Terlahir sebagai manusia
bukanlah takdir yang menentukan ataupun sebagai suatu secara kebetulan
semata-mata terjadi dengan sendirinya. Ada tatanan dan rencana Agung Allah atas
semua ciptaan-Nya. Semua dalam bingkai dan skema rencana manis nan indah dalam
setiap pekerjaan-Nya. Manusia yang hadir terlahir di muka bumi baik manusia
awal (Adam dan Hawa), hingga manusia di masa kekinian terlahir karena suatu
maksud dan tujuan yang direncanakan atau bahkan tidak oleh kedua belah pihak,
laki-laki dan perempuan, secara biologis, sudah pasti semua manusia itu tidak
terlepas dari bagian rencana dan perhatian-Nya. Hanya saja ada beberapa yang
memang ditentukan oleh karena faktor keadilan Allah, dalam hal ini, diluar
kehendak manusia, di mana semua itu mendatangkan hormat dan kemuliaan bagi
nama-Nya. Namun tidak serta merta manusia beranggapan bahwa Allah punya
kehendak otoritas yang otoriter, semua itu masuk dalam bagian yang
dikehendaki-Nya, walau terkadang memang sulit kita untuk mengerti cara berpikir
dan bertindak-Nya Allah atas semua pekerjaan-Nya bagi manusia.
Manusia tidak boleh
berpikir negatif dan berprasangka buruk atas apa yang diperbuat dan dikaryakan
oleh-Nya. Kemaha-Agungan dan hak prerogatif Allah atas ciptaan-Nya harus kita
junjung tinggi dan hormati. Dalam hal ini
manusia bukan serta merta tidak punya kuasa apa-apa atas semua yang
diperbuat oleh Allah. Manusia diberi kehendak bebas dan otoritas dalam memenuhi
bagian hidupnya, namun di sisi lain, manusia diberi hati nurani untuk memilah
mana yang baik dan berkenan. Di sisi lain tentunya tidak serta merta bahwa
hidup yang dijalani manusia adalah semata untuk dirinya sendiri. Hidup yang
dijalaninya adalah hidup hanya untuk melayani dan menyenangkan hati
pencipta-Nya (lihat: https://youtu.be/1wvon9UiM6M?list=PLRhNpTWiB6o0mo6PdqGX7JjJMD8Ex9AEX&t=280).
Melayani pencipta-Nya adalah suatu kehormatan dan keagungan dari sikap hati
ciptaan-Nya rela melayani dan memberi pengagungan kepada Sang Khalik.
Manusia boleh berencana
tapi Tuhanlah yang menentukan segalanya, mungkin ini kedengaran seakan kenapa
semua seakan dimonitor dan dikontrol oleh Sang Khalik? Sebenarnya bukan sama
sekali. Pemazmur hendak menyatakan bahwa apa yang dirancangkan dan diperbuat
oleh manusia, seakan-akan telah tercemari oleh keadaan berdosanya sehingga apa
yang diingini manusia dalam mencapai kemapanan dan kelayakan hidup semata hanya
sebagai suatu pemenuhan atas apa yang bukan menjadi kebutuhan hidup melainkan
keinginan lahiriah semata, yang justru akan membawa manusia kepada pelanggaran
dosa, bahkan dapat membawanya kepada kebinasaan kekal. Sejak manusia jatuh
dalam dosa akibat ketidak-taatannya kepada Allah, membuat manusia telah
kehilangan gambar ilahi (Tselem dan Demuth). Menjadikan manusia lebih memilih
kepada penurutan kehendak bebasnya daripada taat dan setia kepada Allah (bnd.
Kej.6:5; Roma 3:10, 23). Ini adalah pemberontakan manusia kepada pencipta-Nya,
sehingga mata hati manusia menjadi padam bahkan buta terhadap kebenaran ilahi.
Pikiran dan perasaan manusia lebih tertumpu pada apa yang dipandang baik
menurut akali semata dan bukan karena hikmat ilahi (bnd. Amsal 3:5; 16:2,3).
Keadaan seperti terus berlangsung selama berabad-abad. Walau melalui peristiwa
air bah, sesudahnya, manusia tetap pada kondisi keberdosaannya. Jalan
satu-satunya ialah Allah mengutus Anak-Nya yang Tunggal sebagai Jalan
Pendamaian bagi semua manusia. Yesus Kristus tertolak karena manusia melihatnya
sebagai sosok manusia biasa dan bukan yang diidamkan sebagai raja atas Israel
yang dinantikan. Kristus tertikam dan disalibkan karena dianggap telah menista
Torat mereka. Nubuatan para Nabi telah tergenapi bahwa IA yang akan datang
sebagai Raja telah dibunuh oleh kaum-Nya dan darah-Nya menebus dosa mereka
(bnd. Kej.3:15; Mazmur 22:17; 69:10,20,21; Daniel 9:26; Yesaya 50:6; 53:7 dst).
