3 Pilar

3 Pilar

Senin, 25 Mei 2020

TEOLOGIA OTAK (BAGIAN 2)


Istilah teologia lahir ketika manusia berusaha mencari identitras Sang Khalik, Sang Mahakuasa yang melebihi kodratnya dari manusia. Manusia berasa ada sesuatu yang melebihi kodratnya dan itu menjadi pertanyaan besarnya ketika ia melihat alam semesta. Adanya gunung, lautan, pepohonan, baik kecil dan besar tinggi, adanya siang dan malam, adanya udara, adanya bulan, matahari dan bintang-bintang dilangit. Tak terpikirkan bagaiman Sang Pencipta mengadakan angin yang dapat dirasakan oleh semua mahluk, melalui massa udara mengatur menjadi oksigen yang dibutuhkan bagi semua mahluk hidup ciptaan-Nya. Di jaman pra sejarah, manusia purba yang memasuki era lebih baik dari jamannya, manusia purba yang disebut dengan golongan homo sapiens, lebih dikenal mampu beradaptasi dengan alam sekitarnya. Kaum ini telah mengenal perlahan aksara walau sangat sederhana. Peradaban yang mulai maju pada jamannya, seperti bercocok tanbam, mengolah hasil buruan, membangun tempat tinggal dan mulai meninggalakan budaya nomaden, membuat tembikar, alat potong, perkakas, dan sebagainya. 

Seiring perkembangan peradaban, maka lahirlah keingin-tahuan dari sifat manusia untuk mencari tahu, menyelidiki dan menemukan untuk memenuhi hasrat keingin-tahuannya. Manusia purba mulai menemukan beberapa benda disekitarnya, sesuatu yang dianggapnya melebihi dari kodrat alam dan dirinya, seperti pohon besar, batu bebatuan besar, gung yang menjulang tinggi, api, air dan sebagainya. Sesuai dengan perspektif dan pandangan alam berpikir mereka lalu secara berkelompok kaum ini menetapkan, merumuskan dan mengambil sikap sesuatu yang dianggapnya melebihi kodrat alam, untuk dianggap sebagai yang dapat melindungi kaum dan leluhurnya. Mereka memujanya, menghormatinya dengan menempatkan itu sebagai mitos yang dapat mendatangkan bencana, juga berkat dan perlindungan. Para leluhur pendahulunya telah memberikan wejangan tersebut untuk ditaati dan bahkan membudaya, walau mengalami sinkronisasi penyesuaian pada masa kini. 

Manusia terus mencari dan berusaha menemukan Sang Maha Kuasa itu. Lalu menamainya Tuhan. Tuhan dijadikan sebagai sesembahan, yang dahulu berupa pohon besar, gunung tinggi, angin, matahari, dan benda-benda yang dianggap keramat. Seiring jaman, kemajuan kekinian dan faktor globalisasi dunia di era milenial, manusia meberi tempat terhormat untuk yang namanya “tuhan”. Tuhan yang dimaksud menurut perspektifnya adalah sesuatu yang besar yang menciptakan alam semesta dan jauh entah dimana ia bersemayam. Hingga suatu kali kaum atheis memutuskan mencari tuhan untuk membuktikan pandangan mereka bahwa tuhan itu tidak ada. Alam semesta ini tercipta dengan sendirinya, bahkan mengaitkan dengan teori big bang. Sciene atau ilmu pengetahuan menjadi landasan pemikiran mereka bahwa tuhan yang diciptakan oleh pemahaman kebanyakan kaum percaya adanya sang penguasa atas alam semesta ini sebenarnya tidak ada dan hanya rekaan dalam pikiran manusia pada umumnya. Pemahaman kaum atheis beranggapan bahwa keberadaan tuhan itu tidak ada, itu hanya rekaan pikiran manusia. Manusia bisa mengatasi semua keadaan tanpa perlu adanya tuhan. Manusia itu sendiri tuhan bagi dirinya.  Manusia dapat melakukan apa yang dapat diperbuatnya. Beberapa kaum pemikir juga terseret ke arah sana, sehingga melalui intelektual manusia dapat menciptakan sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhannya. Pengaruh ini jelas meluas hingga menjadi pemahaman dibkalangan elit intelektual pada jamannya. Populer kemudian dan menjadi pemikiran yang prestise dari kalangan pemikir, bagaiman seseorang dapat mengungkapakan dirinya dan sciene mendapat tempat pertama. Hal ini kemudian membuat para teolog mendapat tamparan keras. 

