3 Pilar

3 Pilar

Jumat, 29 Mei 2020

NEW NORMAL - PARADIGMA BARU (bagian 2)


Selasa, 26 Mei 2020, Bapak Presiden RI, Bapak Presiden Joko Widodo telah mencanangkan gerakan new normal dalam memperbaiki pemulihan keadaan situasi yang telah lama dalam masa pandemi. Pengertian dari new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal. Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Tetap harus mengikuti protokol yang telah ditetapkan oleh pemerintah agar supaya masyarakat tidak boleh terpapar. Dalam hal ini kegiatan berlangsung berjalan normal dan bertahap tapi tidak dilakukan dengan gegabah atau seperti seakan tidak sedang menghadapi wabah covid ini, melainkan juga justru kita harus bersahabat. Maksudnya bersahabat ialah tidak serta merta tidak sama sekali takut atau berjaga-jaga, melainkan tetap sesuai pola hidup sehat, hindari ditengah keramaian, senantiasa mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau sediakan selalu hand sanitizer, tidak memegang area wajah (mulut, hidung, mata) sebelum mencuci tangan. Prinsip utama dari new normal adalah menyesuaikan dengan pola hidup, di mana protokol kesehatan harus benar-benar diperhatiakan oleh masyarakat luas untuk menjadi aturan yang disebutkan dalam implementasi new normal, yakni dengan menjaga jarak sosial (social distancing), dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain (physical distancing), mengenakan masker penutup hidung dan mulut/tameng wajah saat berpergian keluar dari rumah atau ketika berada ataupun bertemu seseorang. Mengkonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, minum suplemen vitamin atau buah-buahan segar.  Kedepannya, masyarakat dalam menjalani kehidupan new normal ini hingga ditemukannya vaksin, yang dapat digunakan untuk menangkal virus corona. New normal adalah sebuah ransformasi untuk menata kehidupan dan perilaku baru ditengah pandemi ini sampai ditemukannya vaksin untuk Covid-19, yang menurut para pakar, kemungkinan ditemukan vaksin tersebut tahun depan. Jadi new normal adalah kebiasaan-kebiasaan baru saat pandemi virus corona.

            Makalah sebelumnya, tentang Paradigma Baru, penulis juga sudah menyampaikan beberapa hal bahwa kedepannya perubahan-perubahan yang sedang dijalani belakangan, karena pandemi ini, ditemukan paradigma baru, yakni kebiasaan yang sudah membudaya hampir semua lapisan masyarakat menggunakan masker. Sementara waktu memang perlu pembiasaan untuk mereka melakukan ini agar tidak terpapar. Menjaga jarak dan senantiasa membersihkan benda-benda habis pakai. Di mal, supermarket dan beberapa instansi, lembaga dan vendor, mulai memberlakukan service terhadap benda-benda sekitar untuk didisinfectan dengan di lap, semprot dan cold fogging secara berkala. Mandi sehari bisa 2 kali, bahkan lebih, akan menjadi budaya hidup bersih dalam sebagaian masyarakat yang sadar akan bahaya wabah virus tersebut kiranya menjadi budaya hidup sehat yang mengubah paradigma lama. Konsisi ini tentunya akan memicu semua lapisan untuk bergotong royong, menumbuh-kembangkan hidup peduli terhadap lingkungan sekitar. Walau di sisi lain sektor perekonomian menjadi lesu dan terganggu lalu lintasnya. Banyak masyarakat kehilangan pekerjaan tetap akibat beberapa dan banyak pabrik merumahkan mereka, gulung tikar, kesulitan dalam menjajakan usaha dagangnya, dan lain sebagainya. Ini membutuhkan waktu dan kerja keras pemerintah, khususnya dibidang ekonomi yang senantiasa dibenahi dan menjadi central fokus untuk dibangun. Semoga melalui new normal ini, masyarakat bisa kembali melakukan aktivitas tanpa kendala dan kehidupan perekonomian kembali sehat.
            Keselamatan jiwa menjadi pertimbangan tinggi dikalangan masyarakat luas dengan mengikuti protokol yang ditetapkan, namun demikian walau ada beberapa sebagian yang masih mengabaikan dan acuh tak acuh. Memang dalam hal ini kita semua tidak boleh menjadi parno atau paranoid yang berlebihan terhadap situasi kondisi masa pandemi ini. Asal kita mengikuti protokol yang dianjurkan oleh pemerintah, maka kita bisa terhindar dari paparan virus tersebut, lalu imun tubuh harus senantiasa terjaga dengan pola hidup sehat yang disarankan. Sampai akhirnya keadaan benar-benar kondusif maka nantinya kita bisa melakukan kegiatan dengan normal, walau ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan secara bertahap kita harus tetap berjaga dan waspada. Mati dan hidup seseorang bukan hanya ditentukan oleh Tuhan, tetapi juga oleh diri manusia itu sendiri. Ajal seseorang memang ditentukan oleh hak prerogatif Tuhan, kapan Ia mau mengambil, menjemput nyawa umat-Nya. Namun di sisi lain, kita sebagai umat ciptaan-Nya memiliki tanggung jawab terhadap ini, yakni menjaga dan merawat raga ini tetap dalam kondisi sehat waalfiat. Dengan pola hidup sehat, tidak serta merta seseorang akan berumur panjang apalagi dalam zaman sekarang ini polusi udara serta bahan makanan sudah terkontaminasi atau semua serba siap saji, artinya makanan pada masa kini sudah serba instan. Sayuran yang sudah terkontaminasi oleh pupuk kimia, tanah dan air yang sudah tercemari oleh limbah dan zat berbahaya.       
 
