3 Pilar

3 Pilar

Minggu, 10 Mei 2020

MALAS VS IMAN


Beberapa orang percaya kebanyakan berpandangan iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Namun bila sudah memiliki iman berarti sudah selamat. Sekali selamat tetap selamat. Cara pandang ini sungguh sangat menyesatkan, karena perspektif terhadap pengertian iman sudah melenceng dari pemahaman yang sesungguhnya. Dalam Bahasa Ibrani, kata “iman” adalah aman (אָמַן). Kata “iman” dalam Bahasa Yunani terjemahan dari pistis (πστις), yang artinya kepercayaan atau penyerahan kepada seseorang. Kata kerja dari pistis adalah pisteo (πιστεω), yang mempunyai pengertian: iman kepada, memercayakan diri atau menyerahkan diri kepada suatu obyek, dalam hal ini tentu Tuhan. Jadi bila seorang berkata ia memiliki iman, bahkan sebesar gunung, tentu harus disertai perbuatan atau wujud nyata dari iman tersebut. Mempercayai apa yang dipercayainya , maka orang percaya harus menyerahkan segenap hidupnya bagi yang dipercayainya, yakni dalam hal ini kepada Tuhan.

Sungguh sangat aneh bila orang percaya merasa memiliki iman namun perbuatan dan segenap aspek hidupnya hanya untuk kepentingan dirinya. Tujuan hidupnya hanya seperti kebanyakan manusia hidup, memenuhi kemapanan dan kewajaran hidup. Padahal hidupnya adalah milik Tuhan, lalu merasa yakin selamat hanya dengan percaya kepada Kristus? Tanpa melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Dalam Matius 7:21 ditekankan di sana bahwa bukan setiap orang yang hanya berseru Tuhan, artinya orang tersebut tahu dan kenal siapa Tuhan pada saat itu dan pada masa kini semua orang juga tahu siapa juruselamat dunia, namun kenyataannya kebanyakan orang mengenal Tuhan Yesus Kristus hanya sebatas mendengar dari kotbah, dari pengkotbah, dari Injil, dari sejarah Alkitab, tapi bukan karena mengenal secara pribadi. Mengenal Tuhan hanya sebatas tersebut belumlah dapat dikatakan mengenal. Mengenal tokoh dunia karena terkenal pasti karena melihat di media sosial, dan info publik. Lalu apakah tokoh yang terkenal tersebut mengenal kita? Belum tentu. Demikian halnya dengan orang percaya, tidak semestinya hanya sebatas kenal dengan Tuhan nya orang Kristen berdasarkan kotbah dan apa kata Injil semata, tapi orang percaya harus mengalaminya sendiri perjumpaan secara pribadi dengan Kristus. Harus ada hubungan yang interaktif melalui doa pribadi, saat teduh dan terutama ialah melakukan apa yang telah diteladankan-Nya, melakukan kehendak Bapa. Karena bila orang percaya hanya sebatas percaya belumlah sebuah iman, itu baru mengenal dan tahu. Bila beriman kepada-Nya berarti mengikuti jejak-Nya, melakukan kehendak-Nya. Berani hidup sepenuhnya hanya bagi diri-Nya. Itulah iman. 

Seorang yang beriman harus dengan rela berani melepaskan semua dan selesai dengan dirinya sendiri, lalu mengikuti jejak-Nya. Teladan yang telah IA kerjakan saat berada di bumi harus menjadi role model yang dikerjakan, diteruskan oleh percaya. Ada tindakan, perbuatan dan menanggalkan manusia lama, serta mengenakan kodrat ilahi. Berani menyalibkan keinginan daging, membunuh diri sendiri dari nafsu kedagingan, sehingga yang dikenakan sekarang bukan manusia nature, melainkan man of God. Hal ini adalah tindakan iman dan belum bisa dikatakan beriman, karena secara kontinue orang percaya harus terus diperbaharui hidupnya untuk mengenakan kodrat ilahi. Pengertian keselamatan yang dangkal, dapat mengaburkan kebenaran mengenai keselamatan yang diajarkan oleh Injil. Mereka tidak akan berjuang untuk menemukan atau membangun kodrat Ilahi.

Sejatinya, keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia untuk dapat berkeadaan berkodrat Ilahi. Ini berarti keselamatan adalah suatu proses, dimana manusia dikembalikan kepada tujuan awal Allah semula. Rancangan semula Allah adalah menciptakan manusia yang memiliki keadaan segambar dan serupa dengan Diri-Nya (Latin; Imago Dei). keselamatan versi Tuhan berorientasi pada dibangunnya kodrat Ilahidalam kehidupan manusia. Yesus berkata bahwa Ia datang untuk memberi hidup (Yoh. 10:10). Pengertian kata hidup dalam teks ini adalah zoe atau zoen (Yun.ζων ; zoen), bukan bios. Bios lebih menunjuk hidup makhluk pada umumnya, tetapi zoe lebih menunjuk hidup yang berkualitas. Keselamatan bagi manusia yang dikerjakan oleh Kristus di atas kayu salib adalah anugerah bagi semua insan di dunia. Keselamatan ini harus dikerjakan dengan tindakan dan perbuatan. Jadi bila seseorang hanya percaya lalu selamat itu adalah pemalas. Malas di sini berarti sama sekali tidak mengerjakan apa-apa. Orang percaya harus giat dan rajin mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Dalam Yohanes 6:27-29; “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Kata “kerja” di sini berarti ergon (ργον).

