3 Pilar

3 Pilar

Kamis, 21 Mei 2020

THEIS TEORETIS, ATHEIS PRACTICE


si meong mengikuti wanita ini
                 Selasa, menjelang sore sekitar pukul 17.00an, sepasang suami istri bergegas sepulang kerja, menyempatkan diri mampir ke salah satu counter Starbuck dibilangan Harapan Indah, bekasi. Sang istri yang masuk ke dalam sementara sang suami menunggu di area parkir depan dengan kendaraan roda duanya. Biasanya  bukan di sana motor diperbolehkan stay tapi karena berhubung kondisi pandemi saat itu, maka hanya ada 2-3 mobil yang parkir, sisanya drive thru. Walau suasana pandemi, lumayan juga beberapa kustomer yang masuk counter tersebut. Dalam hal ini yang menjadi perhatian saya terfokus pada seekor kucing yang berada di depan pintu masuk starbuck, duduk seakan menunggu sesuatu. Sesekali dia meng-eong. Saat  sang istri tersebut masuk, si kucing sempat diusir penjaganya dengan halus..huss… lalu si meong melangkah beranjak sedikit keluar menjauhi pintu masuk dan berdiri dekat pembatas trotoar depan counter tersebut. Kustomer yang sudah selesai order lalu keluar satu persatu dan si kucing dengan duduk menatap mereka para manusia yang keluar dari counter tersebut dengan menyapa..meong, meong, seakan menyapa dan meminta sesuatu untuk diberikan kepadanya. Dari kejauhan saya melihat hal ini miris hati saya, seakan ia mengemis, dan tak ada seorang manusiapun menoleh kepadanya dan peduli. 
 Selesai sang istri terpenuhi orderannya, bergegas keluar menghampiri suaminya. Seraya seperti yang lainnya, si kucing menyapa meong..meong dan wanita ini menyambutnya hai meong,,kamu lapar ya. Serentak bangun si kucing mengikuti manusia wanita ini dan sementara itu si suami yang sejak tadi memperhatikan peristiwa tersebut meminta sang istri menunggu sesaat sambil menemani kucing yang terus lekat dibawah kakinya. Si suami bergegas keluar parkiran menuju Indomaret terdekat untuk membeli produk whiskas (makanan kucing). Selang 15 menit kemudian si suami kembali dengan membeli beberapa bungkus whiskas ikan selain untuk stock dibawah jok motornya bila nanti bertemu dijalan kucing-kucing yang perlu diberi makan. Benar saja, sesaat setelah diberi satu bungkus, langsung si kucing melahapnya dengan cepat. Rupanya ia lapar sekali dan satu bungkus lagi dibukakan sebelum  keduanya beranjak pergi, tetap dilahapnya dengan nikmat. Sungguh peristiwa yang miris di hati saya untuk mengingat dan menuliskan kisah ini. Suami istri ini menyapa  “yang kenyang ya meong…bye meong..” lalu keduanya pergi meninggalkan si kucing yang masih terus lahap menyantap whiskas ikan tanpa pedulikan kepergian si pemberi makan.

