3 Pilar

3 Pilar

Minggu, 10 Mei 2020

STREAMING BATINIAH


Pada era media digital seperti sekarang ini, rasa-rasanya istilah streaming tak lagi asing di telinga kita. Ketika melihat konten yang ada di media sosial, kita bisa dengan mudah mengklik konten tersebut dan secara otomatis akan dimainkan, tanpa perlu melakukan pengunduhan terlebih dahulu. Era milenial ini, sudah trendy semua pemakai gawai dan perangkat IT untuk melakukan streaming, baik secara live (online) ataupun pre recording. Istilah streaming sendiri semakin mencuat dilapisan masyarakat belakangan ini semenjak pandemi Covid-19. Berhubung dikeluarkannya peraturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar, peraturan) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 agar bisa segera dilaksanakan di berbagai daerah. Aturan PSBB tercatat dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020. Untuk melaksanakan peraturan tersebut, maka ada beberapa kendala dalam usaha untuk melaksanakan pertemuan kegiatan yang biasa dilakukan seperti di sekolah, perguruan tinggi, perusahaan, kegiatan kerohanian, dan sebagainya. Melalui media IT, maka dilakukan pertemuan tersebut melalui yang namanya streaming (streaming adalah pengiriman data berupa konten berbentuk video ke perangkat elektronik seperti komputer atau handphone melalui transmisi internet secara konstan.  Hal ini dilakukan untuk supaya para audiens tidak bertemua secara langsung, namun maksud dan tujuan diadakannya pertemuan tersebut melalui streaming tercapai. Sekarang ini, sudah banyak platform yang memberikan fasilitas streaming bagi para penggunanya. Sebut saja YouTube yang sangat terkenal dengan fasilitas live streaming-nya. Tidak hanya pada kebutuhan sosial sehari-hari, streaming kini juga sangat populer di sebuah industri yang sedang naik daun, yakni esports (istilah untuk para gamers). Streaming berfungsi untuk membantu mengaktifkan turnamen besar untuk bisa melibatkan masyarakat umum, dan memperluas jangkauan secara signifikan. Untuk para penggemar esports, streaming ternyata memberikan tingkat kenyamanan yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan datang langsung.
                Kenyataannya sekarang bahwa streaming digunakan untuk lebih dekat dengan pengikutnya (follower), walau tidak sedikit juga digunakan sebagai bentuk usaha mencari uang tambahan (streamer). Keuntungan lainnya juga dirasakan bagi para pengisi konten (streamer). Mereka yang berhasil dalam streaming dan memiliki banyak penonton bisa mendapatkan uang yang cukup fantastis dari melakukan streaming saja. Memang, hal itu tidak semudah seperti menekan tombol record dan kemudian memiliki sekian ribu penonton. Para streamer membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membangun fanbase mereka terlebih dahulu. Lalu, para streamer akan bergerak dengan mempromosikan fanbase mereka. Para streamer kemudian berkolaborasi dengan beberapa platform untuk bisa menghasilkan uang, membangun brand,  Fasilitas media yang dapat digunakan bisa melalui youtube yang sudah banyak digunakan sebagai media penyebaran, seperti: zoom, google meet, facebook, video whatsapp, instagram, tv streaming, dan lain sebagainya dari berbagai macam situs yang mendukungnya. Kita juga perlu membuat akun terlebih dahulu di salah satu platform streaming yang tersedia. Peralatan ekstra seperti microphone dan webcam akan membantu untuk terlihat lebih langsung dengan para penonton nantinya.  Hal ini akan sangat membantu di era globalisasi, dimana setiap orang dapat secara langsung (live) maupun pre recording untuk menyaksikan suatu acara atau apapun untuk ditayangkan. Tanpa harus antri membeli tiket, bisa menonton sebuah pagelaran konser di tayang ulang atau via live streaming (berbayar), streaming games, live ibadah, live radio, live meeting, live musik, talkshow, seminar, lokakarya, classmeet, dan sebagainya. 


