Selasa, 26 Mei 2020,
Bapak Presiden RI, Bapak Presiden Joko Widodo telah mencanangkan gerakan new
normal dalam memperbaiki pemulihan keadaan situasi yang telah lama dalam masa
pandemi. Pengertian dari new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap
menjalankan aktivitas normal. Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan
protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Tetap harus
mengikuti protokol yang telah ditetapkan oleh pemerintah agar supaya masyarakat
tidak boleh terpapar. Dalam hal ini kegiatan berlangsung berjalan normal dan
bertahap tapi tidak dilakukan dengan gegabah atau seperti seakan tidak sedang
menghadapi wabah covid ini, melainkan juga justru kita harus bersahabat.
Maksudnya bersahabat ialah tidak serta merta tidak sama sekali takut atau
berjaga-jaga, melainkan tetap sesuai pola hidup sehat, hindari ditengah
keramaian, senantiasa mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau
sediakan selalu hand sanitizer, tidak memegang area wajah (mulut, hidung, mata)
sebelum mencuci tangan. Prinsip utama dari new normal adalah menyesuaikan
dengan pola hidup, di mana protokol kesehatan harus benar-benar diperhatiakan
oleh masyarakat luas untuk menjadi aturan yang disebutkan dalam implementasi new
normal, yakni dengan menjaga jarak sosial (social distancing), dengan
mengurangi kontak fisik dengan orang lain (physical distancing), mengenakan
masker penutup hidung dan mulut/tameng wajah saat berpergian keluar dari rumah
atau ketika berada ataupun bertemu seseorang. Mengkonsumsi makanan yang sehat
dan bergizi, minum suplemen vitamin atau buah-buahan segar. Kedepannya, masyarakat dalam menjalani
kehidupan new normal ini hingga ditemukannya vaksin, yang dapat digunakan untuk
menangkal virus corona. New normal adalah sebuah ransformasi untuk menata
kehidupan dan perilaku baru ditengah pandemi ini sampai ditemukannya vaksin
untuk Covid-19, yang menurut para pakar, kemungkinan ditemukan vaksin tersebut
tahun depan. Jadi new normal adalah kebiasaan-kebiasaan baru saat pandemi virus
corona.
Makalah
sebelumnya, tentang Paradigma Baru, penulis juga sudah menyampaikan beberapa
hal bahwa kedepannya perubahan-perubahan yang sedang dijalani belakangan,
karena pandemi ini, ditemukan paradigma baru, yakni kebiasaan yang sudah
membudaya hampir semua lapisan masyarakat menggunakan masker. Sementara waktu
memang perlu pembiasaan untuk mereka melakukan ini agar tidak terpapar. Menjaga
jarak dan senantiasa membersihkan benda-benda habis pakai. Di mal, supermarket
dan beberapa instansi, lembaga dan vendor, mulai memberlakukan service terhadap
benda-benda sekitar untuk didisinfectan dengan di lap, semprot dan cold fogging
secara berkala. Mandi sehari bisa 2 kali, bahkan lebih, akan menjadi budaya
hidup bersih dalam sebagaian masyarakat yang sadar akan bahaya wabah virus
tersebut kiranya menjadi budaya hidup sehat yang mengubah paradigma lama.
Konsisi ini tentunya akan memicu semua lapisan untuk bergotong royong, menumbuh-kembangkan
hidup peduli terhadap lingkungan sekitar. Walau di sisi lain sektor
perekonomian menjadi lesu dan terganggu lalu lintasnya. Banyak masyarakat
kehilangan pekerjaan tetap akibat beberapa dan banyak pabrik merumahkan mereka,
gulung tikar, kesulitan dalam menjajakan usaha dagangnya, dan lain sebagainya.
Ini membutuhkan waktu dan kerja keras pemerintah, khususnya dibidang ekonomi
yang senantiasa dibenahi dan menjadi central fokus untuk dibangun. Semoga
melalui new normal ini, masyarakat bisa kembali melakukan aktivitas tanpa
kendala dan kehidupan perekonomian kembali sehat.
