Istilah teologia lahir
ketika manusia berusaha mencari identitras Sang Khalik, Sang Mahakuasa yang
melebihi kodratnya dari manusia. Manusia berasa ada sesuatu yang melebihi
kodratnya dan itu menjadi pertanyaan besarnya ketika ia melihat alam semesta.
Adanya gunung, lautan, pepohonan, baik kecil dan besar tinggi, adanya siang dan
malam, adanya udara, adanya bulan, matahari dan bintang-bintang dilangit. Tak
terpikirkan bagaiman Sang Pencipta mengadakan angin yang dapat dirasakan oleh
semua mahluk, melalui massa udara mengatur menjadi oksigen yang dibutuhkan bagi
semua mahluk hidup ciptaan-Nya. Di jaman pra sejarah, manusia purba yang
memasuki era lebih baik dari jamannya, manusia purba yang disebut dengan
golongan homo sapiens, lebih dikenal mampu beradaptasi dengan alam sekitarnya.
Kaum ini telah mengenal perlahan aksara walau sangat sederhana. Peradaban yang
mulai maju pada jamannya, seperti bercocok tanbam, mengolah hasil buruan,
membangun tempat tinggal dan mulai meninggalakan budaya nomaden, membuat
tembikar, alat potong, perkakas, dan sebagainya.
Seiring perkembangan
peradaban, maka lahirlah keingin-tahuan dari sifat manusia untuk mencari tahu,
menyelidiki dan menemukan untuk memenuhi hasrat keingin-tahuannya. Manusia
purba mulai menemukan beberapa benda disekitarnya, sesuatu yang dianggapnya
melebihi dari kodrat alam dan dirinya, seperti pohon besar, batu bebatuan
besar, gung yang menjulang tinggi, api, air dan sebagainya. Sesuai dengan
perspektif dan pandangan alam berpikir mereka lalu secara berkelompok kaum ini
menetapkan, merumuskan dan mengambil sikap sesuatu yang dianggapnya melebihi
kodrat alam, untuk dianggap sebagai yang dapat melindungi kaum dan leluhurnya.
Mereka memujanya, menghormatinya dengan menempatkan itu sebagai mitos yang
dapat mendatangkan bencana, juga berkat dan perlindungan. Para leluhur
pendahulunya telah memberikan wejangan tersebut untuk ditaati dan bahkan
membudaya, walau mengalami sinkronisasi penyesuaian pada masa kini.
Manusia terus mencari dan
berusaha menemukan Sang Maha Kuasa itu. Lalu menamainya Tuhan. Tuhan dijadikan
sebagai sesembahan, yang dahulu berupa pohon besar, gunung tinggi, angin,
matahari, dan benda-benda yang dianggap keramat. Seiring jaman, kemajuan
kekinian dan faktor globalisasi dunia di era milenial, manusia meberi tempat
terhormat untuk yang namanya “tuhan”. Tuhan yang dimaksud menurut perspektifnya
adalah sesuatu yang besar yang menciptakan alam semesta dan jauh entah dimana
ia bersemayam. Hingga suatu kali kaum atheis memutuskan mencari tuhan untuk
membuktikan pandangan mereka bahwa tuhan itu tidak ada. Alam semesta ini
tercipta dengan sendirinya, bahkan mengaitkan dengan teori big bang. Sciene
atau ilmu pengetahuan menjadi landasan pemikiran mereka bahwa tuhan yang
diciptakan oleh pemahaman kebanyakan kaum percaya adanya sang penguasa atas
alam semesta ini sebenarnya tidak ada dan hanya rekaan dalam pikiran manusia
pada umumnya. Pemahaman kaum atheis beranggapan bahwa keberadaan tuhan itu
tidak ada, itu hanya rekaan pikiran manusia. Manusia bisa mengatasi semua
keadaan tanpa perlu adanya tuhan. Manusia itu sendiri tuhan bagi dirinya. Manusia dapat melakukan apa yang dapat
diperbuatnya. Beberapa kaum pemikir juga terseret ke arah sana, sehingga
melalui intelektual manusia dapat menciptakan sesuatu yang dapat memenuhi
kebutuhannya. Pengaruh ini jelas meluas hingga menjadi pemahaman dibkalangan
elit intelektual pada jamannya. Populer kemudian dan menjadi pemikiran yang
prestise dari kalangan pemikir, bagaiman seseorang dapat mengungkapakan dirinya
dan sciene mendapat tempat pertama. Hal ini kemudian membuat para teolog
mendapat tamparan keras.
