3 Pilar

3 Pilar

Senin, 11 Mei 2020

TUHAN TIDAK ADA (?)


Beberapa tahun silam, ketika saya mengajar PAK di kelas unit SMP, ada seorang murid bertanya kepada saya; “Pak Joe, maaf, saya mau bertanya…” Silahkan nak, jawab saya. “Apakah Tuhan itu ada?”, “ Kalau Tuhan itu ada kenapa semua terjadi begitu saja, walau mungkin ada orang yang sudah berdoa kepada-Nya?”

Saya tertegun dengan pertanyaan anak ini, sambil terus menatap kepadanya, membuat suasana kelas menjadi hening karena beberapa detik saya terdiam. Murid-murid saya tahu kenal keadaan saya, bila saya mengajar dan sesaat terdiam berarti siswa harus memperhatikan dengan seksama atau karena sebagian siswa ada yang bicara. Tapi kali ini saya terdiam karena tertegun dan merasa tertemplak dengan pertanyaan tersebut.

                Sesaat suasana hening beberapa detik, sementara saya segera sadar dan bergumam..Hmmm, pertanyaan yang baik dan patut untuk kita ketahui bersama jawabannya. Nak, Tuhan memang tidak ada…gegerlah kelas. Semua pada argumen silih berganti. Saya membiarkan sesaat hingga hampir beberapa menit kemudian, saya berdiam tapi kali ini beberapa siswa tidak bisa mentolerir pernyataan saya, hingga saya lipatkan tangan saya sambil berdiri diam membelakangi white board. Sejenak setelah itu semua siswa secara perlahan diam merata. Satu menit kemudian saya menghela nafas dan mengulangi pernyataan saya tadi; “Tuhan memang tidak ada.., tapi ini hanya berlaku bagi mereka yang tidak mencari-Nya dengan sungguih-sungguh!” anak-anak sekalian, saya kan belum selesai bicara tadi. Dalam Injil dikatakan bahwa carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui..Tuhan tidak murahan. Siapa pula kita ini? Kita sebagai manusia harusnya sadar diri dan senantiasa memiliki kerinduan mencari wajah-Nya. Tuhan adalah Pribadi yang Agung, Dia Maha Suci. Keberdosaan kita membuat kita terpisah jauh dari kemuliaan-Nya(Roma 3:10, 23), namun karena begitu besar kasih-Nya kepada manusia, maka Allah Bapa mengirimkan, mengutus Anak-Nya yang Tunggal, yakni Yesus Kristus ke dalam dunia (Yohanes 3:16). Allah menetapkan suatu bangsa untuk menerima Kristus sebagai jalan keselamatan bagi banyak bangsa dan ternyata bangsa ini, Israel, menolak dan menyalibkan Dia hingga mati di kayu salib. Hari ketiga, IA bangkit dari kematian (Lukas 24:7) dan memproklamirkan ke-Tuhanan-Nya. Karena ketaatan dan kesucian hidup yang dikerjakan-Nya sehingga Allah Bapa, memberi kuasa di bumi dan di surga kepada Tuhan Yesus Kristus untuk memerintah atas segala alam semesta. Tuhan Yesus Kristus telah membuktikan kesucian dan ketaatan kepada Allah Bapa, jadi lucifer yang telah memberontak terbukti salah. Pelanggaran Adam dan Hawa atas ketidaktaatan dan kesalahan wewenang menggunakan free will telah dibuktikan melalui keadaan saat Yesus hidup selama 33 tahun bersama-sama orang bangsa Yahudi saat itu. IA hidup tidak bercela, tidak bercacat. Tidak didapatinya pelanggaran dosa (Yoh.1:29; 2Kor.5:21; Gal.1:3,4; 1Yoh.2:2,12; 3:5). IA juga tidak diperankakan oleh darah dan daging, secara biologis tapi ketaatan-Nya dibuktikan hingga mati di tas kayu salib tanpa menggunakan kuasa keilahian-Nya (Filipi 2:6-7).

