Pada era media digital seperti sekarang ini, rasa-rasanya
istilah streaming tak lagi asing di telinga kita. Ketika melihat konten
yang ada di media sosial, kita bisa dengan mudah mengklik konten tersebut dan
secara otomatis akan dimainkan, tanpa perlu melakukan pengunduhan terlebih
dahulu. Era milenial ini, sudah trendy semua pemakai gawai dan perangkat IT
untuk melakukan streaming, baik secara live (online) ataupun pre recording.
Istilah streaming sendiri semakin mencuat dilapisan masyarakat belakangan ini
semenjak pandemi Covid-19. Berhubung dikeluarkannya peraturan PSBB (Pembatasan
Sosial Berskala Besar, peraturan) yang diterbitkan Kementerian Kesehatan
(Kemenkes) dalam rangka Percepatan Penanganan COVID-19 agar bisa segera
dilaksanakan di berbagai daerah. Aturan PSBB tercatat dalam Peraturan Menteri
Kesehatan Nomor 9 Tahun 2020. Untuk melaksanakan peraturan tersebut, maka ada beberapa kendala dalam usaha
untuk melaksanakan pertemuan kegiatan yang biasa dilakukan seperti di sekolah,
perguruan tinggi, perusahaan, kegiatan kerohanian, dan sebagainya. Melalui
media IT, maka dilakukan pertemuan tersebut melalui yang namanya streaming (streaming
adalah pengiriman data berupa konten berbentuk video ke perangkat elektronik
seperti komputer atau handphone melalui transmisi internet secara
konstan. Hal ini dilakukan untuk supaya
para audiens tidak bertemua secara langsung, namun maksud dan tujuan
diadakannya pertemuan tersebut melalui streaming tercapai. Sekarang ini, sudah
banyak platform yang memberikan fasilitas streaming bagi para
penggunanya. Sebut saja YouTube yang sangat terkenal dengan fasilitas live streaming-nya.
Tidak hanya pada kebutuhan sosial sehari-hari, streaming kini juga
sangat populer di sebuah industri yang sedang naik daun, yakni esports (istilah untuk para gamers).
Streaming berfungsi untuk membantu mengaktifkan turnamen besar untuk bisa
melibatkan masyarakat umum, dan memperluas jangkauan secara signifikan. Untuk
para penggemar esports, streaming ternyata memberikan tingkat kenyamanan
yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan datang langsung.
Kenyataannya sekarang bahwa
streaming digunakan untuk lebih dekat dengan pengikutnya (follower), walau
tidak sedikit juga digunakan sebagai bentuk usaha mencari uang tambahan
(streamer). Keuntungan lainnya juga dirasakan bagi para pengisi konten (streamer).
Mereka yang berhasil dalam streaming dan memiliki banyak penonton bisa
mendapatkan uang yang cukup fantastis dari melakukan streaming saja.
Memang, hal itu tidak semudah seperti menekan tombol record dan kemudian
memiliki sekian ribu penonton. Para streamer membutuhkan waktu yang
cukup lama untuk membangun fanbase mereka terlebih dahulu. Lalu, para streamer
akan bergerak dengan mempromosikan fanbase mereka. Para streamer
kemudian berkolaborasi dengan beberapa platform untuk bisa menghasilkan uang,
membangun brand, Fasilitas media yang
dapat digunakan bisa melalui youtube yang sudah banyak digunakan sebagai media penyebaran,
seperti: zoom, google meet, facebook, video whatsapp, instagram, tv streaming,
dan lain sebagainya dari berbagai macam situs yang mendukungnya. Kita juga
perlu membuat akun terlebih dahulu di salah satu platform streaming yang
tersedia. Peralatan ekstra seperti microphone dan webcam akan
membantu untuk terlihat lebih langsung dengan para penonton nantinya. Hal ini akan sangat membantu di era
globalisasi, dimana setiap orang dapat secara langsung (live) maupun pre
recording untuk menyaksikan suatu acara atau apapun untuk ditayangkan. Tanpa
harus antri membeli tiket, bisa menonton sebuah pagelaran konser di tayang
ulang atau via live streaming (berbayar), streaming games, live ibadah, live
radio, live meeting, live musik, talkshow, seminar, lokakarya, classmeet, dan
sebagainya.
Hadirnya layanan streaming, hal ini kini membuat industri TV kabel semakin
kesulitan untuk menarik daya jual kepada pelanggan, terutama dalam persaingan
harga dan konten yang ditawarkan. Mengapa bisa demikian? Karena sekarang para
konsumen lebih mudah mengakses apapun dari internet dan situs-situs yang
tersedia sebagai penyedia layanan untuk menampilkan baik secara live, maupun
hasil recording untuk bisa ditonton oleh pengguna atau konsumen terhadap
layanan streaming secara memadai. Tidak bisa dipungkiri dengan hadirnya
berbagai akses internet membuat masyarakat secara luas menjadi melek teknologi.
