K-pop, istilah tersebut sangat terdengar memukau dikalangan para kawula muda, bahkan disemua kalangan. Istilah K-pop adalah singkatan dari Korean pop. K-pop adalah jenis musik populer yang berasal dari Korea Selatan. Kepopuleran para artis ini telah merambah hampir diseluruh mancanegara. Kegandrungan hampir disemua kalangan, khsusnya kawula muda akan musik K-Pop merupakan bagian yang tak terpisahkan dari Korean Wave (demam Korea). Begitu banyak artis Korea yang tampil memukau dan memikat hati semua penonton, khususnya di kalangan kawula muda, sehingga kettika mereka tampil manggung di Jakarta, apalagi bila bintang K-pop yang dimaksud adalah benar-benar lagi populer, sudah dapat dipastikan 1 bulan sebelum acara konser, tiket sudah habis terjual, bahkan ada yang memanfaatkan peluang tersebut oleh para calo dengan menjual berkali lipat dari harga yang sebenmarnya. Sungguh sangat fantastis, begitu trendy dan memikatnya para artis ini sebagai pujaan hati di hati para penggem,arnya. Bahkan ketika mereka hadir dipanggung, ada yang sampai meng-elu-elukan dan menangis histeris karena begitu memukaunya penampilan dankharisma mereka dihadapan penggemarnya. Tidak sedikit ada yang pingsan dan histeris saat para artis ini sudah mulai menunjukkan kepiawaiannya di atas panggung dengan suara khas dan gerak tari mereka. Begitu mereka memujanya sampai-sampai mereka berperilaku dengan memakai simbol-simbol asesoris dan apapun yang dapat dikenakan bahkan potongan rambut dan style mereka disamai persis seperti artis Korea tersebut. Lantunan lagu dan gaya mereka saat menyanyi dikumandangakan bersama baik di saat-saat tertentu dan kala mereka rindu. Sungguh menakjubkan dan heboh. Euphoria semacam ini sangat bisa sesaat bahkan bisa berkelanjutan dan mewabah seakan meng-influence semua kalangan. Tidak sedikit memakan korban, khususnya kawula muda. Memakan korban dalam artian, banyak waktu yang dikorbankan, kesempatan dan peluang yang disia-siakan untuk kesempatan belajar dan hal-hal penting lainnya, belum lagi dana dan sebagainya. Kawula muda tidak akan sungkan mengeluarkan kocek bahkan mengorbankan waktu, kesempatan dan peluang yang ada hanya demi bertemu dan menyaksikan konser artis pujaannya. Kegandrungan tersebut membuat mereka mengkultuskan hingga memuja artis kesukaannya.
Kata mengkultuskan dari dasar kata “kultus”, yang berarti penghormatan secara berlebih-lebihan kepada orang, paham, atau benda (KBBI). Dalam Keluaran 20:4-6 dituliskan di sana:
“Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang adadi dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku!
Sepututnya
orang percaya tidak menjadi ikut-ikutan atau terpapar oleh pengaruh yang
merebak dikalangan kawula muda. Khususnya para kawula muda, anak remaja dan
mereka yang masih tergolong dalam taraf pertumbuhan, bahkan tidak sedikit pula
di kalangan orang dewasa pun juga ikut andil dalam euphoria semacam ini.
Sebagai contoh, ketika Tommy Page hadir di Summarecon Mal Bekasi pada Kamis 28
Mei 2015 di area The Downtown Walk, dipenuhi oleh para penggemarnya, lebih
banyak para orang dewasa yang terdiri dari orang tua, ibu-ibu dan bapak-bapak
dari pada kawula muda. Kondisi demikian dikarenakan artis tersebut menjadi
idola awal tahun 1990 an, sehingga mereka para penggemanya telah beranjak
dewasa. Lain halnya anak remaja yang lahir di tahun sekarang ini yang masih
tergolong dapat disebut anak milenial maka tidak dapat dipungkiri bahwa
kemajuan teknologi telah mendukung artis favorit pujaan mereka booming lebih
cepat dari pada pendahulunya. Ketika Tommy Page (24 Mei 1970) wafat, Jumat
(3/3/2017) diusianya ke 46 tahun, banyak para penggemarnya sedih dan patah
hati. Namun berselang sebulan, tergantikan dengan artis idola lain yang hadir
dipanggung tarik suara. Sementara itu beberapa penggemarnya melepaskan ingatan
tersebut dan mencari idola lain untuk dikagumi dan dikultuskan. Sungguh manusiawi
dan itulah fakta kenyataannya.