Keselamatan
jiwa menjadi pertimbangan tinggi dikalangan masyarakat luas dengan mengikuti
protokol yang ditetapkan, namun demikian walau ada beberapa sebagian yang masih
mengabaikan dan acuh tak acuh. Memang dalam hal ini kita semua tidak boleh
menjadi parno atau paranoid yang berlebihan terhadap situasi kondisi masa
pandemi ini. Asal kita mengikuti protokol yang dianjurkan oleh pemerintah, maka
kita bisa terhindar dari paparan virus tersebut, lalu imun tubuh harus senantiasa
terjaga dengan pola hidup sehat yang disarankan. Sampai akhirnya keadaan
benar-benar kondusif maka nantinya kita bisa melakukan kegiatan dengan normal,
walau ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan secara bertahap kita harus
tetap berjaga dan waspada. Mati dan hidup seseorang bukan hanya ditentukan oleh
Tuhan, tetapi juga oleh diri manusia itu sendiri. Ajal seseorang
memang ditentukan oleh hak prerogatif Tuhan, kapan Ia mau mengambil, menjemput
nyawa umat-Nya. Namun di sisi lain, kita sebagai umat ciptaan-Nya memiliki
tanggung jawab terhadap ini, yakni menjaga dan merawat raga ini tetap dalam
kondisi sehat waalfiat. Dengan pola hidup sehat, tidak serta merta seseorang
akan berumur panjang apalagi dalam zaman sekarang ini polusi udara serta bahan
makanan sudah terkontaminasi atau semua serba siap saji, artinya makanan pada
masa kini sudah serba instan. Sayuran yang sudah terkontaminasi oleh pupuk
kimia, tanah dan air yang sudah tercemari oleh limbah dan zat berbahaya.
New
Normal, seharusnya bukan saja dikembalikannya aktivitas secara bertahap sedia
kala, namun juga keberadaan peradaban manusia yang dipulihkan. Peradaban
semakin terus berkembang seiring era milenial, di mana kebudayaan dan tradisi
terimbas oleh laju sosial yang terus berkembang. Manusia semakin arogan dan
egosentris dengan diri nyasendiri. Tidak jarang menjadi serigala bagi
sesamanya, hanya untuk mempertahankan diri. Keadaan ini hendaknya jangan
membuat manusia menjadi nyaman dan normality of life menjadi pegangan yang
rapuh. Dunia sedang menuju kehancuran karena bumi ini semakin tua. Keadaan pada
situasi saat pandemi ini seharusnya selama kita banyak waktu untuk berdiam diri
lebih banyak waktu luang ber-meditasi mencari wajah-Nya. Setelah pandemi ini pasti
keadaan yang benar-benar normal tidak senormal sedia kala karena pasti ada
hal-hal baru yang akan dihadapi oleh penghuni bumi ini. Ada yang menganggapnya
baik-baik saja namun sesaat musibah datang menimpa. Hidup ini tragis dan tidak
ada yang ideal. Pernyataan ini bukan skeptis dan prejudice terhadap pencipta
dan keadaan. Siapa insani yang tidak mengingini kebahagiaan dan hidup normal
dan wajar? Tentu tidak ada, semua mau berjalan baik dan senantiasa sentosa.
Kenyataannya transformasi yang ideal tidak senyata yang terjadi. Bumi semakin
tidak nyaman untuk dihuni. Keadaan alam yang semakin terkontaminasi polusi dan
keadaan tanah yang tidak membaik. Bila selama ini berita tersebar tentang
kondisi alam semakin baik karena wabah pandemi membuat aktivitas manusia
terhalang membuat alam kembali normal, itu hanya sementara, sebab bila keadaan
normal kembali maka manusia kembali tidak dapat menjaga dan melestarikannya.
Mengembalikan
normal aktivitas yang akan berjalan secara bertahap ini diharapkan memulihkan
ekonomi dan menumbuh-kembangkan kepercayaan investor dan sektor lainnya. Semoga
bingkai wacana ini mampu meredam penyebaran covid-19, tentunya bila disertai tanggung
jawab dan kerjasama masyarakat untuk mengikuti protokol yang telah ditetapkan,
walau disisi lainnya juga harus diperhatikan faktor kelalaian yang mungkin
trejadi dikarenakan kebiasaan sebelumnya. Mengukur semuanya itu, kita sebagai
orang percaya juga harus berkorelasi dan bertanggung jawab turut menjaga keberlangsungan
new normal, bukan parno atau diambang ketakutan. Ketakutan yang berlebihan
justru akan menurunkan imun tubuh.
