3 Pilar

3 Pilar

Minggu, 31 Mei 2020

GEREJA BUKAN BANGUNAN


            Banyak spekulasi berpendapat bahwa sejarah gereja dimulai ketika peristiwa di Wittenberg, saat Martin Luther memaparkan 95 dalilnya dipintu gereja, sebagai awal terbangunnya gerakan roformasi dan gereja-gereja pada saat itu. Padahal bila kita telaah dan cermati di dalam Kisah Para Rasul 11:26, untuk pertama kalinya murid-murid Yesus disebut Kristen, ini adalah cikal bakal berdirinya gereja. Walau sebutan kata Kristen yang diberikan kepada mereka yang mengikut Yesus, adalah sebuah ejekan yang berarti pengikut Kristus, ajaran Kristus. Sedangkan arti Kristus sendiri adalah yang diurapi. Kekristenan pada saat itu belum sehebat pada masa kini. Kekristena pada masa murid-murid menjalaninya sungguh harus sembunyi-sembuyi. Penolakan terhadap ajaran Kristen pada waktu itu dikarenakan pengaruh Roma dan para Rabi yang menganggap bahwa Yesus Kristus bukanlah Tuhan, Ia hanya anak manusia. Kematiannya dipalsukan dan semua berita tentang kematian dan kebangkitannya juga demikian.

Sejarah Gereja pada abad pertama. Ketika membaca Alkitab, kita menemukan bahwa Tuhan Yesus mengatakan, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:18). Tuhan Yesus mendirikan Gereja-Nya di dunia ini dan mengatakan bahwa alam maut tidak akan menguasainya. Apakah arti perkataan Tuhan Yesus ini? Hal ini adalah jaminan yang diberikan kepada Gereja-Nya dan memang jaminan ini sudah dibuktikan kebenarannya di sepanjang sejarah Gereja pada satu abad pertama. Begitu banyak hal yang terjadi dan kalau dilihat dari kacamata dunia, seharusnya Gereja tidak dapat bertahan sama sekali. Dikatakan bahwa Gereja pada abad pertama berdiri menghadapi begitu banyak tantangan, yaitu serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja, penolakan-penolakan dari agama-agama lain, perpecahan di dalam Gereja sendiri, dan tekanan serta penganiayaan dari politik atau negara. Namun sejarah mencatat bahwa ketika Gereja yang didirikan oleh Tuhan Yesus mengalami tantangan-tantangan ini, Gereja terus dipelihara oleh Tuhan sendiri sehingga bukan saja bisa bertahan tetapi malah berkembang dengan pesat. Apakah yang menyebabkan hal ini bisa terjadi? Orang dunia banyak menanyakan apa rahasia di balik hal ini? Mari kita mempelajarinya dengan saksama sehingga kita, sebagai Gereja di abad ke-21, juga dapat meneruskan perjuangan Gereja yang sudah dimulai dengan sangat baik di dalam pemeliharaan Tuhan. Hal ini diperlukan demi melanjutkan sejarah Gereja sampai pada generasi yang akan datang sehingga kita dipakai Tuhan menjadi mata rantai yang meneruskan pekerjaan Tuhan melalui Gereja-Nya dan bukan menjadi pemutus rantai sejarah Gereja Tuhan.

            Aniaya besar kemudian terjadi kepada semua pengikut Kristen pada masa tersebut. Beberapa para Rasul ditangkap. Ada yang dipenggal kepalanya, ditarik dari arah berlawanan dengan beberapa ekor kuda. Ada yang dilepaskan diarena gelanggang dan dengan dilepaskannya beberapa ekor binatang buas hingga dilahap dan dicabik-cabiknya mereka hanya demi nama Kristus. Suara nyanyian pujian berubah menjadi menggelegar terikan karena cabikan binatang buas. Sesaat alunan pujian terhenti ketika tali yang terikat dikedua lengat dan kaki menarik putus dikedua rah berlawanan. Peganggalan kepala menjadi jejak rekam kesadisan bentuk penolakan terhadap kekristen pada masa itu. Namun demikian masih ada yang tetap beriman dan mereka mengadakan jam-jam pertemuan ibadah di katakomba-katakomba (kuburan). Katakomba adalah sebuah ruangan atau jalan di bawah tanah yang biasanya digunakan untuk keperluan religius. Biasanya merupakan kuburan bawah tanah yang terletak di berbagai kota Kekaisaran Roma, khususnya di Kota Roma sendiri. 

