Beberapa tahun silam, ketika saya mengajar PAK di kelas unit SMP, ada seorang murid bertanya kepada saya; “Pak Joe, maaf, saya mau bertanya…” Silahkan nak, jawab saya. “Apakah Tuhan itu ada?”, “ Kalau Tuhan itu ada kenapa semua terjadi begitu saja, walau mungkin ada orang yang sudah berdoa kepada-Nya?”
Saya tertegun dengan pertanyaan anak ini, sambil terus menatap kepadanya,
membuat suasana kelas menjadi hening karena beberapa detik saya terdiam. Murid-murid
saya tahu kenal keadaan saya, bila saya mengajar dan sesaat terdiam berarti
siswa harus memperhatikan dengan seksama atau karena sebagian siswa ada yang bicara. Tapi
kali ini saya terdiam karena tertegun dan merasa tertemplak dengan pertanyaan
tersebut.
Sesaat suasana hening beberapa
detik, sementara saya segera sadar dan bergumam..Hmmm, pertanyaan yang baik dan
patut untuk kita ketahui bersama jawabannya. Nak, Tuhan memang tidak ada…gegerlah
kelas. Semua pada argumen silih berganti. Saya membiarkan sesaat hingga hampir beberapa
menit kemudian, saya berdiam tapi kali ini beberapa siswa tidak bisa mentolerir
pernyataan saya, hingga saya lipatkan tangan saya sambil berdiri diam membelakangi
white board. Sejenak setelah itu semua siswa secara perlahan diam merata. Satu menit
kemudian saya menghela nafas dan mengulangi pernyataan saya tadi; “Tuhan memang
tidak ada.., tapi ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak mencari-Nya dengan
sungguih-sungguh!” anak-anak sekalian, saya kan belum selesai bicara tadi. Dalam
Injil dikatakan bahwa carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui..Tuhan tidak
murahan. Siapa pula kita ini? Kita sebagai manusia harusnya sadar diri dan
senantiasa memiliki kerinduan mencari wajah-Nya. Tuhan adalah Pribadi yang
Agung, Dia Maha Suci. Keberdosaan kita membuat kita terpisah jauh dari
kemuliaan-Nya(Roma 3:10, 23), namun karena begitu besar kasih-Nya kepada manusia, maka Allah
Bapa mengirimkan, mengutus Anak-Nya yang Tunggal, yakni Yesus Kristus ke dalam
dunia (Yohanes 3:16). Allah menetapkan suatu bangsa untuk menerima Kristus sebagai jalan
keselamatan bagi banyak bangsa dan ternyata bangsa ini, Israel, menolak dan
menyalibkan Dia hingga mati di kayu salib. Hari ketiga, IA bangkit dari
kematian (Lukas 24:7) dan memproklamirkan ke-Tuhanan-Nya. Karena ketaatan dan
kesucian hidup yang dikerjakan-Nya sehingga Allah Bapa, memberi kuasa di bumi
dan di surga kepada Tuhan Yesus Kristus untuk memerintah atas segala alam
semesta. Tuhan Yesus Kristus telah membuktikan kesucian dan ketaatan kepada
Allah Bapa, jadi lucifer yang telah memberontak terbukti salah. Pelanggaran Adam
dan Hawa atas ketidaktaatan dan kesalahan wewenang menggunakan free will telah
dibuktikan melalui keadaan saat Yesus hidup selama 33 tahun bersama-sama orang
bangsa Yahudi saat itu. IA hidup tidak bercela, tidak bercacat. Tidak didapatinya
pelanggaran dosa (Yoh.1:29; 2Kor.5:21; Gal.1:3,4; 1Yoh.2:2,12; 3:5). IA juga
tidak diperankakan oleh darah dan daging, secara biologis tapi ketaatan-Nya
dibuktikan hingga mati di tas kayu salib tanpa menggunakan kuasa keilahian-Nya
(Filipi 2:6-7).
