3 Pilar

3 Pilar

Jumat, 01 Mei 2020

HUBUNGAN ANTARA PAK DENGAN TINGKAT DISIPLIN REMAJA

A.  Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan dengan maksud untuk mewariskan kepada generasi–generasi yang baru dari semua pengalaman peradaban yang dikembangkan oleh generasi–generasi yang dahulu dalam berbagai aktivitas. Demikianpun tugas guru sangat penting dalam pendidikan dikarenakan agar peserta didik dapat belajar bagaimana mereka bertumbuh dengan dewasa sesuai dengan nilai kehidupan sejati, dimana  siswa dapat belajar mengenal Allah dan tugas guru ialah memberikan pengarahan, dorongan, fasilitas dan lain sebagainya.
                Pada era sekarang ini pendidikan semakin menghadapi tantangan yang berat. Hal itu dikarenakan ada banyak persoalan menghadang didepan sebagaimana yang nyata dilapangan dan dapat di dengar dan dilihat dari berbagai media yang ada. Hal ini disebabkan oleh  terjadinya perubahan yang begitu cepat pada ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang terus menerus mendorong terjadinya perubahan kehidupan yang cepat, dan yang diramalkan oleh para futurolog mengenai keadaan manusia yang berubah secara cepat akan dapat menimbulkan beberapa gejolak negatif adalah benar.

                Pengajaran kebenaran sebagaimana diungkapkan Alkitab perlu diaktifkan dan kembangkan “let the Bible speaks!” dan harus menjadi keyakinan seorang guru PAK sebagai pendidik Kristen, karena itu panggilan seorang guru PAK sebagai pendidik dan pembina amat mendesak untuk dikembangkan yakni menolong anak untuk “belajar melakukan” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus (Andar Ismail, 1998). Sebagai pendidik dan guru, harus tumbuh dalam pemahaman Alkitab dan  harus meningkatkan kualitas spiritual dan mentalnya agar dapat memainkan  peran   sebagai ”garam dan terang dunia” di  lingkungan   profesinya seperti yang dituliskan dalam Matius 5:13–16 yang berbunyi:

(13) “Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
(14) Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu. (16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”

 Karunia hikmat dan pengetahuan serta keguruan yang ada pada diri seorang guru adalah anugerah Allah (I Korintus 12:4–11).
(4) Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. (5) Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan. (6) Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
(7) Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. (10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat,dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.


Para guru adalah saksi Tuhan didalam profesi keguruannya dan sebab itu, pekerjaan itu harus ditunaikan sebagai persembahan bagi Tuhan (bd. Kolose 3:17,23).

(17) Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
(23) Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

                Permasalahan di atas adalah merupakan tantangan yang besar bagi tenaga pengajar atau pendidik PAK karena PAK ialah suatu pendidikan, yang di dalamnya guru PAK dipanggil Allah untuk berkarya, dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk membimbing, melengkapi, serta membina, individu maupun kelompok agar mengalami pertumbuhan dalam segala aspek : fisik, mental, moral, relasional dan spiritual.
                Pada penulisan skripsi ini penulis melihat begitu besarnya tugas dan tanggung jawab yang ada pada “Pendidikan Agama Kristen”, lalu penulis bertanya “apakah Pendidikan Agama Kristen mempengaruhi pertumbuhan jiwa atau tingkah laku seseorang?” Jawaban yang pertama, tentu saja belajar “Pendidikan Agama Kristen” berarti kita belajar untuk bertumbuh dengan kepribadian yang sehat (wholeness) di tengah berbagai krisis dan liku–liku kehidupan tetapi yang lebih penting ialah belajar mengenal Allah. Yang kedua adalah melalui Pendidikan Agama Kristen  membuat remaja menemukan sumber makna hidup hanya ada didalam   Tuhan Yesus Kristus yang   penuh  kasih dan   karunia   dan    kebenaran (Yohanes 1:14-17;10:10).
               
(14) Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (15) Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: :Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” (16) Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; (17) sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
(10:10) Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

                Perdamaian dengan Allah didalam Yesus Kristuslah yang membuat terjadinya perubahan arti dan orientasi hidup. Jika orang benar-benar mengerti kebenaran maka kebenaran itulah yang akan memerdekakan hati, pikiran dan sikap mental seorang remaja. Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen tampaknya haruslah sedemikian rupa menjawab pencarian identitas diri seorang remaja, yaitu cara beriman anak remaja berkaitan erat dengan krisis identitasnya. Alkitab menegaskan bagaimana Allah memanggil dan mendidik manusia untuk belajar mengenal Dia, agar mengasihi Dia  dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal budi (Markus 12:29–30).