Gereja pada abad pertama biasa disebut sebagai Gereja pada zaman rasul-rasul (apostolic age). Hal ini dimulai dari hari Pentakosta (setelah kenaikan Tuhan Yesus) sampai pada kematian rasul terakhir yaitu Rasul Yohanes. Periode Apostolik ini berlangsung kurang lebih 70 tahun, dari kira-kira tahun 30-100 M. Tempat berlangsungnya adalah di tanah Palestina dan secara bertahap meluas ke daerah Siria, Asia Minor, Yunani, dan Italia dengan gereja yang pusat terdapat di kota Yerusalem, Antiokhia, dan Roma. Perkembangan Gereja ini merupakan hasil perjuangan para rasul yang diwakili oleh Rasul Petrus yang banyak mempertobatkan orang Yahudi dan Rasul Paulus yang banyak mempertobatkan orang-orang non-Yahudi. Rasul-rasul lain pun tentu saja turut berbagian dalam memberitakan Injil Yesus Kristus ke seluruh dunia. Namun di tengah-tengah kisah perkembangan Gereja Mula-mula ini, ada beberapa hal yang disayangkan terjadi seperti perpecahan di dalam gereja di Korintus. Hal ini terjadi karena adanya beberapa orang yang mengagung-agungkan orang-orang yang memberitakan Injil dan melayani jemaat di sana sehingga muncul golongan-golongan di antara jemaat. Selain itu, Gereja juga mengalami serangan dari ajaran-ajaran sesat yang menyusup ke dalam Gereja. Paulus dan Yohanes adalah rasul yang dengan sangat jelas berjuang melawan ajaran sesat ini. Paulus mencatat hal ini di dalam suratnya kepada jemaat Galatia yang mencampuradukkan Injil Yesus Kristus dengan tradisi Yahudi. Sedangkan Rasul Yohanes berperang melawan ajaran Gnostik yang mulai muncul di akhir abad pertama. Selain itu Gereja juga mengalami penolakan dari agama-agama lain yang sudah ada pada zaman itu. Namun, satu tantangan yang sangat berpengaruh terhadap Gereja adalah tekanan dan penganiayaan dari politik.

            31 Oktober 1517, seorang biarawan tak dikenal bernama Martin Luther berdiri di depan sebuah gereja di Wittenberg, kota kecil yang kini masuk wilayah Jerman. Di pintu gereja, ia nekat memaku daftar 95 dalil berisi kritik terhadap otoritas Gereja Katolik. Peristiwa itu dicatat dalam sejarah sebagai awal mula gerakan Reformasi di daratan Eropa dan seluruh dunia yang melahirkan Protestantisme. Peristiwa tindakan Martin Luther dilatarbelakangi oleh praktik indulgensi yang muncul pada abad ke-11 dan 12 saat Perang Salib masih berkobar. Gereja menjelaskannya sebagai "proses penghapusan siksa-siksa temporal di depan Tuhan untuk dosa-dosa yang sudah diampuni". Aturan indulgensi, sudah tertuang khususnya dalam Katekismus Gereja Katolik 1471. Oelh beberapa teolog dan pemikir gereja, mencatat dan menyampaikan ini awal kebanguan gereja Tuhan. Secara implisit memang demikian tetapi bila kita cerna lebih sungguh dan dalami, sesungguhnya kebangunan gereja dan gereja itu sendiri bukanlah terdiri atas bentuk bangunan belaka. 