Manusia tidak hanya kehilangan jati diri
sebagai ciptaan yang mulia dari tangan Maha Agung, tetapi juga telah rusak akibat
pengaruh filosofi dan pesona dunia dengan segala kemolekannya memikat hati dan
pikiran mansuai untuk senantiasa menjadi betah terhadap kenyamanan tinggal di
bumi, yang menjadikannya tidak beranjak untuk membenahi batiniah yang kelak
sekali waktu diperhadapkan pada pengadilan Allah. Hidup yang saat ini
dijalaninya semata sebagai kesempatan untuk harus dipenuhi menurut kewajaran
banyak manusia pikirkan dan kerjakan. Mengabaikan bahkan tidak perlu memikirkan
kenyataan kekekalan dan ada apa setelah kematian. Itu merupakan dianggap yang
tidak perlu dipikirkan dan dianggap serius. Menjalani apa yang patut dikerjakan
dan dipenuhi dalam mengisi kehidupan ini adalah semata urusan utama. Urusan
mati adalah itu akhir kesudahan hidup manusia. Injil dengan tegas menyatakan
bahwa ada kehidupan setelah kematian. Hidup dalam kekekalan menikmati hidup
yang sesungguhnya bersama Sang Khalik atau hidup dalam kebinasaan kekal di gehenna (under the word). Sepatutnya
manusia harus serius dan krisis menghadapi hidup ini dan memperkarakannya
(lihat: https://youtu.be/uepubNrVLIg?list=PLRhNpTWiB6o0mo6PdqGX7JjJMD8Ex9AEX&t=76).
Krisis bahwa bisa kapan saja menghadpi kematian karena penentuan kematian
seseorang tidak ada yang tahu menahu, semua ada di tangan Allah. Selagi ada
kesempatan manusia harus membenahi batiniah hidupnya dan bukan melulu membenahi
kemapanan hidup sewajarnya yang dikerjakan oleh banyak orang (lihat: https://youtu.be/LuYcC9zLpyY?list=PLRhNpTWiB6o0mo6PdqGX7JjJMD8Ex9AEX&t=206).
Sikon pandemi wabah
Covid-19, misalnya, semua insani dibelahan bumi manapun akan sama-sama
merasakan betapa kewaspadaan harus ditingkatkan dengan sangat hati-hati, walau
ada sebagian orang mengabaikan dan menganggap enteng, sehingga akhirnya
terpapar virus tersebut, bahkan tidak sedikit karena kelalaian membuat banyak
yang meninggal akibat virus tersebut. Memang tidak bisa disangkali bahwa dampak
pengaruh kerja bahaya virus Covid-19 membuat banyak orang berpikir keras untuk
terhindar darinya. sebagian negara men-lockdown, sebagian melakan sterilisasi
dari rumah ke rumah, jalanan, membuat pembatasan wilayah, menganjurkan stay
home dan work from home (WFH), dan lain sebagainya upaya dilakukan untuk
memutus rantai penyebaran wabah virus ini. Pemerintah, dalam hal ini, melalui
Bapak Presiden Joko Widodo, bersama dengan jajaran kabinetnya, bekerja keras
untuk melindungi masyarakat RI dari paparan yang setidaknya bisa ditanggulangi
bersama. Semua usaha telah dilakukan hingga keseluruh pelosok negeri ini. Namun
usaha kerja keras dan pemikiran Kepala Negara RI kita ini tidak serta merta
hanya dijalankan sebatas di Jakarta dan daerah tertentu saja, ini harus
dilakukan oleh semua pihak, masyarakat RI dari Sabang sampai Merauke. Kinerja
ini harus dipikul bersama sebagai bentuk tanggung jawab dan kepedulian bersama
untuk memutus rantai penyebaran virus dengan program yang telah diberikan
kepada publik.
Demikianpun halnya dengan
orang percaya bahwa segala sesuatu tidak serta merta terjadi dengan sendirinya.
Semua terjadi atas sepengetahuan dan seijin Allah. Apa yang terjadi dimulai
awal Desember 2019, berawal dari Wuhan, China, telah menyebar hingga keseluruh
belahan bumi. Hanya sedikit negara-negara yang sama sekali tidak terpapar virus
ini, walau demikian semua negara berjuang mati-matian dalam menangani
pengobatan bagi warganya yang terpapar. Kejadian ini merupakan sejarah dunia
yang tidak akan terlupakan dan semoga saja akan segera berakhir. Wabah ini
sebenarnya merupakan mutasi dari virus sebelumnya. Keadaan kondisi alam dan
faktor manusialah yang turut bertanggung jawab atas semua ini. Ada indikasi
virus ini adalah buatan atau sebagai senjata biologis. Namun kenyataannya tetap
manusialah bertanggung jawab atas semua yang diperbuat baik individu, kelompok
atau kesepakatan bersama untuk menjaga alam tetap asri dan tentram. Keadan dan
situasi bisa diciptakan secara teratur dan sepakat, namun pada umumnya manusia
senantiasa menjadi jahat dan serakah. Manusia hilang kendali, meraup apa yang
dapat menjadi keuntungan walau secara nyata banyak yang akan dikorbankan.
Misalnya pemanasan global akibat dampak pengaruh industri, dan sebagainya.
