A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan usaha sadar yang dilakukan
dengan maksud untuk mewariskan kepada generasi–generasi yang baru dari semua
pengalaman peradaban yang dikembangkan oleh generasi–generasi yang dahulu dalam
berbagai aktivitas. Demikianpun tugas guru sangat penting dalam pendidikan
dikarenakan agar peserta didik dapat belajar bagaimana mereka bertumbuh dengan
dewasa sesuai dengan nilai kehidupan sejati, dimana siswa dapat belajar mengenal Allah dan tugas
guru ialah memberikan pengarahan, dorongan, fasilitas dan lain sebagainya.
Pada
era sekarang ini pendidikan semakin menghadapi tantangan yang berat. Hal itu
dikarenakan ada banyak persoalan menghadang didepan sebagaimana yang nyata
dilapangan dan dapat di dengar dan dilihat dari berbagai media yang ada. Hal
ini disebabkan oleh terjadinya perubahan
yang begitu cepat pada ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi yang terus
menerus mendorong terjadinya perubahan kehidupan yang cepat, dan yang
diramalkan oleh para futurolog mengenai keadaan manusia yang berubah secara
cepat akan dapat menimbulkan beberapa gejolak negatif adalah benar.
Pengajaran kebenaran sebagaimana
diungkapkan Alkitab perlu diaktifkan dan kembangkan “let the Bible speaks!” dan harus menjadi keyakinan seorang guru PAK
sebagai pendidik Kristen, karena itu panggilan seorang guru PAK sebagai
pendidik dan pembina amat mendesak untuk dikembangkan yakni menolong anak untuk
“belajar melakukan” yang diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus (Andar Ismail,
1998). Sebagai pendidik dan guru, harus tumbuh dalam pemahaman Alkitab dan harus meningkatkan kualitas spiritual dan
mentalnya agar dapat memainkan
peran sebagai ”garam dan terang
dunia” di lingkungan profesinya seperti yang dituliskan dalam
Matius 5:13–16 yang berbunyi:
(13)
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia
diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.
(14)
Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin
tersembunyi. (15) Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di
bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di
dalam rumah itu. (16) Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang,
supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di
sorga.”
Karunia hikmat dan pengetahuan serta keguruan
yang ada pada diri seorang guru adalah anugerah Allah (I Korintus 12:4–11).
(4)
Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. (5) Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi
satu Tuhan. (6) Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah
satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
(7)
Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan
bersama. (8) Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk
berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan
karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (9) Kepada yang seorang Roh yang sama
memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan.
(10) Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan
kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat,dan kepada yang lain
lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh.Kepada yang
seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada
yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu. (11) Tetapi
semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan
karunia kepada kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya.
Para
guru adalah saksi Tuhan didalam profesi keguruannya dan sebab itu, pekerjaan
itu harus ditunaikan sebagai persembahan bagi Tuhan (bd. Kolose 3:17,23).
(17)
Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah
semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada
Allah, Bapa kita.
(23)
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk
Tuhan dan bukan untuk manusia.
Permasalahan
di atas adalah merupakan tantangan yang besar bagi tenaga pengajar atau
pendidik PAK karena PAK ialah suatu pendidikan, yang di dalamnya guru PAK
dipanggil Allah untuk berkarya, dapat diartikan sebagai usaha sadar untuk
membimbing, melengkapi, serta membina, individu maupun kelompok agar mengalami
pertumbuhan dalam segala aspek : fisik, mental, moral, relasional dan
spiritual.
Pada
penulisan skripsi ini penulis melihat begitu besarnya tugas dan tanggung jawab
yang ada pada “Pendidikan Agama Kristen”, lalu penulis bertanya “apakah Pendidikan
Agama Kristen mempengaruhi pertumbuhan jiwa atau tingkah laku seseorang?”
Jawaban yang pertama, tentu saja belajar “Pendidikan Agama Kristen” berarti
kita belajar untuk bertumbuh dengan kepribadian yang sehat (wholeness) di tengah berbagai krisis dan
liku–liku kehidupan tetapi yang lebih penting ialah belajar mengenal Allah.
Yang kedua adalah melalui Pendidikan Agama Kristen membuat remaja menemukan sumber makna hidup
hanya ada didalam Tuhan Yesus Kristus
yang penuh kasih dan
karunia dan kebenaran (Yohanes 1:14-17;10:10).