                Diperjalanan saya masih merasakan sisa perasaan miris dengan apa yang dilakukan si meong terhadap beberapa pengunjung tersebut yang sama sekali tidak menggubris dan perhatikan ada apa dengan hewan yang satu ini seakan ia mengemis dari setiap yang lewat didepannya dengan meong,,meong tapi semua berlalu seakan cuek dan benar-benar cuek. Dalam hati kecil saya  bergumam, inikah mansuai yang Tuhan ciptakan sebegitu egoisnya terhadap mahluk ciptaan lain-MU? Seandainya semua manusia di jagat raya ini sadar dengan keadaan disekitarnya pasti semua mahluk kan berbahagia. Saling perhatikan sesama dan mahluk hidup yang membutuhkan pertolongan. Namun memang ada beberapa manusia memanfaatkan momen untuk dikasihani bahkan dengan sengaja berbuat sesuatu dan berbohong agar supaya dikasihani. Sementara manusia tidak melihat bahwa ada hewan-hewan yang perlu diperhatiakan dan diselamatkan. Kebanyakan manusia mungkin akan berkata, toh hanya hewan..jangan kan hewan, sesama saja juga kebanyakan dari kita sering tidak peduli bahkan saling “menggigit”. Keadaan jaman ini, manusia semakin jahat. Bukan hanya semakin banyak penjahat, tapi banyak manusia yang hatinya jahat. Tidak ada salahnya kita bisa memberi mungkin barang sedikit makanan yang ada apa kita. Menyisihkan atau bahkan menyediakan dog food, cat food baik yang kering, ataupun yang kemasan sached untuk bisa kita berikan bagi mereka para hewan yang lemah di saat mereka membutuhkannya. Mereka saat lapar biasanya terlihat dari cara mengais, mengendus-endus, menyuarakan suara dengan barking, meong-meong. Sejak melihat beberapa hewan ini di jalan dan area tertentu seakan mereka mengais dan mengaduh karena lapar atau bahkan keadaan tubuh mereka yang kurus membuat iba dan miris hati ini untuk memberi memberi mereka makan walau setelah itu tak bertemu lagi dan entah bagaimana nasib mereka selanjutnya. Andai saja kita semua yang bernam,a mahluk mulia, m a n u s i a, paham dan sadar diri untuk  berbuat tindakan kecil terhadap mahluk lemah, maka pasti kedamaian dan kebahagiaan kan tercipta secara otomatis melalui perbuatan dan tindakan manusia itu sendiri terhadap sesama dan mahluk ciptaan-Nya.

                Dari hal ini kita bisa melihat terkadang banyak orang tidak mau antri, mau menang sendiri, egois, mencuri dan mengambil milik sesuatu yang bukan haknya, membunuh karakter sesama, memfitnah, mengadu domba, memperkosa hak sesama, dan sebagainya. Banyak insani tidak segan-segan bahkan tidak malu lagi menggunakan tubuhnya melalui kedua tangan, kedua kaki bahkan mulunyta untuk melukai sesama, bisa secara verbal bahkan dengan jari jemari melalui kata-kata dalam teks chat di media sosial. Seakan manusia sudah mati hati nuraninya, puas dan tersenyum lega bila hasrat hati telah dipenuhi walau harus ada yang dikorbankan bahkan orang-orang terdekatnya. Manusia telah kehilangan gambar Allah dalam dirinya. Hati nurani telah berubah menjadi human being yang berkodrat dosa. Hati nurani telah padam dan membeku sehingga tidak sama sekali merasakan dalam keadaan peka untuk hal-hal disekelilingnya. Orang tersebut sudah dipastikan tidak berkenan dihadapan-Nya. Bagaimana ia dapat mengenal pencipta-Nya jika ia telah mati rasa bagi sesama. Ia tidak dapat merasakan Allah berkarya dalam segala situasi dan kondisi. Kebutaan mata hati nya membuat orang tersebut sedang berjalan tanpa melihat bahwa diujung jalan tersebut ada jurang dalam menuju kematian kekal.