            New Normal, seharusnya bukan saja dikembalikannya aktivitas secara bertahap sedia kala, namun juga keberadaan peradaban manusia yang dipulihkan. Peradaban semakin terus berkembang seiring era milenial, di mana kebudayaan dan tradisi terimbas oleh laju sosial yang terus berkembang. Manusia semakin arogan dan egosentris dengan diri nyasendiri. Tidak jarang menjadi serigala bagi sesamanya, hanya untuk mempertahankan diri. Keadaan ini hendaknya jangan membuat manusia menjadi nyaman dan normality of life menjadi pegangan yang rapuh. Dunia sedang menuju kehancuran karena bumi ini semakin tua. Keadaan pada situasi saat pandemi ini seharusnya selama kita banyak waktu untuk berdiam diri lebih banyak waktu luang ber-meditasi mencari wajah-Nya. Setelah pandemi ini pasti keadaan yang benar-benar normal tidak senormal sedia kala karena pasti ada hal-hal baru yang akan dihadapi oleh penghuni bumi ini. Ada yang menganggapnya baik-baik saja namun sesaat musibah datang menimpa. Hidup ini tragis dan tidak ada yang ideal. Pernyataan ini bukan skeptis dan prejudice terhadap pencipta dan keadaan. Siapa insani yang tidak mengingini kebahagiaan dan hidup normal dan wajar? Tentu tidak ada, semua mau berjalan baik dan senantiasa sentosa. Kenyataannya transformasi yang ideal tidak senyata yang terjadi. Bumi semakin tidak nyaman untuk dihuni. Keadaan alam yang semakin terkontaminasi polusi dan keadaan tanah yang tidak membaik. Bila selama ini berita tersebar tentang kondisi alam semakin baik karena wabah pandemi membuat aktivitas manusia terhalang membuat alam kembali normal, itu hanya sementara, sebab bila keadaan normal kembali maka manusia kembali tidak dapat menjaga dan melestarikannya.