(14)
Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah
melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak
Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. (15) Yohanes memberi kesaksian
tentang Dia dan berseru, katanya: :Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku
berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab
Dia telah ada sebelum aku.” (16) Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah
menerima kasih karunia demi kasih karunia; (17) sebab hukum Taurat diberikan
oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.
(10:10)
Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang,
supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.
Perdamaian dengan Allah didalam
Yesus Kristuslah yang membuat terjadinya perubahan arti dan orientasi hidup.
Jika orang benar-benar mengerti kebenaran maka kebenaran itulah yang akan
memerdekakan hati, pikiran dan sikap mental seorang remaja. Pembelajaran
Pendidikan Agama Kristen tampaknya haruslah sedemikian rupa menjawab pencarian
identitas diri seorang remaja, yaitu cara beriman anak remaja berkaitan erat
dengan krisis identitasnya. Alkitab menegaskan bagaimana Allah memanggil dan
mendidik manusia untuk belajar mengenal Dia, agar mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, kekuatan dan akal
budi (Markus 12:29–30).
(29)
Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah hai orang Israel, Tuhan
Allah kita, Tuhan itu esa. (30) Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu
dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap
kekuatanmu.
Karena orang mengenal Tuhan dan hormat kepada
Dia, seorang remaja memperoleh ketentraman batiniah serta menjauhkan diri dari
kejahatan. Hal ini benar–benar kebutuhan manusia masa kini. Banyak orang tidak
mengenal Tuhan dengan benar dan tidak takut kepada Dia sehingga perilaku mereka
bertentangan dengan nilai kehidupan manusia sejati.
Pada
masa remaja (12–19 tahun) orang mengalami krisis identitas diri (indentity crisis), dan perasaan serba
canggung (role confusion). Hal ini
menyebabkan terjadi banyak perubahan–perubahan pada pola pikir yang dialami
oleh remaja dalam konsep-konsep moral, disiplin dan iman.
Soesilowindradini menulis
perubahan pola pikir remaja salah satunya adalah: Konsep Disiplin.
Konsep disiplin yang dimaksud yaitu: Anak remaja merasa bahwa disiplin atau
ketertiban itu harus ada, akan tetapi
tidak menghendaki lagi penjagaan disiplin seperti masa kanak–kanak.
Melalui uraian pada
bagian latar belakang masalah di atas, maka penulis mengidentifikasikan
berbagai masalah sebagai berikut:
1. Tingkat kenakalan
remaja bertambah seiring
perubahan dan kemajuan jaman.
2. Peranan Pendidikan Agama
Kristen sangat menunjang dan
mempengaruhi terhadap tingkat kedisiplinan remaja
kearah yang lebih positif.
3. Peranan orang
tua dalam mendidik anaknya
hendaknya menanamkan nilai-nilai kasih Kristus.
4. Hal yang
mendukung dan berpengaruh
terhadap kedisiplinan siswa ialah adanya perhatian penuh kasih dari
orang tua, bimbingan para guru PAK.
B. Hakikat
Pendidikan Secara Umum
Pengertian “Pendidikan” dalam kamus bahasa
Indonesia berarti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau
sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan; proses, perbuatan, cara mendidik.[1]
Menurut G.B.H.N. Ketetapan RI tahun 1993
menyebutkan bahwa tujuan Pendidikan Nasional bertujuan untuk meningkatkan
kualitas Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,
berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, teguh, cerdas, kreatif,
terampil, berdisiplin, professional, bertanggung jawab, dan produktif serta sehat
jasmani dan rohani. Pendidikan manusia juga harus menumbuhkan jiwa patriotik
dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan
kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap jasa para
pahlawan, serta berorientasi pada masa depan.
Dalam istilah lain, kata “Pendidikan” dari
bahasa Yunani yaitu “Paedagogis”.
Paedagogis beasal dari kata “Pais”
artinya anak, dan “Again” artinya
membimbing. Paedagogis artinya
bimbingan yang diberikan kepada anak. Sudirman berpendapat: pendidikan suatu usaha yang dijalankan oleh orang tua
atau kelompok orang untuk mempengaruhi orang atau kelompok orang lain agar menjadi lebih dewasa untuk mencapai tingkat
hidup yang lebih tinggi dalam arti mental.[2]
Terjadinya sebuah pendidikan tentu membutuhkan
proses yang dapat terjadi bisa lama maupun sebentar. Namun demikian tentunya
sebuah kualitas hasil dari sebuah pendidikan tidaklah instant semata.
