Dalam Matius 5:3, tertulis: “Berbahagialah
orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan
Sorga”. Setiap orang percaya pasti mengejar yang namanya kebahagiaan. Apapun
gendernya, usia, stratanya, pasti berhasrat dan memiliki impian meraih
kebahagiaan yang hendak dicapainya baik dalam terwujudnya cita-cita,
terwujudnya pemenuhan finansial, terwujudnya pencapaian gelar akademisi,
terwujudnya kemapanan hidup, nama baik dan respect dari sesamanya. Ini adalah
normal dan manusiawi. Orang gilapun mengingini kebahagiaan walau kebahagiaan
yang diraihnya tidak se-ideal bagi yang waras, tapi mereka juga mengingininya.
Demikianpun dengan mahluk hidup lainnya, hewan juga mengingini kebahagiaan
dengan tercapainya makan minum dan pemenuhan kebutuhan nalurinya. Demikianpun
dengan alam, pepohoanan dan tumbuhan, mereka juga membutuhkan udara segara yang
tidak terkontaminasi polusi, tanah yang subur dengan asupan sumber daya alam
yang membuat mereka dapat meneruskan hidup.
Hal ini menunjukkan bahwa diseluruh muka bumi ini, semua mahluk hidup
mengini meraih yang namanya kebahagiaan. Karena kebahagiaan dapat menciptakan
senyawa yang dapat memperpanjang siklus kehidupan.
Tetapi dalam kalimat
selanjutnya, ada kata “miskin: yang pasti akan dihindari oleh semua insani.
Kata miskin dalam ayat ini berarti ptokoi.
Kata ptokoi ini memiliki bentuk
tunggal ptokos berarti sangat miskin,
tidak memiliki daya sama sekali atau tidak memiliki apa-apa. Dalam bahasa
Yunani kata “miskin” selain ptokoi
terdapat juga kata lain, yaitu penikhros dan penes. Penikhros lebih menunjuk kemiskinan secara materi dunia (harta
duniawi) atau secara finansial. Jadi, kalau dijumpai kata penikhros asumsinya menunjuk pada kemiskinan finansial. Inilah
pengertian miskin yang dimengerti oleh orang pada umumnya. Bila seseorang
tertumbuk kata penikhros, maka kata
ini akan selalu dikaitkan dengan kekurangan harta. Kata penikhrosini dikenakan atau ditujukan untuk janda miskin yang
kisahnya ditulis dalam Lukas 21:2. Kata “miskin” dalam teks ini adalah penikhros. 2 Korintus 9:9, istilah Penes menunjukkan orang yang miskin, tetapi masih mampu menghidupi
diri sendiri dengan bekerja. Jadi kata penes
hendak menunjuk keadaan ekonomi seseorang yang “minim” atau pas-pasan.
Perbedaan kata penikhros dan penes dengan ptokos adalah kata “ptokos” menunjuk kemiskinan yang sangat
ekstrem, dimana si miskin tidak mampu sama sekali mencari penghidupan atas
dirinya. Sedangkan kata ptokos juga
memiliki relasional dengan kata ptossein yang berarti menundukkan badan. Hal
ini menunjukkan ketidak-berdayaan seseorang sehingga ia tidak mampu atau tidak
layak menegakkan badan. Oleh karena teks asli Alkitab kata “miskin” di sini
adalah ptokoi, maka dalam terjemahan bahasa
Inggris rata-rata (New International Version dan New King James Version), diterjemahkan:
poor ini spirit
(miskin dalam roh), sedangkan dalam
terjemahan Good News Bible diterjemahkan spiritually
poor.
Pada
zaman pra sejarah, manusia purba pada masa itu mempunyai sifat sosial nomaden,
berpindah tempat. Keingiann seperti itu secara sosiologi dan psikologi ditemui
bahwa pada masa tersebut, manusia purba sudah memiliki keinginan untuk mencapai
kebahagaiaan dalam komunitasnya, keluarga mereka. Rasa nyaman dan aman
terhindar dari hewan buas, bahkan sesama mereka yang mencoba imperialis dan
menguasai wilayah, berkecukupan pangan, terhindar dari cuaca buruk, dan
sebagainya. Seiring kemajuan peradaban, manusia purba mengalami perkembangan
budaya dan sirkuit pada otaknya, sehingga mereka mulai beradaptasi dengan
lingklungan dan mulai mengembangkan ketrampilan yang dapat mereka lakukan. Dulu
mereka nomaden, tinggal dari satu tempat ke tempat lain. Berburu dan tanpa
diolah langsung dikonsumsi dengan cara mereka. Semakin kemari, mereka tidak
lagi nomaden. Mereka tinggal menetap. Bukan lagi diatas pohon, atau di gua-gua
kecil tapi lebih secara permanen dengan bahan seadanya ataupun berada di dalam
gua dengan konstur yang lebih baik. Mereka mulai belajar mengolah makanan,
misalnya hasil buruan diolah dengan cara dimasak, dibakar/panggang. Bercocok
tanam, membuat alat-alat keramik, persenjataan tajam dari batu dan besi.
