3 Pilar

3 Pilar

Jumat, 29 Mei 2020

MELARAT IMAN


         Dalam Matius 5:3, tertulis: “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga”. Setiap orang percaya pasti mengejar yang namanya kebahagiaan. Apapun gendernya, usia, stratanya, pasti berhasrat dan memiliki impian meraih kebahagiaan yang hendak dicapainya baik dalam terwujudnya cita-cita, terwujudnya pemenuhan finansial, terwujudnya pencapaian gelar akademisi, terwujudnya kemapanan hidup, nama baik dan respect dari sesamanya. Ini adalah normal dan manusiawi. Orang gilapun mengingini kebahagiaan walau kebahagiaan yang diraihnya tidak se-ideal bagi yang waras, tapi mereka juga mengingininya. Demikianpun dengan mahluk hidup lainnya, hewan juga mengingini kebahagiaan dengan tercapainya makan minum dan pemenuhan kebutuhan nalurinya. Demikianpun dengan alam, pepohoanan dan tumbuhan, mereka juga membutuhkan udara segara yang tidak terkontaminasi polusi, tanah yang subur dengan asupan sumber daya alam yang membuat mereka dapat meneruskan hidup.  Hal ini menunjukkan bahwa diseluruh muka bumi ini, semua mahluk hidup mengini meraih yang namanya kebahagiaan. Karena kebahagiaan dapat menciptakan senyawa yang dapat memperpanjang siklus kehidupan. 

Tetapi dalam kalimat selanjutnya, ada kata “miskin: yang pasti akan dihindari oleh semua insani. Kata miskin dalam ayat ini berarti ptokoi. Kata ptokoi ini memiliki bentuk tunggal ptokos berarti sangat miskin, tidak memiliki daya sama sekali atau tidak memiliki apa-apa. Dalam bahasa Yunani kata “miskin” selain ptokoi terdapat juga kata lain, yaitu penikhros dan penes. Penikhros lebih menunjuk kemiskinan secara materi dunia (harta duniawi) atau secara finansial. Jadi, kalau dijumpai kata penikhros asumsinya menunjuk pada kemiskinan finansial. Inilah pengertian miskin yang dimengerti oleh orang pada umumnya. Bila seseorang tertumbuk kata penikhros, maka kata ini akan selalu dikaitkan dengan kekurangan harta. Kata penikhrosini dikenakan atau ditujukan untuk janda miskin yang kisahnya ditulis dalam Lukas 21:2. Kata “miskin” dalam teks ini adalah penikhros.  2 Korintus 9:9, istilah Penes menunjukkan orang yang miskin, tetapi masih mampu menghidupi diri sendiri dengan bekerja. Jadi kata penes hendak menunjuk keadaan ekonomi seseorang yang “minim” atau pas-pasan. Perbedaan kata penikhros dan penes dengan ptokos adalah kata “ptokos” menunjuk kemiskinan yang sangat ekstrem, dimana si miskin tidak mampu sama sekali mencari penghidupan atas dirinya. Sedangkan kata ptokos juga memiliki relasional dengan kata ptossein yang berarti menundukkan badan. Hal ini menunjukkan ketidak-berdayaan seseorang sehingga ia tidak mampu atau tidak layak menegakkan badan. Oleh karena teks asli Alkitab kata “miskin” di sini adalah ptokoi, maka dalam terjemahan bahasa Inggris rata-rata (New International Version dan New King James Version), diterjemahkan: poor  ini spirit  (miskin dalam roh), sedangkan dalam terjemahan Good News Bible diterjemahkan spiritually poor.