Ketika memasuki zaman renaissance,
pada waktu itu banyak orang begitu mengagungkan karya seni sebagai sebuah
prestasi dari pencapaian manusia. Sehingga pada zaman itu, kehebatan manusia
melalui karya seni menjadi warna dari pola pikir manusia dalam menyusun rancang
bangun teologisnya. Dalam hal ini sebagai sebuah ilmu yang memperbincangkan
tentang Tuhan, teologi, juga menjadi sebuah arus yang mengalir kuat di
sepanjang garis waktu. Sebuah pemikiran yang revolusioner di mana para teolog
mendapat tempat sebagai pemikir yang brilian tentang Tuhan, pergerakan zaman, dan
sekaligus memberikan gambaran dari perubahan, perkembangan dan perbedaan
teologis dari masa ke masa. Di dalam perubahan itulah gereja dituntut untuk
selalu mereposisi kembali dirinya. Baik para teolog dan gereja harus berjuang
keras dalam mempertahankan dasar teologia mereka terhadap dan seiring
perkembangan era pada masa tersebut. Teologia pada masa tersebut telah mendapat
tempat di hati para cendikiawan dan pemikir. Gereja juga diuntungkan karena
warga gereja pada masa itu sama sekali awam. Kendati demikian bagi orang awam,
teologia sama sekali tidak dan sulit untuk dipahami, sehingga warga gereja
hanya “manut’ untuk menerima beberapa pemahaman tentang teologia, seperti
keselamatan sebagai anugerah dimana keselamatan telah ditentukan bagi
orang-orang yang dipilih-Nya, sehingga terbentuk bahwa beberapa dan tidak semua
dipilih untuk masuk dalam bagian keselamatan. Belum lagi mereka para teolog
ber-apologia bahwa diluar Kristus tidak ada keselamatan yang mendukung bahwa
keselamatan sebagai anugerah dan penentuan yang Tuhan lakukan untuk orang-orang
yang mendapat anugerah keselamatan tersebut. Hal ini membangun paradigma dan
kerangka berpikir secara teologia dikalangan penganut paham Calvinis semakin
yakin bahwa tidak semua orang mendapat anugerah keselamatan. Sementara ada
begitu banyak orang yang binasa hanya karena tidak mengenal bahkan menerima
Kristus sebagai Tuhan dan juruselamat.
Konsep semacam ini akan
memugar kerangka berpikir secara teologis rancangan keselamatan sebagai
anugerah bagi semua orang. Kita harus jeli dan konsisten apa itu keselamatan?
Sejatinya,keselamatan
bukan sekadar terhindar dari neraka dan diperkenan masuk surga. Karena
pengertian yang dangkal ini banyak orang Kristen merasa cukup berbekal “percaya
saja bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat,” maka mereka berani menghadapi
penghakiman atau pengadilan. Ditambah lagi dengan memahami secara keliru
pengertian sola gratia (hanya oleh anugerah) dan sola fide (hanya oleh iman),
maka mereka terjebak dalam pasivitas rohani yang tidak membawa mereka kepada
pengalaman keselamatan yang sejati. Mereka tidak memahami bahwa keselamatan
adalah perjuangan yang menyita seluruh kehidupan. Keselamatan menurut Injil
ialah dikembalikannya manusia kepada rancangan Allah semula, di mana keadaan
manusia telah berdosa, rusak gambar Allah dalam dirinya, sehingga manusia tidak
berkenan dihadapan-Nya, manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Kemuliaan apa
yang dimaksud disini? Kemuliaan dimana manusia adalah Kawan Sekerjanya Allah,
mitra Allah. Manusia awal pada proses penciptaan adalah bagian dari rencana
Agung Allah. Gambar dan Rupa Allah (Tselem dan Demuth) dalam diri manusia telah
tercemar oleh dosa karena pelanggaran terhadap kehendak Allah. Keadaan mansia dengan
diberikannya kehendak bebas telah membuat manusia memilih melakukan apa yang
dipandangnya baik daripada bersekutu sesuai kehndak Allah apa yang baik dan
berkenan. Manusia diberi akal budi untuk mengelola, berkarya dan mengerjakan
apa yang berguna dan semua bagi kemuliaan-Nya. Prinsip solagratia atau hanya
oleh anugerah, bahwa perbuatan baik tidak menyelamatkan, sering dipahami secara
tidak tepat. Memang keselamatan hanya di dalam Yesus dan oleh anugerah-Nya.
