3 Pilar

3 Pilar

Kamis, 21 Mei 2020

PARADIGMA BARU (KALA PANDEMI)



          Pandemi oh pandemi, menyita waktu yang tidak sebentar, menyita tenaga, perasaan yang sangat besar, memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Hampir diseluruh belahan dunia keadaan ini makin terus berlanjut dan seakan tidak tahu kapan berakhirnya. Kerugian besar dalam jumlah yang tidak sedikit, telah membuat sebagian besar negara mengalami devisit, beberapa usaha masyarakatnya ada yang bangkrut alias gulung tikar yang berdampak kepada PHK  besar-besaran para pekerjanya. Instruksi imbauan pemerintah untuk stay home, work from home (WFH), social distancing, physical distancing terus digelarkan agar supaya bisa memutus mata rantai penyebaran wabah virus Covid-19.

            Semua instansi, lembaga, institusi dan organisasi yang berada di wilayah perhatian pemerintah, wajib melaksanakan imbauan tersebut, hingga dikeluarkan program PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), walau ada sebagian masyarakat yang tidak taat. Namun ada sebagian besar yang menaatinya. Imbauan ini bukan hanya untuk stay home, melakukan aktivitas pekerjaan dari rumah tapi juga meniadakan kegiatan yang mengundang keramaian, seperti ibadah/kebaktian, sholat, pengajian, studi, meeting, dan sebagainya. Masyarakat juga diimbau untuk senantiasa memakai masker hidung dan mulut khususnya saat berpergian dan keluar rumah. Disarankan juga tidak berpergian keluar rumah tanpa keperluan yang pasti, apalagi berada dikeramaian. Sangat disarankan terutama bagi mereka yang sekembalinya dari berpergian sebelum masuk rumah untuk segera mandi dan berganti pakaian. Pakaian yang kotor dari luar dipisahkan dan tidak menyimpan di dalam ruangan melainkan diluar dari ruang rumah. Dianjurkan untuk sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan dengan air mengalir, bila kondisi tertentu gunakan sanitizer, saat sebelum dan sesudah memegang suatu benda, uang dan sebagainya. Menggunakan sarung tangan juga sangat dianjurkan dalam hal ini.  Beberapa vendor tidak sedikit menutup sementara, seperti perusahaan, kantor-kantor, toko, ruko, maskapai penerbangan, mal, plaza, pasar tradisional. Keadaan ini memakan waktu serta biaya tidak sedikit untuk biaya operasional perawatannya. Situasi dan keadaan ini akan terus berlangsung sampai semuanya kondusif dan aman.

            Kebiasaan menutup hidung dan mulut dengan menggunakan masker atau bahkan menggunakan tameng wajah, sesering mungkin mencuci tangan atau bahkan dengan sanitizer secara berkala, adalah merupakan kebiasaan yang dapat dikatakan sudah membiasa atau membudaya ditengah-tengah masyarakat secara umum walau tidak semua sadar akan imbauan ini. Ajakan untuk hal ini menjadi paradigma baru di kala pandemi. Kiranya menjadi pembiasaan yang positif selanjutnya kedepan bagi bangsa dan masyarakat  Indonesia. Pola hidup bersih, makan-makanan yang sehat dan bergizi disertai suplemen vitamin menjadi andalan untuk dikonsumsi guna meningkatkan imun tubuh. Di Jepang kondisi ini sudah menjadi budaya bahkan jauh sebelum pandemi wabah ini terjadi. Kebiasaan masyarakat Jepang sudah terbiasa menggunakan masker hidung dan mulut saat berada di luar rumah, walau belum sepenuhnya dilakukan namun sudah hampir menjadi kebiasaan yang terjadi. Pola hidup seperti ini sepatutnya menjadi pembelajaran dan pembiasaan yang kondusif terus menerus dan membudaya. Jangan karena situasi dan kondisi saat wabah ini datang lalu terbiasa dengan anjuran tersebut, tapi setelah reda, kembali ke pola lama.

            Ada satu hal yang sangat menarik selama pandemi ini, banyak masyarakat saat berada diluar rumah atau melakukan aktivitas kegiatan dengan menggunakan masker hidung dan mulut. Ini menjadi lukisan sejarah bagi bangs aini, yakni di mana semua lapisan masrakat disadarkan untuk berlaku hidup sehat. Disamping itu lahirnya rasa kepedulian sosial disekitar lingkungan dan semua lapisan masyarakat dengan program membagi sembako secara bertahap, seperti yang dipelopori oleh pemerintah pusat. Hampir disemua wilayah RT, RW, Kelurahan, dan instansi terkait bahkan lapisan masyarakat melakukan hal serupa. Indahnya berbagi, hidup sehat dan senantiasa mengikuti protokol yang pemerintah imbaukan telah menjadi budaya dan paradigma baru di kala pandemi ini. Semoga hal ini terus berlangsung menjadi kebiasaan yang baik kedepannya. Nilai-nilai dan norma budaya masyarakat yang tidak lagi dipsahkan oleh faktor budaya, suku, agama dan golongan.

