Pandemi
oh pandemi, menyita waktu yang tidak sebentar, menyita tenaga, perasaan yang
sangat besar, memakan korban jiwa dalam jumlah besar. Hampir diseluruh belahan
dunia keadaan ini makin terus berlanjut dan seakan tidak tahu kapan
berakhirnya. Kerugian besar dalam jumlah yang tidak sedikit, telah membuat
sebagian besar negara mengalami devisit, beberapa usaha masyarakatnya ada yang
bangkrut alias gulung tikar yang berdampak kepada PHK besar-besaran para pekerjanya. Instruksi imbauan
pemerintah untuk stay home, work from home (WFH), social distancing, physical
distancing terus digelarkan agar supaya bisa memutus mata rantai penyebaran
wabah virus Covid-19.
Semua instansi, lembaga, institusi
dan organisasi yang berada di wilayah perhatian pemerintah, wajib melaksanakan
imbauan tersebut, hingga dikeluarkan program PSBB (Pembatasan Sosial Berskala
Besar), walau ada sebagian masyarakat yang tidak taat. Namun ada sebagian besar
yang menaatinya. Imbauan ini bukan hanya untuk stay home, melakukan aktivitas
pekerjaan dari rumah tapi juga meniadakan kegiatan yang mengundang keramaian,
seperti ibadah/kebaktian, sholat, pengajian, studi, meeting, dan sebagainya. Masyarakat
juga diimbau untuk senantiasa memakai masker hidung dan mulut khususnya saat
berpergian dan keluar rumah. Disarankan juga tidak berpergian keluar rumah
tanpa keperluan yang pasti, apalagi berada dikeramaian. Sangat disarankan
terutama bagi mereka yang sekembalinya dari berpergian sebelum masuk rumah
untuk segera mandi dan berganti pakaian. Pakaian yang kotor dari luar dipisahkan
dan tidak menyimpan di dalam ruangan melainkan diluar dari ruang rumah.
Dianjurkan untuk sesering mungkin mencuci tangan dengan sabun dan dengan air
mengalir, bila kondisi tertentu gunakan sanitizer, saat sebelum dan sesudah
memegang suatu benda, uang dan sebagainya. Menggunakan sarung tangan juga
sangat dianjurkan dalam hal ini. Beberapa
vendor tidak sedikit menutup sementara, seperti perusahaan, kantor-kantor,
toko, ruko, maskapai penerbangan, mal, plaza, pasar tradisional. Keadaan ini
memakan waktu serta biaya tidak sedikit untuk biaya operasional perawatannya. Situasi
dan keadaan ini akan terus berlangsung sampai semuanya kondusif dan aman.
Kebiasaan menutup hidung dan mulut
dengan menggunakan masker atau bahkan menggunakan tameng wajah, sesering
mungkin mencuci tangan atau bahkan dengan sanitizer secara berkala, adalah
merupakan kebiasaan yang dapat dikatakan sudah membiasa atau membudaya
ditengah-tengah masyarakat secara umum walau tidak semua sadar akan imbauan ini.
Ajakan untuk hal ini menjadi paradigma baru di kala pandemi. Kiranya menjadi
pembiasaan yang positif selanjutnya kedepan bagi bangsa dan masyarakat Indonesia. Pola hidup bersih, makan-makanan
yang sehat dan bergizi disertai suplemen vitamin menjadi andalan untuk
dikonsumsi guna meningkatkan imun tubuh. Di Jepang kondisi ini sudah menjadi
budaya bahkan jauh sebelum pandemi wabah ini terjadi. Kebiasaan masyarakat
Jepang sudah terbiasa menggunakan masker hidung dan mulut saat berada di luar
rumah, walau belum sepenuhnya dilakukan namun sudah hampir menjadi kebiasaan
yang terjadi. Pola hidup seperti ini sepatutnya menjadi pembelajaran dan
pembiasaan yang kondusif terus menerus dan membudaya. Jangan karena situasi dan
kondisi saat wabah ini datang lalu terbiasa dengan anjuran tersebut, tapi
setelah reda, kembali ke pola lama.
Ada satu hal yang sangat menarik
selama pandemi ini, banyak masyarakat saat berada diluar rumah atau melakukan
aktivitas kegiatan dengan menggunakan masker hidung dan mulut. Ini menjadi
lukisan sejarah bagi bangs aini, yakni di mana semua lapisan masrakat
disadarkan untuk berlaku hidup sehat. Disamping itu lahirnya rasa kepedulian
sosial disekitar lingkungan dan semua lapisan masyarakat dengan program membagi
sembako secara bertahap, seperti yang dipelopori oleh pemerintah pusat. Hampir
disemua wilayah RT, RW, Kelurahan, dan instansi terkait bahkan lapisan
masyarakat melakukan hal serupa. Indahnya berbagi, hidup sehat dan senantiasa
mengikuti protokol yang pemerintah imbaukan telah menjadi budaya dan paradigma
baru di kala pandemi ini. Semoga hal ini terus berlangsung menjadi kebiasaan
yang baik kedepannya. Nilai-nilai dan norma budaya masyarakat yang tidak lagi
dipsahkan oleh faktor budaya, suku, agama dan golongan.