Kegandrungan akan teknologi membuat dampak yang positif juga sekaligus negatif.
Tergantung bagaimana manusia menyikapinya dengan bijak. Sebagai contoh
misalnya, hampir semua anak-anak sekarang telah dibekali gadged oleh orang tua
yang mungkin sebagian orang tua dengan berat hati memberikannya karena tahu
benar dampak pengaruh tersebut bagi anak-anaknya, namun di sisi lain, keadaan
situasi tersebut merupakan tuntutan pembelajaran dalam studi mereka. Semua
lapisan, usia, gender, strata finance, akademisi dan profesional, sekarang
telah mengkonsumsi media streaming sebagai kebutuhan pekerjaan dan keseharian
sebagai hiburan, komunikasi dan interaksi sosial yang dinamis. Sosialita
seseorang sekarang tidak serta merta tampil mewah secara nyata, kini bisa juga
bersosialita di dunia maya.
Dampak
positif dari media streaming jelas sangat mempengaruhi globalisasi di segala
sektor, baik finance, ekonomi, istitusi, lembaga, perbankan dan semua sektor.
Jarak, waktu dan sikon tidak lagi dapat menghalanginya karena jangkauan pandang
sekarang hanya sebatas layar monitor dan kamera. Hal ini sebenarnya mempermudah
keadaan, khususnya ditengah-tengah kasus pandemi, perbedaan waktu dalam suatu
wilayah/negara. Menyapa sanak saudara, keluarga diluar kota/negeri dengan mudah
melalui video cal. Melihat resume perkuliahan jarak jauh, menyaksikan sebuah
pertandingan tanpa harus hadir di waktu dan lokasi setempat, dan sebagainya. Namun
di sisi lain ada dampak negatif yang ditemukan, selain kasus pada anak-anak
remaja, bahkan ditemukan pada orang dewasa dan orang tua yang sering streaming
game online. Kecanduan akan streaming membuat seseorang jadi malas terhadap
pekerjaannya, belajar bagi pelajar dan mahasiswa, tidak fokus pada pekerjaan
dan kebutuhan rumah tangga bagi para orang tua. Semua anggota keluarga sibuk
sendiri dengan kesibukan dan asyik terhadap gawai nya masing-masing. Kehidupan
sosial menjadi fakum dan terlihat jurang pemisah. Berkomunikasi tidak lagi
secara verbal dan konkrit seakan terjadi kehangatan sapa dan salam secara real,
kini tergantikan dengan real streaming video, chat, dan audio semata. Terjadi
kekosongan dalam berinteraksi. Interaksi telah tergantikan dengan
bayang-bayang. Walau secara real dalam dunia maya, namun sesungguhnya manusia
membutuhkan suatu ikatan interaksi terhadap sesama dan alam sekitarnya.
Demikianpun halnya hubungan manusia terhadap
penciptanya, ia membutuhkan sentuhan konkrit secara real mengalami siapa
penciptanya. Bukan hanya secara teori semata tetapi harus mengalami perjumpaan
secara konkrit. Walau ini sifatnya subyektif, namun perjumpaan dengan Tuhan itu
harus menjadi dasar kuat bahwa manusia ada dan alam sekitar yang berikut isis
bumi ini terbentuk oleh karena ada yang menciptakannya. Keadaan seperti ini lah
yang membuat manusia mencari siapa itu tuhan, bukan hanya dengan secara
teologia semata untuk mengkonsepsikannya, namun harus melalui perjumpaat secara
nyata secara pribadi. karena tuhan itu nyata dan real, walau ia dalam roh,
namun interaksi dan perjumpaan itu harus menjadi pengalaman pribadi setiap orang percaya.
Perjumpaan dengan Tuhan tidak bisa melalui streaming
karena IA adalah ROH, maka setiap orang percaya harus menjumpai-Nya dalam Roh
dan Kebenaran. Kebutuhan mansuia akan penciptanya tidak dapat dipungkiri,
karena di dalam relung hati dan jiwa terdalam pada manusia ada rongga kosong
yang tidak dapat di isi oleh apapun di muka bumi ini. Harta kekayaan, pangkat,
strata akademisi (gelar/title), nama baik, strata finance, cinta dan
sebagainya. Semua itu ada batasnya. Kelak manusia akan mengalami kekosongan dan
kesepian mendalam karena masih akan mengalami batiniah yang kosong. Tempat itu
hanya dapat terpenuhi dengan kedamaian hanya dengan melalui memberi tempat
teragung buat Tuhan di dalam relung hati tersebut. Manusia harus menyadari dan
sadar diri sepenuhnya, bahwa kebahagiaan tersebut semua termaktub dengan
Pribadi Tuhan.
