![]() |
| si meong mengikuti wanita ini |
Selesai sang istri terpenuhi orderannya, bergegas keluar menghampiri suaminya. Seraya seperti yang lainnya, si kucing menyapa meong..meong dan wanita ini menyambutnya hai meong,,kamu lapar ya. Serentak bangun si kucing mengikuti manusia wanita ini dan sementara itu si suami yang sejak tadi memperhatikan peristiwa tersebut meminta sang istri menunggu sesaat sambil menemani kucing yang terus lekat dibawah kakinya. Si suami bergegas keluar parkiran menuju Indomaret terdekat untuk membeli produk whiskas (makanan kucing). Selang 15 menit kemudian si suami kembali dengan membeli beberapa bungkus whiskas ikan selain untuk stock dibawah jok motornya bila nanti bertemu dijalan kucing-kucing yang perlu diberi makan. Benar saja, sesaat setelah diberi satu bungkus, langsung si kucing melahapnya dengan cepat. Rupanya ia lapar sekali dan satu bungkus lagi dibukakan sebelum keduanya beranjak pergi, tetap dilahapnya dengan nikmat. Sungguh peristiwa yang miris di hati saya untuk mengingat dan menuliskan kisah ini. Suami istri ini menyapa “yang kenyang ya meong…bye meong..” lalu keduanya pergi meninggalkan si kucing yang masih terus lahap menyantap whiskas ikan tanpa pedulikan kepergian si pemberi makan.
Diperjalanan
saya masih merasakan sisa perasaan miris dengan apa yang dilakukan si meong
terhadap beberapa pengunjung tersebut yang sama sekali tidak menggubris dan
perhatikan ada apa dengan hewan yang satu ini seakan ia mengemis dari setiap
yang lewat didepannya dengan meong,,meong tapi semua berlalu seakan cuek dan
benar-benar cuek. Dalam hati kecil saya
bergumam, inikah mansuai yang Tuhan ciptakan sebegitu egoisnya terhadap
mahluk ciptaan lain-MU? Seandainya semua manusia di jagat raya ini sadar dengan
keadaan disekitarnya pasti semua mahluk kan berbahagia. Saling perhatikan
sesama dan mahluk hidup yang membutuhkan pertolongan. Namun memang ada beberapa
manusia memanfaatkan momen untuk dikasihani bahkan dengan sengaja berbuat
sesuatu dan berbohong agar supaya dikasihani. Sementara manusia tidak melihat
bahwa ada hewan-hewan yang perlu diperhatiakan dan diselamatkan. Kebanyakan
manusia mungkin akan berkata, toh hanya hewan..jangan kan hewan, sesama saja
juga kebanyakan dari kita sering tidak peduli bahkan saling “menggigit”.
Keadaan jaman ini, manusia semakin jahat. Bukan hanya semakin
banyak penjahat, tapi banyak manusia yang hatinya jahat. Tidak
ada salahnya kita bisa memberi mungkin barang sedikit makanan yang ada apa
kita. Menyisihkan atau bahkan menyediakan dog food, cat food baik yang kering,
ataupun yang kemasan sached untuk bisa kita berikan bagi mereka para hewan yang
lemah di saat mereka membutuhkannya. Mereka saat lapar biasanya terlihat dari
cara mengais, mengendus-endus, menyuarakan suara dengan barking, meong-meong.
Sejak melihat beberapa hewan ini di jalan dan area tertentu seakan mereka
mengais dan mengaduh karena lapar atau bahkan keadaan tubuh mereka yang kurus
membuat iba dan miris hati ini untuk memberi memberi mereka makan walau setelah
itu tak bertemu lagi dan entah bagaimana nasib mereka selanjutnya. Andai saja
kita semua yang bernam,a mahluk mulia, m a n u s i a, paham dan sadar diri
untuk berbuat tindakan kecil terhadap
mahluk lemah, maka pasti kedamaian dan kebahagiaan kan tercipta secara otomatis
melalui perbuatan dan tindakan manusia itu sendiri terhadap sesama dan mahluk
ciptaan-Nya.