Tetapi isi anugerah-Nya adalah manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula
agar menjadi kudus seperti Alah kudus, mengenakan kodrat Ilahi, atau mengambil
bagian dalam kekudusan Allah. Untuk ini, harus ada usaha individu untuk
mencapai hal tersebut. Anugerah salib Kristus memperdamaikan kita dengan Allah
(Ho Theos atau Bapa). Dengan pendamaian tersebut kita dapat diterima oleh Bapa
tanpa mempersoalkan keadaan “keberdosaan” kita. Bapa memberikan Roh Kudus untuk
menuntun kita kepada seluruh kebenaran dengan sarana Injil (Rm. 1:16-17), dan
semua melalui peristiwa yang terjadi dalam hidup ini (Rm. 8:28-29). Untuk ini,
kita harus memahami keselamatan dari tiga dimensi.
Dimensi pertama dari
keselamatan adalah keselamatan ditinjau dari sudut masa lalu (past).
Keselamatan yang ditinjau dari masa lalu adalah memandang karya atau pekerjaan
keselamatan yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu
sebagai telah selesai atau sudah genap (Ibr. 2:1-3). Tuhan Yesus mati untuk
semua manusia, dari manusia pertama, Adam, sampai manusia terakhir nanti (Yoh.
1:29). Tuhan Yesus telah menyelesaikan tugas penyelamatan itu sehingga tidak
perlu lagi usaha-usaha untuk melengkapi karya Tuhan Yesus yang sudah sempurna
tersebut.Ini adalah harga mati, bahwa tidak ada keselamatan di luar Yesus (Kis.
4:12). Banyak orang Kristen hanya berhenti sampai di dimensi ini, mereka merasa
sudah ditentukan selamat oleh korban Yesus tersebut. Dimensi kedua dari
keselamatan adalah keselamatan ditinjau dari masa sekarang atau kekinian
(present). Keselamatan yang ditinjau dari masa sekarang adalah pergumulan orang
percaya dalam meresponi keselamatan. Inilah pergumulan untuk menjalankan hidup
baru yang Tuhan berikan. Orang percaya harus mengerjakan keselamatan dengan
takut dan gentar (Flp. 2:12).
Mengerjakan keselamatan
adalah belajar bertumbuh mengenakan pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7).
Jelas sekali bahwa keselamatan adalah usaha Allah mengembalikan manusia kepada
rancangan-Nya dan manusia harus meresponinya dengan respon yang benar. Tanpa
respon yang benar berarti tidak beriman dengan benar. Iman tanpa perbuatan
seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2:20-26). Keselamatan ditinjau dari masa yang
akan datang adalah keseluruhan keselamatan yang diterima orang percaya. Ketika
orang percaya memasuki negeri yang tak berzaman, yaitu Kerajaan Tuhan Yesus
Kristus, maka barulah genap atau selesai sempurna seluruh proyek penyelamatan
Allah. Dalam memandang keselamatan dari dimensi kedua, terdapat fakta adanya
pergumulan untuk menerima anugerah keselamatan, yaitu dikembalikan ke rancangan
Allah semula atau serupa dengan Yesus. Dengan kehendak bebasnya, manusia
memilih untuk hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau tidak. Orang
yang tidak berjuang untuk menjadi semakin seperti Yesus tidak berhak meyakini
dirinya akan diterima di Rumah Bapa.Orang yang benar-benar memiliki keselamatan
tidak gentar sama sekali menghadapi penghakiman atau pengadilan Tuhan. Itulah
sebabnya ciri dari orang yang telah memiliki keselamatan tidak takut sama
sekali menghadapi kematian.