Sepatutnya semua insan, khususnya orang percaya
kapanpun, dimanapun, dalam keadaan sikon apapun untuk bisa dapat senantiasa streaming
dengan penciptanya. Streaming ini tidak melulu dalam format doa, duduk
bersilah, melipat tangan, menutup mata, atau berdiam diri (saat teduh), mengikuti acara ibadah
kebaktian, dan kerohanian. Streaming batiniah senantiasa didasari karena cinta
yang tulus dan mendalam terhadap Tuhan. Ada kerinduan yang lahir dari kalbu
hati untuk senantiasa mencari wajah-Nya dan perkenanan-Nya di setiap keadaan.
Waktu di kantor, tempat pekerjaan, sekolah, kampus, di rumah ataupun sedang di
jalan, berpergian, batiniah kita tetap streaming dengan DIA. Artinya, signal
roh kita terus terpancar dengan signal surgawi, kediaman-Nya. Walau apapun yang
kita kerjakan namun batiniah kita terus terpapar dengan signal streaming
tersebut. Dengan demikian, maka selaku orang percaya akan senantiasa untuk
menjaga dirinya untuk hidup tidak bercacat-tidak bercela, menjaga kesucian
hidup, senantiasa hidup dalam
kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus (Phroneo).
Streaming ini sepatutnya setiap detik, setiap menit dan
setiap jam sepanjang hari; 24jam
sehari, 7 hari dalam seminggu, 30 hari dalam sebulan, 12 bulan dalam setahun
dan 365 hari dalam setahun, tetap terus streaming dengan Tuhan walau tidak
terganggu kegiatan keseharian dan rutinitas manusia berkarya di tengah-tengah
keluarga dan masyarakat.
Kebutuhan
batiniah inilah yang tidak dapat tergantikan oleh apapun, sehingga manusia
dapat memiliki arti hidup dan untuk apa ia hidup bagi Tuhan dan sesamanya.
Kebutuhan ini tidak membutuhkan kuota berbayar namun harus dibayar dengan harga
yang mahal namun bukan dengan uang dan benda, melainkan dengan “melepaskan
semua” atau “selesai dengan diri sendiri”. Bapak Rohani saya, Om Erastus
Sabdono, senantiasa mengajarkan juga sekaligus mengingatkan kami untuk
senantiasa selesai dengan diri sendiri, karena tanpa itu maka masih banyak
halangan yang membuat kita tidak bisa “kreek”
(istilah yang beliau gunakan), maksudnya “tune”
dengan Tuhan. Dan bagaimana bisa tune
dan kreek dengan Tuhan bila masih ada
dosa yang menghalangi dan merintangi hubungan kita dengan Tuhan. Tuhan itu
Mahas Suci, karena itu kita sebagai orang percaya harus membereskan keadaan
manusia lama. Belajar meninggalkan kebiasaan manusia lama, duniawi dan kotor.
Dengan demikian maka streaming batiniah kita tidak terhalang faktor kuota dosa,
keberadaan bersalah, namun akan menjadi lancar bila kita mengenakan kodrat
ilahi.
Demikianpun halnya dalam PAK, baik sebagai guru PAK,
guru Injil, konselor, gembala jemaat dan seorang pelayan Tuhan yang berprofesi
sebagai guru PAK dan tenaga pendidik, kita senantiasa harus selesai dengan diri
sendiri. Seorang guru PAK harus benar-benar mengalami Tuihan, perjumpaan
dengan-Nya setiap waktu tanpa dipengaruhi “buffering dosa”. Streaming batiniah
akan lancar tanpa hambatan bila seseorang telah selesai denga dirinya sendiri dan mengalami kelahiran baru.
Keadaan seperti ini harus dialami dan terus kontinue sehingga orang PAK tidak
serta merta pandai mentransfer ilmu (knowledge) semata tapi harus hidup dalam
pengajaran serta meng-“influence”
(menularkan) kebenaran yang dihidupkan
dalam keseharian, melalui perkataan, sikap dan prilaku. Guru PAK harus dapat
menjadi role model, dimana gambar Kristus yang hidup sehidup-hidupnya nyata
melalui ejawantah hidup prilaku guru PAK, ini merupakan live streaming secara
nyata, real dan konkrit. Melalui media PAK, baik secara organisasi maupun
organisme nya, setiap nara didik dan warga gereja dapat melakukan streaming
hidup terhadap sesama. Orang tua yang selesai dengan dirinya, sepatutnya dapat
menjadi figur yang elok bagi anak-anaknya, dalam hal ini penulis pernah membawakan
beberapa seminar bersama dengan tim, “Pendidikan Kristen untuk Pembentukan
Generasi yang Berkarakter”, bersama Bapak Pro. Dr. S. Pantja Djati, M.Si., St.
MA, , Ibu Dr. Wahyu Astrjarjo Rini, MA di aula serba guna PPS UKI, 31 Oktober
2015. Seminar “Peran Orang Tua Di Era
Revolusi 4.0”., pada 25 Mei 2019 di GSKI Pluit.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]






























Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.