Beberapa
orang percaya kebanyakan berpandangan iman tanpa perbuatan adalah sia-sia. Namun
bila sudah memiliki iman berarti sudah selamat. Sekali selamat tetap selamat. Cara
pandang ini sungguh sangat menyesatkan, karena perspektif terhadap pengertian
iman sudah melenceng dari pemahaman yang sesungguhnya. Dalam Bahasa Ibrani,
kata “iman” adalah aman (אָמַן). Kata “iman” dalam
Bahasa Yunani terjemahan dari pistis (πίστις),
yang artinya kepercayaan atau penyerahan kepada seseorang. Kata kerja dari
pistis adalah pisteo (πιστεύω),
yang mempunyai pengertian: iman kepada, memercayakan diri atau menyerahkan diri
kepada suatu obyek, dalam hal ini tentu Tuhan. Jadi bila seorang berkata ia
memiliki iman, bahkan sebesar gunung, tentu harus disertai perbuatan atau wujud
nyata dari iman tersebut. Mempercayai apa yang dipercayainya , maka orang
percaya harus menyerahkan segenap hidupnya bagi yang dipercayainya, yakni dalam
hal ini kepada Tuhan.
Sungguh
sangat aneh bila orang percaya merasa memiliki iman namun perbuatan dan segenap
aspek hidupnya hanya untuk kepentingan dirinya. Tujuan hidupnya hanya seperti
kebanyakan manusia hidup, memenuhi kemapanan dan kewajaran hidup. Padahal hidupnya
adalah milik Tuhan, lalu merasa yakin selamat hanya dengan percaya kepada
Kristus? Tanpa melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Dalam Matius 7:21
ditekankan di sana bahwa bukan setiap orang yang hanya berseru Tuhan, artinya
orang tersebut tahu dan kenal siapa Tuhan pada saat itu dan pada masa kini
semua orang juga tahu siapa juruselamat dunia, namun kenyataannya kebanyakan
orang mengenal Tuhan Yesus Kristus hanya sebatas mendengar dari kotbah, dari
pengkotbah, dari Injil, dari sejarah Alkitab, tapi bukan karena mengenal secara
pribadi. Mengenal Tuhan hanya sebatas tersebut belumlah dapat dikatakan
mengenal. Mengenal tokoh dunia karena terkenal pasti karena melihat di media
sosial, dan info publik. Lalu apakah tokoh yang terkenal tersebut mengenal
kita? Belum tentu. Demikian halnya dengan orang percaya, tidak semestinya hanya
sebatas kenal dengan Tuhan nya orang Kristen berdasarkan kotbah dan apa kata
Injil semata, tapi orang percaya harus mengalaminya sendiri perjumpaan secara
pribadi dengan Kristus. Harus ada hubungan yang interaktif melalui doa pribadi,
saat teduh dan terutama ialah melakukan apa yang telah diteladankan-Nya,
melakukan kehendak Bapa. Karena bila orang percaya hanya sebatas percaya
belumlah sebuah iman, itu baru mengenal dan tahu. Bila beriman kepada-Nya
berarti mengikuti jejak-Nya, melakukan kehendak-Nya. Berani hidup sepenuhnya
hanya bagi diri-Nya. Itulah iman.
Seorang
yang beriman harus dengan rela berani melepaskan semua dan selesai dengan
dirinya sendiri, lalu mengikuti jejak-Nya. Teladan yang telah IA kerjakan saat
berada di bumi harus menjadi role model yang dikerjakan, diteruskan oleh
percaya. Ada tindakan, perbuatan dan menanggalkan manusia lama, serta
mengenakan kodrat ilahi. Berani menyalibkan keinginan daging, membunuh diri
sendiri dari nafsu kedagingan, sehingga yang dikenakan sekarang bukan manusia
nature, melainkan man of God. Hal ini adalah tindakan iman dan belum bisa
dikatakan beriman, karena secara kontinue orang percaya harus terus
diperbaharui hidupnya untuk mengenakan kodrat ilahi. Pengertian keselamatan
yang dangkal, dapat mengaburkan kebenaran mengenai keselamatan yang diajarkan
oleh Injil. Mereka tidak akan berjuang untuk menemukan atau membangun kodrat
Ilahi.
Sejatinya,
keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia untuk dapat berkeadaan berkodrat
Ilahi. Ini berarti keselamatan adalah suatu proses, dimana manusia dikembalikan
kepada tujuan awal Allah semula. Rancangan semula Allah adalah menciptakan
manusia yang memiliki keadaan segambar dan serupa dengan Diri-Nya (Latin; Imago
Dei). keselamatan versi Tuhan berorientasi pada dibangunnya kodrat Ilahidalam
kehidupan manusia. Yesus berkata bahwa Ia datang untuk memberi hidup (Yoh. 10:10).
Pengertian kata hidup dalam teks ini adalah zoe
atau zoen (Yun.ζωὴν ;
zoen), bukan bios. Bios lebih menunjuk hidup makhluk pada
umumnya, tetapi zoe lebih menunjuk
hidup yang berkualitas. Keselamatan bagi manusia yang dikerjakan oleh Kristus
di atas kayu salib adalah anugerah bagi semua insan di dunia. Keselamatan ini
harus dikerjakan dengan tindakan dan perbuatan. Jadi bila seseorang hanya
percaya lalu selamat itu adalah pemalas. Malas di sini berarti sama sekali
tidak mengerjakan apa-apa. Orang percaya harus giat dan rajin mengerjakan keselamatan
dengan takut dan gentar. Dalam Yohanes 6:27-29; “Apakah yang harus kami
perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus
kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu
percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Kata “kerja” di sini berarti ergon (ἔργον).