Ketika memasuki zaman renaissance, pada waktu itu banyak orang begitu mengagungkan karya seni sebagai sebuah prestasi dari pencapaian manusia. Sehingga pada zaman itu, kehebatan manusia melalui karya seni menjadi warna dari pola pikir manusia dalam menyusun rancang bangun teologisnya. Dalam hal ini sebagai sebuah ilmu yang memperbincangkan tentang Tuhan, teologi, juga menjadi sebuah arus yang mengalir kuat di sepanjang garis waktu. Sebuah pemikiran yang revolusioner di mana para teolog mendapat tempat sebagai pemikir yang brilian tentang Tuhan, pergerakan zaman, dan sekaligus memberikan gambaran dari perubahan, perkembangan dan perbedaan teologis dari masa ke masa. Di dalam perubahan itulah gereja dituntut untuk selalu mereposisi kembali dirinya. Baik para teolog dan gereja harus berjuang keras dalam mempertahankan dasar teologia mereka terhadap dan seiring perkembangan era pada masa tersebut. Teologia pada masa tersebut telah mendapat tempat di hati para cendikiawan dan pemikir. Gereja juga diuntungkan karena warga gereja pada masa itu sama sekali awam. Kendati demikian bagi orang awam, teologia sama sekali tidak dan sulit untuk dipahami, sehingga warga gereja hanya “manut’ untuk menerima beberapa pemahaman tentang teologia, seperti keselamatan sebagai anugerah dimana keselamatan telah ditentukan bagi orang-orang yang dipilih-Nya, sehingga terbentuk bahwa beberapa dan tidak semua dipilih untuk masuk dalam bagian keselamatan. Belum lagi mereka para teolog ber-apologia bahwa diluar Kristus tidak ada keselamatan yang mendukung bahwa keselamatan sebagai anugerah dan penentuan yang Tuhan lakukan untuk orang-orang yang mendapat anugerah keselamatan tersebut. Hal ini membangun paradigma dan kerangka berpikir secara teologia dikalangan penganut paham Calvinis semakin yakin bahwa tidak semua orang mendapat anugerah keselamatan. Sementara ada begitu banyak orang yang binasa hanya karena tidak mengenal bahkan menerima Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat.