            Hadirnya layanan streaming, hal ini  kini membuat industri TV kabel semakin kesulitan untuk menarik daya jual kepada pelanggan, terutama dalam persaingan harga dan konten yang ditawarkan. Mengapa bisa demikian? Karena sekarang para konsumen lebih mudah mengakses apapun dari internet dan situs-situs yang tersedia sebagai penyedia layanan untuk menampilkan baik secara live, maupun hasil recording untuk bisa ditonton oleh pengguna atau konsumen terhadap layanan streaming secara memadai. Tidak bisa dipungkiri dengan hadirnya berbagai akses internet membuat masyarakat secara luas menjadi melek teknologi. Kegandrungan akan teknologi membuat dampak yang positif juga sekaligus negatif. Tergantung bagaimana manusia menyikapinya dengan bijak. Sebagai contoh misalnya, hampir semua anak-anak sekarang telah dibekali gadged oleh orang tua yang mungkin sebagian orang tua dengan berat hati memberikannya karena tahu benar dampak pengaruh tersebut bagi anak-anaknya, namun di sisi lain, keadaan situasi tersebut merupakan tuntutan pembelajaran dalam studi mereka. Semua lapisan, usia, gender, strata finance, akademisi dan profesional, sekarang telah mengkonsumsi media streaming sebagai kebutuhan pekerjaan dan keseharian sebagai hiburan, komunikasi dan interaksi sosial yang dinamis. Sosialita seseorang sekarang tidak serta merta tampil mewah secara nyata, kini bisa juga bersosialita di dunia maya.

            Dampak positif dari media streaming jelas sangat mempengaruhi globalisasi di segala sektor, baik finance, ekonomi, istitusi, lembaga, perbankan dan semua sektor. Jarak, waktu dan sikon tidak lagi dapat menghalanginya karena jangkauan pandang sekarang hanya sebatas layar monitor dan kamera. Hal ini sebenarnya mempermudah keadaan, khususnya ditengah-tengah kasus pandemi, perbedaan waktu dalam suatu wilayah/negara. Menyapa sanak saudara, keluarga diluar kota/negeri dengan mudah melalui video cal. Melihat resume perkuliahan jarak jauh, menyaksikan sebuah pertandingan tanpa harus hadir di waktu dan lokasi setempat, dan sebagainya. Namun di sisi lain ada dampak negatif yang ditemukan, selain kasus pada anak-anak remaja, bahkan ditemukan pada orang dewasa dan orang tua yang sering streaming game online. Kecanduan akan streaming membuat seseorang jadi malas terhadap pekerjaannya, belajar bagi pelajar dan mahasiswa, tidak fokus pada pekerjaan dan kebutuhan rumah tangga bagi para orang tua. Semua anggota keluarga sibuk sendiri dengan kesibukan dan asyik terhadap gawai nya masing-masing. Kehidupan sosial menjadi fakum dan terlihat jurang pemisah. Berkomunikasi tidak lagi secara verbal dan konkrit seakan terjadi kehangatan sapa dan salam secara real, kini tergantikan dengan real streaming video, chat, dan audio semata. Terjadi kekosongan dalam berinteraksi. Interaksi telah tergantikan dengan bayang-bayang. Walau secara real dalam dunia maya, namun sesungguhnya manusia membutuhkan suatu ikatan interaksi terhadap sesama dan alam sekitarnya. 

                Demikianpun halnya hubungan manusia terhadap penciptanya, ia membutuhkan sentuhan konkrit secara real mengalami siapa penciptanya. Bukan hanya secara teori semata tetapi harus mengalami perjumpaan secara konkrit. Walau ini sifatnya subyektif, namun perjumpaan dengan Tuhan itu harus menjadi dasar kuat bahwa manusia ada dan alam sekitar yang berikut isis bumi ini terbentuk oleh karena ada yang menciptakannya. Keadaan seperti ini lah yang membuat manusia mencari siapa itu tuhan, bukan hanya dengan secara teologia semata untuk mengkonsepsikannya, namun harus melalui perjumpaat secara nyata secara pribadi. karena tuhan itu nyata dan real, walau ia dalam roh, namun interaksi dan perjumpaan itu harus menjadi pengalaman  pribadi setiap orang percaya. 

                Perjumpaan dengan Tuhan tidak bisa melalui streaming karena IA adalah ROH, maka setiap orang percaya harus menjumpai-Nya dalam Roh dan Kebenaran. Kebutuhan mansuia akan penciptanya tidak dapat dipungkiri, karena di dalam relung hati dan jiwa terdalam pada manusia ada rongga kosong yang tidak dapat di isi oleh apapun di muka bumi ini. Harta kekayaan, pangkat, strata akademisi (gelar/title), nama baik, strata finance, cinta dan sebagainya. Semua itu ada batasnya. Kelak manusia akan mengalami kekosongan dan kesepian mendalam karena masih akan mengalami batiniah yang kosong. Tempat itu hanya dapat terpenuhi dengan kedamaian hanya dengan melalui memberi tempat teragung buat Tuhan di dalam relung hati tersebut. Manusia harus menyadari dan sadar diri sepenuhnya, bahwa kebahagiaan tersebut semua termaktub dengan Pribadi Tuhan. 

