Natal pada umumnya identik dengan pohon cemara
dengan asesoris pernak perniknya, lampu-lampu yang berwarna-warni, kado-kado
yang dibungkus dengan kertas kado yang menarik. Juga disediakan berbagai macam
hidangan makanan ringan kue kering, seperti kue nastar, kue lidah kucing, kue
putri salju dan macam-macam kue kering lainnya. Belum lagi berbagai macam jenis
makanan penghidang saat tamu yang hadir ke rumah. Pakaian, dan beberapa
asesoris kehidupan yang melekat dibadan maupun kebutuhan hidup yang selalu
diperbaharui dari tiap tahunnya. Berbagai asesoris natal seperti topi Santa
Klaus, berbagai macam asesoris yang bernuansa natal ada banyak dipajang dibeberapa
tenan pada mal-mal dan toko buku rohani. Pemenuhan lahiriah untuk menunjang
penampilan dan bagian dari kebutuhan tersebut senantiasa dipenuhi oleh kalangan
Kristiani. anggota keluarga berlomba dan penuh semangat memasang pohon natal
dengan asesorisnya. Semangat itu disertai ide dan rencana yang didiskusikan
bersama-sama dengan anggota keluarga, sanak saudara, bila digereja dengan para
pelayan, dan pekerja. Tapi bila usai bulan Desember, maka semua enggan dan ada
perasaan menunda serta malas untuk memugar dan membongkar pasang pohon natal
tersebut. Tak elak banyak hal kebutuhan besar
menjelang memasuki bulan Desember sebagai bulan dimana berkat dan damai natal
senantiasa hendak menjadi penantian semua umat Kristen. Pada hal bila kita simak
baik-baik sebenarnya perasaan damai itu bukan hanya ketika natal berlangsung. Lagi
pula menurut sejarah kelahiran Kristus tidak serta merta di bulan tersebut,
bahkan ada yang menyatakan bahwa itu bagian dari kelahiran dewa matahari.
Natal
yang dirayakan oleh banyak umat dikalangan Kristen, berasal dari bahasa Portugis
yang berarti "kelahiran". Istilah
kelahiran berarti sesuatu yang datang atau keluar dari kandungan. Kelahiran
Kristus ke dalam dunia, menjadi cemooh oleh beberapa keyakinan, di mana secara
nalar, umat tidak percaya bahwa Tuhan bisa dilahirkan melalui perantaraan rahim
perempuan, perawan Maria. Maria yang terpilih dan dipilih oleh ALLAH YAHWEH
sebagai perempuan dalam kondisi masih perawan (Matius 1:16,18,20; Lukas 1:27;
2Kor. 11:2), meminjam rahimnya untuk dibuahi oleh karya Roh Kudus, bukan hasil
biologis manusia. Kondisi pada waktru itu, Maria masih perawan, belum pernah
dijamah oleh laki-laki manapun (Matius 1:18,20). Maria terpilih karena hak
prerogatif ALLAH atas hidupnya, dan Maria berkenan menanggung aib secara
manusiawi karena dikucilkan pada jamannya pada masa itu, mengandung sebelum
menikah, merelakan keperawanannya saat melahirkan bayi Yesus yang dikandungnya.
Disamping itu, Yusuf, tunangannya Maria, juga berjiwa besar dalam menerima
Maria dalam kondisi demikian dan melalui mimpi, malaikat Tuhan mengukuhkan agar
dirinya tetap mengambil Maria karena semua itu bagian rencana Agung-Nya (Matius
1:19,20,24). Herodes yang pada masa itu berkuasa, dengan hati gundah gulana
berencana membunuh semua bayi yang karena mendengar berita akan ada seorang
bayi kelak menjadi raja atas orang Yahudi (Matius 2:1-4;16). Namun sekali lagi
malaikat Tuhan menampakan diri kepada Yusuf untuk segera mereka bergegas ke Mesir
untuk menghindari niat jahat Herodes tersebut. Kisah ini tentu masih melekat
diingatan kita semua karena sejak kecil dalam kebaktian Sekolah Minggu,
kakak-kakak pembina pengajar selalu menyampaikan cerita tersebut, dari tahun ke
tahun selalu diulangi, walau mungkin dengan media dan metode bercerita yang
berbeda.
Inti cerita tentang natal, senantiasa
mengisahkan Yesus Kristus terlahir dikandang domba yang hina. Bayi mungil yang
berada dipalungan dengan ditemani para hewan, ibu dan ayah Yesus dan ketiga
orang majus. Bintang dilangit yang menandakan kelahiran-Nya bagi orang majus.