Paradigma senantiasa akan tercipta
disebabkan oleh faktor perspektif oleh sikon yang terjadi dan sedang
berlangsung. Kecerdasan tiap orang memiliki perspektif yang ragam, namun walau
demikian akan menjadi sangat kuat dan menularkan kepada yang lain untuk diikuti
menjadi keseragaman. Hal ini akan melahirkan paradigma baru, di mana semua
insani turut sepenanggungan dan berusaha sepakat untuk menciptakan suasana
kembali normal atau baru sama sekali untuk kesejahteraan bersama.
Semua insan pasti mendambakan keadaan
ini kembali normal, dimana segala aktivitas kembali berjalan seperti semula
kala. Tidak ada lagi pembatasan bersakala besar, asyik menonton di sinema
theather, berenang bersama, menghadiri resepri pernikahan, berjemaah, dan
sebagainya. Kita semua ingin kembali kondusif dan wabah pandemi ini tidak lagi
menjadi teror karena hampir setiap hari ditemukan kasus terpapar dan meninggal.
Sewajarnya harapan dan doa kita semua kembali normal sediakala. Dunia tidak
lagi menjadi ramah dan ideal untuk dihuni oleh manusia. Keadaan sesungguhnya memang dunia
bukanlah tempat yang nyaman untuk dihuni. Menurut sumber Alkitab, sejak lusifer
memberontak dan ingin menyamai yang Maha Kuasa, Allah Bapa, ia (lusifer) gagal
dalam merebut tahlah Allah, sehingga ia dibuang ke bumi, di mana planet manusia
huni dan tempati. Di sisi lain manusia juga gagal dalam menjalankan mandat, dan
condong lebih menggunakan dan menuruti kehendak bebasnya (free will), sehingga
manusia terpisah dari Allah, saat keduanya (Adam dan Hawa) melanggar Titah-Nya.
Mereka dikeluarkan dari Taman eden. Peristiwa dibuangnya lusifer dan
pemberontakan manusia terhadap mandat Allah menjadikan bumi terkutuk. Manusia
telah kehilangan kemuliaan gambar ilahi dalam diri mereka (Roma 3:23).
Paradigma
baru terhadap langit baru dan bumi yang baru; jarang sekali bahkan langka
seseorang memikirkan keadaan dunia yang akan datang, kehidupan yang akan
datang. Kehidupan yang sekarang kita jal;ani sekarang ini hanyalah sementara,
semu dan tidak ideal. Ideal hidup kita sesungguhnya bukan karena faktor
kemapanan dan idealis menurut cara pandang kebanyakan orang. Injil dengan jelas
memberi kesaksian, bahwa dunia ini telah terkutuk dari bentuk pelanggaran dosa
ciptaan-nya, manusia dan lusifer, sehingga Allah tidak menjadikan dunia sebagai
samayim (surga) tetap, melainkan ada kehidupan yang akan datang bagi mereka
yang setia dan taat melakukan kehendak Bapa. Keberadaan dosa manusia telah
membuat ketercemaran hubungan yang harmonis antara Allah dan manusia. Bumi
semakin rusak dengan segala eksistensinya demikian juga kebobrokan moralitas
manusia. Namun demikian, masih ada tersisa anak manusia, orang percaya, yang
masih mempertahankan untuk hidup tidak bercacat – tidak bercela. Masih ada
diantaranya yang mau untuk hidup dalam kesuciaan dan tidak terpikat terhadap
dunia.
Pandemi ini pasti melelahkan banyak
orang dan instansi yang terkait. Menurut beberapa para pakar yang mengamati,
sepertinya pandemi wabah ini belum cepat selesai bahkan diperkirakan akan ada
gelombang kedua. Siapa yang tahu kedepannya bakal akan terjadi demikian, namun
yang sudah pasti bahwa dunia bukanlah tempat yang ideal untuk dihuni. Kenyamanan
kita hanya sementara, jangan terikat. Selagi ada waktu kita bersama keluarga
biarlah kita efektif menggunakan waktu tersebut untuk menjaga keluarga, mencintainya
dan saling menyayangi. Selagi kita masih dapat melakukan aktivitas bekerja,
biarlah kita tingkatkan dedikasi, integritas dan produktivitas dalam berkarya,
karena banyak yang tidak mengalkami hal seberuntung diantara kita yang dapat
pekerjaan, posisi, dan mendapat kepercayaan. Mari kita gunakan sebaik-baiknya
karena semua akan berakhir. Selagi masa ada waktu kita gunakan semua hanya bagi
DIA.
