3 Pilar

3 Pilar

Jumat, 01 Mei 2020

INTENSITAS PAK TERHADAP KEKEKALAN


Terlahir sebagai manusia bukanlah takdir yang menentukan ataupun sebagai suatu secara kebetulan semata-mata terjadi dengan sendirinya. Ada tatanan dan rencana Agung Allah atas semua ciptaan-Nya. Semua dalam bingkai dan skema rencana manis nan indah dalam setiap pekerjaan-Nya. Manusia yang hadir terlahir di muka bumi baik manusia awal (Adam dan Hawa), hingga manusia di masa kekinian terlahir karena suatu maksud dan tujuan yang direncanakan atau bahkan tidak oleh kedua belah pihak, laki-laki dan perempuan, secara biologis, sudah pasti semua manusia itu tidak terlepas dari bagian rencana dan perhatian-Nya. Hanya saja ada beberapa yang memang ditentukan oleh karena faktor keadilan Allah, dalam hal ini, diluar kehendak manusia, di mana semua itu mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi nama-Nya. Namun tidak serta merta manusia beranggapan bahwa Allah punya kehendak otoritas yang otoriter, semua itu masuk dalam bagian yang dikehendaki-Nya, walau terkadang memang sulit kita untuk mengerti cara berpikir dan bertindak-Nya Allah atas semua pekerjaan-Nya bagi manusia.   

Manusia tidak boleh berpikir negatif dan berprasangka buruk atas apa yang diperbuat dan dikaryakan oleh-Nya. Kemaha-Agungan dan hak prerogatif Allah atas ciptaan-Nya harus kita junjung tinggi dan hormati. Dalam hal ini  manusia bukan serta merta tidak punya kuasa apa-apa atas semua yang diperbuat oleh Allah. Manusia diberi kehendak bebas dan otoritas dalam memenuhi bagian hidupnya, namun di sisi lain, manusia diberi hati nurani untuk memilah mana yang baik dan berkenan. Di sisi lain tentunya tidak serta merta bahwa hidup yang dijalani manusia adalah semata untuk dirinya sendiri. Hidup yang dijalaninya adalah hidup hanya untuk melayani dan menyenangkan hati pencipta-Nya (lihat: https://youtu.be/1wvon9UiM6M?list=PLRhNpTWiB6o0mo6PdqGX7JjJMD8Ex9AEX&t=280). Melayani pencipta-Nya adalah suatu kehormatan dan keagungan dari sikap hati ciptaan-Nya rela melayani dan memberi pengagungan kepada Sang Khalik.

Manusia boleh berencana tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya, mungkin ini kedengaran seakan kenapa semua seakan dimonitor dan dikontrol oleh Sang Khalik? Sebenarnya bukan sama sekali. Pemazmur hendak menyatakan bahwa apa yang dirancangkan dan diperbuat oleh manusia, seakan-akan telah tercemari oleh keadaan berdosanya sehingga apa yang diingini manusia dalam mencapai kemapanan dan kelayakan hidup semata hanya sebagai suatu pemenuhan atas apa yang bukan menjadi kebutuhan hidup melainkan keinginan lahiriah semata, yang justru akan membawa manusia kepada pelanggaran dosa, bahkan dapat membawanya kepada kebinasaan kekal. Sejak manusia jatuh dalam dosa akibat ketidak-taatannya kepada Allah, membuat manusia telah kehilangan gambar ilahi (Tselem dan Demuth). Menjadikan manusia lebih memilih kepada penurutan kehendak bebasnya daripada taat dan setia kepada Allah (bnd. Kej.6:5; Roma 3:10, 23). Ini adalah pemberontakan manusia kepada pencipta-Nya, sehingga mata hati manusia menjadi padam bahkan buta terhadap kebenaran ilahi. Pikiran dan perasaan manusia lebih tertumpu pada apa yang dipandang baik menurut akali semata dan bukan karena hikmat ilahi (bnd. Amsal 3:5; 16:2,3). Keadaan seperti terus berlangsung selama berabad-abad. Walau melalui peristiwa air bah, sesudahnya, manusia tetap pada kondisi keberdosaannya. Jalan satu-satunya ialah Allah mengutus Anak-Nya yang Tunggal sebagai Jalan Pendamaian bagi semua manusia. Yesus Kristus tertolak karena manusia melihatnya sebagai sosok manusia biasa dan bukan yang diidamkan sebagai raja atas Israel yang dinantikan. Kristus tertikam dan disalibkan karena dianggap telah menista Torat mereka. Nubuatan para Nabi telah tergenapi bahwa IA yang akan datang sebagai Raja telah dibunuh oleh kaum-Nya dan darah-Nya menebus dosa mereka (bnd. Kej.3:15; Mazmur 22:17; 69:10,20,21; Daniel 9:26; Yesaya 50:6; 53:7 dst).  Manusia tidak hanya kehilangan jati diri sebagai ciptaan yang mulia dari tangan Maha Agung, tetapi juga telah rusak akibat pengaruh filosofi dan pesona dunia dengan segala kemolekannya memikat hati dan pikiran mansuai untuk senantiasa menjadi betah terhadap kenyamanan tinggal di bumi, yang menjadikannya tidak beranjak untuk membenahi batiniah yang kelak sekali waktu diperhadapkan pada pengadilan Allah. Hidup yang saat ini dijalaninya semata sebagai kesempatan untuk harus dipenuhi menurut kewajaran banyak manusia pikirkan dan kerjakan. Mengabaikan bahkan tidak perlu memikirkan kenyataan kekekalan dan ada apa setelah kematian. Itu merupakan dianggap yang tidak perlu dipikirkan dan dianggap serius. Menjalani apa yang patut dikerjakan dan dipenuhi dalam mengisi kehidupan ini adalah semata urusan utama. Urusan mati adalah itu akhir kesudahan hidup manusia. Injil dengan tegas menyatakan bahwa ada kehidupan setelah kematian. Hidup dalam kekekalan menikmati hidup yang sesungguhnya bersama Sang Khalik atau hidup dalam kebinasaan kekal di gehenna (under the word).  Sepatutnya manusia harus serius dan krisis menghadapi hidup ini dan memperkarakannya (lihat: https://youtu.be/uepubNrVLIg?list=PLRhNpTWiB6o0mo6PdqGX7JjJMD8Ex9AEX&t=76). Krisis bahwa bisa kapan saja menghadpi kematian karena penentuan kematian seseorang tidak ada yang tahu menahu, semua ada di tangan Allah. Selagi ada kesempatan manusia harus membenahi batiniah hidupnya dan bukan melulu membenahi kemapanan hidup sewajarnya yang dikerjakan oleh banyak orang (lihat: https://youtu.be/LuYcC9zLpyY?list=PLRhNpTWiB6o0mo6PdqGX7JjJMD8Ex9AEX&t=206).