Konsep semacam ini akan memugar kerangka berpikir secara teologis rancangan keselamatan sebagai anugerah bagi semua orang. Kita harus jeli dan konsisten apa itu keselamatan? Sejatinya,keselamatan bukan sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Karena pengertian yang dangkal ini banyak orang Kristen merasa cukup berbekal “percaya saja bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat,” maka mereka berani menghadapi penghakiman atau pengadilan. Ditambah lagi dengan memahami secara keliru pengertian sola gratia (hanya oleh anugerah) dan sola fide (hanya oleh iman), maka mereka terjebak dalam pasivitas rohani yang tidak membawa mereka kepada pengalaman keselamatan yang sejati. Mereka tidak memahami bahwa keselamatan adalah perjuangan yang menyita seluruh kehidupan. Keselamatan menurut Injil ialah dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula, di mana keadaan manusia telah berdosa, rusak gambar Allah dalam dirinya, sehingga manusia tidak berkenan dihadapan-Nya, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Kemuliaan apa yang dimaksud disini? Kemuliaan dimana manusia adalah Kawan Sekerjanya Allah, mitra Allah. Manusia awal pada proses penciptaan adalah bagian dari rencana Agung Allah. Gambar dan Rupa Allah (Tselem dan Demuth) dalam diri manusia telah tercemar oleh dosa karena pelanggaran terhadap kehendak Allah. Keadaan mansia dengan diberikannya kehendak bebas telah membuat manusia memilih melakukan apa yang dipandangnya baik daripada bersekutu sesuai kehndak Allah apa yang baik dan berkenan. Manusia diberi akal budi untuk mengelola, berkarya dan mengerjakan apa yang berguna dan semua bagi kemuliaan-Nya. Prinsip solagratia atau hanya oleh anugerah, bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan, sering dipahami secara tidak tepat. Memang keselamatan hanya di dalam Yesus dan oleh anugerah-Nya. Tetapi isi anugerah-Nya adalah manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula agar menjadi kudus seperti Alah kudus, mengenakan kodrat Ilahi, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Untuk ini, harus ada usaha individu untuk mencapai hal tersebut. Anugerah salib Kristus memperdamaikan kita dengan Allah (Ho Theos atau Bapa). Dengan pendamaian tersebut kita dapat diterima oleh Bapa tanpa mempersoalkan keadaan “keberdosaan” kita. Bapa memberikan Roh Kudus untuk menuntun kita kepada seluruh kebenaran dengan sarana Injil (Rm. 1:16-17), dan semua melalui peristiwa yang terjadi dalam hidup ini (Rm. 8:28-29). Untuk ini, kita harus memahami keselamatan dari tiga dimensi.

Dimensi pertama dari keselamatan adalah keselamatan ditinjau dari sudut masa lalu (past). Keselamatan yang ditinjau dari masa lalu adalah memandang karya atau pekerjaan keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu sebagai telah selesai atau sudah genap (Ibr. 2:1-3). Tuhan Yesus mati untuk semua manusia, dari manusia pertama, Adam, sampai manusia terakhir nanti (Yoh. 1:29). Tuhan Yesus telah menyelesaikan tugas penyelamatan itu sehingga tidak perlu lagi usaha-usaha untuk melengkapi karya Tuhan Yesus yang sudah sempurna tersebut.Ini adalah harga mati, bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus (Kis. 4:12). Banyak orang Kristen hanya berhenti sampai di dimensi ini, mereka merasa sudah ditentukan selamat oleh korban Yesus tersebut.  Dimensi kedua dari keselamatan adalah keselamatan ditinjau dari masa sekarang atau kekinian (present). Keselamatan yang ditinjau dari masa sekarang adalah pergumulan orang percaya dalam meresponi keselamatan. Inilah pergumulan untuk menjalankan hidup baru yang Tuhan berikan. Orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12).

Mengerjakan keselamatan adalah belajar bertumbuh mengenakan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Jelas sekali bahwa keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya dan manusia harus meresponinya dengan respon yang benar. Tanpa respon yang benar berarti tidak beriman dengan benar. Iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:20-26). Keselamatan ditinjau dari masa yang akan datang adalah keseluruhan keselamatan yang diterima orang percaya. Ketika orang percaya memasuki negeri yang tak berzaman, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus Kristus, maka barulah genap atau selesai sempurna seluruh proyek penyelamatan Allah. Dalam memandang keselamatan dari dimensi kedua, terdapat fakta adanya pergumulan untuk menerima anugerah keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan Allah semula atau serupa dengan Yesus. Dengan kehendak bebasnya, manusia memilih untuk hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau tidak. Orang yang tidak berjuang untuk menjadi semakin seperti Yesus tidak berhak meyakini dirinya akan diterima di Rumah Bapa.Orang yang benar-benar memiliki keselamatan tidak gentar sama sekali menghadapi penghakiman atau pengadilan Tuhan. Itulah sebabnya ciri dari orang yang telah memiliki keselamatan tidak takut sama sekali menghadapi kematian.