                Sepatutnya semua insan, khususnya orang percaya kapanpun, dimanapun, dalam keadaan sikon apapun untuk bisa dapat senantiasa streaming dengan penciptanya. Streaming ini tidak melulu dalam format doa, duduk bersilah, melipat tangan, menutup mata, atau berdiam diri  (saat teduh), mengikuti acara ibadah kebaktian, dan kerohanian. Streaming batiniah senantiasa didasari karena cinta yang tulus dan mendalam terhadap Tuhan. Ada kerinduan yang lahir dari kalbu hati untuk senantiasa mencari wajah-Nya dan perkenanan-Nya di setiap keadaan. Waktu di kantor, tempat pekerjaan, sekolah, kampus, di rumah ataupun sedang di jalan, berpergian, batiniah kita tetap streaming dengan DIA. Artinya, signal roh kita terus terpancar dengan signal surgawi, kediaman-Nya. Walau apapun yang kita kerjakan namun batiniah kita terus terpapar dengan signal streaming tersebut. Dengan demikian, maka selaku orang percaya akan senantiasa untuk menjaga dirinya untuk hidup tidak bercacat-tidak bercela, menjaga kesucian hidup, senantiasa hidup dalam kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus (Phroneo). Streaming ini sepatutnya setiap detik, setiap menit dan setiap jam sepanjang hari;  24jam sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, 12 bulan dalam setahun dan 365 hari dalam setahun, tetap terus streaming dengan Tuhan walau tidak terganggu kegiatan keseharian dan rutinitas manusia berkarya di tengah-tengah keluarga dan masyarakat. 

                Kebutuhan batiniah inilah yang tidak dapat tergantikan oleh apapun, sehingga manusia dapat memiliki arti hidup dan untuk apa ia hidup bagi Tuhan dan sesamanya. Kebutuhan ini tidak membutuhkan kuota berbayar namun harus dibayar dengan harga yang mahal namun bukan dengan uang dan benda, melainkan dengan “melepaskan semua” atau “selesai dengan diri sendiri”. Bapak Rohani saya, Om Erastus Sabdono, senantiasa mengajarkan juga sekaligus mengingatkan kami untuk senantiasa selesai dengan diri sendiri, karena tanpa itu maka masih banyak halangan yang membuat kita tidak bisa “kreek” (istilah yang beliau gunakan), maksudnya “tune” dengan Tuhan. Dan bagaimana bisa tune dan kreek dengan Tuhan bila masih ada dosa yang menghalangi dan merintangi hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan itu Mahas Suci, karena itu kita sebagai orang percaya harus membereskan keadaan manusia lama. Belajar meninggalkan kebiasaan manusia lama, duniawi dan kotor. Dengan demikian maka streaming batiniah kita tidak terhalang faktor kuota dosa, keberadaan bersalah, namun akan menjadi lancar bila kita mengenakan kodrat ilahi.

                Demikianpun halnya dalam PAK, baik sebagai guru PAK, guru Injil, konselor, gembala jemaat dan seorang pelayan Tuhan yang berprofesi sebagai guru PAK dan tenaga pendidik, kita senantiasa harus selesai dengan diri sendiri. Seorang guru PAK harus benar-benar mengalami Tuihan, perjumpaan dengan-Nya setiap waktu tanpa dipengaruhi “buffering dosa”. Streaming batiniah akan lancar tanpa hambatan bila seseorang telah selesai denga  dirinya sendiri dan mengalami kelahiran baru. Keadaan seperti ini harus dialami dan terus kontinue sehingga orang PAK tidak serta merta pandai mentransfer ilmu (knowledge) semata tapi harus hidup dalam pengajaran serta meng-“influence” (menularkan)  kebenaran yang dihidupkan dalam keseharian, melalui perkataan, sikap dan prilaku. Guru PAK harus dapat menjadi role model, dimana gambar Kristus yang hidup sehidup-hidupnya nyata melalui ejawantah hidup prilaku guru PAK, ini merupakan live streaming secara nyata, real dan konkrit. Melalui media PAK, baik secara organisasi maupun organisme nya, setiap nara didik dan warga gereja dapat melakukan streaming hidup terhadap sesama. Orang tua yang selesai dengan dirinya, sepatutnya dapat menjadi figur yang elok bagi anak-anaknya, dalam hal ini penulis pernah membawakan beberapa seminar bersama dengan tim, “Pendidikan Kristen untuk Pembentukan Generasi yang Berkarakter”, bersama Bapak Pro. Dr. S. Pantja Djati, M.Si., St. MA, , Ibu Dr. Wahyu Astrjarjo Rini, MA di aula serba guna PPS UKI, 31 Oktober 2015.  Seminar “Peran Orang Tua Di Era Revolusi 4.0”., pada 25 Mei 2019 di GSKI Pluit.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]































Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.