(29) Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (30) Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Karena orang mengenal Tuhan dan hormat kepada Dia, seorang remaja memperoleh ketentraman batiniah serta menjauhkan diri dari kejahatan. Hal ini benar–benar kebutuhan manusia masa kini. Banyak orang tidak mengenal Tuhan dengan benar dan tidak takut kepada Dia sehingga perilaku mereka bertentangan dengan nilai kehidupan manusia sejati.

                Pada masa remaja (12–19 tahun) orang mengalami krisis identitas diri (indentity crisis), dan perasaan serba canggung (role confusion). Hal ini menyebabkan terjadi banyak perubahan–perubahan pada pola pikir yang dialami oleh remaja dalam konsep-konsep moral, disiplin dan iman.

                Soesilowindradini  menulis  perubahan pola pikir remaja salah satunya adalah: Konsep Disiplin. Konsep disiplin yang dimaksud yaitu: Anak remaja merasa bahwa disiplin atau ketertiban itu harus ada, akan tetapi  tidak menghendaki lagi penjagaan disiplin seperti masa kanak–kanak.

                Melalui uraian pada bagian latar belakang masalah di atas, maka penulis mengidentifikasikan berbagai masalah sebagai berikut:
                         1. Tingkat   kenakalan   remaja  bertambah  seiring  perubahan  dan  kemajuan jaman.
2. Peranan Pendidikan  Agama  Kristen  sangat menunjang dan mempengaruhi terhadap tingkat kedisiplinan remaja    
      kearah yang lebih   positif.
3. Peranan  orang  tua  dalam mendidik anaknya hendaknya menanamkan nilai-nilai kasih Kristus.
4. Hal  yang  mendukung  dan  berpengaruh  terhadap kedisiplinan siswa ialah adanya perhatian penuh kasih dari orang tua, bimbingan para guru PAK.

B.  Hakikat Pendidikan Secara Umum
Pengertian “Pendidikan” dalam kamus bahasa Indonesia berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, perbuatan, cara mendidik.[1]
Menurut G.B.H.N. Ketetapan RI tahun 1993 menyebutkan bahwa tujuan Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, teguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, professional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan manusia juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap jasa para pahlawan, serta berorientasi pada masa depan.
Dalam istilah lain, kata “Pendidikan” dari bahasa Yunani yaitu “Paedagogis”. Paedagogis beasal dari kata “Pais” artinya anak, dan “Again” artinya membimbing. Paedagogis artinya bimbingan yang diberikan kepada anak. Sudirman berpendapat: pendidikan  suatu usaha yang dijalankan oleh orang tua atau kelompok orang untuk mempengaruhi orang atau kelompok orang lain  agar menjadi lebih dewasa untuk mencapai tingkat hidup yang lebih tinggi dalam arti mental.[2]
Terjadinya sebuah pendidikan tentu membutuhkan proses yang dapat terjadi bisa lama maupun sebentar. Namun demikian tentunya sebuah kualitas hasil dari sebuah pendidikan tidaklah instant semata.


Dalam tradisi kuno Afrika Selatan ada sebuah istilah yang dipakai dalam mendidik seorang anak, yakni “membutuhkan orang satu desa untuk membesarkan dan mendidik seorang anak”. Ungkapan tersebut merupakan simbol isyarat bahwa sebuah pendidikan sangat besar perannya bagi pertumbuhan seorang anak kepada kedewasaan yang sejati.
Dalam bahasa Inggris, kata pendidikan berasal dari kata “Education” yang artinya to give intellectual and moral training”. Pengertian tersebut berarti bahwa pendidikan itu bertanggungjawab terhadap pemberian pengetahuan dan pembinaan moral, meningkatkan kecerdasan juga kualitas budi pekerti. Istilah lainnya  adalah  Teaching” yaitu  mengajar,  suatu  proses  belajar  mengajar agar anak memperoleh pengetahuan dan ketrampilan.
Singgih D. Gunarso menulis: “Setiap usaha yang dilakukan untuk mengubah tingkah laku sedemikian rupa sehingga menjadi tingkah laku yang diinginkan. Setiap anak harus mengalami dan menjalani proses perubahan yang cukup lama sebelum anak dapat hidup sendiri dengan tata cara hidup umum”.[3]
                Elizabeth B. Hurlock berpendapat: “Perubahan anak di masa pubertas sangat berpengaruh terhadap sikap, perilaku dan emosinya”.[4]  Oleh sebab itu dimasa tersebut hendaknya remaja mendapat asupan dan pengajaran dari Firman yang hidup yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, dan  memperbaiki  kelakuan  seperti  dituliskan  di dalam 2 Timotius 3:16,17  yang berbunyi:

(16) Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.

