3 Pilar

3 Pilar

Senin, 14 Desember 2020

NATAL KLISE (Dewasa atau masih kanak-kanak)

 

            Natal pada umumnya identik dengan pohon cemara dengan asesoris pernak perniknya, lampu-lampu yang berwarna-warni, kado-kado yang dibungkus dengan kertas kado yang menarik. Juga disediakan berbagai macam hidangan makanan ringan kue kering, seperti kue nastar, kue lidah kucing, kue putri salju dan macam-macam kue kering lainnya. Belum lagi berbagai macam jenis makanan penghidang saat tamu yang hadir ke rumah. Pakaian, dan beberapa asesoris kehidupan yang melekat dibadan maupun kebutuhan hidup yang selalu diperbaharui dari tiap tahunnya. Berbagai asesoris natal seperti topi Santa Klaus, berbagai macam asesoris yang bernuansa natal ada banyak dipajang dibeberapa tenan pada mal-mal dan toko buku rohani. Pemenuhan lahiriah untuk menunjang penampilan dan bagian dari kebutuhan tersebut senantiasa dipenuhi oleh kalangan Kristiani. anggota keluarga berlomba dan penuh semangat memasang pohon natal dengan asesorisnya. Semangat itu disertai ide dan rencana yang didiskusikan bersama-sama dengan anggota keluarga, sanak saudara, bila digereja dengan para pelayan, dan pekerja. Tapi bila usai bulan Desember, maka semua enggan dan ada perasaan menunda serta malas untuk memugar dan membongkar pasang pohon natal tersebut. Tak elak banyak hal kebutuhan besar menjelang memasuki bulan Desember sebagai bulan dimana berkat dan damai natal senantiasa hendak menjadi penantian semua umat Kristen. Pada hal bila kita simak baik-baik sebenarnya perasaan damai itu bukan hanya ketika natal berlangsung. Lagi pula menurut sejarah kelahiran Kristus tidak serta merta di bulan tersebut, bahkan ada yang menyatakan bahwa itu bagian dari kelahiran dewa matahari.

            Natal yang dirayakan oleh banyak umat dikalangan Kristen, berasal dari bahasa Portugis yang berarti "kelahiran".  Istilah kelahiran berarti sesuatu yang datang atau keluar dari kandungan. Kelahiran Kristus ke dalam dunia, menjadi cemooh oleh beberapa keyakinan, di mana secara nalar, umat tidak percaya bahwa Tuhan bisa dilahirkan melalui perantaraan rahim perempuan, perawan Maria. Maria yang terpilih dan dipilih oleh ALLAH YAHWEH sebagai perempuan dalam kondisi masih perawan (Matius 1:16,18,20; Lukas 1:27; 2Kor. 11:2), meminjam rahimnya untuk dibuahi oleh karya Roh Kudus, bukan hasil biologis manusia. Kondisi pada waktru itu, Maria masih perawan, belum pernah dijamah oleh laki-laki manapun (Matius 1:18,20). Maria terpilih karena hak prerogatif ALLAH atas hidupnya, dan Maria berkenan menanggung aib secara manusiawi karena dikucilkan pada jamannya pada masa itu, mengandung sebelum menikah, merelakan keperawanannya saat melahirkan bayi Yesus yang dikandungnya. Disamping itu, Yusuf, tunangannya Maria, juga berjiwa besar dalam menerima Maria dalam kondisi demikian dan melalui mimpi, malaikat Tuhan mengukuhkan agar dirinya tetap mengambil Maria karena semua itu bagian rencana Agung-Nya (Matius 1:19,20,24). Herodes yang pada masa itu berkuasa, dengan hati gundah gulana berencana membunuh semua bayi yang karena mendengar berita akan ada seorang bayi kelak menjadi raja atas orang Yahudi (Matius 2:1-4;16). Namun sekali lagi malaikat Tuhan menampakan diri kepada Yusuf untuk segera mereka bergegas ke Mesir untuk menghindari niat jahat Herodes tersebut. Kisah ini tentu masih melekat diingatan kita semua karena sejak kecil dalam kebaktian Sekolah Minggu, kakak-kakak pembina pengajar selalu menyampaikan cerita tersebut, dari tahun ke tahun selalu diulangi, walau mungkin dengan media dan metode bercerita yang berbeda.