Keadaan yang sekarang
justru para pengajar, teolog dan guru PAK yang tidak memahami secara lengkap
apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus melalui Injil yang murni. Para teolog dan
guru Pak hanya mengajar secara ber-apologia tapi tidak menemukan esensi dari
apa yang dimaksudkan si pengajar utama (Kristus). Kita harus bisa mencium nafas
harum dari pengajaran-Nya, bahwa Ia yang diutus Bapa memberi teladan agar
supaya kita sebagai orang percaya untuk hidup serupa seperti Dia.mengenakan
kodrat ilahi dan menanggalkan manusia lama yang telah tercemar oleh dosa. Ini butuh
perjuangan seperti yang telah dibahas pada bagian pertama dalam rubrik ini. Sayang
nya para “apaologet” mengajarkan menurut apa yang dipandang baik secara akademisi
dan tidak mengajak orang percaya untuk berani meninggalakan percintaan dengan
dunia serta untuk hidup dalam kesuciaan secara benar. Bahkan para teolog hanya
mengajar tapi secara nyata tidak mengalami Tuhan secara real. Sehingga apa yang
diajarkan hanyalah bingkaian kata dan struktur teologis yang mati dalam kata. Sebagai
guru PAK dan para teolog harus berani menghidupkan pengajarannya dengan
disertai pengalaman hidup bersama Kristus. Harus mengalami Tuhan bukan hanya di
nalar dan dikaji dalam akademisi teologia semata. Hidup tidak bercacat – tidak bercela
bukan hanya dalam kata tapi harus diejawantahkan, diimplementasikan dalam kehidupan
keseharian. Mengalami Tuhan memang sifatnya subyektif, namun subyektifitas ini
akan hidup nyata terlihat secara holistik dan real dalam perbuatan, sikap dan
prilaku orang percaya. Para nabi dalam PL dan para Rasul dalam PB juga
mengalami subyektifitas pengalaman bersekutu dan mengalami Tuhan namun itu
telah diwujud-nyatakan secara konkrit dalam perbuatan dan imannya. Iman yang
bukan hanya sekedar percaya, namun iman yang disertai dengan tindakan dari apa
yang mereka percaya untuk dilakukan, sehingga para nabi dan rasul, berani
melepas raga mereka hanya demi dengan apa yang dipercayainya. Kondisi sekarang
justru terbalik, para pengajar teolog dan guru PAK tidak berani melepas manusia
lama apalagi membayar harga untuk sebuah keselamatan bagi orang lain. Baginya melayani
adalah mencari hidup dan bukan memberi hidup. Ini adalah prinsip iman yang
salah. Melayani
itu memberi hidup dan BUKAN mencari hidup. Tidak sedikit pelayan Tuhan
hanya mencari hidup untuk memenuhi kebutuhan bagi diri dan keluarga semata. Ini
tidak salah, seorang pelayan Tuhan berhak atas berkat pelayanannya tapi
pelayanan bukanlah properti dan vendor lahan berkat. Berkat pasti tersedia,
walau tidak harus besar karena asal ada makan dan pakain cuykup bukan? Mengenakan
pelayanan yang pernah Yesus lakukan saat berada di bumi, tidak mencari kemapanan
tetapi justru memberi hidup. Dalam pelayanan Yesus, pada jamannya tidak
dicukupkan dengan kendaraan yang seperti sekarang ini, ada amplop persembahan
kasih, ada ramah tamah (makan bersama), service bagi para pelayan Tuhan,
disediakan penginapan, tiket PP pesawat, kapal laut, kereta, dan sebagainya. Pada
jaman-Nya, Ia mengalami ditolak, dianiaya bahkan dikucilkan hingga akhirnya
berujung harus mati di kayu salib, demi keselamatan semua umat di muka bumi ini.
Belum ada, walau sangat langka, mungkin pelayan Tuhan mengikuti teladan seperti
Kristus. Jadi bagaimana teologia yang diajarkan mampu membuat warga gereja benar-benar
dapat melihat Tuhan secara konkrit dalam perjumpaannya secara pribadi? Bila yang
disodorkan dalam pengajaran hanya berupa menu bagaimana hidup berkelimpahan dan
menang atas maut. Sedangkan tidak diperdalam bagaimana mencari wajah dan
menemukan Tuhan secara pribadi. Warga gereja telah dibelokkan ke arah jalan
yang “serong” sehingga orang percaya hanya mengenal Tuhan secara letter lux,
harafiah dan verbal semata, bukan mengalaminya secara pribadi. Warga gereja
menjadi sibuk mencari kepuasan lahiriah dan tidak mencari wajah dan kebenaran-Nya.