C.  Kontribusi Pendidikan Agama Kristen
Pendidikan Agama Kristen berpangkal pada persekutuan umat Tuhan di dalam Perjanjian Lama. Hakikat dasarnya Pendidikan Agama Kristen sudah terdapat dalam Sejarah Suci Purbakala, Pendidikan Agama Kristen itu mulai dengan panggilannya Abraham menjadi nenek–moyang umat pilihan Tuhan. Bahkan Pendidikan Agama Kristen berpokok kepada Allah sendiri, karena Allah yang menjadi Pendidik Agung bagi umat-Nya.
Menurut Homrighausen dan Enklaar (Pendidikan Agama Kristen, 1996:21) “...Pendidikan Agama Kristen itu tak lain dan tak bukan hanyalah suatu pemberian dan amanat Tuhan sendiri kepada jemaat-Nya”.
Dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus, bahwa Tuhan telah memanggil dan mengangkat dari antara anggota–anggota gereja “baik rasul–rasul maupun nabi–nabi baik pemberita–pemberita Injil maupun gembala–gembala dan pengajar–pengajar”, untuk memberi pengetahuan dan pengertian akan pernyataan Allah dan tentang segala kekayaan Firman Tuhan, yang tugasnya diletakkan Tuhan kepada jemaat dan beberapa pelayanan dipercayakan-Nya kepada Gereja-Nya di bumi ini, termasuk pula tugas mengajar dan mendidik orang dalam agama Kristen.
Penulis mencoba memaparkan tentang seorang tokoh Alkitab yang karena kedisiplinannya tokoh tersebut tetap diselamatkan oleh Allah karena setiap perintah Allah selalu dilaksanakan, yaitu nabi Nuh yang diselamatkan dari peristiwa air Bah. Untuk lebih jelasnya terdapat didalam Kitab Kejadian, dimana Allah memerintahkan Nuh untuk membuat sebuah bahtera bagi Nuh (Kejadian 6:11-22).

(11) Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. (12) Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.(13) Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama dengan bumi. (14) buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam. (15) Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. (16) Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat bawah, tengah dan atas. (17) Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. (18) Tetapi dengan engkau Aku akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu: engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimudan isteri anak-anakmu. (19) Dan dari segala yang hidup, dari segala mahluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa (20) Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. (21) Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.” (22) Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.   

Disini penulis mencoba menjelaskan bagaimana Hakikat Pendidikan Agama Kristen, dan untuk dapat memahami hakikat Pendidikan Agama Kristen terlebih dahulu membaca apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan seperti yang tertulis mengenai hasil  dan   maksud    pekerjaan  Roh    Kudus    dalam  jemaat  Kristen, yang tertulis dalam di Efesus  4:11–16:

(11) Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12) untuk melengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala, (16) Daripada-Nyalah seluruh tubuh,- yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu  oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-  menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.

Bahkan di dalam Perjanjian Lama telah dituliskan melalui pewahyuan kepada orang Israel untuk mengajarkan Torat sebagai upaya pengajaran dan hidup berkenan di mata  ALLAH (Ulangan 6:4-7):

(4) Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (5) Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. (6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

Penerapan   implementasi  dari  Ulangan 6:4-7  adalah  dengan tidak mengenal lelah dan jemu-jemu baik dari orang tua, guru PAK, dan berbagai pihak untuk terus senantiasa menyampaikan Firman Tuhan sebagai pedoman hidup remaja. Dalam hal ini supaya hidupnya mengalami perubahan dan tidak terikat dengan pengaruh dunia yang tidak menentu.