Gereja
dan warga gereja harus turut berpartisipasi dalam mendukung program wacana
pemerintah ini kedepannya sampai dapat dipastikan bahwa penyebaran pandemi
virus tersebut sudah dapat dikatakan aman/kondusif. Keberadaan gereja
ditengah-tengah dunia, harus senantiasa menjadi cakrawala yang indah dalam
mempayungi warga gereja dan masyarakat disekitarnya secara holistik. Gereja harus
dapat mengayomi, artinya, mampu memberi keteduhan sekaligus bertanggung jawab
dalam mengikuti peraturan dan protokol yang pemerintah tetapkan. Sementara waktu
tidak mengadakan kegiatan ibadah dengan berkumpul berjemaah. Semua itu dapat
dilakukan dengan media live streaming yang tersedia. Gereja memperhatikan keperluan
kebutuhan kehidupan warga gereja nya yang kurang mampu, marginal atau yang
mengalami kendala ekonomi selama ditengah pandemi ini. Gereja juga turut
berbagi dalam kepedulian sosial kepada masyarakat sekitar sama seperti yang
dilakukan kepada warga gerejanya. Selain
asupan kebutuhan sembako, voucher atau apapun yang diberikan, kebutuhan asupan
rohani juga senantiasa diberikan secara berkala sebagai bentuk pastoral yang
ideal dalam penggembalaan akan domba-dombanya.
Ditengah
masa pandemi beberapa bulan ini, pasti ada banyak warga gereja yang mengalami
ketakutan, kemerosotan iman, mengendornya tali silaturahmi berjemaah, yang
sedapatnya bisa tergantikan sementara dengan aplikasi zoom, google meet dan
media teknologi lainnya. Namun itu tidak senyata menyentuh dalam pertemuan
secara langsung. Gereja dalam hal ini harus peka dan jeli dalam menyikapi kebutuhan
kerohanian warga gerejanya. Gereja harus dengan tegas, nyaring dan lantang
dalam menyuarakan suara kebenaran sesuai Injil yang murni, agar supaya warga
gereja tidak lengah, lesu, ketakutan terhadap pandemi ini. Situasi dan kondisi
pandemi ini tentunya atas seijin Tuhan untuyk kita semua hadapi. Yakini,
sekiranya, bahwa virus ini semata hanya akan membinasakan tubuh tapi tidak membinasakan jiwa. Kematian setiap manusia adalah sesuatu yang
pasti. Semua manusia pasti mengalami kematian, dan kematian
tidak bisa diterka kapan ajal itu tiba waktunya bagi seseorang. Setiap
detak jantung bisa akapan saja berhenti diam. Setiap manusia pasti memiliki kuota usia berbatas
waktu. Kematian tidak hanya karena pandemi tetapi juga bisa melalui
segala situasi dan kondisi atas seijin-Nya. Tidak menjadi masalah dengan cara apa dan
bagaimana seseorang mengalami kematian, tetapi yang harus pasti siapa yang akan
menjemputnya saat ia meninggal. Karena itu selama masih ada kesempatan
hidup, kita semua harus memperkarakan hidup ini dihadapan Tuhan. Sudahkah kita
berkenan dihadapan Tuhan atau masih ada dosa dan cela yang merintanginya?
Gereja melalui
PAK harus senantiasa mengabarkan Kalam yang hidup, bukan mati dalam kata-kata dan
kalimat belaka. Kalam akan hidup bila disertai, perbuatan, sikap, prilaku dan
tutur kata segenap aspek para pelayan Tuhannya terlihat secara nyata dan
konkrit sebagai sesuatu yang telah lebih dulu menghidupkan kebenaran itu dalam
seluruh aspek kehidupannya, sehingga akan terpancar keluar dan dinikmati oleh
warga gereja dan masyarakat secara konkrit. Kalam yang hidup dari Injil yang murni adalah
suara kebenaran yang diejawantahkan dalam keseharian lebih tepat sasaran
sebagai bentuk role model, gambar dan teladan Kristus yang diimplementasikan oleh para
pelayan Tuhan.
PAK
dalam pastoral kepada warga gereja harus senantiasa memenuhi kebutuhan
kerohanian mereka secara intensif dan berkala, melalui program-program yang
disediakan oleh gereja. Program-program tersebut
harus disusun berdasarkan kurikulum dan standar kebutuhan jemaat. Program siraman
rohani kepada anak-anak, tunas, remaja, dewasa, dewasa muda dann keluarga. Semua
program siraman rohani bisa disesuaikan dengan tingkatan jenjang umur/usia
secara berkala. Pengadaan program tersebut tentunya didukung oleh media
teknologi dan sarana serta prasarana yang ditunjang oleh gereja secara utuh dan
konvensional. PAK harus mampu memerdekan warga gerejanya, melalui Kalam yang
hidup disertai teladan Kristus yang konkrit dari cara hidup para pelayan Tuhan.