Firman
Tuhan meneguhkan supaya kita hanya terpaut kepada Tuhan semata. Menyukai artis
idola, bintang film, penyanyi, pemain olah ragawan atau siapapun yang membuat
seseorang tergandruni, hendaknya jangan menjadikannya mendapat tempat utama di
hati dan pikiran orang percaya. Secara psikologis, kegandrungan tersebut akan
membuat seseorang mengidalkan berlebihan dan terpikat hingga terpincut, apalagi
idolanya cantik, ganteng, punya karisma yang tentunya siapapun tidak tahu apapun
iru bisa saja dibuat untuk menarik minat penggemarnya bukan? No body perfect, lebih tepatnya istilah
ini harus dapat kita semua pahami bahwa tidak ada yang sempurna di muka bumi
ini. Jadi jangan berlebihan menempatakan seseorang sebagai idola yang dikultuskan
sehingga berdampak men-duakan hati dari pada kita menempatkan Tuhan sebagai
yang utama dan prioritas. Tidak perlu berlebihan menempatkan seseorang melebihi cinta dan kasih sayangnya
hanya kepada Tuhan. Bila seseorang lebih rohaniawan dan memperhatikan kebutuhan
batiniahnya, maka ia akan peka akan hal ini sehingga baginya apapun yang
dihadapannya hanyalah bersifat sementara dan fana. Sikap menghormati sesama
secara proporsional menjadi bagian dalam hidupnya seperti yang dititahkan-Nya
namun tidak memberi tempat secara berlebihan sehingga dapat membuat Tuhan
cemburu dan murka (Ulangan 32:21; 1 Korintus 10:22, 23).
Hendaknya
kita jangan terpikat dan mengikuti kewajaran dunia dengan segala filosofinya.
Kebiasaan seseorang yang bergaul dengan sembarang orang akan membuat ia
terpikat dan terpengaruh dengan model gaya dari pengaruh disekitarnya.
Sepatutnya orang percaya tidak terikat dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Orang percaya tidak harus fanatik dengan
apa yang dipercayainya, tetapi harus sangat ekstrim dan memfilter terhadap apa
yang ada disekitarnya namun tidak membabi buta dan menentang segalanya. Apa
yang berkenan dan menyenangkan hati-Nya tentu menjadi prioritas utama orang
percaya untuk berbuat dan melakukan segala sesuatu, sehingga apa yang
dilakukannya tidak berdosa. Tidak semua berkenan dan bermanfaat, oleh sebab itu
harus belajar mengerti dan memahami kehendak Tuhan. Melalui hubungan yang intim
dengan Tuhan melalui meditasi dan doa serta terus belajar tentang
kebenaran-Nya, maka seseorang akan belajar untuk mengerti dan memahami isi hati
dan pikiran-Nya. Ini perlu proses dan bukan instan, namun bila dilakukan akan
membuahkan hasil sehingga akan berdampak untuk tidak mencintai dunia dengan
segala isinya. Kalau hanya sebuah lagu untuk didengar maka hati dan perasaan
akan mengkoreksi dengan sendsirinya apa ini pantas didengar dan membawa damai?
Apalagi bila harus mengkultuskan figur artis sebagai idola berlebihan sduah
barang tentu bukan rana bagi orang yang sudah benar dekat intim dengan Tuhan.
Baginya Tuhan adalah sesembahan yang menjadi bagian dalam hidupnya. Ia akan
menempatkan Tuhan di atas segalanya. Keinduan hatinya senantiasa berkenan
dihadapan-Nya setiap waktu. Menjadikan
Tuhan sebagai idola utama adalah keputusan tepat dan menjadikannya hanya
sebagai satu-satunya kebahagiaan dalam hidup ini.
Tidak
sedikit orang Kristen juga sering mengidolakan dan mengkultuskan para pendeta,
gembala sidangnya, pastor, pelayan Tuhan, para penginjil atau siapapun
rohaniawan yang dianggap ber-karisma, atau dianggap sebagai penyambung lidah
Tuhan, yang memiliki karunia roh, bernubuat. menyembuhkan dan hal-hal
supranatural lainnya sehingga banyak jemaat tidak sadar diri bahwa dengaja
telah mengkultuskan sesama dari pada Tuhan. Menghormati dan menerima para hamba
Tuhan dengan segala kelebihan dan karunianya adalah wajar namun janganlah
mengkultuskan, seakan-akan yang bersangkutan adalah Hamba Tuhan yang diurapi
sehingga jemaat terus terpikat, idolakan dan memuja yang bersangkutan. Padahal
kita semua adalah hamba-hamba-Nya (hamba Tuhan), pelayan Tuhan yang melayani
dimanapun kita berada dengan segala komopetensi dan kapasitasnya amsing-masing.
Bila seorang wanita sebagai ibu rumah tangga, maka ia adalah hamba Tuhan yang
melayani bagi suami dan anak-anaknya dengan tugas dan tanggung jawab yang
dipercayakan dan sesuai kodratnya. Demikianpun sebaliknya dengan para suami dan
anak-anak. Di manapun kita ditempatkan baik sebagai pekerja kantoran, guru, pedagang,
tukang sapu jalanna, juru parkir, atau apapun profesinya, tetap sebagai hamba
Tuhan yang dutus ditengah-tengah masyarakat. Mengkultuskan para rohaniawan adalah sebuah kepicikan dan perbuatan
jahat yang mendukakan hati Tuhan, karena apa yang dikerjakan dan dikarunikaan
kepada para rohaniawan tersebut semuanya dari Dia dan untuk Dia, bagi kemuliaan
nama-Nya.