Pada umumnya manusia senantiasa berlaku seakan ber-Tuhan dan agamanis. Dipandang sejuk dengan bahasa agama, simbol-simbol keagamaan dan religis semata, walau sebenarnya ritual keagamaan sesungguhnya bukanlah praktek agamani semata, tapi harus diwujud-nyatakan atau diejawantahkan dalam keseharian melalui sikap, prilaku, dan segenap aspek kehidupan setiap individu yang bernafaskan Tuhan dalam kepercayaan yang dianutnya. Dalam keseharian masyarakat yang majemuk ditemui kebanyakan bertindak seakan theis teoretis, tetapi pada kenyataan sesungguhnya atheis practice .  Religis tidak dan belum tentu seseorang dapat dikatakan ber-Tuhan karena religis agamani seseorang hanya lah merupakan relaksasi bentuk indentitas kepercayaan seseorang ditengah-tengah masyarakat. Manusia lebih condong kepada ego dan pemandangannya semata. Keadaan sekitar tidak lagi menjadi hal yang patut dipedulikan. Dihadapan sesama yang mungkin bisa sederajat dalam strata finance, strata akademis, strata sosial, mereka bisa saling memberi hormat, hormat karena kedudukan dan timbal balik. Namun bila dihadapan sesamanya yang tidak sederajat dalam .hal di atas, maka biasanya akan dipandang sebelah mata bahkan terabaikan. Apalagi buat mahluk lemah dibawah derajat manusia. Tindakan serta perbuatan semacam ini jelas menunjukan bahwa secara teori mereka tergolong orang-orang yang seakan ber-Tuhan secara teori namun pada pelaksanaannya, tidak sama sekali ber-Tuhan, bahkan menganggap diri mereka tuhan bagi dirinya sendiri dan orang-orang lemah dibawahnya.

Istilah kata atheis adalah orang atau kelompok yang tidak mengakui eksistensi Tuhan. Pada umumnya, kaum atheis lebih condong menggunakan logika mereka dalam menyikapi berbagai hal disekelilingnya. Menurut mereka yang menganut atheis, baginya, Tuhan adalah hasil karya rekaan manusia yang tercipta dalam pikirannya. Mereka beranggapan bahwa Tuhan itu adalah "sesuatu", yang diciptakan oleh manusia, baik dalam alam pikiran, rumusan kata-kata, dan rekaan belaka.  Berhubung manusia memiliki sifat kelemahan dan ketakutan, maka ketika keadaan takut pada hal-hal tertentu, manusia akan membuat dan mencari Tuhan. Sehingga tercipta oleh manusia tentang Tuhan dan agama yang juga diciptakan manusia. Kaum atheis beranggapan bahwa selama agama belum bisa membuktikan secara ilmiah, maka agama itu bohong belaka. Agama tercipta karena dibutuhkannya suatu aturan bagi kelompok tersebut agar tidak terjadi kekacauan. Agama dianggap merupakan teori bagi orang-orang primitif untuk menjelaskan pertanyaan klasik manusia tentang dari mana kita berasal dan kemana kita setelah mati. Untuk memastikan keberadaan atau ketiadaan Tuhan, maka para para pemikir kaum atheis, meyakini bahwa hanya ilmu dan pengetahuan yang akan membuktikannya. Kita menyadari dan mengetahui bahwa sebagian besar para ilmuwan (baik saat ini maupun dalam sejarah) dan pemikir yang merupakan pemeluk atheisme; bahwa segala pembelajaran dan penelitian kaum ini dijadikan dasar bagi kaum atheis untuk membuktikan ketiadaan Tuhan. Asumsi pemikiran terciptanya jagad raya (alam semesta), para kaum atheis menolak adanya penciptaan. Asumsi pemikiran mereka, melalui perkembangan ilmu pengetahuan, dengan tegas mengatakan bahwa jagad raya atau alam semesta berasal dari ketiadaan.