Sikon pandemi wabah Covid-19, misalnya, semua insani dibelahan bumi manapun akan sama-sama merasakan betapa kewaspadaan harus ditingkatkan dengan sangat hati-hati, walau ada sebagian orang mengabaikan dan menganggap enteng, sehingga akhirnya terpapar virus tersebut, bahkan tidak sedikit karena kelalaian membuat banyak yang meninggal akibat virus tersebut. Memang tidak bisa disangkali bahwa dampak pengaruh kerja bahaya virus Covid-19 membuat banyak orang berpikir keras untuk terhindar darinya. sebagian negara men-lockdown, sebagian melakan sterilisasi dari rumah ke rumah, jalanan, membuat pembatasan wilayah, menganjurkan stay home dan work from home (WFH), dan lain sebagainya upaya dilakukan untuk memutus rantai penyebaran wabah virus ini. Pemerintah, dalam hal ini, melalui Bapak Presiden Joko Widodo, bersama dengan jajaran kabinetnya, bekerja keras untuk melindungi masyarakat RI dari paparan yang setidaknya bisa ditanggulangi bersama. Semua usaha telah dilakukan hingga keseluruh pelosok negeri ini. Namun usaha kerja keras dan pemikiran Kepala Negara RI kita ini tidak serta merta hanya dijalankan sebatas di Jakarta dan daerah tertentu saja, ini harus dilakukan oleh semua pihak, masyarakat RI dari Sabang sampai Merauke. Kinerja ini harus dipikul bersama sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian bersama untuk memutus rantai penyebaran virus dengan program yang telah diberikan kepada publik.

Demikianpun halnya dengan orang percaya bahwa segala sesuatu tidak serta merta terjadi dengan sendirinya. Semua terjadi atas sepengetahuan dan seijin Allah. Apa yang terjadi dimulai awal Desember 2019, berawal dari Wuhan, China, telah menyebar hingga keseluruh belahan bumi. Hanya sedikit negara-negara yang sama sekali tidak terpapar virus ini, walau demikian semua negara berjuang mati-matian dalam menangani pengobatan bagi warganya yang terpapar. Kejadian ini merupakan sejarah dunia yang tidak akan terlupakan dan semoga saja akan segera berakhir. Wabah ini sebenarnya merupakan mutasi dari virus sebelumnya. Keadaan kondisi alam dan faktor manusialah yang turut bertanggung jawab atas semua ini. Ada indikasi virus ini adalah buatan atau sebagai senjata biologis. Namun kenyataannya tetap manusialah bertanggung jawab atas semua yang diperbuat baik individu, kelompok atau kesepakatan bersama untuk menjaga alam tetap asri dan tentram. Keadan dan situasi bisa diciptakan secara teratur dan sepakat, namun pada umumnya manusia senantiasa menjadi jahat dan serakah. Manusia hilang kendali, meraup apa yang dapat menjadi keuntungan walau secara nyata banyak yang akan dikorbankan. Misalnya pemanasan global akibat dampak pengaruh industri, dan sebagainya. Manusia tidak lagi rasional dan mencapai kesejahteraan bersama, yang ada justru saling bersaing, antar negara berlomba menguasai negara yang lain dengan metode imperialis kapitalis modern. Tidak seperti dahulu, menjajah dengan menduduki dan merampas. Sekarang secara modern dan santun namun keji, negara-negara bisa melakukan invasi dengan cara yang sepertinya terlihat santun, padahal dibalik semua itu seperti pepatah mengatakan “ada udang dibalik batu”, ada maksud yang hendak dicapai tapi dengan cara “manis”.