Dalam tradisi kuno Afrika Selatan ada sebuah
istilah yang dipakai dalam mendidik seorang anak, yakni “membutuhkan orang satu
desa untuk membesarkan dan mendidik seorang anak”. Ungkapan tersebut merupakan
simbol isyarat bahwa sebuah pendidikan sangat besar perannya bagi pertumbuhan
seorang anak kepada kedewasaan yang sejati.
Dalam bahasa Inggris, kata pendidikan berasal
dari kata “Education” yang artinya to give intellectual and moral training”.
Pengertian tersebut berarti bahwa pendidikan itu bertanggungjawab terhadap
pemberian pengetahuan dan pembinaan moral, meningkatkan kecerdasan juga
kualitas budi pekerti. Istilah lainnya
adalah “Teaching” yaitu
mengajar, suatu proses
belajar mengajar agar anak memperoleh
pengetahuan dan ketrampilan.
Singgih D. Gunarso menulis: “Setiap usaha yang
dilakukan untuk mengubah tingkah laku sedemikian rupa sehingga menjadi tingkah
laku yang diinginkan. Setiap anak harus mengalami dan menjalani proses
perubahan yang cukup lama sebelum anak dapat hidup sendiri dengan tata cara
hidup umum”.[3]
Elizabeth
B. Hurlock berpendapat: “Perubahan anak di masa pubertas sangat berpengaruh
terhadap sikap, perilaku dan emosinya”.[4] Oleh sebab itu dimasa tersebut hendaknya
remaja mendapat asupan dan pengajaran dari Firman yang hidup yang bermanfaat
untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, dan
memperbaiki kelakuan seperti
dituliskan di dalam 2 Timotius
3:16,17 yang berbunyi:
(16)
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk
menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam
kebenaran. (17) Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi
untuk setiap perbuatan baik.
C. Kontribusi Pendidikan Agama
Kristen
Pendidikan Agama Kristen berpangkal pada
persekutuan umat Tuhan di dalam Perjanjian Lama. Hakikat dasarnya Pendidikan
Agama Kristen sudah terdapat dalam Sejarah Suci Purbakala, Pendidikan Agama
Kristen itu mulai dengan panggilannya Abraham menjadi nenek–moyang umat pilihan
Tuhan. Bahkan Pendidikan Agama Kristen berpokok kepada Allah sendiri, karena
Allah yang menjadi Pendidik Agung bagi umat-Nya.
Menurut Homrighausen dan Enklaar (Pendidikan
Agama Kristen, 1996:21) “...Pendidikan Agama Kristen itu tak lain dan tak bukan
hanyalah suatu pemberian dan amanat Tuhan sendiri kepada jemaat-Nya”.
Dalam Surat Rasul Paulus kepada jemaat di
Efesus, bahwa Tuhan telah memanggil dan mengangkat dari antara anggota–anggota
gereja “baik rasul–rasul maupun nabi–nabi baik pemberita–pemberita Injil maupun
gembala–gembala dan pengajar–pengajar”, untuk memberi pengetahuan dan
pengertian akan pernyataan Allah dan tentang segala kekayaan Firman Tuhan, yang
tugasnya diletakkan Tuhan kepada jemaat dan beberapa pelayanan dipercayakan-Nya
kepada Gereja-Nya di bumi ini, termasuk pula tugas mengajar dan mendidik orang
dalam agama Kristen.
Penulis mencoba memaparkan tentang seorang tokoh
Alkitab yang karena kedisiplinannya tokoh tersebut tetap diselamatkan oleh
Allah karena setiap perintah Allah selalu dilaksanakan, yaitu nabi Nuh yang
diselamatkan dari peristiwa air Bah. Untuk lebih jelasnya terdapat didalam
Kitab Kejadian, dimana Allah memerintahkan Nuh untuk membuat sebuah bahtera
bagi Nuh (Kejadian 6:11-22).