Filosofi dunia dengan segala pengaruh imperialis secara liberal telah mengkontaminasi pola pikir,budaya, tradisi dan norma-norma yang tradisional ditengah-tengah masyarakat. Kaidah-kaidah yang murni telah tergantikan dengan cara-cara baru yang dianggap modern dan kekinian, walau yang tradisional tidak selamanya dianggap kolot dan tidak sepadan dengan keadaan saat ini, namun justru juga berdampak kepada kehdiupan sosial dan peradaban manusia. Peradaban lahir menjadi budaya yang tercipta karena manusia sepakat mengadakannya dan tercipta untuk kesejahteraan bersama. Manusia lebih menitik-beratkan kepada pemenuhan hidup karena dengan demikian akan dipandang mulia dan dapat mencapai kesejahteraan selaras dengan perkembangan yang ada. Konsekuensinya, manusia akan menjadi serigala bagi sesamanya. Untuk menghindari hal tersebut lahirlah filsafat, dari sana berkembang ilmu-ilmu pengetahuan dan budaya dasar sebagai modal intelektual manusia dalam menjalani dan mendandani hidup agar dipandang terhormat dihadapan sesama dan mampu menguasai alam untuk mengolahnya. Namun seiring jaman dan perkembangan peradaban dan teknologi, kaidah tersebut menyusul bahkan menjadi sangat langka ditemui yang namanya integritas dan dedikasi seseorang terhadap kehidupan yang berlangsung. Semua menjadi egois dan serigala bagi sesamanya. Yang lemah menjadi tergilas dan mati dalam kehampaan tiada daya, sementara yang berkuasa ingin tetap jaya dan jika bisa melampui semuanya untuk menjadi terkemuka.

Hidup ini singkat, kuota berbatas waktu, kapan saja ajal bisa menjemput. Tidak memandang bulu dan pilah pilih, tua muda, besar kecil, perempuan laki-laki, apapun stratanya, kelak bila ajal menjemput, ia harus siap melepas raga. Keadaan ini adalah tragis bagi siapapun tak mengenal suku, budaya dan agama. Justru, bagi orang percaya kematian bukanlah menakutkan karena melalui kematian ia kan berjumpa dengan Sang Khalik, pencipta alam semesta. Virus dosa yang melekat dan mendarah daging membuat kasih akan Dia hampa dan menjadi tawar. Orang percaya tanpa kasih hanya membuahkan ketakutan didalam dirinya (1 Yohanes 4:18). Ruang kosong dalam hati setiap manusia hanya akan menjadi sempurna hidupnya bila di isi dengan yang namanya Tuhan. Keadaan ini tidak bisa di isi oleh apapun. Tidak ada kepuasan dan kebahagiaan yang melebihi hal tersebut. Melalui Pendidikan Agama Kristen, jalan hidup itu benar-benar menjadi jalan satu-satunya yang akan dilalui dan dijalani oleh banyak orang percaya, apabila kekristenan yang dikenakan oleh percaya bukan semata sebutan dan gelar, tetapi benar-benar seperti pengertian yang sesungguhnya, Kristen, dari kata Kristus, yang berarti orang percaya yang mengikuti apa yang diajarkan oleh Kristus. Sepatutnya orang percaya dapat hidup dalam kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus (Phroneo), berani meninggalkan percintaan dengan dunia dan tidak terikat pada hal hedonis. Belajar hidup berkecukupan disertai rasa syukur, tidak mengejar kemapanan seperti yang filosofi dunia cemarkan dan pengaruhi melalui keadaan sekitar. Dengan hidup di dalam Kristus dan menghidupkan firman-Nya, maka hidup orang percaya bukan lagi untuk dirinya sendiri melainkan hidup melayani Kurios, Majikan Agung yang menciptakannya.

Mencapai nirwana adalah impian semua insan. Guru PAK secara kompeten mampu membawa nara didiknya dan  warga gereja untuk mengenal secara pribadi pencipta Agung alam Semesta, Tuhan Yesus Kristus. Pengenalan akan Dia, bukan serta merta secara lisan dan verbal semata. Bukan pula cukup melalui pengajaran, pendalaman Alkitab, Baca Gali Alkitab (BGA), persekutuan, ibadah bersama, dan ritual ibadah kerohanian lainnya. Pengenalan akan Dia harus disertai seseorang  untuk mau melepaskan ikatan dan percintaannya terhadap pesona dunia. Ia harus meluangkan waktu bersaat teduh, doa dan berdiam diri, meditasi untuk giat tekad mencari wajah-Nya. Sebab perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging tetapi roh-roh jahat dan penghulu diudara.
[Johanes Kurniawan, M.Pd.K]  







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.