Pendidikan Agama Kristen berusaha untuk mempertemukan manusia dengan Allah, oleh sebab itu Pendidikan Agama Kristen berfungsi sebagai penyampaian kebenaran yang dinyatakan Tuhan dalam Alkitab, supaya nara didik mengetahui dan mengakui pokok-pokok kepercayaan agama Kristen.[5] Namun yang harus menjadi motivasi utama agar Pendidikan Agama Kristen berjalan sesuai dengan fungsinya adalah Injil yang senantiasa bersifat mengajar, mengubah, dan memanusiakan manusia, seperti hakikat Allah Sang Bapa, Sang Putra dan Sang Roh sendiri adalah sebagai Guru Pengajar, Pendidik (Andar Ismail, 2003:158).
Penulis melihat bahwa Pendidikan Agama Kristen dapat membimbing remaja agar ia dapat memberi arti kepada alam di sekitarnya, kepada sejarah bangsa manusia, dalam hubungannya dengan kepercayaan dan pengalaman Kristen serta merumuskan suatu filsafat hidup secara Kristen.
                Homrighausen dan Enklaar (1996:26) mengatakan: “...maksud pekerjaannya, ialah supaya Tuhan dapat memakainya untuk menanam dan memelihara bibit iman itu di dalam hati segala anak didiknya, sehingga iman itu akan tumbuh dan berubah dalam hidup anak”. Oleh sebab itu Pendidikan Agama Kristen diperlukan oleh setiap manusia agar dapat menuju jalan kehidupan yang sejahtera, sebab untuk hidup sejahtera manusia membutuhkan hubungan yang serasi dengan Tuhan dan sesamanya, yang akan tercipta bila ada pengenalan dan hidup takut akan Tuhan, seperti yang  ditulis oleh Groome sebagai berikut “The purpose of Christian religious education is to enable people to live as Christians, that is, to live lives of Christian faith”. (Andar Ismail, 2003:159).
I.H. Enklaar juga berpendapat bahwa: “Tujuan Pendidikan Agama Kristen supaya semua anggota jemaat dididik  menjadi pandai dan mahir dalam perkara iman dan kelakuan bahkan menjadi orang yang bertanggungjawab melayani Tuhan didalam Gereja, keluarga, dan masyarakat

D.  Hakikat Disiplin
                Kata disiplin berasal dari disciple, yang artinya murid. Disiplin adalah segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tua untuk membentuk perilaku anak, semua peringatan atau aturan, pengajaran dan perencanaan, contoh dan kasih sayang, pujian dan hukuman. Ray Mossholder (Cara mendidik dan mendisiplinkan anak, 1998:331) mengatakan: “disiplin adalah suatu usaha yang orang tua lakukan bagi anak-anak mereka”. Sal Severe mengatakan: “bahwa disiplin adalah mengajar anak–anak untuk membuat keputusan–keputusan, bersikap mau bekerjasama dan mengendalikan diri mereka sendiri”. Pengertian lain dari disiplin (discipline) adalah:

                1. Tertib, taat, mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri.
                2. Latihan,  membentuk,  meluruskan  atau  menyempurnakan  sesuatu sebagai   kemampuan  mental  atau  karakter  moral.
                3. Hukuman yang diberikan untuk melatih atau memperbaiki.
                4. Kumpulan atau sistem peraturan–peraturan bagi tingkah laku.

                Dewa Ketut Sukardi (Bimbingan dan Konseling, 1988:27) disiplin memiliki dua arti yang berbeda tetapi keduanya mempunyai hubungan yaitu:
1. Disiplin   dapat   diartikan   sebagai   suatu   rentetan   aktifitas  atau  latihan
    yang  terencana  untuk  mencapai  suatu  tujuan.
                           2. Disiplin   adalah   hukum  perilaku   yang    dianggap  tidak   diinginkan.