Cerita ini dikemas sedemikian rupa sampai opa oma hafal dan terlebih anak-anak
tahu bahwa Yesus yang lahir dikandang domba mengisahkan bahwa IA terlahir hina
untuk dipermuliakan kelak. Yesus tetap kanak-kanak pada setiap kali kotbah
natal disampaikan. Bukanlah hal yang salah dalam penyampaian tersebut, namun
seiring waktu, kanak-kanak Yesus tidak lagi menjadi cerita yang klise untuk
diperdengarkan. Makna Natal bukan semata IA trerlahir dikandang yang hina. Makna
Natal bukan hanya secara historis semata, namun Natal yang hidup ialah membuat
umat, orang percaya, mampu mengalami perubahan pola pikir. Sudut pandang dan
perspektif orang percaya jangan lagi hanya seputar kepada cerita Natal dalam
kelahiran-Nya. Orang percaya dituntut untuk menjadi dewasa rohani karena IA
tidak lagi bayi tetapi telah dewasa, dalam melakukan kehendak Bapa-Nya. IA,
Tuhan Yesus Kristus telah melaksanakan kehendak Allah Bapa, sehingga
kepada-Nya, Bapa berkenan (Matius 3:17). Yesus Kristus menjadi Putera
kesayangan Allah Bapa, dan kepada Kristus diberi kuasa baik di surga dan dibumi
(Matius 28:18). Yesus Kristus telah menyelesaikan tugasnya sampai mati, mati di
kayu salib. IA telah menjadi corpus delicti dan kebanggan bagi Allah Bapa.
Natal seharusnya tidak lagi
dirayakan sebagai kemeriahan dengan gemerlap lampu dan pohon natal semata.
penyediaan makan minum dan kemeriahan poara tamu undangan dalam sebuah ibadah
yang disertai drama, lantunan lagu natal, simponi orkestra dan syair lagu
pujian tentang kelahirannya jangan lagi memberi pengertian bahwa Kristus masih
bayi dan kanak-kanak. Kristus telah tumbuh dewasa dan kini IA telah duduk di
tahta-Nya, ditempat yang Maha Tinggi. Kelak IA akan datang yang kedua kali,
cepat atau lambat, tidak ada yang mengetahuinya, IA pun tidak, hanya Allah Bapa.
Kesempatan yang kita miliki saat ini ialah mengikuti jejak-Nya, menjadi dewasa
didalam Kristus. Untuk menjadi dewasa, kanak-kanak harus belajar untuk
meninggalkan kekakanakannya. Memang perlu waktu dan dibutuhkan proses yang panjang.
Tidak sedikit kanak-kanak yang secara biologis telah bertambah usia, bertambah
pertumbuhannya, namun kelkauan dan sifat kekanakan masih saja berlaku didalam
keseharian. Orang percaya harus bertumbuh dewasa. Masa kanak-kanak ada masa dan
usia dimana harus bertumbuh dan seiring waktu menuju masa remaja dan dewasa.
Proses tersebut harus dijalani dan dilakoni oleh semua orang percaya, agar
supaya tiba saatnya kita tidak lagi makan bubur dan susu melainkan sesuatu yang
keras (yang lebih bermanfaat) sesuai kadar pertumbuhan kerohanian kita. Tuhan
Yesus Kristus mau supaya kita semua bertumbuh dewasa tidak lagi kanak-kanak.
Orang percaya yang kanak-kanak dalam
hal kerohaniannya, senantiasa masih menganggap Tuhan sebagai suatu pemenuhan
diri dalam pemenuhan hidup, sebagai sumber berkat, sebagai perlindungan jiwa
dan keamanan dirinya. Kanak-kanak rohani masih menganggap bahwa surga adalah
kehidupan kekal; bukan sebagai tempat dimana dirinya harus sudah benar selesai
dengan dirinya sendiri dan mengikuti jejak-Nya. Orang percaya yang dewasa rohani
harus sudah mampu meninggalkan cara duniawi, mengikis kedagingannya dan
mengikuti jejak-Nya. Mengikuti jejak-Nya, berarti melakukan kehendak-Nya dan
menjadi serupa seperti diri-Nya. orang percaya tersebut bila telah melalui
proses untuk meninggalkan cara hidup tidak sama seperti filososfi dunia, maka
ia layak disebut sebagai Kristen sejati. Kristen artinya pengikut Kristus,
mengikuti jejak-Nya, tidak sama seperti orang Kristen yang hanya label keagamawian
semata. Status agamanya Kristen, tetapi pada hakekatnya memungkiri perbuatannya.
Masih hidup dengan kedagingan dan duniawi. Tidak berani melepaskan diri dari
ikatan dunia, bahkan tidak berani “membunuh dirinya sendiri”, dalam artian
membunuh kedagingannya. Orang tersebut masih mempertahankan nyawa dan tidak
berani kehilangan nyawa.