            Paradigma senantiasa akan tercipta disebabkan oleh faktor perspektif oleh sikon yang terjadi dan sedang berlangsung. Kecerdasan tiap orang memiliki perspektif yang ragam, namun walau demikian akan menjadi sangat kuat dan menularkan kepada yang lain untuk diikuti menjadi keseragaman. Hal ini akan melahirkan paradigma baru, di mana semua insani turut sepenanggungan dan berusaha sepakat untuk menciptakan suasana kembali normal atau baru sama sekali untuk kesejahteraan bersama.

            Semua insan pasti mendambakan keadaan ini kembali normal, dimana segala aktivitas kembali berjalan seperti semula kala. Tidak ada lagi pembatasan bersakala besar, asyik menonton di sinema theather, berenang bersama, menghadiri resepri pernikahan, berjemaah, dan sebagainya. Kita semua ingin kembali kondusif dan wabah pandemi ini tidak lagi menjadi teror karena hampir setiap hari ditemukan kasus terpapar dan meninggal. Sewajarnya harapan dan doa kita semua kembali normal sediakala. Dunia tidak lagi menjadi ramah dan ideal untuk dihuni oleh  manusia. Keadaan sesungguhnya memang dunia bukanlah tempat yang nyaman untuk dihuni. Menurut sumber Alkitab, sejak lusifer memberontak dan ingin menyamai yang Maha Kuasa, Allah Bapa, ia (lusifer) gagal dalam merebut tahlah Allah, sehingga ia dibuang ke bumi, di mana planet manusia huni dan tempati. Di sisi lain manusia juga gagal dalam menjalankan mandat, dan condong lebih menggunakan dan menuruti kehendak bebasnya (free will), sehingga manusia terpisah dari Allah, saat keduanya (Adam dan Hawa) melanggar Titah-Nya. Mereka dikeluarkan dari Taman eden. Peristiwa dibuangnya lusifer dan pemberontakan manusia terhadap mandat Allah menjadikan bumi terkutuk. Manusia telah kehilangan kemuliaan gambar ilahi dalam diri mereka (Roma 3:23).   

            Paradigma baru terhadap langit baru dan bumi yang baru; jarang sekali bahkan langka seseorang memikirkan keadaan dunia yang akan datang, kehidupan yang akan datang. Kehidupan yang sekarang kita jal;ani sekarang ini hanyalah sementara, semu dan tidak ideal. Ideal hidup kita sesungguhnya bukan karena faktor kemapanan dan idealis menurut cara pandang kebanyakan orang. Injil dengan jelas memberi kesaksian, bahwa dunia ini telah terkutuk dari bentuk pelanggaran dosa ciptaan-nya, manusia dan lusifer, sehingga Allah tidak menjadikan dunia sebagai samayim (surga) tetap, melainkan ada kehidupan yang akan datang bagi mereka yang setia dan taat melakukan kehendak Bapa. Keberadaan dosa manusia telah membuat ketercemaran hubungan yang harmonis antara Allah dan manusia. Bumi semakin rusak dengan segala eksistensinya demikian juga kebobrokan moralitas manusia. Namun demikian, masih ada tersisa anak manusia, orang percaya, yang masih mempertahankan untuk hidup tidak bercacat – tidak bercela. Masih ada diantaranya yang mau untuk hidup dalam kesuciaan dan tidak terpikat terhadap dunia. 

            Pandemi ini pasti melelahkan banyak orang dan instansi yang terkait. Menurut beberapa para pakar yang mengamati, sepertinya pandemi wabah ini belum cepat selesai bahkan diperkirakan akan ada gelombang kedua. Siapa yang tahu kedepannya bakal akan terjadi demikian, namun yang sudah pasti bahwa dunia bukanlah tempat yang ideal untuk dihuni. Kenyamanan kita hanya sementara, jangan terikat. Selagi ada waktu kita bersama keluarga biarlah kita efektif menggunakan waktu tersebut untuk menjaga keluarga, mencintainya dan saling menyayangi. Selagi kita masih dapat melakukan aktivitas bekerja, biarlah kita tingkatkan dedikasi, integritas dan produktivitas dalam berkarya, karena banyak yang tidak mengalkami hal seberuntung diantara kita yang dapat pekerjaan, posisi, dan mendapat kepercayaan. Mari kita gunakan sebaik-baiknya karena semua akan berakhir. Selagi masa ada waktu kita gunakan semua hanya bagi DIA. 