Ranah PAK, memandu umat Tuhan, warga gereja untuk dibawa kembali kepada rancangan Allah semula, itulah tujuan utama keselamatan yang dianugerahkan sejak awal.  Misi ini tidak akan terlaksana apabila orang PAK tidak memahami benar ia diciptakan dan hadir di dunia ini. Orang PAK harus menyerahkan diri kepada proses pembentukan yang Allah karyakan dalam hidupnya lewat Roh Kudus yang akan membimbingnya. Manusia PAK harus benar-benar bersedia digarap dan submit mematikan kedagingan sehingga dapat mengenakan kodrat ilahi. Membunuh kedagingan sama dengan mati sebelum mati, dalam pengertian mati tutup usia, seseorang sudah benar-benar mengalami mati manusia lama dalam kodrat keberdosaannya. Kelak saat tutup usia, orang demikian layak diberi gelar corpus delicti oleh yang empunya kehidupan, pencipta alam semesta. Dengan demikian, orang PAK dapat mampu membawa, membimbing warga gereja untuk dengan rela  mengenakan kodrat ilahi, karena ia sudah dapat menjadi contoh, suri tauladan, role model yang nyata dan konkrit diejawantahkan dalam sikap, prilaku dan secara holistik merupakan gambar Allah yang nyata. Dari refleksi hidup manusia PAK, banyak orang, bahkan warga gereja, melihat Kristus yang hidup dan nyata melalui dirinya. Sejak janin terbentuk, seorang anak, senantiasa melihat figur sesuatu yang dapat dicontohi hidupnya. Demikianpun bagi orang dewasa, ia tidak lagi sama dengan usia remaja yang senantiasa mencari figur untuk ditiru, namun secara psikologis semua insani membutuhkan “mentor bayangan” yang dapat dijadikan landasan dan pijakan hidup. Bila ia kokoh dan mandiri kelak kan menjadi figur yang meng-influence  (menulari) kodrat ilahi untuk dimultiplikasikan ke banyak warga gereja. Gereja, dalam hal ini manusia PAK, guru Injil, konselor, gembala jemaat, aktivis, pengerja, penatua, dan siapapun yang terjun dalam kegiatan intitusi dan lembaga kerohanian, wajib meleburkan diri dalam pembinaan yang Allah selenggarakan dalam sekolah kehdiupan untuk mengenakan kodrat ilahi dan membunuh manusia lamanya. PAK tidak akan membahana bila tidak ada role model seperti Kristus yang dikenakan oleh para pelayan Tuhan kepada warga gereja. Dunia sudah rusak dengan segala eksistensinya, karena itu manusia yang berada diluar, harus melihat corpus delicti diakhir jaman.

Peran serta PAK tidak hanya dalam bingkai pengajaran dan teologi semata. Teologi akali sangat tidak dianjurkan karena hanya menyentuh nalar dan kognitif semata. PAK harus menjadi role model gambaran Kristus – man of God, secara nyata bagi warga gereja. Sublimasi pengajaran tidak hanya sampai di kognitif, tapi juga ranah afektif dan psikomotorik (respon dan feedback) yang nyata secara konkrit. Artinya bila warga gereja mendengar bahwa Kristus mati bagi kita, maka orang percaya juga harus berani (berusaha dan berjuang) mematikan keinginan daging yang membawa kepada kebinasaan. Orang percaya harus menghidupkan Kristus di dalam dirinya sampai terpancar dan berdampak bagi dirinya dan bagi sesama (menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah). 

Alkitab dengan tegas dan jelas menuliskan bahwa PAK telah ada sejak bumi tercipta. Secara eksplisit, PAK menceritakan bagaimana Allah berkarya dan ber-eksistensi terhadap ciptaan-Nya. Allah berinteraksi kepada manusia pertama dan berwibawa terhadap ciptaan lainnya. Ketika itulah PAK menjabarkan bahwa Allah sebagai pusat atau central secara teokrasi. Pendidikan difokuskan kepada Jehovah, di mana  tidak ada buku lain yang memiliki keharusan untuk dipelajari selain Torat  untuk menjadi pegangan dan pelajaran tentang Allah dan karya-Nya. Jadi PAK itu harus terus dinamis bergulir dalam sikon dan jaman apapun sehingga dapat mempengaruhi warga gereja untuk kembali kepada Injil yang murni dan mengenakan pribadi Kristus.
Solagracia [Johanes Kurniawan, M.Pd.K]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.