                Dalam pelaksanaan disiplin ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar dalam penerapannya tidak merugikan salah satu pihak dari penerapan disiplin itu. Dalam hal ini ada yang perlu diperhatikan oleh seorang guru dalam penerapan disiplin antara lain:
  1. Dalam mendisiplinkan siswa, tata tertib sangat bermanfaat, untuk itu guru tidak bertindak sesuka hatinya, tapi mendisiplinkan siswa sesuai dengan aturan yang berlaku dalam disiplin tersebut.
  2. Konsisten dan konsekwensi dalam menegakkan atau menerapkan disiplin bukan ancaman atau kekerasan yang diutamakan, tetapi yang diperlukan adalah ketegasan, keteguhan didalam melaksanakan peraturan.
  3. Hukuman atau sanksi yang diberikan bertujuan untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan atau pelanggaran yang dilakukan siswa terhadap disiplin. Hukuman yang diberikan harus mendidik siswa.
  4. Guru bekerjasama dengan orang tua dalam menerapkan disiplin. Sebab disiplin membawa pengaruh besar dalam pembinaan dan pengembangan disiplin. Partisipasi yang diberikan oleh orang tua adalah: Memotivasi siswa untuk belajar dengan baik, membantu melaksanakan disiplin sekolah (Wardiman Djojonegoro, Gerakan Disiplin Nasional, 1996:254).
                Dalam penegakkan disiplin disekolah guru perlu menegaskan kembali setiap disiplin kepada siswa lama dan baru serta orang tua hal ini dikarenakan disiplin  ialah pengendalian tingkah laku dalam lingkungan untuk mematuhi dan menaati peraturan–peraturan yang berlaku. Dengan cara inilah sekolah menanamkan aturan dan batasan yang mutlak harus ditaati oleh anak, tidak ada pilihan lain bagi siswa selain mengikuti penerapan disiplin itu. Hal ini dikarenakan untuk menghindari ketidakpatuhan, pemberontakan dan kegelisahan untuk melakukan sesuatu yang salah yang hanya dapat memuaskan pihak–pihak tertentu.
                Terdapat jenis-jenis disiplin yang harus diketahui sebelum penerapan disiplin itu berlaku, antara lain:
  1. Disiplin Otoriter (Otoritarian)
Pengendalian tingkah laku berdasarkan tekanan, dorongan, pemaksaan dari luar terhadap diri seseorang. Dalam hal ini seseorang dipaksa untuk mematuhi dan menaati peraturan yang dibuat.
  1. Disiplin Bebas (Permisif)
Kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan keputusan yang diambil. Mereka diberikan cara untuk mencari dan menumbuhkan sendiri tata cara atau peraturan yang memberi batasan dari tingkah lakunya.
  1. Disiplin Demokratis (Democratic)
Disiplin yang dilakukan mengikuti peraturan yang ada bukan karena paksaan melainkan atas kesadaran bahwa hal ini baik dan bermanfaat.
                Dengan demikian maka penulis menyimpulkan bahwa tiga jenis disiplin yang ada diatas memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh sebab itu guru diharapkan untuk dapat memilih dengan benar jenis disiplin yang akan digunakan di sekolah.


E.  Karakteristik Anak Remaja    
                Penulisan skripsi ini dibatasi pada remaja yang memasuki masa persiapan diri antara usia 12 – 16 tahun, dan ini adalah rentang usia yang dimiliki anak remaja. Pada masa ini umumnya persiapan fisik sudah selesai dijalani, kedewasaan tubuh dan kematangan seksual sudah tercapai, akan tetapi kedewasaan dalam hal rasa tanggungjawab, pelaksanaan tugas–tugas belum sepenuhnya diperoleh.

                Ketika telah tiba pada masa peralihan dalam hidupnya yang besar akibatnya, mereka bukan anak-anak lagi dan belum juga masuk ke usia kedewasaan, menyatakan diri dengan rupa–rupa perubahan, baik dalam tubuh maupun dalam jiwa si remaja  itu.  Pada akhir usia ini terdapat gejala–gejala yang disebut gejala–gejala “negative phase” Hurlock (Andi Mappiare 1982:32) menjelaskan pokok–pokok “negative phase” ini secara lengkap antara lain:
  1. Keinginan untuk menyendiri (desire for isolation).
  2. Berkurangnya kemauan untuk bekerja (disinclination to work).
  3. Kurang koordinasi fungsi – fungsi tubuh (incoordinations).
  4. Kegelisahan (restlesness)
  5. Pertentangan Sosial (social antagonis)
  6. Kurang percaya diri (lack of self-confindence)
  7. Kepekaan perasaan susila (excessive modesty)
  8. Suka berkhayal (day dreaming)
  9. Timbul minat pada lawan jenis (preoccupation with sex)