Warga gereja hanya difokuskan pada nilai-nilai kehidupan lahiriah semata dan
tidak dibawa untuk lebih dekat kepada Bapa, yang empunya Kerajaan Surga, yang
dari sana kita semua akan kembali berpulang. Justru banyak
para teolog mengajarkan secara implisit kepada warga gereja untuk betah dibumi,
diparkir dibumi dan jauh, jauh bahkan sangat jauh untuk memikirkan kewargaannya
di surga. Tidak diajarkan bagaimana mengenal Pribadi yang Maha Agung,
siapa itu Tuhan Yesus, Allah Bapa dan pribadi Roh Kudus secara konkrit, bukan
hanya melalui pengajaran konteksual semata tetapi juga diajarkan bagaiman
memiliki relasi yang baik melalui meditasi, doa pribadi dan keintiman dengan
Dia setiap saat, waktu dan disegala tempat.
Idealnya guru PAK dan teolog (pelayan Tuhan), menjadi role model
yang sudah terbentuk sesuai dengan apa yang telah diteladankan oleh Kristus. Pelayan
Tuhan harus benar-benar telah diasah dan mengalami Tuhan secara konkrit,
sehingga apa yang diajarkan kepada warga gereja, adalah benar-benar hidup dari
pengalamn kerohanian mereka dan bukan semata hasil baku akademisi, atau rekaan
pemikiran. Pelayan Tuhan juga harus berani TIDAK hidup dalam kemewahan dan
percintaannya dengan dunia. Dari sinilah pelayan Tuhan akan memiliki warna
kesucian yang putih dan bukan abu-abu atau warna lain sehingga akan
memampukan mengubah cara berpikir warga gereja untuk menerima dan melakukan
kebenaran-Nya. Seorang pelayan Tuhan akan berubah warna
pengajarannya apabila ia terikat oleh kemolekan dan pesona yang dunia suguhkan.
Pola dasar pengajarannya akan terkontaminasi oleh filosofi dunia. Seakan tidak
terlihat dan nampak seperti kebenaran firman pada umumnya namun tidak dari
Injil murni karena sudah tersublim oleh kebenaran dan nilai-nilai dunia hasil
pemikiran manusia yang sudah tersentuh oleh gairah dunia. Pelayan Tuhan tidak
boleh tergiur oleh fasilitas yang ada, mungkin yang disediakan oleh organisasi,
lembaga ataupun institusi. Semua itu adalah media dan sarana untuk menunjang
kinerja pelayanan. Tapi secara sadar dan jujur kita banyak melihat bahwa semua
fasilitas itu justru memalingkan dari prinsip-prinsip pelayan Tuhan untuk tetap
murni pada mulanya. Mereka akan tergiur untuk mencari pemenuhan tersebut,
sehinga tepat seperti yang dikatakan di atas, bahwa pelayanan yang sesungguhnya
bukanlah mencari hidup tetapi memberi hidup. Memberi hidup ketika warga gereja harus
dipenuhi keperluannya baik secara jasmani terlebih rohani. Hal ini mungkin ada
warga gereja yang tergolong marginal. Di sisi lain, warga gereja harus mendapat
kehidupan yang layak sebagai bentuk tanggung jawab gereja secara proposional. Memberi
hidup juga berarti bahwa warga gereja mendapat makanan rohani yang benar-benar
sehat sesuai Injil yang murni, sehingga kelak ia mendapat asupan rumput (kalam hidup)
yang segar, sehat dan mengubah hidupnya.