(11)
Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. (12)
Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia
menjalankan hidup yang rusak di bumi.(13) Berfirmanlah Allah kepada Nuh: “Aku
telah memutuskan untuk mengakhiri hidup segala mahluk, sebab bumi telah penuh
dengan kekerasan oleh mereka, jadi Aku akan memusnahkan mereka bersama-sama
dengan bumi. (14) buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu gofir; bahtera itu
harus kaubuat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari
dalam. (15) Beginilah engkau harus membuat bahtera itu: tiga ratus hasta
panjangnya, lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya. (16)
Buatlah atap pada bahtera itu dan selesaikanlah bahtera itu sampai sehasta dari
atas, dan pasanglah pintunya pada lambungnya; buatlah bahtera itu bertingkat
bawah, tengah dan atas. (17) Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah
meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong
langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa. (18) Tetapi dengan engkau Aku
akan mengadakan perjanjian-Ku, dan engkau akan masuk ke dalam bahtera itu:
engkau bersama-sama dengan anak-anakmu dan isterimudan isteri anak-anakmu. (19)
Dan dari segala yang hidup, dari segala mahluk, dari semuanya haruslah engkau
bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama
dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa (20) Dari segala jenis burung
dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi,
dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara
hidupnya. (21) Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan;
kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka.” (22)
Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah
kepadanya, demikianlah dilakukannya.
Disini penulis mencoba menjelaskan bagaimana
Hakikat Pendidikan Agama Kristen, dan untuk dapat memahami hakikat Pendidikan
Agama Kristen terlebih dahulu membaca apa yang dikatakan oleh Firman Tuhan
seperti yang tertulis mengenai hasil
dan maksud pekerjaan
Roh Kudus dalam
jemaat Kristen, yang tertulis
dalam di Efesus 4:11–16:
(11)
Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik
pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, (12)
untuk melengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan
tubuh Kristus, (13) sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan
pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat
pertumbuhan sesuai dengan kepenuhan Kristus, (14) sehingga kita bukan lagi
anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh
permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, (15) tetapi
dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam
segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala, (16) Daripada-Nyalah
seluruh tubuh,- yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan
kadar pekerjaan tiap-tiap anggota-
menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih.
Bahkan di dalam Perjanjian Lama telah dituliskan
melalui pewahyuan kepada orang Israel untuk mengajarkan Torat sebagai upaya
pengajaran dan hidup berkenan di mata
ALLAH (Ulangan 6:4-7):
(4)
Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! (5) Kasihilah
TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap kekuatanmu. (6) Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah
engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada
anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk dirumahmu, apabila engkau
sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.
Penerapan
implementasi dari Ulangan 6:4-7
adalah dengan tidak mengenal lelah
dan jemu-jemu baik dari orang tua, guru PAK, dan berbagai pihak untuk terus
senantiasa menyampaikan Firman Tuhan sebagai pedoman hidup remaja. Dalam hal
ini supaya hidupnya mengalami perubahan dan tidak terikat dengan pengaruh dunia
yang tidak menentu.
Pendidikan Agama Kristen berusaha untuk
mempertemukan manusia dengan Allah, oleh sebab itu Pendidikan Agama Kristen
berfungsi sebagai penyampaian kebenaran yang dinyatakan Tuhan dalam Alkitab,
supaya nara didik mengetahui dan mengakui pokok-pokok kepercayaan agama
Kristen.[5]
Namun yang harus menjadi motivasi utama agar Pendidikan Agama Kristen berjalan sesuai
dengan fungsinya adalah Injil yang senantiasa bersifat mengajar, mengubah, dan
memanusiakan manusia, seperti hakikat Allah Sang Bapa, Sang Putra dan Sang Roh
sendiri adalah sebagai Guru Pengajar, Pendidik (Andar Ismail, 2003:158).
Penulis melihat bahwa Pendidikan Agama Kristen
dapat membimbing remaja agar ia dapat memberi arti kepada alam di sekitarnya,
kepada sejarah bangsa manusia, dalam hubungannya dengan kepercayaan dan
pengalaman Kristen serta merumuskan suatu filsafat hidup secara Kristen.