Jika banyak orang Kristen hanya
memiliki status tersebut tanpa tindakan dan perbuatan seperti yang Tuhan Yesus
Kristus ajarkan, maka orang tersebut masih dapat dikatakan kanak-kanak rohani dan
duniawi. Orang tersebut tidak layak masuk dalam Kerajaan Surga (Matius 7:21).
Surga hanya dapat ditempati oleh orang-orang yang mau mati bagi Kristus.
Kekanakan hanya membuat pola pikir masih betah dibumi dan tidak merindukan
langit yang baru dan bumi yang baru. Sifat kekanakan hanya membuat orang
percaya bahwa dunia adalah tempat yang nyaman, masih mengejar kemapanan dan
pemenuhan diri semata sebagai sesuatu yang menyenangkan dagingnya. Padahal
orang deasa rohani dituntut, asal ada makanan dan pakaian, cukup! (1Timotius
6:8). Kebutuhan hidup tidaklah salah, apalagi untuk keperluan keluarga. Kita
orang percaya dituntut untuk bertanggung jawab, kerja keras, belajar sepenuh
hatri dan apapun profesinya harus memiliki integritas dan dedikasi yang tinggi,
namun semua itu apapun yang kita miliki tidka boleh terikat dan menjadi
kebahagiaan semata. Kebahagiaan orang percaya ialah hanya Yesus Kristus. Kebahagiaan
orang percaya yang masih kanak-kanak rohani senantiasa kebahagiaan sesuatu yang
dunia dapat berikan. Karena dunia memolesi dan mewarnai hidupnya dengan
kemolekan dan keindahan yang dunia berikan. Dunia dari kata Yunani yang berarti
Cosmos, dengan kata kerjanya Cosmeo (dipercantik; didandani). Maka tak elak banyak orang Kristen didandani
dengan warna kosmetik yang indah oleh dunia berikan sehingga hatinya kepincut
terhadap kemolekannya. Ini namanya perzinahan rohani. Injil mengajarkan agar
kita sebagai orang percaya tidak mendua hati. Hati orang percaya yang dewasa
rohani harus setia dengan komitmen dan disertai konsistensi yang tinggi untuk
tidak mencintai dunia tetapi hatinya melekat kepada Kristus.
Natal klise yang dikumandangkan oleh
kebanyakan umat Kristiani membuat banyak orang percaya masih tenggelam dalam
larut euphoria damai dibumi. Dunia tidak memberi jaminan kedamaian. Kedamaian
sejati hanya didalam Tuhan Yesus Kristus. Cara pandang kita seharusnya tidak
lagi berfokus pada pemenuhan hidup tetapi mendandani batiniah. Karena hidup ini
hanya 70-80 tahun semata. Kehidupan kekal kita hanya di Langit yang baru dan
bumi yang baru. Selama didunia ini kita diproses dan memproses diri untuk
menjalankan tekad dan nekad kita menjadi serupa seperti Kristus. Hidup yang
sementara ini jangan dihabiskan dalam proses kanak-kanak, tetapi harus mau
belajar untuk menjadi dewasa. Klise orang percaya harus kita tinggalkan,
biarlah itu menjadi kenangan dan pembelajaran untuk kita mau bertumbuh di dalam
Kristus.
Pendidikan yang benar harus bermula dari gereja Tuhan, didalam rumah tangga, disekolah – melalui guru PAK, agar supaya banyak orang percaya, nara didik menemukan Yesus Kristus yang benar, bukan “yesus fantasi”. Tidak sedikit para pelayan Tuhan mengajarkan yesus fantasi didalam kotbahnya, mengajarkan umat untuk tetap masih kanak-kanak rohani karena masih terus meminta-minta berkat dan karunia-Nya sementar tidak diajarkan bagaimana melakukan kehendak-Nya. Kanak-kanak senantiasa sering meminta kepada orang tuanya. Tapi bila kelak ia dewasa, ia harus mampu mengerti dan memahami bagaimana harus berbuat, berbakti, memberikan yang terbaik kepada orang tuia. Demikianpun kita sebagai orang percaya, harus belajar untuk mengerti, memahami dan kehendak-Nya. Tidak lagi meminta tetapi memberi diri untuk menyenangkan hati Bapa. Berkat dan segala kebutuhan hidup pasti terpenuhi asal bertanggung jawab. Bukankah IA adalah Allah orang hidup? (Lukas 20:38). Dengan pemahaman ini, kita tidak lagi memegahkan perayaan Natal, bukan tidak boleh, namun yang harus kita megahkan bukan simbol-simbol Natal, akan kita meninggikan Kristus dan menjadikan Dia Tuhan atas hidup orang benar dan mengejawantahkan segala kebenaran-Nya dalam keseharian, sehingga orang percaya yang dewasa rohani memberi dampak perubahan bagi sesama disekitarnya. [JK]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.