Tuhan Yesus Kristus setelah 40 hari dari kebangkitan-Nya, IA naik dan
terangkat ke surga disaksikan oleh para rasul, murid-murid-Nya. Sesuai janji-Nya
bahwa sepuluh hari setelah kenaikan-Nya, maka Ia curahkan Roh Kudus memenuhi
atas mereka para rasul. Para rasul diberi kuasa untuk memberitakan kabar baik
keseluruh penjuru dunia. Keadaannya mereka ada yang binasa karena Injil dan
dianiaya. Kekristenan mengalami masa jaya ketika Kontantinus Agung meng-kristenkan Roma namun itu tidak l;ama karena masa sukar dan kelam menimpa
orang-orang Kristen. Aniaya besar bagi mereka yang menjadi pengikut Kristus,
yang di sebut Kristen. Orang-orang Kristen ditangkap, dianiaya bahkan dihukum
mati dengan cara keji dan biadab, tidak manusiawi. Ada yang dilepas ditengah
gelanggang dan kemudian dilepaskan beberapa ekor singa yang lapar untuk
menerkam dan memakan mereka. Mereka berteriak memanggil nama Tuhan, berdoa dan
bernyanyi pujian bagi Tuhan, tapi sunyi sepi, seakan Tuhan tidak ada saat
mereka membutuhkan pertolongan. Kekristenan mengalami kekelaman pada masa itu. Bila
pada kini kita bisa hidup dan percaya Tuhan itu ada, lalu apa makna dan faedahnya
bagi kita? Mengapa orang mencari dan membutuhkan Tuhan? Jelas, bahwa ada ruang
kosong dalam relung hati batiniah manusia yang tidak bisa di isi oleh apapun
selain Tuhan. Namun seberapa banyak sih yang menyadari hal ini, bahwa ada
pencipta atas hidup ini? Tidak banyak, saya kira. Kenyataannya, manusia lebih
sibuk dengan segala aktivitasnya. Lebih fokus kepada pemenuhan diri secara
wajar yang dilakukan oleh kebanyakan orang, kemapanan hidup dan berjuang
memenuhinya dengan segala cara. Citra diri, hormat dan peningkatan strata
finance diupayakan maksimal agar di mata sesama dihargai dan respect. Semua itu
tidaklah salah dan keliru. Tapi bila ini menjadi fokus dan tujuan hidup semata,
maka kelak kita hanya menghabiskan waktu di usia kita dengan kuota berbatas waktu,
hanya untuk menyelenggarakan pemenuhan hidup yang tidak ada kepuasan dan
endingnya. Misalnya seseornag yang masih kanak-kanak, maka orang tua mau
anaknya cepat besar. Setelah besar biar cepat sekolah, lalu naik peringkat ke
unit level selanjutnya hingga ke perguruan tinggi. Setelah kuliah biar mapan
bisa bekerja di salah satu perusahaan dan
lembaga ternama. Sesudah mapan kerja, diharapkan bisa membeli rumah, kendaraan
dan berkeluarga. Setelah berkeluarga diharapkan mendapatkan momongan. Setelah mendapatkan
momongan juga bisa membahagiakan orang tua dengan kehadiran cucu, maka selanjutnya
kehidupan circle berulang seperti di awal tadi. Bagaimana supaya anak atau cucu
cepat besar, cepat bisa sekolah, bisa kuliah dimana dan seterusnya. Bila ini
menjadi circle tujuan hidup semata , lalu sementara kita tidak memikirkan
pemenuhan kebutuhan batiniah agar digarap oleh Roh Kudus, maka kelak kita hanya
terperangkap dalam hal kebutuhan lahiriah semata. Ketika ajal menjemput, sudah
pasti kita tak dikenal oleh Dia, Sang Pemilik surga. Kita hanya kenal Tuhan sebatas
dengar apa kata pengkotbah, apa kata Alkitab, sebatas sejarah semata dan tidak
mengenal secara pribadi, siapa itu Tuhan dan pribadi-Nya. Bila kita tidak kenal
secara pribadi sudah jelas kita tidak dapat disebut beriman kepada-nya. Sebab percaya
saja tidak cukup.
Percaya itu melakukan apa yang menjadi objek yang dipercayai. Bila kita
tidak menjadi pelaku firman (kehendak-Nya), maka sudah jelas kita akan binasa
di bumi dan di kekekalan kelak (bnd. Matius 7:21-23). Jadi jika seseorang
berkata apakah ada Tuhan, jawabannya jelas tidak ada, karena yang bersangkutan
tidak mencarinya. Namun ketika seseorang mencari, apakah tujuan utama ia
mencari Tuhan, apakah Tuhan dijadikan objek untuk pemenuhan berkat bagi
dirinya, bagi keluarganya dan bagi kepentingan-kepentingan yang lain semata? Kebanyakan
orang Kristen menjadikan Tuhan sebagai objek berkat pemenuhan kepentingan diri.