            Mengembalikan normal aktivitas yang akan berjalan secara bertahap ini diharapkan memulihkan ekonomi dan menumbuh-kembangkan kepercayaan investor dan sektor lainnya. Semoga bingkai wacana ini mampu meredam penyebaran covid-19, tentunya bila disertai tanggung jawab dan kerjasama masyarakat untuk mengikuti protokol yang telah ditetapkan, walau disisi lainnya juga harus diperhatikan faktor kelalaian yang mungkin trejadi dikarenakan kebiasaan sebelumnya. Mengukur semuanya itu, kita sebagai orang percaya juga harus berkorelasi dan bertanggung jawab turut menjaga keberlangsungan new normal, bukan parno atau diambang ketakutan. Ketakutan yang berlebihan justru akan menurunkan imun tubuh.

            Gereja dan warga gereja harus turut berpartisipasi dalam mendukung program wacana pemerintah ini kedepannya sampai dapat dipastikan bahwa penyebaran pandemi virus tersebut sudah dapat dikatakan aman/kondusif. Keberadaan gereja ditengah-tengah dunia, harus senantiasa menjadi cakrawala yang indah dalam mempayungi warga gereja dan masyarakat disekitarnya secara holistik. Gereja harus dapat mengayomi, artinya, mampu memberi keteduhan sekaligus bertanggung jawab dalam mengikuti peraturan dan protokol yang pemerintah tetapkan. Sementara waktu tidak mengadakan kegiatan ibadah dengan berkumpul berjemaah. Semua itu dapat dilakukan dengan media live streaming yang tersedia. Gereja memperhatikan keperluan kebutuhan kehidupan warga gereja nya yang kurang mampu, marginal atau yang mengalami kendala ekonomi selama ditengah pandemi ini. Gereja juga turut berbagi dalam kepedulian sosial kepada masyarakat sekitar sama seperti yang dilakukan kepada warga gerejanya.  Selain asupan kebutuhan sembako, voucher atau apapun yang diberikan, kebutuhan asupan rohani juga senantiasa diberikan secara berkala sebagai bentuk pastoral yang ideal dalam penggembalaan akan domba-dombanya.

            Ditengah masa pandemi beberapa bulan ini, pasti ada banyak warga gereja yang mengalami ketakutan, kemerosotan iman, mengendornya tali silaturahmi berjemaah, yang sedapatnya bisa tergantikan sementara dengan aplikasi zoom, google meet dan media teknologi lainnya. Namun itu tidak senyata menyentuh dalam pertemuan secara langsung. Gereja dalam hal ini harus peka dan jeli dalam menyikapi kebutuhan kerohanian warga gerejanya. Gereja harus dengan tegas, nyaring dan lantang dalam menyuarakan suara kebenaran sesuai Injil yang murni, agar supaya warga gereja tidak lengah, lesu, ketakutan terhadap pandemi ini. Situasi dan kondisi pandemi ini tentunya atas seijin Tuhan untuyk kita semua hadapi. Yakini, sekiranya, bahwa virus ini semata hanya akan membinasakan tubuh tapi tidak  membinasakan jiwa. Kematian setiap manusia adalah sesuatu yang pasti. Semua manusia pasti mengalami kematian, dan kematian tidak bisa diterka kapan ajal itu tiba waktunya bagi seseorang. Setiap detak jantung bisa akapan saja berhenti diam. Setiap manusia pasti memiliki kuota usia berbatas waktu. Kematian tidak hanya karena pandemi tetapi juga bisa melalui segala situasi dan kondisi atas seijin-Nya. Tidak menjadi masalah dengan cara apa dan bagaimana seseorang mengalami kematian, tetapi yang harus pasti siapa yang akan menjemputnya saat ia meninggal. Karena itu selama masih ada kesempatan hidup, kita semua harus memperkarakan hidup ini dihadapan Tuhan. Sudahkah kita berkenan dihadapan Tuhan atau masih ada dosa dan cela yang merintanginya?