Membuat baju dari kulit hewan, semakin lanjut mulai mengenal menenun dan
seterusnya. Semua itu dikerjakan sebagai pemenuhan kebutuhan dan sebagai perkembangan
peradaban. Pemenuhan kebutuhan ini dalam ilmu ekonomi ada 3 aspek yang harus
dipenuhi, yakni kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Ketiganya akan menjadi
serasi apabila terpenuhi bagi kehidupan umat manusia. Namun bila ditelusuri
sesungguhnya semua kebutuhan-kebutuhan ini semakin usang diterpa zaman. Sebagai
contoh, dulu kebutuhan primer harus dipenuhi sebagai yang utama lalu sesudahnya
sekunder. Pada masa kini, hampir semua insani sangat membutuhkan alat
komunikasi sebagai kebutuhan primer, walau pakaian bisa ditunda untuk dibeli
atau diadakan. Makan bisa ditunda asal handphone, laptop dan gadged bisa
tersedia, soal makan minum jadi sekunder. Kenyataannya, insani bisa melakukan
tindak kejahatan hanya karena kebutuhan alat komunikasi atau gawai sebagai
primer, prioritas utama untuk membuat dirinya nyaman. Bayangkan menurut hasil
penelitian bahwa setiap 2-5 menit didapati seseorang harus kontinue membuka hp
nya dan meng-echek untuk melihat notifikasi ada berita/informasi apa, melihat
chatingan, media sosial, dan sebagainya. Fokus perhatiannya terhadap gawai
tidak bisa dihindari hampir menjadi sebagian dari jiwanya.
Mengkonsumsi
untuk pemenuhan lahiriah pada saat sekarang ini telah mengalami trendy
kekinian, fast food, fashionable, hi-tech, online, etc. keadaan ini
dikondisikan oleh vendor untuk service yang memuaskan bahkan memudahkan pola
enterpreneurship pada zaman sekarang bahkan kedepannya. Manusia senantiasa
semakin berupaya memenuhi nilai diri sebagai prestise dan style of life yang konvensional.
Mau tidak mau, semua berlomba ke arah sana. Hanya sayangnya, yang kurang mampu
dalam finansial akan terlibas oleh keadaan seperti ini. Terjadinya kesenjangan
sosial, dimana yang kaya semakin memperkaya diri, sednagkan yang marginal
semakin terpuruk. Lahirlah tindak kejahatan sebagai bentuk pemberontakan secara
tidak langsung hanya untuk memenuhi bagian hidup yang harus dipenuhi, yakni
makanan dan kecukupan uang. Walau pada dasarnya mansuai tidak akan pernah
merasa puas diri. Ia akan senantiasa memenuhi kebutuhan tersebut hingga sampai
teratas bahkan bila perlu paling teratas diatas semuanya. Padahal bila ajal
menjemput, sama sekali apa yang diperjuangkan tidak akan pernah dibawa mati. Kebobrokan
moral manusia semakin nyata yang dikanvas indah dengan ketamakan berbalur kerakusan.
Mansuai bisa menjadi serigala bagi sesamanya tanpa pandang bulu dan nilai-nilai
moralitas semakin merosot tanpa malu. Justru dalam hal ini mereka yang berlaku
demikian pantas disebut miskin walau kaya dalam keberadaan. Kepapahan terlihat
nyata ketika insani tidak lagi memiliki hati nurasi dan nalar yang sehat. Nilai-nilai
iman dan kepercayaan bahkan hampir sama sekali tidak nampak karena hampir semua
insani sekarang sedang berjalan bersama menjauhi Jalan Kebenaran dan secara
nyata menganggap itu keniscayaan.
Tuhan
dianggap tidak ada oleh sebagian masyarakat walau secara identitas beragama dan
melakukan syariat keagamaannya. Bentuk keagamaan maya dan tidak konkrit. Kenyataannya
manusia lebih memilih ber-tuhankan uang, harta benda, kehormatan, kejayaan,
nama baik, sanjungan, arogansi diri, dan hal-hal dapat menguntungkan diri
bahkan kepuasan jiwa. tanpa sungkan dapat menyingkirkan, saling menggigit dan
menelan sesama. Manusia menjadi haus kekuasaan, seks dan harta. Sesungguhnya mereka
yang demikian adalah orang-orang yang melarat secara iman. Melarat karena
kepunyaan mereka hanya belaka, semu, maya dan sementara. Iman mereka hanya
tertuang dalam kata dan simbolis religis semata namun pada kenyataannya,
tindakan wujud iman tidak sama sekali diejawantahkan dengan penurutan terhadap
apa yang dipercayainya. Percaya mereka hanya dimulut dan pikiran. Hati mereka
hanya mencari timbal balik dari apa yang dianggap sebagai percaya tanpa berani
memberi diri sebagai korban dari apa yang dipercayainya. Melarat iman karena
orang-orang tersebut tidak mendapat perkenanan-Nya. Sesungguhnya mereka miskin
bahkan melarat sekalipun keberadaannya jauh di atas keberadaan sesamanya. Sama halnya
dalam kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin (Lukas 16:19-31), orang kaya
memang menikmati kejayaannya namun ia melarat dalam iman dibandingkan dengan
Lazarus yang miskin dalam kepapahan namun ia dipandang kaya di mata Allah. Orang
kaya tersebut senantiasa bersukaria dalam kemewahannya sedangkan Lazarus dalam
keseharian berjuang atas hidupnya. Hal ini berarti sebagai orang percaya harus
memperhatikan mereka yang harus ditolong, karena melayani mereka sama halnya
melayani Dia yang menciptakan sesama (bnd. Matius 25:35-38).