Keadaan yang sekarang justru para pengajar, teolog dan guru PAK yang tidak memahami secara lengkap apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus melalui Injil yang murni. Para teolog dan guru Pak hanya mengajar secara ber-apologia tapi tidak menemukan esensi dari apa yang dimaksudkan si pengajar utama (Kristus). Kita harus bisa mencium nafas harum dari pengajaran-Nya, bahwa Ia yang diutus Bapa memberi teladan agar supaya kita sebagai orang percaya untuk hidup serupa seperti Dia.mengenakan kodrat ilahi dan menanggalkan manusia lama yang telah tercemar oleh dosa. Ini butuh perjuangan seperti yang telah dibahas pada bagian pertama dalam rubrik ini. Sayang nya para “apaologet” mengajarkan menurut apa yang dipandang baik secara akademisi dan tidak mengajak orang percaya untuk berani meninggalakan percintaan dengan dunia serta untuk hidup dalam kesuciaan secara benar. Bahkan para teolog hanya mengajar tapi secara nyata tidak mengalami Tuhan secara real. Sehingga apa yang diajarkan hanyalah bingkaian kata dan struktur teologis yang mati dalam kata. Sebagai guru PAK dan para teolog harus berani menghidupkan pengajarannya dengan disertai pengalaman hidup bersama Kristus. Harus mengalami Tuhan bukan hanya di nalar dan dikaji dalam akademisi teologia semata. Hidup tidak bercacat – tidak bercela bukan hanya dalam kata tapi harus diejawantahkan, diimplementasikan dalam kehidupan keseharian. Mengalami Tuhan memang sifatnya subyektif, namun subyektifitas ini akan hidup nyata terlihat secara holistik dan real dalam perbuatan, sikap dan prilaku orang percaya. Para nabi dalam PL dan para Rasul dalam PB juga mengalami subyektifitas pengalaman bersekutu dan mengalami Tuhan namun itu telah diwujud-nyatakan secara konkrit dalam perbuatan dan imannya. Iman yang bukan hanya sekedar percaya, namun iman yang disertai dengan tindakan dari apa yang mereka percaya untuk dilakukan, sehingga para nabi dan rasul, berani melepas raga mereka hanya demi dengan apa yang dipercayainya. Kondisi sekarang justru terbalik, para pengajar teolog dan guru PAK tidak berani melepas manusia lama apalagi membayar harga untuk sebuah keselamatan bagi orang lain. Baginya melayani adalah mencari hidup dan bukan memberi hidup. Ini adalah prinsip iman yang salah. Melayani itu memberi hidup dan BUKAN mencari hidup. Tidak sedikit pelayan Tuhan hanya mencari hidup untuk memenuhi kebutuhan bagi diri dan keluarga semata. Ini tidak salah, seorang pelayan Tuhan berhak atas berkat pelayanannya tapi pelayanan bukanlah properti dan vendor lahan berkat. Berkat pasti tersedia, walau tidak harus besar karena asal ada makan dan pakain cuykup bukan? Mengenakan pelayanan yang pernah Yesus lakukan saat berada di bumi, tidak mencari kemapanan tetapi justru memberi hidup. Dalam pelayanan Yesus, pada jamannya tidak dicukupkan dengan kendaraan yang seperti sekarang ini, ada amplop persembahan kasih, ada ramah tamah (makan bersama), service bagi para pelayan Tuhan, disediakan penginapan, tiket PP pesawat, kapal laut, kereta, dan sebagainya. Pada jaman-Nya, Ia mengalami ditolak, dianiaya bahkan dikucilkan hingga akhirnya berujung harus mati di kayu salib, demi keselamatan semua umat di muka bumi ini. Belum ada, walau sangat langka, mungkin pelayan Tuhan mengikuti teladan seperti Kristus. Jadi bagaimana teologia yang diajarkan mampu membuat warga gereja benar-benar dapat melihat Tuhan secara konkrit dalam perjumpaannya secara pribadi? Bila yang disodorkan dalam pengajaran hanya berupa menu bagaimana hidup berkelimpahan dan menang atas maut. Sedangkan tidak diperdalam bagaimana mencari wajah dan menemukan Tuhan secara pribadi. Warga gereja telah dibelokkan ke arah jalan yang “serong” sehingga orang percaya hanya mengenal Tuhan secara letter lux, harafiah dan verbal semata, bukan mengalaminya secara pribadi. Warga gereja menjadi sibuk mencari kepuasan lahiriah dan tidak mencari wajah dan kebenaran-Nya. Warga gereja hanya difokuskan pada nilai-nilai kehidupan lahiriah semata dan tidak dibawa untuk lebih dekat kepada Bapa, yang empunya Kerajaan Surga, yang dari sana kita semua akan kembali berpulang. Justru banyak para teolog mengajarkan secara implisit kepada warga gereja untuk betah dibumi, diparkir dibumi dan jauh, jauh bahkan sangat jauh untuk memikirkan kewargaannya di surga. Tidak diajarkan bagaimana mengenal Pribadi yang Maha Agung, siapa itu Tuhan Yesus, Allah Bapa dan pribadi Roh Kudus secara konkrit, bukan hanya melalui pengajaran konteksual semata tetapi juga diajarkan bagaiman memiliki relasi yang baik melalui meditasi, doa pribadi dan keintiman dengan Dia setiap saat, waktu dan disegala tempat. 