            Gereja yang sesungguhnya adalah kehidupan orang percaya. Gereja yang hidup, bergerak dan dinamis ialah organisme yang menghidupkan kebenaran firman-Nya dalam seluruh aspek kehidupannya. Firman Tuhan hanya akan literatur semata, dalam bentuk Alkitab yang tercetak. Alkitab ini akan hidup bahkan menghidupakan insani bila orang percaya mengenakan, menghidupkan, dan meng-ejawantahkan apa yang dikatakan oleh Alkitab sebagai perkataan Tuhan Yesus Kristrus dan sebagai kehendak Bapa yang mengutus-Nya untuk dilakukan. Jika gereja hanya secara oraganisasi, nama, sinode, ataupun kegerakan perhimpunan semata, maka gereja itu adalah gereja baka. Gereja yang akan mati pada waktunya bersama bumi dalam lautan api. Sementara itu gereja yang hanya dalam format organisasi hanya akan menyisahkan pertikaian, perseteruan, ambisi, haus kekuasaan oleh pengaruh politik, kelompok dan golongan. Belum lagi pada masa dimana gereja dibawah kekuasaan negara, pada masa itu gereja benar-benar dikendalikan oleh pemerintahan raja, kekaisaran dan orang-orang yang berkepentingan menggunakan gereja untuk menarik massa dan atas nama agama. Keadaan seperti ini sangat miris dan tentunya membuat hancur hati Tuhan. Namun Tuhan tetap seakan bergeming, tidak berbuat sesuatu apapun namun yang pasti akan ada pengadilan Tuhan yang akan digelar pada saat saat keadaan bumi lenyap.

            Gereja yang hidup, bergerak dan dinamis ialah kehidupan orang percaya dimana mereka menjadi mercusuar yang menerangi banyak kapal yang terdampar ditengah laut kehidupan yang carut marut dan diselimuti awan gelap pemikiran dunia. Dunia dengan segala filosofinya telah menggelapkan mata hati dan pikiran orang percaya untuk menjadikan bumi sebagai dunia yang ideal dan nyaman untuk dihuni. Keadaan sesungguhnya bumi telah terkutuk, ketika lusifer hendak menyamai Tuhan, manusia pertama telah memberontak terhadap kehedak-Nya, menjadikan bumi (adamah= tanah) terkutuk. Adam sendiri beserta manusia selanjutnya akan dengan peluh mengolah bumi dan mencari rejeki. Padahal bumi ini sebelumnya dirancang diciptakan oleh Allah sebagai surga (Ibrani= samayim). Ketika bumi terkutuk, maka Allah merancangkan keselamatan agar supaya manusia dikembalikan kepada rancangan Allah semula, diutusnya Yesus Kristus sebagai Pokok Keselamatan. Dunia dengan segala pesonanya menampilkan kemolekannya  untuk menarik sebanyak mungkin orang percaya untuk tenggelam dalam kehanyutan manisnya cinta fana fatamorgana dunia. Keindahan dunia sesungguhnya kan sirna dan maya belaka. Keadaan cara pandang (perspektif) dan mindset manusia telah terkontamisasi oleh premis dasar yang telah membaku bahkan menjadi budaya yang diturunkan turun temurun oleh nenek moyang dan oleh hasil pemikiran manusia. Seiring zaman, perkembangan teologia terus mengalami perkembangan tentang Tuhan dan kajian teologi baik doktrin dan dogmatika kekristenan. PAK dalam hal ini mempunyai peranan unggul dan koheren terhadap tanggung jawab gereja bagi orang percaya (warga gerejanya) untuk dibina, dibimbing dan dikatekisasi dalam kebenaran-Nya.