Tuhan Yesus Kristus setelah 40 hari dari kebangkitan-Nya, IA naik dan terangkat ke surga disaksikan oleh para rasul, murid-murid-Nya. Sesuai janji-Nya bahwa sepuluh hari setelah kenaikan-Nya, maka Ia curahkan Roh Kudus memenuhi atas mereka para rasul. Para rasul diberi kuasa untuk memberitakan kabar baik keseluruh penjuru dunia. Keadaannya mereka ada yang binasa karena Injil dan dianiaya. Kekristenan mengalami masa jaya ketika Kontantinus Agung meng-kristenkan Roma namun itu tidak l;ama karena masa sukar dan kelam menimpa orang-orang Kristen. Aniaya besar bagi mereka yang menjadi pengikut Kristus, yang di sebut Kristen. Orang-orang Kristen ditangkap, dianiaya bahkan dihukum mati dengan cara keji dan biadab, tidak manusiawi. Ada yang dilepas ditengah gelanggang dan kemudian dilepaskan beberapa ekor singa yang lapar untuk menerkam dan memakan mereka. Mereka berteriak memanggil nama Tuhan, berdoa dan bernyanyi pujian bagi Tuhan, tapi sunyi sepi, seakan Tuhan tidak ada saat mereka membutuhkan pertolongan. Kekristenan mengalami kekelaman pada masa itu. Bila pada kini kita bisa hidup dan percaya Tuhan itu ada, lalu apa makna dan faedahnya bagi kita? Mengapa orang mencari dan membutuhkan Tuhan? Jelas, bahwa ada ruang kosong dalam relung hati batiniah manusia yang tidak bisa di isi oleh apapun selain Tuhan. Namun seberapa banyak sih yang menyadari hal ini, bahwa ada pencipta atas hidup ini? Tidak banyak, saya kira. Kenyataannya, manusia lebih sibuk dengan segala aktivitasnya. Lebih fokus kepada pemenuhan diri secara wajar yang dilakukan oleh kebanyakan orang, kemapanan hidup dan berjuang memenuhinya dengan segala cara. Citra diri, hormat dan peningkatan strata finance diupayakan maksimal agar di mata sesama dihargai dan respect. Semua itu tidaklah salah dan keliru. Tapi bila ini menjadi fokus dan tujuan hidup semata, maka kelak kita hanya menghabiskan waktu di usia kita dengan kuota berbatas waktu, hanya untuk menyelenggarakan pemenuhan hidup yang tidak ada kepuasan dan endingnya. Misalnya seseornag yang masih kanak-kanak, maka orang tua mau anaknya cepat besar. Setelah besar biar cepat sekolah, lalu naik peringkat ke unit level selanjutnya hingga ke perguruan tinggi. Setelah kuliah biar mapan bisa bekerja di salah satu perusahaan  dan lembaga ternama. Sesudah mapan kerja, diharapkan bisa membeli rumah, kendaraan dan berkeluarga. Setelah berkeluarga diharapkan mendapatkan momongan. Setelah mendapatkan momongan juga bisa membahagiakan orang tua dengan kehadiran cucu, maka selanjutnya kehidupan circle berulang seperti di awal tadi. Bagaimana supaya anak atau cucu cepat besar, cepat bisa sekolah, bisa kuliah dimana dan seterusnya. Bila ini menjadi circle tujuan hidup semata , lalu sementara kita tidak memikirkan pemenuhan kebutuhan batiniah agar digarap oleh Roh Kudus, maka kelak kita hanya terperangkap dalam hal kebutuhan lahiriah semata. Ketika ajal menjemput, sudah pasti kita tak dikenal oleh Dia, Sang Pemilik surga. Kita hanya kenal Tuhan sebatas dengar apa kata pengkotbah, apa kata Alkitab, sebatas sejarah semata dan tidak mengenal secara pribadi, siapa itu Tuhan dan pribadi-Nya. Bila kita tidak kenal secara pribadi sudah jelas kita tidak dapat disebut beriman kepada-nya. Sebab percaya saja tidak cukup. 