            Gereja melalui PAK harus senantiasa mengabarkan Kalam yang hidup, bukan mati dalam kata-kata dan kalimat belaka. Kalam akan hidup bila disertai, perbuatan, sikap, prilaku dan tutur kata segenap aspek para pelayan Tuhannya terlihat secara nyata dan konkrit sebagai sesuatu yang telah lebih dulu menghidupkan kebenaran itu dalam seluruh aspek kehidupannya, sehingga akan terpancar keluar dan dinikmati oleh warga gereja dan masyarakat secara konkrit. Kalam yang hidup dari Injil yang murni adalah suara kebenaran yang diejawantahkan dalam keseharian lebih tepat sasaran sebagai bentuk role model, gambar dan teladan  Kristus yang diimplementasikan oleh para pelayan Tuhan.

            PAK dalam pastoral kepada warga gereja harus senantiasa memenuhi kebutuhan kerohanian mereka secara intensif dan berkala, melalui program-program yang disediakan oleh gereja. Program-program  tersebut harus disusun berdasarkan kurikulum dan standar kebutuhan jemaat. Program siraman rohani kepada anak-anak, tunas, remaja, dewasa, dewasa muda dann keluarga. Semua program siraman rohani bisa disesuaikan dengan tingkatan jenjang umur/usia secara berkala. Pengadaan program tersebut tentunya didukung oleh media teknologi dan sarana serta prasarana yang ditunjang oleh gereja secara utuh dan konvensional. PAK harus mampu memerdekan warga gerejanya, melalui Kalam yang hidup disertai teladan Kristus yang konkrit dari cara hidup para pelayan Tuhan. Tergambar jelas dan nyata sehingga warga gereja dapat mengikuti teladan tersebut untuk sama-sama melakukan perubahan dari cara hidup yang lama dan mengenakan kodrat ilahi. Keadaan ini tidak instan namun setidaknya usaha gereja tinggal 50% dari perjuangan untuk mengenakan kodrat ilahi karena warga gereja/jemaat telah melihat teladan tersebut dan sisanya 50% dari usaha kerja keras, tekad warga gereja untuk mau melakukan kebenaran itu dikenakan didalam seluruh aspek hidupnya. 

         PAK dalam pastoral kepada warga gerejanya mengajak supaya tetap memegang teguh kebenaran yang selama ini didengar dan dikecapnya. Memegang teguh 3 pilar dalam melakoni atau menjalani prinsip hidup sebagai orang percaya, yakni hidup berkarakter seperti Kristus, hidup bertanggung jawab dan menantikan dengan sungguh kehidupan yang ideal hanya di langit yang baru dan bumi yang baru. Warga gereja harus ngeh dan sadar diri serta waspada bahwa dunia senantiasa dengan segala cara untuk terus dapat memikat dengan kemolekan dan pesonanya kepada orang-orang pilihan-Nya. Dunia akan memikat hingga seseorang jatuh dalam percintaan (perzinahan) dengan dengan dunia sampai tidak dapat membedakan mana yang baik dan berkenan. Dunia dengan segala isinya akan membuat manusia dimabuk asmara fana sehingga keinginan daging lebih dominan terhadap keingian roh untuk bersekutu sepadan dengan Dia. Karena itu peranan PAK sangat tepat di dalam gereja, dalam memenuhi peranan serta tanggung jawabnya dalam membina dan membimbing warga gereja untuk terus hidup dalam roh dan kebenaran. PAK harus kompeten dibidangnya dalam menyikapi isue-isue globar ditengah pandemi, jangan sampai melalui wacana new normal ini, kebiasaan lama yang dikerjakan atau menjadi pola dahulu kembali membuat orang percaya kepada habit atau kebiasaan-kebiasaan lamanya. Tidak membatasi diri adalah suatu sikap bahwa kita ini adalah mahluk sosial, namun keberadaan seseorang untuk terus berkarya membuat ia lupa bahwa dunia bukan tempat yang nyaman. Kesempatan dan peluang yang ada membuat manusia akan semakin betah di bumi dan sikon yang mendukung kan membuat dirinya lupa bahwa ia bukan berasal dari dunia ini. Disinlah peran serta PAK dalam menyikapi hal tersebut dan fighting dengan Kalam yang hidup.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.