            Pada zaman pra sejarah, manusia purba pada masa itu mempunyai sifat sosial nomaden, berpindah tempat. Keingiann seperti itu secara sosiologi dan psikologi ditemui bahwa pada masa tersebut, manusia purba sudah memiliki keinginan untuk mencapai kebahagaiaan dalam komunitasnya, keluarga mereka. Rasa nyaman dan aman terhindar dari hewan buas, bahkan sesama mereka yang mencoba imperialis dan menguasai wilayah, berkecukupan pangan, terhindar dari cuaca buruk, dan sebagainya. Seiring kemajuan peradaban, manusia purba mengalami perkembangan budaya dan sirkuit pada otaknya, sehingga mereka mulai beradaptasi dengan lingklungan dan mulai mengembangkan ketrampilan yang dapat mereka lakukan. Dulu mereka nomaden, tinggal dari satu tempat ke tempat lain. Berburu dan tanpa diolah langsung dikonsumsi dengan cara mereka. Semakin kemari, mereka tidak lagi nomaden. Mereka tinggal menetap. Bukan lagi diatas pohon, atau di gua-gua kecil tapi lebih secara permanen dengan bahan seadanya ataupun berada di dalam gua dengan konstur yang lebih baik. Mereka mulai belajar mengolah makanan, misalnya hasil buruan diolah dengan cara dimasak, dibakar/panggang. Bercocok tanam, membuat alat-alat keramik, persenjataan tajam dari batu dan besi. Membuat baju dari kulit hewan, semakin lanjut mulai mengenal menenun dan seterusnya. Semua itu dikerjakan sebagai pemenuhan kebutuhan dan sebagai perkembangan peradaban. Pemenuhan kebutuhan ini dalam ilmu ekonomi ada 3 aspek yang harus dipenuhi, yakni kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Ketiganya akan menjadi serasi apabila terpenuhi bagi kehidupan umat manusia. Namun bila ditelusuri sesungguhnya semua kebutuhan-kebutuhan ini semakin usang diterpa zaman. Sebagai contoh, dulu kebutuhan primer harus dipenuhi sebagai yang utama lalu sesudahnya sekunder. Pada masa kini, hampir semua insani sangat membutuhkan alat komunikasi sebagai kebutuhan primer, walau pakaian bisa ditunda untuk dibeli atau diadakan. Makan bisa ditunda asal handphone, laptop dan gadged bisa tersedia, soal makan minum jadi sekunder. Kenyataannya, insani bisa melakukan tindak kejahatan hanya karena kebutuhan alat komunikasi atau gawai sebagai primer, prioritas utama untuk membuat dirinya nyaman. Bayangkan menurut hasil penelitian bahwa setiap 2-5 menit didapati seseorang harus kontinue membuka hp nya dan meng-echek untuk melihat notifikasi ada berita/informasi apa, melihat chatingan, media sosial, dan sebagainya. Fokus perhatiannya terhadap gawai tidak bisa dihindari hampir menjadi sebagian dari jiwanya.

            Mengkonsumsi untuk pemenuhan lahiriah pada saat sekarang ini telah mengalami trendy kekinian, fast food, fashionable, hi-tech, online, etc. keadaan ini dikondisikan oleh vendor untuk service yang memuaskan bahkan memudahkan pola enterpreneurship pada zaman sekarang bahkan kedepannya. Manusia senantiasa semakin berupaya memenuhi nilai diri sebagai prestise dan style of life yang konvensional. Mau tidak mau, semua berlomba ke arah sana. Hanya sayangnya, yang kurang mampu dalam finansial akan terlibas oleh keadaan seperti ini. Terjadinya kesenjangan sosial, dimana yang kaya semakin memperkaya diri, sednagkan yang marginal semakin terpuruk. Lahirlah tindak kejahatan sebagai bentuk pemberontakan secara tidak langsung hanya untuk memenuhi bagian hidup yang harus dipenuhi, yakni makanan dan kecukupan uang. Walau pada dasarnya mansuai tidak akan pernah merasa puas diri. Ia akan senantiasa memenuhi kebutuhan tersebut hingga sampai teratas bahkan bila perlu paling teratas diatas semuanya. Padahal bila ajal menjemput, sama sekali apa yang diperjuangkan tidak akan pernah dibawa mati. Kebobrokan moral manusia semakin nyata yang dikanvas indah dengan ketamakan berbalur kerakusan. Mansuai bisa menjadi serigala bagi sesamanya tanpa pandang bulu dan nilai-nilai moralitas semakin merosot tanpa malu. Justru dalam hal ini mereka yang berlaku demikian pantas disebut miskin walau kaya dalam keberadaan. Kepapahan terlihat nyata ketika insani tidak lagi memiliki hati nurasi dan nalar yang sehat. Nilai-nilai iman dan kepercayaan bahkan hampir sama sekali tidak nampak karena hampir semua insani sekarang sedang berjalan bersama menjauhi Jalan Kebenaran dan secara nyata menganggap itu keniscayaan.  

          Tuhan dianggap tidak ada oleh sebagian masyarakat walau secara identitas beragama dan melakukan syariat keagamaannya. Bentuk keagamaan maya dan tidak konkrit. Kenyataannya manusia lebih memilih ber-tuhankan uang, harta benda, kehormatan, kejayaan, nama baik, sanjungan, arogansi diri, dan hal-hal dapat menguntungkan diri bahkan kepuasan jiwa. tanpa sungkan dapat menyingkirkan, saling menggigit dan menelan sesama. Manusia menjadi haus kekuasaan, seks dan harta. Sesungguhnya mereka yang demikian adalah orang-orang yang melarat secara iman. Melarat karena kepunyaan mereka hanya belaka, semu, maya dan sementara. Iman mereka hanya tertuang dalam kata dan simbolis religis semata namun pada kenyataannya, tindakan wujud iman tidak sama sekali diejawantahkan dengan penurutan terhadap apa yang dipercayainya. Percaya mereka hanya dimulut dan pikiran. Hati mereka hanya mencari timbal balik dari apa yang dianggap sebagai percaya tanpa berani memberi diri sebagai korban dari apa yang dipercayainya. Melarat iman karena orang-orang tersebut tidak mendapat perkenanan-Nya. Sesungguhnya mereka miskin bahkan melarat sekalipun keberadaannya jauh di atas keberadaan sesamanya. Sama halnya dalam kisah orang kaya dan Lazarus yang miskin (Lukas 16:19-31), orang kaya memang menikmati kejayaannya namun ia melarat dalam iman dibandingkan dengan Lazarus yang miskin dalam kepapahan namun ia dipandang kaya di mata Allah. Orang kaya tersebut senantiasa bersukaria dalam kemewahannya sedangkan Lazarus dalam keseharian berjuang atas hidupnya. Hal ini berarti sebagai orang percaya harus memperhatikan mereka yang harus ditolong, karena melayani mereka sama halnya melayani Dia yang menciptakan sesama  (bnd. Matius 25:35-38). 