PAK Menggemakan Kalam Hidup
Melalui PAK banyak orang bukan hanya diperkenalkan kepada Juru selamat tetapi juga mengalami dan meneguk kelegaan di dalam DIA. Dicelikan mata batiniahnya untuk melihat Injil yang murni dalam suara kebenaran yang sejati sehingga bukan hanya menjadi pendengar setia semata, tetapi juga senantiasa menjadi pelaku kebenaran yang diejawantahkan dalam keseharian. Perwujudan ini tidaklah mudah dan se simple yang diuraikan, mereka butuh figur, role model untuk diteladani. Bila dicermati dengan seksama, batiniah yang murni mampu melihat keadaan wajah dunia semakin buruk. Dunia dengan segala tipu daya nya yang ditunggangi oleh iblis, menjadikan dunia yang sudah terkutuk benar-benar dibuatnya mampu mempesona dengan segala kemolekannya yang anggun untuk memikan semua insan agar mengikuti dan terpikat dalam percintaannya (bnd. Amsal 6:25; Matius 4:8; 18:7). Karena kita telah lama berada di dunia, maka filososfi dunia setidaknya melekat oleh budaya dan kebiasaan yang telah lama dikerjakan mulai dari nenek moyang hingga kepada orang tua dan diteruskan kepada generasi penerus. Sesuatu yang dianggap wajar, lumrah dan sebagai sesuatu yang memang sudah biasa dikerjakan. Manusia telah beralih pandang kepada segala kenikmatan yang dunia tawarkan, sehingga tak elak semua insani mengejar kemapanan hidup sebagai pemenuhan hidup dan prestise.
Kendali
hidup hanya berfokus pada hidup untuk makan, hidup untuk dinikmati, hidup untuk
existensi prestise, dan sebagainya. Pada hal Injil dengan tegas bahwa hidup ini
singkat. PAK harus menjadi lampu pijar yang mampu membuka kegelapan mata
manusia diakhir jaman ini untuk celik mata batiniahnya, bahwa pandemi yang
harus ditakuti bukan pandemi suatu wabah karena virus atau penyakit tetapi pandemi
ketiadak-berkenanan seseorang di mata Tuhan. Virus yang ditakuti bukan Covid-19
yang hanya dapat membunuh lahiriah. Virus dosalah yang mampu membunuh tubuh dan
jiwa hingga dikekekalan tidak mendapat tempat dalam perkenanan-Nya. PAK harus
menjadi Kalam Hidup yang menghidupkan Suara Kebenaran, yakni Firman-Nya dalam
diri setiap orang percaya dimulai dari diri guru PAK secara nyata. Alkitab nya
orang Kristen hanyalah teks dan cetakan semata, itu hanya tulisan mati namun
itu akan menjadi hidup yang digambarkan dalam terang perbuatan orang percaya,
dan guru PAK. Kalam tidak akan selamanya menjadi hidup bila hanya diperkatan,
diperdengarkan dan disampaikan dalam bentuk digital dan kepiawaian dukungan teknologi.
Kalam akan hidup bila kita yang tahu bahwa kebenaran itu harus dihidupkan dalam
diri setiap orang percaya. Ini akan menjadi paradigma baru. Ini butuh tekad,
nekad dan komitmen yang bulat disertai konsistensi yang tinggi untuk orang
percaya mau berubah, mau bertobat, meninggalkan manusia lama dan mengenakan
manusia baru seturut kehendak-Nya. Harus berani meninggalkan percintaan dunia
dengan segala kenikmatannya. Bukan berarti menyendiri dan lain sendiri. Semua fasilitas
yang tersedia kita bisa gunakan dan nikmati dengan tanggung jawab namun tidak
terikat. Semua pasti dilepaskan saat usia berbatas kuota berakhir.
PAK harus dapat meng-influence
sebagai virus yang positif, (guru PAK, orang percaya) dapat menjadi imun untuk
memberi kekebalan batiniah bagi sesama dan orang percaya untuk tidak
terpengaruh lagi oleh kecantikan, dan kemolekan dunia. Tidak instan, setidaknya mereka melihat figur
yang dapat dicontoh melalui cara hidup orang percaya. Kinerja PAK bukan semata,
berkunjung, diakonia, berkotbah, mengajar, dan penatalayanan lainnya. Kinerja PAK
yang konsisten, PAK harus mampu mengubah pola pikir atau mind set orang percaya
untuk hidup dalam kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga
dalam Kristus (Phroneo). Mengubah paradigma lama bukanlah hal yang
mudah dan semudah mengatakannya. Perlu perjuangan keras yang dimulai dari diri
orang tersebut, namun jangan putus asa. Sebagai orang PAK, kita harus memulainya
lebih dulu, berjuang mengubah cara hidup yang terbiasa dilakukan oleh
kebanyakan manusia untuk bersedia rela mengubah mindset
dan mau dibentuk dalam belajar kebenaran dalam firman-Nya, dan menyerahkan diri
siap digarap oleh Roh Kudus.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.