis), yang juga dipengaruhi oleh kemajuan teknologi yang membuat segala pekerjaan manusia dimudahkan. Manusia lebih berpijak kepada teknologi yang mampu menjawab semua tantangan dan kebutuhannya secara nyata. Oleh karena itu tak ayal banyak orang berperilaku theis teoretis, atheis practice dalam keseharian. Seakan-akan berperilaku seperti orang yang beragama, namun pada prinsipnya tidak mengindahkan nilai-nilai keTuhanan secara konkrit. Walau ada yang terlihat seperti rohaniawan tapi masih terikat dengan unsur duniawi. Celakanya ada banyak orang beragama tapi tidak ber-Tuhan secara benar dan hidup. Legalitas agamawi hanya sebagai topeng dan label semata tanpa nyata secara benar dituangkan dalam tindakan dan perbuatan yang benar sebagai manusia yang takut akan Tuhan.

            Tidak sedikit banyak anak-anak muda, remaja bahkan orang dewasa yang melakukan tindak kejahatan hanya karena gelap mata dan khilaf sesaat. Mereka terhipnotis oleh pengaruh gadged dan adopsi pengaruh budaya luar yang tidak terfilter. Oleh karena itu diharapkan semua tenaga pengajar membuat program ekstrakurikuler agama, sebagai jam tambahan yang menarik bagi para pembelajar untuk membenahi batiniah, ahklak, moral dan nalar mereka. Juga sebagai benteng dan membuat mereka mampu memfilter dampak pengaruh budaya asing yang masuk. Membangun kekuatan dengan kokoh batin dan mengubah paradigma para pembelajar untuk berpadanan seperti yang Tuhan Yesus ajarkan dalam Injil. Untuk tindakan ini memang tidak mudah semudah membalikan telapak tangan tapi setidaknya harus segera dimulai, karena Tuhan pasti menyisakan orang-orang yang mau dan dapat dibentuk sampai mencapai gelar corpus delicti. Ketika mereka mau belajar untuk taat dan melakukan kebenaran firman-Nya, lambat laun mereka dapat mampu melepaskan kodrat manusia (sinful nature) dan mengenakan kodrat ilahi (divine nature). Ini adalah perjuangan yang berat dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Perlu adanya pengorbanan dan tekad serta nekad disamping komitmen dan konsistensi yang tinggi. Keadaan ini harus bermula dan dimuai dari sang pengajar (guru dan dosen). Para tenaga pengajar (guru dan dosen PAK) harus sudah mengalami Tuhan dan hidup dalam kesuciaan untuk tekad  hidup tidak bercacat dan tak bercela. Berani menyangkal diri dan membunuh diri sendiri dengan menghabisi keinginan daging terhadap nilai-nilai duniawi. 

            Seorang tenaga pengajar yang telah hidup dan lahir baru, sudah harus mengenakan kodrat ilahi, maka ketika ia mengajar pasti membawa dampak dan menyentuh manusia batiniah para pembelajarnya. Ketika para pembelajar telah tersentuh manusia batiniahnya, maka perlu proses dan karya Roh Kudus melalui pembimbingan guru dan dosen PAK untuk membawa mereka mengalami Tuhan dan merelakan meninggalkan kehidupan lama dan mengenakan manusia baru didalam takut akan Tuhan. Ini bukanlah altar call yang sesaat saja namun ini harus terus dalam pembinaan dan pengawasan tenaga pengajar terhadap para nara didiknya. Membangun komunitas kerohanian dan mem-follow upnya, akan mampu dapat merangkul mereka yang masih muda dalam pembinaan dan bimbingan secara nyata.

            Kebenaran firman Tuhan tidak melulu hanya dalam penyampaian kotbah semata yang dapat dikupas dengan detail dan indah karena sang pembicara pandai berhomelitika. Penyampaian firman yang hidup ialah ketika firman itu dihidupkan dalam keseharian oleh si pembicara ataupun tenaga pengajar tersebut. Ketika kebenaran itu dihidupkan, maka Roh Kudus akan membuat perubahan bagi mereka yang mendengarnya. Mampu menyentuh manusia batiniah dan mengobrak-abrik “lemari hati” manusia yang penuh dengan unsur kekafiran duniwai. Kebenaran akan dapat menjadi bom waktu yang ledakan nya dasyat mampu mengubah manusia lama kepada manusia baru 180°. Bagi para pendengarnya akan terjadi perang batin antara manusia daging dengan hati nuraninya. Karena itu seorang tenaga pengajar harus memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, maka apa yang diajarkannya mampu mengubah banyak orang.  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.