Tuhan tidak dibutuhkan sebagai kebahagiaan hidup untuk melakukan apa yang dapat
menyenangkan hati-Nya. Toh segala kebutuhan kita dipelihara-Nya, jadi
sesungguhnya asal ada makan dan pakaian, cukup. Bukan neko-neko untuk
berlebihan dalam meraih kekayaan tanpa tanggung jawab ataupun dengan kerja
keras tapi motivasinya hanya untuk terpandang, mendapat berkat-berkat fana
semata. Berkat kekal kita ialah di Sana, di langit baru dan bumi yang baru. Keadaan
diri ini sudah rusak, rusak karena dosa dan pengaruh filososfi dunia dan
keadaan sekitar kita yang sudah terkontaminasi. Jiwa dan pikiran kita sudah
tercangkok pola hidup manusiawi yang tercandui oleh kedagingan semata. Kita harus
kembali kepada pola patern seperti yang Tuhan Yesus kerjakanselama Ia di bumi. Kita
harus menanggalkan mnausia lama dan mengenakan kodrat ilahi. Ini butuh proses
yang panjang tapi akan menjadi cepat bila kita punya tekad, nekad dan keuletan
untuk berani memangkas semua unsur
kedaginagn untuk hal-hal yang tidak mutlak. Kebutuhan tidak sama dengan
keinginan. Kebutuhan memang harus dipenuhi tapi harus seimbang dengan keinginan
yang kebanyakan berdasarkan unsur ketidakpuasan atau merasa cukup dengan syukur.
Jangan sampai diperdaya oleh financial dan kemewahan sehingga kita akan lebih
merasa betah di bumi. Keadaan tinggal kita di bumi hanya sementara dan
sementara itu usia kita berbatas waktu. Artinya sewaktu-waktu, Tuhan bis
apanggil pulang dan keadaan apapun yang kita miliki sama sekali tidak kita bawa
walau bisa diwariskan bahkan bisa menjadi perebutan banyak orang sebagai
sengketa. Ingat, kita lahir dengan telanjang, pulang juga dengan telanjang. Seharusnya
kita sadar diri, bahwa pemenuhan hidup akan berjalan otomatis bila disertai
tanggung jawab dengan sendirinya. Tidak perlu neko-neko dan penuh nafsu hedon.
Keadaan kita sebagai orang percaya semestinya sudah selesai dengan diri
sendiri, tidak lagi mencari kesenangan dunia yang fana. Kita butuh hiburan tapi
bukan berarti hiburan semata menjadi kebahagiaan mutlak. Kepuasan batiniah juga
harus dipenuhi yakni ketika kita duduk diam dibawah kaki Tuhan. Kepuasan lahiriah
hanya akan terus menuntut dan menuntut untuk dipuaskan tiada akhir. Ketika kita
mencari Tuhan dengan melalui doa, bersemedi (meditasi), saat teduh dan mencari
perkenanan-Nya, maka keinginan batiniah terus digairahkan untuk membara gairah
mencintai-Nya sehingga sifat kedagingan bisa kita pupuskan dengan tekad
tersebut untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup. Pada akhirnya
hidup ini hanya 70-80 tahun, kelak hidup yang kita penuhi terbatas tapi bila
kebutuhan batiniah jiwa ini sudah dikenal oleh-Nya, maka Tuhan siap menjemput
saat kita pulang nanti. Tuhan ada disetiap saat bagi mereka yang mencarinya
dengan sungguh.
Guru PAK, harus mencari
perkenanan-Nya agar senantiasa memilki aura surgawi bagi nara didik dan warga
gereja yang dilayaninya. Kita tidak hanya sebagai guru di institusi lembaga
pendidikan, banyak guru PAK juga berprofesi sebagai guru Injil, konselor,
penginjil, gembala jemaat dan pelayan Tuhan di mana pun ia berada, harus
benar-benar mengalami Tuhan dan mengerti benar Kebenaran dari Injil yang murni.
Sebab Kristus datang kedunia pada kali pertama bukan dengan maksud untuk
pengadaan berkat secara lahiriah. Kristus datang dengan maksud penyelamatan. Kedatangan-Nya
kali kedua, adalah untuk menjemput mereka yang layak dan dikenal karena intim
mencari dan pelaku kebenaran serta menghakimi mereka yang percaya tapi tidak
melakukan kehendak-Nya. Dalam hal ini guru PAK sangat bertangg jawab terhadap
nara didik dan warga gereja yang dilayaninya, untuk membawa mereka kepada jalan
yang benar dan tentunya disertai dengan pola yang baik dari ejawantah segenap
aspek hidup guru PAK itu sendiri sebagai role model teladan hidup yang patut di
contoh dan figur yang menginpirasi. Selamat berkarya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.