            Melarat iman, berarti sesungguhnya sama sekali tidak dimiliki Tuhan atau mendapat perkenanan-Nya. Keadaan ini akan sangat menyedihkan dan tragis apabila kelak diujung maut dan ketika berhadapan dengan Allah pencipta, ternyata manusia tidak dikenal-Nya, tidak diakui-Nya, baik dihadapan Bapa maupun Anak (bnd. Matius 7:21-23). Ciri-ciri seorang yang melarat akan iman, ialah mereka yang tidak memiliki kasih akan Bapa, tidak mempunyai persekutuan yang kuat terhadap Bapa. Fokusnya hanya lahiriah dan pemenuhan diri, tidak mampu berkomunikasi intim melalui persekutuan dalam roh dan kebenaran. Sebaliknya mereka yang merasa haus dan lapar akan Dia, merekalah yang miskin dalam roh dan seakan belum dahaga tanpa bertemu muka dengan muka dengan Dia. Kerinduan hatinya hanya terpaut kepada Tuhan semata. Hatinya kepincut dan tergores jiwanya akan kasih-Nya. Terpatri dan membebat senantiasa dihati orang percaya yang benar-benar haus dan lapar kan kebenaran-Nya. Kawasan orang beragama masih bisa memberi hati untuk menikmati dunia. Tetapi kawasan hidup sebagai umat tebusan yang dikehendaki Tuhan untuk menjadi mempelai Tuhan, ia harus sudah menikmati Tuhan. Ini kawasan yang sangat berbeda yang tidak ditemukan titik temunya dengan kawasan orang beragama. Banyak orang Kristen merasa ada di kawasan rohani. Merasa di kawasan mempelai Kristus, kawasan sebagai anak Allah, kawasan berurusan dengan Bapa dan Anak. Padahal belum, tidak, palsu. Jadi tidak heran orang - orang seperti ini sebenarnya belum meninggalkan dunia.

Kekristenan itu merenggut kita dari hidup kewajaran. Kalau kita lihat kehidupan Abraham saja di Perjanjian Lama. Bagaimana hidupnya direnggut oleh kepercayaannya kepada Elohim Yahweh. Ini gambaran iman yang harus dimiliki orang Kristen. Tuhan Yesus berkata, "Jika kamu tidak melepaskan segala sesuatu, kamu tidak dapat menjadi muridKu, kamu tidak dapat diubah. Kita harua jujur memeriksa diri kita masing - masing. Jujur menemukan diri kita masing - masing. Sebenarnya apa yang paling kita ingini dalam hidup ini ? Apa yang menjadi passion dalam hidup kita ? Apa yang paling kita rindukan ? Apa yang membuat kita benar - benar haus dan lapar ?  Kalau kita sampai benar - benar haus dan lapar akan kebenaran artinya bagaimana kita bisa menemukan Tuhan. Menemukan Tuhan, artinya, kita bisa mengerti dan melakukan kehendakNya dan itu dengan kesadaran penuh bukan fantasi. Tuhan Yesus memberi peluang kepada kita ruang yang tidak terbatas. Dia berkata: "Aku datang untuk memberi hidup, supaya merka memilikinya dalam segala kelimpahan." Orang yang merasa miskin di hadapan Allah adalah orang yang memiliki keseriusan untuk berurusan dengan Tuhan guna menerima anugerah keselamatan. Kalau seseorang tidak merasa miskin di hadapan Allah, maka sulit untuk menerima anugerah tersebut. Tuhan Yesus menyatakan bahwa hanya orang sakit yang membutuhkan dokter (Mat. 9:12). Kegagalan orang Yahudi menerima keselamatan dikarenakan mereka merasa sudah memiliki kebenaran dengan melakukan hukum Taurat (Rm. 3:28). Dengan demikian mereka merasa tidak miskin di hadapan Allah, mereka merasa sebagai orang sehat yang tidak membutuhkan tabib.


             

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.