Tergambar jelas dan nyata sehingga warga gereja dapat mengikuti teladan tersebut
untuk sama-sama melakukan perubahan dari cara hidup yang lama dan mengenakan
kodrat ilahi. Keadaan ini tidak instan namun setidaknya usaha gereja tinggal
50% dari perjuangan untuk mengenakan kodrat ilahi karena warga gereja/jemaat
telah melihat teladan tersebut dan sisanya 50% dari usaha kerja keras, tekad
warga gereja untuk mau melakukan kebenaran itu dikenakan didalam seluruh aspek
hidupnya.
PAK dalam pastoral kepada warga gerejanya mengajak supaya tetap memegang teguh kebenaran yang selama ini didengar dan dikecapnya. Memegang teguh 3 pilar dalam melakoni atau menjalani prinsip hidup sebagai orang percaya, yakni hidup berkarakter seperti Kristus, hidup bertanggung jawab dan menantikan dengan sungguh kehidupan yang ideal hanya di langit yang baru dan bumi yang baru. Warga gereja harus ngeh dan sadar diri serta waspada bahwa dunia senantiasa dengan segala cara untuk terus dapat memikat dengan kemolekan dan pesonanya kepada orang-orang pilihan-Nya. Dunia akan memikat hingga seseorang jatuh dalam percintaan (perzinahan) dengan dengan dunia sampai tidak dapat membedakan mana yang baik dan berkenan. Dunia dengan segala isinya akan membuat manusia dimabuk asmara fana sehingga keinginan daging lebih dominan terhadap keingian roh untuk bersekutu sepadan dengan Dia. Karena itu peranan PAK sangat tepat di dalam gereja, dalam memenuhi peranan serta tanggung jawabnya dalam membina dan membimbing warga gereja untuk terus hidup dalam roh dan kebenaran. PAK harus kompeten dibidangnya dalam menyikapi isue-isue globar ditengah pandemi, jangan sampai melalui wacana new normal ini, kebiasaan lama yang dikerjakan atau menjadi pola dahulu kembali membuat orang percaya kepada habit atau kebiasaan-kebiasaan lamanya. Tidak membatasi diri adalah suatu sikap bahwa kita ini adalah mahluk sosial, namun keberadaan seseorang untuk terus berkarya membuat ia lupa bahwa dunia bukan tempat yang nyaman. Kesempatan dan peluang yang ada membuat manusia akan semakin betah di bumi dan sikon yang mendukung kan membuat dirinya lupa bahwa ia bukan berasal dari dunia ini. Disinlah peran serta PAK dalam menyikapi hal tersebut dan fighting dengan Kalam yang hidup.
PAK dalam pastoral kepada warga gerejanya mengajak supaya tetap memegang teguh kebenaran yang selama ini didengar dan dikecapnya. Memegang teguh 3 pilar dalam melakoni atau menjalani prinsip hidup sebagai orang percaya, yakni hidup berkarakter seperti Kristus, hidup bertanggung jawab dan menantikan dengan sungguh kehidupan yang ideal hanya di langit yang baru dan bumi yang baru. Warga gereja harus ngeh dan sadar diri serta waspada bahwa dunia senantiasa dengan segala cara untuk terus dapat memikat dengan kemolekan dan pesonanya kepada orang-orang pilihan-Nya. Dunia akan memikat hingga seseorang jatuh dalam percintaan (perzinahan) dengan dengan dunia sampai tidak dapat membedakan mana yang baik dan berkenan. Dunia dengan segala isinya akan membuat manusia dimabuk asmara fana sehingga keinginan daging lebih dominan terhadap keingian roh untuk bersekutu sepadan dengan Dia. Karena itu peranan PAK sangat tepat di dalam gereja, dalam memenuhi peranan serta tanggung jawabnya dalam membina dan membimbing warga gereja untuk terus hidup dalam roh dan kebenaran. PAK harus kompeten dibidangnya dalam menyikapi isue-isue globar ditengah pandemi, jangan sampai melalui wacana new normal ini, kebiasaan lama yang dikerjakan atau menjadi pola dahulu kembali membuat orang percaya kepada habit atau kebiasaan-kebiasaan lamanya. Tidak membatasi diri adalah suatu sikap bahwa kita ini adalah mahluk sosial, namun keberadaan seseorang untuk terus berkarya membuat ia lupa bahwa dunia bukan tempat yang nyaman. Kesempatan dan peluang yang ada membuat manusia akan semakin betah di bumi dan sikon yang mendukung kan membuat dirinya lupa bahwa ia bukan berasal dari dunia ini. Disinlah peran serta PAK dalam menyikapi hal tersebut dan fighting dengan Kalam yang hidup.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.