Idealnya guru PAK dan teolog (pelayan Tuhan), menjadi role model yang sudah terbentuk sesuai dengan apa yang telah diteladankan oleh Kristus. Pelayan Tuhan harus benar-benar telah diasah dan mengalami Tuhan secara konkrit, sehingga apa yang diajarkan kepada warga gereja, adalah benar-benar hidup dari pengalamn kerohanian mereka dan bukan semata hasil baku akademisi, atau rekaan pemikiran. Pelayan Tuhan juga harus berani TIDAK hidup dalam kemewahan dan percintaannya dengan dunia. Dari sinilah pelayan Tuhan akan memiliki warna kesucian yang putih dan bukan abu-abu atau warna lain sehingga akan memampukan mengubah cara berpikir warga gereja untuk menerima dan melakukan kebenaran-Nya. Seorang pelayan Tuhan akan berubah warna pengajarannya apabila ia terikat oleh kemolekan dan pesona yang dunia suguhkan. Pola dasar pengajarannya akan terkontaminasi oleh filosofi dunia. Seakan tidak terlihat dan nampak seperti kebenaran firman pada umumnya namun tidak dari Injil murni karena sudah tersublim oleh kebenaran dan nilai-nilai dunia hasil pemikiran manusia yang sudah tersentuh oleh gairah dunia. Pelayan Tuhan tidak boleh tergiur oleh fasilitas yang ada, mungkin yang disediakan oleh organisasi, lembaga ataupun institusi. Semua itu adalah media dan sarana untuk menunjang kinerja pelayanan. Tapi secara sadar dan jujur kita banyak melihat bahwa semua fasilitas itu justru memalingkan dari prinsip-prinsip pelayan Tuhan untuk tetap murni pada mulanya. Mereka akan tergiur untuk mencari pemenuhan tersebut, sehinga tepat seperti yang dikatakan di atas, bahwa pelayanan yang sesungguhnya bukanlah mencari hidup tetapi memberi hidup. Memberi hidup ketika warga gereja harus dipenuhi keperluannya baik secara jasmani terlebih rohani. Hal ini mungkin ada warga gereja yang tergolong marginal. Di sisi lain, warga gereja harus mendapat kehidupan yang layak sebagai bentuk tanggung jawab gereja secara proposional. Memberi hidup juga berarti bahwa warga gereja mendapat makanan rohani yang benar-benar sehat sesuai Injil yang murni, sehingga kelak ia mendapat asupan rumput (kalam hidup) yang segar, sehat dan mengubah hidupnya.