Melarat
iman, berarti sesungguhnya sama sekali tidak dimiliki Tuhan atau mendapat
perkenanan-Nya. Keadaan ini akan sangat menyedihkan dan tragis apabila kelak
diujung maut dan ketika berhadapan dengan Allah pencipta, ternyata manusia
tidak dikenal-Nya, tidak diakui-Nya, baik dihadapan Bapa maupun Anak (bnd.
Matius 7:21-23). Ciri-ciri seorang yang melarat akan iman, ialah mereka yang
tidak memiliki kasih akan Bapa, tidak mempunyai persekutuan yang kuat terhadap
Bapa. Fokusnya hanya lahiriah dan pemenuhan diri, tidak mampu berkomunikasi intim
melalui persekutuan dalam roh dan kebenaran. Sebaliknya mereka yang merasa haus
dan lapar akan Dia, merekalah yang miskin dalam roh dan seakan belum dahaga
tanpa bertemu muka dengan muka dengan Dia. Kerinduan hatinya hanya terpaut kepada
Tuhan semata. Hatinya kepincut dan tergores jiwanya akan kasih-Nya. Terpatri dan
membebat senantiasa dihati orang percaya yang benar-benar haus dan lapar kan kebenaran-Nya.
Kawasan orang beragama masih bisa memberi hati untuk menikmati dunia. Tetapi
kawasan hidup sebagai umat tebusan yang dikehendaki Tuhan untuk menjadi
mempelai Tuhan, ia harus sudah menikmati Tuhan. Ini kawasan yang sangat berbeda
yang tidak ditemukan titik temunya dengan kawasan orang beragama. Banyak orang
Kristen merasa ada di kawasan rohani. Merasa di kawasan mempelai Kristus,
kawasan sebagai anak Allah, kawasan berurusan dengan Bapa dan Anak. Padahal
belum, tidak, palsu. Jadi tidak heran orang - orang seperti ini sebenarnya
belum meninggalkan dunia.
Kekristenan itu merenggut kita
dari hidup kewajaran. Kalau kita lihat kehidupan Abraham saja di Perjanjian
Lama. Bagaimana hidupnya direnggut oleh kepercayaannya kepada Elohim Yahweh. Ini
gambaran iman yang harus dimiliki orang Kristen. Tuhan Yesus berkata,
"Jika kamu tidak melepaskan segala sesuatu, kamu tidak dapat menjadi
muridKu, kamu tidak dapat diubah. Kita harua jujur memeriksa diri kita masing -
masing. Jujur menemukan diri kita masing - masing. Sebenarnya apa yang paling
kita ingini dalam hidup ini ? Apa yang menjadi passion dalam hidup kita ? Apa
yang paling kita rindukan ? Apa yang membuat kita benar - benar haus dan lapar
? Kalau kita sampai benar - benar haus
dan lapar akan kebenaran artinya bagaimana kita bisa menemukan Tuhan. Menemukan
Tuhan, artinya, kita bisa mengerti dan melakukan kehendakNya dan itu dengan
kesadaran penuh bukan fantasi. Tuhan Yesus memberi peluang kepada kita ruang
yang tidak terbatas. Dia berkata: "Aku datang untuk memberi hidup, supaya
merka memilikinya dalam segala kelimpahan." Orang yang merasa miskin di
hadapan Allah adalah orang yang memiliki keseriusan untuk berurusan dengan
Tuhan guna menerima anugerah keselamatan. Kalau seseorang tidak merasa miskin
di hadapan Allah, maka sulit untuk menerima anugerah tersebut. Tuhan Yesus menyatakan
bahwa hanya orang sakit yang membutuhkan dokter (Mat. 9:12). Kegagalan orang
Yahudi menerima keselamatan dikarenakan mereka merasa sudah memiliki kebenaran
dengan melakukan hukum Taurat (Rm. 3:28). Dengan demikian mereka merasa tidak
miskin di hadapan Allah, mereka merasa sebagai orang sehat yang tidak
membutuhkan tabib.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.