Bila seseorang mengkultuskan Tuhan di atas segala aspek hidupnya, maka yang terjadi ialah orang tersebut akan hidup menuruti segala titah dan perintah-Nya. Hidupnya akan diarahkan kepada apa yang berkenan dan menyenangkan hati-Nya. Ia akan menjauhi dari keinginan daging dan hidup dalam kesucian, menghindari keinginan terhadap yang dunia tawarkan dari berbagai hawa nafsu duniawi. Tuhan memang harus dikultuskan sebagai sesembahan yang hidup. Dengan demikian hidup orang percaya menjadi hidup orang benar yang berkenan di mata Tuhan. Yusuf karena takut akan Tuhan dan hidup benar di mata-Nya, maka ia berani mengambil sikap melarikan diri dari tawaran nikmat dari istri Potifar terhadap kenikmatan seks yang ditawarakannya. Walau akibatnya Yusuf harus menanggung masuk dalam bui karena fitnah tersebut. Namun Tuhan membuat indah hidup Yusuf karena ia senantiasa ketaatan dan kesetiaannya kepada Tuhan. Dunia tidak menawarkan apa yang baik dan kekal, karena dunia adalah fana. Selama bumi masih ada (Kejadian 8:22), dan masih ada kesempatan hidup yang harus kita jalani ialah memuliakan Tuhan dengan segala kemampuan, kompetensi yang kita miliki untuk berkarya bagi kemuliaan nama-Nya. Kita dapat menjadi berkat melalui sikap dan perbuatan bahkan wujud nyata bagi sesama.
Dunia
akan senantiasa membuat mata banyak orang terlelap dengan segala pesona dan
kecantikan yang dibuatnya, sehingga tidak sedikit dibuatnya mengidolakan
dirinya (dunia) sebagai tempat yang nyaman dan tentram, padahal dunia akan
lenyap menjadi danau api kelak (limn e tou puros). Keindahannya memang memikat
banyak manusia untuk tetap melekat hatinya di sini dan tidak menantikan
kehidupan yang akan datang di langit yang baru dan bumi yang baru. Dunia hanya
membuat manusia mengkultuskan dirinya sendiri dengan mengejar akan pemenuhan
hidup semata. Manusia menjadikan dirinya tuhan, merasa mampu dan berjaya. Hal
inilah yang membuat manusia semakin menyombongkan dirinya sebagai yang berkuasa
atas hidup dan bagi sesama disekitarnya. Yang lebih kuat akan menekan yang
lemah dan yang tidak takut akan Tuhan semakin bertambah kejahatannya. Dunia
mempengaruhi paradigma manusia terhadap nihilistis sehingga merasa yakin bila
Tuhan hanyalah cerita yang ada di agama dan kitab suci semata. Kejayaan dan
kemakmuran juga dapat membuat manusia lupa akan penciptanya. Bahkan mereka
memuja keberhasilan dan kejayaan mereka sebagai hasil karya
sendiri.mengindahkan keberadaan
Sungguh malang nasib orang-orang yang tidak mengindahkan keberadaan Tuhan. Kelak mereka akan tetap berada di bumi tatkala bumi hangus menjadi danau api. Dunia akan menjadi gehena (neraka), tempat kekal bagi mereka yang patut mendapat hukuman dari Tuhan atas ketidaktaatannya. Gereja harus berani menyuarakan suara kebenaran dari isi hati Tuhan melalui Injil yang murni agar banyak umat diselamatkan dari pengaruh dunia yang menyesatkan. Penyesatan terselubung yang dilakukan oleh banyak para hamba Tuhan menjadikan mimbar dan gereja sebagai sarana untuk menarik banyak umat untuk bergantung kepada para rohaniawan dan hanya mencari berkat lahiriah semata dan bukan dibawa kepada penurutan untuk bertumbuh dewasa dan melakukan kehendak-Nya. Demikianpun mamon juga dapat dikultuskan oleh semua insani, dan sangat berbahayanya bila orang percaya terikat dengan mamon. Cinta akan uang seperti raksasa kuat yang tidak mudah dikalahkan,tetapi kita harus bisa mengalahkannya dalam hidup ini dan menolong orang lain juga untuk bisa dimerdekakan dari belenggu harta kekayaan dan uang. Sejak dini dari anak-anak juga dapat memahami hal ini untuk tidak mencintai idola mereka melebihi dari apapun selain Tuhan. Pendidikan tersebut dapat sedianya dimulai dari rumah oleh para orang tua dan guru-guru sekolah Minggu di gereja. Peran serta dan tanggung jawab ini harus kita semua pikul bersama dan fokus supaya anak-anak ini kelak tahu memberi tempat istimewa bagi Sang Pencipta atas alam semesta dalam hidup mereka. Ajar juga mereka untuk ikat pinggang erat-erat dengan kebenaran firman-Nya agar tidak terkontaminasi dengan pengaruh dunia. Selamat Berjuang [JK]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.