            Inti cerita tentang natal, senantiasa mengisahkan Yesus Kristus terlahir dikandang domba yang hina. Bayi mungil yang berada dipalungan dengan ditemani para hewan, ibu dan ayah Yesus dan ketiga orang majus. Bintang dilangit yang menandakan kelahiran-Nya bagi orang majus. Cerita ini dikemas sedemikian rupa sampai opa oma hafal dan terlebih anak-anak tahu bahwa Yesus yang lahir dikandang domba mengisahkan bahwa IA terlahir hina untuk dipermuliakan kelak. Yesus tetap kanak-kanak pada setiap kali kotbah natal disampaikan. Bukanlah hal yang salah dalam penyampaian tersebut, namun seiring waktu, kanak-kanak Yesus tidak lagi menjadi cerita yang klise untuk diperdengarkan. Makna Natal bukan semata IA trerlahir dikandang yang hina. Makna Natal bukan hanya secara historis semata, namun Natal yang hidup ialah membuat umat, orang percaya, mampu mengalami perubahan pola pikir. Sudut pandang dan perspektif orang percaya jangan lagi hanya seputar kepada cerita Natal dalam kelahiran-Nya. Orang percaya dituntut untuk menjadi dewasa rohani karena IA tidak lagi bayi tetapi telah dewasa, dalam melakukan kehendak Bapa-Nya. IA, Tuhan Yesus Kristus telah melaksanakan kehendak Allah Bapa, sehingga kepada-Nya, Bapa berkenan (Matius 3:17). Yesus Kristus menjadi Putera kesayangan Allah Bapa, dan kepada Kristus diberi kuasa baik di surga dan dibumi (Matius 28:18). Yesus Kristus telah menyelesaikan tugasnya sampai mati, mati di kayu salib. IA telah menjadi corpus delicti dan kebanggan bagi Allah Bapa.

            Natal seharusnya tidak lagi dirayakan sebagai kemeriahan dengan gemerlap lampu dan pohon natal semata. penyediaan makan minum dan kemeriahan poara tamu undangan dalam sebuah ibadah yang disertai drama, lantunan lagu natal, simponi orkestra dan syair lagu pujian tentang kelahirannya jangan lagi memberi pengertian bahwa Kristus masih bayi dan kanak-kanak. Kristus telah tumbuh dewasa dan kini IA telah duduk di tahta-Nya, ditempat yang Maha Tinggi. Kelak IA akan datang yang kedua kali, cepat atau lambat, tidak ada yang mengetahuinya, IA pun tidak, hanya Allah Bapa. Kesempatan yang kita miliki saat ini ialah mengikuti jejak-Nya, menjadi dewasa didalam Kristus. Untuk menjadi dewasa, kanak-kanak harus belajar untuk meninggalkan kekakanakannya. Memang perlu waktu dan dibutuhkan proses yang panjang. Tidak sedikit kanak-kanak yang secara biologis telah bertambah usia, bertambah pertumbuhannya, namun kelkauan dan sifat kekanakan masih saja berlaku didalam keseharian. Orang percaya harus bertumbuh dewasa. Masa kanak-kanak ada masa dan usia dimana harus bertumbuh dan seiring waktu menuju masa remaja dan dewasa. Proses tersebut harus dijalani dan dilakoni oleh semua orang percaya, agar supaya tiba saatnya kita tidak lagi makan bubur dan susu melainkan sesuatu yang keras (yang lebih bermanfaat) sesuai kadar pertumbuhan kerohanian kita. Tuhan Yesus Kristus mau supaya kita semua bertumbuh dewasa tidak lagi kanak-kanak.

            Orang percaya yang kanak-kanak dalam hal kerohaniannya, senantiasa masih menganggap Tuhan sebagai suatu pemenuhan diri dalam pemenuhan hidup, sebagai sumber berkat, sebagai perlindungan jiwa dan keamanan dirinya. Kanak-kanak rohani masih menganggap bahwa surga adalah kehidupan kekal; bukan sebagai tempat dimana dirinya harus sudah benar selesai dengan dirinya sendiri dan mengikuti jejak-Nya. Orang percaya yang dewasa rohani harus sudah mampu meninggalkan cara duniawi, mengikis kedagingannya dan mengikuti jejak-Nya. Mengikuti jejak-Nya, berarti melakukan kehendak-Nya dan menjadi serupa seperti diri-Nya. orang percaya tersebut bila telah melalui proses untuk meninggalkan cara hidup tidak sama seperti filososfi dunia, maka ia layak disebut sebagai Kristen sejati. Kristen artinya pengikut Kristus, mengikuti jejak-Nya, tidak sama seperti orang Kristen yang hanya label keagamawian semata. Status agamanya Kristen, tetapi pada hakekatnya memungkiri perbuatannya. Masih hidup dengan kedagingan dan duniawi. Tidak berani melepaskan diri dari ikatan dunia, bahkan tidak berani “membunuh dirinya sendiri”, dalam artian membunuh kedagingannya. Orang tersebut masih mempertahankan nyawa dan tidak berani kehilangan nyawa.

