3 Pilar

3 Pilar

Minggu, 20 Desember 2020

NATAL KELABU (HIASI BATINIAH)

            Biasanya dua bulan menjelang memasuki sebelum bulan Desember, setiap mal dan tempat penjual asesoris pohon natal sudah ramai memasang dan mengadakan promo besar-besaran disertai pernak pernik hiasan natal pada pohon cemara pabrikan dengan berbagai macam model bentuk dan tipenya. Natal tahun ini (2020), banyak mal menjual dengan harga sangat miring dan bisa dibilang hampir membuat kaget para konsumen. Kenyataannya harga bandrol yang direlease oleh penjual, ternyata sangat fantastis jauh dari harga tahun-tahun sebelumnya, atau bisa dikatakan super diskon. Itulah istimewanya natal tahun ini, pabrikan dan stockis mengadakan cuci gudang besar-besaran dikarenakan masalah pandemi ini, wabah virus Covid-19, menjadi peluang bagi para pedagang untuk memburu konsumen. Di kala pandemi ini keadaan perekonomian juga agak seret dan miris krisis. Untuk membuat lancar roda perekonomian dan setidaknya para pedagang/penjual setidaknya dapat balik modal atau sedikit keuntungan, terpaksa harus dengan promo diskon besar dan berbagai merchandise dibuat sedemikian rupa untuk menarik minat konsumen untuk membeli.

            Uniknya natal tahun tahun ini tidak lagi dapat dirayakan semegah dan semeriah pada tahun-tahun sebelumnya. Berbagai atribut bernuansa natal biasanya telah dipersiapkan sejak memasuki awal Desember. Gereja-gereja mulai sibuk dengan berbagai kegiatan, serta menjalankan tradisi-tradisi menyambut Natal. Perayaan natal sebelumnya menjadi moment yang memiliki makna tersendiri bagi umat Kristiani. Tapi kini umat Kristen di seluruh dunia, tidak semua dapat melakukan acara ritual kegiatan ini seperti tahun-tahun yang sudah dilewati sebelumnya. Gereja-gereja tidak lagi dapat melaksanakan perayaan natal secara besar-besaran, dibatasi dengan perketat standard prokes, bahkan di zona yang rawan justru sama sekali tidak diperbolehkan diadakan pertemuan ibadah. Natal tahun ini benar-benar kelabu.

            Istilah kata Natal berasal dari bahasa Latin, Dies Natalis, yang berarti hari lahir. Dalam bahasa Inggris, disebut Christmas, sedangkan istilah Inggris kuno, Cristes Maesse (1038) atau Cristes-messe (1131), yang berarti Misa Kristus. Namun pengertian natal sesungguhnya tidak hanya terletak pada kata dan arti semata, sebab Yesus Kristus, tidak lagi tetap menjadi bayi dalam palungan. Kristus telah dewasa dan menjadi Raja atas alam semesta. Kedatangan-Nya yang pertama kedunia untuk menyampaikan Kabar Baik melalui diri-Nya yang diutus oleh ALLAH Bapa sebagai Sang Penebus dan Juruselamat umat manusia di bumi. Kedatangan-Nya yang kedua kali akan menghakimi seluruh umat manusia baik yang berkenan dihadapan-Nya juga yang tidak taat kepada-Nya. Tidak ada seorangpun yang dapat luput dari penghakiman-Nya pada saat itu. Mereka yang taat dan setia serta hidup dalam kesuciaan, akan mendapat kemuliaan kekal, sebaliknya bagi yang tidak taat dan hidup memberontak terhadap Dia, maka bumi adalah tempat yang tepat bagi mereka untuk selamanya, karena bumi akan menjadi danau api yang kekal, Yunani= limne tou puros (Why. 20:14). Dalam bahasa Ibrani, istilah tersebut disebut Gehena. realitas ini  oleh Tuhan Yesus menyinggung mengenai neraka ini berulang-ulang (Mat. 5:22,29; 10:28; 18:9; Mrk. 9:43,49; Luk. 12:5). Dalam suratnya, rasul Yakobus juga menyinggung realitas neraka (Yak. 3:6). Oleh sebab itu, orang percaya dituntut untuk hidup sempurna seperti Tuhan Yesus Kristus dan melakukan kehendak-Nya.