Dari
hal ini kita bisa melihat terkadang banyak orang tidak mau antri, mau menang
sendiri, egois, mencuri dan mengambil milik sesuatu yang bukan haknya, membunuh
karakter sesama, memfitnah, mengadu domba, memperkosa hak sesama, dan
sebagainya. Banyak insani tidak segan-segan bahkan tidak malu lagi menggunakan
tubuhnya melalui kedua tangan, kedua kaki bahkan mulunyta untuk melukai sesama,
bisa secara verbal bahkan dengan jari jemari melalui kata-kata dalam teks chat
di media sosial. Seakan manusia sudah mati hati nuraninya, puas dan tersenyum
lega bila hasrat hati telah dipenuhi walau harus ada yang dikorbankan bahkan
orang-orang terdekatnya. Manusia telah kehilangan gambar Allah dalam dirinya. Hati
nurani telah berubah menjadi human being yang berkodrat dosa. Hati nurani telah
padam dan membeku sehingga tidak sama sekali merasakan dalam keadaan peka untuk
hal-hal disekelilingnya. Orang tersebut sudah dipastikan tidak berkenan
dihadapan-Nya. Bagaimana ia dapat mengenal pencipta-Nya jika ia telah mati rasa
bagi sesama. Ia tidak dapat merasakan Allah berkarya dalam segala situasi dan
kondisi. Kebutaan mata hati nya membuat
orang tersebut sedang berjalan tanpa melihat bahwa diujung jalan tersebut ada
jurang dalam menuju kematian kekal.
Pada umumnya manusia senantiasa
berlaku seakan ber-Tuhan dan agamanis. Dipandang sejuk dengan bahasa agama,
simbol-simbol keagamaan dan religis semata, walau sebenarnya ritual keagamaan
sesungguhnya bukanlah praktek agamani semata, tapi harus diwujud-nyatakan atau
diejawantahkan dalam keseharian melalui sikap, prilaku, dan segenap aspek
kehidupan setiap individu yang bernafaskan Tuhan dalam kepercayaan yang
dianutnya. Dalam keseharian masyarakat yang majemuk ditemui kebanyakan
bertindak seakan theis teoretis,
tetapi pada kenyataan sesungguhnya atheis
practice . Religis tidak dan belum tentu seseorang
dapat dikatakan ber-Tuhan karena religis agamani seseorang hanya lah merupakan
relaksasi bentuk indentitas kepercayaan seseorang ditengah-tengah masyarakat. Manusia
lebih condong kepada ego dan pemandangannya semata. Keadaan sekitar tidak lagi
menjadi hal yang patut dipedulikan. Dihadapan sesama yang mungkin bisa
sederajat dalam strata finance, strata akademis, strata sosial, mereka bisa
saling memberi hormat, hormat karena kedudukan dan timbal balik. Namun bila
dihadapan sesamanya yang tidak sederajat dalam .hal di atas, maka biasanya akan
dipandang sebelah mata bahkan terabaikan. Apalagi buat mahluk lemah dibawah
derajat manusia. Tindakan serta perbuatan semacam ini jelas menunjukan bahwa
secara teori mereka tergolong orang-orang yang seakan ber-Tuhan secara teori
namun pada pelaksanaannya, tidak sama sekali ber-Tuhan, bahkan menganggap diri
mereka tuhan bagi dirinya sendiri dan orang-orang lemah dibawahnya.
Istilah kata atheis
adalah orang atau kelompok yang tidak mengakui eksistensi Tuhan.
Pada umumnya, kaum atheis lebih condong menggunakan logika mereka dalam
menyikapi berbagai hal disekelilingnya. Menurut mereka yang menganut atheis, baginya,
Tuhan adalah hasil karya rekaan manusia yang tercipta dalam pikirannya. Mereka
beranggapan bahwa Tuhan itu adalah "sesuatu", yang diciptakan oleh
manusia, baik dalam alam pikiran, rumusan kata-kata, dan rekaan belaka. Berhubung manusia memiliki sifat kelemahan
dan ketakutan, maka ketika keadaan takut pada hal-hal tertentu, manusia akan
membuat dan mencari Tuhan. Sehingga tercipta oleh manusia tentang Tuhan dan
agama yang juga diciptakan manusia. Kaum atheis beranggapan bahwa selama agama
belum bisa membuktikan secara ilmiah, maka agama itu bohong belaka. Agama
tercipta karena dibutuhkannya suatu aturan bagi kelompok tersebut agar tidak
terjadi kekacauan. Agama dianggap merupakan teori bagi orang-orang primitif
untuk menjelaskan pertanyaan klasik manusia tentang dari mana kita berasal dan
kemana kita setelah mati. Untuk memastikan keberadaan atau ketiadaan
Tuhan, maka para para pemikir kaum atheis, meyakini bahwa hanya ilmu dan
pengetahuan yang akan membuktikannya. Kita menyadari dan mengetahui bahwa
sebagian besar para ilmuwan (baik saat ini maupun dalam sejarah) dan pemikir yang
merupakan pemeluk atheisme; bahwa segala pembelajaran dan penelitian kaum ini
dijadikan dasar bagi kaum atheis untuk membuktikan ketiadaan Tuhan. Asumsi
pemikiran terciptanya jagad raya (alam semesta), para kaum atheis menolak
adanya penciptaan. Asumsi pemikiran mereka, melalui perkembangan ilmu
pengetahuan, dengan tegas mengatakan bahwa jagad raya atau alam semesta berasal
dari ketiadaan.