            Jika banyak orang Kristen hanya memiliki status tersebut tanpa tindakan dan perbuatan seperti yang Tuhan Yesus Kristus ajarkan, maka orang tersebut masih dapat dikatakan kanak-kanak rohani dan duniawi. Orang tersebut tidak layak masuk dalam Kerajaan Surga (Matius 7:21). Surga hanya dapat ditempati oleh orang-orang yang mau mati bagi Kristus. Kekanakan hanya membuat pola pikir masih betah dibumi dan tidak merindukan langit yang baru dan bumi yang baru. Sifat kekanakan hanya membuat orang percaya bahwa dunia adalah tempat yang nyaman, masih mengejar kemapanan dan pemenuhan diri semata sebagai sesuatu yang menyenangkan dagingnya. Padahal orang deasa rohani dituntut, asal ada makanan dan pakaian, cukup! (1Timotius 6:8). Kebutuhan hidup tidaklah salah, apalagi untuk keperluan keluarga. Kita orang percaya dituntut untuk bertanggung jawab, kerja keras, belajar sepenuh hatri dan apapun profesinya harus memiliki integritas dan dedikasi yang tinggi, namun semua itu apapun yang kita miliki tidka boleh terikat dan menjadi kebahagiaan semata. Kebahagiaan orang percaya ialah hanya Yesus Kristus. Kebahagiaan orang percaya yang masih kanak-kanak rohani senantiasa kebahagiaan sesuatu yang dunia dapat berikan. Karena dunia memolesi dan mewarnai hidupnya dengan kemolekan dan keindahan yang dunia berikan. Dunia dari kata Yunani yang berarti Cosmos, dengan kata kerjanya Cosmeo (dipercantik; didandani).  Maka tak elak banyak orang Kristen didandani dengan warna kosmetik yang indah oleh dunia berikan sehingga hatinya kepincut terhadap kemolekannya. Ini namanya perzinahan rohani. Injil mengajarkan agar kita sebagai orang percaya tidak mendua hati. Hati orang percaya yang dewasa rohani harus setia dengan komitmen dan disertai konsistensi yang tinggi untuk tidak mencintai dunia tetapi hatinya melekat kepada Kristus.

            Natal klise yang dikumandangkan oleh kebanyakan umat Kristiani membuat banyak orang percaya masih tenggelam dalam larut euphoria damai dibumi. Dunia tidak memberi jaminan kedamaian. Kedamaian sejati hanya didalam Tuhan Yesus Kristus. Cara pandang kita seharusnya tidak lagi berfokus pada pemenuhan hidup tetapi mendandani batiniah. Karena hidup ini hanya 70-80 tahun semata. Kehidupan kekal kita hanya di Langit yang baru dan bumi yang baru. Selama didunia ini kita diproses dan memproses diri untuk menjalankan tekad dan nekad kita menjadi serupa seperti Kristus. Hidup yang sementara ini jangan dihabiskan dalam proses kanak-kanak, tetapi harus mau belajar untuk menjadi dewasa. Klise orang percaya harus kita tinggalkan, biarlah itu menjadi kenangan dan pembelajaran untuk kita mau bertumbuh di dalam Kristus.

            Pendidikan yang benar harus bermula dari gereja Tuhan, didalam rumah tangga, disekolah – melalui guru PAK, agar supaya banyak orang percaya, nara didik menemukan Yesus Kristus yang benar, bukan “yesus fantasi”. Tidak sedikit para pelayan Tuhan mengajarkan yesus fantasi didalam kotbahnya, mengajarkan umat untuk tetap masih kanak-kanak rohani karena masih terus meminta-minta berkat dan karunia-Nya sementar tidak diajarkan bagaimana melakukan kehendak-Nya. Kanak-kanak senantiasa sering meminta kepada orang tuanya. Tapi bila kelak ia dewasa, ia harus mampu mengerti dan memahami bagaimana harus berbuat, berbakti, memberikan yang terbaik kepada orang tuia. Demikianpun kita sebagai orang percaya, harus belajar untuk mengerti, memahami dan kehendak-Nya. Tidak lagi meminta tetapi memberi diri untuk menyenangkan hati Bapa. Berkat dan segala kebutuhan hidup pasti terpenuhi asal bertanggung jawab. Bukankah IA adalah Allah orang hidup? (Lukas 20:38). Dengan pemahaman ini, kita tidak lagi memegahkan perayaan Natal, bukan tidak boleh, namun yang harus kita megahkan bukan simbol-simbol Natal, akan kita meninggikan Kristus dan menjadikan Dia Tuhan atas hidup orang benar dan mengejawantahkan segala kebenaran-Nya dalam keseharian, sehingga orang percaya yang dewasa rohani memberi dampak perubahan bagi sesama disekitarnya. [JK]

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.