Manusia tidak lagi rasional dan mencapai kesejahteraan bersama, yang ada justru
saling bersaing, antar negara berlomba menguasai negara yang lain dengan metode
imperialis kapitalis modern. Tidak seperti dahulu, menjajah dengan menduduki
dan merampas. Sekarang secara modern dan santun namun keji, negara-negara bisa
melakukan invasi dengan cara yang sepertinya terlihat santun, padahal dibalik
semua itu seperti pepatah mengatakan “ada udang dibalik batu”, ada maksud yang
hendak dicapai tapi dengan cara “manis”.
Ranah PAK, memandu umat
Tuhan, warga gereja untuk dibawa kembali kepada rancangan Allah semula, itulah
tujuan utama keselamatan yang dianugerahkan sejak awal. Misi ini tidak akan terlaksana apabila orang
PAK tidak memahami benar ia diciptakan dan hadir di dunia ini. Orang PAK harus
menyerahkan diri kepada proses pembentukan yang Allah karyakan dalam hidupnya
lewat Roh Kudus yang akan membimbingnya. Manusia PAK harus benar-benar bersedia
digarap dan submit mematikan kedagingan sehingga dapat mengenakan kodrat ilahi.
Membunuh kedagingan sama dengan mati sebelum mati, dalam pengertian mati tutup
usia, seseorang sudah benar-benar mengalami mati manusia lama dalam kodrat
keberdosaannya. Kelak saat tutup usia, orang demikian layak diberi gelar corpus
delicti oleh yang empunya kehidupan, pencipta alam semesta. Dengan demikian,
orang PAK dapat mampu membawa, membimbing warga gereja untuk dengan rela mengenakan kodrat ilahi, karena ia sudah
dapat menjadi contoh, suri tauladan, role model yang nyata dan konkrit
diejawantahkan dalam sikap, prilaku dan secara holistik merupakan gambar Allah
yang nyata. Dari refleksi hidup manusia PAK, banyak orang, bahkan warga gereja,
melihat Kristus yang hidup dan nyata melalui dirinya. Sejak janin terbentuk,
seorang anak, senantiasa melihat figur sesuatu yang dapat dicontohi hidupnya.
Demikianpun bagi orang dewasa, ia tidak lagi sama dengan usia remaja yang
senantiasa mencari figur untuk ditiru, namun secara psikologis semua insani
membutuhkan “mentor bayangan” yang dapat dijadikan landasan dan pijakan hidup.
Bila ia kokoh dan mandiri kelak kan menjadi figur yang meng-influence (menulari) kodrat ilahi untuk
dimultiplikasikan ke banyak warga gereja. Gereja, dalam hal ini manusia PAK,
guru Injil, konselor, gembala jemaat, aktivis, pengerja, penatua, dan siapapun
yang terjun dalam kegiatan intitusi dan lembaga kerohanian, wajib meleburkan
diri dalam pembinaan yang Allah selenggarakan dalam sekolah kehdiupan untuk
mengenakan kodrat ilahi dan membunuh manusia lamanya. PAK tidak akan membahana
bila tidak ada role model seperti Kristus yang dikenakan oleh para pelayan
Tuhan kepada warga gereja. Dunia sudah rusak dengan segala eksistensinya,
karena itu manusia yang berada diluar, harus melihat corpus delicti diakhir
jaman.
Peran serta PAK tidak
hanya dalam bingkai pengajaran dan teologi semata. Teologi akali sangat tidak
dianjurkan karena hanya menyentuh nalar dan kognitif semata. PAK harus menjadi
role model gambaran Kristus – man of God, secara nyata bagi warga gereja. Sublimasi pengajaran tidak hanya sampai di kognitif, tapi juga
ranah afektif dan psikomotorik (respon dan feedback) yang nyata secara konkrit.
Artinya bila warga gereja mendengar bahwa Kristus mati bagi kita, maka orang
percaya juga harus berani (berusaha dan berjuang) mematikan keinginan daging
yang membawa kepada kebinasaan. Orang percaya harus menghidupkan Kristus di dalam
dirinya sampai terpancar dan berdampak bagi dirinya dan bagi sesama (menjadi
anggur yang tercurah dan roti yang terpecah).
Alkitab dengan tegas dan
jelas menuliskan bahwa PAK telah ada sejak bumi tercipta. Secara eksplisit, PAK
menceritakan bagaimana Allah berkarya dan ber-eksistensi terhadap ciptaan-Nya.
Allah berinteraksi kepada manusia pertama dan berwibawa terhadap ciptaan
lainnya. Ketika itulah PAK menjabarkan bahwa Allah sebagai pusat atau central
secara teokrasi. Pendidikan difokuskan kepada Jehovah, di mana tidak ada buku lain yang memiliki keharusan
untuk dipelajari selain Torat untuk
menjadi pegangan dan pelajaran tentang Allah dan karya-Nya. Jadi PAK itu harus
terus dinamis bergulir dalam sikon dan jaman apapun sehingga dapat mempengaruhi
warga gereja untuk kembali kepada Injil yang murni dan mengenakan pribadi
Kristus.
Solagracia [Johanes Kurniawan, M.Pd.K]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.