Era milenial, menjadikan banyak orang akademisi, khususnya para teolog dan guru PAK menjadikan pelayanan sebagai sumber nafkah bagi diri dan keluarga. Masa kekinian menjadikan paradigma dan mindset pelayan Tuhan terfokus pada nilai-nilai lahiriah semata daripada kekekalan. Padahal hidup ini kuota berbatas waktu. Kapan saja seseorang bisa menemui ajal tanpa harus tua, bahkan sakit sekalipun. Kematian itu misteri. Dalam hal ini seorang pelayan Tuhan harus secara tegas mengajarkan nilai-nilai kekekalan, bukan meraih sesuatu yang fana. Teologia yang diajarkan bukanlah teologia otak, maksudnya hanya secara akademisi semata tapi dihidupkan melalui perjumpaan dengan mengalami Tuhan, walau subyektif di mata sesama, tapi itu hidup karena yang bersangkutan mengalami secara nyata dengan obyektifitas (Tuhan) yang Maha Agung. Dari perjumpaan ini setiap waktu, saat dan dalam keseharian ada pergaulan yang intim, kan menciptakan keharmonisan rohani, di mana pelayan Tuhan berjalan dalam kehendak-Nya. Dengan demikian apa yang diajarkan pasti sesuai dengan hati dan perasaan Tuhan. Hal ini tidak akan membuat miskin keadaan kita. Hidup cukup dengan rasa syukur tidak mengurangi harkat dan martabat kita sebagai manusia dihadapan sesama, asal kita bertanggung jawab pasti Tuhan pelihara kehidupan orang benar. Tidak harus menjadi kaya dan mengejar materi sebagai nominal tertinggi yang harus diraih, tapi justru bila kita mengerti siapa Tuhan itu, maka orang percaya tidak mengejar dan bergairah terhadap kekayaan dunia yang harus dikejar melainkan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan solid. Kebalikan yang banyak diajarkan oleh gereja, mengajak warga gerejanya untuk hidup berkemenangan keberkatan dan kelimpahan dalam kemakmuran semu. Walau ini tidak salah sekali namun materi bukanlah segalanya. Materi bahkan kelimpahan justru membuat manusia lupa siapa dirinya dan siapa pencipta-Nya. Kelimpahan materi kan membuat manusia tidak celik batiniah dan mata rohaninya. Materi tidak salah namun bila yang diajarkan hanya soal kemapanan dan kewajaran hidup, niscaya manusia tidak mampu memahami dan mengerti kehendak Tuhan.

Guru PAK, dalam hal ini pengajar, baik teolog dan para pelayan Tuhan, sepatutnya kita membimbing warga gereja pada hak-hal yang menyangkut keselamatan jiwa dan bukan kepada pemenuhan lahiriah. Pemenuhan lahiriah juga penting tapi dapat disampaikan melalui mimbar dan kelas pengajaran, talkshow, seminar untuk memiliki integritas, dedikasi dalam tanggung jawab yang optimal dan diberdayakan dalam asa, karya dan karsa sehingga manusia bisa bertahan hidup mencukupi kebutuhannya. Diluar kemampuannya, yang supra natural adalah bagian Tuhan yang berkarya dalam penyertaan-Nya bagi orang percaya. Mengajarkan kebenaran harus mampu merubah batiniah warga gereja untuk memiliki tekad dan nekad mau berubah (bertobat) dan mengenakan manusia ilahi untuk hidup dalam kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus (Phroneo) hingga mencapai gelar sebagai corpus delicti. Ini membutuhkan proses dan waktu yang tidak instan dan sebentar. Baik pengajar maupun yang dibimbing harus sama-sama mengalami Tuhan dan bersedia mau berubah. Roh Kudus akan membimbing bagi mereka yang mau diubahkan. Tindakan ini, khususnya bagi guru PAK, ia harus lebih dahulu memulai. Karena dengan demikian ia akan mampu menimpartansi apa yang telah diejawantahkan dalam keseharian sehingga pengajarannya berwarna dan hidup. Pasti dapat menyentuh hingga batiniah yang diajarnya. Bagaimana guru PAK dapat mengajar dan mengubah nara didik dan warga gerejanya bila ia sendiri tidak mengalkami Tuhan dan perubahan dalam hidupnya?? Semua dimulai dari para pelayan Tuhan dan mengikuti teladan Kristus.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.