Homrighausen
dan Enklaar (1996:26) mengatakan: “...maksud pekerjaannya, ialah supaya Tuhan
dapat memakainya untuk menanam dan memelihara bibit iman itu di dalam hati
segala anak didiknya, sehingga iman itu akan tumbuh dan berubah dalam hidup
anak”. Oleh sebab itu Pendidikan Agama Kristen diperlukan oleh setiap manusia
agar dapat menuju jalan kehidupan yang sejahtera, sebab untuk hidup sejahtera
manusia membutuhkan hubungan yang serasi dengan Tuhan dan sesamanya, yang akan
tercipta bila ada pengenalan dan hidup takut akan Tuhan, seperti yang ditulis oleh Groome sebagai berikut “The
purpose of Christian religious education is to enable people to live as
Christians, that is, to live lives of Christian faith”. (Andar Ismail,
2003:159).
I.H. Enklaar juga berpendapat bahwa: “Tujuan
Pendidikan Agama Kristen supaya semua anggota jemaat dididik menjadi pandai dan mahir dalam perkara iman
dan kelakuan bahkan menjadi orang yang bertanggungjawab melayani Tuhan didalam
Gereja, keluarga, dan masyarakat
D. Hakikat
Disiplin
Kata
disiplin berasal dari disciple, yang artinya murid. Disiplin adalah
segala sesuatu yang dilakukan oleh orang tua untuk membentuk perilaku anak,
semua peringatan atau aturan, pengajaran dan perencanaan, contoh dan kasih
sayang, pujian dan hukuman. Ray Mossholder (Cara mendidik dan mendisiplinkan
anak, 1998:331) mengatakan: “disiplin adalah suatu usaha yang orang tua lakukan
bagi anak-anak mereka”. Sal Severe
mengatakan: “bahwa disiplin adalah mengajar anak–anak untuk membuat
keputusan–keputusan, bersikap mau bekerjasama dan mengendalikan diri mereka
sendiri”. Pengertian lain dari disiplin (discipline)
adalah:
1.
Tertib, taat, mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri.
2.
Latihan, membentuk, meluruskan
atau menyempurnakan sesuatu sebagai kemampuan
mental atau karakter
moral.
3.
Hukuman yang diberikan untuk melatih atau memperbaiki.
4.
Kumpulan atau sistem peraturan–peraturan bagi tingkah laku.
Dewa
Ketut Sukardi (Bimbingan dan Konseling, 1988:27) disiplin memiliki dua arti
yang berbeda tetapi keduanya mempunyai hubungan yaitu:
1. Disiplin dapat diartikan
sebagai suatu rentetan
aktifitas atau latihan
yang terencana
untuk mencapai suatu
tujuan.
2.
Disiplin adalah hukum
perilaku yang dianggap
tidak diinginkan.
Dalam
pelaksanaan disiplin ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar dalam
penerapannya tidak merugikan salah satu pihak dari penerapan disiplin itu.
Dalam hal ini ada yang perlu diperhatikan oleh seorang guru dalam penerapan
disiplin antara lain:
- Dalam mendisiplinkan siswa, tata tertib sangat bermanfaat, untuk itu guru tidak bertindak sesuka hatinya, tapi mendisiplinkan siswa sesuai dengan aturan yang berlaku dalam disiplin tersebut.
- Konsisten dan konsekwensi dalam menegakkan atau menerapkan disiplin bukan ancaman atau kekerasan yang diutamakan, tetapi yang diperlukan adalah ketegasan, keteguhan didalam melaksanakan peraturan.
- Hukuman atau sanksi yang diberikan bertujuan untuk mencegah tindakan yang tidak diinginkan atau pelanggaran yang dilakukan siswa terhadap disiplin. Hukuman yang diberikan harus mendidik siswa.
- Guru bekerjasama dengan orang tua dalam menerapkan disiplin. Sebab disiplin membawa pengaruh besar dalam pembinaan dan pengembangan disiplin. Partisipasi yang diberikan oleh orang tua adalah: Memotivasi siswa untuk belajar dengan baik, membantu melaksanakan disiplin sekolah (Wardiman Djojonegoro, Gerakan Disiplin Nasional, 1996:254).