           Konsep kekristenan selama ini banyak diajarkan oleh para hamba Tuhan tidak sesuai seperti yang Tuhan inginkan. Merayakan natal tidaklah salah, sayangnya natal hanya sebagai ceremonial semata. Natal hanya dijadikan moment bahka Kristus telah lahir ke dunia dan dirayakan, tapi pada hakekatnya Dia tidak tumbuh dewasa dalam kebenaran melalui hidup orang percaya untuk turut melakukan apa yang telah Ia perbuat. Natal hanya menjadi euphoria sesaat di bulan Desember dan sibuk dalam menyiapkan segala sesuatu yang dianggap penting seperti baju dan pakaian baru, makan dan kue-kue yang identik dengan kebutuhan natal. Hiasan-hiasan, pohon natal, sibuk dan heboh dalam tata cara liturgi disertai latihan dan gladi resik berulang kali bahkan mengeluarkan dana yang tidak sedikit, yang mana durasi  ibadah perayaan hanya paling lama 2-3 jam. Makna natal telah menjadi euphoria dan klise semata yang setiap tahun dirayakan dan diulang-ulang tanpa dimaknai dengan benar dan tepat sasaran.  Euphoria natal seharusnya tidak menjadi bingkai utama di kalangan orang percaya yang hanya disajikan hanya untuk membuat suasana seakan damai dan tentram, pada hal itu hanya rekaan dan buatan semata. Bila acara sudah rampung, yang ada hanya tinggal kenyataan yang sesungguhnya. Damai natal tidak hanya didapati hanya pada hari natal dibulan Desember. Damai Kristus dapat dirasakan diresapi oleh semua lapisan orang percaya setiap hari, setiap saat dalam segala situasi dan keadaan bila kita benar-benar telah menjadikan Kristus sebagai satu-satunya kebahagiaan. Kebahagiaan kita sesungguhnya bukanlah hal-hal lahiriah, itu hanya sementara. Yang kekal ialah di Sana, dilangit yang baru dan bumi yang baru. Kebanyakan insani mengejar sesuatu yang terlihat secara kasat mata, fisikly dan lahiriah. Kebanyakan orang percaya tidak mencari perkenanan-Nya, menjadi terhormat dan berkenan di mata Tuhan. Sama seperti Ayub sebagai insani yang suci di jamannya. Kita harus mengikuti dan mengejar kesuciaan yang Tuhan Yesus Kristus ajarkan. Jangan terjerumus pada kesenangan dunia dan  terjebak pada panggung-panggung kenikmatan hidup yang memompa harga diri dan ketamakan. Mengejar nama baik dan popularitas diri, mencari kesempatan untuk mencari hidup. Bila demikian, apakah natal dapat menjadi sesuatu yang istimewa, di mana Dia pernah datang pertama kali ke dunia sebagai Penebus dan seiring waktu kuota usia kita masih tersedia, menyambut kedatangan-Nya kedua kali dengan berkemas-kemas? Yesus Kristus akan datang segera kedua kalinya sebagai Raja. Kita harus berkemas-kemas dan selesai dengan diri sendiri, artinya, sudah tidak ada lagi apapun yang dapat membuat hati dan seluruh aspek hidup ini dapat dibahagiakan selain Tuhan satu-satunya sebagai kebahagiaan.

            Natal boleh menjadi kelabu karena situasi dan kondisi pandemi membuat segala sesutau menjadi terbatas oleh standard protokol kesehatan yang harus dipatuhi. Namun demikian tidak menjadikan hati kita sebagai orang percaya yang benar-benar kelabu, karena Kristus sudah menjadi satu-satunya kebahagiaan kita. Kebahagiaan kita sebagai orang percaya bukanlah dipengaruhi oleh suasana situasi dan kondisi keadaan, pangkat, gelar, kedudukan, financial, strata akademisi, dan lain sebagainya. Kebahagiaan hanya dapat berpengaruh besar bila kita terpikat oleh percintaan dengan dunia. Kita harus frustasi dan patah hati terhadap dunia. Sekalipun dunia mempesona dengan segala kemolekannya, nemun itu menjadi najis di mata kita bila Kekasih Abadi telah memikat dan kita kepincut dengan-Nya. Hati kita tidak boleh terisi oleh apapun dan siapapun oleh pengaruh yang dunia tawarkan, karena itu hanya akan membuat bukan hanya kelabu hidup kita nantinya tetapi justru menjadi kelam dalam kebinasaan kekal.

            Natal tetaplah sebagai peringatan dan perayaan bahwa Kristus Yesus pernah terlahir ke dunia reinkarnasi sebagai manusia. Dia datang mengosongkan diri-Nya menjadi sama seperti manusia namun dalam hal tersebut, Kristus tidak berdosa karena ketaatan-Nya kepada Bapa. Kristus taat sampai mati, mati di kayu salib, itu semua telah dinubuatkan sejak lama oleh para nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Natal idealnya tidak lagi dengan lantunan lagu-lagu nuansa tersebut yang hanya bersifat melankolis semata. Bukan tidak boleh, namun sejatinya, natal menjadi momentum apa yang sudah kita perbuat untuk menyenangkan hati-Nya? Apa yang sudah kita perbuat dan lakukan dalam melaksanakan kehendak-Nya. Ketaatan dan kedewasaan kita sebagai anak Allah harus ditunjukan bahwa berkat jasmani bukanlah prioritas utama dan tidak lagi menjadi bahan “rengekan” dan permohonan dalam doa-doa yang dipanjatkan. Sekarang saatnya untuk kita menjadi dewasa rohani dan lebih fokus dalam pemenuhan dan menghiasi batiniah, sehingga dapat menyenangkan hati-Nya. Hiasai batiniah kita dengan kesucian, ketaatan, menghidupi suara kebenaran, melumpuhkan dan membinasakan kedagingan dari sifat-sifat dosa favorit secara kontinue dan pasti untuk mengenakan manusia ilahi. Selamat Berjuang. [JK]

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.