Dalam
pernyataan Tuhan Yesus di sini, percaya menunjukkan sesuatu pekerjaan. Kata
“pekerjaan” dalam teks aslinya adalah ergon (ἔργον).
Kata ergon menunjuk suatu kegiatan yang terus menerus secara berkesinambungan
untuk memperoleh suatu hasil atau ada produknya. Jadi, percaya adalah suatu kegiatan yang
terus menerus, yang dapat digambarkan sebagai suatu garis panjang, bukan sebuah
titik. Kebanyakan orang Kristen merasa sudah percaya kepada Yesus Kristus. Dari
percaya tersebut mereka memperoleh keselamatan, merasa sudah menjadi anak Allah
yang sah, merasa sudah berhak diberkati Tuhan dengan berkat jasmani dan berkat
rohani dan kalau mati mereka boleh meyakini masuk surga. Ini sungguh terlalu! Istilah anak Allah yang sah, berarti huios (υἱός = anak dalam arti anak yang resmi atau anak yang
sungguh-sungguh memiliki pertalian keluarga atau anak yang sah. Kata ini juga digunakan
sebagai sebutan bagi Yesus yang adalah Anak Allah. Jadi, ada anak yang
berstatus sebagai anak sah yang akan mewarisi kekayaan dan keagungan orang tua,
atau seperti pangeran) bukan nothos
(νόθος
=
anak gampang).
Malas dalam hal ini
berarti merasa sudah yakin selamat tapi tidak berbuat apa-apa, sama halnya tidak
m,engerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Hanya sudah merasa yakin dan
diyakini menurut pengertian dan pemahamannya semata bukan karena
perkenanan-Nya. Keadaan seperti ini seperti cerita seorang tuan yang berpergian
jauh dan semua stafnya dipoercayakan seseuatu untuk diberdayakan namun tidak
diindahklan oleh salah satunya hanya karena malas dan tidak mau berusaha, maka
ketika tuannya pulang kembali, ia dicampakan ke dalam kegelapan dimana hanya terdapat
ratap dan kertak gigi. Kita selaku orang percaya sepatutnya harus berjuang
memenuhi panggilan keselamatan ini. Tidak serta merta secara otomatis. Kita harus
benahi batiniah kita. Menanggalkan manusia lama adalah sebuah proses seperti
sekolah kehidupan. Perlu perjuangan untuk terus belajar mengenakan kodrat
ilahi. Ada perjuangan yang terus menerus dalam menjalin hubungan yang harmonis
dan ekhad dengan Kristus. Kehidupan yang harus dibenahi hingga kita benar-benar
“kreek”, artinya orang beriman hidup
dalam kesuciaan dan mengenakan pikiran yang terdapat juga dalam Kristus (Phroneo). Gelanggang
perjuangan seperti ini harus diperjuangkan karena menyangkut hidup dikekekalan,
sampai mendapatkan mahkota kemuliaan (baca; 1 Kor.9:25). Malas hanya akan
mendatangkan malapetaka karena Tuhan membenci karakter demikian (bnd. Amsal
6:6; 1 Tim.6:5; 2 Tes.3:10). Hidup ini adalah kesempatan, artinya perlu
perjuangan dan kerja keras serta bertanggung jawab. Tanggung jawab orang
percaya yang beriman kepada Kristus dan yang mengecap anugerah keselamatan
pengobanan-Nya di kayu salib harus diimplementasikan dengan turut mengikuti
teladan dan segala titah-Nya.
Demikianpun bagi para guru
PAK, guru Injil, konselor, gembala jemaat, penginjil dan para pelayan Tuhan,
bahwa keselamatan itu perlu dikerjakan bukan secara pasif diyakini semata. Profesi
apapun yang kita kenakan sepatutnya menge-ejawantahkan gambar Kristus secara
hidup dalam segenap hidup prilaku kita sebagai orang PAK. Pendidikan Agama
Kristen tidak akan mampu menyentuh kalbu batiniah insani bila kita sendiri
tidak mengalami perubahan hidup dan lahir baru. Kita sebagai orang PAK harus
lebih dulu mengenakan Kristus agar setiap insani yang mem,andang segala aspek
hidup ini kan memancarkan kasih-Nya secara konkrit dalam kebenaran, sesuai
Injil yang murni. Menjadi sangat aneh memang bila sikap, prilaku orang PAK
sesuai Injil di masa milenial sekarang ini dibandingkan dengan sesama yang
hidup terus berkesinambungan dalam pemenuhan hidup yang wajar (menurut dunia),
namun dengan demikian kita terpandang di mata Tuhan; “sebab bukan orang yang memuji
diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan." (2
Korintus 10:18). Biarlah guru PAK terus bersinar cemerlang baik dalam kata,
sikap, prilaku dan perbuatan karena itu merupakan perwujudan untuk menyenangkan
hati Tuhan. Guru PAK tidak boleh malas, ia harus memperhatikan semua nara
didik, warga gerejanya dengan teliti dan seksama. Membawa mereka terus dalam
doa dan bimbingan hingga mereka mengalami perubahan mindset dan perubahan
karakter seperti Kristus, itulah tujuan PAK. Ini perlu kerja keras dan
perjuangan. Mengamati mereka seperti kita memperhatikan hidup sendiri. Memenuhi
apa yang menjadi kebutuhan batiniah mereka hingga seperti domba-domba yang haus
dan kita sebagai gembala kecil membawa mereka kepada rumput yang hijau.
[Johanes Kurniawan, S.Th., M.Pd.K]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.