Percaya itu melakukan apa yang menjadi objek yang dipercayai. Bila kita tidak menjadi pelaku firman (kehendak-Nya), maka sudah jelas kita akan binasa di bumi dan di kekekalan kelak (bnd. Matius 7:21-23). Jadi jika seseorang berkata apakah ada Tuhan, jawabannya jelas tidak ada, karena yang bersangkutan tidak mencarinya. Namun ketika seseorang mencari, apakah tujuan utama ia mencari Tuhan, apakah Tuhan dijadikan objek untuk pemenuhan berkat bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi kepentingan-kepentingan yang lain semata? Kebanyakan orang Kristen menjadikan Tuhan sebagai objek berkat pemenuhan kepentingan diri. Tuhan tidak dibutuhkan sebagai kebahagiaan hidup untuk melakukan apa yang dapat menyenangkan hati-Nya. Toh segala kebutuhan kita dipelihara-Nya, jadi sesungguhnya asal ada makan dan pakaian, cukup. Bukan neko-neko untuk berlebihan dalam meraih kekayaan tanpa tanggung jawab ataupun dengan kerja keras tapi motivasinya hanya untuk terpandang, mendapat berkat-berkat fana semata. Berkat kekal kita ialah di Sana, di langit baru dan bumi yang baru. Keadaan diri ini sudah rusak, rusak karena dosa dan pengaruh filososfi dunia dan keadaan sekitar kita yang sudah terkontaminasi. Jiwa dan pikiran kita sudah tercangkok pola hidup manusiawi yang tercandui oleh kedagingan semata. Kita harus kembali kepada pola patern seperti yang Tuhan Yesus kerjakanselama Ia di bumi. Kita harus menanggalkan mnausia lama dan mengenakan kodrat ilahi. Ini butuh proses yang panjang tapi akan menjadi cepat bila kita punya tekad, nekad dan keuletan untuk berani memangkas  semua unsur kedaginagn untuk hal-hal yang tidak mutlak. Kebutuhan tidak sama dengan keinginan. Kebutuhan memang harus dipenuhi tapi harus seimbang dengan keinginan yang kebanyakan berdasarkan unsur ketidakpuasan atau merasa cukup dengan syukur. Jangan sampai diperdaya oleh financial dan kemewahan sehingga kita akan lebih merasa betah di bumi. Keadaan tinggal kita di bumi hanya sementara dan sementara itu usia kita berbatas waktu. Artinya sewaktu-waktu, Tuhan bis apanggil pulang dan keadaan apapun yang kita miliki sama sekali tidak kita bawa walau bisa diwariskan bahkan bisa menjadi perebutan banyak orang sebagai sengketa. Ingat, kita lahir dengan telanjang, pulang juga dengan telanjang. Seharusnya kita sadar diri, bahwa pemenuhan hidup akan berjalan otomatis bila disertai tanggung jawab dengan sendirinya. Tidak perlu neko-neko dan penuh nafsu hedon. 

Keadaan kita sebagai orang percaya semestinya sudah selesai dengan diri sendiri, tidak lagi mencari kesenangan dunia yang fana. Kita butuh hiburan tapi bukan berarti hiburan semata menjadi kebahagiaan mutlak. Kepuasan batiniah juga harus dipenuhi yakni ketika kita duduk diam dibawah kaki Tuhan. Kepuasan lahiriah hanya akan terus menuntut dan menuntut untuk dipuaskan tiada akhir. Ketika kita mencari Tuhan dengan melalui doa, bersemedi (meditasi), saat teduh dan mencari perkenanan-Nya, maka keinginan batiniah terus digairahkan untuk membara gairah mencintai-Nya sehingga sifat kedagingan bisa kita pupuskan dengan tekad tersebut untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup. Pada akhirnya hidup ini hanya 70-80 tahun, kelak hidup yang kita penuhi terbatas tapi bila kebutuhan batiniah jiwa ini sudah dikenal oleh-Nya, maka Tuhan siap menjemput saat kita pulang nanti. Tuhan ada disetiap saat bagi mereka yang mencarinya dengan sungguh.

Guru PAK, harus mencari perkenanan-Nya agar senantiasa memilki aura surgawi bagi nara didik dan warga gereja yang dilayaninya. Kita tidak hanya sebagai guru di institusi lembaga pendidikan, banyak guru PAK juga berprofesi sebagai guru Injil, konselor, penginjil, gembala jemaat dan pelayan Tuhan di mana pun ia berada, harus benar-benar mengalami Tuhan dan mengerti benar Kebenaran dari Injil yang murni. Sebab Kristus datang kedunia pada kali pertama bukan dengan maksud untuk pengadaan berkat secara lahiriah. Kristus datang dengan maksud penyelamatan. Kedatangan-Nya kali kedua, adalah untuk menjemput mereka yang layak dan dikenal karena intim mencari dan pelaku kebenaran serta menghakimi mereka yang percaya tapi tidak melakukan kehendak-Nya. Dalam hal ini guru PAK sangat bertangg jawab terhadap nara didik dan warga gereja yang dilayaninya, untuk membawa mereka kepada jalan yang benar dan tentunya disertai dengan pola yang baik dari ejawantah segenap aspek hidup guru PAK itu sendiri sebagai role model teladan hidup yang patut di contoh dan figur yang menginpirasi. Selamat berkarya.
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.