            PAK dan gereja harus seirama dan secara koheren dalam membina warga gerejanya. Dalam hal ini guru PAK, guru Injil, konselor, mentor, aktivis, penatua, para pelayan Tuhan dan gembala jemaat, harus dan sudah mengalami pembaharuan hidup (lahir baru). Proses kelahiran baru tidak instan dan dengan waktu yang singkat. Proses kelahiran baru membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan dibutuhkan melepaskan semua. Melepaskan berarti menanggalkan bahkan bisa membunuh diri sedniri, dalam artian, membunuh kedagingan, seperti membunuh kebiasaan-kebiasaan lama, dan yang berhubungan lahiriah dan manusia lama. Keadaan perjuangan ini bagi para pelayan Tuhan akan menghidupkan Kalam dalam proses PAK itu sediri. Guru PAK dengan teologia yang sehebat dan sebagus apapun tidak akan mampu mengubah karakter seseorang (nara didik dan warga gerejanya), apabila si pembara berita (Kalam), guru PAK, pelayan Tuhan tidak lebih dulu mengalami proses kelahiran baru dan mengenakan kodrat ilahi. Untuk mengenakan kodrat ilahi seseorang harus menanggalkan manusia lama. Melepaskan dan menanggalkan manusia lama adalah bagian membunuh diri sendiri dengan mengosongkan ke-akua-an (ego), dan belajar untuk mengerti, memahami serta melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Melakukan kehendak Tuhan, membutuhkan proses dimana seseorang terus mencari dan sampai mengalami Tuhan. Pelayan Tuhan harus benar-benar sampai mengerti pikiran dan perasaan Tuhan sehingga pelayanan hidup.  Pelayanan yang hidup tidak dilandasi oleh pengalaman semata, kasih kepada Tuhan justru membuat seseorang dapat menjadi profesional dibidangnya. Bila pelayan Tuhan hidup dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan, maka apapun yang dilakukan didalam pelayanan mampu menyentuh hati dan pikiran warga gerejanya.

            Gereja yang hidup bukanlah bangunan. Bangunan sepermanen dan sebagus apapun akan usang seiring waktu. Demikian pula PAK yang hidup harus mampu memberi hidup melalui pelayanan para pelayan-Nya dalam mengayomi dan membina nara didik dan warga gerejanya. Kapasitas guru PAK (sebagai pelayan Tuhan) tidak boleh diukur secara akademisi semata. Kompetensinya terarah ketika nara didik dan warga gerejanya mengalami perubahan karakter. Pelayanan yang hidup sejatinya memberi hidup dan bukan mencari hidup. Guru PAK harus berani membayar harga seberapapun besarnya sekalipun hanya untuk menyelamatkan satu jiwa. hal ini harus menjadi landasan berpikir dan materi dalam sekolah tinggi teologia dan prodi PAK, ketika seseorang berkomitmen mengampu perkuliahan tersebut dan secara konsisten harus konkrit diterapkan sampai dipelayanan yang nyata. Pelayanan yang sesungguhnya ialah bagaimana mengubah kodrat dosa menjadi mengenakan kodrat ilahi. Perubahan ini harus diawali dari pelayan Tuhan. Pelayan Tuhan, dalam hal ini guru PAK dan teolog tidak hanya kompeten dibidangnya, mahir berteologia dan mengajar tetapi harus mampu meng-ejawantahkan firman kebenaran dalam seluruh aspek hidupnya. Ia harus menjadi figur teladan gambar Kristus yang nyata. Role model yang konkrit dan dinamis secara utuh untuk ditiru, diteladani. Banyak nara didik dan warga gereja kecewa ketika melihat guru PAK hanya pandai sebatas pengajarannya, enak didengar hanya sampai ditelinga pendengarnya, namun tidak menyentuh kalbu dan batiniah pendengarnya. Perubahan mindset pendengar ketika hati batiniahnya tersentuh. Bahkan Kalam yang ditaburkan akan hidup dan me-rhema bagi pendengarnya. PAK harus benar-benar solid dalam pengajaran dan perbuatan. Tidak ada toleransi terhadap dosa. Kesucian harus benar-benar putih dan bukan abu-abu atau hitam dalam akselerasi impelementasinya. Jika guru PAK dan pelayan Tuhan berlaku demikian, maka gereja telah mampu mengubah hidup nara didik dan warga gerejanya sehingga hidup yang dijalaninya bukan manusia lama melainkan Kristus yang hidup di dalam mereka.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]

    

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.