Filosofi dunia dengan
segala pengaruh imperialis secara liberal telah mengkontaminasi pola
pikir,budaya, tradisi dan norma-norma yang tradisional ditengah-tengah
masyarakat. Kaidah-kaidah yang murni telah tergantikan dengan cara-cara baru
yang dianggap modern dan kekinian, walau yang tradisional tidak selamanya
dianggap kolot dan tidak sepadan dengan keadaan saat ini, namun justru juga
berdampak kepada kehdiupan sosial dan peradaban manusia. Peradaban lahir
menjadi budaya yang tercipta karena manusia sepakat mengadakannya dan tercipta
untuk kesejahteraan bersama. Manusia lebih menitik-beratkan kepada pemenuhan
hidup karena dengan demikian akan dipandang mulia dan dapat mencapai
kesejahteraan selaras dengan perkembangan yang ada. Konsekuensinya, manusia
akan menjadi serigala bagi sesamanya. Untuk menghindari hal tersebut lahirlah
filsafat, dari sana berkembang ilmu-ilmu pengetahuan dan budaya dasar sebagai
modal intelektual manusia dalam menjalani dan mendandani hidup agar dipandang
terhormat dihadapan sesama dan mampu menguasai alam untuk mengolahnya. Namun
seiring jaman dan perkembangan peradaban dan teknologi, kaidah tersebut
menyusul bahkan menjadi sangat langka ditemui yang namanya integritas dan
dedikasi seseorang terhadap kehidupan yang berlangsung. Semua menjadi egois dan
serigala bagi sesamanya. Yang lemah menjadi tergilas dan mati dalam kehampaan
tiada daya, sementara yang berkuasa ingin tetap jaya dan jika bisa melampui
semuanya untuk menjadi terkemuka.
Hidup ini singkat, kuota berbatas
waktu, kapan saja ajal bisa menjemput. Tidak memandang bulu dan pilah pilih,
tua muda, besar kecil, perempuan laki-laki, apapun stratanya, kelak bila ajal
menjemput, ia harus siap melepas raga. Keadaan ini adalah tragis bagi siapapun
tak mengenal suku, budaya dan agama. Justru, bagi orang percaya kematian
bukanlah menakutkan karena melalui kematian ia kan berjumpa dengan Sang Khalik,
pencipta alam semesta. Virus dosa yang melekat dan mendarah daging membuat
kasih akan Dia hampa dan menjadi tawar. Orang percaya tanpa kasih hanya
membuahkan ketakutan didalam dirinya (1 Yohanes 4:18). Ruang kosong dalam hati
setiap manusia hanya akan menjadi sempurna hidupnya bila di isi dengan yang
namanya Tuhan. Keadaan ini tidak bisa di isi oleh apapun. Tidak ada kepuasan
dan kebahagiaan yang melebihi hal tersebut. Melalui Pendidikan Agama Kristen,
jalan hidup itu benar-benar menjadi jalan satu-satunya yang akan dilalui dan
dijalani oleh banyak orang percaya, apabila kekristenan yang dikenakan oleh
percaya bukan semata sebutan dan gelar, tetapi benar-benar seperti pengertian
yang sesungguhnya, Kristen, dari kata Kristus, yang berarti orang percaya yang
mengikuti apa yang diajarkan oleh Kristus. Sepatutnya orang percaya dapat hidup
dalam kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus
(Phroneo), berani meninggalkan percintaan dengan dunia dan tidak terikat pada
hal hedonis. Belajar hidup berkecukupan disertai rasa syukur, tidak mengejar
kemapanan seperti yang filosofi dunia cemarkan dan pengaruhi melalui keadaan
sekitar. Dengan hidup di dalam Kristus dan menghidupkan firman-Nya, maka hidup
orang percaya bukan lagi untuk dirinya sendiri melainkan hidup melayani Kurios,
Majikan Agung yang menciptakannya.
Mencapai nirwana adalah
impian semua insan. Guru PAK secara kompeten mampu membawa nara didiknya dan warga gereja untuk mengenal secara pribadi
pencipta Agung alam Semesta, Tuhan Yesus Kristus. Pengenalan akan Dia, bukan
serta merta secara lisan dan verbal semata. Bukan pula cukup melalui
pengajaran, pendalaman Alkitab, Baca Gali Alkitab (BGA), persekutuan, ibadah
bersama, dan ritual ibadah kerohanian lainnya. Pengenalan akan Dia harus
disertai seseorang untuk mau melepaskan
ikatan dan percintaannya terhadap pesona dunia. Ia harus meluangkan waktu
bersaat teduh, doa dan berdiam diri, meditasi untuk giat tekad mencari
wajah-Nya. Sebab perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi
roh-roh jahat dan penghulu diudara.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.