PAK Menggemakan Kalam Hidup 

                   Melalui PAK banyak orang bukan hanya diperkenalkan kepada Juru selamat tetapi juga mengalami dan meneguk kelegaan di dalam DIA. Dicelikan mata batiniahnya untuk melihat Injil yang murni dalam suara kebenaran yang sejati sehingga bukan hanya menjadi pendengar setia semata, tetapi juga senantiasa menjadi pelaku kebenaran yang diejawantahkan dalam keseharian. Perwujudan ini tidaklah mudah dan se simple yang diuraikan, mereka butuh figur, role model untuk diteladani. Bila dicermati dengan seksama, batiniah yang murni mampu melihat keadaan wajah dunia semakin buruk. Dunia dengan segala tipu daya nya yang ditunggangi oleh iblis, menjadikan dunia yang sudah terkutuk benar-benar dibuatnya mampu mempesona dengan segala kemolekannya yang anggun untuk memikan semua insan agar mengikuti dan terpikat dalam percintaannya (bnd. Amsal 6:25; Matius 4:8; 18:7). Karena kita telah lama berada di dunia, maka filososfi dunia setidaknya melekat oleh budaya dan kebiasaan yang telah lama dikerjakan mulai dari nenek moyang hingga kepada orang tua dan diteruskan kepada generasi penerus. Sesuatu yang dianggap wajar, lumrah dan sebagai sesuatu yang memang sudah biasa dikerjakan. Manusia telah beralih pandang kepada segala kenikmatan yang dunia tawarkan, sehingga tak elak semua insani mengejar kemapanan hidup sebagai pemenuhan hidup dan prestise. 

Kendali hidup hanya berfokus pada hidup untuk makan, hidup untuk dinikmati, hidup untuk existensi prestise, dan sebagainya. Pada hal Injil dengan tegas bahwa hidup ini singkat. PAK harus menjadi lampu pijar yang mampu membuka kegelapan mata manusia diakhir jaman ini untuk celik mata batiniahnya, bahwa pandemi yang harus ditakuti bukan pandemi suatu wabah karena virus atau penyakit tetapi pandemi ketiadak-berkenanan seseorang di mata Tuhan. Virus yang ditakuti bukan Covid-19 yang hanya dapat membunuh lahiriah. Virus dosalah yang mampu membunuh tubuh dan jiwa hingga dikekekalan tidak mendapat tempat dalam perkenanan-Nya. PAK harus menjadi Kalam Hidup yang menghidupkan Suara Kebenaran, yakni Firman-Nya dalam diri setiap orang percaya dimulai dari diri guru PAK secara nyata. Alkitab nya orang Kristen hanyalah teks dan cetakan semata, itu hanya tulisan mati namun itu akan menjadi hidup yang digambarkan dalam terang perbuatan orang percaya, dan guru PAK. Kalam tidak akan selamanya menjadi hidup bila hanya diperkatan, diperdengarkan dan disampaikan dalam bentuk digital dan kepiawaian dukungan teknologi. Kalam akan hidup bila kita yang tahu bahwa kebenaran itu harus dihidupkan dalam diri setiap orang percaya. Ini akan menjadi paradigma baru. Ini butuh tekad, nekad dan komitmen yang bulat disertai konsistensi yang tinggi untuk orang percaya mau berubah, mau bertobat, meninggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru seturut kehendak-Nya. Harus berani meninggalkan percintaan dunia dengan segala kenikmatannya. Bukan berarti menyendiri dan lain sendiri. Semua fasilitas yang tersedia kita bisa gunakan dan nikmati dengan tanggung jawab namun tidak terikat. Semua pasti dilepaskan saat usia berbatas kuota berakhir.


PAK harus dapat meng-influence sebagai virus yang positif, (guru PAK, orang percaya) dapat menjadi imun untuk memberi kekebalan batiniah bagi sesama dan orang percaya untuk tidak terpengaruh lagi oleh kecantikan, dan  kemolekan dunia. Tidak instan, setidaknya mereka melihat figur yang dapat dicontoh melalui cara hidup orang percaya. Kinerja PAK bukan semata, berkunjung, diakonia, berkotbah, mengajar, dan penatalayanan lainnya. Kinerja PAK yang konsisten, PAK harus mampu mengubah pola pikir atau mind set orang percaya untuk hidup dalam kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam  Kristus (Phroneo). Mengubah paradigma lama bukanlah hal yang mudah dan semudah mengatakannya. Perlu perjuangan keras yang dimulai dari diri orang tersebut, namun jangan putus asa. Sebagai orang PAK, kita harus memulainya lebih dulu, berjuang mengubah cara hidup yang terbiasa dilakukan oleh kebanyakan manusia untuk bersedia rela mengubah mindset dan mau dibentuk dalam belajar kebenaran dalam firman-Nya, dan menyerahkan diri siap digarap oleh Roh Kudus.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.