Dalam masa ini anak remaja sangat tidak stabil keadaannya, dari rasa percaya diri menjadi rasa meragukan diri sendiri, dan juga dari mementingkan orang lain menjadi egoisme atau mementingkan diri sendiri. Dan emosi–emosi yang dialami oleh anak remaja antara lain: marah, takut, cemas, rasa ingin tahu, iri hati, sedih, kasih sayang.
Melihat hal diatas perlulah mempelajari kembali sifat–sifat dan keadaan umum remaja itu, serta mempertimbangkan kembali suasana dan metode Pendidikan Agama Kristen agar remaja ini untuk dapat berkembang sesuai dengan tujuan dari Pendidikan Agama Kristen, dan yang begitu penting adalah keberadaan mereka bagi seluruh hidup jemaat Kristen.
Elizabeth B. Hurlock (Psikologi Perkembangan, 1990;192) berpendapat: “Perubahan anak di masa pubertas sangat berpengaruh terhadap sikap, perilaku dan emosinya”. Remaja adalah pribadi yang mengalami perkembangan secara khusus. Dalam perkembangan tersebut, seorang remaja berada dalam peralihan, yaitu dari masa kanak–kanak ke masa dewasa. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, remaja adalah “mulai dewasa, sampai usia untuk kawin, ia sekarang sudah bukan kanak–kanak lagi”.
                Singgih D. Gunarsa dalam buku “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” mengatakan: “Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yakni antara usia 12 sampai 22 tahun. Remaja dalam hal ini, sama halnya seperti anak mengalami perubahan jasmani, kepribadian, intelek dan peran di dalam maupun di luar lingkungan. Dan bila remaja dalam peralihan diamati dengan seksama, akan diperoleh beberapa catatan khas sebagai berikut:
  1. Mula–mula terlihat timbulnya perubahan jasmani, perubahan fisik yang sedemikian pesatnya dan jelas berbeda dibandingkan dengan masa sebelumnya;
  2. Perkembangan inteleknya lebih mengarah ke pemikiran tentang dirinya, refleksi diri;
  3. Perubahan–perubahan antara hubungan antara anak dan orang tua dan orang lain dalam lingkungan dekatnya;
  4. Timbulnya perubahan dalam perilaku, pengalaman dan kebutuhan seksual;
  5. Perubahan dalam harapan dan tuntutan orang terhadap remaja;
  6. Banyaknya perubahan dalam waktu yang singkat menimbulkan masalah dalam penyesuaian.
 F.  Hubungan Disiplin dan Pendidikan Agama Kristen 
                Pendidikan Agama Kristen berusaha agar dapat mengembangkan atau membentuk jiwa disiplin pada anak didiknya yaitu agar mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan Pendidikan Agama Kristen. Bila kita mendisiplinkan anak–anak, kita sebetulnya sedang mengajarkan dua hal: melakukan perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan yang tidak baik.” (Neny Ekosari, 2004:1).
                B.S. Sijabat (Menjadi Guru Profesional, 2002:39) sebagai perspektif kristiani yang menjelaskan tentang istilah–istilah disiplin, yaitu:
  1. Disiplin sebagai kata benda adalah seperangkat aturan, tata tertib yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar guna membentuk dan mengembangkan pola tingkah laku yang sehat.
  2. Disiplin sebagai kata kerja, berarti berupaya membimbing orang lain dalam mengembangkan sikap dan pola hidup yang bermanfaat bagi keberhasilan seseorang.

Sedangkan Robert R. Boehlke (Membangun Teori Pendidikan Agama Kristen, 1998:44) menjelaskan tentang arti Pendidikan Agama Kristen sebagai berikut: Pendidikan Agama Kristen adalah usaha sengaja dari gereja untuk menolong orang lain dari semua golongan umur yang dipercayakan Tuhan kepada pemeliharaan-Nya untuk memberi tanggapan akan pernyataan Allah dalam Yesus Kristus yang disaksikan dalam Alkitab, dalam kehidupan gereja supaya mereka dibawah pimpinan Roh Kudus diperlengkapi guna melayani sesama atas nama Tuhannya di tengah–tengah keluarga, gereja masyarakat dan dunia alam.
Remaja tidak akan dengan sendirinya dapat mengalami perubahan tanpa adanya dukungan dari peranan Pendidikan Agama Kristen melalui orang tua, guru dan berbagai pihak. Dukungan, bimbingan, dan arahan kepada remaja akan membawanya kepada suatu pengenalan dan pemahaman yang benar kepada kebenaran yang sejati, yakni FirmanNya yang hidup. Melalui pemahaman yang benar akan FirmanNya, maka pasti dicapai sebuah sasaran yang optimal dari rangkaian upaya kepada sebuah perubahan remaja.




[1] Kamus Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Cet. Keempat, 1995
[2] Sudirman, Pengertian Pendidikan, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006
[3] Singgih D. Gunarso, Psikologi Pembimbing, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995
[4] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Erlangga, 1990
[5] Johanes Kurniawan, Diktat PAK Dewasa, 2020

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.