Dalam
penegakkan disiplin disekolah guru perlu menegaskan kembali setiap disiplin
kepada siswa lama dan baru serta orang tua hal ini dikarenakan disiplin ialah pengendalian tingkah laku dalam
lingkungan untuk mematuhi dan menaati peraturan–peraturan yang berlaku. Dengan
cara inilah sekolah menanamkan aturan dan batasan yang mutlak harus ditaati oleh
anak, tidak ada pilihan lain bagi siswa selain mengikuti penerapan disiplin
itu. Hal ini dikarenakan untuk menghindari ketidakpatuhan, pemberontakan dan
kegelisahan untuk melakukan sesuatu yang salah yang hanya dapat memuaskan
pihak–pihak tertentu.
Terdapat
jenis-jenis disiplin yang harus diketahui sebelum penerapan disiplin itu
berlaku, antara lain:
- Disiplin Otoriter (Otoritarian)
Pengendalian tingkah laku berdasarkan tekanan, dorongan, pemaksaan dari
luar terhadap diri seseorang. Dalam hal ini seseorang dipaksa untuk mematuhi
dan menaati peraturan yang dibuat.
- Disiplin Bebas (Permisif)
Kebebasan untuk mengambil keputusan sendiri dan bertindak sesuai dengan
keputusan yang diambil. Mereka diberikan cara untuk mencari dan menumbuhkan
sendiri tata cara atau peraturan yang memberi batasan dari tingkah lakunya.
- Disiplin Demokratis (Democratic)
Disiplin yang dilakukan mengikuti peraturan yang ada bukan karena
paksaan melainkan atas kesadaran bahwa hal ini baik dan bermanfaat.
Dengan
demikian maka penulis menyimpulkan bahwa tiga jenis disiplin yang ada diatas
memiliki kekurangan dan kelebihan, oleh sebab itu guru diharapkan untuk dapat
memilih dengan benar jenis disiplin yang akan digunakan di sekolah.
E. Karakteristik Anak Remaja
Penulisan
skripsi ini dibatasi pada remaja yang memasuki masa persiapan diri antara usia
12 – 16 tahun, dan ini adalah rentang usia yang dimiliki anak remaja. Pada masa
ini umumnya persiapan fisik sudah selesai dijalani, kedewasaan tubuh dan
kematangan seksual sudah tercapai, akan tetapi kedewasaan dalam hal rasa
tanggungjawab, pelaksanaan tugas–tugas belum sepenuhnya diperoleh.
Ketika
telah tiba pada masa peralihan dalam hidupnya yang besar akibatnya, mereka
bukan anak-anak lagi dan belum juga masuk ke usia kedewasaan, menyatakan diri
dengan rupa–rupa perubahan, baik dalam tubuh maupun dalam jiwa si remaja itu.
Pada akhir usia ini terdapat gejala–gejala yang disebut gejala–gejala “negative phase” Hurlock (Andi Mappiare
1982:32) menjelaskan pokok–pokok “negative
phase” ini secara lengkap antara lain:
- Keinginan untuk menyendiri (desire for isolation).
- Berkurangnya kemauan untuk bekerja (disinclination to work).
- Kurang koordinasi fungsi – fungsi tubuh (incoordinations).
- Kegelisahan (restlesness)
- Pertentangan Sosial (social antagonis)
- Kurang percaya diri (lack of self-confindence)
- Kepekaan perasaan susila (excessive modesty)
- Suka berkhayal (day dreaming)
- Timbul minat pada lawan jenis (preoccupation with sex)
Dalam masa ini anak remaja sangat tidak stabil
keadaannya, dari rasa percaya diri menjadi rasa meragukan diri sendiri, dan
juga dari mementingkan orang lain menjadi egoisme atau mementingkan diri
sendiri. Dan emosi–emosi yang dialami oleh anak remaja antara lain: marah,
takut, cemas, rasa ingin tahu, iri hati, sedih, kasih sayang.
Melihat hal diatas perlulah mempelajari kembali
sifat–sifat dan keadaan umum remaja itu, serta mempertimbangkan kembali suasana
dan metode Pendidikan Agama Kristen agar remaja ini untuk dapat berkembang
sesuai dengan tujuan dari Pendidikan Agama Kristen, dan yang begitu penting
adalah keberadaan mereka bagi seluruh hidup jemaat Kristen.