Era milenial, menjadikan
banyak orang akademisi, khususnya para teolog dan guru PAK menjadikan pelayanan
sebagai sumber nafkah bagi diri dan keluarga. Masa kekinian menjadikan paradigma
dan mindset pelayan Tuhan terfokus pada nilai-nilai lahiriah semata daripada
kekekalan. Padahal hidup ini kuota berbatas waktu. Kapan saja seseorang bisa
menemui ajal tanpa harus tua, bahkan sakit sekalipun. Kematian itu misteri. Dalam
hal ini seorang pelayan Tuhan harus secara tegas mengajarkan nilai-nilai kekekalan,
bukan meraih sesuatu yang fana. Teologia yang diajarkan bukanlah teologia otak,
maksudnya hanya secara akademisi semata tapi dihidupkan melalui perjumpaan
dengan mengalami Tuhan, walau subyektif di mata sesama, tapi itu hidup karena
yang bersangkutan mengalami secara nyata dengan obyektifitas (Tuhan) yang Maha
Agung. Dari perjumpaan ini setiap waktu, saat dan dalam keseharian ada
pergaulan yang intim, kan menciptakan keharmonisan rohani, di mana pelayan
Tuhan berjalan dalam kehendak-Nya. Dengan demikian apa yang diajarkan pasti
sesuai dengan hati dan perasaan Tuhan. Hal ini tidak akan membuat miskin
keadaan kita. Hidup cukup dengan rasa syukur tidak mengurangi harkat dan
martabat kita sebagai manusia dihadapan sesama, asal kita bertanggung jawab
pasti Tuhan pelihara kehidupan orang benar. Tidak harus menjadi kaya dan
mengejar materi sebagai nominal tertinggi yang harus diraih, tapi justru bila
kita mengerti siapa Tuhan itu, maka orang percaya tidak mengejar dan bergairah
terhadap kekayaan dunia yang harus dikejar melainkan Tuhan sebagai satu-satunya
kebahagiaan solid. Kebalikan yang banyak diajarkan oleh gereja, mengajak warga
gerejanya untuk hidup berkemenangan keberkatan dan kelimpahan dalam kemakmuran
semu. Walau ini tidak salah sekali namun materi bukanlah segalanya. Materi bahkan
kelimpahan justru membuat manusia lupa siapa dirinya dan siapa pencipta-Nya. Kelimpahan
materi kan membuat manusia tidak celik batiniah dan mata rohaninya. Materi tidak
salah namun bila yang diajarkan hanya soal kemapanan dan kewajaran hidup, niscaya
manusia tidak mampu memahami dan mengerti kehendak Tuhan.
Guru PAK, dalam hal ini
pengajar, baik teolog dan para pelayan Tuhan, sepatutnya kita membimbing warga
gereja pada hak-hal yang menyangkut keselamatan jiwa dan bukan kepada pemenuhan
lahiriah. Pemenuhan lahiriah juga penting tapi dapat disampaikan melalui mimbar
dan kelas pengajaran, talkshow, seminar untuk memiliki integritas, dedikasi
dalam tanggung jawab yang optimal dan diberdayakan dalam asa, karya dan karsa
sehingga manusia bisa bertahan hidup mencukupi kebutuhannya. Diluar kemampuannya,
yang supra natural adalah bagian Tuhan yang berkarya dalam penyertaan-Nya bagi
orang percaya. Mengajarkan kebenaran harus mampu merubah batiniah warga gereja
untuk memiliki tekad dan nekad mau berubah (bertobat) dan mengenakan manusia
ilahi untuk hidup dalam
kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus (Phroneo) hingga
mencapai gelar sebagai corpus delicti. Ini membutuhkan proses dan waktu yang
tidak instan dan sebentar. Baik pengajar maupun yang dibimbing harus sama-sama
mengalami Tuhan dan bersedia mau berubah. Roh Kudus akan membimbing bagi mereka
yang mau diubahkan. Tindakan ini, khususnya bagi guru PAK, ia harus lebih
dahulu memulai. Karena dengan demikian ia akan mampu menimpartansi apa yang
telah diejawantahkan dalam keseharian sehingga pengajarannya berwarna dan
hidup. Pasti dapat menyentuh hingga batiniah yang diajarnya. Bagaimana guru PAK
dapat mengajar dan mengubah nara didik dan warga gerejanya bila ia sendiri
tidak mengalkami Tuhan dan perubahan dalam hidupnya?? Semua dimulai dari para
pelayan Tuhan dan mengikuti teladan Kristus.
[Johanes
Kurniawan, M.Pd.K]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.