Dalam pernyataan Tuhan Yesus di sini, percaya menunjukkan sesuatu pekerjaan. Kata “pekerjaan” dalam teks aslinya adalah ergon (ργον). Kata ergon menunjuk suatu kegiatan yang terus menerus secara berkesinambungan untuk memperoleh suatu hasil atau ada produknya.  Jadi, percaya adalah suatu kegiatan yang terus menerus, yang dapat digambarkan sebagai suatu garis panjang, bukan sebuah titik. Kebanyakan orang Kristen merasa sudah percaya kepada Yesus Kristus. Dari percaya tersebut mereka memperoleh keselamatan, merasa sudah menjadi anak Allah yang sah, merasa sudah berhak diberkati Tuhan dengan berkat jasmani dan berkat rohani dan kalau mati mereka boleh meyakini masuk surga. Ini sungguh terlalu! Istilah anak Allah yang sah, berarti huios (υἱός = anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah. Kata ini juga digunakan sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orang tua, atau seperti pangeran) bukan nothos (νθος = anak gampang).

Malas dalam hal ini berarti merasa sudah yakin selamat tapi tidak berbuat apa-apa, sama halnya tidak m,engerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Hanya sudah merasa yakin dan diyakini menurut pengertian dan pemahamannya semata bukan karena perkenanan-Nya. Keadaan seperti ini seperti cerita seorang tuan yang berpergian jauh dan semua stafnya dipoercayakan seseuatu untuk diberdayakan namun tidak diindahklan oleh salah satunya hanya karena malas dan tidak mau berusaha, maka ketika tuannya pulang kembali, ia dicampakan ke dalam kegelapan dimana hanya terdapat ratap dan kertak gigi. Kita selaku orang percaya sepatutnya harus berjuang memenuhi panggilan keselamatan ini. Tidak serta merta secara otomatis. Kita harus benahi batiniah kita. Menanggalkan manusia lama adalah sebuah proses seperti sekolah kehidupan. Perlu perjuangan untuk terus belajar mengenakan kodrat ilahi. Ada perjuangan yang terus menerus dalam menjalin hubungan yang harmonis dan ekhad dengan Kristus. Kehidupan yang harus dibenahi hingga kita benar-benar “kreek”, artinya orang beriman hidup dalam kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam  Kristus (Phroneo). Gelanggang perjuangan seperti ini harus diperjuangkan karena menyangkut hidup dikekekalan, sampai mendapatkan mahkota kemuliaan (baca; 1 Kor.9:25). Malas hanya akan mendatangkan malapetaka karena Tuhan membenci karakter demikian (bnd. Amsal 6:6; 1 Tim.6:5; 2 Tes.3:10). Hidup ini adalah kesempatan, artinya perlu perjuangan dan kerja keras serta bertanggung jawab. Tanggung jawab orang percaya yang beriman kepada Kristus dan yang mengecap anugerah keselamatan pengobanan-Nya di kayu salib harus diimplementasikan dengan turut mengikuti teladan dan segala titah-Nya.

Demikianpun bagi para guru PAK, guru Injil, konselor, gembala jemaat, penginjil dan para pelayan Tuhan, bahwa keselamatan itu perlu dikerjakan bukan secara pasif diyakini semata. Profesi apapun yang kita kenakan sepatutnya menge-ejawantahkan gambar Kristus secara hidup dalam segenap hidup prilaku kita sebagai orang PAK. Pendidikan Agama Kristen tidak akan mampu menyentuh kalbu batiniah insani bila kita sendiri tidak mengalami perubahan hidup dan lahir baru. Kita sebagai orang PAK harus lebih dulu mengenakan Kristus agar setiap insani yang mem,andang segala aspek hidup ini kan memancarkan kasih-Nya secara konkrit dalam kebenaran, sesuai Injil yang murni. Menjadi sangat aneh memang bila sikap, prilaku orang PAK sesuai Injil di masa milenial sekarang ini dibandingkan dengan sesama yang hidup terus berkesinambungan dalam pemenuhan hidup yang wajar (menurut dunia), namun dengan demikian kita terpandang di mata Tuhan; “sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan."  (2 Korintus 10:18). Biarlah guru PAK terus bersinar cemerlang baik dalam kata, sikap, prilaku dan perbuatan karena itu merupakan perwujudan untuk menyenangkan hati Tuhan. Guru PAK tidak boleh malas, ia harus memperhatikan semua nara didik, warga gerejanya dengan teliti dan seksama. Membawa mereka terus dalam doa dan bimbingan hingga mereka mengalami perubahan mindset dan perubahan karakter seperti Kristus, itulah tujuan PAK. Ini perlu kerja keras dan perjuangan. Mengamati mereka seperti kita memperhatikan hidup sendiri. Memenuhi apa yang menjadi kebutuhan batiniah mereka hingga seperti domba-domba yang haus dan kita sebagai gembala kecil membawa mereka kepada rumput yang hijau.
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.