Elizabeth B. Hurlock (Psikologi Perkembangan,
1990;192) berpendapat: “Perubahan anak di masa pubertas sangat berpengaruh
terhadap sikap, perilaku dan emosinya”. Remaja adalah pribadi yang mengalami
perkembangan secara khusus. Dalam perkembangan tersebut, seorang remaja berada
dalam peralihan, yaitu dari masa kanak–kanak ke masa dewasa. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, remaja adalah “mulai dewasa, sampai usia untuk kawin, ia sekarang
sudah bukan kanak–kanak lagi”.
Singgih
D. Gunarsa dalam buku “Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja” mengatakan:
“Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yakni antara
usia 12 sampai 22 tahun. Remaja dalam hal ini, sama halnya seperti anak
mengalami perubahan jasmani, kepribadian, intelek dan peran di dalam maupun di
luar lingkungan. Dan bila remaja dalam peralihan diamati dengan seksama, akan
diperoleh beberapa catatan khas sebagai berikut:
- Mula–mula terlihat timbulnya perubahan jasmani, perubahan fisik yang sedemikian pesatnya dan jelas berbeda dibandingkan dengan masa sebelumnya;
- Perkembangan inteleknya lebih mengarah ke pemikiran tentang dirinya, refleksi diri;
- Perubahan–perubahan antara hubungan antara anak dan orang tua dan orang lain dalam lingkungan dekatnya;
- Timbulnya perubahan dalam perilaku, pengalaman dan kebutuhan seksual;
- Perubahan dalam harapan dan tuntutan orang terhadap remaja;
- Banyaknya perubahan dalam waktu yang singkat menimbulkan masalah dalam penyesuaian.
F. Hubungan Disiplin dan Pendidikan Agama
Kristen
Pendidikan
Agama Kristen berusaha agar dapat mengembangkan atau membentuk jiwa disiplin
pada anak didiknya yaitu agar mereka tumbuh dan berkembang sesuai dengan
Pendidikan Agama Kristen. Bila kita mendisiplinkan anak–anak, kita sebetulnya
sedang mengajarkan dua hal: melakukan perbuatan yang baik dan menghindari
perbuatan yang tidak baik.” (Neny Ekosari, 2004:1).
B.S.
Sijabat (Menjadi Guru Profesional, 2002:39) sebagai perspektif kristiani yang
menjelaskan tentang istilah–istilah disiplin, yaitu:
- Disiplin sebagai kata benda adalah seperangkat aturan, tata tertib yang diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar guna membentuk dan mengembangkan pola tingkah laku yang sehat.
- Disiplin sebagai kata kerja, berarti berupaya membimbing orang lain dalam mengembangkan sikap dan pola hidup yang bermanfaat bagi keberhasilan seseorang.
Sedangkan Robert R. Boehlke (Membangun Teori
Pendidikan Agama Kristen, 1998:44) menjelaskan tentang arti Pendidikan Agama
Kristen sebagai berikut: Pendidikan Agama Kristen adalah usaha sengaja dari
gereja untuk menolong orang lain dari semua golongan umur yang dipercayakan
Tuhan kepada pemeliharaan-Nya untuk memberi tanggapan akan pernyataan Allah
dalam Yesus Kristus yang disaksikan dalam Alkitab, dalam kehidupan gereja
supaya mereka dibawah pimpinan Roh Kudus diperlengkapi guna melayani sesama
atas nama Tuhannya di tengah–tengah keluarga, gereja masyarakat dan dunia alam.
Remaja tidak akan dengan sendirinya dapat
mengalami perubahan tanpa adanya dukungan dari peranan Pendidikan Agama Kristen
melalui orang tua, guru dan berbagai pihak. Dukungan, bimbingan, dan arahan
kepada remaja akan membawanya kepada suatu pengenalan dan pemahaman yang benar
kepada kebenaran yang sejati, yakni FirmanNya yang hidup. Melalui pemahaman
yang benar akan FirmanNya, maka pasti dicapai sebuah sasaran yang optimal dari
rangkaian upaya kepada sebuah perubahan remaja.
[1] Kamus Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Cet.
Keempat, 1995
[2] Sudirman, Pengertian Pendidikan,
BPK Gunung Mulia, Jakarta, 2006
[3] Singgih D. Gunarso, Psikologi
Pembimbing, BPK Gunung Mulia, Jakarta, 1995
[4] Elizabeth B. Hurlock, Psikologi
Perkembangan, Erlangga, 1990
[5] Johanes Kurniawan, Diktat PAK
Dewasa, 2020
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.